Showing posts with label Komedi. Show all posts
Showing posts with label Komedi. Show all posts

Wednesday, 25 June 2014

Kepiting sinting paling garing

(c) Masami Kurumada

.

.

.

"Aku tahu, kenapa kau menolakku."

Aphrodite mengerutkan dahinya. "Maksudmu?"

Deathmask--Angelo menganggukkan kepalanya. "Ya. Karena kau merasa penuh dengan eksistensiku. Kan?"

"Err.... Angelo? Aku sungguh tidak mengerti. Aku menolakmu karena aku tidak bisa menganggapmu lebih dari teman, dan jelas tidak akan pernah lebih dari apa yang kurasakan pada Shura. Dan mungkin kau ketinggalan gosip karena Milo masih meracau soal suaranya yang kurang macho, tapi kau tahu 'kan kalau aku dan Shura...."

"Kalau kami sudah jadi pasangan." Shura melanjutkan. Tangan kanannya memegang erat tangan kiri Aphrodite, yang juga balas menggenggamnya. Mereka sedikit mencuri pandang penuh makna, sebelum tawa Deathmask mengembalikan mereka ke dunia nyata.

"Myoahahahaha. Aku tahu kalian pacaran. Tapi, Shura, tidak tahukah kau kalau semua ini hanya pelarian saja? Bahwa Aphrodite melarikan diri dari suatu rasa yang ia miliki padaku?"

Aphrodite mengerjap tidak percaya. "Ap--apa maksudmu.... Shura, kau tahu kepiting gila ini memang benar-benar tidak waras, 'kan? Jangan percaya apapun yang dia katakan!"

"Apa maksudmu, Deathmask?" ada nada suara yang mengancam dari sang Saint Capricorn. Cosmo-nya mendadak terbakar, meluap-luap meliputi dirinya dan terkumpul di lengan kanannya.

Siap membelah dua kepiting garing di hadapannya.

"Karena.... Di dadamu, ada kumisku, kan? Makanya kau menolakku dan malah pacaran dengan Shura? Karena aku sudah ada dalam hatimu sejak lama, 'kan? Dan Shura adalah pengalih dirimu yang begitu rindu padaku, 'kan???"

.

.

.

"LIA!PINJAMKAN LISTRIKMU! BIAR KUSETRUM SI KEPITING SINTING INI BIAR MATI BETULAN!!!"

Sunday, 23 September 2012

Years of Youth #6.5

Jam pelajaran keempat selesai. Rombongan murid kelas lima dari beberapa asrama--Ravenclaw, Hufflepuff, dan Slytherin--berebut segera keluar dari ruang kelas Ramalan yang berwangi aneh setelah menghabiskan dua jam berusaha membaca daun teh. Degel adalah yang paling terakhir keluar, terima kasih pada Professor Hypnos yang sengaja menahannya.

"Degel!" panggil seseorang. Degel menoleh dan menemukan seorang pemuda berkulit pucat--lebih pucat dari anomali pigmentasi kulit Sir Hades--dengan rambut coklat jerami dan mata biru muda. Tahi lalat di bawah mata kiri dan senyum tipis khas-nya membuat pemuda dengan sweater kuning labu ini dapat dengan mudah dibedakan dari yang lainnya. Degel berhenti berjalan ketika ia menghampirinya.

"Halo, Albafica. Kau ikut kelas Ramalan?"

Albafica menggeleng pelan. "Tidak. Aku ada kelas Ramuan tadi. Lagipula, Ramalan bukan keunggulanku. Astronomi aku masih mengerti, tapi ramalan?" ujar Albafica, menggeleng lagi. Degel terkekeh.

"Habis ini apa?" tanya Degel sembari melangkah menuju Aula Besar, diikuti oleh Albafica di sampingnya.

"Selesai. Nanti jam keenam ada Herbologi. Aku ada waktu satu periode kosong. Kau?"

"Sama. Transfigurasi baru ada di periode ketujuh."

Albafica tersenyum--agak--lebar. "Transfigurasi minggu ini mengubah tikus menjadi teko dan mengembalikannya seperti semula. Kalau ada waktu lebih, kau bisa belajar mengubah marmut jadi gelas."

"Oh ya? Sepertinya seru. Sebaiknya aku belajar dulu sebelum masuk kelas," gumam Degel sebelum masuk ke dunianya sendiri. Albafica tersenyum tipis, memaklumi tingkah--hampir semua--anak Ravenclaw. Sekitar lima belas anak tangga sebelum mereka sampai di koridor depan Aula Besar, sepasang tangan yang besar memeluknya. Untai-untai rambut perak jatuh ke bahunya.

"Minos!" seru Albafica kaget, membuat Degel kembali ke dunia nyata dan melihat Minos sedang memeluk Albafica. Sweater abu-abu yang dikenakannya pas dengan warna rambutnya yang perak-platina. Matanya yang berwarna hampir abu-abu melirik Degel jahil.

"Halo, Degel! Sendirian saja?" sindirnya sambil nyengir lebar macam Chesire Cat. Kedua tangannya masih memeluk Albafica--yang mukanya merah total dan memberontak heboh.

"Bersama Albafica, kalau kau memperhatikan. Tapi sepertinya fokusmu hanya pada Albafica, ya?" balasnya. Albafica sendiri sudah menyerah melepaskan diri dari Minos dan kini balas menggenggam tangannya.

"Tentu saja," Minos melepas satu tangannya dan memindahkan tangan lainnya ke pinggang Albafica. Albafica merespon Minos dengan sedikit bersandar di torso bidang Keeper Tim Quidditch Slytherin tersebut. Degel--tidak mau mengakuinya, demi harga dirinya yang terlalu tinggi--merasa panas dengan adegan mesra di hadapannya. Biasanya kalau sudah begini, selalu ada Kardia yang--

Degel menggeleng tiba-tiba.

"Kenapa?" tanya Albafica bingung sementara Minos tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Degel. "Kenapa?" kali ini ia bertanya pada Minos.

"Berhenti tertawa, Minos," geram Degel, yang justru memancing gelak tawa Prefek  Slytherin itu semakin keras. Degel mendengus kesal.

"Berhenti berada dalam fase denial, Degel," ujar Minos setelah akhirnya selesai tertawa. Ia menggosok ujung matanya, menangis saking hebohnya tertawa. "Menurut Madam Artemis, denial adalah fase paling awal dari jatuh cinta. Nah!" serunya, menunjuk hidung Degel. Degel segera menepis tangannya dari wajah.

"Aku tidak denial, Minos, dan aku tidak mengerti tentang apapun yang baru saja kau katakan."

"Oh, ya. Kalau begitu aku ingin tahu apa reaksimu kala mendengar Kardia masuk bangsal rumah sakit karena pingsan di kelas Arithmancy barusan."

"Eh?!"

.
.
.

"Santai saja, Kardia. Aku sudah memberitahu Professor Hades tentang keadaanmu. Hanya saja, setelah keadaanmu membaik, ia memintamu datang ke kantornya," ujar Sir Apollo, penjaga bangsal rumah sakit. Rambut merah keriting gantung-sedikit afronya bergoyang-goyang lucu ketika ia membetulkan selimut Kardia.

"Sir," ujar Kardia lemah.

"Ya?"

"Aku mau cokelat kodok," candanya dengan cengir lebar di wajah, meski rona wajahnya masih pucat. Apollo menghela napas pendek sebelum mengusap kepala Kardia--memberantaki rambutnya yang sudah berantakan.

"Nanti aku bawakan kalau kau sudah istirahat. Sekarang tidur saja dulu," ujarnya sambil berjalan menjauhi tempat tidur Kardia dan masuk ke kantor penjaga bangsal. Selepas kepergian Apollo, Kardia berguling ke samping, memunggungi pintu masuk dan menggenggam kedua tangannya sendiri. Dingin dan pucat aneh. Ia lalu tersenyum ironis dan menarik selimut menutupi setengah kepala lalu memejamkan mata.

.
.
.

Degel....

Thursday, 20 September 2012

Years of Youth #7

Ruang Bersama Slytherin yang didominasi hijau. Hijau di jendela, hijau di langit-langit, hijau di dasi dan rompi rajut, hijau di beludru pembungkus sofa, hijau iris mata.

Kalau Saga tidak ingat pemuda bermata hijau di hadapannya ini adalah senior, mata hijaunya sudah ia lempar dengan buku Ramuan yang sedang ia genggam saat ini.

"Mengerti, Saga?" tanyanya angkuh. Nada mencemooh tidak bisa lepas dari cara bicaranya. Saga menghela napas. Orang di depannya ini mengingatkan ia pada seorang Gryffindor keras kepala.

"Tidak, Rade. Kau menyuruhku menjauhkan Kardia dari Degel? Seperti yang sudah kau lihat, tanpa campur tanganku pun mereka sudah berpisah."

Rade--Rhadamanthys--mendengus pelan sambil tersenyum meremehkan. "Ah, ya. Seharusnya aku berterima kasih padamu untuk hal ini."

Saga mengerutkan kening. "Maksudmu?"

Rhadamanthys hanya terkekeh geli. "Well, sampaikan terima kasihku pada Kanon, kalau begitu."

.
.
.

"Aduh!"

"Tidak usah aduh-aduh! Gara-gara kau!"

"Ap--Duh!!!"

"Diam dan terima saja jitakanku, Kanon!" seru Saga. Semua mata sudah terfokus pada mereka berdua sejak awal kegiatan makan malam. Begitu Saga sampai di Aula Besar, ia langsung menuju meja asrama Ravenclaw, mencari Kanon, dan menjitaknya dengan keras tanpa basa-basi. Siswa lain hanya menonton saja, terutama siswa kelas dua keatas. Terbiasa dengan kelakuan konyol dan pertengkaran ekstrim dari dua bersaudara yang lahir di bulan Juni ini.

"Ikut aku!" perintah Saga--setelah puas menjitak, mencubit, dan menjewer Kanon--sambil menariknya dari Aula Besar dan menggiringnya agak jauh dari mata-mata dan telinga-telinga yang penasaran.

"Apaan?!" seru Kanon.

"Apaan?! Kau masih bertanya apa?! Di mana sih otakmu?!"

"Di sini!" seru Kanon, menunjuk kepalanya. Saga lalu membalas jawaban Kanon dengan menempeleng kepala pirang si adik.

"Otakmu di dengkul!"

"Biar! Daripada kamu, otaknya ngambang di danau! Apaan sih?!" sengit si adik, yang sama-sama bersumbu pendek.

"Kardia dan Degel! Jangan pura-pura tidak tahu!"

Ekspresi Kanon berubah. Total. Dari marah dan kesal jadi kaget dan salah tingkah. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke kanan dan Saga paling tahu sekali kebiasaan adiknya ini kalau ketahuan berbuat salah.

"Kau penyebab mereka putus." Saga membuat pernyataan.

"Bukan!" Kanon membantah. "Bukan! Bu...kan?" lanjutnya tidak yakin. Saga ber-cih pelan. "Aku... Degel adalah mentorku. Aku hormat padanya, Saga. Aku juga sangat hormat pada Kardia. Sungguh, percaya padaku," mohon Kanon, menggenggam satu tangan Saga.

"Lalu kenapa Rhadamanthys malah menitipkan 'terima kasih' padamu dalam pembicaraan kami mengenai Kardia dan Degel?" tuntut Saga. Kanon menelan ludah, gugup.

"Aku... aku suka pada Milo, Saga."

Dari marah besar menuju kesal. Dilanjutkan pada kecewa dan menuntut. Sedetik kemudian, Saga melempar ekspresi tidak percaya. Saga memang pantas memiliki julukan 'Si Wajah Banyak'. "Milo?" tanyanya, ragu. Kanon mengangguk.

"Ya. Dan saat itu aku berlatih menyatakan cinta--aku tahu! Aku tahu ini absurd tapi tolong jangan potong dulu bicaraku!" seru Kanon saat Saga berniat berkomentar. Saga buru-buru menutup mulutnya dan membiarkan Kanon melanjutkan.

"Tapi aku lupa, kalau Kardia adalah orang dengan sumbu seratus kali lebih pendek darimu. Di saat yang sama aku berlatih, dia muncul. Melihat aku menyatakan cinta pada Degel. Dan mereka bertengkar hebat hari itu, dan selanjutnya yang aku tahu Kardia menonjok dinding dan hampir mengumpanku ke cumi-cumi raksasa di danau," jelas Kanon lemas ketika mengingat ngeri yang dialaminya saat ia digantung terbalik di atas danau dan tentakel cumi-cumi hanya tinggal satu senti dari tubuhnya.

"Harusnya kau diceburkan saja sekalian, biar diculik Mermaid."

Kanon menghela napas, merapatkan gigi. Dia lebih siap dihajar habis oleh Saga daripada disuruh mati begini. "Aku... aku sudah minta maaf pada... Degel."

"Lalu?"

"Lalu tidak ada."

Saga dan Kanon menoleh, menemukan satu dari dua objek pembicaraan mereka sedang berdiri bersandar di pilar terdekat. Mata hijaunya kontras dengan dinding batu coklat-hitam. Satu tangannya membawa teko jus labu dan tangan lainnya membawa sepiring penuh pai apel.

"Tidak ada. Kanon tidak salah, jadi tidak ada yang perlu kumaafkan. Cepat atau lambat, dengan keadaan kami yang seperti ini, semuanya akan berakhir, Saga. Kau tidak perlu marah begitu pada Kanon," ujar Degel lembut. Kanon meremas ujung kemejanya yang tidak dimasukkan.

"Tapi--

"Saga!"

Kali ini Saga menoleh ke sumber suara lain selain Degel dan Kanon. Kardia berdiri agak jauh dari mereka bertiga. Satu tangannya masuk ke saku celana. Ekspresinya malas. Ia lalu berjalan mendekati mereka bertiga.

"Kardia," lirih Kanon, sebelum secara tidak sadar bergerak ke balik punggung Saga. Meminta perlindungan.

"Oi, kalian bertiga. Berisik sekali. Terdengar sampai pintu aula. Oh, halo Degel."

"...halo."

"Kardia, aku minta maaf," sela Saga. Kardia lalu menoleh ke arahnya. Ia tersenyum singkat dan mengacak rambut Saga.

"Aku sudah lebih dari puas melihat ekspresi Kanon di depan mulut cumi-cumi. Ya, Kanon?" cengir Kardia. Sebaliknya, Kanon semakin bersembunyi di balik punggung Saga. "Well, aku perlu bicara berdua saja dengan Degel. Bisa kalian pergi?" lanjutnya. Saga dan Kanon saling pandang sebentar sebelum berpaling pada Degel, yang mengangguk pelan. Segera, dua anak kembar itu angkat kaki dari tempat perkara sebelum Kardia hilang kendali diri dan mengumpan mereka pada monster apapun yang dimiliki oleh Professor Hermes di Hutan Terlarang.

Setelah Saga dan Kanon hilang dari pandangan, atmosfer ringan yang sedetik lalu ada langsung diganti oleh sesak yang tidak terelak. Mimik wajah Kardia biasa saja tapi Degel tahu, sangat tahu sekali, bahwa otaknya sedang entah ada di mana. Tak lama Kardia berbalik padanya, menatap Degel tepat di mata. Intens, tajam, menuntut, kesal, marah. Degel terjebak dalam gelombang emosi yang tidak terucap.

Lalu Kardia tersenyum.

"Aku mencintaimu."

Dan sedetik kemudian Kardia angkat kaki dari hadapan Degel. Lima langkah kemudian Degel merasa wajahnya panas. Baru satu menit setelahnya, Degel berbalik dan menatap arah Kardia pergi, berharap melihatnya berdiri menunggu. Tapi tidak ada siapapun di sana. Tidak bahkan seutas pirang keemasan milik Kardia.

Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku--

Sudut matanya lalu basah, merasakan pecahan tajam hati yang sudah ia buang namun kembali diberikan padanya.

Tuesday, 18 September 2012

Years of Youth #6

"Incendio!"

DUAR!

Asap mengepul dari kotak kayu yang terbakar oleh api dari tongkat Kardia. Rambut ikalnya agak bergoyang karena angin hasil ledakan. Senyumnya menggantung lebar di wajah.

"Brengsek! Kardia! Apa parametermu untuk kategori berbahaya?!" sengit Manigoldo, lawannya. Kardia hanya nyengir lebar.

"Jangan banyak alasan! Lawan aku atau menyerah! Diffindo!" seru Kardia. Untung, Manigoldo sempat menghindar. Kalau tidak, tubuhnya sudah jadi serpih, seperti kotak kayu malang di belakangnya.

"Brengsek. Tallantalegra!" jerit Manigoldo.

"Protego! Canis Oppugno!" seru Kardia, memunculkan sekawanan anjing dan memerintahnya menyerang Manigoldo.

"Ck! Impediment--

"Levicorpus!"

"ARGH!" seru Manigoldo ketika sesuatu yang kasat mata menarik satu pergelangan kakinya, membuatnya jatuh, lalu menggantungnya di satu kaki, membuatnya melayang di udara. Di dekat kepalanya, anjing-anjing lapar menggonggong dan mengatup-ngatupkan rahangnya berbahaya. "Kardia!" serunya. Panik. Tongkat sihirnya jatuh terlempar.

"Aku menang lagi. Minta traktir apa ya, kali ini?" ujar Kardia sembari mengetuk-ngetukkan jari di dagu, berpikir. Ia lalu menghilangkan anjing-anjing dan menurunkan Manigoldo dengan senyum paling lebar--dan menyebalkan--tersungging di wajah.

"Kau mau membunuhku, hah?!" jengit Manigoldo setelah menenangkan diri dan kembali di atas kedua kakinya.

"Oh, itu fungsi Klub Duel ini, bukan? Mempersiapkan anggotanya dalam duel hidup-mati sesungguhnya."

Manigoldo menggeretakan giginya dan berjalan ke pinggir arena, sambil menggerutu dan menyumpah kesal. Kardia juga berjalan menuju teman-temannya, Milo, Aiolia, Aiolos, dan Regulus.

"Hebat! Hebat!" seru Milo kesenangan, melakukan standing applause. Kardia membungkuk a la pangeran. Senyum masih tersungging lebar di wajah. Ia lalu mengacak-acak rambut Milo dan duduk di sampingnya. Setelah beberapa teguk air, ia menengok ke arah Regulus.

"Bagaimana aksiku tadi, Ketua?"

Regulus nyengir lebar. "Bagus. Efektif dan mematikan. Kurasa kau siap dilempar ke Azkaban dan bertarung di sana."

Gelak tawa meluncur dari mulut Kardia. "Aku belum menguasai mantra Patronus. Azkaban lain kali saja ya."

"Bahagiamu sudah hilang, sih, ya?"

Tawa Kardia berhenti ketika mendengar celetuk tajam dari Shura. Murid kelas satu itu hanya menatap kosong ke depan sebelum akhirnya menyadari seniornya itu menatapnya intens. "Apa?"

Kardia lalu berdiri. "Tidak. Aku duluan," ujarnya singkat sebelum pergi dari ruang Klub Duel dan melempar isyarat maaf pada Manigoldo. Selepas kepergian Kardia, Milo langsung menendang tulang kering pemuda berambut hitam legam itu.

.
.
.

"Ah."

Kardia mendongak dan menatap suara yang menyita perhatiannya. Manik hijau yang tersembunyi di balik kacamata dengan bingkai merah. Rambut coklat gelap yang halus dan diikat rapi. Rompi biru tua yang kontras dengan kemeja lengan pendek putih di baliknya.

Degel.

"Yo," sapanya sambil lalu. Dari sudut matanya, ia bisa melihat gelagat aneh Degel. Setelah beberapa langkah, ia berbalik dan menghadap Degel. "Apa?"

Degel menghindari kontak mata dengannya. Jari tangannya menggenggam erat buku tebal yang sedang dibawa. "Tidak. Tidak ada."

Kardia menahan pertanyaan yang siap meluncur di ujung lidah. Gantinya, ia mengangkat bahu dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju Menara Gryffindor. Setelah yakin kalau Degel juga sudah pergi, ia berbalik dan menatap ke tempat barusan Degel berdiri.

'Apa kabar? Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah makan? Oh ya, tadi aku menang lawan Manigoldo, dan Regulus menyuruhku ke Azkaban! Bayangkan, Azkaban!'

Kardia membuang napas panjang sebagai ganti kata-kata yang tidak jadi keluar dari mulutnya. Semua sudah selesai.

Semua sudah selesai, Kardia. Selesai.

Years of Youth #5

disclaimer

Harry Potter : J.K. Rowling
Saint Seiya : Masami Kurumada
.
.
.


Sabtu ketiga bulan keenam, Hogsmeade. Murid-murid mulai dari kelas tiga sampai tujuh memenuhi desa kecil itu, berdesak-desakan di pub kecil dengan bergelas-gelas Butterbeer, memilih-milih mainan, atau mengantri di toko permen. Apapun itu, untuk memenuhi hasrat masa muda.

Tidak terkecuali seorang Ravenclaw bermata hijau, Degel, yang sedang duduk sendirian di Three Broomsticks. Sendirian. Segelas Butterbeer di hadapannya sudah habis setengah. Ia sendiri menopangkan dagu di satu tangan dan menatap ke luar jendela, menghela napas berkali-kali dalam setiap kesempatannya.

Sudut matanya lalu menangkap satu sosok. Rambut pirang dan mata biru yang menjulang tinggi. Di sampingnya, versi mini si pirang sedang melompat-lompat kegirangan dan mengacung-acungkan sapu terbang barunya.

Kardia.

Degel terus mengikuti sosok Kardia yang berjalan melintasi Three Broomsticks. Taruhan lima Galleon, Kardia tahu ia ada di dalam pub. Degel menghela napas panjang. Ada sesak muncul saat mereka berpapasan di sekolah tapi tidak saling tegur sapa. Bahkan, Kardia terlihat jelas sekali menghindari kontak apapun dengannya. Degel menyandarkan kepalanya ke jendela.

Memang, sih, dia yang memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Dan sekarang dia juga yang merasa kehilangan? Oh, tidak. Harga dirinya yang kelewat tinggi tidak akan mengizinkan hal itu sampai terjadi.

"Kosong?"

Mendongak, menemukan Kanon dan dua gelas Butterbeer berdiri di samping mejanya. Di kasir, Saga, kembarannya, sedang membayar minuman yang mereka pesan.

"Ya."

Kanon membuang napas dan tersenyum. "Syukurlah. Ini kali pertama aku ke Hogsmeade, dan tempat ini penuh sekali. Apa memang selalu seperti ini?" tanyanya setelah duduk.

"Selalu. Akan semakin penuh menjelang Natal dan Tahun Baru, dan beberapa hari perayaan lainnya," jelas Degel.

"Yo, Degel! Sendirian saja?" sapa Saga. Ia lalu menarik kursi dan duduk di sebelah Kanon. Kalau sedang duduk sebelahan begini, sulit untuk membedakan siapa yang mana, mana yang siapa. Keduanya sama-sama berambut pirang, garis wajahnya juga sama, begitu juga kelakuannya. Hanya saja, Saga lebih radikal sementara Kanon lebih diplomatis. Kalau soal nekad, ia pernah melihat dua orang ini lari-lari di sepanjang koridor karena menjahili hantu mengerikan dari asrama Slytherin, menabrak penjaga sekolah, lalu didetensi membersihkan toilet selama sebulan. Hal lain yang membedakan keduanya adalah, Saga bermata biru sementara Kanon bermata hijau-biru, dan Saga dari Slytherin sementara Kanon dari Ravenclaw. Namun, dua orang sableng ini sering memakai lensa kontak dan bertukar seragam, mengecoh guru dan teman-teman seasrama mereka. "Mana Kardia?" lanjutnya.

Oh, satu perbedaan lain. Saga lebih lemot dibanding Kanon.

"Aw! Apa sih, menginjak kakiku segala?" seru Saga, melotot tidak senang pada Kanon. Yang dipelototi hanya memberi tanda-tanda dan mengedikkan kepalanya ke arah Degel. "Apa?!" tanya Saga. Degel tersenyum tipis.

"Aku dan Kardia sudah putus, Saga."

Saga menoleh ke arah Degel, lalu ke arah Kanon, begitu selama beberapa menit sebelum membuka mulutnya. Untung Kanon sempat menutup mulut si Slytherin muda itu sebelum kekagetannya menarik perhatian ke meja mereka.

"Serius? Sungguh? Demi apa?" rentet Saga. Kanon menempeleng kepala kakaknya.

"Nggak usah alay!"

"Heh, yang kusebut barusan itu adalah versi bahasa bakunya. Perlu kubilang 'ciyus', 'cungguh', dan 'miap--

"Kubilang jangan alay!" sembur Kanon. Wajahnya merah, malu. Orang-orang di sekelilingnya mulai bisik-bisik. Saga hanya mengerucutkan mulutnya, sembari tersenyum jahil.

"Tapi, serius kalian putus? Bukannya Kardia sangat jatuh cinta padamu? Aku sampai kesal sendiri saat ia teriak-teriak di telepon waktu libur musim panas, laporan padaku kalau kalian akhirnya jadi. Belum juga segala kegalauannya selama dua tahun pertamaku. Aku sampai hapal sendiri apa hobimu, bagaimana caramu makan, kebiasaanmu membetulkan kacamata, dan lainnya," misuh Saga. Kanon mengangguk-angguk.

"Dan karena Saga tidak punya tempat sampah, maka aku yang jadi tempatnya memisuh. Tapi, Saga, sudah tahu Kardia mengesalkan begitu, kenapa masih mau berteman dengannya?"

"Kardia itu tipe orang yang tidak akan mau kau jadikan musuh, Kan. Percaya padaku."

"Oh, begitu? Badut konyol begitu?"

"Sekarang ditambah Milo pula. Bisa kubayangkan, betapa hebohnya asrama Gryffindor sekarang," Saga menghela napas. Kanon menepuk-nepuk pundak saudaranya, simpati. Saga dan Kardia sudah kenal sejak tahun pertama mereka di sekolah, lewat di Klub Duel. Keduanya sering adu mulut, adu otot, dan semuanya selalu diakhiri gelak tawa dan pesta pai labu hasil selundupan. Sejak itu, setiap ada waktu, Kardia maupun Saga selalu menyempatkan diri bertemu di Aula Besar atau menyelundup masuk ke dalam asrama satu dan lainnya, untuk sekedar mengobrol santai atau berdebat sengit, atau menggosip, atau menggalau--meski yang terakhir adalah hobi Kardia. Degel memperhatikan obrolan dua orang di hadapannya sambil sesekali meneguk minumannya.

Kardia. Sejak awal kelas dua, perhatian Kardia padanya memang terlihat berlebihan. Dengan sengaja, Kardia mengambil kelas-kelas yang sama dengannya, tidak peduli betapa tidak sukanya ia dengan Rune Kuno. Menunggunya pulang setelah selesai kelas Ramalan--yang tabrakan jadwal dengan kelas Arithmancy yang diambil Kardia, menemaninya berjam-jam di perpustakaan, dan menyelundupkan puding coklat dari dapur untuk menemaninya belajar. Hal-hal remeh, tapi Degel sendiri bukan orang yang peka. Lebih lemot daripada Saga, sebenarnya. Setelah dua tahun mengira-ngira kenapa Kardia sebegini baik padanya, dan dengan satu tempeleng keras di kepala dari teman seasramanya, Manigoldo, baru ia tahu kalau Kardia suka padanya.

Jatuh cinta, tepatnya.

Lalu, pada tahun keempatnya di sekolah sihir ini, barulah ia merespon sikap Kardia, dan mulai memberikan perhatian-perhatian kecil untuk si manusia kelebihan energi itu. Mengesampingkan ketidaksukaannya dengan duel, ia menonton pertandingan kecil-kecilan Kardia di Klub Duel. Menemaninya di bangsal rumah sakit kalau penyakit lamanya mulai kambuh, menggenggam tangannya sementara Kardia berjuang melawan rasa sakit, dan merasa sangat khawatir saat Beater dari Tim Quidditch itu melepas kedua tangannya dari sapu atau bergelantung dengan satu tangan untuk memukul bola atau terlempar dari sapu karena dihantam bola.

Oh, oh. Muncul lagi, sesak aneh yang terus muncul sejak mereka berpisah.

Selama itu Kardia melakukan pendekatan, dan secepat ini dia memutuskan untuk berpisah.

Untuk yang kesekian kalinya, Degel menghela napas. Saga dan Kanon masih mengobrol panjang lebar di hadapannya. Untuk pertama kalinya, ia merasa sepi tanpa kehadiran Kardia di sisinya.

Monday, 17 September 2012

Years of Youth #4

disclaimer

Harry Potter : J.K. Rowling
Saint Seiya : Masami Kurumada
.
.
.

Ruang Bersama asrama Gryffindor. Api menyala di perapian,  menguarkan gelombang panas ke penjuru ruangan. Karpet empuk berbulu terhampar di hadapannya, sofa-sofa empuk warna merah tersebar di ruangan. Di sofa panjang di satu sisi ruangan dekat tangga menuju asrama pria, Kardia berbaring tengkurap. Kepalanya tenggelam di satu bantal apel merah besar kiriman orang tuanya pada Thanksgiving kemarin. Buku Transfigurasi Menengah terbuka lebar di lantai, dengan satu pembatas buku warna biru cerah ada di tengah-tengah halamannya.

"Hhhh...." Lalu Kardia berguling miring ke kiri dan memeluk bantal apelnya. Matanya menatap sofa kosong di depannya.

"Oi, Kardia."

Kardia sedikit mendudukkan dirinya dan menemukan Milo sedang melihatnya bingung di pintu masuk. Di belakang Milo, Nona Gendut sedang memisuh-misuh menyuruhnya cepat masuk.

"Apa?" jawab Kardia sebelum menghempaskan diri ke sofa lagi. Milo berjalan menuju Ruang Bersama dan berdiri di samping seniornya itu.

"Aku dengar kau putus?"

BUK!

"Aduh!" seru Milo yang dilempar bantal telak di wajahnya. Ia lalu memungut bantal Kardia dan mendudukan dirinya di sofa single di samping sofa panjang Kardia. "Benar rupanya."

"Benar apa?"

"Benar kalau kalian putus. Pantas saja, Unity dari kelas empat mulai mengekor Degel kemana-mana, begitu juga seorang berambut pirang yang kutahu bernama Rada... Rada? Radameleng? Radamancing?" Milo bertanya-tanya bingung.

Kardia tiba-tiba duduk, membuat Milo sedikit terkejut. Ekspresinya campur aduk antara kaget dan horor. "Rhadamanthys, dari Slytherin?" tanyanya tidak percaya.

Milo mengangguk. "Ah, ya! Anggota trio Slytherin itu. Minos, Aiacos, Rhadamanthys. Kenapa?" tanyanya. Kardia langsung bersandar dan wajahnya terlihat cemas. Milo mengerutkan dahinya bingung. Kardia menengok pada Milo.

"Jangan pernah berurusan dengan Rhadamanthys, Milo. Apalagi dengan si kepala perak Minos. Tiga orang itu sinting. Gila. Aku pernah lihat sasaran Minos dengan sengaja dimantrai kutukan Imperium. Untung saja kali ini orang tidak waras itu jatuh kaki di kepala untuk Albafica. Tapi, Rhadamanthys... brengsek!!!"

"Woa, tenang-tenang," Milo berdiri dan mengangkat tangannya. "ada apa dengan si Rhadamanthys ini?"

"Rhadamanthys punya kecenderungan sadis."

"Dan kau masokis. Aku ta--

"Dan ia sudah mengejar Degel sejak pertama kali kami masuk ke sini."

Milo mengangguk, mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini. "Lalu?"

"Sudah pasti, dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Degel. Apapun, Milo. Apapun."

Sunday, 16 September 2012

Years of Youth #2

disclaimer:

Saint Seiya - Masami Kurumada
Harry Potter - J.K. Rowling
.
.
.


Bisik-bisik riuh meluncur keluar begitu saja dari sela bibir murid-murid baru. Kebanyakan menyuarakan isi hati mereka tentang ruangan di lantai tiga tempat mereka belajar sekarang. Bercat hitam, dengan tirai-tirai merah marun menggantung menutup jendela-jendela besar, menghalangi sinar matahari masuk ke dalam ruangan yang sumber penerangannya saat ini hanya perapian besar di satu sisi; lampu kristal besar di langit-langit; dan banyak lampu-lampu kecil di sudut-sudutnya. Ditambah lagi dengan kandang-kandang emas berisikan makhluk-makhluk paling aneh yang bisa mereka bayangkan. Burung merak dengan ekor berwarna kuning keemasan dan biru-coklat tembaga menutupi tubuhnya, kupu-kupu selebar piring berwarna hitam pekat dan corak kuning-emas pada sayap, serta beberapa lagi makhluk asing yang tidak pernah disebut-sebut bahkan di pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib. Belum beberapa kandang yang bergerak-gerak heboh dan ditutup oleh kain beludru hitam.

Kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam kali ini diikuti oleh anak kelas satu dari dua asrama, Gryffindor dan Slytherin. Dua asrama yang, memang, selalu bertengkar memperebutkan apa saja setiap harinya. Hari ini pun tampaknya tidak lepas dari keadaan tersebut.

"Pirang bloon! Myoahahahahaha!!!"

"Kurang ajar! Minggir, Lia, biar kucincang tukang topeng sinting ini!"

"Sinting? Ha! Lebih baik sinting daripada lemah otak. Myoahahahaha!"

"Angeloo!!!!!"

"Anak-anak."

Suara bernada rendah yang tiba-tiba muncul membuat semua perhatian tertuju pada sumbernya. Pria dengan usia tidak lebih dari tiga puluh tahun, dengan rambut hitam legam sepekat malam dan warna mata yang sama kelamnya. Kulitnya putih pucat, seperti tidak pernah kena sinar matahari. Karisma dan wibawanya seperti menguar di udara hanya dengan keberadaannya saja. Milo terpaksa menghentikan usahanya keluar dari cengkeraman Aiolia untuk menghajar Angelo.

"Seperti yang kalian ketahui, ini adalah kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, bukan kelas gulat. Kalian bisa bertengkar dan saling hantam di pinggir danau sepuas yang kalian mau, tapi tidak di sini. Mengerti?" Belasan kepala mengangguk. "ada yang mau kau tanyakan sebelumnya, Milo dan Angelo?"

Banyak pasang mata menoleh ke arah pemuda Gryffindor bersurai keemasan dan seorang Slytherin muda berambut perak. Cengir lebar muncul di wajah Milo. "Em, aku belum tahu namamu, Sir."

"Namaku Hades. Kalian bisa memanggilku Professor Hades, atau cukup Sir saja. Ada lagi, Milo?" jawab Hades, dengan ekspresi datarnya menyihir setiap orang di dalam kelas. Kecuali seorang pirang yang kita semua kenal.

"Ya. Kenapa tirainya ditutup?"

Aiolia menyenggol Milo.

"Karena aku ingin kalian bertemu dengan makhluk ini." Hades menggoyangkan tongkat sihirnya, membuat sebuah sangkar melayang ke depannya. Dengan satu gerak cepat, ia melepas kain yang menutupi sangkar, memperlihatkan isinya.

"Hydra, ular berkepala delapan. Tatapannya tidak membuat seseorang menjadi batu dan gigitannya tidak mematikan seperti Basilisk, namun cukup merepotkan karena kau harus membunuh semua kepalanya dalam sekali serang kalau tidak mau delapan ini jadi dikali tiga untuk setiap kepala yang kau bunuh. Pelajaran hari ini adalah bagaimana melakukan serangan masif sekaligus. Terkadang kau akan dikepung oleh lebih dari dua orang penyihir tangguh dan menyerang keduanya bersamaan adalah satu-satunya opsi yang kumiliki. Keluarkan tongkat sihir kalian, kita mulai pelajaran hari ini."

.
.
.

"Milo, untung saja Professor Hades tidak mendetensimu. Seru sekali, hari pertama di sekolah dan kau sudah kena detensi," ujar Aiolia di sela-sela kunyahannya. Milo nyengir, karena kehebatannya bebas dari detensi dan kagum karena Aiolia bisa bicara dengan intonasi jelas meski mulutnya penuh pai ayam.

"Sebenarnya aku tidak benar-benar lepas dari detensi. Setiap malam aku diharuskan membantu Sir Hades merapikan gulungan perkamen, pena, dan buku-buku di ruang kerjanya, selama seminggu. Tapi nilai asrama kita tidak dikurangi, jadi aku senang-senang saja."

Aiolia menepuk jidatnya sendiri. "Jangan lupa pada PR-mu."

"Iya iya. Omong-omong, mana Aiolos? Terakhir aku bertemu dengannya waktu dia mengantar kita ke Ruang Bersama."

Aiolia mengangkat bahu. "Dia memang sibuk. Quidditch, anggota Komite Siswa, Klub Panahan, dan banyak lainnya."

"Juara umum juga. Hebat sekali, kakakmu itu." Milo meneguk jus labu banyak-banyak.

"Yah, dia kakakku. Wajar saja," dengus Aiolia bangga. Milo memutar matanya. Ia lupa kalau teman sekamarnya ini adalah seorang brother-complex tingkat kronis.

"Baru saja diomongin. Itu Aiolos," ujar Milo, menunjuk pintu Aula Besar. Seorang pemuda berambut coklat tua dan wajah mirip Aiolia masuk kelas. Tanpa jubah hitam yang banyak dikenakan oleh hampir seluruh siswa, vest merahnya mencolok. Langkahnya santai dan mantap ketika berjalan melintasi aula. Senyum Aiolia melebar dengan kecepatan ekstrim ketika melihatnya berjalan ke arahnya.

"Kakak!"

Aiolos tersenyum mendengar sapaan Aiolia. Segera ia melangkah menuju tempatnya duduk. "Halo, Aiolia, Milo. Bagaimana hari pertama kalian di sini?"

"Seru!" jawab Milo, lalu ia mulai menceritakan pelajaran dari Professor Hades, detensinya, pertengkarannya dengan Angelo, dan banyak lagi. Aiolia, tidak mau kalah, juga menceritakan hal-hal yang terjadi di asrama. Tentang Milo yang ribut ingin tidur dekat jendela, sampai Kardia dari kelas lima yang berantem dengan pacarnya.

"Kardia dan Degel bertengkar lagi? Kenapa sih mereka berdua tidak pernah akur," ujar Aiolos sambil menghela napas panjang.

"Beda asrama!" sembur Milo seenaknya mengambil kesimpulan.

"Albafica dari Hufflepuff dan Minos dari Slytherin saja adem-ayem begitu," balas Aiolia. Aiolos mengerutkan dahinya.

"Kau baru sehari di sini, tapi sudah tau gosip-gosip begitu?" tanya siswa kelas tiga itu pada adiknya. Aiolia nyengir lebar.

"Kau boleh berhasil di bidang akademik, Kak. Tapi aku jelas lebih maju dalam hal informasi," ujarnya bangga. Aiolos menjawab pernyataan Aiolia dengan mengacak-acak rambut sang adik. Melihat pemandangan hangat ini, Milo meresponnya dengan memasukkan satu potong pai labu bulat-bulat ke dalam mulutnya.

"Kau makan melulu seperti babi, Milo."

Milo mendongak dan menemukan seorang siswa dengan kemeja putih dan dasi hijau-perak berlambangkan ular di ujung bawah sedang berdiri di belakangnya. Rambutnya pirang dan matanya biru, mirip Milo namun dengan garis wajah yang berbeda.

"Saga," panggil Aiolos.

"Yo. Hanya mau mengembalikan buku Transfigurasi saja," ujarnya pada Aiolos, seraya menyerahkan buku tebal. "Terima kasih sudah menyelamatkanku dari detensi."

"Sama-sama," jawab Aiolos singkat. Senyum tipis tidak lepas dari wajahnya. Begitu juga dari wajah Saga. Aiolia dan Milo saling pandang lalu nyengir lebar.

"Yak, kami permisi dulu. Habis ini ada Ramuan dan aku tidak mau menambah detensi." Milo segera membereskan barang-barangnya dan pergi dari aula.

"Aku juga. Lebih lagi, aku tidak mau menjadi nyamuk di antara dua orang yang sedang pacaran. Dah!" lanjut Aiolia sambil berlari menyusul Milo, setelah sebelumnya mengedip jahil pada Aiolos, membuat sang kakak merona tipis. Saga menggaruk kepalanya.

"Well, karena sudah ada persetujuan dari adikmu, habis ini kau ada kelas? Temani aku ke Hogsmeade?"

"Traktir aku Butterbeer?"

Saga mengangguk singkat. "Tentu. Ayo," ujarnya sambil mengulurkan tangan.

.
.
.

Wednesday, 12 September 2012

Years of Youth #1

disclaimer :
Saint Seiya belongs to Masami Kurumada
Harry Potter belongs to J.K. Rowling
.
.
.


"Gryffindor!"

Gaung riuh memenuhi Aula Besar ketika nama satu dari empat asrama disebut. Ribut-ribut ini terdengar paling keras dari satu meja panjang dengan panji merah-emas menggantung di atasnya. Sekumpulan senior langsung menyambut adik kelas mereka yang baru saja resmi menjadi anggota keluarga mereka yang baru.

"Selamat!"

"Hei, sini duduk denganku!"

"Ayo cepat kita mulai pestanya!"

Cengir lebar menghiasi wajah semua penghuni asrama berlambang singa itu. Bergantian, mereka menepuk pundak, mengacak rambut pirang, dan meninju pelan lengan si anak baru. Senyum lebar yang sama pun menggantung di wajah si anak baru. Mata birunya bersinar cerah, menyaingi kilau bintang-bintang di atap sihir aula.

"Yo, Milo!" seru satu anak di tengah meja. Mata hijaunya menatap manik biru Milo dengan kilau yang sama. "Duduk sini! Cepat!" serunya tidak sabar. Milo segera menghampirinya.

"Lia! Kita satu asrama! Yeah! Dan kita akan menjadi duo pemain Quidditch paling populer sepanjang sejarah!" seru Milo kesenangan. Aiolia nyengir lebar dan tergelak.

"Sebelum jadi pemain Quidditch populer, kita harus masuk tim asrama dulu, dan setelah diterima kau akan dilatih seperti Sparta oleh kakakku. Dia bilang tidak ada prioritas untuk kita."

Milo hanya nyengir lebar dan mengambil sepotong daging kalkun. "Prioritas atau tidak, aku akan masuk tim! Sementara itu, ayo pesta!!!" serunya kencang, disambut riuh tepuk tangan berisik dari senior-seniornya yang lain, sambil menggigit daging besar-besar.

"Ya, pesta!" seru Aiolia sambil mengangkat gelas berisi jus labu-nya tinggi-tinggi. Setelah menghabiskan sekali teguk dan mengelap kelebihan jus yang meleber dari sudut bibir dengan lengan jubahnya, ia menyenggol Milo, "menurutmu Camus masuk asrama mana?"

Milo menoleh dan menjawab pertanyaan sahabatnya sejak kecil setelah susah payah menelan, "Kepinginku sih Gryffindor juga. Tapi orang sekaliber dia lebih cocok masuk--

"Ravenclaw!"

Kali ini sorak-sorai terdengar dari meja panjang yang ada di bawah naungan panji berwarna biru tua-perunggu dengan simbol elang. Berjalan dengan senyum paling lebar yang bisa ia lakukan, seorang anak baru berambut merah membara. Ia lalu disambut dengan seorang pemuda bermata hijau muda berperawakan mirip dengannya. Sekali-sekali, anak itu melirik ke meja Gryffindor. Mata coklatnya lalu bertemu dengan mata biru Milo. Milo tersenyum lebar dan mengacungkan dua jempol padanya.

"Ravenclaw? Lebih dari cocok untuknya," kata Aiolia. Milo mengangguk mantap.

Sisa penerimaan siswa baru diisi dengan gumaman dan seruan Sang Topi, diikuti dengan teriakan-siulan-keramaian dari meja asrama yang namanya disebut. Begitu, terus, sampai akhirnya siswa terakhir di tahun ajaran ini disebut masuk ke meja Hufflepuff. Setelahnya, Kepala Sekolah, penyihir berambut pirang dan mata kuning keemasan, Zeus, berdiri dan menenangkan keadaan.

"Tidak ada basa-basi. Selamat datang dan selamat berpesta!"

.
.
.

Sunday, 19 August 2012

That Blue Sky


Bel berbunyi empat kali, tanda waktunya masuk kelas. Siswa-siswi, pelan tapi pasti, masuk ke dalam kelas dengan teratur. Semua, kecuali beberapa orang berandal muda yang ketahuan merokok di kamar mandi sekolah.

“FARDI! JAKA! THEO! JANGAN LARI KALIAN!” seru seorang bapak-bapak tua yang kelihatannya sudah mencapai usia paruh baya.

“ASAL BAPAK NGGAK NGEHUKUM SAYA SIH OKE AJA, PAK!!!” seru Fardi, dengan cengir tolol menghias wajahnya.

“ZARA! KAMU JUGA BERHENTI!” lanjut beliau, yang mempercepat langkahnya. Zara menengok ke belakang dan memasang ekspresi horor ketika melihat jarak antara dirinya dan sang guru hanya tinggal beberapa langkah saja.

“AMPUN PAK AMPUUUUUUUUUUUUUUN!!!”

Adegan teriak-teriak sambil lari-lari ini berlangsung selama beberapa saat, sampai akhirnya satu-satu tertangkap, menyisakan Zara tertinggal dalam kejar-kejaran solo antara dirinya dan Pak Mahdi. Sang guru killer mantan peraih medali emas PON cabang atletik di masanya masih tidak mau menyerah dalam memburu Zara, siswa paling bermasalah di angkatannya. Prestasi anak itu sebenarnya bagus, di atas rata-rata malah. Yang harus dibenahi dan dididik lebih lanjut adalah caranya bersikap terhadap yang lebih tua dan sikap ngawurnya.

Seperti ketika ia akhirnya melompat dan menggelantung di pipa, untuk kemudian salto dan menjamin keselamatan dirinya dari terkaman sang guru matematika dengan diam di atap sekolah.

“Zara! Turun kamu!” seru Pak Mahdi sambil menendang tong sampah terdekat ketika menemukan sang pemuda tanggung sedang tertawa terbahak-bahak di atap sekolah.

“Nanti aja, Pak! Pas pulang sekolah! Udah ah, Pak. Saya mau tidur dulu!”

Langit terlalu biru untuk disia-siakan belajar matematika di kelas.

Thursday, 28 June 2012

Nightmare

"Gabriel."


Satu-satu hitam datang. Pandangan mata jadi buram.


"Gabriel."


Jerit histeris memekakkan telinga. Menyayat. Membuat ngilu.


"Gabriel."


Tangan menggapai, mencoba mencari celah dari kehampaan kosong di depan mata. Kaki berusaha bergerak untuk menyeret tubuh dari gelap yang menyelimuti.


"Gabriel."


Sesak mulai muncul. Udara seolah tertarik keluar dari setiap gelembung di paru, menolak untuk patuh pada hukum fisika yang berlaku. Suara tertahan seiring merembesnya udara dari setiap pori-pori organ. Tercekik.


Mati.

.

.

.

"Luchino!!!"

.

.

.

DUAK!

"Aduh!"

"Mio Dio[1]! Kenapa kau bangun tiba-tiba, Luchino?!"

Luchino membuka mata dan mendudukkan diri dalam sekali gerakan singkat tanpa basa-basi dan tanpa aba-aba, membuat dahi si rambut merah beradu dengan dahi siapapun di hadapannya, menimbulkan bunyi tulang beradu yang keras dan nyeri tidak terdeskripsikan. Sementara lawannya adu kepala menyumpah-serapah tentang betapa sialannya sang kapten CR-5, ia sendiri lebih memilih meredakan sakit di dahinya, yang sudah ia pastikan memar selama beberapa jam ke depan, dan menenangkan detak jantungnya. Selama beberapa saat ia tidak bergerak, menenggelamkan wajah di bantal bulu angsa miliknya sambil mengatur napas. Ia baru kembali ke dunia nyata ketika sebuah tangan menyentuh kepalanya lalu mengacak rambutnya pelan.

"Hei, Luchino. Ada apa?"

Luchino berbalik dan menemukan Gian berdiri di samping tempat tidurnya. Dahi pria berambut pirang itu juga merah, membuktikan bahwa ialah bedebah yang barusan mengadu kepala dengannya.

"Buon giorno[2], Gian," ujar Luchino pelan lalu memegang tangan Gian yang memegang kepalanya, sebelum mencium punggung tangannya dengan lembut. Gian merona dan tersenyum tipis, lalu duduk di tempat tidur dan ikut menggenggam tangan si rambut merah.

"Selamat pagi, mio caro[3]. Mimpi buruk?"

Luchino membuang napas panjang lalu mengangguk. Singkat dan nyaris kasat mata. "Sedikit."

Gian memperbaiki posisi duduknya. Kini seluruh tubuhnya ada di kasur dan ia duduk bersila menghadap Luchino. "Apa?"

"...Gabriel."

Oh.

Bahasan tentang Gabriel selalu membuat suasana menjadi canggung, bagi Luchino ataupun Gian. Setelah semua urusan dengan Grave Diggers beberapa tahun silam selesai dan Gian resmi menjadi bos dari CR-5, mereka memutuskan untuk tidak melihat ke belakang apalagi mengorek masa lalu masing-masing. Yang lalu biarlah berlalu, atau setidaknya begitu ingin mereka.

Tapi, ada ungkapan easier to said than to done, bukan?

"Well, em, lupakan. Oke? Gabriel atau siapapun namamu di masa lalu. Kau adalah Luchino Gregoretti, salah satu kapten CR-5 dan juga kekasihku. Mengerti?"

Luchino mengerjap beberapa kali sebelum tersenyum tipis, khasnya. Dengan segera ia menarik sang capo[4] ke dalam pelukannya.

"Si[5]. Grazie[6], Gian. Jadi, mana ciuman selamat pagiku?"

***

[1] My God
[2] Selamat pagi
[3] Sayangku
[4] Bos, pemimpin
[5] Ya
[6] Terima kasih

Wednesday, 27 June 2012

Poin utama bagi cowok teenlit

Aryaksa Tirananda. Seorang Arya yang tiran. Atau setidaknya itulah yang namanya coba cerminkan tentang kepribadian dan siapa dirinya.

Tegas, to the point alias tidak bertele-tele atau bahasa gaulnya ngga banyak ile, berwajah tampan, pembawaan keras, senyum memikat, pembully sejati, merrokok, hobi balapan, koleksi gadget masa kini, punya pengetahuan tentang hidup yang seluas langit, lady killer, womanizer. Tipikal cowok-cowok teenlit yang menjelma jadi nyata, seandainya ia tidak kurang satu poin wajib untuk pria sempurna macam ini.

Brengsek.

Ya, satu-satunya yang Arya tidak punya adalah poin brengsek, yang justru merupakan poin wajib untuk seorang lady killer dan womanizer berandalan macam ini. Kebalikannya, Arya adalah seorang pemuda tanggung yang berkepala dua dengan ciri-ciri sebagai berikut :

1. Sahabat setia.
2. Kawan di kala susah dan senang.
3. Tempat semua andai-andai dipatahkan oleh kekuatan logika. Calon pria yang sesuai untuk wanita dengan perasaan selembut sutra.
4. Orang yang tidak pernah ingin kau jadikan musuh.
5. Orang yang tidak ingin menyakiti perempuan dalam bentuk apapun.
6. Dibalik kesempurnaan logika dan kekerasan sikapnya, adalah seseorang yang sangat lembut dan perasa, melebihi pria pada umumnya. Orang yang akan menimbun semua unek-unek dan berperilaku seolah tidak ada apa-apa dan tidak terjadi peningkatan parameter kemarahan di benaknya, sampai akhirnya limit maksimum terpenuhi dan ia meledak. Duar!

Ya, kalian tidak salah baca. Orang yang mencatut nama suku yang begitu diagung-agungkan oleh Adolf Hitler pada masanya dan mengandung kata sifat yang dimiliki juga oleh penguasa Nazi itu sama sekali tidak se-tirani dan se-sempurna kelihatannya.

Mungkin ia dikatai brengsek karena menjaring hati wanita lalu melemparnya begitu saja. Mungkin ia brengsek karena membuat banyak wanita bertekuk lutut dengan sikap dan tutur kata sok-asik dan sok-iye serta sifat sok-cool miliknya.

Tapi, hei. Dia bahkan tidak tahu kalau hal itu adalah salah.

Oh, tambahkan lagi satu poin yang membuat ia tidak bisa dikatai brengsek.

7. Aryaksa Tirananda adalah seorang yang polos.

***

"Satu...dua...tiga...empat...lima...enam...tujuh...apalagi ya?" gumam Erika. Tangannya tidak berhenti mencoret-coret kertas. Hana yang duduk di depannya menjulurkan leher, penasaran.

"Nulis apa, Ka?"

"Ini, poin-poin tentang Arya. Kemaren gue ngobrol sama dia, terus random gitu nyuruh gue nulis siapa Aryaksa Tiranda yang selama ini gue kenal. Tapi gue nyerah, ah! Segini aja mesti mikir sampe laper," ujar Erika sambil menyuapkan sesendok penuh nasi goreng kambing ke mulutnya. Hana mengambil kertas yang dimaksud dan membacanya.

"Setia, logika, perasa, polos?! Ka, lo gak salah orang apa?!" Hana meninggikan suaranya. Erika yang mulutnya penuh nasi goreng dan es teh manis menggeleng.

"Nga nguengangangah."

"Eh, behave Rika! Behave! Kapan lo punya pacar kalo begitu kelakuannya?!" Hana menengok kiri-kanan, takut ada yang melihat tingkah imbisil temannya ini.

"Gue ga salah, Na. Itu Arya menurut sudut pandang gue. Lo tau sendiri gue suka mahiwal[1]." Erika menjelaskan setelah susah payah menelan.

Hana membuang napas panjang. "Mahiwal sih mahiwal tapi, serius ini Arya? Kok gue seperti melihat Indra?"

Erika mengangkat bahunya. "Indra, Arya, Ananda, Rihan, sama semua mereka itu. Yang bikin beda cuma gimana mereka mengimplementasikan kesamaannya. Itu doang. Sisanya mah sama."

"Oh. Eh, ngomong-ngomong, gimana cerita lo sama Raka?" tanya Hana dengan senyum lebar dan jahil bertengger di wajahnya. Erika menggeram singkat diiringi gelak tawa Hana--yang lebih mengundang lirikan kepo pengunjung lain daripada kelakuan Erika sebelumnya.


***

[1] Mahiwal : beda, melenceng, ngawur