Bau laut. Debur ombak. Air yang melompat riang membasahi kaki.
Freyr harus menahan diri untuk tidak menenggelamkan dirinya.
Ini adalah kali kedua ia diam berjam-jam tidak bergerak di tepi pantai, didatangi anjing liar dan dilewati kepiting nyasar. Beberapa bola voli menggelinding ke arahnya, tidak jarang yang hampir menghantam kepalanya.
Freyr sedikit berharap ada yang melempar ke arahnya dan membuatnya mati di tempat.
Kali pertama ia datang ke pantai dan membisu begini adalah tujuh tahun lalu. Cinta pertamanya pergi ke alam sana setelah memberitahu bahwa yang ia cintai bukanlah Freyr, melainkan Leon. Untuk pertama kalinya, ia membenci Leon dan menolak berinteraksi dengannya sampai berbulan-bulan.
Saat itu ia pergi ke laut dengan satu tujuan : mati bunuh diri.
Drama? Ya. Biarlah Leon yang mengambil semua lampu sorotnya dan dia yang memainkan dramanya. Toh, wajah mereka berdua sedikit mirip. Ganti saja warna rambut dan sifat dasarnya. Tadaa!
Dan kali ini, ia merasakan dorongan yang sama dengan saat itu.
Satu hal yang tidak pernah bisa ia pahami dari hubungannya dengan pemuda yang menolak untuk maju dari masa lalunya.
Kenapa pada akhirnya ia selalu jadi orang ketiga dalam hubungan yang manapun?
Friday, 22 November 2013
Monday, 11 November 2013
P.S
Shinji (c) Pratiwi F
.
.
.
22.07 Le.
.
.
.
22.07 Le.
22.15 Oi. Gimana Indonesia?
22.17 ....
22.17 Gue... boleh punya cerita bahagia, kan?
22.20 Ha?
22.20 Apaan sih Freyr?
22.21 Lo di mana deh?
22.21 Mana Shinji?
22.45 Oi.
22.50 Freyr!
23.00 Anjir lo di mana deh?!
***
23.15 Lagi di mana lo?
23.20 Urusan lo?
23.25 Jawab aja pertanyaan gue.
23.30 Jakarta
23.32 Freyr di mana?
23.35 Hotel
23.37 Lo ga lagi bareng dia?
23. 40 Oi.
23.46 Ngga
23.46 Kenapa?
23.50 Gue ga mau tau pokonya lo harus cari dia sampe ketemu
23.51 Kabarin gue kalo udah ketemu.
***
Ckrek.
Lampu kamar menyala, begitu pula dengan pendingin ruangan. Kopernya masih ada, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia di kamar itu.
"Freyr?"
Sunyi.
Pandangan Shinji jatuh pada kertas putih di atas meja.
***
Bye.
Saturday, 9 November 2013
Amusement
Zen (c) Pratiwi Fitriani
.
.
.
Leon menghembuskan nafas, menciptakan uap tipis di udara. Ia melirik jam tangannya, pukul satu malam. Dengan ini, berarti ia sudah berada di rumah sakit hampir dua puluh empat jam. Ia mengamati sekelilingnya, sunyi. Hanya ada suara riuh di kejauhan, bunyi sirine yang semakin dekat, dan desir angin pelan yang melewati celah sempit.
Akhirnya ia tahu, apa yang membuat Zen sering sekali meneleponnya saat sedang jaga malam dan terpaksa berjalan sendirian dari satu gedung ke gedung lain untuk mengantarkan selembar kertas hasil interpretasi laboratorium. Koridor rumah sakit dan malam hari jelas kombinasi merupakan kombinasi yang buruk.
Ia merapatkan mantelnya, lalu membiarkan pikirannya terbang. Mau tidak mau, ia sedikit kagum pada Zen. Pemuda yang terjebak di masa-masa bocahnya itu sanggup bangun hampir tiga puluh enam jam dan masih mempertahankan kewarasannya untuk sekedar menanyakan kabarnya, marah-marah saat ia menolak makan dan memilih mengerjakan apapun yang ada di meja kerjanya, memisuh-misuh tentang teman-temannya, dan mengendarai mobilnya pulang ke rumah tanpa mengantuk sedikit pun.
Dan tadi, ketika ia terlalu takut melihat Freyr yang terbaring tanpa daya di instalasi gawat darurat, Zen masih bisa memakluminya dan menenangkannya.
Padahal, entah sudah berapa bulan mereka tidak bertemu muka.
"Le."
Leon mengerjap. Bingung. Separo isi otaknya masih berterbangan di awan merah jambu di langit imajinernya. Ia menoleh dan menemukan pemuda berambut ikal sedang tersenyum lebar sambil membawa kantung plastik.
"Zen?"
Zen hanya nyengir lebar dan menyodorkan kaleng minuman coklat ke wajah Leon. "Untukmu."
"Oh. Ya. Thanks."
"Uh-huh."
Zen lalu berdiri diam di samping Zen. Matanya menatap langit-langit koridor seolah itu adalah hal paling menarik saat ini. Sementara Leon masih bingung menatap minuman kaleng miliknya. Zen mendengus.
"Lagi belajar telekinesis ya?"
"Ha?"
"Itu kaleng dibuka, terus diminum. Bukan diliatin begitu."
"Bukan gitu," ujar Leon lirih dan menyimpan minumannya di dalam saku mantel.
"Terus?"
"... ngapain kamu di sini? Jam segini? Kamu nggak pulang? Orang rumah nggak nyariin?"
Giliran Zen yang memasang wajah bingung.
"Hah?"
"Ini jam satu pagi, Zen. Ngapain kamu di sini, jam satu pagi?!"
"Ngapain? Nemenin kamu, lah. Emangnya ngapain lagi?"
"... hah?"
"Aku udah bilang orang rumah, kok."
Leon menggeleng. "Bukan. Maksudku bukan itu. Kemarin kamu jaga malam, kan?"
"Ya?"
"Hari ini kamu kuliah, kan?"
"I... ya? Terus?"
"Kamu kapan tidurnya?"
"Tadi. Di asrama. Aku belum pulang. Ini aja baru bangun."
"... oh."
"Santai, Le. Ngeliat warna muka kamu udah nggak sepucet tadi malem dan bisa marah-marah begini aja, cape aku ilang. Santai."
"Gitu?"
"Yo-ho."
"Bagus deh."
"Kenapa bagus?"
"Bagus, nggak gampang sakit."
"Emangnya kenapa kalo aku sakit?"
Leon menatap Zen dan tersenyum tipis. "Kalo kamu sampe sakit kayak Freyr, entah bakal segila apa aku, Zen."
Thursday, 7 November 2013
Boost
Zen (c) Pratiwi Fitriani
.
.
.
Zen tidak pernah melihat Leon sekacau ini.
Sekilas saja ia bisa tahu kalau pemuda berambut hitam itu sangat ketakutan. Ketakutan. Tangannya mengepal erat, matanya fokus hanya pada satu hal, bahunya tegang, dan mulutnya tidak berhenti bergerak-gerak membaca doa.
Tidak pernah sekalipun ia membayangkan, akan melihat sisi lain dari detektif swasta handal ini.
Karena, Leon yang Zen tahu adalah seorang pemuda asal, serampangan, seenak jidat, dan berani.
.
.
.
"Le." Zen memberanikan diri menepuk pundak Leon.
"...Zen?" ujarnya tidak percaya. Padahal, sudah setengah jam yang lalu ia berdiri di samping pemuda itu. Mau tidak mau, Zen tersenyum tipis. Ia lalu menepuk-nepuk pundak Leon lagi.
"Kondisinya nggak separah keliatannya, Le. Tenang ya."
Terdengar klise, namun itu adalah yang paling bisa dikatakan oleh Zen pada situasi seperti ini. Freyr, dengan mata terpejam dan bekas darah membasahi pakaiannya, hampir membuat Zen serangan jantung. Untungnya, apa yang dikira Zen darah Freyr ternyata salah. Yang membasahi pakaian Freyr sedemikian rupa adalah darah orang lain, penumpang bis yang duduk di depannya, yang datang dalam keadaan tidak berbentuk, dan bukan datang ke instalasi gawat darurat. Tidak perlu dijelaskan di mana manusia malang itu ditangani saat ini. Freyr pingsan karena benturan di kepala, dan hasil foto kepala menunjukkan tidak ada perdarahan atau apapun yang membahayakan, setidaknya untuk saat ini. Senior-senior Zen memutuskan untuk mengamati perkembangan Freyr, setidaknya sampai ia sadar, sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Leon hanya diam dan memandangi tubuh adiknya yang dipasangi berbagai macam kabel dan selang ketika Zen panjang lebar menjelaskan semuanya. Terlihat sekali kalau pria itu tidak mendengarkan. Zen menghela napas. Maklum.
"Well, kalau kau butuh apapun, kau bisa cari aku di ujung sana, ya. Aku mau bantu Darma dulu." Zen berkata sambil lalu, menunjuk satu ruangan bertirai tempat Darma sibuk keluar-masuk panik.
"Zen."
Zen berhenti berjalan dan berbalik.
Leon menatapnya dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Terima kasih."
.
.
.
"Oi. Zen. Ngga usah kerja sambil cengengesan bego gitu."
.
.
.
Zen tidak pernah melihat Leon sekacau ini.
Sekilas saja ia bisa tahu kalau pemuda berambut hitam itu sangat ketakutan. Ketakutan. Tangannya mengepal erat, matanya fokus hanya pada satu hal, bahunya tegang, dan mulutnya tidak berhenti bergerak-gerak membaca doa.
Tidak pernah sekalipun ia membayangkan, akan melihat sisi lain dari detektif swasta handal ini.
Karena, Leon yang Zen tahu adalah seorang pemuda asal, serampangan, seenak jidat, dan berani.
.
.
.
"Le." Zen memberanikan diri menepuk pundak Leon.
"...Zen?" ujarnya tidak percaya. Padahal, sudah setengah jam yang lalu ia berdiri di samping pemuda itu. Mau tidak mau, Zen tersenyum tipis. Ia lalu menepuk-nepuk pundak Leon lagi.
"Kondisinya nggak separah keliatannya, Le. Tenang ya."
Terdengar klise, namun itu adalah yang paling bisa dikatakan oleh Zen pada situasi seperti ini. Freyr, dengan mata terpejam dan bekas darah membasahi pakaiannya, hampir membuat Zen serangan jantung. Untungnya, apa yang dikira Zen darah Freyr ternyata salah. Yang membasahi pakaian Freyr sedemikian rupa adalah darah orang lain, penumpang bis yang duduk di depannya, yang datang dalam keadaan tidak berbentuk, dan bukan datang ke instalasi gawat darurat. Tidak perlu dijelaskan di mana manusia malang itu ditangani saat ini. Freyr pingsan karena benturan di kepala, dan hasil foto kepala menunjukkan tidak ada perdarahan atau apapun yang membahayakan, setidaknya untuk saat ini. Senior-senior Zen memutuskan untuk mengamati perkembangan Freyr, setidaknya sampai ia sadar, sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Leon hanya diam dan memandangi tubuh adiknya yang dipasangi berbagai macam kabel dan selang ketika Zen panjang lebar menjelaskan semuanya. Terlihat sekali kalau pria itu tidak mendengarkan. Zen menghela napas. Maklum.
"Well, kalau kau butuh apapun, kau bisa cari aku di ujung sana, ya. Aku mau bantu Darma dulu." Zen berkata sambil lalu, menunjuk satu ruangan bertirai tempat Darma sibuk keluar-masuk panik.
"Zen."
Zen berhenti berjalan dan berbalik.
Leon menatapnya dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Terima kasih."
.
.
.
"Oi. Zen. Ngga usah kerja sambil cengengesan bego gitu."
Wednesday, 6 November 2013
Serangan Fajar!
Zen (c) Pratiwi F
.
.
.
Satu desahan meluncur begitu saja ketika Zen setengah menjatuhkan pantatnya di kursi. Satu kakinya lalu naik ke kursi di depannya, sementara ia meregangkan punggung sebisa mungkin. Akhirnya, setelah sembilan jam bolak-balik berputar-putar di dalam instalasi gawat darurat tanpa sempat duduk sedetik pun, ia memutuskan untuk merajuk memohon pada ketua kelompok jaganya malam ini untuk istirahat setidaknya dua jam. Untung saja Darma setuju. Pemuda tanggung berotot dan hobi main basket itu pun ikut-ikutan istirahat, menyerahkan baton papan jalannya pada Zaki, yang sempat marah-marah selama lima detik sebelum akhirnya tergopoh-gopoh lari menghampiri senior yang memanggilnya.
Jadilah, Zen terdampar di kantin rumah sakit yang--untungnya--buka dua puluh empat jam, berpisah jalan dengan Darma yang lebih memilih istirahat di asrama dokter muda.
Zen melirik jam tangannya, jam tiga pagi. Ia mengalihkan pandangannya ke depan, pada segelas milkshake vanila. Tak lama, pramusaji datang dengan nampan, mengantarkannya semangkuk bakmi ayam jamur dan teh manis panas. Senyum tipis mendadak terulas di wajahnya ketika melihat porsi makan 'malam'nya hari ini.
"Selamat ma--
KRIIIIIIIING!!!
"Tai."
Zen mengumpat dengan sepenuh hatinya. Ponselnya berbunyi dan nada deringnya adalah nada khusus untuk Darma hari ini. Kalau Darma meneleponnya di waktu istirahat jam tiga pagi begini, berarti ada yang salah dengan keadaan Zaki di IGD.
Entah ia iseng, entah seniornya mengancam Darma, atau....
.
.
.
"Serangan fajar!"
Zen tidak sempat lagi memaki-maki Zaki yang menyemburkan droplet udara ke wajahnya ketika ia akhirnya berhasil menyeret kaki ke IGD. Entah apa yang terjadi, namun belasan brankar mendadak berjejer di sepanjang sisi ruang. Semua yang berbaring di atas brankar itu entah memiliki noda merah-merah atau menjerit histeris kesakitan. Dari jumlahnya yang mendadak ini, Zen mengira setidaknya ada satu bis atau dua mobil yang terlibat.
Apapun itu, pasti ada satu yang lalai.
Dan Zen sangat ingin sekali memasukkan bakmi ayam jamurnya ke dalam hidung pengendara yang lalai itu.
"Zen! Lo pegang tiga sekaligus ya!" perintah Darma, kini kembali memegang baton papan jalannya. Dengan sigap ia menulis-nulis perintah para senior, selagi satu tangannya menempelkan ponsel di telinga untuk membangunkan rekan-rekannya yang lain. Zen hanya bisa menghela napas dan mulai mencari pasien-pasien yang terlihat agak stabil untuk dijadikan pasiennya. Pilihannya jatuh pada seorang wanita usia dua puluh tahun yang menggeser sendi bahunya ketika ia menahan tubuhnya agar tidak terbentur, seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang patah tulang jari-jari kaki, dan seorang pemuda berambut keperakan yang....
eh?
"Fr--
"FREYR!!!"
Subscribe to:
Posts (Atom)