Showing posts with label Slice of Life. Show all posts
Showing posts with label Slice of Life. Show all posts

Friday, 11 September 2015

You Answer It Yourself, Please.

He was, once, a spark in her life.

Dazzling smile and innocent eyes - it fucking hurt my eyes. And so, she smiled back. As innocent and as sweet as she could be.

But of course, it was lie.

Everything was a bloody lie.

And of course, her love for him was the biggest lie ever.

"Go out with me."

Sheepishly smiling - wait, this is what people do when being confessed, aren't they? - she nodded. Then, everything went downhill and roller coaster-ing aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaand...

... done as fast as it started.

She ended it. Of course. He moved on. Good then. She stayed the same? Yes.

She - who'd never able to love anyone simply because she found it too much to love a human.

Did she moved on?

Oh, Lord. She never went anyway in a first place. She stayed the same because there're never any major changes in her life (no, had a relationship wasn't that important to her) except having a sudden responsibilities of other people's live.

Did she regret it?

Not, really.

Because either way the end was inevitable. Because what was the meaning of regret when there's nothing to regret for. Love hurt. Everybody hurt.

But, feel hurt was for someone who actually had a heart.

And, thus, did she regret it?

Wednesday, 2 September 2015

Insecurities

Zen & Aka (c) Pratiwi Fitriani

.
.
.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh...

Zen menghela napas, berusaha memancing refleks apalah-itu-namanya untuk menenangkan jantungnya yang sedang berdetak luar biasa cepat. Hiperbola, karena kalau memang jantungnya berdetak secepat yang ia pikirkan, saat ini Zen pasti sedang terbaring tidak sadarkan diri di Ruang Resusitasi.

Menyedihkan.

"Zen?"

Suara yang familiar di telinga membuatnya kembali ke dunia nyata. Ia memandang sepasang mata biru yang bingung. Segera saja makhluk-makhluk imajiner di dalam kepalanya memasang kaset berjudul 'senyum manis', membuat Zen menarik bibirnya.

"Ya? Ada apa, Le?"

Leon mengerutkan dahinya. "Melamun?"

Zen menggaruk lehernya yang tidak gatal. Klise. "Ah, ya. Sepertinya aku perlu minum kopi lagi. Kemarin pasiennya banyak banget, aku duduk lima menit aja udah bersyukur luar biasa."

Leon mengangguk, meski ada kilat di matanya yang meragukan pernyataan Zen. "Mau kubeliin? Sekalian aku ke kantor dulu ngambil berkas kasus pembunuhan yang kemarin. Macchiato 'kan?"

"Ngga usah, Le. Nanti aku beli kopi biasa aja di Minimart."

"Ya udah, nanti aku jemput ya. Temenin aku nyari kemeja?"

Ah, Leon. Kalau tidak ingat ada di mana mereka sekarang, Zen pasti sudah menerjang Leon dan ndusel-ndusel di pelukan detektif muda itu.

"Leon. Ayo."

... kalau saja nenek sihir sialan ini tidak ada.

"Oke. Aku ke kantor sekalian nganter Aka ya, Zen. See you."

Zen memasang lagi senyum manis paling palsunya. "Yeah. See you."

Tuesday, 28 July 2015

Prayer

"I'm getting married. Next week."

"Huh?"

He smiled, so dazzlingly brilliant. "I'm getting married. Next week."

"Wait, excuse me. Whose getting married?"

He chuckled. "Me."

"With?"

"Who else?"

"When?"

"Next week. You're invited."

...

"Don't cry."

"How?"

He shrugged. "Don't know. Just, don't. It won't make things any better. I've been there."

"I know. I don't even know why I'm crying my eyes off like this. All I know is, it is not regret."

"Then what?"

"Dunno. Once, when I knew that he would never be mine, I prayed and asked for his and only his happiness. That he would fine his happily ever after, that I would find my own happily ever after. That, somehow, I was allowed to be a part of his life. Allowed to be his friend. I should be happy then, aren't I? That God decided to gave me what I needed and what I wanted AND made me realized that He was really there and everywhere and hear and would answer every single pray I asked. This time, though, He was so direct and surprised me."

"Hahaha. Stop crying then."

"I will. Just, five more minutes."

...

Karena waktu tak ingin kita bersama
Walaupun waktu tak menjelaskan mengapa
Semoga waktu kan izinkan ku tuk miliki cinta kita
Di lain waktu


...

Monday, 28 January 2013

Sense of belonging

"Itu temen lo?"

"Diem."

Dengus mengejek. "Temen ketika masih bebas. Makanya lo cepetan cari pacar."

"Lo tau sendiri gue ga mau punya pasangan. Bahkan nikah. Hell."

Mengangkat bahu. "Itu pikiran sempit, Luce. At least you need to be somewhere di mana lo merasa kalo you belong there."

Giliran Luca yang mendengus. "Belong? Orang yang nggak diharapkan di manapun macem gue? Penerimaan kayak gitu nggak ada dalam kamus hidup gue, Cil. Gue hanya akan diterima oleh diri gue sendiri. Salah gue sendiri juga, percaya sama orang, sampe jadi orang goblok gini."

"Ironis banget. Lo yang dulu ngajarin orang kalo percaya itu penting, tapi lo sendiri yang akhirnya jadi apatis sama lingkungan."

"Gue melakukan yang seharusnya. Peduli setan perasaan gue, hati kecil gue, diri gue mau se-kontradiktif apa, mau se-dusta apa. Yang penting di dunia ini apa sih? Pencitraan. Kalo gue bisa bikin citra anak baik yang perhatian sama temen-temennya, maka orang-orang akan at least menerima ego gue yang haus akan penerimaan.Tapi ketika mereka puas mengambil semua perhatian gue? They'll toss me like a trash. Buat apa melibatkan emosi untuk hubungan sesaat gitu?"


Saturday, 19 January 2013

Nicknames

"CIKA!"

Brak!

.
.
.

Sakit adalah hal pertama yang bisa Luca rasakan, seolah kakinya sedang diinjak gajah dan punggungnya barusan tertabrak kereta. Setiap tarikan napasnya merangsang serabut tipis saraf, memberikan persepsi nyeri tak terperi. Ia mengerang sedikit dalam usahanya memasok oksigen.

"Ka? Cika?"

Suara familiar terdengar sedikit berbisik di telinganya. Susah payah, ia akhirnya bisa membuka mata. Buram. Sepertinya kacamata bingkai merah yang biasanya setia bertengger di tulang hidungnya kini sedang berkhianat. Samar ia bisa melihat garis wajah manusia di atasnya. Rambut hitam ikal, mata coklat gelap, kulit sedikit kecoklatan. Luca kenal wajah itu.

"Ci...la?"

"Iya. Ini gue, Ka. Cika, astaga...Tuhan...terima kasih banyak," gumam Ciel. Kedua tangannya menangkup, menggenggam tangan Luca. Mulutnya tidak henti-henti mengucap kata syukur. Sementara itu, Luca memperhatikan sekelilingnya. Langit-langit putih, tiang besi, selang bening, cairan merah, cairan merah muda, cairan bening, bunyi ritmis bip-bip-bip, dan rasa sakit yang masih menjalar di setiap inci tubuhnya.

"Cil...gue...kenapa?"

Ciel mengusap matanya. "Lo ketabrak mobil, Luke. Udah, nanti aja ya ceritanya, lo sehat aja dulu."

Luca hanya bisa mengangguk. Mulutnya sedikit tertarik ke samping. "Tumben...manggil Cika."

Ciel tersenyum lebar dan mengelus dahi adik kembarnya itu. "Refleks. Udah lama juga lo ngga manggil gue Cila." Luca balas tersenyum sebelum memejamkan mata dan kembali masuk ke dalam dunia mimpi sementara tubuhnya memperbaiki diri sendiri.

.
.
.

Friday, 18 January 2013

Zona

"Luke!'

Luca yang tengah asik menyantap yamin manisnya dengan lahap menoleh ke arah sumber suara. Pemuda jangkung dengan kulit sedikit gelap dan senyum tipis serta seorang pemuda bertubuh bongsor datang menghampirinya.

"Oi, Oka."

"Aku nggak disapa, nih?" tanya si bongsor. Luca hanya nyengir sebentar sebelum menyeruput es teh manisnya.

"Halo, Bang Gatan! Hehehehe."

"Cuma sama Mahda doang?" tanya Oka, merujuk pada satu pemuda bertampang mirip dengan Luca. Luca nyengir lagi.

"Ngga. Lagian, Mahda mah sepupu jauh entah gimana garis keturunannya pokoknya sepupu. Aku lagi jadi nyamuk di antara dia sama Chika. Temenin aku, yuk?"

Oka tergelak sedikit. "Nggak ah. Aku pergi dulu ya. Dah."

Luca hanya melambaikan tangannya dan menatap kepergian Oka ketika satu sikut yang kurang ajar menyenggolnya. Ia melirik ke kiri dan melihat Mahda tersenyum lebar. Luca memutar bola matanya.

"Shut it out, Mat. He's just a friend. A very handsome charming gentle friend."

Mahda tertawa kencang. "Aku tau kamu bakal ngomong gitu, Luke. Aku tau banget hahahahaha!"

Wanderer

Ciel masih ingat bagaimana jari-jari itu menoyor kepalanya dengan keras, membuat separuh es jeruk yang baru saja diteguknya menyembur keluar dan membasahi seragam putih-abu miliknya. Ia masih ingat, bagaimana kata-kata setajam silet meluncur keluar dengan ringannya. Ia juga masih ingat, berapa kali ungkapan cintanya ditolak mentah-mentah. Entah memang Ciel seorang masokis sejak lahir atau ia tertular ketsundere-an yang sepertinya diwariskan dari sang ibu, atau memang ia hanya tidak bisa tidak...

Ciel tetap jatuh untuk orang yang sama.

"Haaaaah," helanya. Satu batang rokok terselip di sela jarinya. Asap nikotin mengambang di udara. Dinginnya udara malam tidak membuat pemuda ini mengurungkan niatnya untuk menghabiskan waktu di teras rumah yang sudah disulap jadi perpustakaan. Duduk setengah selonjoran di dipan kayu beralaskan kasur empuk, Ciel memutuskan untuk lari sejenak dari tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswa. Baru saja ia memulai rutinitas malamnya, isi otaknya langsung berkelana ke hutan gelap terlarang yang diisi monster galak. Monster galak berambut hitam panjang dan menggigit.

"Galau melulu. Kerjain skripsinya, sana."

Ciel tidak perlu repot membalikkan badan untuk mengetahui siapa pemilik suara cempreng semena-mena itu. "Lo sendiri? Malah makan es alpukat malem-malem begini. Babi."

Luca mendengus. "Sidang gue masih hari Selasa, dan alpukat nggak bikin gendut."

"Ya sidang kita kan harinya sama, jamnya sama. Dasar nenek-nenek pikun. Alpukatnya sendiri sih nggak, kalo dikasih gula sebanyak itu sih lain cerita."

Luca menatap sebentar mangkok berisi benda kehijauan yang ditutupi oleh banyak gula merah di tangannya sebelum memasukkan satu sendok besar ke dalam mulutnya. "Mending jadi nenek-nenek pikun daripada masih belum move on juga. Udah ditolak, yang nolaknya sekarang udah punya pacar pula, mau jadi apa idup lo?"

Ciel menyalakan rokok lagi dan menghisapnya pelan. "Hah, omongan orang yang mau-maunya tetep ada di zona sahabat dan ngorbanin perasaannya sendiri pake acara nangis-nangis segala. Ngaca lu."

.

"Luke, jangan lempar Ciel pake mangkok. Dia bisa mati. Ciel, simpen asbaknya di meja. Sekarang."

Friday, 11 January 2013

Halloween Treat #4

"Diffindo!"

DUAR! Satu kotak kayu sebesar manusia di tepi arena pecah jadi keping tajam besar.

"Incendio!"

DUAR! Kini giliran kotak kayu besar di sisi satunya yang meledak. Bunga apinya melompat-lompat membakar jubah hitam yang tidak terlindung.

"Impedimenta!"

Mantra ini memantul ketika sasaran berhasil mengelak, membuat kilau sinar putih itu menghantam barrier yang dengan sigap dipasang oleh seorang murid bermata hijau dengan kacamata berbingkai biru tua.

"Engorg--

"Langlock!"

Kilat merah meluncur keluar dari tongkat sihir Kardia, menerjang Rhadamanthys tanpa ampun, melempar pemuda berambut pirang itu ke belakang, membuatnya menabrak dinding. "Hmffhpfhfhff! Hnhfhggngff!!!" seru Slytherin muda itu tidak jelas, meraba-raba mulutnya dengan histeris dan panik.Di hadapannya, Kardia nyengir lebar kesenangan. Siapa sangka, mantra hasil curi dengarnya dari perbincangan Hades dengan Poseidon memiliki efek sebegini dramatisnya.

"Aku menang. Lagi. Untuk yang kesembilan kalinya, Rhadamanthys. Hahahah--Duh!"

"Kubilang apa tentang larangan memakai mantra-mantra ajaib hasil menguping pembicaraan orang tua?!" sembur Hermes setelah menyodok kepala Kardia dengan tongkat sihirnya. Bertengger di pundaknya dengan patuh, phoenix merah kesayangannya--Cadies, melayangkan pandangan merendahkan pada sang Gryffindor muda. Kardia mendelik keji pada burung merah itu sebelum nyengir semakin lebar.

"Habis aku penasaran dengan obrolan Sir Ares tentang hubungan antara Sir Hades dan Sir Poseidon."

Hermes menggelengkan kepalanya. Rambut coklat mudanya bergoyang-goyang. Sudah sejak awal masuk, kelakuan muridnya yang satu ini tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan menuju kebaikan dan malah makin menjadi. Apalagi setelah hubungan cintanya kembali lagi seperti semula--dan mungkin lebih menyenangkan mengingat betapa banyaknya curahan hati yang diterima olehnya dari anak-anak asrama Gryffindor yang merasa panas jika dua orang itu sudah mulai bermesraan di tempat umum.

"Tapi itu tidak jadi alasanmu mengerjai Rhadamanthys seperti ini, Kardia," ujar Hermes--yang terjebak di antara lemparan mantra murid-murid ganas ini karena Ares sedang keasyikan menggembala sekelompok Hippogriff. "Finite," lanjutnya sambil mengarahkan tongkat pada Rhadamanthys, melepaskan lidah pemuda itu dari langit-langit mulutnya.

"Brengsek! Kardia! Mati kau!!!" berang Rhadamanthys. Ia berdiri lalu berlari menerjang Kardia yang sedang tidak waspada, membuatnya menghantam tanah sebelum melayangkan tinju ke wajah pemuda bermata biru itu. Mendapat serangan seperti itu, Kardia menarik kerah kemeja Rhadamanthys untuk membuatnya hilang keseimbangan. Lalu, dengan salah satu kakinya, ia menendang Rhadamanthys di perut, membuatnya melayang salto di udara dan mendarat keras di punggung. Baru saja Rhadamanthys memfokuskan pandangannya, ia melihat kelebat pirang di depan mata dengan tongkat berada di depan kedua matanya. Kardia berdiri di atasnya dengan kilat mata berbahaya.

"Pilih. Kutukan Tak Termaafkan atau kuubah kau jadi orang paling idiot sepanjang masa. Oh, kau memang sudah idiot. Kalau begitu, Imper--

"Cukup!!!" gelegar Hermes, "cukup! Kardia, sudah kukatakan berapa juta kali tentang sumbu emosimu yang terlalu pendek, dan Rhadamanthys, kau bahkan bukan anggota Klub Duel, apa sebenarnya urusanmu datang kemari?!" amuk guru yang tinggal di halaman belakang sekolah dengan seekor singa jantan berbulu keperakan.

"Mengajakku berduel, eh?" jawab Kardia yang kini berjalan menuju Regulus di tepi arena. "Mimpi saja kau bisa menang dariku, pecundang."

Rhadamanthys mendudukkan dirinya dan meludah keras sebelum angkat diri dari arena klub, meninggalkan Hermes yang mencak-mencak sendirian tentang aturan dan anak muda zaman sekarang. Cadies sendiri tidak lagi bertengger di pundaknya. Burung merah itu sedang melayang rendah di atas para siswa, memercikkan bunga api yang menyembuhkan beberapa luka dan memar hasil pertarungan. Kardia memandangi phoenix itu dan mengikuti setiap gerakannya dengan cermat.

"Kardia?" tanya Degel, sedikit menarik pelan kemeja putihnya yang sudah kotor oleh bercak darah dan debu serta abu. Kardia lalu menoleh ke arah kekasihnya itu dan tersenyum lebar.

"Lapar. Temani aku makan ayam kalkun di dapur, yuk!"

.
.
.

"Brengsek!"

Minos berhenti dari aktivitas memainkan boneka plushie replika Albafica hasil buatannya sendiri dan mendongak ke balik sofa untuk melihat Rhadamanthys menonjok jendela tebal yang memisahkan ruangan asrama dengan air danau.

"Hei, Rade, berhenti menonjok jendela kalau kau tidak mau kita tenggelam dan jadi makanan cumi-cumi," ujarnya malas dan datar.

"Sudahlah, Minos, tidak ada gunanya memberitahu orang gila yang barusan patah hati untuk yang keseribu kalinya itu," timpal Aiacos yang sedang main kartu dengan Aspros di salah satu sofa hijau. "Aku menang, Aspros."

Minos mengembalikan pandangannya ke arah Rhadamanthys yang sedang memandang galak Aiacos sebelum berlari dengan menghentak menuju pintu keluar Ruang Bersama. "Oi, mau ke mana?" tanya Minos, yang tidak digubris sedikit pun oleh Rhadamanthys yang keburu menghilang di balik dinding bata lembab. Pandangan prefek Slytherin itu beralih pada Aiacos.

"Dapur, kurasa. Kalau sedang marah-marah begitu ia selalu ke dapur. Taruhan lima galleon dia yang menghabiskan persediaan permen jeli kita selama setahun."

Thursday, 10 January 2013

Trapped

Haruskah kuulangi lagi kata cintaku padamu?
Aku cinta padamu.

Pernahkah terbesit olehmu bahwa aku takut kehilangan dirimu?

.
.
.

"Tolol! Awas orang!"

Genggaman erat dan tancapan kuku tajam yang tiba-tiba pada lengan Ciel membuat pemuda itu kembali pada kesadarannya. Segera ia menginjak rem serta memutar setir ke kanan. Pandangannya lalu kembali fokus pada jalanan. Debar jantungnya terdengar berdentum di telinga, memekakkan. Ia lalu menepikan mobil minibus abu-abu metalik matic hasil merayu ayahnya itu ke pinggir jalan.

"Sori, Luce. Gue ngelamun," tuturnya pelan pada Luca yang duduk di kursi penumpang depan. Mata Luca menatap galak saudara kembarnya, untuk sedetik kemudian melembut.

"Gue gantiin nyetirnya ya, Cil." Ciel menggeleng.

"Ngga usah. Diem aja dulu, sebentar aja. Sebentar," ujar pemuda berambut hitam ikal itu sambil menyandarkan kepalanya ke jok berlapis kulit hitam. Berkali-kali ia membuang nafas panjang sementara Luca hanya memandangi wajah yang mirip dengannya itu.

"Sori, Cil. Gara-gara gue ngga bawa dompet jadinya lo ngejemput gue," Luca memainkan jarinya di pundak Ciel. Si adik berapa menitnya itu hanya tersenyum tipis dan menepuk-nepuk kepalanya.

"Ngga, Luce. Gue ngga ngejemput lo juga gue emang ada rencana mau beli ikan, jadi ya pasti ketemu-ketemu juga sama Noir. Bukan salah lo, atau salah siapapun."

Luca memonyongkan bibirnya sedikit, tanda tidak setuju."Tapi, lo jadi inget Noir dan gue jadi sangat bersalah pernah ngenalin lo ke dia, Cil."

Ciel mendengus geli lalu mengacak-acak rambut kakaknya itu. "Udah ah, Luce. Ngga jadi melankolis begini ah. Gue suka sama dia tapi ya udah aja. Ga usah dibahas lagi, oke?" Luce hanya mengangkat bahu.

"Move on, please? For me?"

Ciel terkekeh geli. "Yeah. Someday."

.
.
.

Takkan Ada Cinta Yang Lain by Titi DJ

Monday, 7 January 2013

#untitled#

Satu kali
lalu aku berhenti.

Dua kali
dan kamu pergi.

Tiga kali
lalu kamu pergi lagi.

Apa mungkin ada yang keempat, kelima, dan keenam
kalau memang jalannya begini
tidak berujung dan tidak pasti
hanya mengiris hati yang bermimpi.

Monday, 17 December 2012

For A Certain Missing Person

I'm happy, because I have you you you you and you all.

.
.
.

Luca tersenyum, girang, kesenangan. Ia tidak mengindahkan tatapan konyol petugas bensin ataupun tukang parkir. Ia tidak peduli pundaknya sudah basah oleh air hujan yang turun konstan sejak tadi siang. Ia-tidak-peduli.

Ia hanya peduli akan senyum polosnya, gelak tawanya, kehangatan yang sempat hilang, dan semua tentang dirinya. Ia tidak peduli meski semuanya hanya sementara, meski semua hanya angan semu belaka.

Ia-tidak-mau-peduli.

Saturday, 1 December 2012

Insanity

Saint Seiya © Masami Kurumada
.
.
.

Ego.

Kesadaran utuh tanpa paksaan yang mengatur langsung perilaku dan pikiran, dan adalah satu bentuk akal yang setiap harinya bersentuhan dengan kenyataan.

Id.

Keinginan instingtif tanpa pertimbangan akal, yang mementingkan diri sendiri di atas segala-galanya.

Superego.

Kesadaran eksekutif. Dimana semua perilaku Id dan Ego pada akhirnya akan dibawa kehadapan Sang Superego untuk kemudian dieksekusi dan diputuskan kebenarannya.

.

Hilang satu, dan kau akan mengalami sesuatu yang disebut kelainan mental. Gila. Sinting. Hilang akal. Tidak waras.

Hilang dua, mungkin kau mengalami ancaman masuk rumah sakit jiwa selama lebih dari lima belas tahun.

Hilang semuanya?

.
.
.

"Saga."

Kanon berbisik lirih di hadapan sosok identiknya. Sekilas, orang tidak akan bisa membedakan mana Kanon-mana Saga. Namun, hanya butuh lima detik untuk tahu siapa yang mana. Tatap saja matanya.

Mata biru yang sejernih lautan dan menghipnotis. Berkarisma, memancing debar tidak karuan. Hidup, menyala, meledak-ledak, terkadang berkilat nakal dan seringnya terlihat manja. Sosok yang dewasa sekaligus kekanak-kanakan. Enerjik dan memberi bahagia.

Mata biru kelam, gelap, suram. Kosong dan hampa, menyedot yang menatap ke dalam jurang dalam tanpa dasar. Keputusasaan seolah mengalir keluar tanpa terbentung, membentuk aliran air di kedua sudut mata. Gurat wajah yang lelah dan hati yang patah lalu pecah jadi kepingan tajam. Sosok mayat hidup yang terduduk diam mematung dalam kehidupan dunia tidak nyata, terbelenggu masa lalu.

.

Hari cerah di Athens. Matahari bersinar cukup terik untuk memaksa anak-anak muda memakai pakaian tipis dan menenggak berbotol-botol air dingin. Hari yang damai untuk ukuran kota tersibuk nomor sekian di dunia.

Damai, dengan suara sirine memekakkan telinga berderu kencang di satu sudut jalan. Damai, dengan satu jeritan putus asa memanggil-manggil nama yang terkasihnya terus diulang tanpa henti. Damai, dengan air mata jatuh deras ke bumi ketika cairan merah yang hangat merembes ke tanah.

Damai, sedamai tidur panjang Aiolos untuk selamanya.

.

Ketika Id gagal  mempertahankan eksistensinya, maka Ego akan kehilangan kendali tentang kewarasan. Ego akan kehilangan pegangan tentang sejumlah fakta primitif mengenai kemampuan bertahan hidup. Ketika Ego terjebak dalam ilusi realita, maka Superego--yang kaku--akan mengeksekusi keputusan Ego, tanpa sedikitpun mempertanyakan. Lama kelamaan, Superego akan mulai bergeser, mempertanyakan keputusannya tentang benar dan salah, tentang nyata dan tidak. Semakin Ego hilang kendali, semakin pula Superego akan semakin terdistorsi. Anomali-anomali akan mulai terlihat, muncul dalam satu perilaku paling dasar yang mungkin manusia dapat lakukan.

.
.
.

mencintai mimpi, menghapus realita, dan tetap hidup terjebak di dalam batas ruang dan waktu imajiner.

Thursday, 29 November 2012

Fast and Furious

Satya menginjak pedal gas lebih dalam, memaksa knalpot ganda-nya berderu lebih nyaring, memancing umpatan kesal dan decak kagum pengguna jalan yang lain. Melaju semakin kencang, menembus angka seratus. Maju, terus, menyalip truk, bis, mobil, hampir menyerempet pembatas jalan. Ugal-ugalan.

Kalau mengingat berapa nominal angka yang harus ia ambil dari dompet untuk sekedar memberi makan kendaraannya, Satya pasti akan berpikir dua kali sebelum mengebut tidak jelas dan berbahaya begini. Tapi, ketika ia tidak sedang terlalu banyak pikiran dan tidak punya tempat untuk melampiaskannya, maka Rodriguez--nama mobil Honda Jazz hitamnya--harus mau menjadi tempat sampah bisunya.

Bisa juga, ia mencari keributan dengan universitas tetangga seperti masa-masa keemasan SMA-nya dulu ketika ia adu jotos dengan sekolah tetangga hanya karena bosan. Namun, mengingat siapa yang akan mengamuk dan marah dan menangis tidak jelas kalau ia sampai pulang berantakan.

Emosinya seketika naik lagi, ia lalu menginjak rem dan menggerakkan stir tiba-tiba ke kanan, menyalip mobil berplat B yang juga mengebut di sebelah kanan jalan, memancing klakson panjang dari mobil tersebut, sebelum akhirnya ia menepi ke rest area.


Thursday, 22 November 2012

Sweet Escape

13 November 20xx 07.40 AM

Happy Birthday! Semoga semoga semoga semoga! Makan-makan! XD

.
.

Perlu waktu hampir dua puluh menit bagi Luca untuk mengetik pesan singkat elektronik sepanjang satu kalimat itu. Dua puluh menit. Sebelum akhirnya ia menekan tombol hijau, memasukkan ponselnya ke dalam tas, dan menyetir melenggang melewati jalan tol menuju kampusnya sambil senyum-senyum tolol.

.

15 November 20xx 00.18 AM

Happy Birthday! Semoga jadi lebih baik dalam segala hal :D

.
.

Stres dan angin laut terbukti bukan kombinasi yang bagus untuk tubuh Luca. Baru sehari menginjak Bali, tubuhnya langsung protes tidak karuan. Protes karena ajang kaburnya si hati dari segala resah gelisah justru jadi ajang logika untuk unjuk gigi soal kemampuannya mengingat-ingat tanggal deadline. Demam dan menggigil semalaman ditambah batuk tidak jelas akhirnya menyerang. Untung, Mas Riza tidur seperti batang pohon. Kalau tidak, ia sudah diceramahi habis-habisan soal menjaga kesehatan dan menyusahkan orang.

Tapi cukup satu kalimat, satu kalimat singkat dari satu pesan singkat elektronik, suhu tubuhnya membaik dan batuknya pelan-pelan reda. Satu pesan singkat yang membuatnya (lagi-lagi) tersenyum seperti orang kelebihan gula.

Satu kalimat, dari Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut.

Sea, sand, and sun

Bali.

Debur ombaknya, gerahnya, semerbak wangi dupa yang menyengat, patung-patung dewa paling epik, lukisan-lukisan yang mendobrak segala macam teori logika manusia tentang imajinasi, mataharinya yang gagah di atas kilau biru laut lepas, dan pasirnya yang menggelitik sela-sela jari kaki sambil sesekali terbawa angin dan menampar dahi.

Bali, romansa dunia, tempat tinggal para Dewa, tempat banyak cinta muncul.

Luca sangat mencintai Bali, sangat cinta sampai ia ingin segera pergi dari tempat tinggalnya di balik gunung dan menjadi penduduk tempat pulau itu. Sebenarnya yang Luca cintai bukan segala etnik kultur budayanya, melainkan lautnya.

Ombak, tebing karang curam, biru-hijau-toska, debur merdu. Laut.

Sebut saja satu nama tempat di dunia dengan laut sebagai pesona utamanya. Luca akan dengan senang hati mengepak barang dan kameranya untuk segera meluncur ke tempat itu.

Karena, sungguh. Luca jatuh cinta pada laut. Jatuh cinta pada ketidakterbatasan yang ditawarkannya, pada ketenangan yang anomali, pada luas dan luwesnya, pada seluruhnya yang ia tidak miliki.

.
.

Satu hal yang Luca sesalkan adalah bagaimana laut juga menjadi satu hal yang mengorek kenangannya.

Thursday, 1 November 2012

Years of Youth #15

Kardia,

Aku tak berani membaca hatimu. Bukan, bukan karena aku tidak bisa, lebih karena aku tidak mau.

Aku takut. Takut. Takut berekspektasi, takut melukai hati sendiri. Takut.

Begitu pun ketika aku memutuskan untuk berhenti bersamamu. Aku takut, Kardia. Takut. Takut pada akhirnya aku jadi tidak mampu kehilanganmu, tidak bisa berjalan di sampingmu.

Takut tidak lagi kau cintai.

Impulsif, ya. Kekanakan, ya. Tidak berpikir panjang, ya. Orang-orang boleh bilang aku adalah kebalikan dari apa yang kusebutkan, namun di depanmu itulah aku.

Dan, mendengar apa yang kau katakan, menerima perlakuanmu, dan pada akhirnya mengerti semuanya, sungguh....

Aku cinta padamu, Kardia. Sekarang dan mungkin selamanya.

Degel
.
.
.

Hari itu, Milo memilih tidur di Aula Besar saja, sampai akhirnya Apollo mengajak pemuda malang itu ke bangsal rumah sakit dan menyuruhnya tidur di sana. Malam itu, Ruang Bersama Gryffindor dipenuhi oleh sumpah-serapah, menyumpahi seorang bermata biru yang tertawa-tawa, melompat-lompat, dan menari-nari kegirangan sepanjang malam hanya karena sepucuk surat yang dititipkan untuknya lewat Milo.

Monday, 29 October 2012

Cursed

"Riza ikut ke Bali."

Luca, yang tengah memotong kuku, langsung menghentikan kegiatannya, dan menatap ayahnya yang sedang tidur-tiduran malas di sofa.

"Hah?"

"Iya," Anjar mengonfirmasi. "Riza ikut ke Bali."

"Mas pergi hari apa?"

"Hari Rabu juga. Malemnya."

.
.
.

"Salah sendiri, nggak tegas. Sekarang mah udah nggak kebeli tiketnya."

.
.
.

Detik itu, Luca menyumpah. Keras. Memaki. Dalam hati. Kepada kebijakan fakultasnya yang menyulitkan absensi mahasiswanya sendiri.

Saturday, 27 October 2012

Late Night Conversation

23.35
azuraluca : maaf yah, Sam, kalo selama ini aku sangat sering lash out my anger towards you.

23.56
sealoner : udah biasa. tenang aja.

23.58
azuraluca : oh, so sweet of you.

00.15
sealoner : apaan sih.

00.17
azuraluca : and, thank you for being there and forgive my childish behaviour.

00.59
sealoner : udah ah, Luce. Geli.

01.39
sealoner : Luce? Halah, pasti ketiduran.
sealoner :  good night, then. have a nice dream :)

.
.
.


Thursday, 25 October 2012

Traffic Joy

Gelap, dingin, malam, suara derum mobil di kejauhan, sinar redup layar telepon genggam, kicau riuh orang-orang yang menunggu jalanan kosong.

Luca menengok sekali-sekali ke jalan raya yang terlihat dari depan pagar kompleks rumahnya. Antrian kendaraan bermotor sudah mengendap sejak tiga jam yang lalu, dan tidak ada tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat. Ia lalu kembali ke layar ponselnya, mengecek linimasa jejaring sosial, hanya untuk menemukan kicauan-kicauan para pekicau tentang macetnya jalan raya. Ber-cih pelan, ia lalu melanjutkan penjelajahannya di dunia maya sambil mengisi waktu luang.

"Luce."

Luca lalu mendongak, sedikit kaget, dan menemukan Celka di sana. Sama dengan dirinya, Celka juga salah satu dari begitu banyak orang yang pada akhirnya malas pulang sekarang dan lebih memilih menunggu saja. Di belakang mereka berdua, riuh ramai Ashra yang bermain gitar sambil separuh curhat terdengar samar.

"Apa?" tanya Luca, yang perhatiannya kini penuh pada Celka.

"Temenin beli makan."

Tanpa basa-basi, nggak liat-liat orang lain lagi males apa kagak. Kebiasaan.

"Yuk."

.
.
.

"Hahahahaha!!!"

Tiba-tiba Celka tergelak. Keras, kencang. Luca lalu mengerenyit, bingung.

"Kita kayak pasangan kekasih yang baru jadi lah!"

Kekasih? Hari gini masih bilang kekasih? "Terus, pake efek angin, ujan, sama bunga-bunga, sambil sok-sok salah tingkah," lanjut Celka, mengikuti arah perbincangan konyol di tengah udara dingin.

"Alah, lebay kamu," balas Celka, sembari mengerenyitkan dahi dan nyengir lebar.

.
.
.

Dan, dalam sekejap, sekejap saja, dinginnya berubah jadi hangat, dan Luca mengumpat dalam hati, menyumpahi hormonnya dan mensyukuri cahaya remang yang menyamarkan rona merah di wajah.

Tuesday, 23 October 2012

A Universe Where Everything's Possible

Thus, the story so far....

Alice manage to let go of an underwater creature who called himself Ganymede. As a mythology-freak, she remembered that Ganymede was a handsome, charming, blonde young-man who managed to captivate Zeus' attention. But this guy....

Is far from her expectation.

Long short story, she finally came back to where she used to be, a place where she belonged. The half dark-half bright world, where she lived her two-sided life. As an apprentice under The World, and as a resident of The Underworld.

Unti she realized that the reason she strayed that far for this strange-Ganymede-guy was because of a certain someone. A bright-smile man with a pitch-black hair and a warm-friendly aura emitted from him anytime. Apollo, his name. And eventhough he didn't resemble the Sun-God at all (flaming hair, crimson eye, mischievous behaviour), he was the sun for her. He is the sun of her world.

And as the sun he should be, Alice died without him.