Sunday, 23 December 2012

Surprise!

Disclaimer : 
Saint Seiya (c) Masami Kurumada
MYTH (c) Zelda
.
.
.

Underworld. Gelap, hitam, kelam, suram. Dengan satu-satunya sumber cahaya berasal dari api oranye-biru yang melayang-layang, tempat ini jelas bukan tujuan wisata yang menarik. Ditambah dengan jeritan-jeritan mengiris hati dan makhluk-makhluk berupa mengerikan. Kalau pamanmu menyebutkan Underworld atau Dunia Lain atau Tempat Yang Menyenangkan, segeralah laporkan ia ke polisi terdekat dengan tuduhan pembunuhan terencana.

Tapi kali ini, bukan anak kecil tersesat atau jiwa jahat yang datang ke Underworld. Bukan juga seorang dewa pendek berambut coklat muda dengan setumpuk surat dikepit, apalagi seorang dewi paling-kurang-kerjaan di muka bumi dengan rambut keunguan dan tongkat berujung ornamen burung pembawa kemenangan.

Di satu hari yang membosankan--setidaknya bagi sang Lord, muncullah seorang pemuda. Rambutnya pirang seperti matahari, matanya biru cerah seperti lautan yang tidak tertebak, dan senyumnya mengembang seperti bocah paling jahil di sekolah menemukan mangsa baru.

"Yo, Hades! Apa kabar?" sapanya dengan santai, sangat-santai, pada sang Lord. Hades mengerutkan keningnya. Sedikiiiiiiiiiiiiiiiit sekali. Bagaimanapun pencitraan seorang penguasa alam baka yang keji tetap jadi prioritas utama. Ia berhenti berpidato panjang lebar pada sebuah jiwa tentang apa yang akan dihadapinya di Inferno ini dan menoleh pada pemuda yang kini tengah melihat-lihat patung dekorasi kuilnya dengan penasaran.

"Beritahu aku dalam tiga detik, apa yang sedang kau lakukan di tempat ini, atau kuhabisi nyawamu."

Milo terkekeh, memancing sorot mata tidak suka dari Hades. Dewa berambut hitam legam itu kini berdiri dan berjalan ke arah Milo. Dari cosmo hitam-keunguan yang mulai terlihat jelas menguar dari setiap pori-porinya, Milo tahu Hades serius untuk benar-benar membuatnya tidak bisa kembali ke dunia atas. Buru-buru ia mengangkat tangannya.

"Tunggu. Tunggu, oke? Tunggu sebentar. Aku kemari bukan karena iseng atau kurang kerjaan meski, yah, kau tahu sendiri bagaimana Athena adalah dewi paling kurang kerjaan yang pernah ada di seluruh sejarah Olympus tapi...."

Nada bicara Milo tidak selesai di sana dan Hades menunggu selama beberapa detik sebelum bertanya, "Tapi?"

"Tapi, beliau memintaku memberikan ini kepadamu," lanjut Milo, seraya menyodorkan sebuah kotak besar berwarna hitam dengan pita merah besar di atasnya. Hades menyipitkan mata.

"Apa, itu?"

Milo mengangkat bahu. "Dari wujudnya, kutebak ini hadiah. Mengenai apa isinya, aku tidak tahu dan sungguh, aku-tidak-mau-tahu." Milo menekankan suaranya pada empat suku kata terakhir. "Kemarin tiba-tiba saja ia turun dari Olympus dan menyerahkan ini pada Shion, menyuruhnya datang kemari dan memberikan ini padamu. Shion, dengan segala urusannya--padahal aku yakin ia hanya takut saja, merasa bahwa sebaiknya tugas ini dilimpahkan pada saint lain. Gold Saint, tentunya, mengingat entah akan jadi apa para saint muda jika dikirim kemari. Jadi, saat semua Gold Saint berdiskusi memutuskan siapa yang akan dijadikan tumbal, aku sedang tidak di tempat. Misi di desa sebelah tentang penyakit infeksius. Oh, mungkin Thanatos tahu karena banyak sekali warganya yang mati. Jadi, saat aku kembali mereka semua--semua, maksudku benar-benar semuanya--langsung menatap ke arahku dan tersenyum sangat keji. Taruhan, senyum Minos pun masih lebih manis daripada senyum orang-orang sinting itu. Oh, jangan katakan Minos aku memujinya. Lalu, begitulah ceritanya aku ada di--

Milo berhenti berbicara layaknya ember bocor ketika pandangannya kembali fokus pada sang dewa superior. Takjub, tidak percaya. "Hades, kau, tersipu?"

Hades kembali pada kesadarannya dan Milo bersumpah demi Zeus, Apollo, Poseidon, dan dewa-dewi manapun bahwa ia melihat wajah Hades merona sangat merah sampai ke telinga. "Ap--apa? Tersipu? J--jangan gila. Matamu sudah buta?!" seru Hades sambil memalingkan wajah dan sedikit menunduk, memanfaatkan rambutnya yang panjang untuk menutupi apa yang sedang Milo proses dalam kepalanya. "T--taruh saja apapun itu di manapun. Masih banyak urusan yang harus kutangani!" ujarnya sambil berbalik dan pergi menuju singgasananya dan menghilang di balik tirai-tirai merah. Milo mengedip beberapa kali dan memutuskan untuk menaruh apapun titipan Athena di anak tangga menuju singgasana sang dewa, sebelum keluar dari kuil dan kembali ke dunia atas.

.
.
.

"Kau lihat?"

Dewa berambut pirang mengangguk. "Tentu."

"Titipan dari Athena. Tapi bukan dia yang mengantar."

"Dan juga bukan Hermes."

Yang berambut hitam mengerutkan dahinya. "Berarti sesuatu yang berasal dari orang yang tidak mau identitasnya diketahui."

"Poseidon? Biasanya dia mengirim si cantik berambut ungu."

Si pirang menggelengkan kepalanya. "Hadiah dari Poseidon tidak akan membuat My Lord tersipu begitu."

"Oh, berarti hanya tinggal satu orang."

Si pirang mengangguk. "Sebenarnya sudah terlambat untuk masa puber, tapi--

"AKU BISA MENDENGAR KALIAN BERDUA, TAHU!!!"

.
.
.

Selamat ulang tahun, Hades. Aku meminta para Cyclops membuatkan pedang ini. Ditempa dari onyx dan emas hitam terbaik, kurasa benda ini cocok untuk imej penguasa kegelapan yang keji. Meski sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan frase itu, tapi apa boleh buat. Mata pedangnya diasah dan dilapisi oleh berlian, jadi tidak akan menjadi tumpul atau patah.
Sekali lagi, selamat ulang tahun, Kak! 
 Z

Saturday, 22 December 2012

The One Who Chasing The Sun #3


Disclaimer:

Saint Seiya (c) Masami Kurumada
Saint Seiya Lost Canvas (c) Shiori Teshirogi
Chasing The Sun (c) The Wanted

.
.

"Tunggu!"

Seruan kencang terdengar, diiringi derap langkah yang tidak beraturan, mengejutkan Aspros yang sedang asyik meneguk cappucinno dinginnya. Pria berambut biru itu lalu diam selama beberapa detik, memandangi pakaiannya yang basah oleh campuran antara espresso, susu, dan es. Ia lalu melirik galak kepada segerombolan orang-orang berkacamata hitam dan seorang berambut pirang yang sedang berlari ke arahnya. Begitu si pirang mendekat, Aspros lalu meluruskan kakinya--

--hanya untuk dilompati dengan mudahnya oleh si pirang, namun berhasil membuat tiga orang berkacamata hitam yang mengejarnya tersandung dan terjerembab dengan wajah menyentuh paving block duluan. Aspros ber-tsk pelan ketika melihat si pirang berbelok di perempatan pertama jalan raya ketika salah satu dari tiga pria berkacamata menarik kerah bajunya. Seorang pria berambut merah muda dengan mata hijau menyala.

"Brengsek! Apa maumu, Bocah Sial?!!"

Aspros kini memegang pergelangan tangan si rambut merah muda. Senyum aneh berkembang di wajahnya. "Aku mau membotaki rambutmu, Pink," ujarnya sebelum melayangkan satu tinju ke wajah lawannya.

.
.
.

Lari. Lari.

Asmita terus berlari, berlari. Ia tidak peduli akan penyamarannya lagi, ia tidak peduli ada orang yang mengenali dirinya. Ia hanya ingin pergi dari tempat itu, karenanya ia berlari. Menabrak beberapa kursi di cafe-cafe pinggir jalan kota Athens, menubruk jatuh beberapa turis lokal maupun mancanegara. Tidak jarang ia tersandung oleh entah-apapun yang ada di sepanjang trek larinya. Meski keringat sudah sejak tadi membasahi kaus biru mudanya, meski kakinya sudah mulai lemas, ia harus pergi.

Harus, pergi, dari sini, dari semua ini, dari--

"Sanctuary! Lima ratus euro saja untuk keindahan Sanctuary! Hei, kakak cantik di sana, kuberi diskon setengah harga bagaimana?"

.

Wednesday, 19 December 2012

Rache

"Frey!"

Jeritan Alaska terlambat sampai di telinga pemuda berambut hitam keunguan itu. Anak panah melesat masuk menembus lengan atasnya, menancap seperti pisau tusuk gigi pada potongan kue penuh ceri. Frey berseru keras sebelum terjatuh ke tanah. Segera ia mencabut anak panah itu dari lengannya, membuat darah merembes dari luka dan menodai kaus putihnya.

""Frey, astaga, kau tidak apa-apa?" Alaska bertanya panik. Ia buru-buru berlutut di samping Frey dan berusaha mengalirkan sebagian besar tenaganya sembari melagukan mantra penyembuh. Serat jaringan tubuh Frey merespon pada setiap bait lagu yang dinyanyikan Alaska dalam gumaman rendahnya, menimbulkan rasa gatal.

"Cukup, Al. Simpan saja tenagamu untuk menghabisi--

Kalimat Frey dipotong oleh sebatang anak panah yang melesat lagi, kali ini menyerempet ujung telinganya. Menyumpah pelan, ia lalu mendorong Alaska dan mencabut pedangnya. Bilah biru tua Digma berpendar aneh ketika memantulkan cahaya oranye api unggun. "Panggil Rhys, Al."

"Tidak bisa, Frey. Kau tahu dia tidak suka padaku."

Frey menatapnya galak. "Melindungimu adalah tugasnya sampai mati, Al. Ia familiarmu. Itu kewajibannya, suka atau tidak suka!"

Alaska terlihat ragu. Ia baru akan membuka mulutnya untuk beralasan lagi ketika lolongan nyaring dan berbahaya terdengar dari balik pepohonan gelap. Suaranya menyirami tubuh Alaska dengan kehangatan. Frey menarik bibirnya, tersenyum tipis sembari memasang kuda-kuda. Digma dipegang di samping tubuh, dihunuskan ke depan.

"Well, mari kita mulai pertunjukannya."

Monday, 17 December 2012

For A Certain Missing Person

I'm happy, because I have you you you you and you all.

.
.
.

Luca tersenyum, girang, kesenangan. Ia tidak mengindahkan tatapan konyol petugas bensin ataupun tukang parkir. Ia tidak peduli pundaknya sudah basah oleh air hujan yang turun konstan sejak tadi siang. Ia-tidak-peduli.

Ia hanya peduli akan senyum polosnya, gelak tawanya, kehangatan yang sempat hilang, dan semua tentang dirinya. Ia tidak peduli meski semuanya hanya sementara, meski semua hanya angan semu belaka.

Ia-tidak-mau-peduli.

Sunday, 9 December 2012

The One Who Chasing The Sun #2

Disclaimer :

Saint Seiya (c) Masami Kurumada

Saint Seiya Lost Canvas (c) Shiori Teshirogi

Chasing The Sun (c) The Wanted

.
.
.

Bayangan. Siluet. Rule of third. Komposisi. Langit biru dengan seperempat bawah adalah patung marmer salah satu dari dua penjaga satu kuil. Pilar-pilar yang gompal, atap-atap yang runtuh. Cahaya yang masuk dari sela-sela lubang reruntuhan, gores senjata bekas peperangan milenia tahun silam.

Defteros terhipnotis dalam situs sejarah membosankan--atau apapun istilah Aspros. Ia tersedot oleh karisma tanpa batas yang menguar dari setiap inci bebatuannya. Ada rasa rindu tidak terjelaskan yang mengaduk-aduk isi hati, memberikan satu ilusi kenyamanan dan rasa familiar yang aneh.

Sejak awal pertama ia menginjak kaki di tangga menuju kuil-kuil yang menjulang tinggi sepanjang pegunungan, ada sensasi aneh yang menggelitik. Setelah menyeberangi padang mawar yang seolah tanpa batas, akhirnya ia sampai di dasar gunung. Di kuil pertama, indera penciumannya menghirup aroma besi dan emas, serta timah dan perunggu panas. Masuk ke dalam, dan ia merasa seperti dikelilingi oleh dinding kasat mata yang sangat aman dan kokoh. Beberapa artefak seperti palu dan penjepit besi panjang serta beberapa bilah pedang berkarat dipajang di kotak-kotak kaca.

Naik satu kuil lagi, dan ia merasa lapar. Lapar yang aneh dan tidak masuk akal, mengingat ia baru saja menghabiskan satu loyang pizza ukuran besar sendirian--memancing omelan dan racauan tidak penting dari Aspros yang memang selalu punya alasan untuk mengomelinya. Hidungnya menghirup aroma manis, asam, saus tomat, kentang, daging panggang, ayam asap, sup krim, ikan goreng, dan tumis sayur. Beberapa kali ia menghirup aroma es krim, dan--anehnya--ia mulai mendengar suara-suara. Gelak tawa dan hingar-bingar kehebohan. Ia bahkan bersumpah melihat kelebatan emas di ujung gelap kuil, hanya untuk kembali pada logika bahwa hal-hal seperti hantu tidak ada di dunia ini.

Kuil ketiga adalah kuil tempatnya berada sekarang. Kuil yang pintu masuknya diapit oleh dua patung yang wajahnya sudah rusak oleh waktu, namun ia bentuk tubuhnya identik dan berlawanan. Satu patung memegang senjata di kiri, yang lainnya di kanan. Ada perasaan aneh yang tidak wajar ketika ia memasuki kuil ini. Memang, sejak awal pun ada perasaan mengganjal di hati. Namun, di tempat ini semuanya seolah digandakan berlipat-lipat.

Jejak pertamanya, dan ia merasa seperti di rumah. Kakinya melangkah tanpa perintah, menuju tempat-tempat dengan momen-momen eksotis yang memang ia cari. Segera, tanpa basa-basi, ia mengangkat kamera dan menangkap semuanya. Semuanya. Mulai dari topeng tatapan kosong yang tergantung di salah satu pilar, topeng menyeringai di pilar seberangnya, retakan bekas senjata di tanah. Semuanya.

Perjalanannya di kuil ketiga berakhir pada satu kotak kaca artefak berisikan buket bunga. Pandangannya lalu beralih pada keterangan mengenai artefak tersebut.

Aster. Merah muda, kuning matahari, merah pekat. Aku tidak bisa menemukan teratai berwarna emas. Shxxx menertawakanku habis-habisan ketika aku bertanya tentang teratai emas. Tapi aku ingat, ini adalah bunga-bunga yang selalu ada di taman rahasiamu.

Defteros menelengkan kepalanya pada keterangan buket bunga itu. Daripada keterangan, tulisan tersebut lebih mirip surat cinta. Ada satu nama, Shxxx. Defteros mengerutkan dahinya melihat selera nama zaman dahulu dan berpikir tentang bagaimana cara menyebutkan nama yang terdiri dari huruf konsonan semua itu.

"Taman rahasia? Apa ada tempat seperti itu di reruntuhan ini?" gumamnya tidak jelas. Kilau matanya yang sempat surut kembali muncul lagi.

"Kalau memang ada, sebaiknya aku temukan segera."

Thursday, 6 December 2012

The One Who Chasing The Sun #1


Saint Seiya © Masami Kurumada, Shiori Teshirogi
Chasing The Sun © The Wanted
.
.
.

Sanctuary of Athens.  Dulu, entah beberapa millennium yang lalu, kisah-kisah heroik menjadi cerita sebelum tidur bagi anak-anak. Dulu, di masa kejayaan para dewa-dewi Olympus, konon terdapat para pendekar suci yang bertarung mempertaruhkan nyawa demi membela kepentingan umat manusia.

Dulu, terdapat dua belas pendekar berzirah emas yang menjadi penguasa dari kuil-kuil agung dan megah yang menjadi pilar utama kekuatan Sanctuary.

Kini?

.
.
.

“Lima ratus euro hanya untuk berjalan-jalan mengelilingi reruntuhan kuno?!”

Seorang pemuda berambut toska menutup telinganya yang mendadak berdenging setelah mendengar lengking dari pria bersurai biru gelap di depannya. Mata birunya lalu melirik kiri-kanan, memperhatikan bagaimana mereka berdua lalu digosipkan oleh orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka. Dengan wajah identik dan tinggi menjulang, mencolok di tengah keramaian bersama seseorang yang tidak punya urat malu adalah satu hal yang tidak bisa dikombinasikan bersamaan.

“Aspros, pelankan suaramu,” bisik si surai toska. Aspros mendelik marah dan membuka mulutnya, siap menyemburkan lengkingan ber-pitch tinggi yang memekakkan.

“Lima ratus euro, Defteros! Lima ratus euro! Kalau kau mau mengelilingi reruntuhan sialan itu dengan harga tidak masuk akal begitu, kau saja! Lima ratus euro-ku akan kuhabiskan di kasino saja!” serunya setengah teriak sebelum angkat kaki dari tempat, meninggalkan identiknya yang satu menghela napas panjang dan membungkuk-bungkuk minta maaf kepada pejalan kaki yang kena imbas amukan Aspros.

Memang, salahnya tidak mengecek terlebih dahulu berapa harga memasuki situs arkeologi dan sejarah terkenal bernama Sanctuary ini. Salahnya juga, ia lupa profesinya sebagai fotografer sekaligus penulis artikel di majalah lanskap dunia ternama membuatnya sering lupa diri dan berakhir menghiraukan racauan sang kakak tentang kebosanannya.

Salahnya juga, ia mau-mau saja ketika Aspros meminta—merengek—minta ikut dalam penjelajahannya di Yunani. Mengurus Aspros sama rasanya ketika ia disuruh oleh bosnya, Sisyphus, untuk menjaga keponakannya yang masih balita. Bedanya, mengurus Regulus masih jauh lebih menyenangkan karena bocah itu bisa dilarang dan disuruh diam. Menyuruh Aspros diam?

Defteros menggelengkan kepalanya, tidak mau mengingat lagi saat-saat hidungnya patah karena sumbu emosi Aspros yang memang sudah pendek lantas disulut.

Setelah selesai dengan isi kepalanya, Defteros mengeluarkan kamera dari tasnya dan mulai mengatur-atur berbagai hal. Kecepatan tangkap, bukaan diafragma lensa, paparan ISO, aturan fokus lensa, segalanya.  Kemaniakkannya pada kamera membuat Aspros sering mengamuk tidak jelas kalau ia sudah mulai sibuk dengan dunianya sendiri. Entah Defteros yang terlalu dingin atau Aspros yang terlampau manja, tapi hubungan dua kakak-adik ini memang tidak pernah akur sejak zaman dulu kala.

“Lima ratus euro,” ujar penjaga karcis ketika ia sampai di loket. Seorang pria berambut pirang dan mata biru dengan senyum miring dan mimik sinting. Defteros mendengus sebelum mengambil selembar kertas dari tas ranselnya.

“Saya dari majalah, ini surat tugas saya,” ujarnya sambil menyodorkan kertas tersebut ke depan wajah si penjaga loket, “menurut surat ini semua akses masuk situs sejarah dengan pungutan biaya akan—

“Seratus euro, dan singkirkan kertas konyol itu jauh-jauh dari wajahku,” potong si penjual loket. Defteros hanya tersenyum tipis dan melipat kertas tersebut. Ia lalu mengambil selembar seratus euro dan menyerahkannya pada si penjual loket yang kini sedang menggerutu tidak jelas.

“Namaku Defteros, senang berkenalan dengan—

“Kardia.”

Defteros mengangguk dan mengulurkan tangannya. “Kardia. Senang berbisnis denganmu.”

Kardia lalu menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar pria berambut toska itu segera angkat kaki sebelum ia mengubah pikirannya.
.
.
.

 “Selanjutnya! Lima ratus euro untuk  masuk ke Sanctuary! Lima ratus euro saja!”

Saturday, 1 December 2012

Insanity

Saint Seiya © Masami Kurumada
.
.
.

Ego.

Kesadaran utuh tanpa paksaan yang mengatur langsung perilaku dan pikiran, dan adalah satu bentuk akal yang setiap harinya bersentuhan dengan kenyataan.

Id.

Keinginan instingtif tanpa pertimbangan akal, yang mementingkan diri sendiri di atas segala-galanya.

Superego.

Kesadaran eksekutif. Dimana semua perilaku Id dan Ego pada akhirnya akan dibawa kehadapan Sang Superego untuk kemudian dieksekusi dan diputuskan kebenarannya.

.

Hilang satu, dan kau akan mengalami sesuatu yang disebut kelainan mental. Gila. Sinting. Hilang akal. Tidak waras.

Hilang dua, mungkin kau mengalami ancaman masuk rumah sakit jiwa selama lebih dari lima belas tahun.

Hilang semuanya?

.
.
.

"Saga."

Kanon berbisik lirih di hadapan sosok identiknya. Sekilas, orang tidak akan bisa membedakan mana Kanon-mana Saga. Namun, hanya butuh lima detik untuk tahu siapa yang mana. Tatap saja matanya.

Mata biru yang sejernih lautan dan menghipnotis. Berkarisma, memancing debar tidak karuan. Hidup, menyala, meledak-ledak, terkadang berkilat nakal dan seringnya terlihat manja. Sosok yang dewasa sekaligus kekanak-kanakan. Enerjik dan memberi bahagia.

Mata biru kelam, gelap, suram. Kosong dan hampa, menyedot yang menatap ke dalam jurang dalam tanpa dasar. Keputusasaan seolah mengalir keluar tanpa terbentung, membentuk aliran air di kedua sudut mata. Gurat wajah yang lelah dan hati yang patah lalu pecah jadi kepingan tajam. Sosok mayat hidup yang terduduk diam mematung dalam kehidupan dunia tidak nyata, terbelenggu masa lalu.

.

Hari cerah di Athens. Matahari bersinar cukup terik untuk memaksa anak-anak muda memakai pakaian tipis dan menenggak berbotol-botol air dingin. Hari yang damai untuk ukuran kota tersibuk nomor sekian di dunia.

Damai, dengan suara sirine memekakkan telinga berderu kencang di satu sudut jalan. Damai, dengan satu jeritan putus asa memanggil-manggil nama yang terkasihnya terus diulang tanpa henti. Damai, dengan air mata jatuh deras ke bumi ketika cairan merah yang hangat merembes ke tanah.

Damai, sedamai tidur panjang Aiolos untuk selamanya.

.

Ketika Id gagal  mempertahankan eksistensinya, maka Ego akan kehilangan kendali tentang kewarasan. Ego akan kehilangan pegangan tentang sejumlah fakta primitif mengenai kemampuan bertahan hidup. Ketika Ego terjebak dalam ilusi realita, maka Superego--yang kaku--akan mengeksekusi keputusan Ego, tanpa sedikitpun mempertanyakan. Lama kelamaan, Superego akan mulai bergeser, mempertanyakan keputusannya tentang benar dan salah, tentang nyata dan tidak. Semakin Ego hilang kendali, semakin pula Superego akan semakin terdistorsi. Anomali-anomali akan mulai terlihat, muncul dalam satu perilaku paling dasar yang mungkin manusia dapat lakukan.

.
.
.

mencintai mimpi, menghapus realita, dan tetap hidup terjebak di dalam batas ruang dan waktu imajiner.