Tuesday, 9 April 2013

Helios : Selena

Selena.

Your pitch black hair, waving calmly as the wind blows. Do you know how much I have to hold myself to touch it?

And your eyes. So dark. Mysterious yet beautiful. My Selena, my beautiful Selena. Why won't you open your eyes?

I do not care. Be it dark and disaster, or death and doom. Be it night all day, if that means I could look into your eyes.

Selena. My kind Selena.

How much I cursed the Fate. For their wickedness over our hearts. How could they put us together, side by side, yet bound by the chain of loneliness?

Selena, I looked up above and saw you. Silvery light across the pitch black sky. Shining bright as the mortals fell to the hands of Hypnos.

My Selena, if only my touch did not hurt you that much, I've surely have hold you right now. Engulf you within my arms, locked you there so you will not go anywhere.

If only your smile did not hurt me that much, I've surely be there by your side, whispering I love you for a zillion times...

For as long as time let us be.

Selena : Helios

Helios.
Helios.
Oh, my dearest Helios....

Why won't you open your eyes?
Let the blazing light blind my eyes
While your breath wipe the night

Helios.
Helios.
Ah, my love Helios.

Hold me while I melt
Suffocated yet
Gasping out of breath

Helios.
My love, my heart, my sweet lovely Helios.

Why did the sisters put us away
In this drama of unrequited love
Yet chained our fate together

My dear,
Be it day or night
Blazing light or serene dark
Life or death

Surely,
Yours truly.

Midnight Chat

"Haru."

Haru bergerak-gerak gelisah di dalam selimutnya.

"Oi. Haru."

Ia membuka mata. Gelap. Detik jarum jam terdengar sangat nyaring, memecah keheningan.

"Ha-ru-mi ja-wab a-ku."

Haru menghela napas.

"Apa, Natsu?"

Terdengar suara dengusan geli. "Jangan menjawab keras begitu. Aku tidak tanggung kalau kau dicap gila ."

Haru mendengus. "Dicap gila? Tidak salah?"

Natsu terkekeh geli.  "Oh, well. Omong-omong, sudah lama kita tidak ngobrol begini."

"Hng." Haru mendudukkan dirinya. "Kau terlalu sibuk dengan klub. Basket, kendo, cabutan di klub olahraga sana-sini. Gila. Badanku sampai sakit semua."

Natsu tergelak.

"Kau harus dengar omelan Yuki tentang sulitnya belajar saat untuk membuka mata saja sudah memakai seluruh tenaga yang ada."

"Hahaha! Yuki memang payah! Makanya, suruh dia olahraga, jangan cuma olahraga jari saja!"

"Kau saja yang suruh. Aku malas dengar ocehannya."

Natsu terkikik geli. "Dengar. Cara bicaramu jadi mirip Akira."

"Terse--

Ckrek.

"Haruaki? Kau sedang bicara dengan siapa?"

"Telepon, Bu. Urusan OSIS."

"Oh, begitu. Kau memang ketua, tapi jaga juga kesehatanmu. Jangan kemalaman ya."

Ckrek.

"Pffft. OSIS? Sejak kapan 'Haruaki' jadi  ketua OSIS? Huahahahahaha!!!"



"Kalian berdua! Bisa diam tidak?!!!!"

Saturday, 6 April 2013

Realization

Vassalord (c) Chrono Nanae

xxx

"My Lord."

Ah, Cherry. Kau merajuk?

Rayflo tidak bisa tidak menyeringai.

"My Lord, Rayflo."

Charles memeluknya begitu erat, mendekapnya begitu dalam ke dada, seolah ingin memasukkan Adam dari bangsa vampir itu ke dalam tubuh dan memenjarakannya di sana untuk selamanya. Rayflo terkikik geli meski matanya berbinar kesenangan.

"Oh, Cherry. Kenapa kau jadi manja begini?" Ia memainkan jemarinya di helai rambut pirang Charles sambil menikmati wangi tubuh pemuda cyborg itu.

"Kalau untuk membuatmu tetap ada di sisiku aku harus membuang harga diriku, maka aku akan melakukannya."

Rayflo berkedip sekali lalu membatu dalam dekapan Charles yang semakin erat, semakin putus asa. Perpisahan mereka yang terlalu lama membuat Charles sadar bahwa ia tidak bisa hidup (dalam arti sesungguhnya dan kiasan) jika vampir darah murni berambut hitam legam itu tidak ada di sisinya. Kesadaran akan betapa dalamnya ia jatuh cinta untuk makhluk berusia ribuan abad.

"Cherry." Rayflo berbisik lirih, tidak memercayai apa yang ia dengar.

"Tetaplah disisiku, Rayflo."

Memangnya aku bisa ke mana lagi, Chris?

Rayflo tersenyum tipis. Ia mendorong dada Charles, melepaskan dirinya dari pelukan. Kesedihan lalu menyelimuti mata Charles. Penolakan jelas bukan jawaban yang diinginkannya saat ini.

Namun, kau tahu siapa Rayflo. Vampir darah murni yang jalan pikirannya tidak tertebak dan terkadang bicara lompat-lompat. Makhluk yang akan selalu membuatmu hatimu seperti dilempar kesana-kemari.

"Kalau begitu inginnya aku ada di sisimu, hentikan cara bicara melankolismu itu dan kembalilah jadi Chris yang biasanya."

"... kau ingin aku bicara ketus? Memangnya siapa yang merengek-rengek mengeluh tentang ketidakromantisan?"

"Huuh! Aku 'kan cuma kangen sama Cherry yang biasa! Terlalu banyak bumbu romantis justru membuat hubunganmu membosankan."

Charles mendengus, "Kau ini memang masokis sejati."

Rayflo mengerutkan dahi dan mengerucutkan bibir. "Dan kau tsundere sejati."

Charles menatap Rayflo galak lalu meraih tangannya. Dalam gerakan cepat, ia mengecup punggung tangan Rayflo. "Tapi kau mencintai tsundere ini, 'kan? My Lord?"

"Hmph. Sesukamu saja."



"Kalau begini siapa yang tsundere, coba?"

"Cherry!"