Thursday, 17 October 2013

(....)

menganga lebar
luka ini
perih
pedih

jarimu dalam genggamku seperti pasir
mengalir bebas tanpa henti
terbang ke langit

petak milikmu, tak lagi terisi
tak lagi ada

pergi bersamamu
jauh, jauh
di sana yang tak kujangkau
di mana yang tak ku ketahui

di tempat waktuku tak lagi menyentuhmu
ruangku tak lagi menemukanmu
di ujung langit sana

kapan bisa kututup luka ini?
kala waktuku berhenti?
kala kita bertemu untuk berpisah selamanya?

kau tahu?
aku ingin

(....)

.
.
.

just some stupid things yang dibuat buat writing project Antologi Rindu, tapi sampe akhir deadline ngga punya nyali buat ngirim naskahnya. daripada mbusuk di drive, mending disimpen di sini. 

Sunday, 6 October 2013

The End

collab with Pratiwi Fitriani

.
.
.

Asap rokok. Freyr terbatuk sedikit ketika inderanya menghirup asap racun itu. Ia membuka mata dan menemukan Shin sedang duduk di sudut tempat tidur dengan asap membumbung di sekelilingnya. Matanya tidak fokus, menatap entah apa di hadapannya. Nyata, atau tidak.

Freyr bergerak dari posisi berbaringnya, namun tidak mendekati Shin. Ia diam di tempat dan menatap pundak bidang pemuda itu, rambutnya yang selalu acak-acakan, garis-garis halus bekas luka di mana-mana, semua.

Perih. Dada Freyr terasa sesak, perih, pedih. Rasa yang dulu sekali pernah ia alami, ketika yang pernah ia cintai malah mencintai orang lain. Bukan sekedar orang lain, melainkan saudaranya sendiri. Kini ia bahagia, karena setidaknya Shin tidak mencintai siapapun selain dirinya.

Siapapun yang hidup, selain dirinya.

"Shin."

Shinji berbalik, menatap Freyr. Dari matanya saja Freyr sudah tahu. Sangat tahu, tentang siapa yang sedang pemuda itu pikirkan saat ini. Dulu, maupun kelak.

"Ada apa, Frey?"

Freyr ingin bertanya, ingin menuntut, ia ingin bahagia.

Tapi, apa artinya bahagia kalau hanya dia sendiri yang merasakannya?

"Kau tahu, aku sayang padamu."

Shin mengerjap, kaget. Namun tak lama, ia mengangguk. "Ya. Aku juga."

"Tapi hanya itu, 'kan?" Freyr berusaha keras supaya suaranya tidak terdengar aneh. Usaha yang sia-sia, karena Shin selalu bisa mengetahui kapan Freyr berpura-pura.

Shin menghela napas dan mengalihkan pandangannya pada apapun. Ia sudah tahu kemana pembicaraan ini akan berakhir. Ia tidak mau ada di tempat itu lagi, dan ia sangat tahu sekali kenapa Freyr bisa bertingkah seperti ini. Salahnya, dan sedikit salah Freyr juga. Mereka berdua tahu, sama-sama memberi toleransi.

Tapi, sudah jelas siapa yang akhirnya kehabisan toleransi terlebih dahulu. Pertanyaannya bukan siapa yang lebih mau menerima keadaan pasangannya, tapi siapa yang lebih cepat maju dari kenyataan.

Dan sudah sangat jelas, siapa yang masih terjebak labirin masa lalu.

"Shin," lirih Freyr. Wajahnya menunduk, tangannya mencengkram seprai begitu erat--menahan habis-habisan air mata yang mulai terkumpul di ujung mata. Kalau jawaban Shinji adalah satu kata itu...

"Ya. Hanya itu."

Freyr tidak tahu harus mencari kebahagiaan dalam bentuk apa lagi.

.
.
.

Apa ini karmanya? Karena ia terlalu dalam jatuh pada Lyra dan Noir, karena ia tidak mau mengalah pada Yuuji, karena ia tidak mau maju demi Freyr, sehingga pada akhirnya ia harus kehilangan semua orang yang ia sayangi seperti ini?