Wednesday, 31 October 2012

Halloween Treat #3

Kanon terjaga karena keributan heboh di Ruang Bersama yang terdengar sampai ke kamarnya. Kepalanya sedikit pusing, mungkin efek dari perutnya yang kosong dan bangun tiba-tiba karena suara keras. Melenguh sedikit, ia lalu berguling dan bangkit dari tidurnya dengan badan terbelit selimut. Setelah menggeram kesal dan berusaha melepaskan diri dari jeratan selimut biru, ia lalu berdiri dan berjalan menuju Ruang Bersama. Degel menitipkan asrama padanya kalau-kalau terjadi keributan saat dia sedang tidak di tempat atau dia sedang kewalahan karena banyak kerjaan, dan akhir-akhir ini Degel sering pulang dengan muka kusut disertai uring-uringan tidak jelas, memisuh tentang sikap seseorang yang, katanya, bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya sembari marah-marah pada Camus. Kanon hanya angkat bahu dan memutuskan tidak ambil pusing--dan tidak mau dipusingkan--dengan apapun yang sedang dialami Degel.

Separo menyeret kakinya, Kanon menggunakan seluruh tenaga yang tersisa untuk sampai di Ruang Bersama. Dari suara cempreng yang kini ia dengar, Kanon mengambil kesimpulan bahwa Aphrodite dari kelas dua kini sedang ribut dengan entah siapa pun yang kurang beruntung mendengar omelan berisiknya. Gumam-gumam samar semakin jelas ketika ia mencapai pintu Ruang Bersama. Sesampainya di Ruang Bersama, Kanon menghela napas sebelum melangkah masuk dan menjaga wibawanya sebagai wakil dari Degel.

Dan di sana, di tengah Ruang Bersama, ada rambut pirang dengan manik hijau yang menjulang tinggi di antara keramaian, tengah menunduk menghadap Aphrodite dan mata biru muda pucatnya yang sedang marah-marah berisik. Seolah menyadari kehadiran Kanon, si pemilik mata hijau itu lalu menengok dan menatapnya. Wajah dengan rahang yang tegas dan ekspresi datar, namun Kanon bisa melihat manik matanya berkilat kelebihan energi.

Hampir saja ia menyebut nama Milo atau Kardia--karena mereka berdua juga sama-sama kelebihan energi--sampai Aphrodite menarik tangannya dan menyadarkannya tentang ketidakmungkinan dua Gryffindor dengan tingkat telat mikir di atas sejuta itu mampu menjawab teka-teki yang diucapkan penjaga pintu asrama Ravenclaw.

"Kanon! Dengar tidak?!" serunya. Kanon mengerjap.

"A--apa? Sori, aku tidak dengar, Dite."

"Rhadamanthys! Dia seenaknya masuk ke asrama kita! Katanya kau yang mengizinkan?!" tuntut Aphrodite.

"Aku? Aku tidak--

"Saga memintaku mengantar ini padamu," potong Rhadamanthys sambil mengulurkan sekeranjang apel merah, puding melon, seteko susu, roti, selai coklat, dan jeruk.

Aphrodite dan Kanon berpandangan sejenak, bingung. "Lalu, Saga mana?" tanya Kanon sembari menerima keranjang makanan titipan kakaknya.

"Aiolos."

Ini lagi, batin Kanon. Entah mengapa, hidupnya selalu dikeliling oleh orang-orang yang overdosis cinta. Kardia pada Degel, Minos pada Albafica, Saga pada Aiolos, bahkan kemarin ia sempat memergoki Hades dan Zeus sedang saling sandar di balkon ruang kepala sekolah. Gila. Sebegitu dibutakannya oleh cinta.

"Oke, terima kasih kalau begitu," gumam Kanon. "dan kalian, ngapain kalian masih di sini?" lanjutnya, mengarahkan pandangan pada massa asrama yang masih memandang Rhadamanthys seolah pemuda itu adalah alien.

"Pertanyaanku, Kanon!" seru Aphrodite. "kenapa orang sialan yang menjatuhkan Kardia dari sapu ini bisa masuk ke dalam asrama kita?!"

"Karena Saga yang memintanya kemari, berarti Saga memberitahunya cara masuk ke dalam asrama, dan jangan berteriak begitu kalau kau belum merubah suaramu jadi sepuluh desibel lebih rendah daripada suara cemprengmu! Bubar semuanya! Bubar!!!" amuk Kanon, dan dalam sekejap massa asrama--yang memang didominasi oleh kelas satu dan kelas dua--menghilang dari hadapannya, menyisakan dirinya dan Rhadamanthys.

"Dan, Rhadamanthys, kumohon kau tidak memberitahu cara masuk ke asrama kami pada siapapun."

"Kalau Minos?"

"Terutama siswa Slytherin. Meski aku tahu kalau Minos tahu, tapi selama dia masih bersama Albafica, seharusnya kelakuan orang itu masih bisa dikontrol."

"Bayarannya apa?"

Kanon mengedip. "Bayaran?"

"Ya. Saga janji mau mengerjakan tugas transfigurasiku. Kau? Apa bayaranmu untuk aku tidak memberitahu orang lain?"

Kanon membatu sebentar, sebelum mengambil tiga buah apel dari keranjang makanannya dan mengulurkannya pada Rhadamanthys. "Ini. Lumayan, untuk cemilan, dan untuk mengisi kekosongan hatimu yang tidak-akan-pernah-bisa mendapatkan Kardia."

Halloween Treat #2

Rhadamanthys kesal luar biasa hari ini. Bukan kesal karena Kardia menghajarnya dengan Bludger pada pertandingan latihan, bukan juga karena Minos menghabiskan persediaan cokelat kodoknya dengan alasan 'barang adik ya barang kakaknya'. Bukan.

Ia kesal, karena, tidak ada angin tidak ada hujan, Degel muncul di depannya, lalu meminta dia untuk berhenti mengejarnya lagi, karena ia akhirnya menyadari bahwa Kardia adalah segalanya. Degel muncul di hadapannya dan hampir separuh Slytherin kelas lima, setelah pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, di depan Sir Hades--kepala asrama Slytherin. Degel memintanya untuk berhenti mengejarnya, di hadapan seluruh teman-teman sekelasnya.

Rasanya, saat itu juga, ia ingin mengutuk Degel dengan kutukan Imperius lalu memerintahkannya tenggelam di danau, atau kabur selama-lamanya ke gubuk reyot di tepi Hutan Terlarang.

Karena, demi Jenggot Merlin! Demi Naga Hungaria atau Naga Biru Wales! Demi semua makhluk gaib dan mantra terlarang, Rhadamanthys tidak jatuh cinta pada Degel. Tidak!

"Sudah kubilang, tingkat kecerdasan Kardia itu hanya selevel anak monyet," gumam Aiacos. "semua perhatianmu padanya malah ia interpretasikan sebagai caramu merebut Degel darinya. Dasar idiot, atau memang semua Gryffindor seidiot itu?" lanjutnya.

"Diam, Aiacos!" geram Rhadamanthys, berbahaya. Aiacos mengangkat bahunya dan kembali mengerjakan tugas, meninggalkan Rhadamanthys yang uring-uringan dekat jendela. Cumi-cumi raksasa yang tidak sengaja lewat di dekat jendela lau menempelkan tentakelnya ke sana, menutupi pemandangan yang sedang dilihat Rhadamanthys dan menggantinya dengan substansi kenyal berwarna putih dengan kaki isap ungu. Pikirannya lalu melayang-layang entah ke mana, sebelum akhirnya diproses oleh otak dan diteruskan ke organ.

"Aku lapar."

Aiacos mengerutkan dahinya. "Bahkan cara bicaramu pun jadi se-abstrak Kardia. Awalnya bicara cinta, sekarang bicara perut."

"Aku tidak bisa berpikir kalau lapar," balasnya cepat sambil berjalan pergi, menuju pintu masuk asrama. "kalau Minos tanya aku ke mana, dapur," lanjutnya cepat sebelum menghilang dari pandangan. Aiacos mendongak sebentar lalu mengangkat bahu lagi.

Halloween Treat #1

"Itu namanya pumpkinophobia."

Kanon meneguk cokelat hangatnya sebelum menengok ke arah Saga, yang entah bagaimana caranya bisa masuk ke dalam Ruang Bersama asramanya. Sudah bukan hal asing lagi bagi penghuni Ravenclaw, tentang keajaiban Saga yang bisa keluar masuk asrama seperti ia keluar masuk ruang bawah tanah Slytherin. Senior sudah maklum, para guru pun begitu. Hanya Seiya--si penjaga sekolah--yang masih penasaran dan ingin sekali menemukan caranya, yang ia yakini berhubungan dengan sihir jahat, untuk kemudian mendetensinya membersihkan kandang Thestral.

"Lalu, ketakutanku pada warna kuning dan oranye?" tanya Kanon.

Saga mengerutkan dahinya sejenak. "Mmmm...bagaimana kalau kusebut, 'fobia terhadap warna kuning dan oranye' saja? Terdengar lebih sederhana," jawabnya sambil memiringkan kepala, dengan ekspresi polos. Kanon membayangkan Aiolos akan langsung menyerang Saga begitu ia melihat ekspresi ini, namun segera mengenyahkan bayangan itu.

Sekitar lima belas menit yang lalu, Saga masuk seenaknya ke asrama dan menarik Kanon yang tengah bergelung di dalam selimut ke Ruang Bersama. Lalu, ia menginterogasinya tentang kenapa ia tidak makan siang, yang dilanjutkan dengan ceramah panjang lebar mengenai menjaga kesehatan. Alasan Kanon tidak mau makan sebenarnya sederhana saja.

"Lagipula, kenapa, 'sih, kamu tiba-tiba jadi takut makan labu?"

Kanon melirik Saga dari sudut matanya. "Bukan takut. Hanya, entahlah. Muak, mungkin? Menjelang Halloween, sepertinya para peri rumah itu punya stok labu yang tidak terhingga, sampai-sampai setiap hari sejak awal Oktober semua makanan yang disediakan berbahan dasar labu. Jus labu, pai labu, sup labu, labu goreng, kue labu, dan salad labu," Kanon menyebutkan makanan-makanan yang disediakan sekolah, lalu mengakhirinya dengan ekspresi mual. "Aku mau muntah," lanjutnya.

Saga mengusap-ngusap kepala sang adik, sebelum berdiri dan berjalan menuju pintu. "Aku ambil beberapa makanan dari dapur, dan kupastikan mereka tidak mengandung labu atau apapun yang berwarna kuning dan oranye. Apa itu termasuk jeruk, wortel, dan pisang?" tanya Saga.

"Kau tahu aku tidak suka wortel, Saga. Kalau jeruk dan pisang, tidak masalah."

"Oke. Sana, tiduran saja di kasur. Sejam lagi aku kembali."

Kanon melambai sebentar, sebelum akhirnya Saga keluar dari asrama Ravenclaw. Ia menghela napas.

Halloween sialan.

Monday, 29 October 2012

Cursed

"Riza ikut ke Bali."

Luca, yang tengah memotong kuku, langsung menghentikan kegiatannya, dan menatap ayahnya yang sedang tidur-tiduran malas di sofa.

"Hah?"

"Iya," Anjar mengonfirmasi. "Riza ikut ke Bali."

"Mas pergi hari apa?"

"Hari Rabu juga. Malemnya."

.
.
.

"Salah sendiri, nggak tegas. Sekarang mah udah nggak kebeli tiketnya."

.
.
.

Detik itu, Luca menyumpah. Keras. Memaki. Dalam hati. Kepada kebijakan fakultasnya yang menyulitkan absensi mahasiswanya sendiri.

Saturday, 27 October 2012

Late Night Conversation

23.35
azuraluca : maaf yah, Sam, kalo selama ini aku sangat sering lash out my anger towards you.

23.56
sealoner : udah biasa. tenang aja.

23.58
azuraluca : oh, so sweet of you.

00.15
sealoner : apaan sih.

00.17
azuraluca : and, thank you for being there and forgive my childish behaviour.

00.59
sealoner : udah ah, Luce. Geli.

01.39
sealoner : Luce? Halah, pasti ketiduran.
sealoner :  good night, then. have a nice dream :)

.
.
.


Friday, 26 October 2012

Years of Youth #14

Asrama Gryffindor.

Milo dan sebaskom air dingin serta handuk.

Kardia yang terkapar di atas sofa. Salah satu pipinya memar.

Regulus dan Aiolia yang cekikikan bodoh di sofa seberang Kardia.

Sisyphus dan Aiolos yang sedang mengusir massa asrama untuk segera kembali ke kamar masing-masing dan berhenti mengerumuni Kardia.

Milo menggelengkan kepala melihat kekacauan yang terjadi. Setengah jam yang lalu, Kardia masuk ke Ruang Rekreasi yang ramai dengan tidak biasa. Muka lebam seperti habis ditonjok dan nafas terengah-engah seperti habis lari maraton keliling lapangan Quidditch ketika ia ngawur saat latihan lalu dihukum oleh Sisyphus, sebelum akhirnya pingsan di pintu masuk dan mengagetkan semua orang.

"Payah," gumam Milo seraya mengompres wajah Kardia. Kardia meringis sedikit. "Payah, Kar. Kau payah. Titel-mu saja troublemaker. Lawan satu orang Ravenclaw saja kalah. Kalau kau melawan Rhadamanthys lalu kau kalah, itu sedikit bisa dimengerti. Degel? Leluhur Gryffindor bisa malu," cerocos Milo.

"Diam, boc--ADUH!!!" seru Kardia ketika Milo menekan memarnya dengan emosi.

"Jangan memanggilku bocah ketika kau tidak lebih dewasa daripada aku," ujar Milo ketus.

"Hei, sudah kalian berdua."

Kardia dan Milo mendongak dan menemukan Defteros sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya. "Milo, bisa tinggalkan aku sendiri dengan Kardia? Dan itu juga berlaku untuk kalian," ujar Defteros pada kuartet Regulus-Aiolia-Aiolos-Sisyphus. Milo lalu berdiri dan pergi, setengah lari, setelah sebelumnya menjulurkan lidah pada Kardia. Kardia menggeram, kesal. Kalau kondisinya tidak sepayah ini, ia pasti sudah menjitak adik kelasnya itu.

"Nah, jadi, Kardia, apa lagi yang kau lakukan hari ini?"

.
.
.

"Uhk--apa?!" Camus hampir saja memuntahkan kembali pai labunya. Alasannya sederhana.

"Itu alasannya," gumam Degel sambil menunduk, nyaris berbisik. Camus mengelap mulutnya yang sedikit dinodai remah kulit pai. Dahinya mengerut.

"Itu...alasan...Kardia.... Oke."

Degel mendongak dan menemukan Camus sedang--sedikit--tersenyum padanya. "Oke?" tanya Degel. Camus lalu mengangguk

"Itu artinya dia sangat menghargai dan mencintaimu lebih dari apapun, sampai tidak mau menodai dirimu bahkan dalam pikirannya sendiri, Degel. Kau harusnya bangga."

.
.
.



Thursday, 25 October 2012

Traffic Joy

Gelap, dingin, malam, suara derum mobil di kejauhan, sinar redup layar telepon genggam, kicau riuh orang-orang yang menunggu jalanan kosong.

Luca menengok sekali-sekali ke jalan raya yang terlihat dari depan pagar kompleks rumahnya. Antrian kendaraan bermotor sudah mengendap sejak tiga jam yang lalu, dan tidak ada tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat. Ia lalu kembali ke layar ponselnya, mengecek linimasa jejaring sosial, hanya untuk menemukan kicauan-kicauan para pekicau tentang macetnya jalan raya. Ber-cih pelan, ia lalu melanjutkan penjelajahannya di dunia maya sambil mengisi waktu luang.

"Luce."

Luca lalu mendongak, sedikit kaget, dan menemukan Celka di sana. Sama dengan dirinya, Celka juga salah satu dari begitu banyak orang yang pada akhirnya malas pulang sekarang dan lebih memilih menunggu saja. Di belakang mereka berdua, riuh ramai Ashra yang bermain gitar sambil separuh curhat terdengar samar.

"Apa?" tanya Luca, yang perhatiannya kini penuh pada Celka.

"Temenin beli makan."

Tanpa basa-basi, nggak liat-liat orang lain lagi males apa kagak. Kebiasaan.

"Yuk."

.
.
.

"Hahahahaha!!!"

Tiba-tiba Celka tergelak. Keras, kencang. Luca lalu mengerenyit, bingung.

"Kita kayak pasangan kekasih yang baru jadi lah!"

Kekasih? Hari gini masih bilang kekasih? "Terus, pake efek angin, ujan, sama bunga-bunga, sambil sok-sok salah tingkah," lanjut Celka, mengikuti arah perbincangan konyol di tengah udara dingin.

"Alah, lebay kamu," balas Celka, sembari mengerenyitkan dahi dan nyengir lebar.

.
.
.

Dan, dalam sekejap, sekejap saja, dinginnya berubah jadi hangat, dan Luca mengumpat dalam hati, menyumpahi hormonnya dan mensyukuri cahaya remang yang menyamarkan rona merah di wajah.

Tuesday, 23 October 2012

A Universe Where Everything's Possible

Thus, the story so far....

Alice manage to let go of an underwater creature who called himself Ganymede. As a mythology-freak, she remembered that Ganymede was a handsome, charming, blonde young-man who managed to captivate Zeus' attention. But this guy....

Is far from her expectation.

Long short story, she finally came back to where she used to be, a place where she belonged. The half dark-half bright world, where she lived her two-sided life. As an apprentice under The World, and as a resident of The Underworld.

Unti she realized that the reason she strayed that far for this strange-Ganymede-guy was because of a certain someone. A bright-smile man with a pitch-black hair and a warm-friendly aura emitted from him anytime. Apollo, his name. And eventhough he didn't resemble the Sun-God at all (flaming hair, crimson eye, mischievous behaviour), he was the sun for her. He is the sun of her world.

And as the sun he should be, Alice died without him.

Sunday, 21 October 2012

Years of Youth #13

"Kardia!!!"

Kardia melompati anak tangga tiga-tiga sekaligus, sesekali menabrak-nabrak beberapa senior--yang sudah maklum dengan kelakuan miring Kardia--dan banyak junior--yang rela-rela saja ditabrak oleh Bludger tampan dari Gryffindor. Harusnya sisa hari ini ia habiskan dengan malas-malasan di Ruang Rekreasi asrama, menggelinding di karpet empuk dekat perapian, sambil mungkin mengerjakan tugas Transfigurasi dan Mantra. Harusnya.

Sampai ketika ia turun dari Menara Astronomi dan menemukan Degel di ujung koridor menuju asrama. Memori brengseknya mendadak memutar balik menuju waktu di mana ia menemukan seorang sialan dari Slytherin sedang--

"Kardia! Berhenti kabur!"

Kardia buru-buru mengenyahkan pikiran gila itu dan fokus kabur. Kabur dari orang yang memancing adegan gila di ujung tersembunyi kastil itu terbayang dengan sangat nyatanya.

.
.
.

Tapi, kadang, bahkan, seorang Kardia pun, tidak bisa lolos dari mangsa yang kini berbalik mengejarnya.

.
.
.

Setelah berlari menyusuri kastil, naik-turun tangga, melintasi lapangan, menyusuri tepi danau, dan tersesat di taman labirin, Kardia menyerah. Tidak, niatnya untuk kabur tidak akan pernah bisa menerima keadaan dirinya menyerah. Tubuhnya lah yang membuatnya menyerah.

Jantungnya sudah berdebar dengan ritme yang tidak karuan sejak sepuluh menit yang lalu akibat lari-larian ekstrim yang baru mereka berdua lakukan. Hal ini membuat pasokan oksigen ke seluruh tubuh Kardia menurun drastis; dan kini ia sedang menanggung efek dari hal itu. Terduduk dengan napas sangat cepat dan pandangan buram. Berlari sedikit lebih lama lagi, dan dia akan pingsan di tempat.

Dan di belakangnya, berdiri Degel yang sedang berusaha mengatur napasnya sambil mencengkram kerah kemejanya.

"Berhenti...kabur...dariku...Kardia," sengal Degel di sela-sela napasnya. Kardia hanya diam dan berusaha mengatur tubuhnya, memaksa tubuh lemahnya untuk kembali bekerja dnegan normal.

"Kardia?" tanya Degel, kini berada di hadapan si Gryffindor muda. Kardia mendongak, masih bernapas cepat dan mencengkram dadanya. Ia lalu tersenyum.

"Yo... se...bentar...ya?" ujarnya putus-putus. Mimik wajahnya lebih pucat dari biasa. Kardia memang putih, nyaris pucat, meski tidak sepucat Minos atau Aspros. Meski menyandang gelar Beater dan anggota Klub Duel, Kardia juga merupakan pelanggan tetap Bangsal Rumah Sakit, terutama di awal-awal kehidupan asramanya. Penyakit lama bawaan lahir adalah penyebabnya. Begitu ia aktif di berbagai kegiatan yang melibatkan fisik dan stamina, pelan-pelan frekuensinya berkunjung dan menginap di bangsal berkurang. Namun, sekalinya kumat, ia bisa terbaring berhari-hari

"Kenap...astaga. Maaf, aku lupa. Sungguh, aku..." ujar Degel panik. Ia buru-buru berlutut dan mengobservasi Kardia, melihat apakah pemuda itu membutuhkan penanganan segera. Kardia lalu menepuk lengan Degel.

"Jangan panik begitu, oke?"

"Kau, tidak apa, Kardia? Perlu kubawa ke Bangsal?" tanya Degel. Kardia menggeleng.

"Tidak. Ini, hanya kaget saja. Bukan apa-apa," jawab Kardia, yang kini mencengkram tangan Degel. Degel balik meremas tangan Kardia, berharap bisa sedikit meringankan apapun yang dirasakan pemuda bermata biru di hadapannya itu.

"Benar?"

Kardia mengangguk. "Lagipula, kapan lagi kita kejar-kejaran begini, dengan kau yang mengejarku?" ujarnya, dengan cengir lebar tersungging di wajah. Tangannya kini tidak lagi mencengkram tangan Degel, hanya menggenggamnya saja. Setiap indera perasa di tangannya berusaha menghapalkan lagi kontur tangan Degel. Bagaimana rasanya, bentuknya, hangatnya. Semuanya.

Ketika Kardia sedang sibuk dengan kerinduannya akan Degel, yang bersangkutan malah merengut kesal. "Kalau tidak kukejar, kau tidak akan mau menjelaskan padaku kenapa kau menghilang dan kabur seperti orang melihat hantu setiap kali melihatku."

Kardia tergelak. "Oh, itu. Hahahaha. Tidak ada apa-apa, kok," ujarnya sambil nyengir lebar. Degel makin merengut.

"Lalu, ucapanmu soal selalu ada di sampingku atau mencintai tanpa syarat itu juga bukan apa-apa? Bukan sungguhan?" Degel menyentakkan tangannya. Air wajahnya semakin suram. Kardia lalu menghela napas panjang.

"Degel."

Degel tidak menjawab. Ia hanya menatap manik biru Kardia dalam bisu, sambil menikmati sentuhan lembut Kardia di wajahnya. Ah, betapa ia merindukan tangan hangat itu.

"Degel, aku mencintaimu. Dulu, sekarang, dan seterusnya. Itu adalah satu yang tidak akan berubah."

"Lalu?"

Kardia menghela napas lagi. "Lalu, alasanku tidak mau bertemu denganmu adalah, karena aku tidak mau membuatmu jadi objek imajinasi liarku."

"....hah?"

Kardia menggaruk kepalanya, bingung harus mulai dari mana. "Aku, anak muda. Dan pikiran anak muda kadang, melenceng cukup jauh dari seharusnya, kan?"

Degel mengangguk ragu. "Ya? Lalu?"

"Well, kau tahu, tingkatan paling tinggi yang paling ingin kau lakukan bersama orang yang kau cintai?"

"....apa?"

Kardia face palm. Ia tahu Degel itu polos, tapi...

"Aku melihat Minos dan Albafica."

"...ya? Minos dan Albafica sedang?"

"........................bercinta."

.
.
.

The Path I Choose

"Aku suka kamu."

"...yang kayak gini ngga harusnya diomongin lewat telepon."

"Iya. Tapi kita ngga mungkin ketemu. Ini aja udah batal lagi."

"...so?"

"Mmmmm...ngga ada. Ini, yang sebenernya mau aku omongin dulu itu. Agak basi sih, sebenernya. Tapi ya udah. Galau-galau aku kemarin itu ya karena aku bingung ini apa. Dan sekarang aku tau, tapi kita ngga bisa. Salah di akunya sih."

"...mmmm."

"Soal kenapanya, soalnya aku juga suka sama orang lain.... Ngga. Aku suka sama kamu, tapi aku cinta sama orang lain, dan pada akhirnya semuanya selalu orang lain itu. Ngga pernah kamu. Jadi. Yaaaa."

"....oke."

"Oke. Nah, udah ya. Gue mau nyetir."

"Ya."

.

because this is the end we'll face, even if someday we manage to be together, for we've walked through a different path. so, goodbye.

Sunday, 14 October 2012

Years of Youth #12

Sudah seminggu ini, Degel uring-uringan. Bahkan, wajahnya yang tanpa ekspresi dan membuatnya memiliki gelar 'Ice King of Ravenclaw' itu pun tidak bisa menyembunyikan emosinya. Di pelajaran Duel di kelas Mantra pun, Degel yang biasanya melancarkan mantra-mantra kalem dan tersembunyi untuk mengalahkan lawannya kini memakai mantra-mantra eksplosif. Entah sudah berapa kali Ares melancarkan Aguamenti hari itu, sampai mengancam akan mendetensi si mata hijau itu kalau sampai ia meledakkan satu kursi lagi.

Alasannya? Simpel saja.

"Kardia selalu kabur dariku setiap kali kami bertemu di koridor."

Camus mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba mencerna informasi. "Oh?" ujarnya setelah beberapa menit. Bahkan otak brilian turunan dari sang ayah--muggle ternama di bidang sains yang terkenal karena otaknya yang dibilang setara dengan seorang penemu rumus kuantum ternama--pun tidak bisa membuat bungsu yang menyandang titel 'Pangeran Es' ini mengerti maksud kalimat sang kakak.

Degel menyuap sup jagung ke mulutnya sebelum memasukkan sepotong besar Baguette ke dalamnya. "Ha! Hahaha hahahnga hia hihahahhaaghu!!!"

"Kak, telan dulu makananmu," ujar Camus, melirik kiri-kanan.

"Iya!" seru Degel tidak sabar setelah menelan makanannya. "padahal katanya dia cinta padaku! Padahal katanya cukup ada di sampingku dan melihat aku bahagia. Padahal...ARGH!" geramnya sembari menggebrak meja dan angkat kaki dari Aula Besar untuk mencari bedebah yang berani membuat emosinya berantakan seperti ini.

Wednesday, 10 October 2012

Tribute Fic: Happy Birthday Gian Carlo Bourbon del Monte !

Kursi berlengan besar dengan lapisan kulit mewah warna cokelat yang terbuat dari kayu jati kualitas nomor satu adalah salah satu saksi bisu dari kesibukan sang Capo hari ini. Berjam-jam duduk di atasnya, membaca ratusan lembar kertas tentang keamanan kota, menandatangani proposal dari famiglia lain, menerima tamu dari luar kota, atau sekedar bersandar padanya sambil melempar-lemparkan kertas tepat di muka sang bawahan.

Hari yang biasa bagi Gian Carlo, orang nomor satu dari famili CR-5, sang Lucky Dog yang sembarangan sekaligus memikat di saat yang bersamaan, puncak semua keluarga mafia di kota tersebut. Pemuda pirang itu lalu menghela napas panjang, menimbulkan satu garis panjang dari asap cerutu yang tengah diisap, lalu menghempaskan diri ke sandaran empuk kursi sembari menjatuhkan laporan tentang keributan di tengah kota yang disebabkan oleh beberapa pecundang Grave Digger.

"Ngghhh...." geramnya sembari meregangkan tubuh. Sudah hampir seminggu ia dijejali tanpa henti oleh laporan-laporan sepele. Pencurian ikan, pencuri pakaian dalam, keributan di pasar malam, penipuan di bar kecil di pinggir kota, sampai masalah rumah tangga tetangga yang saling lempar piring sampai-sampai salah satunya nyasar ke halaman HQ CR-5 dan memecahkan jendela. Ingin rasanya ia kabur sejenak, ke gereja tua tempatnya berasal atau ke manapun, untuk meredakan tensi darahnya yang sudah cukup tinggi.

Belum lagi, Luchino--sang second in command sekaligus kekasihnya, kini sedang mengurus bisnis famiglia di luar negeri. Kabar terakhir mengatakan ia akan pulang paling lambat sebulan lagi. Begitu juga dengan Bernardo--sahabatnya sejak kecil, yang kini sedang berangkat ke Inggris untuk mengurus hubungan diplomatis dengan mafia sana.

Kesampingkan Giulio--yang kini sedang sibuk menghabisi sisa-sisa GD--atau Ivan--yang sedang entah ada di mana bersama entah wanita mana. Terjebak sendirian di markas dengan ratusan lembar kertas menunggu untuk dibaca dan ditandatangani, hari ini jelas hari yang cukup menyebalkan bagi Gian.

Pandangan matanya yang kemana-mana lalu berhenti di kalender mejanya. Tanda silang terakhir ada pada tanggal 9. Sekarang sedang bulan Oktober. Hari ini berarti tanggal sepuluh Oktober. Gian menghela napas semakin panjang.

"Oh, ya. Hari ulang tahun yang sungguh hebat."

Saturday, 6 October 2012

Years of Youth #11

BRAK!

Pintu ruang kelas menjeblak terbuka, memperlihatkan seorang pemuda berambut pirang dengan mata biru yang berdiri terengah-engah dengan keringat membanjiri wajah. Semua anak menatapnya, begitu juga dengan sang guru. Pria di usia awal tiga puluh, dengan mata biru gelap dan rambut coklat tembaga. Dahinya berkerut saat melihat kedatangan heboh Kardia.

"Maaf...Sir...saya...terlambat...."

Ares menaruh buku yang sedang ia baca lalu berjalan ke arah Kardia. Tongkat sihir dari kayu Ash dengan inti naga-nya diayun-ayunkan berbahaya. Matanya berkilat jahat ketika ia mengayunkan ke arah Kardia dan meledakkan pintu kayu di sebelah sang Gryffindor.

"Jadi," DAR! "kenapa," DAR! "kau," PRANG, lampu kecil di pilar pintu jatuh. "datang," BRAK, Kardia berguling ke samping dan menabrak meja kayu. "terlam--

"Expelliarmus!" seru Kardia dari balik kursi, disaat yang sama Ares menarik meja dan membiarkan meja malang tersebut meledak jadi kepingan tajam ketika telak dihajar oleh mantra Kardia. "Aku minta maaf, Sir! Bukan mauku datang terlambat!"

"Lalu kenapa kau datang terlambat, Kardia dari Gryffindor, Beater Tim yang pernah memukul Bludger ke arahku sambil cengengesan tolol, anggota Klub Duel yang hobi melucuti pakaian lawan?"

Kardia, yang sudah berdiri dan tidak lagi bersembunyi, membuka mulutnya sebelum merona merah. Sangat-merah. Lebih merah dari rambut sang guru yang warna tembaga, apalagi rambut merah Camus. "Aku...."

Ares sebenarnya ingin bertanya lebih jauh tentang perubahan ekspresi wajah Kardia, tapi ia menahannya untuk lain kali. "Ya?"

"Aku...jalan pintas yang...biasa kulewati...anu," ujar Kardia gugup. Ares makin mengerutkan dahinya.

"Ya? Ada apa dengan jalan pintas yang tidak pernah mau kau bagi dengan kami?"

"...aku butuh ke kamar mandi, Sir," jawabnya tiba-tiba sambil angkat kaki dari kelas, memancing sumpah-serapah dan pengurangan poin asrama dari Ares. Tapi Kardia tidak peduli. Salahkan Minos dan seseorang dari Hufflepuff sahabat Degel yang melakukan hal ngawur di sudut sekolah.

Friday, 5 October 2012

Years of Youth #10

"Nh...."

"Aaa...."

"Nnnnn!!!"

.
.
.

Kardia membatu. Mematung. Mati gaya. Total.

Harusnya ia sedang ada di kelas Mantra dan sedang duel dadakan dengan Regulus, atau Asmita, atau El Cid, atau siapa pun yang mau meladeninya. Harusnya ia sedang diamuk oleh Professor Ares karena kelakuan anarkisnya, atau justru sedang diajak duel oleh guru yang sama-sama cepat panas itu.

Harusnya ia tidak membatu di satu sudut sekolah, melipir ke dinding dan menahan napasnya, mati gaya dan bingung setengah mati. Harusnya ia tidak ambil jalan pintas terdekat dari Ruang Sapu menuju kelas Mantra. Harusnya-ia-tidak-ada-di-si--

"Minos!!!"

.
.
.


Thursday, 4 October 2012

Secret Wish

Derum knalpot menderu, selagi mobil itu melaju. Dengan knalpot modif sederhana hasil puasa dan menabung pelan-pelan selama satu semester, Celka menginjak pedal gas dalam-dalam, memamerkan bunyi garang hasil kerja kerasnya menahan nafsu makan selama enam bulan terakhir.

"Asiklah suaranya!" seru Luca, duduk di kursi penumpang sambil menarik-narik sabuk pengamannya--kesenangan. Celka hanya nyengir senang.

"Tadi, kata Risya, berapa kalo mau nge-jailbreak?" tetiba, Celka angkat suara. Luca yang sedang sibuk memencet-mencet tombol radio mengerutkan keningnya.

"Mmmm, sekitar seratus ribu. Tapi kalo yang di-jailbreak macem iPhone sih, kayanya lebih mahal lagi." gumam Luca. "Kenapa? Mau jailbreak iPhone barumu?"

Celka lalu tertawa renyah. "Percayalah aku punya? Mana ada aku punya."

"Lah? Kan tadi kamu bilang begituuu??" protes Luca.

"Percaya aja sih kamu. Dasar."

"We! Celka tukang bohong we!"

"Apaan sih, Luce. Masih ngawur aja mulutnya."

"Alaaah," Luca mengibaskan tangan, "ngatain ngawur, udah lama ngga ngobrol juga. Tau darimana mulut aku sering ngawur?"

.
.
.


"Tapi, sekarang seneng, kan, aku ada di sini?"

Luca diam sejenak sambil melirik Celka dari sudut matanya. Wajahnya tidak terbaca--tidak bisa dibaca. Poker face sialan, misuh Luca dalam hati. Luca lalu menengok ke jendela, melihat pohon-pohon yang  bergerak mundur selagi kendaraan yang dikendarainya melaju.

"Pasti lah. Seneng banget."

.
.
.

Orang mana, yang tidak senang, ketika apa yang selalu diimpikannya setiap malam dan pintanya setiap sembahyang lalu dikabulkan dan direalisasikan oleh Tuhan?

Monday, 1 October 2012

Stranger

"Sam, kita emang udah selesai, tapi ngga gini ceritanya."

"Sejak awal memang nggak pernah ada apa-apa di antara kita, kan? We're clear about that."

"Jadi, lo ga bisa, dong ngeginiin gue hanya dengan alasan we're done?"

Samudra diam dan menutup mulut, menelan semua komentar, dan...diam. Diam dan mendengarkan gadis pendek di hadapannya nyerocos panjang lebar tentang apa yang boleh dan tidak boleh. Samudra gerah. Ingin rasanya ia memotong kalimat Luca, lalu membalikkannya dengan fakta sesuai interpretasinya. Tapi, ia tahu, kalau Luca tidak suka dibantah. Luca suka marah-marah karena hal remeh.

Dan ia, si orang asing, tidak punya hak apapun untuk mencegah Luca melampiaskan segalanya. Toh, dia cuma orang asing, bukan?

Until?

"Mau sampai kapan lagi berdusta?"

Luca menoleh ke samping, tidak bisa melihat wajah Reynaldi yang menatapnya galak.

"Mau. Sampai. Kapan. Lo. Bohong. Luce."

Luca menghela napas dan membereskan barang-barangnya, pergi dari tatapan tajam Reynaldi yang tidak menuntut jawaban.

.
.
.

sampai gue akhirnya bisa menjalani hidup sesuai aturan gue sendiri.

Years of Youth #9

Musim dingin menjelang, lapangan hijau berubah jadi hampar putih keperakan, danau luas berubah jadi arena skating, perapian menyala sepanjang malam, sweater tebal keluar dari tempatnya yang tersembunyi di lemari, dan hidung serta pipi menjadi merah karena sengat udara dingin.

Dimulai dari hari-hari awal November, sesekali keping es itu turun dari langit dan angin beku menghembus menembus celah kastil yang luput, atau sengaja dibuat luput, dari perbaikan. Suhu di luar kastil sering menembus angka nol derajat.

Dan dalam kondisi ekstrim begitu, Tim Quidditch Gryffindor tidak pernah absen latihan sekalipun. Berniat mempertahankan kemenangan mereka dalam pertandingan musim dingin, Sisyphus memutuskan untuk membuka topeng senior-baik-hati dan kapten-paling-pengertian di dunia ini dengan menjadi pelatih sparta. Di tengah hujan salju, dengan putih membutakan mata, tujuh orang pemuda-pemudi anggota tim dipaksa naik ke atas sapu dan berlatih.

Semua, tidak terkecuali Kardia yang kini tengah melamun bodoh di dekat gawang. Defteros terbang tidak jauh di sebelahnya, sesekali melirik Kardia dan Sisyphus dan Kardia dan Sisyphus lagi selama beberapa menit, sebelum mengangguk singkat ke arah sang kapten dan melayang terbang menabrak sapu Beater dari kelas lima itu, membuat Kardia oleng dan menjerit kaget dan bergelantung satu tangan pada sapunya sambil menatap galak seniornya yang satu itu.

"Brengsek!" umpat Kardia, setengah menggeram tertahan--takut pada amukan Sisyphus dan detensi Defteros--pada Prefek Gryffindor itu. Defteros mendengus.

"Fokus, Kardia. Kalau bukan karena Isaac menangkap Snitch saat Rhadamanthys menghajarmu, kita tidak akan menang. Camkan itu. Tidak. Akan. Jadi sebaiknya kau buang Degel jauh-jauh dari pikiranmu saat kau ada di lapangan, dan berlatih yang benar." 

Kardia ber;'tsk' pelan sebelum mengayunkan tubuhnya dan melayang pergi ke area latihan, bergabung dengan teman-temannya yang lain, menerima amukan Sisyphus karena berani bolos latihan sehingga ia--terpaksa--harus turun ke tanah dan lari seratus putaran sebagai hukumannya.

.
.
.

"Degel."

Sekerat thyme, dua tetes rambut Unicorn....

"Degel."

Potongan kayu ek, tiga ikat insang....

"Degel!!!"

Bunyi 'duk' pelan dari centong kayu yang jatuh ke meja dan jeritan melengking tepat di depan telinganya membuat Degel kembali ke dunia nyata. Ia mengerjap sekali-dua kali, sebelum menyadari bahwa teman-teman Ravenclaw-nya sedang menatap ia horor, dan Albafica sedang menarik lengan jubah hitamnya. Tepat di samping kanan, lewat surai-surai hitam dan manik biru--yang ia lihat dari sudut mata--Poseidon sedang melipat tangannya di dada. Murka.

"Minggu kemarin kau hampir meledakkan tempat ini, dan minggu ini kau tidak membuat ramuan yang aku suruh! Kenapa kau malah membuat ramuan penghilang sakit, dan bukannya ramuan kejujuran?!" sergah Poseidon. Degel menunduk menatap tanah selagi Albafica buru-buru mematikan api dari bawah kuali Degel.

"Keluar! Dan jangan kembali sampai isi kepalamu tertata rapi dan pikiranmu kembali benar!!!"