Terkadang, hidup itu, bukan soal pilihan.
Bukan soal memilih.
Dan bukan soal dipilih.
Seringnya, panggung sandiwara ini membuat kita mau-tidak-mau, suka-tidak-suka, memilih sesuatu. Mengesampingkan yang lain.
Mengorbankan perasaan.
Seringnya, dunia ini memaksa kita memangku beban begitu besar di kedua pundak. Memikul tanggung jawab seberat dunia.
Membuang bahagia demi sejenak keputusasaan bernama derita.
Siapa sangka setelah derita ada asa? Siapa kira derai air mata ternyata jeritan rindu?
Bisa jadi, kisah pilu tidak berakhir sendu, 'kan?
Mungkin perlu ditampar sampai hatinya pecah, mungkin perlu diberitahu dengan cara paling kasar yang pernah ditemukan oleh manusia agar logikanya patah. Mungkin perlu dibuat menangis begitu keras dan perih teramat dalam agar tersadar.
Mungkin perlu merasakan sakit yang membuat hampa untuk bisa kembali diisi oleh rasa.
Orang zaman dulu bilang, sesal di akhir tiada guna. Pertanyaan besarnya adalah, apa yang perlu disesalkan?
Kenapa harus menyesal?
Pertanyaan ngasalnya adalah, buat apa menyesali sesuatu yang memang dipilih sen-di-ri?
Lalu, alasan dewa-nya adalah, dunia ini dan seluruh isinya berkehendak supaya pilihan ini yang dipilih, dan bukan yang lainnya.
Dan lagi, pertanyaan selanjutnya adalah,
memangnya siapa yang ada di dalam kepala, selain diri sendiri?
-kecuali kita hidup di zaman sci-fi di mana keberadaan alien-alien parasit yang bisa mengendalikan pikiran orang itu benar adanya-
Tidak ada nomor satu atau nomor dua. Nomor tiga atau nomor empat. Opsi cadangan atau opsi utama. Plan A atau Plan B.
Oke, ralat.
Semua hal itu, ada. Nyata. Untuk manusia.
Tapi apakah manusia yang menentukan terjadinya segala sesuatu di muka bumi ini?
Apakah salah kalau manusia memiliki sejuta pilihan dan ternyata jalannya adalah pilihan ke sejutasatu?
Apakah salah kalau memilih untuk menyayangi tanpa balas?
-karena cinta adalah kata yang terlalu banyak digunakan dan digunakan terlalu cepat-
Apakah salah kalau menyayangi seseorang adalah pilihan terakhir yang bisa diambil ketika semuanya sudah tidak ada ujungnya?
Kalau semuanya sudah berakhir tanpa sempat dimulai?
Kalau semuanya berhenti tanpa sempat diakhiri.
.