Harry Potter (c) J.K. Rowling
Saint Seiya (c) Masami Kurumada
Saint Seiya Lost Canvas (c) Shiori Teshirogi
Saint Seiya Omega (c) Toei Animation
.
.
.
"Slytherin!!!"
"APA?!"
Yang berseru bukanlah yang baru saja ditentukan asramanya oleh Topi, melainkan dua orang berparas mirip dengan rambut pirang ikal serupa. Bedanya, yang satu duduk di salah satu kursi di meja panjang berpanjikan singa emas berlatar belakang merah membara, yang lainnya duduk di meja panjang di depan para murid. Keduanya berdiri secara bersamaan, memasang wajah tidak percaya, dan berseru sangat keras sehingga semua mata yang di Aula Besar berpaling ke arah mereka. Sementara itu, yang baru saja ditentukan asramanya hanya menunduk diam tidak bergerak di kursi kecil, dengan Topi masih setia bertengger di kepalanya sambil sesekali bergumam-gumam tidak jelas.
Adalah Zeus, sang kepala sekolah berambut pirang keemasan, yang berdeham pelan dan mengembalikan fokus padanya.
"Milo dari Gryffindor, dan Sir Kardia, kembali duduk di tempat kalian masing-masing."
Kardia menunjuk-nunjuk yang mengenakan Topi sebelum akhirnya ber-'cih' pelan dan duduk lagi dengan tampang masam. Sementara itu, Milo mengerutkan dahinya. Tatapannya tajam dan aneh dan, marah. Ia menolak untuk duduk, namun upacara penerimaan murid baru tidak akan menunggunya. Jadi, ketika sang wakil kepala sekolah mencabut Topi dari kepala gadis kelas satu berambut pirang panjang yang menolak untuk menatap siapapun di ruangan itu. Dengan langkah lesu dan tidak rela, ia menyeberangi ruangan, menuju meja panjang yang dinaungi panji hijau berlambangkan ular perak, melewati Milo yang masih berdiri dan menatapnya ganas, lalu duduk di kursi yang ada dan disambut oleh seseorang berambut pirang.
"Aku Saga, Prefek Slytherin. Selamat datang di Slytherin, Sonia."
Showing posts with label Multichapter. Show all posts
Showing posts with label Multichapter. Show all posts
Thursday, 28 February 2013
Sunday, 27 January 2013
Silvery Miracle #1
"Mikoto-san."
Putih. Sepanjang matanya memandang, hanya ada putih tanpa batas. Mikoto memandang tangannya, menggerakannya, kemudian mengepal. Pandangannya beralih lagi pada kehampaan di hadapannya.
"Mikoto-san."
Muncul lagi, suara itu. Suara yang jahil, usil, sekaligus karismatik.
"Mikoto-san, di belakangmu."
Mikoto berbalik dan menemukan pemuda pendek berambut putih keperakan berdiri dengan senyum tipis di wajah. Ia mengenalinya, sangat mengenalinya. Isana Yashiro, Adolph Weissman, Silver King, Colorless King, siapapun itu nama aslinya.
"Mau apa kau?"
Shiro terkekeh geli. "Bahkan setelah mati pun, Mikoto-san tetap Mikoto-san."
"Memangnya mau jadi apa lagi?"
"Iya, betul. Tentu saja." Shiro mengangguk-angguk. Mikoto lalu mendudukkan dirinya. Tidak benar-benar duduk, karena tempatnya sekarang berada tidak lebih hanya imajinasi tentang dunia setelah mati. Ia memang bernapas, merasa hangat, dan hal-hal lainnya yang pernah ia rasakan ketika dulu masih hidup, tapi sembilan per sepuluh sel otaknya percaya itu hanyalah ilusi dunia orang mati saja.
"Hei, Mikoto-san, bagaimana menurutmu tempat ini?"
Mikoto beralih pada Shiro yang kini sedang melayang di atasnya. Jika ini dunia nyata pun, Mikoto tahu pasti kemampuan klan Perak yang memanipulasi gravitasi membuat siapapun anggota klannya bisa melayang-layang seperti hantu, apalagi di dunia aneh ini.
"Membosankan."
Shiro tergelak lagi. "Sudah kuduga kau akan menjawab begitu. Kau mudah sekali ditebak, Mikoto-san."
"Bukan urusanmu."
Shiro lalu tersenyum tipis dan mendudukkan dirinya di samping Mikoto. "Mikoto-san, kau tahu kenapa Raja Perak tidak bisa mati?"
Mikoto tidak menjawab. Shiro menoleh ke arah mantan Raja Merah itu, yang bahkan tidak sedikitpun berusaha berpikir mengenai jawaban atas pertanyaannya.
"Kau tahu ini tempat apa?"
"Dunia orang mati."
"Sekarang kau sudah tahu, kenapa Raja Perak tidak bisa mati?"
Kali ini Mikoto menoleh ke arah Shiro. Wajahnya terlihat bingung. Shiro mendengus geli.
"Kau tahu, warna apa yang sekarang ini ada di sekelilingmu?"
"...putih."
Shiro menggeleng. "Bukan, Mikoto-san. Bukan. Coba, perhatikan lagi warnanya. Putih 'kah?"
Mikoto lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Putih, putih, putih. Mikoto bukan orang yang buta warna. Setidaknya iya pun, ia masih bisa membedakan warna putih dan bukan putih. Warna dunianya saat ini mengingatkannya pada musim dingin, ketika salju menumpuk di jalanan, ketika Anna dan Yata lari-larian sambil main lempar bola salju, ketika Kusanagi mengajaknya main ski dari tebing paling curam, atau ketika ia melihat Reisi Munakata terjatuh dengan tidak elitnya di hamparan putih perak salju karena terpeleset.
Ah.
"Jadi? Sudah tahu ini warna apa?"
"Perak."
Shiro tersenyum lebar. "Bingo!" Ia lalu berdiri dan meregangkan tubuhnya. "Perak, Mikoto-san. Seperak rambutku, rambut Weissman, rambut Neko, seperak Sword of Damoscles milikku. Seperak salju. Perak, Mikoto-san."
"Lalu?"
"Apa yang bisa dikendalikan oleh klan merah?"
Teka-teki lagi. Mikoto menghela napas. "Api."
"Klan Biru?"
Mikoto berpikir sejenak. "Pedang?"
"Itu senjata yang mereka gunakan," Shiro tidak bisa menyembunyikan geli pada nada suaranya. "Pada dasarnya, setiap warna memiliki ciri khasnya masing-masing. Merah dapat mengendalikan api, Tanpa Warna memberi ilusi, dan Perak memanipulasi gravitasi."
Mikoto makin tidak mengerti arah pembicaraan ini. "Lalu?"
"Lalu, kabar baiknya adalah, Perak juga mengatur kehidupan."
"Maksudmu?"
"Keabadian."
Mikoto memicingkan mata. Otaknya dipenuhi spekulasi arah pembicaraan. Shiro tersenyum semakin lebar.
"Singkatnya adalah, aku bisa menghidupkanmu kembali, Mikoto-san. Kau dan juga anggota HOMRA yang dibunuh oleh Raja Tanpa Warna. Hanya saja, aku tidak bisa mengembalikan kekuatan kalian. Raja Merah selanjutnya sudah dipilih, dan hanya boleh ada satu raja dalam satu waktu. Kalian bisa kembali memiliki kekuatan itu kalau Raja Merah mengakui. Yah, meski itu adalah kepastian yang tidak terelak, 'sih."
Mikoto mengerjap, mulutnya sedikit terbuka, tidak percaya. "Kenapa?"
"Kenapa apa? Kenapa tidak dari dulu? Karena, untuk bisa membangkitkan anggota klan yang mati, aku harus menghidupkan dulu rajanya. Anggota klan akan hidup lagi jika raja yang berkuasa di masanya hidup, asalkan itu kemauan si raja. Kalau sang raja merasa perannya di dunia sudah selesai, keadaan ini tidak diperlukan. Begitu."
Mikoto lalu berdiri dan menatap tajam Shiro. "Jadi?"
"Mikoto-san, kau ini memang pelit ngomong, ya?" canda Shiro. "Ehem, jadi, Mikoto-san, apakah kau mau hidup lagi? Apakah kau mau Tatara Totsuka-san hidup kembali? Apakah kalian mau menjadi anggota HOMRA dan klan merah untuk yang kedua kali?"
"Aku mau!"
Mikoto menoleh cepat ke belakang dan menemukan pria berambut coklat susu dengan senyum bodoh sedang berdiri di sana. Matanya yang sewarna dengan rambutnya berkilat kesenangan.
"To...Totsuka?"
"Halo, Mikoto-kun! Weissman-san sudah menjelaskan semuanya padaku. Jadi, semuanya terserah padamu, 'sih. Kalau kau mau kembali, aku ikut. Kalau mau tetap di sini pun, aku akan menemanimu." Totsuka bicara panjang lebar dengan senyum tidak bisa lepas dari wajah mantan penyanyi itu. Mikoto masih takjub dengan keadaan yang ada di depan matanya.
"Ehem, jadi, bagaimana?"
Mikoto menoleh ke arah Shiro, lalu Totsuka, lalu Shiro, lalu Totsuka lagi. Totsuka mengangguk, menyerahkan semua keputusannya pada Mikoto. Ia lalu berbalik menghadap Shiro.
"...."
.
.
.
Putih. Sepanjang matanya memandang, hanya ada putih tanpa batas. Mikoto memandang tangannya, menggerakannya, kemudian mengepal. Pandangannya beralih lagi pada kehampaan di hadapannya.
"Mikoto-san."
Muncul lagi, suara itu. Suara yang jahil, usil, sekaligus karismatik.
"Mikoto-san, di belakangmu."
Mikoto berbalik dan menemukan pemuda pendek berambut putih keperakan berdiri dengan senyum tipis di wajah. Ia mengenalinya, sangat mengenalinya. Isana Yashiro, Adolph Weissman, Silver King, Colorless King, siapapun itu nama aslinya.
"Mau apa kau?"
Shiro terkekeh geli. "Bahkan setelah mati pun, Mikoto-san tetap Mikoto-san."
"Memangnya mau jadi apa lagi?"
"Iya, betul. Tentu saja." Shiro mengangguk-angguk. Mikoto lalu mendudukkan dirinya. Tidak benar-benar duduk, karena tempatnya sekarang berada tidak lebih hanya imajinasi tentang dunia setelah mati. Ia memang bernapas, merasa hangat, dan hal-hal lainnya yang pernah ia rasakan ketika dulu masih hidup, tapi sembilan per sepuluh sel otaknya percaya itu hanyalah ilusi dunia orang mati saja.
"Hei, Mikoto-san, bagaimana menurutmu tempat ini?"
Mikoto beralih pada Shiro yang kini sedang melayang di atasnya. Jika ini dunia nyata pun, Mikoto tahu pasti kemampuan klan Perak yang memanipulasi gravitasi membuat siapapun anggota klannya bisa melayang-layang seperti hantu, apalagi di dunia aneh ini.
"Membosankan."
Shiro tergelak lagi. "Sudah kuduga kau akan menjawab begitu. Kau mudah sekali ditebak, Mikoto-san."
"Bukan urusanmu."
Shiro lalu tersenyum tipis dan mendudukkan dirinya di samping Mikoto. "Mikoto-san, kau tahu kenapa Raja Perak tidak bisa mati?"
Mikoto tidak menjawab. Shiro menoleh ke arah mantan Raja Merah itu, yang bahkan tidak sedikitpun berusaha berpikir mengenai jawaban atas pertanyaannya.
"Kau tahu ini tempat apa?"
"Dunia orang mati."
"Sekarang kau sudah tahu, kenapa Raja Perak tidak bisa mati?"
Kali ini Mikoto menoleh ke arah Shiro. Wajahnya terlihat bingung. Shiro mendengus geli.
"Kau tahu, warna apa yang sekarang ini ada di sekelilingmu?"
"...putih."
Shiro menggeleng. "Bukan, Mikoto-san. Bukan. Coba, perhatikan lagi warnanya. Putih 'kah?"
Mikoto lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Putih, putih, putih. Mikoto bukan orang yang buta warna. Setidaknya iya pun, ia masih bisa membedakan warna putih dan bukan putih. Warna dunianya saat ini mengingatkannya pada musim dingin, ketika salju menumpuk di jalanan, ketika Anna dan Yata lari-larian sambil main lempar bola salju, ketika Kusanagi mengajaknya main ski dari tebing paling curam, atau ketika ia melihat Reisi Munakata terjatuh dengan tidak elitnya di hamparan putih perak salju karena terpeleset.
Ah.
"Jadi? Sudah tahu ini warna apa?"
"Perak."
Shiro tersenyum lebar. "Bingo!" Ia lalu berdiri dan meregangkan tubuhnya. "Perak, Mikoto-san. Seperak rambutku, rambut Weissman, rambut Neko, seperak Sword of Damoscles milikku. Seperak salju. Perak, Mikoto-san."
"Lalu?"
"Apa yang bisa dikendalikan oleh klan merah?"
Teka-teki lagi. Mikoto menghela napas. "Api."
"Klan Biru?"
Mikoto berpikir sejenak. "Pedang?"
"Itu senjata yang mereka gunakan," Shiro tidak bisa menyembunyikan geli pada nada suaranya. "Pada dasarnya, setiap warna memiliki ciri khasnya masing-masing. Merah dapat mengendalikan api, Tanpa Warna memberi ilusi, dan Perak memanipulasi gravitasi."
Mikoto makin tidak mengerti arah pembicaraan ini. "Lalu?"
"Lalu, kabar baiknya adalah, Perak juga mengatur kehidupan."
"Maksudmu?"
"Keabadian."
Mikoto memicingkan mata. Otaknya dipenuhi spekulasi arah pembicaraan. Shiro tersenyum semakin lebar.
"Singkatnya adalah, aku bisa menghidupkanmu kembali, Mikoto-san. Kau dan juga anggota HOMRA yang dibunuh oleh Raja Tanpa Warna. Hanya saja, aku tidak bisa mengembalikan kekuatan kalian. Raja Merah selanjutnya sudah dipilih, dan hanya boleh ada satu raja dalam satu waktu. Kalian bisa kembali memiliki kekuatan itu kalau Raja Merah mengakui. Yah, meski itu adalah kepastian yang tidak terelak, 'sih."
Mikoto mengerjap, mulutnya sedikit terbuka, tidak percaya. "Kenapa?"
"Kenapa apa? Kenapa tidak dari dulu? Karena, untuk bisa membangkitkan anggota klan yang mati, aku harus menghidupkan dulu rajanya. Anggota klan akan hidup lagi jika raja yang berkuasa di masanya hidup, asalkan itu kemauan si raja. Kalau sang raja merasa perannya di dunia sudah selesai, keadaan ini tidak diperlukan. Begitu."
Mikoto lalu berdiri dan menatap tajam Shiro. "Jadi?"
"Mikoto-san, kau ini memang pelit ngomong, ya?" canda Shiro. "Ehem, jadi, Mikoto-san, apakah kau mau hidup lagi? Apakah kau mau Tatara Totsuka-san hidup kembali? Apakah kalian mau menjadi anggota HOMRA dan klan merah untuk yang kedua kali?"
"Aku mau!"
Mikoto menoleh cepat ke belakang dan menemukan pria berambut coklat susu dengan senyum bodoh sedang berdiri di sana. Matanya yang sewarna dengan rambutnya berkilat kesenangan.
"To...Totsuka?"
"Halo, Mikoto-kun! Weissman-san sudah menjelaskan semuanya padaku. Jadi, semuanya terserah padamu, 'sih. Kalau kau mau kembali, aku ikut. Kalau mau tetap di sini pun, aku akan menemanimu." Totsuka bicara panjang lebar dengan senyum tidak bisa lepas dari wajah mantan penyanyi itu. Mikoto masih takjub dengan keadaan yang ada di depan matanya.
"Ehem, jadi, bagaimana?"
Mikoto menoleh ke arah Shiro, lalu Totsuka, lalu Shiro, lalu Totsuka lagi. Totsuka mengangguk, menyerahkan semua keputusannya pada Mikoto. Ia lalu berbalik menghadap Shiro.
"...."
.
.
.
Thursday, 6 December 2012
The One Who Chasing The Sun #1
Saint Seiya © Masami Kurumada, Shiori Teshirogi
Chasing The Sun © The Wanted
.
.
.
Sanctuary of Athens. Dulu, entah beberapa millennium yang lalu,
kisah-kisah heroik menjadi cerita sebelum tidur bagi anak-anak. Dulu, di masa
kejayaan para dewa-dewi Olympus,
konon terdapat para pendekar suci yang bertarung mempertaruhkan nyawa demi
membela kepentingan umat manusia.
Dulu, terdapat dua belas pendekar berzirah emas yang menjadi
penguasa dari kuil-kuil agung dan megah yang menjadi pilar utama kekuatan Sanctuary.
Kini?
.
.
.
“Lima ratus euro
hanya untuk berjalan-jalan mengelilingi reruntuhan kuno?!”
Seorang pemuda berambut toska menutup telinganya yang
mendadak berdenging setelah mendengar lengking dari pria bersurai biru gelap di
depannya. Mata birunya lalu melirik kiri-kanan, memperhatikan bagaimana mereka
berdua lalu digosipkan oleh orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka. Dengan
wajah identik dan tinggi menjulang, mencolok di tengah keramaian bersama
seseorang yang tidak punya urat malu adalah satu hal yang tidak bisa
dikombinasikan bersamaan.
“Aspros, pelankan suaramu,” bisik si surai toska. Aspros mendelik
marah dan membuka mulutnya, siap menyemburkan lengkingan ber-pitch tinggi yang memekakkan.
“Lima ratus euro,
Defteros! Lima ratus euro! Kalau kau
mau mengelilingi reruntuhan sialan itu dengan harga tidak masuk akal begitu,
kau saja! Lima ratus euro-ku akan
kuhabiskan di kasino saja!” serunya setengah teriak sebelum angkat kaki dari
tempat, meninggalkan identiknya yang satu menghela napas panjang dan
membungkuk-bungkuk minta maaf kepada pejalan kaki yang kena imbas amukan
Aspros.
Memang, salahnya tidak mengecek terlebih dahulu berapa harga
memasuki situs arkeologi dan sejarah terkenal bernama Sanctuary ini. Salahnya juga, ia lupa profesinya sebagai fotografer
sekaligus penulis artikel di majalah lanskap dunia ternama membuatnya sering
lupa diri dan berakhir menghiraukan racauan sang kakak tentang kebosanannya.
Salahnya juga, ia mau-mau saja ketika Aspros meminta—merengek—minta
ikut dalam penjelajahannya di Yunani. Mengurus Aspros sama rasanya ketika ia
disuruh oleh bosnya, Sisyphus, untuk menjaga keponakannya yang masih balita. Bedanya,
mengurus Regulus masih jauh lebih menyenangkan karena bocah itu bisa dilarang
dan disuruh diam. Menyuruh Aspros diam?
Defteros menggelengkan kepalanya, tidak mau mengingat lagi
saat-saat hidungnya patah karena sumbu emosi Aspros yang memang sudah pendek
lantas disulut.
Setelah selesai dengan isi kepalanya, Defteros mengeluarkan
kamera dari tasnya dan mulai mengatur-atur berbagai hal. Kecepatan tangkap,
bukaan diafragma lensa, paparan ISO, aturan fokus lensa, segalanya. Kemaniakkannya pada kamera membuat Aspros
sering mengamuk tidak jelas kalau ia sudah mulai sibuk dengan dunianya sendiri.
Entah Defteros yang terlalu dingin atau Aspros yang terlampau manja, tapi
hubungan dua kakak-adik ini memang tidak pernah akur sejak zaman dulu kala.
“Lima ratus euro,”
ujar penjaga karcis ketika ia sampai di loket. Seorang pria berambut pirang dan
mata biru dengan senyum miring dan mimik sinting. Defteros mendengus sebelum
mengambil selembar kertas dari tas ranselnya.
“Saya dari majalah, ini surat tugas saya,” ujarnya sambil
menyodorkan kertas tersebut ke depan wajah si penjaga loket, “menurut surat ini
semua akses masuk situs sejarah dengan pungutan biaya akan—
“Seratus euro, dan
singkirkan kertas konyol itu jauh-jauh dari wajahku,” potong si penjual loket. Defteros
hanya tersenyum tipis dan melipat kertas tersebut. Ia lalu mengambil selembar
seratus euro dan menyerahkannya pada
si penjual loket yang kini sedang menggerutu tidak jelas.
“Namaku Defteros, senang berkenalan dengan—
“Kardia.”
Defteros mengangguk dan mengulurkan tangannya. “Kardia. Senang
berbisnis denganmu.”
Kardia lalu menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar
pria berambut toska itu segera angkat kaki sebelum ia mengubah pikirannya.
.
.
.
“Selanjutnya! Lima ratus
euro untuk masuk ke Sanctuary!
Lima ratus euro saja!”
Wednesday, 31 October 2012
Halloween Treat #1
"Itu namanya pumpkinophobia."
Kanon meneguk cokelat hangatnya sebelum menengok ke arah Saga, yang entah bagaimana caranya bisa masuk ke dalam Ruang Bersama asramanya. Sudah bukan hal asing lagi bagi penghuni Ravenclaw, tentang keajaiban Saga yang bisa keluar masuk asrama seperti ia keluar masuk ruang bawah tanah Slytherin. Senior sudah maklum, para guru pun begitu. Hanya Seiya--si penjaga sekolah--yang masih penasaran dan ingin sekali menemukan caranya, yang ia yakini berhubungan dengan sihir jahat, untuk kemudian mendetensinya membersihkan kandang Thestral.
"Lalu, ketakutanku pada warna kuning dan oranye?" tanya Kanon.
Saga mengerutkan dahinya sejenak. "Mmmm...bagaimana kalau kusebut, 'fobia terhadap warna kuning dan oranye' saja? Terdengar lebih sederhana," jawabnya sambil memiringkan kepala, dengan ekspresi polos. Kanon membayangkan Aiolos akan langsung menyerang Saga begitu ia melihat ekspresi ini, namun segera mengenyahkan bayangan itu.
Sekitar lima belas menit yang lalu, Saga masuk seenaknya ke asrama dan menarik Kanon yang tengah bergelung di dalam selimut ke Ruang Bersama. Lalu, ia menginterogasinya tentang kenapa ia tidak makan siang, yang dilanjutkan dengan ceramah panjang lebar mengenai menjaga kesehatan. Alasan Kanon tidak mau makan sebenarnya sederhana saja.
"Lagipula, kenapa, 'sih, kamu tiba-tiba jadi takut makan labu?"
Kanon melirik Saga dari sudut matanya. "Bukan takut. Hanya, entahlah. Muak, mungkin? Menjelang Halloween, sepertinya para peri rumah itu punya stok labu yang tidak terhingga, sampai-sampai setiap hari sejak awal Oktober semua makanan yang disediakan berbahan dasar labu. Jus labu, pai labu, sup labu, labu goreng, kue labu, dan salad labu," Kanon menyebutkan makanan-makanan yang disediakan sekolah, lalu mengakhirinya dengan ekspresi mual. "Aku mau muntah," lanjutnya.
Saga mengusap-ngusap kepala sang adik, sebelum berdiri dan berjalan menuju pintu. "Aku ambil beberapa makanan dari dapur, dan kupastikan mereka tidak mengandung labu atau apapun yang berwarna kuning dan oranye. Apa itu termasuk jeruk, wortel, dan pisang?" tanya Saga.
"Kau tahu aku tidak suka wortel, Saga. Kalau jeruk dan pisang, tidak masalah."
"Oke. Sana, tiduran saja di kasur. Sejam lagi aku kembali."
Kanon melambai sebentar, sebelum akhirnya Saga keluar dari asrama Ravenclaw. Ia menghela napas.
Halloween sialan.
Kanon meneguk cokelat hangatnya sebelum menengok ke arah Saga, yang entah bagaimana caranya bisa masuk ke dalam Ruang Bersama asramanya. Sudah bukan hal asing lagi bagi penghuni Ravenclaw, tentang keajaiban Saga yang bisa keluar masuk asrama seperti ia keluar masuk ruang bawah tanah Slytherin. Senior sudah maklum, para guru pun begitu. Hanya Seiya--si penjaga sekolah--yang masih penasaran dan ingin sekali menemukan caranya, yang ia yakini berhubungan dengan sihir jahat, untuk kemudian mendetensinya membersihkan kandang Thestral.
"Lalu, ketakutanku pada warna kuning dan oranye?" tanya Kanon.
Saga mengerutkan dahinya sejenak. "Mmmm...bagaimana kalau kusebut, 'fobia terhadap warna kuning dan oranye' saja? Terdengar lebih sederhana," jawabnya sambil memiringkan kepala, dengan ekspresi polos. Kanon membayangkan Aiolos akan langsung menyerang Saga begitu ia melihat ekspresi ini, namun segera mengenyahkan bayangan itu.
Sekitar lima belas menit yang lalu, Saga masuk seenaknya ke asrama dan menarik Kanon yang tengah bergelung di dalam selimut ke Ruang Bersama. Lalu, ia menginterogasinya tentang kenapa ia tidak makan siang, yang dilanjutkan dengan ceramah panjang lebar mengenai menjaga kesehatan. Alasan Kanon tidak mau makan sebenarnya sederhana saja.
"Lagipula, kenapa, 'sih, kamu tiba-tiba jadi takut makan labu?"
Kanon melirik Saga dari sudut matanya. "Bukan takut. Hanya, entahlah. Muak, mungkin? Menjelang Halloween, sepertinya para peri rumah itu punya stok labu yang tidak terhingga, sampai-sampai setiap hari sejak awal Oktober semua makanan yang disediakan berbahan dasar labu. Jus labu, pai labu, sup labu, labu goreng, kue labu, dan salad labu," Kanon menyebutkan makanan-makanan yang disediakan sekolah, lalu mengakhirinya dengan ekspresi mual. "Aku mau muntah," lanjutnya.
Saga mengusap-ngusap kepala sang adik, sebelum berdiri dan berjalan menuju pintu. "Aku ambil beberapa makanan dari dapur, dan kupastikan mereka tidak mengandung labu atau apapun yang berwarna kuning dan oranye. Apa itu termasuk jeruk, wortel, dan pisang?" tanya Saga.
"Kau tahu aku tidak suka wortel, Saga. Kalau jeruk dan pisang, tidak masalah."
"Oke. Sana, tiduran saja di kasur. Sejam lagi aku kembali."
Kanon melambai sebentar, sebelum akhirnya Saga keluar dari asrama Ravenclaw. Ia menghela napas.
Halloween sialan.
Wednesday, 12 September 2012
Years of Youth #1
disclaimer :
Saint Seiya belongs to Masami Kurumada
Harry Potter belongs to J.K. Rowling
.
.
.
"Gryffindor!"
Gaung riuh memenuhi Aula Besar ketika nama satu dari empat asrama disebut. Ribut-ribut ini terdengar paling keras dari satu meja panjang dengan panji merah-emas menggantung di atasnya. Sekumpulan senior langsung menyambut adik kelas mereka yang baru saja resmi menjadi anggota keluarga mereka yang baru.
"Selamat!"
"Hei, sini duduk denganku!"
"Ayo cepat kita mulai pestanya!"
Cengir lebar menghiasi wajah semua penghuni asrama berlambang singa itu. Bergantian, mereka menepuk pundak, mengacak rambut pirang, dan meninju pelan lengan si anak baru. Senyum lebar yang sama pun menggantung di wajah si anak baru. Mata birunya bersinar cerah, menyaingi kilau bintang-bintang di atap sihir aula.
"Yo, Milo!" seru satu anak di tengah meja. Mata hijaunya menatap manik biru Milo dengan kilau yang sama. "Duduk sini! Cepat!" serunya tidak sabar. Milo segera menghampirinya.
"Lia! Kita satu asrama! Yeah! Dan kita akan menjadi duo pemain Quidditch paling populer sepanjang sejarah!" seru Milo kesenangan. Aiolia nyengir lebar dan tergelak.
"Sebelum jadi pemain Quidditch populer, kita harus masuk tim asrama dulu, dan setelah diterima kau akan dilatih seperti Sparta oleh kakakku. Dia bilang tidak ada prioritas untuk kita."
Milo hanya nyengir lebar dan mengambil sepotong daging kalkun. "Prioritas atau tidak, aku akan masuk tim! Sementara itu, ayo pesta!!!" serunya kencang, disambut riuh tepuk tangan berisik dari senior-seniornya yang lain, sambil menggigit daging besar-besar.
"Ya, pesta!" seru Aiolia sambil mengangkat gelas berisi jus labu-nya tinggi-tinggi. Setelah menghabiskan sekali teguk dan mengelap kelebihan jus yang meleber dari sudut bibir dengan lengan jubahnya, ia menyenggol Milo, "menurutmu Camus masuk asrama mana?"
Milo menoleh dan menjawab pertanyaan sahabatnya sejak kecil setelah susah payah menelan, "Kepinginku sih Gryffindor juga. Tapi orang sekaliber dia lebih cocok masuk--
"Ravenclaw!"
Kali ini sorak-sorai terdengar dari meja panjang yang ada di bawah naungan panji berwarna biru tua-perunggu dengan simbol elang. Berjalan dengan senyum paling lebar yang bisa ia lakukan, seorang anak baru berambut merah membara. Ia lalu disambut dengan seorang pemuda bermata hijau muda berperawakan mirip dengannya. Sekali-sekali, anak itu melirik ke meja Gryffindor. Mata coklatnya lalu bertemu dengan mata biru Milo. Milo tersenyum lebar dan mengacungkan dua jempol padanya.
"Ravenclaw? Lebih dari cocok untuknya," kata Aiolia. Milo mengangguk mantap.
Sisa penerimaan siswa baru diisi dengan gumaman dan seruan Sang Topi, diikuti dengan teriakan-siulan-keramaian dari meja asrama yang namanya disebut. Begitu, terus, sampai akhirnya siswa terakhir di tahun ajaran ini disebut masuk ke meja Hufflepuff. Setelahnya, Kepala Sekolah, penyihir berambut pirang dan mata kuning keemasan, Zeus, berdiri dan menenangkan keadaan.
"Tidak ada basa-basi. Selamat datang dan selamat berpesta!"
.
.
.
Saint Seiya belongs to Masami Kurumada
Harry Potter belongs to J.K. Rowling
.
.
.
"Gryffindor!"
Gaung riuh memenuhi Aula Besar ketika nama satu dari empat asrama disebut. Ribut-ribut ini terdengar paling keras dari satu meja panjang dengan panji merah-emas menggantung di atasnya. Sekumpulan senior langsung menyambut adik kelas mereka yang baru saja resmi menjadi anggota keluarga mereka yang baru.
"Selamat!"
"Hei, sini duduk denganku!"
"Ayo cepat kita mulai pestanya!"
Cengir lebar menghiasi wajah semua penghuni asrama berlambang singa itu. Bergantian, mereka menepuk pundak, mengacak rambut pirang, dan meninju pelan lengan si anak baru. Senyum lebar yang sama pun menggantung di wajah si anak baru. Mata birunya bersinar cerah, menyaingi kilau bintang-bintang di atap sihir aula.
"Yo, Milo!" seru satu anak di tengah meja. Mata hijaunya menatap manik biru Milo dengan kilau yang sama. "Duduk sini! Cepat!" serunya tidak sabar. Milo segera menghampirinya.
"Lia! Kita satu asrama! Yeah! Dan kita akan menjadi duo pemain Quidditch paling populer sepanjang sejarah!" seru Milo kesenangan. Aiolia nyengir lebar dan tergelak.
"Sebelum jadi pemain Quidditch populer, kita harus masuk tim asrama dulu, dan setelah diterima kau akan dilatih seperti Sparta oleh kakakku. Dia bilang tidak ada prioritas untuk kita."
Milo hanya nyengir lebar dan mengambil sepotong daging kalkun. "Prioritas atau tidak, aku akan masuk tim! Sementara itu, ayo pesta!!!" serunya kencang, disambut riuh tepuk tangan berisik dari senior-seniornya yang lain, sambil menggigit daging besar-besar.
"Ya, pesta!" seru Aiolia sambil mengangkat gelas berisi jus labu-nya tinggi-tinggi. Setelah menghabiskan sekali teguk dan mengelap kelebihan jus yang meleber dari sudut bibir dengan lengan jubahnya, ia menyenggol Milo, "menurutmu Camus masuk asrama mana?"
Milo menoleh dan menjawab pertanyaan sahabatnya sejak kecil setelah susah payah menelan, "Kepinginku sih Gryffindor juga. Tapi orang sekaliber dia lebih cocok masuk--
"Ravenclaw!"
Kali ini sorak-sorai terdengar dari meja panjang yang ada di bawah naungan panji berwarna biru tua-perunggu dengan simbol elang. Berjalan dengan senyum paling lebar yang bisa ia lakukan, seorang anak baru berambut merah membara. Ia lalu disambut dengan seorang pemuda bermata hijau muda berperawakan mirip dengannya. Sekali-sekali, anak itu melirik ke meja Gryffindor. Mata coklatnya lalu bertemu dengan mata biru Milo. Milo tersenyum lebar dan mengacungkan dua jempol padanya.
"Ravenclaw? Lebih dari cocok untuknya," kata Aiolia. Milo mengangguk mantap.
Sisa penerimaan siswa baru diisi dengan gumaman dan seruan Sang Topi, diikuti dengan teriakan-siulan-keramaian dari meja asrama yang namanya disebut. Begitu, terus, sampai akhirnya siswa terakhir di tahun ajaran ini disebut masuk ke meja Hufflepuff. Setelahnya, Kepala Sekolah, penyihir berambut pirang dan mata kuning keemasan, Zeus, berdiri dan menenangkan keadaan.
"Tidak ada basa-basi. Selamat datang dan selamat berpesta!"
.
.
.
Labels:
Crossover,
Fanfiksi,
Friendship,
Harry Potter,
Komedi,
Multichapter,
Romance,
Saint Seiya,
Years of Youth
Saturday, 11 August 2012
Mask #1
Kota Regalo hari ini damai, seperti biasa. Hiruk-pikuk kehidupan terjadi dengan semestinya tanpa ada gangguan yang berarti. Anak-anak masih heboh berlarian di jalanan, para pedagang masih semangat berjualan meski matahari memanggang, dan sekelompok orang berpakaian hitam masih terlihat berpatroli mengelilingi kota.
Ya, hari yang biasa bagi seluruh penduduk dan Arcana Famiglia.
Hari ini adalah hari patroli biasa bagi serie Cawan, pimpinan Nova--pemilik Arcana ke-13. Pemuda ramping berambut biru tua itu berjalan-jalan keliling kota dengan diiringi oleh bawahannya, seperti biasa. Memperhatikan apakah ada kesulitan pada warganya, mendengarkan percakapan di lorong-lorong gelap, atau sekedar memicingkan mata untuk fokus pada transaksi aneh di balik bayangan gedung. Hari ini pun, Nova bekerja dengan baik dan sempurna untuk menjaga keamanan dan ketertiban kota Regalo.
"Kurasa hari ini cukup," ujar Nova setelah mereka selesai mengelilingi kota, "kalian bisa kembali ke markas dan membuat laporan. Serahkan padaku sebelum makan malam, atau taruh saja di mejaku sebelum itu. Aku berniat melaporkan semuanya pada Kapten setelah makan malam," lanjutnya. Anggukan serempak dari para bawahannya dan satu isyarat tangan darinya cukup untuk membuat ia berdiri sendirian di tengah kota.
Selesai sudah, pekerjaan hari i--
"Hi-yo-ko-ma-me!" seru girang seseorang dari belakangnya, dan tensi darah Nova langsung naik drastis mendengarnya. Ia berbalik dan menemukan pemuda berambut pirang dan bermata hijau sedang tersenyum lebar dan memamerkan giginya sedang melambaikan tangan. Nova langsung mengerutkan dahinya dan memisuh.
"Berhenti memanggilku begitu, Libertà!"
Tawa renyah meluncur dari sela bibir Libertà. "Oh, ayolah, Nova. Jangan marah-marah di tengah kota begini."
"Memangnya siapa yang mulai duluan, hah?!" balas Nova, nada suaranya naik. Libertà hanya membalas dengan tertawa saja. Kelihatan jelas moodnya sedang bagus.
"Ah, sudahlah. Temani aku makan! Hari ini Debito mau mentraktir Lasagna di L'Osteria! Ayo!" serunya sambil menarik Nova keluar dari hiruk-pikuk kota dan menulikan diri dari sumpah-serapah sang La Morte yang menyuruhnya melepaskan tangan atau berhenti menariknya atau sekedar beralasan seperti 'aku banyak kerjaan'.
.
.
.
"Tambah Lasagna-nya!" seru Libertà dengan mulut setengah penuh.
"Oi oi, jangan mentang-mentang aku yang bayar lalu kau seenaknya begitu, Bocah." Debito angkat suara sambil meneguk lemonade.
"Sudahlah, Debito. Jarang-jarang 'kan kau mau mentraktir, orang pelit sepertimu," tukas Luca. Debito menghela napas.
"Ya. Kalau yang perutnya seperti ruang hampa cuma Libertà seorang, aku tidak akan ambil pusing. Tapi--
"Aku juga tambah!" seru Pace.
"--tapi aku bisa bangkrut kalau yang makan mereka berdua!" seru pemimpin serie Koin tersebut sambil menunjuk Libertà dan Pace yang kini sedang menghabiskan porsi Lasagna mereka yang keempat. Luca hanya tergelak dan melanjutkan acara makan siangnya, membiarkan Debito merutuk dan memisuh tentang bagaimana keadaan dompetnya setelah acara makan siang ini selesai.
Ini dan itu, meninggalkan Nova sendirian dengan es krim gelato-nya. Pikirannya berkelana entah ke mana, mungkin ke tumpukan kertas di atas mejanya atau ke percakapan-percakapan dan tindakan-tindakan aneh yang tadi ia temukan di sepanjang patrolinya.
Setelah ini, sebaiknya aku mengecek ulang dermaga dan gang sempit sebelum pasar. Sekilas tentang 'daun' dan pertemuan rahasia ini terdengar an--"WUAH!"
Duo pemimpin serie dan Luca langsung menengok mendengar teriakan Nova, untuk menemukan sang pemimpin dari serie Cawan sedang memegang tengkuknya dan merona. Libertà, yang duduk di sampingnya, tersenyum sangat lebar sambil memegang es batu.
"Mukamu jelek sekali, Hiyokomame, tidak cocok dengan gelato strawberry yang sedang kau makan."
Oh, rasanya ingin Nova menghajar Libertà saat itu juga. "Bukan urusanmu, Bodoh."
"Hei sudah, kalian berdua," Luca geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua rekan sesama Tarocco-nya.
"Si Bodoh ini yang mulai!" sengit Nova, menunjuk Libertà yang masih tertawa-tawa. "Berhenti tertawa, Tukang Topeng!"
--hening. Libertà berhenti tertawa, begitu pula tiga seniornya yang lain. Ekspresi di wajah sang Il Matto langsung mengeras. Ia segera mengambil serbet dan mengelap jari serta mulutnya, lalu berdiri.
"Aku duluan."
.
.
.
Nova menghela napas sangat panjang. Hari ini akan jadi hari yang sangat panjang, sepertinya.
Ya, hari yang biasa bagi seluruh penduduk dan Arcana Famiglia.
Hari ini adalah hari patroli biasa bagi serie Cawan, pimpinan Nova--pemilik Arcana ke-13. Pemuda ramping berambut biru tua itu berjalan-jalan keliling kota dengan diiringi oleh bawahannya, seperti biasa. Memperhatikan apakah ada kesulitan pada warganya, mendengarkan percakapan di lorong-lorong gelap, atau sekedar memicingkan mata untuk fokus pada transaksi aneh di balik bayangan gedung. Hari ini pun, Nova bekerja dengan baik dan sempurna untuk menjaga keamanan dan ketertiban kota Regalo.
"Kurasa hari ini cukup," ujar Nova setelah mereka selesai mengelilingi kota, "kalian bisa kembali ke markas dan membuat laporan. Serahkan padaku sebelum makan malam, atau taruh saja di mejaku sebelum itu. Aku berniat melaporkan semuanya pada Kapten setelah makan malam," lanjutnya. Anggukan serempak dari para bawahannya dan satu isyarat tangan darinya cukup untuk membuat ia berdiri sendirian di tengah kota.
Selesai sudah, pekerjaan hari i--
"Hi-yo-ko-ma-me!" seru girang seseorang dari belakangnya, dan tensi darah Nova langsung naik drastis mendengarnya. Ia berbalik dan menemukan pemuda berambut pirang dan bermata hijau sedang tersenyum lebar dan memamerkan giginya sedang melambaikan tangan. Nova langsung mengerutkan dahinya dan memisuh.
"Berhenti memanggilku begitu, Libertà!"
Tawa renyah meluncur dari sela bibir Libertà. "Oh, ayolah, Nova. Jangan marah-marah di tengah kota begini."
"Memangnya siapa yang mulai duluan, hah?!" balas Nova, nada suaranya naik. Libertà hanya membalas dengan tertawa saja. Kelihatan jelas moodnya sedang bagus.
"Ah, sudahlah. Temani aku makan! Hari ini Debito mau mentraktir Lasagna di L'Osteria! Ayo!" serunya sambil menarik Nova keluar dari hiruk-pikuk kota dan menulikan diri dari sumpah-serapah sang La Morte yang menyuruhnya melepaskan tangan atau berhenti menariknya atau sekedar beralasan seperti 'aku banyak kerjaan'.
.
.
.
"Tambah Lasagna-nya!" seru Libertà dengan mulut setengah penuh.
"Oi oi, jangan mentang-mentang aku yang bayar lalu kau seenaknya begitu, Bocah." Debito angkat suara sambil meneguk lemonade.
"Sudahlah, Debito. Jarang-jarang 'kan kau mau mentraktir, orang pelit sepertimu," tukas Luca. Debito menghela napas.
"Ya. Kalau yang perutnya seperti ruang hampa cuma Libertà seorang, aku tidak akan ambil pusing. Tapi--
"Aku juga tambah!" seru Pace.
"--tapi aku bisa bangkrut kalau yang makan mereka berdua!" seru pemimpin serie Koin tersebut sambil menunjuk Libertà dan Pace yang kini sedang menghabiskan porsi Lasagna mereka yang keempat. Luca hanya tergelak dan melanjutkan acara makan siangnya, membiarkan Debito merutuk dan memisuh tentang bagaimana keadaan dompetnya setelah acara makan siang ini selesai.
Ini dan itu, meninggalkan Nova sendirian dengan es krim gelato-nya. Pikirannya berkelana entah ke mana, mungkin ke tumpukan kertas di atas mejanya atau ke percakapan-percakapan dan tindakan-tindakan aneh yang tadi ia temukan di sepanjang patrolinya.
Setelah ini, sebaiknya aku mengecek ulang dermaga dan gang sempit sebelum pasar. Sekilas tentang 'daun' dan pertemuan rahasia ini terdengar an--"WUAH!"
Duo pemimpin serie dan Luca langsung menengok mendengar teriakan Nova, untuk menemukan sang pemimpin dari serie Cawan sedang memegang tengkuknya dan merona. Libertà, yang duduk di sampingnya, tersenyum sangat lebar sambil memegang es batu.
"Mukamu jelek sekali, Hiyokomame, tidak cocok dengan gelato strawberry yang sedang kau makan."
Oh, rasanya ingin Nova menghajar Libertà saat itu juga. "Bukan urusanmu, Bodoh."
"Hei sudah, kalian berdua," Luca geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua rekan sesama Tarocco-nya.
"Si Bodoh ini yang mulai!" sengit Nova, menunjuk Libertà yang masih tertawa-tawa. "Berhenti tertawa, Tukang Topeng!"
--hening. Libertà berhenti tertawa, begitu pula tiga seniornya yang lain. Ekspresi di wajah sang Il Matto langsung mengeras. Ia segera mengambil serbet dan mengelap jari serta mulutnya, lalu berdiri.
"Aku duluan."
.
.
.
Nova menghela napas sangat panjang. Hari ini akan jadi hari yang sangat panjang, sepertinya.
.
.
.
Arcana Famiglia (c) Hunex (au) & Ruru (ar)
Labels:
Arcana Famiglia,
Fanfiksi,
Friendship,
Multichapter
Subscribe to:
Posts (Atom)