Wednesday, 7 October 2015

Terkadang, hidup itu, bukan soal pilihan.

Bukan soal memilih.

Dan bukan soal dipilih.

Seringnya, panggung sandiwara ini membuat kita mau-tidak-mau, suka-tidak-suka, memilih sesuatu. Mengesampingkan yang lain.

Mengorbankan perasaan.

Seringnya, dunia ini memaksa kita memangku beban begitu besar di kedua pundak. Memikul tanggung jawab seberat dunia.

Membuang bahagia demi sejenak keputusasaan bernama derita.

Siapa sangka setelah derita ada asa? Siapa kira derai air mata ternyata jeritan rindu?

Bisa jadi, kisah pilu tidak berakhir sendu, 'kan?

Mungkin perlu ditampar sampai hatinya pecah, mungkin perlu diberitahu dengan cara paling kasar yang pernah ditemukan oleh manusia agar logikanya patah. Mungkin perlu dibuat menangis begitu keras dan perih teramat dalam agar tersadar.

Mungkin perlu merasakan sakit yang membuat hampa untuk bisa kembali diisi oleh rasa.

Orang zaman dulu bilang, sesal di akhir tiada guna. Pertanyaan besarnya adalah, apa yang perlu disesalkan?

Kenapa harus menyesal?

Pertanyaan ngasalnya adalah, buat apa menyesali sesuatu yang memang dipilih sen-di-ri?

Lalu, alasan dewa-nya adalah, dunia ini dan seluruh isinya berkehendak supaya pilihan ini yang dipilih, dan bukan yang lainnya.

Dan lagi, pertanyaan selanjutnya adalah,

memangnya siapa yang ada di dalam kepala, selain diri sendiri?

-kecuali kita hidup di zaman sci-fi di mana keberadaan alien-alien parasit yang bisa mengendalikan pikiran orang itu benar adanya-

Tidak ada nomor satu atau nomor dua. Nomor tiga atau nomor empat. Opsi cadangan atau opsi utama. Plan A atau Plan B.

Oke, ralat.

Semua hal itu, ada. Nyata. Untuk manusia.

Tapi apakah manusia yang menentukan terjadinya segala sesuatu di muka bumi ini?

Apakah salah kalau manusia memiliki sejuta pilihan dan ternyata jalannya adalah pilihan ke sejutasatu?

Apakah salah kalau memilih untuk menyayangi tanpa balas?

-karena cinta adalah kata yang terlalu banyak digunakan dan digunakan terlalu cepat-

Apakah salah kalau menyayangi seseorang adalah pilihan terakhir yang bisa diambil ketika semuanya sudah tidak ada ujungnya?

Kalau semuanya sudah berakhir tanpa sempat dimulai?

Kalau semuanya berhenti tanpa sempat diakhiri.

.

Friday, 11 September 2015

You Answer It Yourself, Please.

He was, once, a spark in her life.

Dazzling smile and innocent eyes - it fucking hurt my eyes. And so, she smiled back. As innocent and as sweet as she could be.

But of course, it was lie.

Everything was a bloody lie.

And of course, her love for him was the biggest lie ever.

"Go out with me."

Sheepishly smiling - wait, this is what people do when being confessed, aren't they? - she nodded. Then, everything went downhill and roller coaster-ing aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaand...

... done as fast as it started.

She ended it. Of course. He moved on. Good then. She stayed the same? Yes.

She - who'd never able to love anyone simply because she found it too much to love a human.

Did she moved on?

Oh, Lord. She never went anyway in a first place. She stayed the same because there're never any major changes in her life (no, had a relationship wasn't that important to her) except having a sudden responsibilities of other people's live.

Did she regret it?

Not, really.

Because either way the end was inevitable. Because what was the meaning of regret when there's nothing to regret for. Love hurt. Everybody hurt.

But, feel hurt was for someone who actually had a heart.

And, thus, did she regret it?

Wednesday, 2 September 2015

Insecurities

Zen & Aka (c) Pratiwi Fitriani

.
.
.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh...

Zen menghela napas, berusaha memancing refleks apalah-itu-namanya untuk menenangkan jantungnya yang sedang berdetak luar biasa cepat. Hiperbola, karena kalau memang jantungnya berdetak secepat yang ia pikirkan, saat ini Zen pasti sedang terbaring tidak sadarkan diri di Ruang Resusitasi.

Menyedihkan.

"Zen?"

Suara yang familiar di telinga membuatnya kembali ke dunia nyata. Ia memandang sepasang mata biru yang bingung. Segera saja makhluk-makhluk imajiner di dalam kepalanya memasang kaset berjudul 'senyum manis', membuat Zen menarik bibirnya.

"Ya? Ada apa, Le?"

Leon mengerutkan dahinya. "Melamun?"

Zen menggaruk lehernya yang tidak gatal. Klise. "Ah, ya. Sepertinya aku perlu minum kopi lagi. Kemarin pasiennya banyak banget, aku duduk lima menit aja udah bersyukur luar biasa."

Leon mengangguk, meski ada kilat di matanya yang meragukan pernyataan Zen. "Mau kubeliin? Sekalian aku ke kantor dulu ngambil berkas kasus pembunuhan yang kemarin. Macchiato 'kan?"

"Ngga usah, Le. Nanti aku beli kopi biasa aja di Minimart."

"Ya udah, nanti aku jemput ya. Temenin aku nyari kemeja?"

Ah, Leon. Kalau tidak ingat ada di mana mereka sekarang, Zen pasti sudah menerjang Leon dan ndusel-ndusel di pelukan detektif muda itu.

"Leon. Ayo."

... kalau saja nenek sihir sialan ini tidak ada.

"Oke. Aku ke kantor sekalian nganter Aka ya, Zen. See you."

Zen memasang lagi senyum manis paling palsunya. "Yeah. See you."

Sunday, 30 August 2015

Yours Truly

Project [K] (c) GoRa & GoHands

.
.
.

"Let me go."

He was so real. Right in front of him. That honey-colored eyes, Oh God how much he missed them.

"King?"

And that voice. Lord, what do YOU want?

"Yeah?"

"Please, let me go."

"I can't."

He smiled. Not that stupid smile he used to have, but this kind of sad and weird smile.

"Why?"

"Because I'll avenge your death."

"Even if it means your life?"

"Yes."

"Mikoto, do you love me more than your life?"

Mikoto chuckled. "You should've knew me better, Tatara."

---

You're my whole world.

---

And I'd follow you wherever you go.

---

Even if it means my end.

Thursday, 27 August 2015

Dear Lord,

Please let me be anywhere and everywhere, places yet to be touch and people yet to be met. Flowers to admire and breathtaking scenery.

Please let me help and touch, and inspire and help and relieve pain.

Please be my strength and my guidance, let me be a strength and a guide. Please help me walk this path and live this life. Let me be smart enough to help and stupid enough to learn. Let me know that there's no such things as limit and please let me be someone grateful and thankful.

Let me be black and white, red and blue, be it yellow or green or even purple and pink.

Let me be here and there and everywhere.

Tuesday, 28 July 2015

Prayer

"I'm getting married. Next week."

"Huh?"

He smiled, so dazzlingly brilliant. "I'm getting married. Next week."

"Wait, excuse me. Whose getting married?"

He chuckled. "Me."

"With?"

"Who else?"

"When?"

"Next week. You're invited."

...

"Don't cry."

"How?"

He shrugged. "Don't know. Just, don't. It won't make things any better. I've been there."

"I know. I don't even know why I'm crying my eyes off like this. All I know is, it is not regret."

"Then what?"

"Dunno. Once, when I knew that he would never be mine, I prayed and asked for his and only his happiness. That he would fine his happily ever after, that I would find my own happily ever after. That, somehow, I was allowed to be a part of his life. Allowed to be his friend. I should be happy then, aren't I? That God decided to gave me what I needed and what I wanted AND made me realized that He was really there and everywhere and hear and would answer every single pray I asked. This time, though, He was so direct and surprised me."

"Hahaha. Stop crying then."

"I will. Just, five more minutes."

...

Karena waktu tak ingin kita bersama
Walaupun waktu tak menjelaskan mengapa
Semoga waktu kan izinkan ku tuk miliki cinta kita
Di lain waktu


...

Saturday, 11 April 2015

Happiness is Just A Hug Away

Disclaimer : Shinji © Pratiwi Fitriani


“Freyr?”

Ketukan halus ragu-ragu di pintu kamar dan dengung nada rendah yang sangat familiar membuat Freyr mau tidak mau kembali ke dunia nyata. Satu minggu cuti kerja dengan alasan sakit—beruntung seniornya di kepolisian mengerti apa yang baru saja ia alami, terima kasih karena Faux yang mulutnya seperti ember bocor—membuatnya menghabiskan waktu mengurung diri di kamar dengan tumpukan buku-hasil-merampok kamar Gancanagh. Baru saja ia merasa terhibur dengan tumpukan komik konyol tentang seekor kucing bulat bernama Pojo, dan kini ia harus menghadapi lagi pahitnya dunia.

“Freyr? Aku tahu kau di dalam.”

Freyr menghela napas dan menyimpan buku yang sedang dibacanya.

“Apa maumu.”

Freyr tidak bertanya. Ia tidak mau lagi mempertanyakan apapun yang pernah ada di antara dirinya dan pemuda di depan pintu kamarnya.

“Aku mau bicara denganmu.”

“Kalau aku tidak mau?”

“Sekarang kita sudah bicara.”

Freyr mendengus. Yang seharusnya ia lakukan adalah mengusir pria itu dari rumahnya, dari kehidupannya, lalu hidup bahagia dengan aman, damai, dan sejahtera selamanya.

Meski selamanya adalah hal yang mengerikan untuk dilalui sendirian.

“Ya sudah. Bicara saja kalau begitu.”

Sunyi sekejap, kemudian ada tawa geli yang hampir tak terdengar. Freyr menghela napas. Rasa yang tumpah di hatinya ini, entah apa namanya. Tubuhnya lalu bergerak sendiri, melawan satu bagian otaknya yang menjerit histeris dan menyalakan alarm tanda bahaya. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya, untuk menemukan pemuda tinggi berwajah malas dengan mata tajam dan rambut seperti singa jantan. Satu detik Freyr melihat ekspresi kaget di wajahnya, satu detik kemudian Freyr menemukan senyum tipis yang tidak pernah ia tunjukkan padanya selama hubungan mereka sekian tahun ini, dan semuanya bergerak dalam satuan waktu lain yang lebih lambat ketika dua lengan besar merengkuhnya dalam satu pelukan erat.

Seolah ia pernah kehilangan, dan kini menemukan bagian dirinya lagi.

“Freyr,” bisik Shinji. Shinji merapatkan dirinya, membuat Freyr terpaksa berdiri di atas jari kakinya dan berpegangan pada pakaiannya agar tidak jatuh. Shinji mengubur kepalanya di antara pundak dan leher Freyr, mengeratkan pelukannya di pinggang Freyr.

Freyr, yang tidak akan pecah berantakan meskipun ia memeluknya dengan erat. Freyr , yang tidak akan melindunginya dengan ganjaran nyawa.

Freyr, yang pernah mencintainya lebih dari apa yang pantas ia dapatkan.


Freyr, tidak tahu harus menyimpan tangannya di mana.

Di samping tubuhnya?

Di bahu lebar yang dulu hanya bisa ia lihat dari belakang, dan kini ada tepat di depan matanya?

Atau di leher jenjang dengan surai-surai halus yang kini menggelitik pipinya?

Freyr tidak tahu harus bagaimana, harus apa.

Ia hanya tahu, kalau hatinya penuh. Penuh.

Penuh oleh perasaan yang membuat seluruh logika perhitungannya luluh lantah, oleh rasa yang membuatnya merengkuh leher dan apapun yang bisa kedua lengannya raih dalam posisinya yang kikuk ke dalam pelukannya, oleh rasa yang membuatnya tenggelam dalam air mataketika ia menghirup wangi yang sangat ia kenal, ketika ia merasakan hangat yang begitu ia rindukan.

“Freyr.”

Ketika namanya disebut oleh orang yang sudah mengisi satu ruangan khusus di hatinya,

Shinji melepaskan pelukannya, namun tidak membiarkan Freyr lepas darinya. Kedua tangannya masih merengkuh posesif pemuda yang sedang menatapnya dengan mata berair dan wajah merah.

“Freyr.”

“Hm?”

“Freyr.”

Freyr mengusap wajahnya. Ia tahu persis seberapa berantakan wajahnya saat ini. Ia tahu saudaranya sedang menguping di pojokan. Ia juga tahu, siapa kira-kira yang berhasil menyarangkan tinjunya di wajah pemuda ini.

“Ya, Shin?”

“Terima kasih.”

“Untuk?”

“Jadi satu-satunya yang tidak pergi.”

Freyr mendengus. Ironis. “Siapa bilang aku tidak pergi?”

Shinji hanya tersenyum tipis dan kembali memeluk Freyr, kembali menenggelamkan dirinya di hangat tubuh yang familiar.

“Terima kasih, dan maaf, Freyr.”

Freyr menggumam di lekuk leher Shinji, memejamkan matanya dan merengkuh leher tersebut. “Untuk?”

Shinji mengangkat kepalanya dan menatap Freyr. “Untuk semua hal brengsek yang kulakukan padamu.”

Freyr mengerjap, lalu tertawa. Lepas, keras, dengan air mata masih mengalir di pipinya, dan kedua lengannya masih merengkuh leher Shinji yang kini memasang senyum tipis dengan rona merah muda mulai muncul di telinganya.

“Hahaha! Shin! Kau harus lihat bagaimana wajahmu! Hahaha!”

“Sudahlah,” dengus Shinji, yang memutuskan untuk kembali menyimpan kepalanya di pundak Freyr, membiarkan gelak tawanya terdengar jelas di telinga, dan getaran di dada mereka masing-masing merambat pelan-pelan memenuhi lubang-lubang di hati mereka.


“Freyr.”

“Hm?”

Suara derit tempat tidur terdengar ketika Shinji mengubah posisinya. Ia berbaring di satu sisi tubuhnya dan menatap Freyr.

“Apa kau bahagia?”

Freyr menoleh dan menatap Shinji. Ia menggeleng sambil mengangkat bahunya.

“Aku tidak tahu.”

“Begitu,” ujar Shinji pelan dan kembali lagi ke posisinya semula, menatap langit-langit kamar sembari memikirkan bagaimana caranya ia keluar dari rumah ini dengan kondisi tubuh yang lengkap tanpa kurang satu hal pun.

“Kalau kau?”

Shinji menoleh dan mendapati Freyr masih menatapnya. Tatapan yang sama sejak pertama kali mereka bertemu di bar. Tatapan yang sama ketika  ia mengantarnya pergi menjalani misi bersama Andreas. Tatapan yang sama ketika Shinji mematahkan hatinya untuk yang kesekian kali.

Sepasang mata yang membuatnya yakin, bahwa ia adalah tempatnya kembali.

“Ya. Kalau ini kau sebut bahagia, maka ya. Aku bahagia.”

“Kau tahu, sebenarnya aku posesif.”

“Aku juga.”

“Leon dan Faux sering mengataiku bawel.”

“Aku tahu.”

“Gacchi bilang aku terlalu sering membawa perasaanku pada segala hal diluar pekerjaan.”

“Dan kau bilang begitu pada pria yang sekian lama hidup menolak merasakan.”

Freyr mendudukan dirinya, membiarkan selimut yang menyelimutinya jatuh dan memamerkan punggungnya pada Shinji.

“Kalau kau pergi lagi, aku tidak bisa menghalangi apapun yang akan dilakukan Leon dan Faux dan Gacchi padamu.”

“Aku tahu.”

Senyum lebar kekanakan menghiasi wajah Freyr. Tak lama, Freyr menimpa tubuh Shinji, memeluknya dalam pelukan besar yang sedikit di luar karakter sambil tertawa lebar, membuat pemuda berwajah masam itu berseru kaget ketika tubuh mereka berdua saling adu dan membuatnya hampir jatuh dari tempat tidur.



Ya. Mereka bahagia.
Dan itu sudah cukup.

Sunday, 22 February 2015

Color Blind

Altair, Soma, Tobi © grosspanda & leight2

.
.
.

“Gen!”

Gen—Genichiro, pemuda tanggung berambut coklat yang sedang dikepung oleh dua orang anggota tim lawan, melirik sedikit ke arah suara. Satu tangannya masih berusaha mengendalikan pantulan bola ketika matanya berhasil fokus pada sosok rambut ungu yang sedang berlari menuju ring. Posisinya saat ini sebenarnya tidak memungkinkan dirinya untuk memberikan operan pada siapapun, tapi tidak kata harga dirinya.

Satu gerak menjauhi lawannya, pantulan bola ke belakang, lalu memutar badan dan memantulkan bola ke samping, dan dengan gerakan kaki yang hampir tidak terlihat Genichiro berhasil membebaskan diri sejenak dari lawannya. Dari sudut matanya, ia tahu bahwa dalam hitungan detik ia akan kembali terperangkap dalam strategi lawan untuk membungkam sang Power Forward. Genichiro tersenyum tipis.

Apa gunanya membungkam ujung tombak tim, kalau tidak bisa menghentikan otak penggerak segalanya?

Ayunan singkat dari lengannya dan bola melayang mulus di udara. Pemuda rambut ungu itu berhasil menangkap bola, memantulkannya sedikit lalu melemparkannya ke ring dalam satu gerakan halus.

Bunyi peluit panjang dan sorakan ramai menandai berhentinya pertandingan satu detik setelah bola oranye melesak masuk dalam satu sapuan udara. Pertandingan panas antara kedua tim selesai dengan ditutup oleh shoot tiga poin yang nyaris tanpa cela. Si rambut ungu bernomor delapan langsung diserbu oleh rekan satu timnya, yang saling peluk dan tertawa dan bangga tanpa peduli keringat yang sudah membasahi pakaian.

“Altair! Sakit kamu! Three point mepet waktu begitu! Mau bikin seniormu ini mati berdiri?!” seru Genichiro yang masih tertawa lebar dan merangkul pundak juniornya yang lebih tinggi itu.

“Sok heroik banget! Sampah banget!” lanjut pemuda berkacamata di hadapan Altair dan Genichiro, sambil mengacak-acak rambut ungu Altair yang lepek kena keringat. Altair sendiri hanya tertawa-tawa ringan sambil berusaha mengatur napasnya.

“Hentikan itu, Ran. Aku bukan anak-anak!” protes Altair. Ran tertawa makin keras ketika usahanya membuat rambut ungu Altair membuahkan hasil. Rambut acak-acakannya semakin berantakan dan mencuat ke segala arah.

“Bagiku kau tetap bocah cilik!”

“Ran!”

“Sudah, kalian semua. Ayo, kita beri salam pada lawan.”

Tiga pemuda yang masih terbuai oleh kemenangan itu lalu menatap pemuda berwajah santai di hadapan mereka. Senyum tipis menghiasi wajahnya. Altair, Genichiro, dan Ran mengangguk singkat.

“Baik, Kapten Kai.”

.

.

.

“Permisi! Pesan satu lagi milkshake coklat!”

“Buat dua! Yang satu tambah krim kocok!”

“Ah! Jun! Itu kentang gorengku!”

“Permisi! Tambah empat porsi cheese burger!”

Riuh rendah gelak tawa menjadi latar belakang musik bagi restoran cepat saji tempat tim basket SMU Seidai merayakan kemenangan mereka. Kemenangan tipis dari musuh bebuyutan dengan skor 93-91 berhasil mengantar mereka menjadi juara regional. Kai menatap kegaduhan anggota timnya dengan senyum tipis yang sejak tadi tidak bisa lepas dari wajahnya. Di sampingnya, Genichiro sibuk menghabiskan gelas milkshake coklatnya yang ketiga.

“Hoi, Kai. Atur wajahmu.”

Kai mengalihkan pandangannya pada Genichiro. “Atur bagaimana?”

“Mukamu. Mengerikan.”

Kai terkekeh geli mendengar omelan Genichiro. “Gen, kau itu selalu jahat padaku.”

Dengan satu seruput panjang yang mengganggu telinga, Genichiro mendelik kesal pada Kai. Ia tidak habis pikir, bagaimana caranya Kai bisa begitu disegani dan dihormati dan begitu besar keberadaannya di lapangan basket ketika di luar semua itu ia hanyalah bocah berbadan besar yang punya hobi mengerikan memerhatikan keadaan di sekitarnya lalu tersenyum simpul sendirian.

Maniak.

“Kapten Kai, Kak Gen.”

Genichiro baru saja akan melancarkan serangan ejekan pada Kai ketika Altair memanggil mereka berdua. Kedua murid kelas tiga tersebut mengalihkan pandangan mereka pada si rambut ungu yang duduk di samping Genichiro.

“Ya? Ada apa?”

“Aku boleh pesan cheese burger lagi?”

“… aku penasaran. Perutmu itu ruang hampa apa bagaimana.”

.

.

.

“Aku pulang!”

“Selamat datang! Selamat atas kemenangannya!”

Satu confetti diledakkan tepat di wajah Altair, membuat rambutnya yang ungu penuh oleh kertas warna-warni. Ayah Altair—laki-laki berusia empat puluh tiga tahun dengan cetakan wajah begitu mirip dengan Altair kecuali warna rambutnya yang coklat—hanya tersenyum lebar di belakang istrinya, wanita berambut merah yang sedang memeluk Altair.

“Aksimu di detik terakhir itu keren sekali! Ibumu sampai lompat-lompat kegirangan di bangku penonton.”

“Hei! Jangan ceritakan yang aneh-aneh!”

Altair tidak bisa menyembunyikan senyumnya ketika melihat kedua orangtuanya adu mulut seperti remaja tanggung berusia belasan tahun. Tidak jarang ketika mereka jalan bertiga, Altair akan dianggap adik paling kecil dari tiga bersaudara oleh orang-orang di sekitarnya.

“Sudahlah, kalian berdua. Sudah malam. Tidak enak dengan tetangga,” Altair berusaha menengahi ayah dan ibunya yang kini sedang saling ejek.

“Habis! Ayahmu, ‘nih!”

“Kau sendiri, tingkahnya seperti anak muda saja.”

“Aku memang masih muda!”

Altair menghela napas, menyerah. Dengan sigap ia segera masuk ke dalam rumah dan secepat kilat bergerak menuju kamarnya di lantai dua. Setelah menyimpan tas dan membuka jaket, ia membuka jendela dan membiarkan angin malam masuk ke dalam kamarnya. Tepat di seberang jendela kamarnya, terlihat jendela kamar rumah sebelah yang tertutup tirai. Cahaya masih terlihat terang menyala di dalamnya. Altair tersenyum tipis.

“Soma! Hoi! Soma!”

Tak lama kemudian, terlihat gerakan dari balik tirai dan dalam satu gerakan singkat, jendela kamar tersebut terbuka, menampakkan pemuda berambut hijau kebiruan dengan wajah mengantuk dan bekas luka memanjang di wajah sebelah kirinya.

“Yo! Kau tadi nonton pertandinganku?”

Soma mengangguk singkat lalu menguap lebar. “Selamat atas kemenanganmu, Al.”

“Terima kasih! Besok kau ada latihan pagi?”

Soma mengangguk lagi. “Kejuaraan musim panas sudah mulai.”

“Betul juga. Besok pergi ke sekolah jam berapa?”

Soma mengedipkan matanya beberapa kali sebelum mengambil jam tangannya di meja belajar di samping jendela. “Mungkin jam enam.”

“Oke. Bangunkan aku kalau kau sudah bangun, ya! Sudah lama kita tidak berangkat sekolah sama-sama.”

Soma diam sejenak, mengerutkan dahinya. “Memang kamu ada latihan pagi juga?”

“Nggak.”

“Terus?”

“Aku ingin berangkat sekolah sama-sama denganmu.”

“…oke. Kubangunkan jam lima ya.”

“Baiklah! Selamat tidur, Soma! Salam untuk Tobi!”

Satu bunyi meong singkat dan seekor kucing oranye-putih berwajah malas memunculkan dirinya di samping Soma. Soma lalu mengangkatnya dan memainkan salah satu kaki depannya, membuat seolah kucing tersebut melambaikan tangan pada Altair.

“Selamat malam, Al. Sampai besok.”