Showing posts with label Angst. Show all posts
Showing posts with label Angst. Show all posts

Sunday, 29 June 2014

Goodbye

Disclaimer :

K (c) GoRa & GoHands

.
.
.

Hari itu, tiga minggu setelah kematian Totsuka Tatara, dunia Suoh Mikoto runtuh seutuhnya.

Ketika Pedang Damoscles nya mulai jatuh dalam gemuruh, ia terlalu larut dalam perih harapan bahwa dirinya akan bebas di pelukan maut. Ia terlalu percaya bahwa Reishi akan menjalankan tugasnya sebagai Raja Biru dan mengirimnya ke alam sana dalam satu gerak cepat.

Ia lupa, bahwa sedingin apapun sang Raja Biru, satu potongan besar hatinya terisi oleh sosoknya. Sosok Suoh Mikoto.

Dan Reishi, tidak sekuat itu untuk dapat hidup tanpa Suoh Mikoto di dalamnya.

.
.
.

Yang ia lihat di hadapannya sosok pemuda yang terbaring dengan merah menggenang di sekelilingnya.

Semuanya terlalu cepat bagi Mikoto. Yang ia bisa tangkap, adalah bahwa Reishi melakukan sesuatu yang membuat Weissman level-nya kembali normal.

Dan Pedang Damoscles Reishi pecah jadi serpih.

"Su...oh."

Mikoto berlutut di samping Reishi. Matanya panas entah oleh apa. Ia menggenggam tangan Reishi yang terjulur ke arahnya. Dingin. Mikoto membakar aura merahnya untuk menghilangkan sensasi dingin tersebut, namun nihil.

Reishi semakin dingin, semakin pucat.

"Su...oh.... Maaf... aku tidak bisa membunuhmu."

"Apa maumu, Munakata?"

"Aku... tidak sekuat itu... Suoh." Reishi mengatur napasnya. Ia menekan bagian tubuhnya yang mengeluarkan darah. "Scepter 4 akan baik-baik saja tanpaku. Tapi HOMRA akan gila tanpamu. Dan aku...."

"Kau apa?"

"Aku... tidak...."

Aku tidak mau membunuhmu. Aku tidak bisa kehilanganmu.

"Dan kau pikir, yang kau lakukan ini tidak akan memberikan efek apapun padaku?"

Reishi mengerjap sesaat, lalu tersenyum tipis. Napasnya makin berat, matanya semakin mengantuk.

"Maaf.... Mikoto. Sampai... jumpa."

Saturday, 31 August 2013

A Snippet of A Heart

(c) Cassandra Clare

.
.
.

Magnus sudah hidup hampir delapan ratus tahun. Ia sudah mengalami ratusan kali jatuh cinta, ratusan kali patah hati, dan lebih banyak lagi melihat kematian merenggut nyawa para manusia dengan begitu mudahnya. Di masa awalnya sebagai seorang warlock, ia mensyukuri ketidakmampuannya untuk mati. Di masa mudanya, ia mengasihani para manusia, yang begitu putus asa mempertahankan kehidupan mereka sampai rela menjual jiwanya pada seorang Downloader sepertinya.

Seiring waktunya bertambah, semakin banyak pula jumlah manusia yang ia temui. Berbagai karakteristik manusia ia jumpai, dan akhirnya ia menemukan keindahan dari jiwa manusia yang begitu singkat itu. Seperti api, membakar paling panas dan menyala paling indah pada masa-masa akhirnya. Begitu hangat dan singkat, hidup manusia--kehidupan para makhluk fana.

Will Herondale, Camille Belcort, Axel von Fersen, sebutkan saja nama-nama makhluk yang membuatnya jungkir balik. Dibalik sikapnya yang angin-anginan, bahkan Pangeran Neraka Azazel pun tahu betapa loyalnya Magnus pada cintanya. Ia rela mengorbankan semuanya; tenaga, waktu, dan hatinya, untuk bisa membahagiakan yang ia cintai dan sayangi. Ya, hati. Magnus bukanlah seorang warlock tanpa hati yang hidup semata-mata karena keabadian mereka. Waktu sudah mengajarinya begitu banyak, cukup untuk membuatnya menghargai jiwa setiap fana yang ditemuinya.

Dan meskipun hatinya patah setiap kali objek cintanya dijemput oleh Azrael, tidak pernah sekalipun ia menyesali waktunya yang tanpa akhir ini. Tidak.

Kecuali, saat ini.

Bau obat-obatan begitu menyengat hidungnya. Semua tempat tidur berseprai putih yang berjajar ini membuatnya gila. Pertempuran antara Shadowhunters, faeries, dan Downloaders dengan Jonathan Christopher Morgenstern dan pasukan Shadowhunters gelapnya sudah selesai. Pemenangnya, well, Magnus tidak akan bisa duduk manis di salah satu sisi tempat tidur jika memang Putra Valentine itu yang menang. Jace Herondale memenangkan pertempuran epik ini. Ia dan Clarissa Morgenstern berhasil membuktikan pada dunia bahwa memang malaikat-lah yang pada akhirnya akan memenangkan segala macam pertempuran yang melibatkan surga dan neraka. Bukan berarti para iblis tidak bisa memenangkan pertempuran gila ini. Namun ketika Iblis Utama dari jajaran malaikat jatuh yang mau bergabung dengan perang ini hanyalah Lilith, sedangkan Jace memiliki api milik Michael dalam dirinya dan darah Ithuriel mengalir dalam pembuluh Clary, apa dayanya? Hanya satu hal yang Magnus ketahui dari perang ego yang sudah menumpahkan begitu banyak darah ini.

Kau tidak bisa apa-apa jika berjalan sendirian.

Yang juga merupakan salah satu jawaban mengapa ia memilih untuk berdiam diri di bangsal rumah sakit di Institut, menggenggam tangan seorang Shadowhunter muda yang sedang terbaring tak berdaya dan hampir tanpa nyawa.

Perang selalu membawa korban, dan Alexander Gideon Lightwood adalah salah satunya.

Meskipun Magnus menolak untuk ikut serta dalam perang, hatinya tidak bisa berbohong. Seolah ada yang meremas dadanya ketika ia melihat kilatan cahaya di kejauhan--di tempat terjadinya perang. Ia membayangkan ada di sana, melihat kekacauan, darah, dan pembunuhan yang sedang terjadi. Ia membayangkan Jace membelah satu keturunan Lilith jadi dua bagian, Izzy mengayunkan cambuknya dan menghabisi apapun yang berada di jalannya, Simon melompat kesana-kemari memamerkan taringnya dan merobek leher lawannya, dan Clary, well, Clary menjadi seorang Clary. Berteriak dramatis, menyerang dramatis, merayakan kemenangan dan panik dengan dramatis. Kau tidak bisa membayangkan seorang drama queen menjadi tidak dramatis di saat-saat penuh drama seperti ini.

Lalu, pikirannya teralih pada Alec. Kekasih fananya yang begitu--manis. Ia tidak bisa berbohong bahwa Alec bukan tipenya dan bahwa ia tidak pernah jatuh cinta pada pria lain selain Alec. Will dan Axel--dan kini Alec--adalah salah satu contoh betapa rambut hitam dan mata biru tidak pernah berhenti menjentikkan listrik ke dalam hati Magnus, yang membuat perutnya seperti berisi ribuan lebah terbang. Karena kupu-kupu terlalu mainstream.

Alec, yang begitu canggung dan tidak pandai berkata-kata. Alec, yang membiarkan dirinya dipanggil 'sweet pea' ataupun 'darling' atau apapun oleh Magnus dan hanya mendengus saja sebagai responnya. Alec, yang begitu cemburu pada kisah masa lalunya. Alec, yang begitu ingin tahu tentang bagaimana kehidupannya, siapa saja yang sudah ia temui, apa saja yang sudah ia lakukan, siapa ayahnya yang sesungguhnya--yang seharusnya sudah diketahui oleh Nephilim muda itu mengingat begitu banyak petunjuk mengenainya. Alec, yang begitu putus asa mengenai kefanaannya. Alec, yang putus asa karena kemampuan Magnus untuk mengubahnya menjadi abadi tanpa harus menggunakan sihir hitam atau mengubahnya menjadi vampir. Alec, yang begitu putus asa sampai mau membuat kesepakatan dengan Camille demi memangkas nyawa Magnus.

Alec, yang begitu mencintainya sampai ia jatuh terlalu dalam di kegelapan hatinya sendiri.

Pertama kali dalam hidupnya, Magnus begitu membenci keabadiannya, ketidakmampuannya untuk mengakhiri waktunya dengan cara yang normal, kemudaannya, semuanya.

Magnus--yang pada akhirnya memutuskan untuk ikut berperang demi melindungi Alec, secara diam-diam--tidak bisa melupakan kengerian yang begitu nyata baginya saat itu. Bukan ketika pada akhirnya Jace membunuh Jonathan, namun saat Alec rubuh ke tanah bergenangkan darah. Darahnya.

Mata kucing Magnus mengecil. Inderanya lebih sensitif entah berapa ribu kali. Pita suaranya protes ketika ia berteriak panik. Otot kakinya menyerah saat ia akhirnya sampai di tubuh Alec yang bergelimang darah.

Pandangannya gelap. Total, dan saat itu juga ia membayangkan rasa yang lebih buruk daripada mati.

Yaitu ketika hatimu dibawa ke alam kematian oleh jiwa yang memilikinya, sementara tubuh dan jiwamu terbelenggu oleh rantai keabadian sampai akhirnya malaikat maut sudi mencabut nyawamu.

Magnus memejamkan mata, berusaha menelan pahit yang mendadak muncul di pangkal lidahnya ketika ia mengingat kronologi kejadian tersebut. Bayangan Alec yang mati meninggalkannya. Lagi.

"Alexander," lirihnya. Nama Alec begitu merdu di telinganya. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam duduk di atas sofa dengan hanya melantunkan nama Alec saja terus-menerus dan tidak bosan karenanya. Untuk pertama kali dalam sejarahnya sebagai seorang warlock, Magnus merasa putus asa. Entah apa yang berhasil melukai Alec, ia tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Hanya satu yang Magnus tahu. Apapun itu, ia berasal dari dunia bawah.

"Alexander, kumohon, sadarlah." Genggaman Magnus pada tangan Alec semakin erat, seolah berusaha menarik Alec dari kegelapan manapun yang saat ini sedang ia jelajahi.

"Maaf, aku memutuskan untuk berpisah denganmu hanya karena alasan konyol soal kepercayaan. Maaf, aku  lupa betapa rapuhnya hatimu. Maaf, Alexander. Aku akan meminta maaf padamu sebanyak yang kau mau. Aku akan menceritakan padamu tentang hidupku. Tentang Will, tentang Camille, tentang Woolsey, Peru, balon udara, London, semuanya. Aku akan mencari cara, bagaimana membuat kita bisa terus bersama sampai selama-lamanya. Karenanya, aku mohon, Alec...."

"Buka matamu."

.
.
.

Karena aku tidak sanggup hidup sendirian di waktu yang tanpa batas ini tanpa dirimu di sisiku, Alexander.

Saturday, 1 December 2012

Insanity

Saint Seiya © Masami Kurumada
.
.
.

Ego.

Kesadaran utuh tanpa paksaan yang mengatur langsung perilaku dan pikiran, dan adalah satu bentuk akal yang setiap harinya bersentuhan dengan kenyataan.

Id.

Keinginan instingtif tanpa pertimbangan akal, yang mementingkan diri sendiri di atas segala-galanya.

Superego.

Kesadaran eksekutif. Dimana semua perilaku Id dan Ego pada akhirnya akan dibawa kehadapan Sang Superego untuk kemudian dieksekusi dan diputuskan kebenarannya.

.

Hilang satu, dan kau akan mengalami sesuatu yang disebut kelainan mental. Gila. Sinting. Hilang akal. Tidak waras.

Hilang dua, mungkin kau mengalami ancaman masuk rumah sakit jiwa selama lebih dari lima belas tahun.

Hilang semuanya?

.
.
.

"Saga."

Kanon berbisik lirih di hadapan sosok identiknya. Sekilas, orang tidak akan bisa membedakan mana Kanon-mana Saga. Namun, hanya butuh lima detik untuk tahu siapa yang mana. Tatap saja matanya.

Mata biru yang sejernih lautan dan menghipnotis. Berkarisma, memancing debar tidak karuan. Hidup, menyala, meledak-ledak, terkadang berkilat nakal dan seringnya terlihat manja. Sosok yang dewasa sekaligus kekanak-kanakan. Enerjik dan memberi bahagia.

Mata biru kelam, gelap, suram. Kosong dan hampa, menyedot yang menatap ke dalam jurang dalam tanpa dasar. Keputusasaan seolah mengalir keluar tanpa terbentung, membentuk aliran air di kedua sudut mata. Gurat wajah yang lelah dan hati yang patah lalu pecah jadi kepingan tajam. Sosok mayat hidup yang terduduk diam mematung dalam kehidupan dunia tidak nyata, terbelenggu masa lalu.

.

Hari cerah di Athens. Matahari bersinar cukup terik untuk memaksa anak-anak muda memakai pakaian tipis dan menenggak berbotol-botol air dingin. Hari yang damai untuk ukuran kota tersibuk nomor sekian di dunia.

Damai, dengan suara sirine memekakkan telinga berderu kencang di satu sudut jalan. Damai, dengan satu jeritan putus asa memanggil-manggil nama yang terkasihnya terus diulang tanpa henti. Damai, dengan air mata jatuh deras ke bumi ketika cairan merah yang hangat merembes ke tanah.

Damai, sedamai tidur panjang Aiolos untuk selamanya.

.

Ketika Id gagal  mempertahankan eksistensinya, maka Ego akan kehilangan kendali tentang kewarasan. Ego akan kehilangan pegangan tentang sejumlah fakta primitif mengenai kemampuan bertahan hidup. Ketika Ego terjebak dalam ilusi realita, maka Superego--yang kaku--akan mengeksekusi keputusan Ego, tanpa sedikitpun mempertanyakan. Lama kelamaan, Superego akan mulai bergeser, mempertanyakan keputusannya tentang benar dan salah, tentang nyata dan tidak. Semakin Ego hilang kendali, semakin pula Superego akan semakin terdistorsi. Anomali-anomali akan mulai terlihat, muncul dalam satu perilaku paling dasar yang mungkin manusia dapat lakukan.

.
.
.

mencintai mimpi, menghapus realita, dan tetap hidup terjebak di dalam batas ruang dan waktu imajiner.

Monday, 24 September 2012

Years of Youth #6.5.2

Harusnya ia sedang ada di ruang bawah tanah halaman tengah, harusnya ia sedang bergelut dengan seekor tikus dan separuh-tikus-separuh-teko. Harusnya ia sedang bergelut dengan buku mantra dan buku tebal tentang Transfigurasi, harusnya ia sedang memperhatikan Sir Thanatos berubah jadi ratusan kupu-kupu biru sebelum kembali lagi menjadi manusia.

Yang Degel bingungkan, adalah kenapa ia bisa berdiam diri dan tidak mau pergi, mengesampingkan periode Transfigurasinya yang sudah mulai sejak tadi, dan malah mematung sambil membawa sekantong besar cokelat kodok hasil menyelundupkan dari dapur, di depan bangsal rumah sakit?

Baru saja tangannya menyentuh pintu, ia terbuka. Memperlihatkan sosok berambut merah-oranye keriting dan mata sewarna sama. Apollo menaruh satu tangannya di pinggang.

"Aku sudah menunggumu masuk sejak hampir dua jam yang lalu. Kenapa sih kau ini betah sekali berdiri seperti batu begitu?" ujarnya sambil mengisyaratkan perintah 'masuk'. Degel ragu-ragu, sebelum akhirnya melangkah masuk setelah ditatap galak oleh sang matron rumah sakit. Bangsal rumah sakit kosong, seperti biasa. Hanya ada beberapa tempat tidur yang terisi. Ia mengenali beberapa di antaranya adalah pemain Quidditch muda dari Hufflepuff yang tumbuh telinga kucing di kepalanya dan seorang lain yang dibebat sekujur tubuhnya--Degel mengenali mumi dadakan tersebut sebagai seorang Slytherin yang sudah lama menjadi duri dalam daging bagi Minos. Satu lagi tempat tidur yang terisi adalah tempat tidur yang paling hangat karena paling banyak kena sinar matahari. Menyembul dari selimut putih yang menutup sampai ke separuh kepala, untai-untai pirang keemasan yang bergelombang. Degel berhenti dua tempat tidur dari tempatnya berbaring, mengagumi bagaimana sinar matahari sore yang sedikit merah justru menambah kesan dramatis bagi surai emas itu.

"Kalau ke sini hanya untuk mengasihani saja, sebaiknya kau pulang."

Perut Degel seperti dililit ular kasat mata kala mendengar gumam tajam yang sedikit tenggelam. Genggamannya pada kantong cokelat mengerat. Ia menelan ludah gugup sebelum berjalan mendekati tempat tidur Kardia.

"Aku...dengar kau--

"Yayaya. Pergi sana."

"Kar--

"Pergi."

BRUK!

Kardia merasa punggungnya dilempar oleh sesuatu--banyak sesuatu--yang berbentuk kotak sebelum mendengar derap langkah Degel berlari melintasi ruangan, diikuti bunyi 'BAM' kelas ketika ia membanting pintu bangsal, memancing umpatan Apollo mengenai biaya perbaikan pintu. Kardia mengerang kesal sebelum berbalik dan melihat tumpukan kotak cokelat kodok berserakan di tempat tidur dan lantai di bawahnya. Ia lalu duduk dan menghela napas sebelum membuka satu bungkus. Diam beberapa saat, ia lalu memasukkan bulat-bulat satu bongkah cokelat itu ke dalam mulutnya, merasakannya lumer di dalam rongga mulut.

Manis, dan asin.

Karena rasa manisnya menghangatkan relung sekaligus meruntuhkan sisa-sisa pertahanan terakhir yang Kardia bisa lakukan untuk melupakan semuanya.

Saturday, 22 September 2012

Years of Youth #8

"Aku mencintaimu."

Suaranya tercekat. Tangannya meremas ujung sweater biru tua. Salju mulai turun dari langit.

"Aku mencintaimu, Degel."

"Su--

"Aku tahu." Kardia menutup mulut Degel dan menariknya dalam pelukan, mengubur wajah si Ravenclaw ke batas antara leher dan pundaknya. "Aku tahu semuanya sudah selesai. Tapi, aku mencintaimu, Degel. Tidak ada syarat, sepihak saja. Tidak masalah buatku."

Degel mendorong Kardia, mendorong keinginannya untuk tetap ada dalam kehangatan familiar yang ia sangat rindukan. "Berhenti, Kardia. Berhenti mencintaiku."

Dan Degel bersumpah, ia melihat ada kilat kecewa yang muncul dan menghilang dengan kecepatan sama di manik biru Kardia.

"Biarkan aku melindungimu, mencintaimu. Kumohon. Kau bebas mencari sendiri bahagiamu karena itu juga jadi bahagiaku. Setidaknya biarkan aku ada di sampingmu. Kumohon, Degel."

.
.
.

dan aku juga mencintaimu, jadi berhenti memulai lagi apa yang sudah kuakhiri, Kardia!!!

Monday, 17 September 2012

Years of Youth #4

disclaimer

Harry Potter : J.K. Rowling
Saint Seiya : Masami Kurumada
.
.
.

Ruang Bersama asrama Gryffindor. Api menyala di perapian,  menguarkan gelombang panas ke penjuru ruangan. Karpet empuk berbulu terhampar di hadapannya, sofa-sofa empuk warna merah tersebar di ruangan. Di sofa panjang di satu sisi ruangan dekat tangga menuju asrama pria, Kardia berbaring tengkurap. Kepalanya tenggelam di satu bantal apel merah besar kiriman orang tuanya pada Thanksgiving kemarin. Buku Transfigurasi Menengah terbuka lebar di lantai, dengan satu pembatas buku warna biru cerah ada di tengah-tengah halamannya.

"Hhhh...." Lalu Kardia berguling miring ke kiri dan memeluk bantal apelnya. Matanya menatap sofa kosong di depannya.

"Oi, Kardia."

Kardia sedikit mendudukkan dirinya dan menemukan Milo sedang melihatnya bingung di pintu masuk. Di belakang Milo, Nona Gendut sedang memisuh-misuh menyuruhnya cepat masuk.

"Apa?" jawab Kardia sebelum menghempaskan diri ke sofa lagi. Milo berjalan menuju Ruang Bersama dan berdiri di samping seniornya itu.

"Aku dengar kau putus?"

BUK!

"Aduh!" seru Milo yang dilempar bantal telak di wajahnya. Ia lalu memungut bantal Kardia dan mendudukan dirinya di sofa single di samping sofa panjang Kardia. "Benar rupanya."

"Benar apa?"

"Benar kalau kalian putus. Pantas saja, Unity dari kelas empat mulai mengekor Degel kemana-mana, begitu juga seorang berambut pirang yang kutahu bernama Rada... Rada? Radameleng? Radamancing?" Milo bertanya-tanya bingung.

Kardia tiba-tiba duduk, membuat Milo sedikit terkejut. Ekspresinya campur aduk antara kaget dan horor. "Rhadamanthys, dari Slytherin?" tanyanya tidak percaya.

Milo mengangguk. "Ah, ya! Anggota trio Slytherin itu. Minos, Aiacos, Rhadamanthys. Kenapa?" tanyanya. Kardia langsung bersandar dan wajahnya terlihat cemas. Milo mengerutkan dahinya bingung. Kardia menengok pada Milo.

"Jangan pernah berurusan dengan Rhadamanthys, Milo. Apalagi dengan si kepala perak Minos. Tiga orang itu sinting. Gila. Aku pernah lihat sasaran Minos dengan sengaja dimantrai kutukan Imperium. Untung saja kali ini orang tidak waras itu jatuh kaki di kepala untuk Albafica. Tapi, Rhadamanthys... brengsek!!!"

"Woa, tenang-tenang," Milo berdiri dan mengangkat tangannya. "ada apa dengan si Rhadamanthys ini?"

"Rhadamanthys punya kecenderungan sadis."

"Dan kau masokis. Aku ta--

"Dan ia sudah mengejar Degel sejak pertama kali kami masuk ke sini."

Milo mengangguk, mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini. "Lalu?"

"Sudah pasti, dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Degel. Apapun, Milo. Apapun."

Saturday, 4 August 2012

Until Death Do Us Apart

"Aniki...maaf...."

Shinji masih tidak percaya.

Ia menolak untuk percaya.

Napas pemuda di tangannya mulai berat, tercekat. Ia lalu memaksakan senyum tipis. "Maaf, Oniichan.... Aku...."

"Sayonara...."

Dan tangannya terjatuh. Lemas. Hilang.

.

.

.

Shinji tidak mau percaya. Ini hanya mimpi, pikirnya. Ia menolak percaya pada hangat air di tangannya, pada paras pucat pemuda di pangkuannya, pada merah pekat yang mengalir tanpa henti dari satu luka menganga di tubuh si pemuda. Ia menolak percaya pada sesak yang tumbuh di dada dan air mata yang mengalir tanpa aba-aba. Ia menolak percaya pada gemetar di kedua lengannya ketika memeluk erat tubuh dingin berharganya.

Shinji menolak untuk percaya pada kenyataan bahwa kini ia sendirian. Tidak lagi ditemani oleh suara menyebalkan dan tampang-minta-ditonjok di pagi harinya, tidak lagi ditemani celetukan asal yang membuatnya naik darah, atau kepala yang selalu bisa dijadikan kantung samsak pribadinya.

Tidak lagi, ditemani oleh Yuuji.

"Yuuji," bisiknya.

Tidak ada lagi yang menjawab panggilannya.

"Yuu...."

Atau sekedar menolehkan kepala dan memandangnya bosan juga mengantuk.

Tidak ada lagi yang memanggilnya kakak. Tidak ada lagi yang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu dan langsung berguling-guling di karpet tanpa menuntut apapun kecuali eksistensinya.

Tidak ada lagi adik untuk dilindungi, dimanja.

Tidak ada lagi Yuuji dalam hidupnya.

.

.

.

Hari itu, Shinji menangis. Meraung. Marah, putus asa. Untuk pertama dan terakhir kali dalam hidupnya. Untuk Yuuji-nya. Yuuji miliknya.

.

.

.

L.A.S.P (c) Pratiwi Fitriani

Monday, 25 June 2012

Goes Wrong

"Bisa kau beritahu padaku, kenapa semua ini bisa menjadi sangat salah?"

Erika tidak mau menatap Alex. Tidak bisa, tepatnya. Tidak setelah mereka ada di titik ini, tidak setelah mereka terjebak dalam keadaan ini.

Tidak setelah mereka tenggelam dalam rasa yang tidak masuk akal ini.

"Kau tahu apa yang salah," jawab Erika pada setelah jeda yang menyesakkan.

"Oh ya? Beritahu aku," bantah Alex.

"Kita. Aku dan kamu. Ini salah."

"Karena?"

"Karena kita saudara."

"Lalu?"

Erika, mengumpulkan segenap keberaniannya, menatap Alex dengan pandangan tidak percaya. Pemuda berambut cepak dengan garis wajah tegas di hadapannya sedang menatap dirinya dengan pandangan merendahkan. Erika hilang sabar.

"Justru itu yang salah! Aku dan kamu, kita, semuanya salah!" seru Erika. Alex mengerutkan kening ketika Erika berseru-setengah-teriak.

Satu hela napas, sebelum Alex memperbaiki posisi duduknya dan menatap Erika dengan intens.

"Itu tidak salah, Rik. Yang salah itu adalah orang tua kita. Berpisah seenaknya, memisahkan kita seenaknya, tidak tahu dan tidak peduli kalau kita sampai bertemu dan menganggap satu sama lain orang asing. Memikirkan hanya apa yang penting bagi mereka di hari itu. Itu, yang salah."

Jadi jangan pernah bilang kalau aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku adalah salah, karena cinta tidak pernah salah. Keadaan yang membuat semuanya salah.