Wednesday, 1 October 2014
Ramblings of Blue
.
.
.
Jika suatu saat, Tuhan membuka undian berhadiah dan satu orang pertama yang sampai di kuil mendapat satu permintaan yang akan dikabulkan saat itu juga, Reishi tidak akan segan membarikade kuil tersebut dan menggunakan semua kekuasaannya agar mendapatkan kesempatan tersebut.
Kesempatan untuk mengembalikan Suoh Mikoto dan Totsuka Tatara kembali ke dunia ini.
.
.
.
Kusanagi Izumo berhenti menggosok gelas dan menatap pemuda di hadapannya. Bunyi es batu yang berdenting ketika bertumbukan dengan kaca mendadak terdengar begitu nyaring. Ia mengerjap beberapa kali sebelum angkat suara.
"Dan Tatara? Kenapa aku mendengar kau mengucapkan kata penghubung itu dengan kebencian yang amat-sangat?"
Reishi menaruh gelasnya di atas counter. "Karena Suoh dan Totsuka merupakan satu paket yang tidak dijual terpisah."
Izumo mendengus. "Tidak dijual terpisah, eh? Lalu, ada apa kau tiba-tiba bicara seperti ini?"
Reishi mengangkat bahu. "Tidak ada apa-apa. Berkhayal sesekali tidak apa-apa, 'kan?" ujarnya sebelum menenggak sisa minumannya sekali teguk. Ketika cairan beralkohol tersebut mengalir, ia merasakan dadanya terbakar.
Ia merasakan, hatinya dibakar.
.
.
.
"Ahahahaha. Munakata-san sangat benci padaku ya, King?"
Si surai merah mendengus. "Tanyakan saja padanya. Jangan padaku."
Sunday, 10 August 2014
Foolish Wish
Sunday, 29 June 2014
Goodbye
Disclaimer :
K (c) GoRa & GoHands
.
.
.
Hari itu, tiga minggu setelah kematian Totsuka Tatara, dunia Suoh Mikoto runtuh seutuhnya.
Ketika Pedang Damoscles nya mulai jatuh dalam gemuruh, ia terlalu larut dalam perih harapan bahwa dirinya akan bebas di pelukan maut. Ia terlalu percaya bahwa Reishi akan menjalankan tugasnya sebagai Raja Biru dan mengirimnya ke alam sana dalam satu gerak cepat.
Ia lupa, bahwa sedingin apapun sang Raja Biru, satu potongan besar hatinya terisi oleh sosoknya. Sosok Suoh Mikoto.
Dan Reishi, tidak sekuat itu untuk dapat hidup tanpa Suoh Mikoto di dalamnya.
.
.
.
Yang ia lihat di hadapannya sosok pemuda yang terbaring dengan merah menggenang di sekelilingnya.
Semuanya terlalu cepat bagi Mikoto. Yang ia bisa tangkap, adalah bahwa Reishi melakukan sesuatu yang membuat Weissman level-nya kembali normal.
Dan Pedang Damoscles Reishi pecah jadi serpih.
"Su...oh."
Mikoto berlutut di samping Reishi. Matanya panas entah oleh apa. Ia menggenggam tangan Reishi yang terjulur ke arahnya. Dingin. Mikoto membakar aura merahnya untuk menghilangkan sensasi dingin tersebut, namun nihil.
Reishi semakin dingin, semakin pucat.
"Su...oh.... Maaf... aku tidak bisa membunuhmu."
"Apa maumu, Munakata?"
"Aku... tidak sekuat itu... Suoh." Reishi mengatur napasnya. Ia menekan bagian tubuhnya yang mengeluarkan darah. "Scepter 4 akan baik-baik saja tanpaku. Tapi HOMRA akan gila tanpamu. Dan aku...."
"Kau apa?"
"Aku... tidak...."
Aku tidak mau membunuhmu. Aku tidak bisa kehilanganmu.
"Dan kau pikir, yang kau lakukan ini tidak akan memberikan efek apapun padaku?"
Reishi mengerjap sesaat, lalu tersenyum tipis. Napasnya makin berat, matanya semakin mengantuk.
"Maaf.... Mikoto. Sampai... jumpa."
Friday, 27 June 2014
Bet
Wednesday, 25 June 2014
Kepiting sinting paling garing
(c) Masami Kurumada
.
.
.
"Aku tahu, kenapa kau menolakku."
Aphrodite mengerutkan dahinya. "Maksudmu?"
Deathmask--Angelo menganggukkan kepalanya. "Ya. Karena kau merasa penuh dengan eksistensiku. Kan?"
"Err.... Angelo? Aku sungguh tidak mengerti. Aku menolakmu karena aku tidak bisa menganggapmu lebih dari teman, dan jelas tidak akan pernah lebih dari apa yang kurasakan pada Shura. Dan mungkin kau ketinggalan gosip karena Milo masih meracau soal suaranya yang kurang macho, tapi kau tahu 'kan kalau aku dan Shura...."
"Kalau kami sudah jadi pasangan." Shura melanjutkan. Tangan kanannya memegang erat tangan kiri Aphrodite, yang juga balas menggenggamnya. Mereka sedikit mencuri pandang penuh makna, sebelum tawa Deathmask mengembalikan mereka ke dunia nyata.
"Myoahahahaha. Aku tahu kalian pacaran. Tapi, Shura, tidak tahukah kau kalau semua ini hanya pelarian saja? Bahwa Aphrodite melarikan diri dari suatu rasa yang ia miliki padaku?"
Aphrodite mengerjap tidak percaya. "Ap--apa maksudmu.... Shura, kau tahu kepiting gila ini memang benar-benar tidak waras, 'kan? Jangan percaya apapun yang dia katakan!"
"Apa maksudmu, Deathmask?" ada nada suara yang mengancam dari sang Saint Capricorn. Cosmo-nya mendadak terbakar, meluap-luap meliputi dirinya dan terkumpul di lengan kanannya.
Siap membelah dua kepiting garing di hadapannya.
"Karena.... Di dadamu, ada kumisku, kan? Makanya kau menolakku dan malah pacaran dengan Shura? Karena aku sudah ada dalam hatimu sejak lama, 'kan? Dan Shura adalah pengalih dirimu yang begitu rindu padaku, 'kan???"
.
.
.
"LIA!PINJAMKAN LISTRIKMU! BIAR KUSETRUM SI KEPITING SINTING INI BIAR MATI BETULAN!!!"
Sunday, 22 June 2014
Jigsaw Puzzle
Sunday, 4 May 2014
Premonition
.
.
.
"What if, by any chance, I kill you?"
Sengaja atau tidak.
Mikoto menatap Munakata dengan wajah datarnya. Tak lama, ia tersenyum tipis dan mendengus.
"Hng."
"Jawab aku, Mikoto."
Mikoto menghisap rokoknya. Senyum tidak lepas dari wajah. Ia lalu menatap Munakata dengan mata yang berkilat kesenangan.
"Aku akan menantikan saat-saat itu, Munakata."
.
.
.
Saturday, 26 April 2014
High Temp
.
.
.
Alternate Timeline.
.
.
.
Fushimi Saruhiko tidak suka bangun pagi.
Pada dasarnya ia memang bukan manusia yang bisa terbit bersamaan dengan matahari. Ia juga bukan makhluk yang bisa melayap semalam suntuk demi patroli. Pada dasarnya, ia tidak menyukai hal-hal yang membuatnya harus mengeluarkan tenaga lebih.
"WUAAAH!!!"
Kecuali, jika semua agenda menyusahkan itu berhubungan dengan seorang cebol bawel yang sedang melakukan usaha-usaha tidak penting untuk meledakkan dapurnya.
.
"Kau 'kan sedang sakit!"
"Dan kau malah membuatku semakin sakit."
"Aku berusaha membantumu! Aku sudah minta Kusanagi-san untuk mengajariku membuat bubur. Aku sedang buat bubur!"
Misaki menunjuk panci berisi substansi aneh seperti beras dengan air yang terlalu sedikit di atas kompor, membuat Saruhiko memijat kepalanya.
"Kau mau membuat bubur atau racun? Berniat membunuhku, begitu?"
"Aku mau membantumu, bakasaru!"
"Jangan teriak-teriak begitu, kepalaku sakit."
"...."
Canggung menggantung.
Sejak kembalinya Saruhiko dari misi di salah satu kepulauan terpencil di Jepang--terima kasih pada sang Kapten yang tidak mau pergi dari kota Shizume dengan sejuta alasan dan sang Letnan yang juga tidak bisa melakukan tugasnya karena kehabisan pasta kacang merah--kepalanya pusing dan suhu tubuhnya naik. Singkat kata, ia terinfeksi virus entah apa dan jatuh sakit. Dan, terima kasih juga kepada sang Letnan yang ternyata senang bergosip di satu bar tertentu, kabar tentang dirinya sampai pada telinga seorang berkupluk buluk yang suka bereaksi berlebihan.
Saruhiko menghela napas. "Jangan sentuh apapun lagi di dapurku. Pulang. Sekarang."
.
.
.
Saruhiko bangun keesokan harinya dan melihat ada matahari bersinar di dalam kamarnya.
....
Sepertinya minus matanya naik. Ia melihat sesuatu berwarna merah di sisi tempat tidurnya, memantulkan cahaya matahari yang menyusup lewat celah tirai.
...baiklah.
Ia sedang memperhatikan kepala Misaki yang sedang tertidur dengan posisi duduk dan hanya kepalanya yang menempel di kasur Saruhiko. Satu tangannya menggenggam handuk kecil yang lembab.
Saruhiko menghela napas.
"Oi."
"Mmm?"
"Misaki. Bangun." Saruhiko mengetuk lembut puncak kepala Misaki dengan ujung jarinya.
"Mmm... Saru? Selamat pagi."
"Hng."
"Bagaimana? Sudah lebih baik?"
"...kemarin kusuruh kau pulang. Kenapa masih di sini?"
"Memang tidak boleh?"
"Buk--
"Memang tidak boleh kalau aku khawatir padamu barang sedikit saja?"
.
.
.
"...kau tahu, Misaki? Entah harus apa yang kulakukan untuk membuatmu tetap jauh dariku."
.
.
.
"Eh? Kau bilang apa?"
"Tidak. Kalau kau sebegitu inginnya direpotkan olehku. Sini. Jadi bantalku. Kau tidak mungkin protes pada orang sakit 'kan, Mi-sa-ki~?"
Saturday, 15 March 2014
And So, It Begins
Wednesday, 26 February 2014
Wolf's Tale
"...."
Holy shi--
"Oi. Kenapa lu?"
Luca mengerjapkan mata, mengaktifkan sistem pertahanannya.
"Kaget. Ngga ada angin, ngga ada ujan, ketemu lo di sini."
"Hahaha. Justru gue yang kaget. Lo sendiri?"
"Kagak. Sama anak-anak tapi udah bubar. Gue parkirnya jauh sendiri, tadi telat datang soalnya, hahaha."
"Oh. Gue kira sama trio itu. Hahaha."
"Yaelah, Dra. Temen gue ga cuma mereka kali."
"Oiya? Gue kira lo orangnya soliter. Lone wolf. Eh. Salah. Justru lo orangnya ngga bisa ditinggal sendiri ya?"
Luca tergelak. "Serigala kesepian? Ampun deh, Dra. Gue orangnya ekstrovert, ngomong kasar, pecicilan kali. Lo aja yang ngga kenal gue, hahaha."
"Oya? Padahal udah kenal lama ya. Tapi gue ga percaya orang kayak lu pecicilan"
"He eh. Ampir 2 taunan ya? Ah, udah gue bilang, lo ga kenal gue. Hahaha."
"Iya kali ya. Eh, minta nomer lo yang baru dong. HP gue rusak kemarin. Nomer-nomernya ilang semua."
Ck.
"Oh. Oke. Nomer gue masih yang lama kok."
"Hahaha. Kan ilang."
"Iye-iye. Eh, gue duluan ya. Udah jam segini, gue mesti balik. Daaah."
.
.
.
2 missed call.
.
.
.
1 missed call.
.
.
.
1 missed call.
.
.
.
Gyaaa sorry banget gue tepar paraah kemaren dan ini lagi kuliah ampuuun.
Sama, Ca. Gue juga tepar hahaha. Nanti telpon gue aja kalo lagi kosong.
.
.
.
"Fumi. Gue. Mesti. Gimana."
Fumio mengangkat bahu. "Terserah lo, Luke."
"...Am I playing with fire?"
"Tergantung."
"Apa?"
"Lo main hati ngga."
"I'm playing safe. You know."
"Hahaha. Gue cuma ngingetin aja, Luke."
Luca menghela napas panjang, bersandar di dinding kayu, dan menyambar teh susunya. Kesal.
.
.
.
I' wasn't a lone wolf. I AM one of a pack. That's the reason I managed to survive this far. Moron.
Sunday, 19 January 2014
SIblings
.
.
.
Faux hilang kata-kata.
Ia tahu kalau kedua kakaknya, well, menyimpang terlalu jauh untuk kembali ke jalan yang benar. Ia tahu itu, dan pada akhirnya mengerti dan memahami dan menerima. Kalau sudah begitu jalannya ya mau bagaimana lagi. Yang penting mereka berdua bahagia.
Mengingat drama mereka berdua di masa remaja masing-masing.
Ah, mengingatnya saja Faux sudah sakit kepala.
Ketika Leon pulang mengajak seorang pemuda berkelakuan bocah ke rumah dengan dalih 'seorang teman yang bertemu di kedai dimsum', sebenarnya Faux sudah curiga. Kakaknya yang seenaknya dan agak nyeleneh itu membawa seseorang yang sama-sama ngawur.... Ia sudah merasa ada yang salah tapi ia memutuskan untuk diam saja.
Lalu, ketika Freyr--kembaran Leon--memutuskan untuk keluar dari rumah dan tinggal di apartemen. Setelah drama tanpa akhir antara Freyr-Leon-dan sang ayah, akhirnya Freyr keluar dari rumah, disusul Leon yang menyatakan 'aku tidak bisa mengurus kalian semua kalau tidak ada Freyr'. Saat itu, Faux sudah curiga.
Sangat curiga.
Karena, beberapa kali ia datang ke apartemen kedua kakaknya itu, ia menemukan beberapa hal yang mengganjal.
Ada dua cangkir, dua piring, dua mangkuk, dua handuk, dua bantal, dua selimut, dua sikat gigi, dan beberapa pasang pakaian yang bukan milik kakaknya.
Dan terkadang menemukan si pemuda berkelakuan bocah--yang ternyata adalah seorang dokter dan seorang pemuda tinggi bertampang judes kebetulan menginap di apartemen mereka.
....
Faux pasrah saja. Melawan Freyr cerita lain, tapi melawan Leon? Faux masih sayang nyawa. Tidak, terima kasih.
Ia memutuskan untuk diam dan menerima dan berbahagia.
Tapi, seandainya ia tahu kalau kakaknya tidak akan bahagia dengan pilihan mereka?
Oh, ingin rasanya ia meninju wajah pria berwajah sangar itu.
.
.
.
BUAK!!!
Shinji tersungkur ke belakang, ujung mulutnya berdarah, pipinya lebam. Matanya menatap tajam si pelaku kekerasan.
"Faux!" Gancanagh berseru di telinga sang kakak, kedua tangannya mencegah ayah satu anak itu menyarangkan satu lagi tinjunya ke wajah Shinji.
"Lepas! Kamu tau sendiri bedebah ini ngapain Freyr sampe dia kayak begitu?!"
"Aku tau! Semua tau! Tapi bahkan Leon sama ayah pun nggak punya hak. Cuma Freyr yang berhak!"
"Tch!"
Faux berderap kesal, melangkah besar-besar menuju kamarnya dan membanting pintu ketika ia sudah ada di dalam. Gancanagh mengerenyit sedikit dan menatap Shinji yang masih terduduk. Ia menghela napas dan mengulurkan tangan pada Shinji.
"Kau tidak mau meninjuku juga?"
"Oh. Jangan salah. Kalau bisa, sudah kutenggelamkan kau di Teluk Tokyo. Tapi, itu hanya akan membuat Freyr semakin sedih." Gancanagh menjelaskan dengan nada monoton khas-nya.
Shin mendengus dan menyambut uluran tangan Gancanagh.
"Freyr ada di kamarnya. Dan sebaiknya selesaikan semuanya sebelum ayah datang. Hanya Tuhan yang tahu akan jadi apa kau kalau sampai kalian bertemu."
"Oke. Thanks, Gacchi."
"Gancanagh untukmu, Shinji."
"Oke. Gancanagh-cchi."