Showing posts with label Years of Youth. Show all posts
Showing posts with label Years of Youth. Show all posts

Monday, 14 January 2013

Holyday

Desember. Di hari raya umat kristiani, beberapa siswa diizinkan pulang ke rumahnya masing-masing. Semua bergegas, mengepak barang dan menyisakan banyak ruang kosong di koper besar mereka sebagai tempat oleh-oleh. Semuanya, tidak terkecuali Milo. Di dalam tas besarnya, ia hanya memasukkan beberapa helai baju kotor dan sebuah buku Transfigurasi. Milo bukan anak yang rajin--apalagi ambisius. Melihat tas teman seasramanya yang dipenuhi oleh sebuah buku besar, Aiolia menaikkan satu alisnya.

"Aku tidak tahu kalau kau ternyata setipe dengan Aphrodite dari Ravenclaw. Freak belajar."

Milo menoleh cepat dan menatapnya tajam. "Enak saja! Kalau bukan karena Sir Thanatos tidak puas dengan aku mentransfigurasi teko jadi siput..." gumamnya lirih, tidak jelas, memisuh-misuh. 

Aiolia tergelak. "Habisnya! Kita 'kan disuruh mengubah teko jadi tikus."

"Aku kepinginnya merubah teko jadi siput, Li!" bantah Milo, tidak mau kalah. "Lagian, kamu nyamain aku  sama si bencong komentator dari kelas dua itu? Tersinggung nih," lanjut Milo sambil memaju-majukan bibirnya. Melihat tingkah laku sobatnya, Aiolia hanya tertawa guling-guling di atas kasur.

"Hahaha, habis sikap kalian sama! Sama-sama bocah! Untung kamu ngga ketularan bencong!" serunya kencang sebelum berlari keluar dari kamar, menghindari lemparan asbak dan rentetan sumpah-serapah serta Mantra Geli yang dilancarkan oleh Milo.

.
.
.

London, Inggris.

Salju turun besar-besar, menumpuk-numpuk di setiap jejak tanah. Putih menutupi atap, jalanan, kotak telepon umum, ranting pohon, dan lampu jalan. Orang-orang berjalan dengan jaket tebal menutupi tubuh dari leher sampai bawah lutut. Sepatu bot bulu serta sweater tebal jadi salah satu most-wanted-item paling trendi di kota ini. Begitu pun Milo. Setelah berjam-jam perjalanan menggunakan kereta, disambut oleh udara yang menggigit tulang seperti ini jelas tidak jadi salah satu opsi yang menyenangkan. Ayahnya tidak bisa datang menjemput karena terjebak urusan di Kementerian Sihir, begitu pula ibunya yang sibuk menjaga rumah dan adiknya. Terpaksa, Milo harus memakai transportasi umum. Ia lalu menyeret kopernya keluar dari Stasiun King's Cross sambil menggerutu tidak jelas di balik syal tebalnya.

"Kakak!" 

Milo menoleh ke kanan-kiri, bingung dengan suara familiar yang memanggilnya. Angkat bahu sejenak, ia lalu melanjutkan perjalanan mencari taksi di tengah udara membekukan ini ketika langkahnya tertahan oleh tarikan kecil pada jaketnya. Ia berbalik ke belakang dan melihat pelaku kejahatan yang menahannya di sana. Seorang bocah perempuan berkulit coklat matahari dengan jaket ungu pastel dan hidung memerah kedinginan sedang tersenyum lebar.

"Kak Milo! Selamat datang!"

"Sonia?!" seru Milo, kaget bukan main. "Apa yang kau lakukan di sini? Sendirian? Mana ibu?" todongnya. Sonia mengacuhkan pertanyaan-pertanyaan Milo dan malah melingkarkan tangannya di kaki pemuda berambut pirang itu.

"Gendong! Kak Milo gendoooooong!" rengeknya sambil menarik-narik celana panjang Milo, membuat pemuda itu lalu merengkuh sang bocah di kedua tangannya, "kangeeeeen," lanjut Sonia seraya mengalungkan tangannya di leher sang kakak, mengubur wajahnya di kerah bulu jaketnya. Milo masih sedikit kaget dengan kejadian ini ketika matanya menangkap sosok sang ibu yang berjalan dengan santai menuju ke arahnya. Rambut pirang sang ibu kontras dan menyilaukan di tengah-tengah kerumunan.

"Halo, Milo. Selamat datang," ujarnya sambil menepuk-nepuk kepala Milo, membersihkannya dari salju. Milo hanya nyengir lebar.

"Kukira Ibu sibuk?"

"Memang, tadinya. Tapi Sonia merengek-rengek terus ingin menjemputmu dan mencari kue natal, jadi apa boleh buat," jawab sang ibu, seadanya. Namun, Milo tahu kalau ibunya itu memang punya niat untuk menjemputnya. Sonia hanya dijadikan salah satu alasannya saja. 

"Yayaya, apapun. Sonia, mau kue natal apa?" tanya Milo pada adiknya yang masih betah berada dalam pangkuan tangannya. Sonia lalu mengerutkan dahi, berpikir sangat keras. Milo hampir ingin tertawa melihat keseriusan raut wajah adiknya ini.

"Mmmm, jeruk! Sonia mau jeruk!" seru bocah itu, mengacungkan kedua tangannya ke atas dan menggoyang-goyangkan kakinya.

"Jeruk?" tanya sang ibu. "Aku tahu cake coklat-jeruk yang enak. Lagipula ayahmu sudah merengek-rengek tentang gilirannya memilih kue natal. Sudah tua juga, masih saja bertingkah seperti itu. Dasar," lanjutnya seraya pergi sambil menarik koper Milo. Milo lalu mengikuti sang ibu menuju tempat parkir mobil, menuju libur sementaranya dari dunia sihir-menyihir.


Friday, 11 January 2013

Halloween Treat #4

"Diffindo!"

DUAR! Satu kotak kayu sebesar manusia di tepi arena pecah jadi keping tajam besar.

"Incendio!"

DUAR! Kini giliran kotak kayu besar di sisi satunya yang meledak. Bunga apinya melompat-lompat membakar jubah hitam yang tidak terlindung.

"Impedimenta!"

Mantra ini memantul ketika sasaran berhasil mengelak, membuat kilau sinar putih itu menghantam barrier yang dengan sigap dipasang oleh seorang murid bermata hijau dengan kacamata berbingkai biru tua.

"Engorg--

"Langlock!"

Kilat merah meluncur keluar dari tongkat sihir Kardia, menerjang Rhadamanthys tanpa ampun, melempar pemuda berambut pirang itu ke belakang, membuatnya menabrak dinding. "Hmffhpfhfhff! Hnhfhggngff!!!" seru Slytherin muda itu tidak jelas, meraba-raba mulutnya dengan histeris dan panik.Di hadapannya, Kardia nyengir lebar kesenangan. Siapa sangka, mantra hasil curi dengarnya dari perbincangan Hades dengan Poseidon memiliki efek sebegini dramatisnya.

"Aku menang. Lagi. Untuk yang kesembilan kalinya, Rhadamanthys. Hahahah--Duh!"

"Kubilang apa tentang larangan memakai mantra-mantra ajaib hasil menguping pembicaraan orang tua?!" sembur Hermes setelah menyodok kepala Kardia dengan tongkat sihirnya. Bertengger di pundaknya dengan patuh, phoenix merah kesayangannya--Cadies, melayangkan pandangan merendahkan pada sang Gryffindor muda. Kardia mendelik keji pada burung merah itu sebelum nyengir semakin lebar.

"Habis aku penasaran dengan obrolan Sir Ares tentang hubungan antara Sir Hades dan Sir Poseidon."

Hermes menggelengkan kepalanya. Rambut coklat mudanya bergoyang-goyang. Sudah sejak awal masuk, kelakuan muridnya yang satu ini tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan menuju kebaikan dan malah makin menjadi. Apalagi setelah hubungan cintanya kembali lagi seperti semula--dan mungkin lebih menyenangkan mengingat betapa banyaknya curahan hati yang diterima olehnya dari anak-anak asrama Gryffindor yang merasa panas jika dua orang itu sudah mulai bermesraan di tempat umum.

"Tapi itu tidak jadi alasanmu mengerjai Rhadamanthys seperti ini, Kardia," ujar Hermes--yang terjebak di antara lemparan mantra murid-murid ganas ini karena Ares sedang keasyikan menggembala sekelompok Hippogriff. "Finite," lanjutnya sambil mengarahkan tongkat pada Rhadamanthys, melepaskan lidah pemuda itu dari langit-langit mulutnya.

"Brengsek! Kardia! Mati kau!!!" berang Rhadamanthys. Ia berdiri lalu berlari menerjang Kardia yang sedang tidak waspada, membuatnya menghantam tanah sebelum melayangkan tinju ke wajah pemuda bermata biru itu. Mendapat serangan seperti itu, Kardia menarik kerah kemeja Rhadamanthys untuk membuatnya hilang keseimbangan. Lalu, dengan salah satu kakinya, ia menendang Rhadamanthys di perut, membuatnya melayang salto di udara dan mendarat keras di punggung. Baru saja Rhadamanthys memfokuskan pandangannya, ia melihat kelebat pirang di depan mata dengan tongkat berada di depan kedua matanya. Kardia berdiri di atasnya dengan kilat mata berbahaya.

"Pilih. Kutukan Tak Termaafkan atau kuubah kau jadi orang paling idiot sepanjang masa. Oh, kau memang sudah idiot. Kalau begitu, Imper--

"Cukup!!!" gelegar Hermes, "cukup! Kardia, sudah kukatakan berapa juta kali tentang sumbu emosimu yang terlalu pendek, dan Rhadamanthys, kau bahkan bukan anggota Klub Duel, apa sebenarnya urusanmu datang kemari?!" amuk guru yang tinggal di halaman belakang sekolah dengan seekor singa jantan berbulu keperakan.

"Mengajakku berduel, eh?" jawab Kardia yang kini berjalan menuju Regulus di tepi arena. "Mimpi saja kau bisa menang dariku, pecundang."

Rhadamanthys mendudukkan dirinya dan meludah keras sebelum angkat diri dari arena klub, meninggalkan Hermes yang mencak-mencak sendirian tentang aturan dan anak muda zaman sekarang. Cadies sendiri tidak lagi bertengger di pundaknya. Burung merah itu sedang melayang rendah di atas para siswa, memercikkan bunga api yang menyembuhkan beberapa luka dan memar hasil pertarungan. Kardia memandangi phoenix itu dan mengikuti setiap gerakannya dengan cermat.

"Kardia?" tanya Degel, sedikit menarik pelan kemeja putihnya yang sudah kotor oleh bercak darah dan debu serta abu. Kardia lalu menoleh ke arah kekasihnya itu dan tersenyum lebar.

"Lapar. Temani aku makan ayam kalkun di dapur, yuk!"

.
.
.

"Brengsek!"

Minos berhenti dari aktivitas memainkan boneka plushie replika Albafica hasil buatannya sendiri dan mendongak ke balik sofa untuk melihat Rhadamanthys menonjok jendela tebal yang memisahkan ruangan asrama dengan air danau.

"Hei, Rade, berhenti menonjok jendela kalau kau tidak mau kita tenggelam dan jadi makanan cumi-cumi," ujarnya malas dan datar.

"Sudahlah, Minos, tidak ada gunanya memberitahu orang gila yang barusan patah hati untuk yang keseribu kalinya itu," timpal Aiacos yang sedang main kartu dengan Aspros di salah satu sofa hijau. "Aku menang, Aspros."

Minos mengembalikan pandangannya ke arah Rhadamanthys yang sedang memandang galak Aiacos sebelum berlari dengan menghentak menuju pintu keluar Ruang Bersama. "Oi, mau ke mana?" tanya Minos, yang tidak digubris sedikit pun oleh Rhadamanthys yang keburu menghilang di balik dinding bata lembab. Pandangan prefek Slytherin itu beralih pada Aiacos.

"Dapur, kurasa. Kalau sedang marah-marah begitu ia selalu ke dapur. Taruhan lima galleon dia yang menghabiskan persediaan permen jeli kita selama setahun."

Thursday, 1 November 2012

Years of Youth #15

Kardia,

Aku tak berani membaca hatimu. Bukan, bukan karena aku tidak bisa, lebih karena aku tidak mau.

Aku takut. Takut. Takut berekspektasi, takut melukai hati sendiri. Takut.

Begitu pun ketika aku memutuskan untuk berhenti bersamamu. Aku takut, Kardia. Takut. Takut pada akhirnya aku jadi tidak mampu kehilanganmu, tidak bisa berjalan di sampingmu.

Takut tidak lagi kau cintai.

Impulsif, ya. Kekanakan, ya. Tidak berpikir panjang, ya. Orang-orang boleh bilang aku adalah kebalikan dari apa yang kusebutkan, namun di depanmu itulah aku.

Dan, mendengar apa yang kau katakan, menerima perlakuanmu, dan pada akhirnya mengerti semuanya, sungguh....

Aku cinta padamu, Kardia. Sekarang dan mungkin selamanya.

Degel
.
.
.

Hari itu, Milo memilih tidur di Aula Besar saja, sampai akhirnya Apollo mengajak pemuda malang itu ke bangsal rumah sakit dan menyuruhnya tidur di sana. Malam itu, Ruang Bersama Gryffindor dipenuhi oleh sumpah-serapah, menyumpahi seorang bermata biru yang tertawa-tawa, melompat-lompat, dan menari-nari kegirangan sepanjang malam hanya karena sepucuk surat yang dititipkan untuknya lewat Milo.

Wednesday, 31 October 2012

Halloween Treat #3

Kanon terjaga karena keributan heboh di Ruang Bersama yang terdengar sampai ke kamarnya. Kepalanya sedikit pusing, mungkin efek dari perutnya yang kosong dan bangun tiba-tiba karena suara keras. Melenguh sedikit, ia lalu berguling dan bangkit dari tidurnya dengan badan terbelit selimut. Setelah menggeram kesal dan berusaha melepaskan diri dari jeratan selimut biru, ia lalu berdiri dan berjalan menuju Ruang Bersama. Degel menitipkan asrama padanya kalau-kalau terjadi keributan saat dia sedang tidak di tempat atau dia sedang kewalahan karena banyak kerjaan, dan akhir-akhir ini Degel sering pulang dengan muka kusut disertai uring-uringan tidak jelas, memisuh tentang sikap seseorang yang, katanya, bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya sembari marah-marah pada Camus. Kanon hanya angkat bahu dan memutuskan tidak ambil pusing--dan tidak mau dipusingkan--dengan apapun yang sedang dialami Degel.

Separo menyeret kakinya, Kanon menggunakan seluruh tenaga yang tersisa untuk sampai di Ruang Bersama. Dari suara cempreng yang kini ia dengar, Kanon mengambil kesimpulan bahwa Aphrodite dari kelas dua kini sedang ribut dengan entah siapa pun yang kurang beruntung mendengar omelan berisiknya. Gumam-gumam samar semakin jelas ketika ia mencapai pintu Ruang Bersama. Sesampainya di Ruang Bersama, Kanon menghela napas sebelum melangkah masuk dan menjaga wibawanya sebagai wakil dari Degel.

Dan di sana, di tengah Ruang Bersama, ada rambut pirang dengan manik hijau yang menjulang tinggi di antara keramaian, tengah menunduk menghadap Aphrodite dan mata biru muda pucatnya yang sedang marah-marah berisik. Seolah menyadari kehadiran Kanon, si pemilik mata hijau itu lalu menengok dan menatapnya. Wajah dengan rahang yang tegas dan ekspresi datar, namun Kanon bisa melihat manik matanya berkilat kelebihan energi.

Hampir saja ia menyebut nama Milo atau Kardia--karena mereka berdua juga sama-sama kelebihan energi--sampai Aphrodite menarik tangannya dan menyadarkannya tentang ketidakmungkinan dua Gryffindor dengan tingkat telat mikir di atas sejuta itu mampu menjawab teka-teki yang diucapkan penjaga pintu asrama Ravenclaw.

"Kanon! Dengar tidak?!" serunya. Kanon mengerjap.

"A--apa? Sori, aku tidak dengar, Dite."

"Rhadamanthys! Dia seenaknya masuk ke asrama kita! Katanya kau yang mengizinkan?!" tuntut Aphrodite.

"Aku? Aku tidak--

"Saga memintaku mengantar ini padamu," potong Rhadamanthys sambil mengulurkan sekeranjang apel merah, puding melon, seteko susu, roti, selai coklat, dan jeruk.

Aphrodite dan Kanon berpandangan sejenak, bingung. "Lalu, Saga mana?" tanya Kanon sembari menerima keranjang makanan titipan kakaknya.

"Aiolos."

Ini lagi, batin Kanon. Entah mengapa, hidupnya selalu dikeliling oleh orang-orang yang overdosis cinta. Kardia pada Degel, Minos pada Albafica, Saga pada Aiolos, bahkan kemarin ia sempat memergoki Hades dan Zeus sedang saling sandar di balkon ruang kepala sekolah. Gila. Sebegitu dibutakannya oleh cinta.

"Oke, terima kasih kalau begitu," gumam Kanon. "dan kalian, ngapain kalian masih di sini?" lanjutnya, mengarahkan pandangan pada massa asrama yang masih memandang Rhadamanthys seolah pemuda itu adalah alien.

"Pertanyaanku, Kanon!" seru Aphrodite. "kenapa orang sialan yang menjatuhkan Kardia dari sapu ini bisa masuk ke dalam asrama kita?!"

"Karena Saga yang memintanya kemari, berarti Saga memberitahunya cara masuk ke dalam asrama, dan jangan berteriak begitu kalau kau belum merubah suaramu jadi sepuluh desibel lebih rendah daripada suara cemprengmu! Bubar semuanya! Bubar!!!" amuk Kanon, dan dalam sekejap massa asrama--yang memang didominasi oleh kelas satu dan kelas dua--menghilang dari hadapannya, menyisakan dirinya dan Rhadamanthys.

"Dan, Rhadamanthys, kumohon kau tidak memberitahu cara masuk ke asrama kami pada siapapun."

"Kalau Minos?"

"Terutama siswa Slytherin. Meski aku tahu kalau Minos tahu, tapi selama dia masih bersama Albafica, seharusnya kelakuan orang itu masih bisa dikontrol."

"Bayarannya apa?"

Kanon mengedip. "Bayaran?"

"Ya. Saga janji mau mengerjakan tugas transfigurasiku. Kau? Apa bayaranmu untuk aku tidak memberitahu orang lain?"

Kanon membatu sebentar, sebelum mengambil tiga buah apel dari keranjang makanannya dan mengulurkannya pada Rhadamanthys. "Ini. Lumayan, untuk cemilan, dan untuk mengisi kekosongan hatimu yang tidak-akan-pernah-bisa mendapatkan Kardia."

Halloween Treat #2

Rhadamanthys kesal luar biasa hari ini. Bukan kesal karena Kardia menghajarnya dengan Bludger pada pertandingan latihan, bukan juga karena Minos menghabiskan persediaan cokelat kodoknya dengan alasan 'barang adik ya barang kakaknya'. Bukan.

Ia kesal, karena, tidak ada angin tidak ada hujan, Degel muncul di depannya, lalu meminta dia untuk berhenti mengejarnya lagi, karena ia akhirnya menyadari bahwa Kardia adalah segalanya. Degel muncul di hadapannya dan hampir separuh Slytherin kelas lima, setelah pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, di depan Sir Hades--kepala asrama Slytherin. Degel memintanya untuk berhenti mengejarnya, di hadapan seluruh teman-teman sekelasnya.

Rasanya, saat itu juga, ia ingin mengutuk Degel dengan kutukan Imperius lalu memerintahkannya tenggelam di danau, atau kabur selama-lamanya ke gubuk reyot di tepi Hutan Terlarang.

Karena, demi Jenggot Merlin! Demi Naga Hungaria atau Naga Biru Wales! Demi semua makhluk gaib dan mantra terlarang, Rhadamanthys tidak jatuh cinta pada Degel. Tidak!

"Sudah kubilang, tingkat kecerdasan Kardia itu hanya selevel anak monyet," gumam Aiacos. "semua perhatianmu padanya malah ia interpretasikan sebagai caramu merebut Degel darinya. Dasar idiot, atau memang semua Gryffindor seidiot itu?" lanjutnya.

"Diam, Aiacos!" geram Rhadamanthys, berbahaya. Aiacos mengangkat bahunya dan kembali mengerjakan tugas, meninggalkan Rhadamanthys yang uring-uringan dekat jendela. Cumi-cumi raksasa yang tidak sengaja lewat di dekat jendela lau menempelkan tentakelnya ke sana, menutupi pemandangan yang sedang dilihat Rhadamanthys dan menggantinya dengan substansi kenyal berwarna putih dengan kaki isap ungu. Pikirannya lalu melayang-layang entah ke mana, sebelum akhirnya diproses oleh otak dan diteruskan ke organ.

"Aku lapar."

Aiacos mengerutkan dahinya. "Bahkan cara bicaramu pun jadi se-abstrak Kardia. Awalnya bicara cinta, sekarang bicara perut."

"Aku tidak bisa berpikir kalau lapar," balasnya cepat sambil berjalan pergi, menuju pintu masuk asrama. "kalau Minos tanya aku ke mana, dapur," lanjutnya cepat sebelum menghilang dari pandangan. Aiacos mendongak sebentar lalu mengangkat bahu lagi.

Halloween Treat #1

"Itu namanya pumpkinophobia."

Kanon meneguk cokelat hangatnya sebelum menengok ke arah Saga, yang entah bagaimana caranya bisa masuk ke dalam Ruang Bersama asramanya. Sudah bukan hal asing lagi bagi penghuni Ravenclaw, tentang keajaiban Saga yang bisa keluar masuk asrama seperti ia keluar masuk ruang bawah tanah Slytherin. Senior sudah maklum, para guru pun begitu. Hanya Seiya--si penjaga sekolah--yang masih penasaran dan ingin sekali menemukan caranya, yang ia yakini berhubungan dengan sihir jahat, untuk kemudian mendetensinya membersihkan kandang Thestral.

"Lalu, ketakutanku pada warna kuning dan oranye?" tanya Kanon.

Saga mengerutkan dahinya sejenak. "Mmmm...bagaimana kalau kusebut, 'fobia terhadap warna kuning dan oranye' saja? Terdengar lebih sederhana," jawabnya sambil memiringkan kepala, dengan ekspresi polos. Kanon membayangkan Aiolos akan langsung menyerang Saga begitu ia melihat ekspresi ini, namun segera mengenyahkan bayangan itu.

Sekitar lima belas menit yang lalu, Saga masuk seenaknya ke asrama dan menarik Kanon yang tengah bergelung di dalam selimut ke Ruang Bersama. Lalu, ia menginterogasinya tentang kenapa ia tidak makan siang, yang dilanjutkan dengan ceramah panjang lebar mengenai menjaga kesehatan. Alasan Kanon tidak mau makan sebenarnya sederhana saja.

"Lagipula, kenapa, 'sih, kamu tiba-tiba jadi takut makan labu?"

Kanon melirik Saga dari sudut matanya. "Bukan takut. Hanya, entahlah. Muak, mungkin? Menjelang Halloween, sepertinya para peri rumah itu punya stok labu yang tidak terhingga, sampai-sampai setiap hari sejak awal Oktober semua makanan yang disediakan berbahan dasar labu. Jus labu, pai labu, sup labu, labu goreng, kue labu, dan salad labu," Kanon menyebutkan makanan-makanan yang disediakan sekolah, lalu mengakhirinya dengan ekspresi mual. "Aku mau muntah," lanjutnya.

Saga mengusap-ngusap kepala sang adik, sebelum berdiri dan berjalan menuju pintu. "Aku ambil beberapa makanan dari dapur, dan kupastikan mereka tidak mengandung labu atau apapun yang berwarna kuning dan oranye. Apa itu termasuk jeruk, wortel, dan pisang?" tanya Saga.

"Kau tahu aku tidak suka wortel, Saga. Kalau jeruk dan pisang, tidak masalah."

"Oke. Sana, tiduran saja di kasur. Sejam lagi aku kembali."

Kanon melambai sebentar, sebelum akhirnya Saga keluar dari asrama Ravenclaw. Ia menghela napas.

Halloween sialan.

Friday, 26 October 2012

Years of Youth #14

Asrama Gryffindor.

Milo dan sebaskom air dingin serta handuk.

Kardia yang terkapar di atas sofa. Salah satu pipinya memar.

Regulus dan Aiolia yang cekikikan bodoh di sofa seberang Kardia.

Sisyphus dan Aiolos yang sedang mengusir massa asrama untuk segera kembali ke kamar masing-masing dan berhenti mengerumuni Kardia.

Milo menggelengkan kepala melihat kekacauan yang terjadi. Setengah jam yang lalu, Kardia masuk ke Ruang Rekreasi yang ramai dengan tidak biasa. Muka lebam seperti habis ditonjok dan nafas terengah-engah seperti habis lari maraton keliling lapangan Quidditch ketika ia ngawur saat latihan lalu dihukum oleh Sisyphus, sebelum akhirnya pingsan di pintu masuk dan mengagetkan semua orang.

"Payah," gumam Milo seraya mengompres wajah Kardia. Kardia meringis sedikit. "Payah, Kar. Kau payah. Titel-mu saja troublemaker. Lawan satu orang Ravenclaw saja kalah. Kalau kau melawan Rhadamanthys lalu kau kalah, itu sedikit bisa dimengerti. Degel? Leluhur Gryffindor bisa malu," cerocos Milo.

"Diam, boc--ADUH!!!" seru Kardia ketika Milo menekan memarnya dengan emosi.

"Jangan memanggilku bocah ketika kau tidak lebih dewasa daripada aku," ujar Milo ketus.

"Hei, sudah kalian berdua."

Kardia dan Milo mendongak dan menemukan Defteros sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya. "Milo, bisa tinggalkan aku sendiri dengan Kardia? Dan itu juga berlaku untuk kalian," ujar Defteros pada kuartet Regulus-Aiolia-Aiolos-Sisyphus. Milo lalu berdiri dan pergi, setengah lari, setelah sebelumnya menjulurkan lidah pada Kardia. Kardia menggeram, kesal. Kalau kondisinya tidak sepayah ini, ia pasti sudah menjitak adik kelasnya itu.

"Nah, jadi, Kardia, apa lagi yang kau lakukan hari ini?"

.
.
.

"Uhk--apa?!" Camus hampir saja memuntahkan kembali pai labunya. Alasannya sederhana.

"Itu alasannya," gumam Degel sambil menunduk, nyaris berbisik. Camus mengelap mulutnya yang sedikit dinodai remah kulit pai. Dahinya mengerut.

"Itu...alasan...Kardia.... Oke."

Degel mendongak dan menemukan Camus sedang--sedikit--tersenyum padanya. "Oke?" tanya Degel. Camus lalu mengangguk

"Itu artinya dia sangat menghargai dan mencintaimu lebih dari apapun, sampai tidak mau menodai dirimu bahkan dalam pikirannya sendiri, Degel. Kau harusnya bangga."

.
.
.



Sunday, 21 October 2012

Years of Youth #13

"Kardia!!!"

Kardia melompati anak tangga tiga-tiga sekaligus, sesekali menabrak-nabrak beberapa senior--yang sudah maklum dengan kelakuan miring Kardia--dan banyak junior--yang rela-rela saja ditabrak oleh Bludger tampan dari Gryffindor. Harusnya sisa hari ini ia habiskan dengan malas-malasan di Ruang Rekreasi asrama, menggelinding di karpet empuk dekat perapian, sambil mungkin mengerjakan tugas Transfigurasi dan Mantra. Harusnya.

Sampai ketika ia turun dari Menara Astronomi dan menemukan Degel di ujung koridor menuju asrama. Memori brengseknya mendadak memutar balik menuju waktu di mana ia menemukan seorang sialan dari Slytherin sedang--

"Kardia! Berhenti kabur!"

Kardia buru-buru mengenyahkan pikiran gila itu dan fokus kabur. Kabur dari orang yang memancing adegan gila di ujung tersembunyi kastil itu terbayang dengan sangat nyatanya.

.
.
.

Tapi, kadang, bahkan, seorang Kardia pun, tidak bisa lolos dari mangsa yang kini berbalik mengejarnya.

.
.
.

Setelah berlari menyusuri kastil, naik-turun tangga, melintasi lapangan, menyusuri tepi danau, dan tersesat di taman labirin, Kardia menyerah. Tidak, niatnya untuk kabur tidak akan pernah bisa menerima keadaan dirinya menyerah. Tubuhnya lah yang membuatnya menyerah.

Jantungnya sudah berdebar dengan ritme yang tidak karuan sejak sepuluh menit yang lalu akibat lari-larian ekstrim yang baru mereka berdua lakukan. Hal ini membuat pasokan oksigen ke seluruh tubuh Kardia menurun drastis; dan kini ia sedang menanggung efek dari hal itu. Terduduk dengan napas sangat cepat dan pandangan buram. Berlari sedikit lebih lama lagi, dan dia akan pingsan di tempat.

Dan di belakangnya, berdiri Degel yang sedang berusaha mengatur napasnya sambil mencengkram kerah kemejanya.

"Berhenti...kabur...dariku...Kardia," sengal Degel di sela-sela napasnya. Kardia hanya diam dan berusaha mengatur tubuhnya, memaksa tubuh lemahnya untuk kembali bekerja dnegan normal.

"Kardia?" tanya Degel, kini berada di hadapan si Gryffindor muda. Kardia mendongak, masih bernapas cepat dan mencengkram dadanya. Ia lalu tersenyum.

"Yo... se...bentar...ya?" ujarnya putus-putus. Mimik wajahnya lebih pucat dari biasa. Kardia memang putih, nyaris pucat, meski tidak sepucat Minos atau Aspros. Meski menyandang gelar Beater dan anggota Klub Duel, Kardia juga merupakan pelanggan tetap Bangsal Rumah Sakit, terutama di awal-awal kehidupan asramanya. Penyakit lama bawaan lahir adalah penyebabnya. Begitu ia aktif di berbagai kegiatan yang melibatkan fisik dan stamina, pelan-pelan frekuensinya berkunjung dan menginap di bangsal berkurang. Namun, sekalinya kumat, ia bisa terbaring berhari-hari

"Kenap...astaga. Maaf, aku lupa. Sungguh, aku..." ujar Degel panik. Ia buru-buru berlutut dan mengobservasi Kardia, melihat apakah pemuda itu membutuhkan penanganan segera. Kardia lalu menepuk lengan Degel.

"Jangan panik begitu, oke?"

"Kau, tidak apa, Kardia? Perlu kubawa ke Bangsal?" tanya Degel. Kardia menggeleng.

"Tidak. Ini, hanya kaget saja. Bukan apa-apa," jawab Kardia, yang kini mencengkram tangan Degel. Degel balik meremas tangan Kardia, berharap bisa sedikit meringankan apapun yang dirasakan pemuda bermata biru di hadapannya itu.

"Benar?"

Kardia mengangguk. "Lagipula, kapan lagi kita kejar-kejaran begini, dengan kau yang mengejarku?" ujarnya, dengan cengir lebar tersungging di wajah. Tangannya kini tidak lagi mencengkram tangan Degel, hanya menggenggamnya saja. Setiap indera perasa di tangannya berusaha menghapalkan lagi kontur tangan Degel. Bagaimana rasanya, bentuknya, hangatnya. Semuanya.

Ketika Kardia sedang sibuk dengan kerinduannya akan Degel, yang bersangkutan malah merengut kesal. "Kalau tidak kukejar, kau tidak akan mau menjelaskan padaku kenapa kau menghilang dan kabur seperti orang melihat hantu setiap kali melihatku."

Kardia tergelak. "Oh, itu. Hahahaha. Tidak ada apa-apa, kok," ujarnya sambil nyengir lebar. Degel makin merengut.

"Lalu, ucapanmu soal selalu ada di sampingku atau mencintai tanpa syarat itu juga bukan apa-apa? Bukan sungguhan?" Degel menyentakkan tangannya. Air wajahnya semakin suram. Kardia lalu menghela napas panjang.

"Degel."

Degel tidak menjawab. Ia hanya menatap manik biru Kardia dalam bisu, sambil menikmati sentuhan lembut Kardia di wajahnya. Ah, betapa ia merindukan tangan hangat itu.

"Degel, aku mencintaimu. Dulu, sekarang, dan seterusnya. Itu adalah satu yang tidak akan berubah."

"Lalu?"

Kardia menghela napas lagi. "Lalu, alasanku tidak mau bertemu denganmu adalah, karena aku tidak mau membuatmu jadi objek imajinasi liarku."

"....hah?"

Kardia menggaruk kepalanya, bingung harus mulai dari mana. "Aku, anak muda. Dan pikiran anak muda kadang, melenceng cukup jauh dari seharusnya, kan?"

Degel mengangguk ragu. "Ya? Lalu?"

"Well, kau tahu, tingkatan paling tinggi yang paling ingin kau lakukan bersama orang yang kau cintai?"

"....apa?"

Kardia face palm. Ia tahu Degel itu polos, tapi...

"Aku melihat Minos dan Albafica."

"...ya? Minos dan Albafica sedang?"

"........................bercinta."

.
.
.

Sunday, 14 October 2012

Years of Youth #12

Sudah seminggu ini, Degel uring-uringan. Bahkan, wajahnya yang tanpa ekspresi dan membuatnya memiliki gelar 'Ice King of Ravenclaw' itu pun tidak bisa menyembunyikan emosinya. Di pelajaran Duel di kelas Mantra pun, Degel yang biasanya melancarkan mantra-mantra kalem dan tersembunyi untuk mengalahkan lawannya kini memakai mantra-mantra eksplosif. Entah sudah berapa kali Ares melancarkan Aguamenti hari itu, sampai mengancam akan mendetensi si mata hijau itu kalau sampai ia meledakkan satu kursi lagi.

Alasannya? Simpel saja.

"Kardia selalu kabur dariku setiap kali kami bertemu di koridor."

Camus mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba mencerna informasi. "Oh?" ujarnya setelah beberapa menit. Bahkan otak brilian turunan dari sang ayah--muggle ternama di bidang sains yang terkenal karena otaknya yang dibilang setara dengan seorang penemu rumus kuantum ternama--pun tidak bisa membuat bungsu yang menyandang titel 'Pangeran Es' ini mengerti maksud kalimat sang kakak.

Degel menyuap sup jagung ke mulutnya sebelum memasukkan sepotong besar Baguette ke dalamnya. "Ha! Hahaha hahahnga hia hihahahhaaghu!!!"

"Kak, telan dulu makananmu," ujar Camus, melirik kiri-kanan.

"Iya!" seru Degel tidak sabar setelah menelan makanannya. "padahal katanya dia cinta padaku! Padahal katanya cukup ada di sampingku dan melihat aku bahagia. Padahal...ARGH!" geramnya sembari menggebrak meja dan angkat kaki dari Aula Besar untuk mencari bedebah yang berani membuat emosinya berantakan seperti ini.

Saturday, 6 October 2012

Years of Youth #11

BRAK!

Pintu ruang kelas menjeblak terbuka, memperlihatkan seorang pemuda berambut pirang dengan mata biru yang berdiri terengah-engah dengan keringat membanjiri wajah. Semua anak menatapnya, begitu juga dengan sang guru. Pria di usia awal tiga puluh, dengan mata biru gelap dan rambut coklat tembaga. Dahinya berkerut saat melihat kedatangan heboh Kardia.

"Maaf...Sir...saya...terlambat...."

Ares menaruh buku yang sedang ia baca lalu berjalan ke arah Kardia. Tongkat sihir dari kayu Ash dengan inti naga-nya diayun-ayunkan berbahaya. Matanya berkilat jahat ketika ia mengayunkan ke arah Kardia dan meledakkan pintu kayu di sebelah sang Gryffindor.

"Jadi," DAR! "kenapa," DAR! "kau," PRANG, lampu kecil di pilar pintu jatuh. "datang," BRAK, Kardia berguling ke samping dan menabrak meja kayu. "terlam--

"Expelliarmus!" seru Kardia dari balik kursi, disaat yang sama Ares menarik meja dan membiarkan meja malang tersebut meledak jadi kepingan tajam ketika telak dihajar oleh mantra Kardia. "Aku minta maaf, Sir! Bukan mauku datang terlambat!"

"Lalu kenapa kau datang terlambat, Kardia dari Gryffindor, Beater Tim yang pernah memukul Bludger ke arahku sambil cengengesan tolol, anggota Klub Duel yang hobi melucuti pakaian lawan?"

Kardia, yang sudah berdiri dan tidak lagi bersembunyi, membuka mulutnya sebelum merona merah. Sangat-merah. Lebih merah dari rambut sang guru yang warna tembaga, apalagi rambut merah Camus. "Aku...."

Ares sebenarnya ingin bertanya lebih jauh tentang perubahan ekspresi wajah Kardia, tapi ia menahannya untuk lain kali. "Ya?"

"Aku...jalan pintas yang...biasa kulewati...anu," ujar Kardia gugup. Ares makin mengerutkan dahinya.

"Ya? Ada apa dengan jalan pintas yang tidak pernah mau kau bagi dengan kami?"

"...aku butuh ke kamar mandi, Sir," jawabnya tiba-tiba sambil angkat kaki dari kelas, memancing sumpah-serapah dan pengurangan poin asrama dari Ares. Tapi Kardia tidak peduli. Salahkan Minos dan seseorang dari Hufflepuff sahabat Degel yang melakukan hal ngawur di sudut sekolah.

Monday, 1 October 2012

Years of Youth #9

Musim dingin menjelang, lapangan hijau berubah jadi hampar putih keperakan, danau luas berubah jadi arena skating, perapian menyala sepanjang malam, sweater tebal keluar dari tempatnya yang tersembunyi di lemari, dan hidung serta pipi menjadi merah karena sengat udara dingin.

Dimulai dari hari-hari awal November, sesekali keping es itu turun dari langit dan angin beku menghembus menembus celah kastil yang luput, atau sengaja dibuat luput, dari perbaikan. Suhu di luar kastil sering menembus angka nol derajat.

Dan dalam kondisi ekstrim begitu, Tim Quidditch Gryffindor tidak pernah absen latihan sekalipun. Berniat mempertahankan kemenangan mereka dalam pertandingan musim dingin, Sisyphus memutuskan untuk membuka topeng senior-baik-hati dan kapten-paling-pengertian di dunia ini dengan menjadi pelatih sparta. Di tengah hujan salju, dengan putih membutakan mata, tujuh orang pemuda-pemudi anggota tim dipaksa naik ke atas sapu dan berlatih.

Semua, tidak terkecuali Kardia yang kini tengah melamun bodoh di dekat gawang. Defteros terbang tidak jauh di sebelahnya, sesekali melirik Kardia dan Sisyphus dan Kardia dan Sisyphus lagi selama beberapa menit, sebelum mengangguk singkat ke arah sang kapten dan melayang terbang menabrak sapu Beater dari kelas lima itu, membuat Kardia oleng dan menjerit kaget dan bergelantung satu tangan pada sapunya sambil menatap galak seniornya yang satu itu.

"Brengsek!" umpat Kardia, setengah menggeram tertahan--takut pada amukan Sisyphus dan detensi Defteros--pada Prefek Gryffindor itu. Defteros mendengus.

"Fokus, Kardia. Kalau bukan karena Isaac menangkap Snitch saat Rhadamanthys menghajarmu, kita tidak akan menang. Camkan itu. Tidak. Akan. Jadi sebaiknya kau buang Degel jauh-jauh dari pikiranmu saat kau ada di lapangan, dan berlatih yang benar." 

Kardia ber;'tsk' pelan sebelum mengayunkan tubuhnya dan melayang pergi ke area latihan, bergabung dengan teman-temannya yang lain, menerima amukan Sisyphus karena berani bolos latihan sehingga ia--terpaksa--harus turun ke tanah dan lari seratus putaran sebagai hukumannya.

.
.
.

"Degel."

Sekerat thyme, dua tetes rambut Unicorn....

"Degel."

Potongan kayu ek, tiga ikat insang....

"Degel!!!"

Bunyi 'duk' pelan dari centong kayu yang jatuh ke meja dan jeritan melengking tepat di depan telinganya membuat Degel kembali ke dunia nyata. Ia mengerjap sekali-dua kali, sebelum menyadari bahwa teman-teman Ravenclaw-nya sedang menatap ia horor, dan Albafica sedang menarik lengan jubah hitamnya. Tepat di samping kanan, lewat surai-surai hitam dan manik biru--yang ia lihat dari sudut mata--Poseidon sedang melipat tangannya di dada. Murka.

"Minggu kemarin kau hampir meledakkan tempat ini, dan minggu ini kau tidak membuat ramuan yang aku suruh! Kenapa kau malah membuat ramuan penghilang sakit, dan bukannya ramuan kejujuran?!" sergah Poseidon. Degel menunduk menatap tanah selagi Albafica buru-buru mematikan api dari bawah kuali Degel.

"Keluar! Dan jangan kembali sampai isi kepalamu tertata rapi dan pikiranmu kembali benar!!!"

Friday, 28 September 2012

Years of Youth #6.5.4


.
.
.

"Apa?" geram Kardia galak. Tidak ada tulangnya yang patah--tidak ada luka barang segaris pun di tubuhnya. Detik-detik penyelamatan Hades--yang Kardia tahu bahwa guru berkelakuan emo gila hormat itu sengaja menyelamatkannya di detik akhir demi apresiasi ekstrim dari rekan pengajar dan murid-murid tentang bagaimana tepatnya ia menyelamatkan nyawa Kardia--membuat nyawanya tidak jadi melayang. Satu-satunya yang terluka dalam kejadian Rhadamanthys menghantam Kardia yang sedang menguap lebar di atas sapu itu adalah harga dirinya yang memang kelewat tinggi. Dihantam jatuh oleh Bludger, oleh Rhadamanthys, di hadapan ratusan orang, lalu diselamatkan penuh rencana tentang kehormatan, dan pingsan di tempat karena tubuh yang kena terjang menolak bekerja sama untuk tetap sadar sampai akhir.

Dan di atas itu semua, karena semua kepayahannya itu dilihat, disaksikan, dan diamati langsung oleh pria Ravenclaw yang kini sedang berdiri diam di samping tempat tidurnya.

"Kalau ada yang mau kau katakan, cepat bilang!" sergahnya sebelum bangun dari berbaring. Mata mereka kini sejajar meski Kardia sedang duduk. Ekspresi wajah Degel masih kosong dan datar, seperti biasa. Kardia hapal betul wajahnya yang ini. Berbulan-bulan ia habiskan untuk menebak-nebak apa yang ada dalam pikiran Degel, sampai akhirnya ia menyimpulkan bahwa Degel adalah titisan dari wanita salju (yang membuatnya habis dikerjai Unity--sepupu Degel--ketika berkunjung ke kediamannya musim panas empat tahun lalu).

"..k."

Perhatian Kardia kembali lagi pada Degel setelah melayang-layang di ambang kegilaan dunianya sendiri, hanya untuk menemukan pemuda Ravenclaw itu menggigit bibir bawahnya dan menangis. Me-na-ngis. Air mata mengalir begitu saja seperti air terjun--atau setidaknya itu ungkapan yang bisa otaknya, yang sudah tercemar lagu galau tanah Inggris Raya--dari sudut mata Degel. Degel tidak terisak hebat, tidak meraung keras, atau melemparnya dengan benda apapun. Hanya menangis, sambil berdiri, sambil menatapnya, sambil meremas kantong belanjaan dan ujung seprainya dengan kikuk.

"Kupikir kau..." ujarnya terputus. Satu tangan yang bebas menggosok sudut mata. "Aku pikir...."

"Aku pikir kau akan mati. Kardia. Aku...." Lalu Degel kembali tenggelam dalam isaknya, kini lebih keras, lebih lepas, dan lebih menampar Kardia dengan keras. Kantong cokelatnya sudah jatuh, dan kini Degel terduduk dan merunduk di samping tempat tidur Kardia, melepaskan emosi yang sempat menyelimutinya beberapa jam yang lalu di lapangan kala ia melihat maut sebegitu dekatnya dengan pemuda pirang di depan mata.

.


Lagi. Seprai putih. Jendela besar. Tempat tidur. Bau ramuan aneh. Berbungkus-bungkus cokelat kodok.

Lagi. Berbaring tidak berdaya di atas tempat tidur.

Lagi. Dikelilingi orang-orang yang bercanda, tertawa-tawa, dan tidak tahu malu, yang menertawakan kejatuhannya di pertandingan serta keberhasilan sang Seeker saat menangkap Snitch di detik kejatuhannya, sehingga Gryffindor tetap menang.

Lagi. Dia-yang-namanya-tidak-bisa-lepas-dari-ingatan datang dengan sekantong besar cokelat kodok. Kardia sudah siap jika pemuda berkacamata itu mau melemparnya lagi dengan apapun kali ini, apakah itu bungkus cokelat atau kursi tunggu. Ia sudah siap melontarkan kata-kata keji kalau-kalau Degel tergagu bingung mau berkata apa, siap menghakimi sepihak tentang apa yang ada di kepala pemuda berotak cemerlang itu, siap menjadi laki-laki paling brengsek yang pernah dikenal olehnya.

Lagi. Kardia dibuat jungkir balik kaki di kepala, jatuh ke dalam rasa paling aneh, terjebak dalam penjara rindu, dan merasakan yang disebut dengan cinta. Lagi. Untuk orang yang sama, untuk yang kedua kalinya.

Years of Youth #6.5.3

Minos melayang tenang di atas sapu terbangnya, Firebolt 3.2, di depan tiga lingkaran besi besar. Di hadapannya, dua belas orang dengan dua macam seragam yang berbeda saling hantam, saling lempar bola, dan saling berkelit satu sama lainnya. Di ujung lapangan, dengan jubah merah dan tatapan tajam serta rambut hitam dan mata biru terang, Defteros menjaga lingkar gawang miliknya.

Bola merah pindah dari Aiolos, lalu Sisyphus, lalu Aiolos lagi, lalu Sisyphus, begitu saja terus, zigzag, melupakan seorang Chaser lain yang tertinggal jauh kewalahan mengikuti irama mereka. Terbang sambil melempar-lempar bola dengan sesekali menghindari bola hitam yang dipukul oleh dua Beater dari masing-masing tim.

"Rhada!" seru pemuda Slytherin berambut merah, sambil memukul Bludgers ke arah seorang pirang di tengah lapangan. Rhadamanthys menerima bola dengan memukulnya lagi sambil diarahkan pada Sisyphus, yang berkelit cepat. Rhadamanthys lalu nyengir lebar.

DUAK!

"OOOOOO!!! Bludger Slytherin menghantam Beater Gryffindor!!!" seru komentator--Aphrodite dari Ravenclaw. "Siapa yang ke--JATUH! KARDIA JATUH DARI SAPUNYA!!!"

Diiringi dengan jeritan heboh dari siswa Gryffindor yang duduk di bangku penonton, Kardia merasakan wajahnya ditampar oleh angin dan perutnya sakit bukan main. Sapunya sudah jatuh entah ke mana dan ia melihat tanah semakin dekat-dekat-dan dekat dengan wajahnya. Panik semakin merajalela ketika ia merogoh saku jubah dan menemukan bahwa tongkatnya tidak ada di sana. Saat jaraknya dengan kematian hanya tinggal dua meter, Kardia memejamkan mata dan menahan napas.

.
.
.

"Wingardium Leviosa!!!"

.
.
.


Monday, 24 September 2012

Years of Youth #6.5.2

Harusnya ia sedang ada di ruang bawah tanah halaman tengah, harusnya ia sedang bergelut dengan seekor tikus dan separuh-tikus-separuh-teko. Harusnya ia sedang bergelut dengan buku mantra dan buku tebal tentang Transfigurasi, harusnya ia sedang memperhatikan Sir Thanatos berubah jadi ratusan kupu-kupu biru sebelum kembali lagi menjadi manusia.

Yang Degel bingungkan, adalah kenapa ia bisa berdiam diri dan tidak mau pergi, mengesampingkan periode Transfigurasinya yang sudah mulai sejak tadi, dan malah mematung sambil membawa sekantong besar cokelat kodok hasil menyelundupkan dari dapur, di depan bangsal rumah sakit?

Baru saja tangannya menyentuh pintu, ia terbuka. Memperlihatkan sosok berambut merah-oranye keriting dan mata sewarna sama. Apollo menaruh satu tangannya di pinggang.

"Aku sudah menunggumu masuk sejak hampir dua jam yang lalu. Kenapa sih kau ini betah sekali berdiri seperti batu begitu?" ujarnya sambil mengisyaratkan perintah 'masuk'. Degel ragu-ragu, sebelum akhirnya melangkah masuk setelah ditatap galak oleh sang matron rumah sakit. Bangsal rumah sakit kosong, seperti biasa. Hanya ada beberapa tempat tidur yang terisi. Ia mengenali beberapa di antaranya adalah pemain Quidditch muda dari Hufflepuff yang tumbuh telinga kucing di kepalanya dan seorang lain yang dibebat sekujur tubuhnya--Degel mengenali mumi dadakan tersebut sebagai seorang Slytherin yang sudah lama menjadi duri dalam daging bagi Minos. Satu lagi tempat tidur yang terisi adalah tempat tidur yang paling hangat karena paling banyak kena sinar matahari. Menyembul dari selimut putih yang menutup sampai ke separuh kepala, untai-untai pirang keemasan yang bergelombang. Degel berhenti dua tempat tidur dari tempatnya berbaring, mengagumi bagaimana sinar matahari sore yang sedikit merah justru menambah kesan dramatis bagi surai emas itu.

"Kalau ke sini hanya untuk mengasihani saja, sebaiknya kau pulang."

Perut Degel seperti dililit ular kasat mata kala mendengar gumam tajam yang sedikit tenggelam. Genggamannya pada kantong cokelat mengerat. Ia menelan ludah gugup sebelum berjalan mendekati tempat tidur Kardia.

"Aku...dengar kau--

"Yayaya. Pergi sana."

"Kar--

"Pergi."

BRUK!

Kardia merasa punggungnya dilempar oleh sesuatu--banyak sesuatu--yang berbentuk kotak sebelum mendengar derap langkah Degel berlari melintasi ruangan, diikuti bunyi 'BAM' kelas ketika ia membanting pintu bangsal, memancing umpatan Apollo mengenai biaya perbaikan pintu. Kardia mengerang kesal sebelum berbalik dan melihat tumpukan kotak cokelat kodok berserakan di tempat tidur dan lantai di bawahnya. Ia lalu duduk dan menghela napas sebelum membuka satu bungkus. Diam beberapa saat, ia lalu memasukkan bulat-bulat satu bongkah cokelat itu ke dalam mulutnya, merasakannya lumer di dalam rongga mulut.

Manis, dan asin.

Karena rasa manisnya menghangatkan relung sekaligus meruntuhkan sisa-sisa pertahanan terakhir yang Kardia bisa lakukan untuk melupakan semuanya.

Sunday, 23 September 2012

Years of Youth #6.5

Jam pelajaran keempat selesai. Rombongan murid kelas lima dari beberapa asrama--Ravenclaw, Hufflepuff, dan Slytherin--berebut segera keluar dari ruang kelas Ramalan yang berwangi aneh setelah menghabiskan dua jam berusaha membaca daun teh. Degel adalah yang paling terakhir keluar, terima kasih pada Professor Hypnos yang sengaja menahannya.

"Degel!" panggil seseorang. Degel menoleh dan menemukan seorang pemuda berkulit pucat--lebih pucat dari anomali pigmentasi kulit Sir Hades--dengan rambut coklat jerami dan mata biru muda. Tahi lalat di bawah mata kiri dan senyum tipis khas-nya membuat pemuda dengan sweater kuning labu ini dapat dengan mudah dibedakan dari yang lainnya. Degel berhenti berjalan ketika ia menghampirinya.

"Halo, Albafica. Kau ikut kelas Ramalan?"

Albafica menggeleng pelan. "Tidak. Aku ada kelas Ramuan tadi. Lagipula, Ramalan bukan keunggulanku. Astronomi aku masih mengerti, tapi ramalan?" ujar Albafica, menggeleng lagi. Degel terkekeh.

"Habis ini apa?" tanya Degel sembari melangkah menuju Aula Besar, diikuti oleh Albafica di sampingnya.

"Selesai. Nanti jam keenam ada Herbologi. Aku ada waktu satu periode kosong. Kau?"

"Sama. Transfigurasi baru ada di periode ketujuh."

Albafica tersenyum--agak--lebar. "Transfigurasi minggu ini mengubah tikus menjadi teko dan mengembalikannya seperti semula. Kalau ada waktu lebih, kau bisa belajar mengubah marmut jadi gelas."

"Oh ya? Sepertinya seru. Sebaiknya aku belajar dulu sebelum masuk kelas," gumam Degel sebelum masuk ke dunianya sendiri. Albafica tersenyum tipis, memaklumi tingkah--hampir semua--anak Ravenclaw. Sekitar lima belas anak tangga sebelum mereka sampai di koridor depan Aula Besar, sepasang tangan yang besar memeluknya. Untai-untai rambut perak jatuh ke bahunya.

"Minos!" seru Albafica kaget, membuat Degel kembali ke dunia nyata dan melihat Minos sedang memeluk Albafica. Sweater abu-abu yang dikenakannya pas dengan warna rambutnya yang perak-platina. Matanya yang berwarna hampir abu-abu melirik Degel jahil.

"Halo, Degel! Sendirian saja?" sindirnya sambil nyengir lebar macam Chesire Cat. Kedua tangannya masih memeluk Albafica--yang mukanya merah total dan memberontak heboh.

"Bersama Albafica, kalau kau memperhatikan. Tapi sepertinya fokusmu hanya pada Albafica, ya?" balasnya. Albafica sendiri sudah menyerah melepaskan diri dari Minos dan kini balas menggenggam tangannya.

"Tentu saja," Minos melepas satu tangannya dan memindahkan tangan lainnya ke pinggang Albafica. Albafica merespon Minos dengan sedikit bersandar di torso bidang Keeper Tim Quidditch Slytherin tersebut. Degel--tidak mau mengakuinya, demi harga dirinya yang terlalu tinggi--merasa panas dengan adegan mesra di hadapannya. Biasanya kalau sudah begini, selalu ada Kardia yang--

Degel menggeleng tiba-tiba.

"Kenapa?" tanya Albafica bingung sementara Minos tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Degel. "Kenapa?" kali ini ia bertanya pada Minos.

"Berhenti tertawa, Minos," geram Degel, yang justru memancing gelak tawa Prefek  Slytherin itu semakin keras. Degel mendengus kesal.

"Berhenti berada dalam fase denial, Degel," ujar Minos setelah akhirnya selesai tertawa. Ia menggosok ujung matanya, menangis saking hebohnya tertawa. "Menurut Madam Artemis, denial adalah fase paling awal dari jatuh cinta. Nah!" serunya, menunjuk hidung Degel. Degel segera menepis tangannya dari wajah.

"Aku tidak denial, Minos, dan aku tidak mengerti tentang apapun yang baru saja kau katakan."

"Oh, ya. Kalau begitu aku ingin tahu apa reaksimu kala mendengar Kardia masuk bangsal rumah sakit karena pingsan di kelas Arithmancy barusan."

"Eh?!"

.
.
.

"Santai saja, Kardia. Aku sudah memberitahu Professor Hades tentang keadaanmu. Hanya saja, setelah keadaanmu membaik, ia memintamu datang ke kantornya," ujar Sir Apollo, penjaga bangsal rumah sakit. Rambut merah keriting gantung-sedikit afronya bergoyang-goyang lucu ketika ia membetulkan selimut Kardia.

"Sir," ujar Kardia lemah.

"Ya?"

"Aku mau cokelat kodok," candanya dengan cengir lebar di wajah, meski rona wajahnya masih pucat. Apollo menghela napas pendek sebelum mengusap kepala Kardia--memberantaki rambutnya yang sudah berantakan.

"Nanti aku bawakan kalau kau sudah istirahat. Sekarang tidur saja dulu," ujarnya sambil berjalan menjauhi tempat tidur Kardia dan masuk ke kantor penjaga bangsal. Selepas kepergian Apollo, Kardia berguling ke samping, memunggungi pintu masuk dan menggenggam kedua tangannya sendiri. Dingin dan pucat aneh. Ia lalu tersenyum ironis dan menarik selimut menutupi setengah kepala lalu memejamkan mata.

.
.
.

Degel....

Saturday, 22 September 2012

Years of Youth #8

"Aku mencintaimu."

Suaranya tercekat. Tangannya meremas ujung sweater biru tua. Salju mulai turun dari langit.

"Aku mencintaimu, Degel."

"Su--

"Aku tahu." Kardia menutup mulut Degel dan menariknya dalam pelukan, mengubur wajah si Ravenclaw ke batas antara leher dan pundaknya. "Aku tahu semuanya sudah selesai. Tapi, aku mencintaimu, Degel. Tidak ada syarat, sepihak saja. Tidak masalah buatku."

Degel mendorong Kardia, mendorong keinginannya untuk tetap ada dalam kehangatan familiar yang ia sangat rindukan. "Berhenti, Kardia. Berhenti mencintaiku."

Dan Degel bersumpah, ia melihat ada kilat kecewa yang muncul dan menghilang dengan kecepatan sama di manik biru Kardia.

"Biarkan aku melindungimu, mencintaimu. Kumohon. Kau bebas mencari sendiri bahagiamu karena itu juga jadi bahagiaku. Setidaknya biarkan aku ada di sampingmu. Kumohon, Degel."

.
.
.

dan aku juga mencintaimu, jadi berhenti memulai lagi apa yang sudah kuakhiri, Kardia!!!

Thursday, 20 September 2012

Years of Youth #7

Ruang Bersama Slytherin yang didominasi hijau. Hijau di jendela, hijau di langit-langit, hijau di dasi dan rompi rajut, hijau di beludru pembungkus sofa, hijau iris mata.

Kalau Saga tidak ingat pemuda bermata hijau di hadapannya ini adalah senior, mata hijaunya sudah ia lempar dengan buku Ramuan yang sedang ia genggam saat ini.

"Mengerti, Saga?" tanyanya angkuh. Nada mencemooh tidak bisa lepas dari cara bicaranya. Saga menghela napas. Orang di depannya ini mengingatkan ia pada seorang Gryffindor keras kepala.

"Tidak, Rade. Kau menyuruhku menjauhkan Kardia dari Degel? Seperti yang sudah kau lihat, tanpa campur tanganku pun mereka sudah berpisah."

Rade--Rhadamanthys--mendengus pelan sambil tersenyum meremehkan. "Ah, ya. Seharusnya aku berterima kasih padamu untuk hal ini."

Saga mengerutkan kening. "Maksudmu?"

Rhadamanthys hanya terkekeh geli. "Well, sampaikan terima kasihku pada Kanon, kalau begitu."

.
.
.

"Aduh!"

"Tidak usah aduh-aduh! Gara-gara kau!"

"Ap--Duh!!!"

"Diam dan terima saja jitakanku, Kanon!" seru Saga. Semua mata sudah terfokus pada mereka berdua sejak awal kegiatan makan malam. Begitu Saga sampai di Aula Besar, ia langsung menuju meja asrama Ravenclaw, mencari Kanon, dan menjitaknya dengan keras tanpa basa-basi. Siswa lain hanya menonton saja, terutama siswa kelas dua keatas. Terbiasa dengan kelakuan konyol dan pertengkaran ekstrim dari dua bersaudara yang lahir di bulan Juni ini.

"Ikut aku!" perintah Saga--setelah puas menjitak, mencubit, dan menjewer Kanon--sambil menariknya dari Aula Besar dan menggiringnya agak jauh dari mata-mata dan telinga-telinga yang penasaran.

"Apaan?!" seru Kanon.

"Apaan?! Kau masih bertanya apa?! Di mana sih otakmu?!"

"Di sini!" seru Kanon, menunjuk kepalanya. Saga lalu membalas jawaban Kanon dengan menempeleng kepala pirang si adik.

"Otakmu di dengkul!"

"Biar! Daripada kamu, otaknya ngambang di danau! Apaan sih?!" sengit si adik, yang sama-sama bersumbu pendek.

"Kardia dan Degel! Jangan pura-pura tidak tahu!"

Ekspresi Kanon berubah. Total. Dari marah dan kesal jadi kaget dan salah tingkah. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke kanan dan Saga paling tahu sekali kebiasaan adiknya ini kalau ketahuan berbuat salah.

"Kau penyebab mereka putus." Saga membuat pernyataan.

"Bukan!" Kanon membantah. "Bukan! Bu...kan?" lanjutnya tidak yakin. Saga ber-cih pelan. "Aku... Degel adalah mentorku. Aku hormat padanya, Saga. Aku juga sangat hormat pada Kardia. Sungguh, percaya padaku," mohon Kanon, menggenggam satu tangan Saga.

"Lalu kenapa Rhadamanthys malah menitipkan 'terima kasih' padamu dalam pembicaraan kami mengenai Kardia dan Degel?" tuntut Saga. Kanon menelan ludah, gugup.

"Aku... aku suka pada Milo, Saga."

Dari marah besar menuju kesal. Dilanjutkan pada kecewa dan menuntut. Sedetik kemudian, Saga melempar ekspresi tidak percaya. Saga memang pantas memiliki julukan 'Si Wajah Banyak'. "Milo?" tanyanya, ragu. Kanon mengangguk.

"Ya. Dan saat itu aku berlatih menyatakan cinta--aku tahu! Aku tahu ini absurd tapi tolong jangan potong dulu bicaraku!" seru Kanon saat Saga berniat berkomentar. Saga buru-buru menutup mulutnya dan membiarkan Kanon melanjutkan.

"Tapi aku lupa, kalau Kardia adalah orang dengan sumbu seratus kali lebih pendek darimu. Di saat yang sama aku berlatih, dia muncul. Melihat aku menyatakan cinta pada Degel. Dan mereka bertengkar hebat hari itu, dan selanjutnya yang aku tahu Kardia menonjok dinding dan hampir mengumpanku ke cumi-cumi raksasa di danau," jelas Kanon lemas ketika mengingat ngeri yang dialaminya saat ia digantung terbalik di atas danau dan tentakel cumi-cumi hanya tinggal satu senti dari tubuhnya.

"Harusnya kau diceburkan saja sekalian, biar diculik Mermaid."

Kanon menghela napas, merapatkan gigi. Dia lebih siap dihajar habis oleh Saga daripada disuruh mati begini. "Aku... aku sudah minta maaf pada... Degel."

"Lalu?"

"Lalu tidak ada."

Saga dan Kanon menoleh, menemukan satu dari dua objek pembicaraan mereka sedang berdiri bersandar di pilar terdekat. Mata hijaunya kontras dengan dinding batu coklat-hitam. Satu tangannya membawa teko jus labu dan tangan lainnya membawa sepiring penuh pai apel.

"Tidak ada. Kanon tidak salah, jadi tidak ada yang perlu kumaafkan. Cepat atau lambat, dengan keadaan kami yang seperti ini, semuanya akan berakhir, Saga. Kau tidak perlu marah begitu pada Kanon," ujar Degel lembut. Kanon meremas ujung kemejanya yang tidak dimasukkan.

"Tapi--

"Saga!"

Kali ini Saga menoleh ke sumber suara lain selain Degel dan Kanon. Kardia berdiri agak jauh dari mereka bertiga. Satu tangannya masuk ke saku celana. Ekspresinya malas. Ia lalu berjalan mendekati mereka bertiga.

"Kardia," lirih Kanon, sebelum secara tidak sadar bergerak ke balik punggung Saga. Meminta perlindungan.

"Oi, kalian bertiga. Berisik sekali. Terdengar sampai pintu aula. Oh, halo Degel."

"...halo."

"Kardia, aku minta maaf," sela Saga. Kardia lalu menoleh ke arahnya. Ia tersenyum singkat dan mengacak rambut Saga.

"Aku sudah lebih dari puas melihat ekspresi Kanon di depan mulut cumi-cumi. Ya, Kanon?" cengir Kardia. Sebaliknya, Kanon semakin bersembunyi di balik punggung Saga. "Well, aku perlu bicara berdua saja dengan Degel. Bisa kalian pergi?" lanjutnya. Saga dan Kanon saling pandang sebentar sebelum berpaling pada Degel, yang mengangguk pelan. Segera, dua anak kembar itu angkat kaki dari tempat perkara sebelum Kardia hilang kendali diri dan mengumpan mereka pada monster apapun yang dimiliki oleh Professor Hermes di Hutan Terlarang.

Setelah Saga dan Kanon hilang dari pandangan, atmosfer ringan yang sedetik lalu ada langsung diganti oleh sesak yang tidak terelak. Mimik wajah Kardia biasa saja tapi Degel tahu, sangat tahu sekali, bahwa otaknya sedang entah ada di mana. Tak lama Kardia berbalik padanya, menatap Degel tepat di mata. Intens, tajam, menuntut, kesal, marah. Degel terjebak dalam gelombang emosi yang tidak terucap.

Lalu Kardia tersenyum.

"Aku mencintaimu."

Dan sedetik kemudian Kardia angkat kaki dari hadapan Degel. Lima langkah kemudian Degel merasa wajahnya panas. Baru satu menit setelahnya, Degel berbalik dan menatap arah Kardia pergi, berharap melihatnya berdiri menunggu. Tapi tidak ada siapapun di sana. Tidak bahkan seutas pirang keemasan milik Kardia.

Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku--

Sudut matanya lalu basah, merasakan pecahan tajam hati yang sudah ia buang namun kembali diberikan padanya.

Tuesday, 18 September 2012

Years of Youth #6

"Incendio!"

DUAR!

Asap mengepul dari kotak kayu yang terbakar oleh api dari tongkat Kardia. Rambut ikalnya agak bergoyang karena angin hasil ledakan. Senyumnya menggantung lebar di wajah.

"Brengsek! Kardia! Apa parametermu untuk kategori berbahaya?!" sengit Manigoldo, lawannya. Kardia hanya nyengir lebar.

"Jangan banyak alasan! Lawan aku atau menyerah! Diffindo!" seru Kardia. Untung, Manigoldo sempat menghindar. Kalau tidak, tubuhnya sudah jadi serpih, seperti kotak kayu malang di belakangnya.

"Brengsek. Tallantalegra!" jerit Manigoldo.

"Protego! Canis Oppugno!" seru Kardia, memunculkan sekawanan anjing dan memerintahnya menyerang Manigoldo.

"Ck! Impediment--

"Levicorpus!"

"ARGH!" seru Manigoldo ketika sesuatu yang kasat mata menarik satu pergelangan kakinya, membuatnya jatuh, lalu menggantungnya di satu kaki, membuatnya melayang di udara. Di dekat kepalanya, anjing-anjing lapar menggonggong dan mengatup-ngatupkan rahangnya berbahaya. "Kardia!" serunya. Panik. Tongkat sihirnya jatuh terlempar.

"Aku menang lagi. Minta traktir apa ya, kali ini?" ujar Kardia sembari mengetuk-ngetukkan jari di dagu, berpikir. Ia lalu menghilangkan anjing-anjing dan menurunkan Manigoldo dengan senyum paling lebar--dan menyebalkan--tersungging di wajah.

"Kau mau membunuhku, hah?!" jengit Manigoldo setelah menenangkan diri dan kembali di atas kedua kakinya.

"Oh, itu fungsi Klub Duel ini, bukan? Mempersiapkan anggotanya dalam duel hidup-mati sesungguhnya."

Manigoldo menggeretakan giginya dan berjalan ke pinggir arena, sambil menggerutu dan menyumpah kesal. Kardia juga berjalan menuju teman-temannya, Milo, Aiolia, Aiolos, dan Regulus.

"Hebat! Hebat!" seru Milo kesenangan, melakukan standing applause. Kardia membungkuk a la pangeran. Senyum masih tersungging lebar di wajah. Ia lalu mengacak-acak rambut Milo dan duduk di sampingnya. Setelah beberapa teguk air, ia menengok ke arah Regulus.

"Bagaimana aksiku tadi, Ketua?"

Regulus nyengir lebar. "Bagus. Efektif dan mematikan. Kurasa kau siap dilempar ke Azkaban dan bertarung di sana."

Gelak tawa meluncur dari mulut Kardia. "Aku belum menguasai mantra Patronus. Azkaban lain kali saja ya."

"Bahagiamu sudah hilang, sih, ya?"

Tawa Kardia berhenti ketika mendengar celetuk tajam dari Shura. Murid kelas satu itu hanya menatap kosong ke depan sebelum akhirnya menyadari seniornya itu menatapnya intens. "Apa?"

Kardia lalu berdiri. "Tidak. Aku duluan," ujarnya singkat sebelum pergi dari ruang Klub Duel dan melempar isyarat maaf pada Manigoldo. Selepas kepergian Kardia, Milo langsung menendang tulang kering pemuda berambut hitam legam itu.

.
.
.

"Ah."

Kardia mendongak dan menatap suara yang menyita perhatiannya. Manik hijau yang tersembunyi di balik kacamata dengan bingkai merah. Rambut coklat gelap yang halus dan diikat rapi. Rompi biru tua yang kontras dengan kemeja lengan pendek putih di baliknya.

Degel.

"Yo," sapanya sambil lalu. Dari sudut matanya, ia bisa melihat gelagat aneh Degel. Setelah beberapa langkah, ia berbalik dan menghadap Degel. "Apa?"

Degel menghindari kontak mata dengannya. Jari tangannya menggenggam erat buku tebal yang sedang dibawa. "Tidak. Tidak ada."

Kardia menahan pertanyaan yang siap meluncur di ujung lidah. Gantinya, ia mengangkat bahu dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju Menara Gryffindor. Setelah yakin kalau Degel juga sudah pergi, ia berbalik dan menatap ke tempat barusan Degel berdiri.

'Apa kabar? Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah makan? Oh ya, tadi aku menang lawan Manigoldo, dan Regulus menyuruhku ke Azkaban! Bayangkan, Azkaban!'

Kardia membuang napas panjang sebagai ganti kata-kata yang tidak jadi keluar dari mulutnya. Semua sudah selesai.

Semua sudah selesai, Kardia. Selesai.

Years of Youth #5

disclaimer

Harry Potter : J.K. Rowling
Saint Seiya : Masami Kurumada
.
.
.


Sabtu ketiga bulan keenam, Hogsmeade. Murid-murid mulai dari kelas tiga sampai tujuh memenuhi desa kecil itu, berdesak-desakan di pub kecil dengan bergelas-gelas Butterbeer, memilih-milih mainan, atau mengantri di toko permen. Apapun itu, untuk memenuhi hasrat masa muda.

Tidak terkecuali seorang Ravenclaw bermata hijau, Degel, yang sedang duduk sendirian di Three Broomsticks. Sendirian. Segelas Butterbeer di hadapannya sudah habis setengah. Ia sendiri menopangkan dagu di satu tangan dan menatap ke luar jendela, menghela napas berkali-kali dalam setiap kesempatannya.

Sudut matanya lalu menangkap satu sosok. Rambut pirang dan mata biru yang menjulang tinggi. Di sampingnya, versi mini si pirang sedang melompat-lompat kegirangan dan mengacung-acungkan sapu terbang barunya.

Kardia.

Degel terus mengikuti sosok Kardia yang berjalan melintasi Three Broomsticks. Taruhan lima Galleon, Kardia tahu ia ada di dalam pub. Degel menghela napas panjang. Ada sesak muncul saat mereka berpapasan di sekolah tapi tidak saling tegur sapa. Bahkan, Kardia terlihat jelas sekali menghindari kontak apapun dengannya. Degel menyandarkan kepalanya ke jendela.

Memang, sih, dia yang memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Dan sekarang dia juga yang merasa kehilangan? Oh, tidak. Harga dirinya yang kelewat tinggi tidak akan mengizinkan hal itu sampai terjadi.

"Kosong?"

Mendongak, menemukan Kanon dan dua gelas Butterbeer berdiri di samping mejanya. Di kasir, Saga, kembarannya, sedang membayar minuman yang mereka pesan.

"Ya."

Kanon membuang napas dan tersenyum. "Syukurlah. Ini kali pertama aku ke Hogsmeade, dan tempat ini penuh sekali. Apa memang selalu seperti ini?" tanyanya setelah duduk.

"Selalu. Akan semakin penuh menjelang Natal dan Tahun Baru, dan beberapa hari perayaan lainnya," jelas Degel.

"Yo, Degel! Sendirian saja?" sapa Saga. Ia lalu menarik kursi dan duduk di sebelah Kanon. Kalau sedang duduk sebelahan begini, sulit untuk membedakan siapa yang mana, mana yang siapa. Keduanya sama-sama berambut pirang, garis wajahnya juga sama, begitu juga kelakuannya. Hanya saja, Saga lebih radikal sementara Kanon lebih diplomatis. Kalau soal nekad, ia pernah melihat dua orang ini lari-lari di sepanjang koridor karena menjahili hantu mengerikan dari asrama Slytherin, menabrak penjaga sekolah, lalu didetensi membersihkan toilet selama sebulan. Hal lain yang membedakan keduanya adalah, Saga bermata biru sementara Kanon bermata hijau-biru, dan Saga dari Slytherin sementara Kanon dari Ravenclaw. Namun, dua orang sableng ini sering memakai lensa kontak dan bertukar seragam, mengecoh guru dan teman-teman seasrama mereka. "Mana Kardia?" lanjutnya.

Oh, satu perbedaan lain. Saga lebih lemot dibanding Kanon.

"Aw! Apa sih, menginjak kakiku segala?" seru Saga, melotot tidak senang pada Kanon. Yang dipelototi hanya memberi tanda-tanda dan mengedikkan kepalanya ke arah Degel. "Apa?!" tanya Saga. Degel tersenyum tipis.

"Aku dan Kardia sudah putus, Saga."

Saga menoleh ke arah Degel, lalu ke arah Kanon, begitu selama beberapa menit sebelum membuka mulutnya. Untung Kanon sempat menutup mulut si Slytherin muda itu sebelum kekagetannya menarik perhatian ke meja mereka.

"Serius? Sungguh? Demi apa?" rentet Saga. Kanon menempeleng kepala kakaknya.

"Nggak usah alay!"

"Heh, yang kusebut barusan itu adalah versi bahasa bakunya. Perlu kubilang 'ciyus', 'cungguh', dan 'miap--

"Kubilang jangan alay!" sembur Kanon. Wajahnya merah, malu. Orang-orang di sekelilingnya mulai bisik-bisik. Saga hanya mengerucutkan mulutnya, sembari tersenyum jahil.

"Tapi, serius kalian putus? Bukannya Kardia sangat jatuh cinta padamu? Aku sampai kesal sendiri saat ia teriak-teriak di telepon waktu libur musim panas, laporan padaku kalau kalian akhirnya jadi. Belum juga segala kegalauannya selama dua tahun pertamaku. Aku sampai hapal sendiri apa hobimu, bagaimana caramu makan, kebiasaanmu membetulkan kacamata, dan lainnya," misuh Saga. Kanon mengangguk-angguk.

"Dan karena Saga tidak punya tempat sampah, maka aku yang jadi tempatnya memisuh. Tapi, Saga, sudah tahu Kardia mengesalkan begitu, kenapa masih mau berteman dengannya?"

"Kardia itu tipe orang yang tidak akan mau kau jadikan musuh, Kan. Percaya padaku."

"Oh, begitu? Badut konyol begitu?"

"Sekarang ditambah Milo pula. Bisa kubayangkan, betapa hebohnya asrama Gryffindor sekarang," Saga menghela napas. Kanon menepuk-nepuk pundak saudaranya, simpati. Saga dan Kardia sudah kenal sejak tahun pertama mereka di sekolah, lewat di Klub Duel. Keduanya sering adu mulut, adu otot, dan semuanya selalu diakhiri gelak tawa dan pesta pai labu hasil selundupan. Sejak itu, setiap ada waktu, Kardia maupun Saga selalu menyempatkan diri bertemu di Aula Besar atau menyelundup masuk ke dalam asrama satu dan lainnya, untuk sekedar mengobrol santai atau berdebat sengit, atau menggosip, atau menggalau--meski yang terakhir adalah hobi Kardia. Degel memperhatikan obrolan dua orang di hadapannya sambil sesekali meneguk minumannya.

Kardia. Sejak awal kelas dua, perhatian Kardia padanya memang terlihat berlebihan. Dengan sengaja, Kardia mengambil kelas-kelas yang sama dengannya, tidak peduli betapa tidak sukanya ia dengan Rune Kuno. Menunggunya pulang setelah selesai kelas Ramalan--yang tabrakan jadwal dengan kelas Arithmancy yang diambil Kardia, menemaninya berjam-jam di perpustakaan, dan menyelundupkan puding coklat dari dapur untuk menemaninya belajar. Hal-hal remeh, tapi Degel sendiri bukan orang yang peka. Lebih lemot daripada Saga, sebenarnya. Setelah dua tahun mengira-ngira kenapa Kardia sebegini baik padanya, dan dengan satu tempeleng keras di kepala dari teman seasramanya, Manigoldo, baru ia tahu kalau Kardia suka padanya.

Jatuh cinta, tepatnya.

Lalu, pada tahun keempatnya di sekolah sihir ini, barulah ia merespon sikap Kardia, dan mulai memberikan perhatian-perhatian kecil untuk si manusia kelebihan energi itu. Mengesampingkan ketidaksukaannya dengan duel, ia menonton pertandingan kecil-kecilan Kardia di Klub Duel. Menemaninya di bangsal rumah sakit kalau penyakit lamanya mulai kambuh, menggenggam tangannya sementara Kardia berjuang melawan rasa sakit, dan merasa sangat khawatir saat Beater dari Tim Quidditch itu melepas kedua tangannya dari sapu atau bergelantung dengan satu tangan untuk memukul bola atau terlempar dari sapu karena dihantam bola.

Oh, oh. Muncul lagi, sesak aneh yang terus muncul sejak mereka berpisah.

Selama itu Kardia melakukan pendekatan, dan secepat ini dia memutuskan untuk berpisah.

Untuk yang kesekian kalinya, Degel menghela napas. Saga dan Kanon masih mengobrol panjang lebar di hadapannya. Untuk pertama kalinya, ia merasa sepi tanpa kehadiran Kardia di sisinya.

Monday, 17 September 2012

Years of Youth #4

disclaimer

Harry Potter : J.K. Rowling
Saint Seiya : Masami Kurumada
.
.
.

Ruang Bersama asrama Gryffindor. Api menyala di perapian,  menguarkan gelombang panas ke penjuru ruangan. Karpet empuk berbulu terhampar di hadapannya, sofa-sofa empuk warna merah tersebar di ruangan. Di sofa panjang di satu sisi ruangan dekat tangga menuju asrama pria, Kardia berbaring tengkurap. Kepalanya tenggelam di satu bantal apel merah besar kiriman orang tuanya pada Thanksgiving kemarin. Buku Transfigurasi Menengah terbuka lebar di lantai, dengan satu pembatas buku warna biru cerah ada di tengah-tengah halamannya.

"Hhhh...." Lalu Kardia berguling miring ke kiri dan memeluk bantal apelnya. Matanya menatap sofa kosong di depannya.

"Oi, Kardia."

Kardia sedikit mendudukkan dirinya dan menemukan Milo sedang melihatnya bingung di pintu masuk. Di belakang Milo, Nona Gendut sedang memisuh-misuh menyuruhnya cepat masuk.

"Apa?" jawab Kardia sebelum menghempaskan diri ke sofa lagi. Milo berjalan menuju Ruang Bersama dan berdiri di samping seniornya itu.

"Aku dengar kau putus?"

BUK!

"Aduh!" seru Milo yang dilempar bantal telak di wajahnya. Ia lalu memungut bantal Kardia dan mendudukan dirinya di sofa single di samping sofa panjang Kardia. "Benar rupanya."

"Benar apa?"

"Benar kalau kalian putus. Pantas saja, Unity dari kelas empat mulai mengekor Degel kemana-mana, begitu juga seorang berambut pirang yang kutahu bernama Rada... Rada? Radameleng? Radamancing?" Milo bertanya-tanya bingung.

Kardia tiba-tiba duduk, membuat Milo sedikit terkejut. Ekspresinya campur aduk antara kaget dan horor. "Rhadamanthys, dari Slytherin?" tanyanya tidak percaya.

Milo mengangguk. "Ah, ya! Anggota trio Slytherin itu. Minos, Aiacos, Rhadamanthys. Kenapa?" tanyanya. Kardia langsung bersandar dan wajahnya terlihat cemas. Milo mengerutkan dahinya bingung. Kardia menengok pada Milo.

"Jangan pernah berurusan dengan Rhadamanthys, Milo. Apalagi dengan si kepala perak Minos. Tiga orang itu sinting. Gila. Aku pernah lihat sasaran Minos dengan sengaja dimantrai kutukan Imperium. Untung saja kali ini orang tidak waras itu jatuh kaki di kepala untuk Albafica. Tapi, Rhadamanthys... brengsek!!!"

"Woa, tenang-tenang," Milo berdiri dan mengangkat tangannya. "ada apa dengan si Rhadamanthys ini?"

"Rhadamanthys punya kecenderungan sadis."

"Dan kau masokis. Aku ta--

"Dan ia sudah mengejar Degel sejak pertama kali kami masuk ke sini."

Milo mengangguk, mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini. "Lalu?"

"Sudah pasti, dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Degel. Apapun, Milo. Apapun."