Saturday, 31 August 2013

Untitled #2

A windowsill, dripped wet
with tears
mine, as I cried and cried over my stupid mistake of loving you

A piece of me betrayed its owner
me
for still wanting you and hoping and wailing and crying over you

Again.
and again and again

Where are you?
Do you hear me?
Do this gentle wind give you my message?
Of how much I love you?

How much should I say goodbye?
to my heart
to your back
I cannot reach

A Snippet of A Heart

(c) Cassandra Clare

.
.
.

Magnus sudah hidup hampir delapan ratus tahun. Ia sudah mengalami ratusan kali jatuh cinta, ratusan kali patah hati, dan lebih banyak lagi melihat kematian merenggut nyawa para manusia dengan begitu mudahnya. Di masa awalnya sebagai seorang warlock, ia mensyukuri ketidakmampuannya untuk mati. Di masa mudanya, ia mengasihani para manusia, yang begitu putus asa mempertahankan kehidupan mereka sampai rela menjual jiwanya pada seorang Downloader sepertinya.

Seiring waktunya bertambah, semakin banyak pula jumlah manusia yang ia temui. Berbagai karakteristik manusia ia jumpai, dan akhirnya ia menemukan keindahan dari jiwa manusia yang begitu singkat itu. Seperti api, membakar paling panas dan menyala paling indah pada masa-masa akhirnya. Begitu hangat dan singkat, hidup manusia--kehidupan para makhluk fana.

Will Herondale, Camille Belcort, Axel von Fersen, sebutkan saja nama-nama makhluk yang membuatnya jungkir balik. Dibalik sikapnya yang angin-anginan, bahkan Pangeran Neraka Azazel pun tahu betapa loyalnya Magnus pada cintanya. Ia rela mengorbankan semuanya; tenaga, waktu, dan hatinya, untuk bisa membahagiakan yang ia cintai dan sayangi. Ya, hati. Magnus bukanlah seorang warlock tanpa hati yang hidup semata-mata karena keabadian mereka. Waktu sudah mengajarinya begitu banyak, cukup untuk membuatnya menghargai jiwa setiap fana yang ditemuinya.

Dan meskipun hatinya patah setiap kali objek cintanya dijemput oleh Azrael, tidak pernah sekalipun ia menyesali waktunya yang tanpa akhir ini. Tidak.

Kecuali, saat ini.

Bau obat-obatan begitu menyengat hidungnya. Semua tempat tidur berseprai putih yang berjajar ini membuatnya gila. Pertempuran antara Shadowhunters, faeries, dan Downloaders dengan Jonathan Christopher Morgenstern dan pasukan Shadowhunters gelapnya sudah selesai. Pemenangnya, well, Magnus tidak akan bisa duduk manis di salah satu sisi tempat tidur jika memang Putra Valentine itu yang menang. Jace Herondale memenangkan pertempuran epik ini. Ia dan Clarissa Morgenstern berhasil membuktikan pada dunia bahwa memang malaikat-lah yang pada akhirnya akan memenangkan segala macam pertempuran yang melibatkan surga dan neraka. Bukan berarti para iblis tidak bisa memenangkan pertempuran gila ini. Namun ketika Iblis Utama dari jajaran malaikat jatuh yang mau bergabung dengan perang ini hanyalah Lilith, sedangkan Jace memiliki api milik Michael dalam dirinya dan darah Ithuriel mengalir dalam pembuluh Clary, apa dayanya? Hanya satu hal yang Magnus ketahui dari perang ego yang sudah menumpahkan begitu banyak darah ini.

Kau tidak bisa apa-apa jika berjalan sendirian.

Yang juga merupakan salah satu jawaban mengapa ia memilih untuk berdiam diri di bangsal rumah sakit di Institut, menggenggam tangan seorang Shadowhunter muda yang sedang terbaring tak berdaya dan hampir tanpa nyawa.

Perang selalu membawa korban, dan Alexander Gideon Lightwood adalah salah satunya.

Meskipun Magnus menolak untuk ikut serta dalam perang, hatinya tidak bisa berbohong. Seolah ada yang meremas dadanya ketika ia melihat kilatan cahaya di kejauhan--di tempat terjadinya perang. Ia membayangkan ada di sana, melihat kekacauan, darah, dan pembunuhan yang sedang terjadi. Ia membayangkan Jace membelah satu keturunan Lilith jadi dua bagian, Izzy mengayunkan cambuknya dan menghabisi apapun yang berada di jalannya, Simon melompat kesana-kemari memamerkan taringnya dan merobek leher lawannya, dan Clary, well, Clary menjadi seorang Clary. Berteriak dramatis, menyerang dramatis, merayakan kemenangan dan panik dengan dramatis. Kau tidak bisa membayangkan seorang drama queen menjadi tidak dramatis di saat-saat penuh drama seperti ini.

Lalu, pikirannya teralih pada Alec. Kekasih fananya yang begitu--manis. Ia tidak bisa berbohong bahwa Alec bukan tipenya dan bahwa ia tidak pernah jatuh cinta pada pria lain selain Alec. Will dan Axel--dan kini Alec--adalah salah satu contoh betapa rambut hitam dan mata biru tidak pernah berhenti menjentikkan listrik ke dalam hati Magnus, yang membuat perutnya seperti berisi ribuan lebah terbang. Karena kupu-kupu terlalu mainstream.

Alec, yang begitu canggung dan tidak pandai berkata-kata. Alec, yang membiarkan dirinya dipanggil 'sweet pea' ataupun 'darling' atau apapun oleh Magnus dan hanya mendengus saja sebagai responnya. Alec, yang begitu cemburu pada kisah masa lalunya. Alec, yang begitu ingin tahu tentang bagaimana kehidupannya, siapa saja yang sudah ia temui, apa saja yang sudah ia lakukan, siapa ayahnya yang sesungguhnya--yang seharusnya sudah diketahui oleh Nephilim muda itu mengingat begitu banyak petunjuk mengenainya. Alec, yang begitu putus asa mengenai kefanaannya. Alec, yang putus asa karena kemampuan Magnus untuk mengubahnya menjadi abadi tanpa harus menggunakan sihir hitam atau mengubahnya menjadi vampir. Alec, yang begitu putus asa sampai mau membuat kesepakatan dengan Camille demi memangkas nyawa Magnus.

Alec, yang begitu mencintainya sampai ia jatuh terlalu dalam di kegelapan hatinya sendiri.

Pertama kali dalam hidupnya, Magnus begitu membenci keabadiannya, ketidakmampuannya untuk mengakhiri waktunya dengan cara yang normal, kemudaannya, semuanya.

Magnus--yang pada akhirnya memutuskan untuk ikut berperang demi melindungi Alec, secara diam-diam--tidak bisa melupakan kengerian yang begitu nyata baginya saat itu. Bukan ketika pada akhirnya Jace membunuh Jonathan, namun saat Alec rubuh ke tanah bergenangkan darah. Darahnya.

Mata kucing Magnus mengecil. Inderanya lebih sensitif entah berapa ribu kali. Pita suaranya protes ketika ia berteriak panik. Otot kakinya menyerah saat ia akhirnya sampai di tubuh Alec yang bergelimang darah.

Pandangannya gelap. Total, dan saat itu juga ia membayangkan rasa yang lebih buruk daripada mati.

Yaitu ketika hatimu dibawa ke alam kematian oleh jiwa yang memilikinya, sementara tubuh dan jiwamu terbelenggu oleh rantai keabadian sampai akhirnya malaikat maut sudi mencabut nyawamu.

Magnus memejamkan mata, berusaha menelan pahit yang mendadak muncul di pangkal lidahnya ketika ia mengingat kronologi kejadian tersebut. Bayangan Alec yang mati meninggalkannya. Lagi.

"Alexander," lirihnya. Nama Alec begitu merdu di telinganya. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam duduk di atas sofa dengan hanya melantunkan nama Alec saja terus-menerus dan tidak bosan karenanya. Untuk pertama kali dalam sejarahnya sebagai seorang warlock, Magnus merasa putus asa. Entah apa yang berhasil melukai Alec, ia tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Hanya satu yang Magnus tahu. Apapun itu, ia berasal dari dunia bawah.

"Alexander, kumohon, sadarlah." Genggaman Magnus pada tangan Alec semakin erat, seolah berusaha menarik Alec dari kegelapan manapun yang saat ini sedang ia jelajahi.

"Maaf, aku memutuskan untuk berpisah denganmu hanya karena alasan konyol soal kepercayaan. Maaf, aku  lupa betapa rapuhnya hatimu. Maaf, Alexander. Aku akan meminta maaf padamu sebanyak yang kau mau. Aku akan menceritakan padamu tentang hidupku. Tentang Will, tentang Camille, tentang Woolsey, Peru, balon udara, London, semuanya. Aku akan mencari cara, bagaimana membuat kita bisa terus bersama sampai selama-lamanya. Karenanya, aku mohon, Alec...."

"Buka matamu."

.
.
.

Karena aku tidak sanggup hidup sendirian di waktu yang tanpa batas ini tanpa dirimu di sisiku, Alexander.

Wednesday, 28 August 2013

Break

Asap abu-abu membumbung dari rokok yang sudah terbakar separo. Dua jari menjepit batang tembakau tersebut, sesekali memutarnya. Mata coklat si empunya tangan tidak fokus. Kesana kemari, seperti memandangi seekor kupu-kupu yang terbang panik.

Seperti memandangi kupu-kupu dalam dirinya yang terbang panik.

Satu hisap dari asap nikotin yang adiktif, dan sel-sel otaknya kembali mati sambil bekerja di waktu yang sama.

"Cil. Mati lo, ngeroko melulu."

Gaya bicara Luca yang monoton membuat Ciel kesal. Tidak tahu kenapa. Kesal saja.

"Gue ga ngeroko juga mati."

"Maso."

Satu jitakan mendarat di puncak kepala Luca. Gadis berambut ikal itu hanya meringis. Tidak ada niat membalas kelakuan kembarannya sedikit pun.

"Ka."

"Um?"

"Gue cape."

Luca menoleh, menatap Ciel dari samping. Mata pemuda itu redup. Kilau jahilnya seolah hilang diserap waktu. Lengannya segera terulur dan merengkuh pemuda tersebut dalam pelukannya.

"Ya istirahat dong, Cil."

"Boleh?"

Luca tergelak. Kencang. Geli. "Siapa yang ngelarang?"

"Lo, gapapa gue lepas?"

Luca melepas pelukannya lalu tersenyum lebar. "Lo mau break seumur hidup juga ga masalah, Ciel."


Sunday, 25 August 2013

Suddenly Sister

(c) Cassandra Clare
Faux (c) tasyatazzu

.
.
.

Prang!

Alec tidak bisa tidak melepaskan gelas yang sedang dipegangnya. Mata biru Shadowhunter muda itu membelalak. Pupilnya melebar, dahinya berkerut, mulutnya terbuka. Terkejut, sangat terkejut. Sementara itu Magnus, yang sedang duduk di kursi berlengan empuk warna kuning bunga matahari, tidak sengaja merosot dari tumpuan tangannya. Hampir satu milenia ia hidup, tidak pernah ia merasa sekaget ini.

"Apa katamu, barusan?" tanyanya hati-hati. Pupil kucingnya semakin mengecil ketika menilik entitas di hadapannya dari atas ke bawah. Rambut hitam. Mata kuning. Usia sekitar dua puluh tahun. Tidak ada yang mengganggu dari penampilan fisik gadis tersebut, kecuali fakta bahwa memang matanya terlalu kuning untuk ukuran manusia biasa dan poncho yang terlalu besar sampai menutupi setengah betis serta syal yang menutupi lehernya sampai sedikit menyentuh telinga, di musim panas ini. Tapi Magnus memutuskan untuk tidak peduli dengan detil kecil begitu. Bisa saja ia memakai lensa kontak. Bisa saja ia sedang diet ketat dan memutuskan menjadikan poncho dan syalnya sebagai pengganti sauna. Bisa jadi.

"Sudah kubilang, Magnus. Aku adikmu."

"Gila. Ibuku sudah mati entah berapa ratus tahun yang lalu dan tidak mungkin manusia bisa berusia lebih dari seratus ta--

"Siapa bilang aku manusia?"

"Apa?!"

.
.
.

Alec tidak pernah melihat warlock lain selain Magnus. Mungkin pernah, dulu, dalam tugasnya sebagai seorang Nephilim, namun ia tidak pernah melihat warlock dengan tanda seperti ini. Helai bulu hitam mendarat di lantai ketika gadis di hadapannya ini melebarkan sepasang sayap sekelam malam di punggungnya. Bulu-bulu itu terus menutupi tubuhnya sebagai tanda, memanjang ke leher dan meliputi kedua lengannya. Wajahnya terlihat bosan ketika Magnus membuka mulutnya dengan takjub, seperti sudah biasa melihat reaksi berlebihan dari sesamanya.

"Aku warlock. Ayahku adalah ayahmu. Itu berarti aku adikmu." Nada suaranya datar.

"Ayahku? Darimana kau tahu kalau ayah kita sama? Berapa umurmu? Siapa ibumu? Dimana kau lahir?" berondong Magnus setelah melompat dari kursinya dan mendekati sang 'adik' untuk kemudian mengamatinya dengan seksama, seolah ia adalah satu subjek eksprimen yang menarik.

"Umurku tiga ratus tahun. Ibuku seorang Jepang, sudah mati dibunuh oleh masyarakat begitu melahirkanku. Ayah angkatku yang mengurusku sampai akhirnya ia mati dibakar oleh rakyat di kota yang baru, yang mengira aku membawa malapetaka--yang memang benar, karena aku juga membakar habis kota itu. Lalu, mengenai kenapa aku tahu kalau ayah kita sama, karena aku bertemu dengannya dan dia bilang aku punya kakak bernama Magnus."

Magnus berhenti mengamati warlock muda di hadapannya. "Maksudmu bertemu?"

"Dia menjelma sebagai ayah angkatku, setelah aku membakar habis kota yang membunuhnya. Meski begitu mirip, aku langsung tahu kalau dia adalah ayah biologisku, dari senyumnya yang sinting dan keji. Ia tertawa terbahak-bahak sambil sesekali menendang mayat yang sudah berubah jadi arang, lalu berkata padaku tentang dirimu."

"Dia menyuruhmu mencariku?"

Gadis itu menggeleng. "Tidak. Aku kemari karena aku sedang tidak ada tujuan maupun pekerjaan. Daripada aku bosan, lebih baik kucari saja siapa kakakku. Karena ia memberitahu namamu secara spesifik, 'Magnus', dan kuasumsikan kau juga seorang warlock, aku mencari keberadaanmu lewat Konsil Warlock. Beruntung sekali, karena dari ribuan warlock di muka bumi ini, hanya ada satu yang bernama Magnus."

Magnus mengerjap. Tidak. Ia tidak percaya. Ia, di antara semua makhluk di dunia ini, punya seorang adik?

"Lalu, namamu siapa?" Alec angkat suara. Gadis itu menoleh pada Alec dan tersenyum tipis dan jahil--senyum yang entah kenapa sedikit mirip dengan Magnus.

"Nama asliku, Akari. Tapi, ayahmu, Magnus, memutuskan untuk mengganti namaku dengan Faux."

"Jadi, namamu adalah Faux Bane?"

"Tidak!"

"Tidak!"

Magnus menoleh kepada Faux.

"Aku tidak mau punya nama keluarga Bane. Bisa-bisa semua orang tahu aku adikmu dan reputasiku berantakan."

"Oho. Kau kira siapa aku, hah?"

"Kau? Magnus Bane. Warlock yang dilarang masuk ke Peru, Perancis, dan banyak negara di dunia ini karena terlalu vulgar, kasar, binal, dan--

"Oke! Cukup! Cukup!"

.
.
.

"Eh? Kau dilarang masuk ke negara? Memangnya kau melakukan apa?"

Tuesday, 20 August 2013

You-less

Es coklat, sepiring pasta carbonara, gelak tawa, celetukan seenak jidat, pembelajaran diri, obrolan berat, candaan lawak, dan temaram lagu mellow. Deru kendaraan terdengar dari kejauhan. Kelap-kelip lampu jalanan bersinar begitu redup, seperti kunang-kunang di tengah malam gelap. Begitu ramai, begitu riang, begitu merebakkan asa dan rindu dalam dada.

Namun tetap saja, bagi Luca, semuanya terasa kurang.

Delapan orang yang saat ini ada di sekelilingnya, sahabat yang sudah lama tidak pernah ia jumpai. Jangankan mengetahui bagaimana kabarnya, sekedar mengucapkan 'halo' pun jarang ia lakukan. Bukannya sombong, atau tidak mau tau.

Mereka tidak pernah bertemu.

Luca terpisah sendirian. Terjebak menjadi satu dari tiga puluh orang lain. Bukannya ia tidak menyukai lingkarannya yang sekarang, hanya saja....

Selalu ada yang kurang.

Tidak peduli, bagaimana pun ia begitu terseret dalam arus dalam lingkaran lamanya. Tidak peduli, apakah ia harus menahan emosinya begitu dalam. Tidak peduli, ia harus menjadi orang lain demi hanya bisa tertawa terbahak-bahak dengan mereka.

Ia selalu merasa kurang.

"Ngelamun aja, Luke!" senggol Langit, masih dengan senyum jahil menggantung di wajahnya. "Mikirin siapa, sih?"

Luca memutar matanya. "Apaan deh. Ngga mikirin siapa-siapa juga."

"Yakin?"

Luca mendengus dan menyenggol Langit, memberinya tatapan tajam sebelum tersenyum lebar dan tertawa. Keras, lepas. Mentertawakan dirinya sendiri.

Ah. Luca akhirnya tahu apa yang kurang.

.
.
.

18.72
Raaaaaaai, kita jadinya makan di XXXX yah. Sini yuk sini, berhenti dulu ngerjain tugasnyaaaaa.

19.45
Kayaknya aku nggak bisa kesana deh, Luke, aku masih kerja kelompok, ini dipresentasiin besok soalnya.

20.00
Huhuhuuuu. Okeeeeeee. Semangat ya!

.
.
.

Monday, 19 August 2013

Martyr

(c) Masami Kurumada
(c) Toei Animation

.
.
.


"SEIYA!!!"

Kouga tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Kakinya melangkah begitu lebar, tangannya mengayun panik. Ia juga tidak tahu, mengapa dadanya begitu panas, pandangannya buram, dan nafasnya tercekat.

Ia hanya tahu, Seiya berada dalam bahaya.

Lalu, semua gelap.

.
.
.


Sunday, 18 August 2013

Panduan Bertahan Hidup di Dunia Nyata dan Bagaimana Menjadi Alfa Yang Tidak Ketergantungan Sama Beta, Gamma, Delta, Omega-atauapapunituabjadyunanilainnya : For Dummy

1. Smile. Bukannya senyum kayak orang gila, ngga ada angin ga ada ujan. Setidaknya kalo kamu ngga sengaja tatap-tatapan sama orang asing di tempat umum, cobalah tarik sedikit ujung bibirnya dan senyum tipiiiiiiiiiiiis aja. Senyumnya sampe mata ya tapi, jangan cuma mulut doang.

2. Ketawa saat mereka ketawa, meskipun ngga lucu. Jangan pernah coba ngomong 'naon sih maneh ngebojeg pisan' sama orang yang baru pertama kali ketemu. Beda ceritanya kalo sama orang-orang di zona seenaknya.

3. Be talkative dan attentive. Susah juga ngajak ngobrol orang yang diem mulu. Apalagi sama yang bengong terus.

4. Inget, bahkan di satu kelompok kecil pun ada strata sosialnya. Mulailah dengan orang yang pertama kali kenalan, terus, terus, sampai akhirnya kamu kenal sama top of food chain. Ngga ada salahnya ko, main sama orang-orang di puncak rantai makanan. They're fun people, cuma otak dan mulutnya aja agak sedikit somplak. Orang-orang yang kayak gini yang ngomongnya tajem tapi bener, isi otaknya ada, dan emang mingle ke semua kasta *tsah*.

5. Don't bother with stupid people yang ngomongnya kosong. Orang jaman dulu bilang tong kosong nyaring bunyinya, dan memang bener begitu adanya. Orang-orang yang hobi merepet kayak mercon dan sangat superfisial sekali adalah people yang fun to talk with, karena mereka bener-bener tau gosip dari A sampai Z'''. Informasi bisa dikorek dari mereka, tapi keaktualannya harus dicek ulang.


Friday, 16 August 2013

Untitled

I am drowning in your scent
in your gaze
in your touch

Your sweet smile, I chant it in my deepest sleep
in my pray
even when chaos falls upon me
and thunderstorm glazing before me

How can I miss you so much
so much I barely breath

Is it even too much
or even too harsh of me
for embracing you so tight
and longing you so

Deliberately falling down
refusing any hands stretched
deep, floating, uncertain
tempted

Wednesday, 14 August 2013

Senja

(c) Akai Higasa

.
.
.

"Oi. Siapa namamu?"

Pemuda berambut hitam itu mendongak. Siang ini, matahari habis-habisan melepas energinya ke muka bumi. Awan pun seolah enggan, menolak mentah-mentah, menghadapi polah matahari yang makin hari makin menjadi. Musim panas menggelayuti langit, menaikkan uap air, menambah kelembaban, membuat malas. Di sudut matanya, ia bisa melihat betapa cerahnya langit siang ini. Birunya memanjang terus sampai cakrawala. Yang kini terhampar di depan matanya bukan lagi warna biru yang tenang dan menghanyutkan.

Merah. Membara. Meletupkan ledakan kecil di dalam dadanya. Meracuni isi kepalanya.

Membesarkan angannya.

"Oi!" tuntut si rambut merah, seolah mengerti bahwa pikirannya sedang melayang entah ke mana.

"Namaku Ren. Hiren. Kau?"

"Hm? Dante. Dante Farnesse, tapi cukup panggil aku Dante."

.
.
.

"Oi! Hiren!"

Telinga Hiren sedikit naik. Ia segera berbalik dan menemukan Dante sedang berlari ke arahnya. Pakaiannya serampangan, seperti biasa. Mahasiswa jurusan ekonomi itu tidak mau buang-buang waktu untuk sekedar mengancingkan kemejanya, atau merapikan kerah bajunya, atau mungkin mengikat rambutnya. Seratus delapan puluh derajat dengan Hiren. Penghuni fakultas hukum ini selalu memasukkan kemejanya; selalu mengancingkan kemejanya sampai atas; selalu memakai sweater atau rompi.

"Ada apa? Kenapa lari-lari begitu?"

Dante sedikit terengah sebelum mendongakkan kepalanya untuk menjawab Hiren. "Dio," geramnya. Hiren mengerutkan dahi.

"Dio?"

"Oi! Dante!!!"

Hiren menengok ke arah suara. Sejurus kemudian, pupilnya membulat. Replika Dante sedang berlari ke arahnya. Garis wajahnya, rambutnya yang panjang dan membara terkena sinar matahari, dahinya yang berkerut marah, posturnya. Hanya saja, kembaran Dante ini memakai kaus santai dengan celana jeans hitam yang terpasang rapi di tubuhnya. Rapi. Rambutnya pun diikat dengan rapi. R-a-p-i. Miringkan kata itu, dan semua orang pun akan tahu bahwa siapapun yang ada di hadapannya ini pasti bukan Dante.

"Gah! Dio! Mau apa sih?"

Ah. Hiren menyimpulkan. Ini pasti Dio Farnesse, adik Dante yang beda dua tahun saja darinya.

"Berapa kali kubilang, jangan bolos! Nilai kehadiranmu sudah hampir melewati batas. Kalau kau benar-benar butuh bolos karena sakit atau apapun, terus bagaimana?!" seru Dio.

"Ya gampang. Tidak usah masuk saja."

Dio mengangkat tangannya, mengayunkan, dan menampar kepala Dante dengan bunyi yang keras. Membayangkan kepalanya ditampar begitu kencang, Hiren hanya bisa berjengit dan mengasihani Dante dalam hati.

"Aduh! Kurang ajar kau!" Dante mengepalkan tinju dan bersiap menyarangkannya di wajah Dio, sebelum lengannya keburu ditahan oleh Hiren. Kedua kepala bersurai merah itu langsung menoleh ke arahnya, dan Hiren mau tidak mau merasa canggung ditatap oleh dua kepala yang hampir sama.

"Siapa dia?" tanya Dio.

Dante menatap Hiren untuk beberapa saat. Hiren mengangguk dengan senyum tipis terukir di wajahnya. Si rambut merah lalu menurunkan tangan dan melipatnya di dada. "Kenalkan, ini Hiren."

"Halo. Kau adiknya Dante, 'kan? Dio?"

Dio mengangguk. "Si. Dio Farnesse. Salam kenal," ujarnya sambil mengulurkan tangan. Hiren menyambut uluran tangannya.

"Kau, satu fakultas denganku, 'kan?" tanya Hiren.

"Yeah. Aku pernah lihat kau. Di festival budaya, kau yang pakai pakaian gadis cina dan menjadi pelayan di cafe itu kan?" Dio nyengir lebar, tidak menyembunyikan betapa ia merasa pria jangkung berotot di hadapannya ini sangat lucu ketika memakai pakaian wanita.

"Ah, jangan mengungkit, Dio. Kalau bisa aku ingin menghapus masa suram itu dari ingatanku."

Dio tergelak. "Kau lucu, Hiren. Sepertinya seru jadi temanmu. Pantas saja Dante tidak pernah absen menceritakan betapa konyolnya dirimu."

"Dio!!!"

Dio dan Hiren menatap Dante, yang jelas kesal setengah mati.

"Ayo pergi!" seru Dante, menyeret Dio pergi, meninggalkan Hiren kebingungan. Dalam usahanya melepaskan diri dari genggaman Dante, Dio menyempatkan diri untuk mengucapkan sampai jumpa pada Hiren. Hiren hanya membalas sekadarnya. Pikirannya keburu melayang pergi terburu-buru menuju tempat perenungannya jauh di atas awan.

.
.
.

Kenapa Dante tiba-tiba marah?

.
.
.

Dan hari-hari selanjutnya berjalan dengan sangat canggung.

Dante tidak lagi menyapanya seperti biasa, Hiren yang harus ambil inisiatif untuk mengejarnya. Terkadang, Dante pura-pura tidak melihat Hiren, yang tidak mungkin mengingat tinggi Hiren yang menjulang dan rambut hitam ikalnya yang kontras di antara warna-warna artifisial tren masa kini.

Ada yang seperti patah di hatinya ketika ia melihat Dante membuang muka. Ada yang tenggelam di dalam angannya ketika ia tahu Dante pura-pura tidak melihatnya dan tidak mau menyapanya. Ada yang rusak dengan isi kepalanya, ketika tanpa sadar ia memejamkan mata dan mati-matian menahan ledakan dalam dadanya.

.
.
.

Satu pukulan di kepala dan Dante menengok ke belakang, menatap Dio yang sedang menatapnya angkuh. Ingin rasanya Dante menumpahkan kopi panas ke wajah adiknya yang semakin hari semakin kurang ajar. Dio mendengus sebelum menarik kursi dan ikut duduk di meja yang sama.

"Aku tidak mengerti isi kepalamu, Dante. Apakah terlalu kosong atau terlalu penuh. Taruhanku sih terlalu kosong, tidak ada isinya sama sekali."

"Bocah brengsek, datang-datang malah ngejekin. Mau kubuang di Teluk Tokyo?"

"Kau, yang isi kepalanya sudah hanyut di Pasifik," ujar Dio dengan sangat santainya, disertai gerakan tangan yang mendorong kepala sang kakak. Kerutan urat yang tegang sudah muncul di pelipis Dante. "Sungguh, aku tidak mengerti dengan cara berpikirmu," lanjut Dio seolah tidak terjadi apa-apa, "kau yang pertama kali mendekatinya, lalu kau juga yang menjauhinya begini. Apa sih maumu? Tarik ulur? Oh, please. Teknik macam begitu sudah tidak lagi berlaku. Kalau kau suka, kau bilang, Kalau kau tidak suka, jangan main api. Begitu saja kau tidak mengerti?" Dio menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dante tidak lagi memasang wajah kesal. Ia bersandar di kursinya. "Bukan begitu."

"Lalu? Kau harus lihat bagaimana mukanya. Persis seperti anak anjing yang dibuang. Kalau aku jadi dia, aku bakal segera cari yang baru saja."

"Begitu? Tapi, tidak pernah ada apa-apa juga. Jadi bukan urusanku kalau misalnya dia punya pacar baru atau--

"Pacar baru? Memangnya kalian pernah jadi?"

.
.
.

Hiren menghela napas dan menatap lurus ke depan. Ayunan yang didudukinya sudah terlalu kecil untuk badannya. Di hadapannya, terhampar kota tempatnya tinggal, disinari cahaya oranye-kuning yang redup. Langitnya mulai berwarna kuning, dengan sedikit gradiasi biru-merah muda-ungu terbentuk di ujungnya. Matanya tidak bisa lepas dari semburat kemerahan yang dihantarkan oleh sang surya yang mengantuk. Merah yang membara, melekat dalam benak, mewarnai seluruh pembuluhnya, mengisi relung hatinya.

Hiren jarang jatuh cinta. Sekalinya ia jatuh, selalu begini. Ia selalu jatuh pada bintang timur di langit, pada purnama yang memeluk gelap, pada pelangi yang muncul semaunya. Pada apa-apa yang tidak pernah bisa ia jangkau. Kali ini, ia jatuh untuk matahari senja yang kemerahan, yang muncul sesaat sebelum tenggelam dalam pelukan malam.

Selalu, yang tidak tergapai. Yang terlalu jauh di depannya. Yang terlalu sempurna baginya.

.
.
.

Lalu canggung, lagi. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada tanda-tanda badai musim panas, dan Dante mendadak menyapanya serta mengajaknya makan siang. Celaka dua belas bagi Hiren, karena hari itu ia sama sekali tidak membawa payung ataupun jas hujan. Pun, uangnya hanya cukup untuk kereta pulang karena tiket abodemennya sudah habis. Ia sudah membayangkan harus menginap di ruang klub judo, tidur beralaskan kayu atau matras bau keringat, ketika Dante berdeham pelan. Salah tingkah.

"Aku... Hiren... aku mau... maaf."

Apa Hiren tidak salah dengar? Dante ingin ia meminta maaf? "Kau mau aku minta maaf?"

"Bukan! Bukan bukan!" Dante menjawab panik. "Maksudku, aku mau minta maaf."

"Untuk?"

Dante menggaruk kepalanya. "Err... untuk menghindarimu, dan... menghindarimu."

Sebenarnya Hiren masih tidak mengerti jalan pembicaraan ini. Satu-satunya jawaban yang bisa ia pikirkan adalah, "Begitu."

"Ya. Begitu."

Lalu, canggung lagi untuk yang kesatujutaduaratuslimapuluhsekianribu. Hiren menatap wajah Dante yang menunduk. Perlahan, ia bisa melihat ada rona merah yang mewarnai kedua pipi Dante, kemudian menjalar terus dan terus, sampai akhirnya wajahnya merona merah sampai telinga.

"Yah! Pokoknya aku minta maaf! Ya! Dah!"

Dante teburu-buru berdiri dan berbalik, menabrak waiter yang sedang berjalan, tersandung kursi, dan terjatuh.

Hiren tidak bisa tidak tertawa melihat aksi teatrikal di hadapannya.

.
.
.

"Dante."

"Mmm?"

"Dante."

"Ada apa?"

"Dante. Dante. Dante."

"He... hentikan! Apaan 'sih?!"

.
.
.

Pada akhirnya, matahari senja memang jatuh pada pelukan malam. Pada gelap yang sempurna dan begitu tenang, pada rumahnya ketika dunia terasa begitu kejam untuk dijalani. Padanya.

Sunday, 11 August 2013

Drown

(c) Akai Higasa

.
.
.

"Sampai jumpa lagi, Riddle-ku yang cantik."

.
.
.

"Oi. Riddle."

Riddle memalingkan wajah dan menyapa sepasang mata hitam yang menatapnya bingung. Maniknya begitu gelap dan dalam, memicu kupu-kupu jiwa meledak dalam dada.

"Ya? Ada apa, Hayato-kun?"

"Tumben kau melamun begitu. Ada apa?"

Senyum. Riddle tersenyum lebar, manis, sampai mata hijaunya berkilau begitu bahagia, membutakan mata. Lagi, kupu-kupu meledak seperti kembang api dalam dadanya.

"Hayato-kun, perhatian sekali kepadaku."

Lalu Hayato memerah, merona, sampai telinga, membuat Riddle mau tak mau menarik senyum lebih lebar dan gelak lebih puas. Membuat Riddle terbang dalam ayunan bahagia tak berbatas.

.
.
.

"Sampai jumpa lagi, Riddle."

.
.
.

Untuk tenggelam. Lagi.

.
.
.

"Sampai jumpa."

.
.

Tuesday, 6 August 2013

Miss You

(c) Lyto
(c) Lee Myoung Jin

.
.
.

"Mulia banget. Mengorbankan diri sendiri sampe luka-luka begitu, Ray."

Raya menoleh, menatap musuh bebuyutan--sekaligus mantan sahabatnya. Bibirnya lalu tertarik tipis.

"Aku tidak se-noble itu, Las. Sama sekali."

"Jadi, definisi tidak noble untukmu adalah membukakan jalan buat party member dengan cara menarik aku jatuh ke air terjun? Hampir tujuh tahun kita tidak bertemu, aku masih tidak bisa memahami cara pikiranmu bekerja. Tidak. Sama sekali."

Raya tergelak, terbahak, tertawa puas. Ia berbaring dan memegangi perutnya, sementara derai gelak tidak berhenti meluncur renyah. Mendengar untai melodi ini, ada yang mengusik hati Laskar. Rindu, nyaman, kenangan, rumah. Raya pernah menjadi rumah baginya, dan mungkin akan selamanya. Laskar tahu, keputusannya berpihak pada Republik Schwartzvald, bukannya Kerajaan Midgard, akan membuat mereka berdiri di dua pihak yang berseberangan dan pertemuan mereka selanjutnya akan menjadi zona perang yang tidak terelak. Apalagi....

"Aku tidak akan minta maaf karena sudah membunuh Thomas."

Tawa Raya berhenti. Laskar memperhatikan perubahan ekspresinya. Ketika Raya menatapnya, Laskar harus menggunakan semua keberaniannya untuk tetap bersikap biasa.

"Thomas sudah kuanggap seperti ayah sendiri."

"Aku tahu."

"Dan kau sudah dianggap seperti anaknya."

"Aku tahu."

Raya menghela napas. "Kematian Thomas. Kalau boleh jujur, sebenarnya tanganku sangat gatal ingin meninju, mengubahmu menjadi seonggok daging, saat ini juga." Raya mengepalkan tangan dan mengkeretakkan sendi-sendi jarinya.

"Kenapa tidak kau lakukan?"

"Duh! Sudah jelas, bukan? Aku tidak mungkin mengubahmu jadi seonggok daging hanya gara-gara Thomas! Lagipula, takdirnya sudah jelas. Hari itu, cepat atau lambat, ia pasti mati. Salah satu pisau para assasin itu berhasil mengenainya. Kau tahu sendiri, entah racun dari tumbuhan atau binatang mana yang ada di atas bilah pisaunya. Kalau dia masih menghantui kita, rasanya dia akan berterima kasih padamu karena mempercepat kematiannya. Dan kalau memang benar ia masih berkeliaran di muka bumi ini, kemudian mengetahui aku menghabisimu demi balas dendam atas kematiannya, bisa-bisa keturunanku dikutuk olehnya. Hih. Membayangkannya saja aku sudah merinding."

"...."

"Oi. Kasih komentar apa, gitu?"

"Ng... bukan... maksudku...."

"Oh ayolah, Laskar!" seru Raya, gemas pada perilaku Laskar yang seperti habis kena hajar tinju troll tepat di kepala, "kau tahu aku paling tidak bisa baca bahasa isyarat! Mau kau bebani otakku sebagaimana lagi sampai kau puas, haa?!"

"Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku tidak akan memberi komentar apapun. Lagipula, kau belum menjawab pertanyaanku, Raya. Kenapa kau mau repot-repot menerjangku jatuh ke air terjun, basah kuyup dan terluka begini, kalau bukan untuk suatu alasan yang sangat mulia?"

Seolah pertanyaan Laskar adalah hal paling lucu di dunia, Raya nyengir lebar.

"Well, aku kangen padamu, tahu!"

Sunday, 4 August 2013

Hujan rintik turun. Bahkan sejak satu jam yang lalu aku bisa mencium wangi tanah dari kejauhan mendekat dengan pasti. Kelabunya terlihat sendu di mataku. Di sudut jendela berwangi aneh ini, aku bisa lihat ada seekor keong bergerak sangat pelan merayapi daun. Sangat pelan, sampai-sampai aku gatal ingin membuatnya terguling dan menggelinding.

Ah, andai aku bisa keluar rumah.

Hujan ini membuatku tidak bisa pergi kemanapun. Airnya membuat rambutku basah kuyup. Bukannya aku tidak suka kena air, tapi hujan selalu membuat rambutku tampak aneh dan mengembang aneh. Menyebalkan.

Aku menguap sesekali. Sungguh, irama konstan dari hujan membuatku lebih mudah mengantuk. Sesekali aku mengulet, meregangkan otot-otot tubuhku serta tangan dan kakiku. Menyebalkan, tidak bisa berjemur seharian dan main ke luar itu. Sangat menyebalkan.

Bosan ini benar-benar membuatku mengantuk dan lapar. Aku segera beranjak dari sofa empuk ini dan berjalan ke kamarnya. Pintunya sengaja tidak ditutup rapat, katanya supaya ia tidak perlu bangun hanya untuk membiarkan aku masuk dan mengoceh serta mengacak-acak kamarnya. Dengan satu gerakan ringan, aku mendorong pintu dan masuk.

Gelap. Tirainya ditutup rapat. Di atas kasur, terdapat benjolan yang tertutup oleh selimut berwarna hijau yang bergerak-gerak sesekali.

"Arya."

Tidak ada respon. Aku lalu duduk di atas kasur dan mulai membangunkan orang ini. "Arya. Bangun. Arya."

Masih tidak ada respon. Aku mengerutkan keningku. Kesal. "Arya! Ayolah! Bangun!" seruku sambil memukul-mukul pipinya.

"Mmmm," gumam Arya sebagai jawaban, sebelum berbalik ke arah sebaliknya, memunggungiku. Sialan.

Saatnya menggunakan jurus rahasia.

"Arya!"

.
.
.

"Aduh!"

Aku buru-buru bangkit dari tidur dan mengelus-elus dahiku yang sangat nyeri. Fokusku langsung mengarah pada sosok yang sedang duduk manis di atas kasur, memandangku dengan mata sok-polos. Ekornya bergoyang-goyang.

"Meow."

"Meow, katamu. Apa tidak bisa membangunkanku dengan cara yang lebih manusiawi, Kei?"

"Meow~"

Aku menguap, lebar. "Ngantuk. Makannya nanti saja ya," ujarku setengah bergumam sebelum kembali masuk ke dalam selimut. Seolah mengerti maksudku, Kei langsung menaiki tubuhku dan mengeong-ngeong mengesalkan sambil memukul-mukul mukaku dengan telapak kakinya yang empuk dan berbulu halus itu. Geli dan memancing bersin, terutama kalau ia menempelkannya ke hidungku begini.

"Meow."

"Singkirkan kakimu dari mukaku, Kei."

"Meow."

"Kei."

"Me~oooo~w!"

"DUH!!!"

.
.
.

Dan si brengsek itu pada akhirnya tetap menjitakku. Sialan.

Setelah aku berhasil membangunkannya, ia segera beranjak dari kamar menuju dapur dan mengambilkan aku makanan serta air. Setelahnya, ia segera membuat makanan untuk dirinya sendiri. Bau manis segera memenuhi dapur. Setelah menuang apapun isi mangkok besi besar bergagang itu ke cangkir, ia separo menyeret tubuhnya ke ruang tamu. Penasaran-dan sudah kenyang, aku segera mengikutinya.

Di ruang tamu yang sendu itu, Arya duduk di sofa dekat jendela dan menyesap minumannya pelan-pelan. Ia memakai kaus lengan panjang yang sedikit kebesaran dan celana panjang yang ujungnya dilipat beberapa kali. Rambutnya sudah agak panjang. Poni ikalnya sudah mulai menutupi alis dan menyentuh kerah pakaian.

"Kei. Sini."

Menurut, aku pun berjalan cepat menghampirinya dan berbaring di sampingnya. Ekorku sesekali menyentuh pahanya ketika jarinya yang panjang menari-nari di atas rambutku. Sesekali ia menggaruk belakang telingaku, kadang-kadang ia hanya mengelus-elus kepalaku. Tangannya yang satu masih setia memegang cangkir, sementara pandangannnya kini fokus pada benda kotak yang menyala-nyala di depan kami. Arya menyebutnya TV dan ia selalu marah kalau aku memencet-mencet benda yang disebutnya remote. Entah kenapa.

"Kei."

Aku menoleh ke arahnya. Sungguh, tangannya ini menghalangi pandanganku. Dengan cepat aku membuat jarinya pindah ke bawah kakiku, terjepit oleh berat badanku.

"Kei."

"Ya?"

"Kei."

"Ya, ada apa, Arya?"

"Kau tahu?"

Tidak. Aku bukan pembaca pikiran.

"Reika sudah punya pacar lagi."

...oh.

"Begitu?"

"Dan kau tahu?"

Tidak. Sudah kubilang berkali-kali, aku bukan cenayang.

"Larsa pacaran dengan Raika."

"...ha?"

Lalu Arya tertawa. Miris. Mengiris. Aku tidak suka melihat Arya tertawa begini. Bukan tawanya yang biasa. Bukan tawanya saat ia melihat satu hal di TV yang lucu, bukan tawanya saat seorang temannya kucakar karena mengelus-elus perutku, bukan tawanya saat ia diserang jurus kelitikan oleh Larsa.

Arya memaksakan dirinya tertawa.

.
.
.

"Hahaha, geli, Kei."

Mendadak, Kei naik ke dadaku dan menggosok-gosokkan ujung kepalanya ke daguku. Entah apa yang ada dipikiran kucing ini. Entah ia benar-benar mengerti maksudku, atau itu hanya insting kucingnya saja. Entah.

Aku menaruh gelas di meja di samping sofa kemudian memeluk Kei. Bunyi dan dengkur pelan terdengar darinya saat aku mengubur wajahku di rambut hitamnya yang halus. Sesekali ia menjilat telingaku.

Reika. Larsa. Raika. Kenapa semuanya begitu sulit?

Bukannya aku tidak mau Larsa bahagia. Apalagi aku tahu persis seperti apa Raika.

"Meow."

Aku melepas pelukan Kei dan menatap matanya. Hijau-hitam-kuning yang aneh. Aku lalu merebahkan diri dan mengangkat Kei tinggi-tinggi di atas dadaku. "Kei, menurutmu apa yang sebaiknya kulakukan?"

"Meow."

"Duh, aku tidak mengerti."

"Meow."

"Apa arti 'meow'mu itu, coba?"

"Meoooow!"

Kei melompat dari tanganku, menginjak mukaku, kemudian turun dan berjalan angkuh ke dapur. Cih. Kucing sial itu.

"Keeeeii! Jangan kebanyakan makan! Kalau kau gendut aku tidak tanggung!"

.
.
.

Lupakan saja dia.
Lupakan. Lupakan.
Kubilang lupakan dia, Arya!

.
.
.

Dan kau tahu, aku tidak akan pernah jadi kucing gendut kalau majikanku adalah orang yang harus selalu diurus sepertimu.

Thursday, 1 August 2013

Brothers

(c) Masami Kurumada
(c) Broccoli

.
.
.

Minos Aidoneus. Pemuda yang sedang ada di puncak masa remajanya. Ketua OSIS, peringkat satu baik di angkatannya maupun di seantero sekolah, putra dari salah seorang penguasa ekonomi di dunia. Tidak ada yang tidak ia miliki. Didukung dengan wajahnya yang di atas rata-rata dan kemampuan komunikasinya yang sangat persuasif, bumi pun seolah bisa ia balikkan hanya dengan satu ulas senyum saja.

Kecuali....

"Rhada!"

Bola oranye melambung di langit, membentuk kurva setengah lingkaran sempurna, kemudian mendarat dengan mulus di tangan seorang pemuda berambut pirang. Senyum lebar mengembang di wajahnya ketika ia mulai berlari sambil memantul-mantulkan bola tersebut. Bergerak zig-zag, berkelit, memindahkan bola ke tangan yang satu, semuanya dilakukan dengan halus. Rhadamanthys seperti sedang menari di lapangan.

"LARI! LARI, RHADE! LARI!!!" seru Aiacos sembari mengacung-acungkan tangannya, meninju udara kosong. Pemuda berambut hitam ini tidak bisa menutupi kegirangannya. Ia menumpukan dirinya di pagar pembatas lantai dua, mencondongkan badannya ke depan. "LARI! RHADE! SHOOOOOT!!!"

BRAK!

Slam dunk. Tepat di depan mata center lawannya.

Tepat saat wasit meniup peluitnya.

"Game set! Pemenangnya Yomomi High!!!"

.
.
.