Thursday, 28 February 2013

Years of Youth : Later #1

Harry Potter (c) J.K. Rowling
Saint Seiya (c) Masami Kurumada
Saint Seiya Lost Canvas (c) Shiori Teshirogi
Saint Seiya Omega (c) Toei Animation

.
.
.

"Slytherin!!!"

"APA?!"

Yang berseru bukanlah yang baru saja ditentukan asramanya oleh Topi, melainkan dua orang berparas mirip dengan rambut pirang ikal serupa. Bedanya, yang satu duduk di salah satu kursi di meja panjang berpanjikan singa emas berlatar belakang merah membara, yang lainnya duduk di meja panjang di depan para murid. Keduanya berdiri secara bersamaan, memasang wajah tidak percaya, dan berseru sangat keras sehingga semua mata yang di Aula Besar berpaling ke arah mereka. Sementara itu, yang baru saja ditentukan asramanya hanya menunduk diam tidak bergerak di kursi kecil, dengan Topi masih setia bertengger di kepalanya sambil sesekali bergumam-gumam tidak jelas.

Adalah Zeus, sang kepala sekolah berambut pirang keemasan, yang berdeham pelan dan mengembalikan fokus padanya.

"Milo dari Gryffindor, dan Sir Kardia, kembali duduk di tempat kalian masing-masing."

Kardia menunjuk-nunjuk yang mengenakan Topi sebelum akhirnya ber-'cih' pelan dan duduk lagi dengan tampang masam. Sementara itu, Milo mengerutkan dahinya. Tatapannya tajam dan aneh dan, marah. Ia menolak untuk duduk, namun upacara penerimaan murid baru tidak akan menunggunya. Jadi, ketika sang wakil kepala sekolah mencabut Topi dari kepala gadis kelas satu berambut pirang panjang yang menolak untuk menatap siapapun di ruangan itu. Dengan langkah lesu dan tidak rela, ia menyeberangi ruangan, menuju meja panjang yang dinaungi panji hijau berlambangkan ular perak, melewati Milo yang masih berdiri dan menatapnya ganas, lalu duduk di kursi yang ada dan disambut oleh seseorang berambut pirang.

"Aku Saga, Prefek Slytherin. Selamat datang di Slytherin, Sonia."

Saturday, 23 February 2013

YoY, scrap

"Kau tahu, Degel?"

"Ya?"

Aula Besar sudah kosong. Jam kuno di dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Degel yang sejak tadi diseret ke Aula untuk menemani Kardia belajar--menolak mentah-mentah ajakannya untuk belajar di perpustakaan dengan alasan alergi rak buku--kini menatap Kardia bingung.

"Kau tahu?" Ada nada serius yang aneh dalam intonasi Kardia.

"Ya?"

"Kurasa, aku tidak lagi cinta padamu."

.
.
.

bohongbohongbohongBOHONG!!!!!!!!!!!


Tuesday, 19 February 2013

Sweet Treat

Saint Seiya (c) Masami Kurumada
Saint Seiya Lost Canvas (c) Shiori Teshirogi
Saint Seiya Omega (c) Toei Animation


Kling!

Seorang gadis berambut merah muda pastel membuka pintu cafe. Ia tampak ragu ketika memasuki tempat tersebut. Separo badannya masih tertinggal di luar cafe. Banyak wajah yang tidak familiar baginya. Ia celingukan sesaat, mencari sesuatu.

"Sonia?"

Sonia mengalihkan pandangannya pada pria yang barusan memanggil namanya. Matanya melebar ketika melihat sosok pria tersebut.

"Camus!" serunya girang sebelum, akhirnya, benar-benar masuk ke dalam cafe dan segera menuju counter panjang dekat area kerja Camus. "Syukurlah, kupikir aku salah tempat."

Camus tersenyum tipis. "Kau selalu bisa menelepon, kau tahu?"

Sonia nyengir lebar. "Hehehe, aku lupa bawa ponsel."

Camus menghela napas. "Baiklah. Sebagai ucapan selamat dariku karena kau berhasil menemukan tempat ini, pilih saja menu apapun yang kau mau. Kutraktir," ujar sang pemilik cafe sambil mengedipkan mata. Mata Sonia berbinar dan senyum lebar merekah di wajahnya.

"Uh waw! Sungguh?"

Camus mengangguk. "Tentu saja."

"Apapun?" tanya Sonia, mengonfirmasi ulang lagi sementara tangannya sudah menyambar daftar menu dari sampingnya. Camus mengangguk mengiyakan. Buru-buru matanya bergerilya ke barisan huruf dan angka. "Mmmm, aku mau parfait strawberry!"

"Dengan ekstra es krim vanila?"

"Boleh?"

"Tentu saja. Bagaimana?"

Ada kilau yang familiar bagi Camus melintasi mata Sonia dengan cepat. Kilau yang membuatnya tidak bisa berkata 'tidak'. Kilau yang identik dengan....

"Aku juga mau! Parfait cokelat dengan ekstra es krim cokelat dan whip cream!"

"Aku juga! Banana split dengan ekstra es krim strawberry!"

...dengan kilau bocah-bocah kelebihan gula yang sangat ia kenal baik.

Siblings

Ciel membanting tasnya ke kasur, menimbulkan bunyi debam keras. Otaknya mendidih. Panas, menggelegak, tidak bisa berpikir jernih. Bukan karena dosennya tercinta baru saja melakukan tes kecil-kecilan yang susah minta ampun, atau karena objek cintanya membatalkan janji nonton demi mengurus sang pacar. Bukan.

Ia kesal, setengah mati, pada pernyataan teman-temannya di jurusan lain, yang menghakimi, semena-mena, dan nggak pake otak.

.
.
.

BRAK!

Luca terpaksa mengerenyit sembari menyipitkan mata ketika Ciel pulang. Ia masuk ke rumah dengan muka ditekuk, menabrak-nabrak meja makan, lalu membanting pintu kamarnya. Luca lalu menghela napas.

"Apa lagi 'sih, cowok paling rempong sedunia itu?"

.
.
.

"Gue ga rempong, Luke. Nggak rempong!" sembur Ciel.

Luca memutar mata lalu membenamkan wajahnya ke bantal coklat berbulu dengan motif tokoh kartun milik Ciel. "Iya, lo nggak rempong, tapi super duper amat sangat rem--

Duk!

"EH LO GA USAH JITAK-JITAK GUE, NYET!"

"GUE UDAH BILANG GUE GA REMPONG! MAU LO APA SI--

Bantal coklat melayang tepat menghantam wajah Ciel, memancing meteran emosinya yang sudah maksimum sejak kejadian tadi siang untuk semakin-semakin-semakin-semakin naik.

"ANJIR LUKE LO NGAJAK BERANTEM?!"

"SINI COWOK REMPONG! MAJU LO!"

.
.
.

"...Ga?"

"Hem?" Rangga menjawab sekenanya sembari membolak-balik majalah. Di sampingnya, Arya beringsut-ingsut tidak jelas.

"Itu, Ciel sama Luca apa dibiarin aja?"

Rangga menoleh ke arah datangnya keributan, kamar Ciel, lalu kembali ke majalahnya. "Biarin aja. Ntar juga adem sendiri."

Arya memainkan mulutnya, kebiasaan ketika ia tidak yakin dengan keadaannya. Rangga mendengus lalu menepuk-nepuk kepala adik keduanya itu.

"Santai, Ar. Mereka bukan lagi bocah yang mesti kita perhatiin tiap detik."

Arya mengangguk-angguk. "Oke deh. Gue udah lama aja nggak pernah denger mereka ribut besar begitu."

Rangga mendengus geli. "Bagus, dong? Makin ribut makin akrab," ujarnya, lalu tertawa-tawa, memancing gerutu tidak setuju dari Arya.

"Santai banget sih lo?"

"Kalo nggak begini, gue udah gila dari entah kapan. Susah tau, ngurus adek-adek yang range kelakuannya labil kayak lo semua. Hari ini imbisil, besok bego, lusa blunder parah ngapa-ngapain salah, besoknya lagi malah jadi ekstra jenius dan dapat diandalkan dalam keadaan apapun, tapi besoknya lagi malah memberontak cari-cari perhatian. Hebat aja lo semua sekarang pada sukses. Hebat guenya sih, bener ngedidiknya."

"Dih, mau lo aja."

Rangga angkat bahu. "Itu kenyataan, adekku sayang. Terimalah."

"Terserah. Gue mau ngelerai mereka deh," balas Arya, yang tidak bisa tahan dengan sikap narsis sang kakak sulung, sembari berdiri dan berjalan menuju kamar Ciel. Kini, teriakan-teriakan mereka sudah diselingi dengan benda-benda keras yang saling bertubrukan.

.
.
.

"NGGAK USAH BAWA-BAWA SUSAH MOVE ON!"

Boneka siberian husky pemberian Luca melayang cepat dan menabrak dinding.

"APA? MAU GUE UNGKIT URUSAN TADI LEYKA MILIH PACARAN DARIPADA NEMENIN LO NONTON?!"

Guling melayang menghantam wajah Ciel.

"EH BEKE! GA USAH NGELEMPAR KE MUKA GUE BISA?!"

Selimut kusut yang sudah berapa kali dilempar melayang melintasi ruangan, mendarat di atas kepala Luca, menghalangi pandangannya. Kesempatan ini tidak disia-siakan Ciel. Ia langsung merangsek, menerjang Luca sampai gadis yang sedang berlutut di atas kasur Ciel itu terjatuh dan berbaring dengan Ciel menindihnya. Luca bermaksud menendang Ciel, namun kakaknya beda lima menit itu berhasil menangkak kakinya. Tanpa basa-basi, ia langsung mengelitiki telapak kaki Luca.

"Cil! Jangan! Ka! Ki! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

"Nyerah ga lu? Heh? Nyerah ga?"

"Ka Rangga! Ka Arya! Tolong. Cil udaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah gue nyeraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!!"

.
.
.

Arya menghempaskan dirinya ke sofa kulit hitam empuk di depan televisi, membuat badan Rangga bergoyang sedikit ketika busa kursi yang didudukinya melesak karena berat badan si adik. Ia melirik pada Arya dari sudut matanya. Pemuda berkacamata itu sedang memindah-mindahkan saluran televisi dengan wajah datar.

"Udah, ngelerainya?"

"Beres sendiri kok."

Rangga mendengus. "Gue bilang juga apa."

"Hem."

"...."

"...."

"...."

"...."

"...apa?"

"Ranggaaaaaa adik-adik gue udah pada besar semuaaaa gue sediiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih."

"Aaaaaaah! Nggak ngelendot-lendot gitu ah! Panas ih! Jijik!" seru Rangga kesal, mencoba melepaskan diri dari pelukan Arya yang tiba-tiba.


Thursday, 14 February 2013

Stranger #4

Andreas & Shinji (c) Pratiwi Fitriani

.
.
.
.
.
.

Matahari mulai naik dari timur. Lidah apinya memancarkan gelombang cahaya, mewarnai langit dalam semburat kekuningannya yang megah. Fajar menyingsing, memancing jam tubuh untuk berdetak lagi setelah istirahat semalaman. Namun bagi Andreas, tubuhnya tidak bekerja dalam standar hitungan manusia. Jam tidurnya menghilang sempurna dalam larutan kesibukannya sebagai entitas reinkarnasi dewa. Pagi adalah malam, sore adalah siang, begitu seterusnya.

Andreas bekerja seperti orang gila, tidak kenal waktu dan tempat. Selesai dengan satu kasus, beralih ke kasus lainnya, begitu selanjutnya. Terus, sampai ia menemukan rekan yang sepadan dengan jam kerjanya yang gila-gilaan. Shinji.

Namun, segila apapun Shinji, sesinting apapun stamina pria itu, sebrilian apapun otaknya, pemuda itu tetap seorang manusia. Mortal. Kebalikan dengan dirinya. Bekerja dengan Shinji membuat ia kembali ingat bahwa meskipun ia tidak bisa mati dan bertambah tua, dia pernah jadi manusia, dan ia hidup di antaranya.

Dan itulah alasan dirinya bermalas-malasan di apartemen minimalisnya, dengan segelas kopi dan sepiring mozarella goreng. Matanya bergerak-gerak, memindai cepat lembaran kertas yang sedang dipegangnya. Semenjak menjadi rekan Shinji, ia jadi sering menghabiskan banyak waktu untuk beristirahat--menyesuaikan dengan kebutuhan tetangga sebelahnya. Tergantung seberapa berat kasus yang mereka selesaikan, Andreas akan memberikan hari libur bagi Shinji, membiarkan pemuda itu menikmati hidupnya.

Begitulah, mengapa ia bisa tergeletak bosan di atas sofa, dengan anjing Siberian Husky-nya ikut-ikutan malas-malasan di dekat jendela.

"Apa sebaiknya aku jalan-jalan, ya?"

"Woof."

"Atau mengganggu Shinji? Menurutmu yang mana, Nara?"

"Woof. Woof."

.
.
.
.
.

Dugh! Dugh!

"Shinji! Cepat keluar! Ayo kita kerja lagi! Shinji!"

Dugh! Dugh!

Shinji mengerang, kesal dan mengantuk. Tanpa ada niatan sedikitpun untuk menggubris orang bodoh di luar, ia kembali bersiap masuk ke alam mimpinya.

Cklik.

Shinji menggeram. Bunyi derap langkah yang menghentak-hentak menandakan tetangganya yang gila kerja itu sudah memasuki tempat sucinya, melanggar privasinya dengan meminjam kunci pada pemilik apartemen. Langkah ringan yang mengikuti menandakan bahwa peliharaan si bodoh yang sama bodohnya itu ikut masuk ke dalam ruangan. Sudah berapa kali Shinji bilang untuk tidak memasukkan anjing ke dalam apartemennya?

Tanpa basa-basi, Andreas membuka pintu kamar tidur Shinji. "Oy! Shinji! Bangun! Ayo kita kerj--

"...."

Andreas mengedip beberapa kali, meragukan matanya sendiri. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keadaan kamar ini. Masih kosong dan monoton, dengan beberapa foto di atas meja, ponsel, jam tangan, dan lainnya. Pakaian Shinji juga berhamburan seadanya di lantai. Pemuda itu memang punya hobi tidur hanya dengan pakaian dalam saja. Kebiasaan Shinji setiap dia mendobrak masuk ke dalam kamarnya pun sama. Shinji mendudukkan dirinya, mengurut dahi, menatapnya kesal. Yang berbeda adalah, ada untai-untai keperakan yang menyembul dari balik selimut, di sisi tempat tidur Shinji yang seharusnya kosong. Sisi yang biasanya dingin dan sepi itu kini menggunduk dan bergerak-gerak, begitu juga surai perak yang menyembul dari balik selimut.

"Shin?"

Telinga Andreas menangkap frekuensi suara yang lirih, tipis, serak, dan rendah. Tidak serendah suaranya atau Shinji, tapi jelas lebih rendah daripada suara Leyka.

"Tidur saja," Shinji menjawab pertanyaan penghuni tempat tidurnya sambil beranjak dari kasur, setelah sebelumnya mengacak rambut peraknya. Pada saat yang sama, makhluk misterius itu menyibak selimutnya dan mendudukkan dirinya. Matanya tidak fokus ketika mengikuti sosok Shinji yang bergerak menuju kamar mandi. Tatapannya lalu beralih pada Andreas, yang mematung dan membatu di pintu kamar.

"Halo, kau pasti Andreas. Namaku Freyr. Salam kenal."

.
.
.
.

"Woof!"

Stranger #3

Gancanagh menggenggam erat ujung pakaian Faux, seperti ketika mereka masih bocah ingusan dan dijebak di gang sempit oleh segerombol remaja yang iri setengah mati pada ketampanan kakak-kakak mereka. Bedanya, kali ini Faux tidak bergerak maju ke depan dalam usahanya melindungi sang adik yang bermuka datar, melainkan diam di tempat. Gancanagh melirik kakaknya yang terpaut tiga tahun itu, hanya untuk melihat ekspresi wajah campur aduk. Kaget, bingung, tidak percaya, dan heran bukan kepalang. Gancanagh lalu kembali menatap objek penglihatan mereka yang kini sedang mengurut dahinya.

"Leon, itu...siapa?" tunjuk Faux pada pemuda di sebelah kakak sulungnya. Leon menghela napas, Gancanagh mengeratkan pegangannya pada baju Faux. Leon lalu merangkul orang yang ditunjuk oleh Faux.

"Ini Zen. Pacarku. Kurang lebih."

"...."

"...."

"...."

"Oi, katakan sesua--

"AYAAAAAAAAAAAAAAH!!!"

"O--OI! FAUX! JANGAN PULANG DULU!"

"AYAAAAAAAAAAAAAAH!!! LEOOOOON!!! AYAAAAAAAAAAAAAH!!!"

"FAUX! BERHENTI! BERHENTI KATAKU!"

.
.
.

Debu-debu hasil kejar-kejaran kedua kakaknya itu pada akhirnya menghilang, menyisakan Gancanagh dalam keheningan tanpa ujung bersama pemuda-kekasih-hati-sang-kakak yang kini sedang berdiri di sebelahnya. Rambutnya ikal sebahu, tubuhnya sedikit lebih pendek dari Gancanagh. Ia menatap Gancanagh dan mengulurkan tangannya.

"Halo, kau pasti Gacchi? Namaku Zen."

Gancanagh ragu, kagok, awkward total. "Uh, ya." Kata-kata tanpa arti itu adalah yang berhasil ia ucapkan dalam keadaan canggung seperti itu. Ia menyambut uluran tangan Zen. Zen tersenyum lebar.

"Kau tahu? Leon selaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaalu cerita tentang kalian. Kurasa adik-adiknya adalah orang-orang yang menyenangkan, dan ternyata dugaanku benar! Faux persis seperti perkiraanku. Impulsif dan berisik, sementara kau cenderung diam namun sebenarnya otakmu itu sedang memproses segala macam. Yayaya, kalian memang benar-benar menarik," ujar Zen panjang lebar sambil mengangguk-angguk. Tangannya belum lepas dari tangan Gancanagh.

"Um, tanganku?"

"Lalu, kau harus tahu, kemarin Leon kalang kabut heboh tidak jelas gara-gara hari ini aku memaksa ingin datang ke rumah kalian. Kurasa, cara terbaik untuk bisa diterima adalah lewat adik-adiknya terlebih dahulu, bukan? Hehehe."

Gancanagh berusaha melepaskan pegangan tangannya, namun bahkan detektif muda itu tidak bisa melepaskan pegangan Zen dengan mudah, membuatnya bertanya-tanya tentang pekerjaan pemuda itu.

"Zen."

"Ya?" tanya Zen, yang kini sedang dalam proses menariknya keluar dari kerumunan.

"Pekerjaanmu apa?"

Zen mengerutkan dahinya sejenak. "Aku masih kuliah, sih. Kenapa?"

Gancanagh menggeleng. "Tidak. Tanya saja."

Zen mengedip sekali, lalu tersenyum sangat lebar. "Kalian memang saudara kandung. Kalau tidak pun, taruhan kalian berempat sangat dekat."

"Memangnya kenapa?"

"Karena, Leon pun suka tidak jadi bertanya dan mendadak diam aneh begitu kalau jawaban yang kuberikan tidak sesuai perkiraannya."

Monday, 11 February 2013

Stranger #2

Collab with Pratiwi F.

______________________________________________________________________________________________________________

"Biru."

"Hah? Ngomong apa lo?"

Zen menoleh pada Aki, yang menatapnya bingung. Lumpia udang diam beberapa senti dari mulutnya. Dahinya mengerut bingung.

"Biru, Ki. Itu orang rambutnya biru," ujar Zen pelan, nyaris berbisik, sembari menunjuk pada seorang pemuda di ujung meja panjang. Kedai dimsum tempat Aki dan Zen makan siang hari ini penuh sesak. Beruntung mereka berdua kenal dengan pemiliknya, sehingga meskipun keduanya datang pada rush hour begini pun, pelayanan terbaik tetap didapatkannya.

Aki menoleh pada pria yang dimaksud oleh Zen. "Di cat kali. Zaman sekarang rambut merah muda gonjreng aja udah sering banget gue liat berkeliaran di kampus. Kampus lo juga punya orang-orang dengan rambut ijo elektrik, 'kan?" ujarnya malas sebelum memasukkan lumpia udang ke dalam mulutnya. Zen mendengus.

"Gue udah bilang, kemarin himpunan ngadain festival, Ki. Pilihannya, rambut gue di cat ijo elektrik atau shocking pink. Lo tau sendiri, orang-orang kebanyakan belajar macem anak-anak himpunan gue sekalinya dikasih kebebasan bakal seliar apa," misuh Zen sebelum menyuap satu buah Ha Kau bulat-bulat ke dalam mulutnya. "Hanjirrrr enak bangeeeet."

"Bocah."

"Berisik," balas Zen ketus sebelum menyambar lumpia udang milik Aki dan memakannya dalam satu kali suap. Pipinya menggembung ketika ia berusaha mengunyah gorengan berukuran enam sentimeter dalam mulutnya tersebut. Aki mendengus. Emosi Zen yang naik turun seperti roller coaster tidak pernah bisa membuatnya tidak takjub. Mengomel tentang ujian praktik dan tugas lab sambil mengerjakan laporan di lima menit awal, kemudian tertawa-tawa keras dan menyanyi-nyanyi sumbang di lima menit terakhir dengan masih mengerjakan pekerjaannya. Bahkan otak sekaliber Aki pun tidak bisa berubah dari A jadi Z lalu kembali ke A dalam waktu lima menit saja.

"Eh tapi, serius deh Ki. Itu orang rambutnya kayak nggak wajar gitu! Biru dongker ampir item. Gue udah berapa kali pengen ngecat rambut macem gitu tapi nggak ada salon yang punya warna absurd kayak begitu."

"Mungkin dia orang asing, Zen. You'll find plenty of that kind of thing overseas."

Zen memajukan bibirnya, tidak setuju. "Mukanya muka Jepang, Ki."

"Nama lo juga nama Jepang, tapi muka lo?"

"Mmm, iya sih. Tapi gue penasaran, Ki!" Zen menarik-narik jaket Aki, memancing keributan yang tidak perlu di kedai tersebut. Sang pemilik, yang sedang memindah-mindahkan piring, hanya bisa melerai seadanya sambil tertawa-tawa.

.
.
.

Ini bukan kali pertama Leon pergi ke kedai dimsum sendirian. Adik-adiknya yang bawel itu pada akhirnya menemukan orang lain yang bisa diganggu seenaknya. Yah, meski kembarannya ternyata berlabuh pada seorang pria muda bertampang sangar, setidaknya hari-harinya ke depan bisa sedikit lebih tenang.

Atau setidaknya, perkiraannya.

Tempat ini adalah tempat favoritnya. Masakan cina bukan benda asing baginya, mengingat sang ayah yang hobi memasak sudah jutaan kali mencekoki dan memaksanya belajar masak. Namun, ada sesuatu dengan kedai ini yang selalu membuatnya datang lagi dan lagi. Entah interiornya yang simpel namun hangat, dengan meja-meja dan meja counter yang dekat dengan koki, atau mungkin fiber glass sebagai pengganti atap untuk menggantikan lampu di siang hari. Apapun itu, Leon betah berlama-lama di sini.

Namun, satu hari di rumah ketika sang ayah bertemu dengan kekasih kembarannya, kemudian berteriak-teriak garang dan marah-marah, lalu bertengkar dengan adiknya yang jago kendo, lalu memecahkan vas bunga dan menjatuhkan meja, semua kehebohan demi satu kalimat 'Aku akan menjaga kesucian Freyr!' , jadilah ia terusir dari rumah dan terjebak di tempat ini pada jam makan siang. Hiruk-pikuk, penuh sesak, ramai, berisik. Kepalanya mendadak pusing. Keramaian bukan nilai tambah baginya, meski pekerjaannya sebagai detektif membuat ia sering terjebak dalam kondisi begini.

Menyesap es teh leci yang baru diminum sepersepuluhnya sedikit, ia lalu mengedarkan pandangan. Ada sepasang kekasih yang ribut di meja makan dekat pintu masuk, segerombol anak muda yang tertawa-tawa keras di meja panjang dekat jendela, beberapa orang--mahasiswa sepertinya--yang makan dengan hidung menempel pada buku catatan, lalu dua orang di ujung meja counter tempatnya duduk yang sedang berdebat seru. Si pemuda yang lebih pendek dengan rambut ikal terlihat menarik-narik jaket temannya yang berambut cepak jabrik dan berkacamata.

Mungkin kakak-adik, pikir Leon sembari menyuap brokoli udang ke mulutnya.

Pikirannya kembali melayang ke rumah, pada pertengkaran tak terelak antara Freyr dan Raya--ayahnya. Ia tahu, Freyr sedikit aneh ketika mantan kekasihnya meninggal dunia setelah memutuskannya terlebih dahulu. Lebih aneh lagi ketika ia tahu kalau Echo tidak pernah mencintainya barang sedikit pun dan hanya menjadikannya pelarian dari Leon. Oh, pernyataan terakhir membuatnya terlihat brengsek.

Tapi sampai beralih orientasi? Leon mengurut dahinya lagi.

Bukannya kisah cintanya terbilang bagus. Sepuluh tahun lebih jatuh cinta pada seorang wanita tsundere, hanya untuk menemukan wanita itu mencintai orang lain. Mereka lalu menikah, punya anak, dan pindah ke kota lain. Mungkin ini karmanya karena merusak kisah cinta Freyr, atau sekedar salah satu skenario yang Tuhan rancang untuknya?

"Em, halo?"

Leon menoleh dan menemukan si pemuda yang tadi ribut di ujung meja sedang berdiri di sebelahnya. Matanya berkilat ingin tahu dan polos. Leon melihat sekelilingnya, mencari teman si pemuda ini, hanya untuk menemukan yang bersangkutan sedang berjalan menjauhi tempat itu dengan langkah terburu-buru. Fokusnya kembali pada bocah yang menyapanya.

"Halo. Ada yang bisa kubantu?"

Bocah itu terlihat ragu-ragu, sebelum berkata, "Boleh aku tahu, kau mengecat rambutmu di mana?"


Sunday, 10 February 2013

Good Bye

Langit kehilangan dirinya yang tenang, datar, dan acuh kala melihat nyawa Bintang merembes keluar dari kaki ke ubun-ubun, dicabut oleh malaikat bertudung hitam dengan seulas senyum tipis menenangkan. Dunianya seperti bergerak dengan sangat lambat, seperti aksi di layar lebar. Bagaimana letusan mesiu terdengar, lalu Bintang yang mengangguk sangat singkat dengan senyum lebarnya meskipun ngeri akan kematian terpantul jelas di kedua mata coklatnya, kemudian sembur darah dari lehernya yang menyiprat ke lantai, disusul oleh debam singkat dan jerit histeris orang-orang serta Bintang transparan yang berdiri dan melambaikan tangan padanya.

"Sampai jumpa lagi, Langit. Semoga kita ketemu lagi kalau kamu udah jadi nenek-nenek dengan banyak cicit."

Stranger

Shinji (c) Pratiwi F.

__________________________________________________________________________________________________________________________

Warna rambutnya ambigu. Tidak platina seperti kebanyakan orang Rusia, bukan juga pirang seperti rambut seorang cewek berisik blasteran yang dikenalnya. Perak, cenderung putih, namun tidak ada satupun garis wajah pemuda itu yang menunjukkan tanda-tanda bahwa ia sudah hidup lebih dari setengah dekade. Yang diperhatikan tetap meneguk minumannya sambil sesekali menengok kanan-kiri, kentara sekali bahwa ia orang baru di bar ini.

Shinji menghisap rokoknya dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan asap karbon beracun. Entah ia sudah bosan, atau memang sedang lelah, namun pekerjaan terakhirnya dengan Andreas cukup untuk membuat pria itu ogah pulang ke rumah. Salah-salah, manusia imortal workaholic yang tinggal di apartemen sebelah memutuskan untuk menggedor pintu rumahnya jam empat pagi hanya karena sejumput petunjuk tentang sisa makhluk percobaan. Bah!

Perhatiannya kembali pada pemuda yang duduk tiga meja darinya, yang kini balas memperhtaikan. Ia bisa melihat mata hijaunya berkilat, memantulkan cahaya kuning-oranye dari penerangan remang-remang. Ada yang asing dari tatapannya, namun Shinji tidak ambil pusing. Peduli setan. Bertemu apa yang disebut orang-orang sebagai alien atau makhluk gaib sudah menjadi makanan sehari-harinya. Ia beranjak dari mejanya, menggamit dua botol bir di jari, dan berjalan menuju meja si pemuda berambut perak.

"Selamat malam," sapanya.

Cukup ramah, pikir Shinji.

"Malam. Boleh aku duduk di sini?" Shinji mengedikkan kepalanya pada kursi kosong di depan si pemuda yang kini mengangguk singkat dan menyingkirkan gelasnya, menyisakan tempat di meja bagi tamu asingnya ini. "Shinji," lanjut Shinji, mengenalkan namanya sembari mengulurkan tangan. Pemuda asing itu menyambut uluran tangannya dan tersenyum tipis.

"Freyr. Freyr Halverg."