Ctar!
"Wuah!"
"Yata-kun. Selamat!"
Kusanagi meledakkan confetti tepat di depan wajah Yatagarasu, membuat pemuda pendek berambut merah itu melompat ke belakang dan berseru kaget. Bartender yang selalu setia dengan kacamata hitam itu terkekeh geli melihat ekspresi wajah Yata.
"Sebagai raja yang baru, kau harus bisa mengontrol wajahmu dengan lebih baik, Yata-kun."
"A...apa maksudmu, Kusanagi-san?" seru Yata, yang wajahnya sudah semerah rambutnya. "A...aku bukan raja! Rajaku tetap Mikoto-san, sampai kapanpun!"
"Oh, jangan bergurau, Yata-kun. Sword of Damoscles sudah memilihmu, Mikoto sudah memilihmu. Kau lihat sendiri kemarin, saat pemakaman Mikoto. Bagaimana tiba-tiba tubuhmu terbakar dan Sword of Damoscles melayang di atas kepalamu. Belum lagi waktu aku bersalaman denganmu, tanda klan merah yang sempat hilang saat Mikoto meninggal mendadak kembali lagi. Kau adalah raja yang baru, Yata-kun. Atau, harus kupanggil Yata-sama?"
"Be...berisik! Sudah! Minggir, aku mau masuk!" seru Yata kesal, menggeser pemilik restoran kecil itu ke samping. Kusanagi bergerak, mengizinkan Yata masuk ke bar markas HOMRA. Lalu, raja kecil itu melempar dirinya ke sofa empuk dekat jendela. Kusanagi terkekeh melihatnya.
"A...apa?!" tanya Yata galak, tidak suka bagaimana seniornya itu mendadak tertawa tanpa alasan. Cukuplah orang mengolok-oloknya tentang bagaimana di antara semua anggota HOMRA, ternyata ia yang terpilih mewarisi gelar raja. Yatagarasu, Raja Merah Keempat. Memikirkannya saja sudah membuat perut pemuda berkupluk itu mulas.
Kusanagi menggeleng dan melipat kedua tangannya di dada. "Tidak. Hanya saja, meski kau menolak mati-matian gelar barumu, kekuatanmu, dan tanggung jawabmu dengan alasan kau tidak sepadan dengan Mikoto, sikapmu yang barusan itu, masuk dengan seenaknya dan langsung duduk di sofa itu tanpa basa-basi, sangat mirip dengannya. Kurasa tidak heran kalau di antara kami semua, ia akan menjadikanmu pewarisnya. Watak kalian terlalu mirip."
"...."
Yata tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara jelas yang terbentuk. Seolah otaknya hanya mampu memproses kata-kata saja tanpa bisa memerintah otot rongga mulutnya untuk bekerja. Wajahnya sendiri sudah semerah rambutnya. Setelah lama, Yata lalu menutup mulutnya dan menarik kupluk sampai sebagian matanya sementara ia sendiri melihat ke samping. Semburat merah masih mewarnai wajah dan telinganya.
"Ku...kuanggap itu sebagai pujian," ujarnya lirih, nyaris berbisik. Pada detik ini, Kusanagi tidak bisa lagi menahan diri. Ia tergelak keras, tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
"Tsundere! Mikoto, bahkan tsundere-nya pun mirip dengan dirimu!"
"Ber...berhenti tertawa begitu, Kusanagi-san!!!"
Showing posts with label Silvery Miracle. Show all posts
Showing posts with label Silvery Miracle. Show all posts
Wednesday, 30 January 2013
Sunday, 27 January 2013
Silvery Miracle #1
"Mikoto-san."
Putih. Sepanjang matanya memandang, hanya ada putih tanpa batas. Mikoto memandang tangannya, menggerakannya, kemudian mengepal. Pandangannya beralih lagi pada kehampaan di hadapannya.
"Mikoto-san."
Muncul lagi, suara itu. Suara yang jahil, usil, sekaligus karismatik.
"Mikoto-san, di belakangmu."
Mikoto berbalik dan menemukan pemuda pendek berambut putih keperakan berdiri dengan senyum tipis di wajah. Ia mengenalinya, sangat mengenalinya. Isana Yashiro, Adolph Weissman, Silver King, Colorless King, siapapun itu nama aslinya.
"Mau apa kau?"
Shiro terkekeh geli. "Bahkan setelah mati pun, Mikoto-san tetap Mikoto-san."
"Memangnya mau jadi apa lagi?"
"Iya, betul. Tentu saja." Shiro mengangguk-angguk. Mikoto lalu mendudukkan dirinya. Tidak benar-benar duduk, karena tempatnya sekarang berada tidak lebih hanya imajinasi tentang dunia setelah mati. Ia memang bernapas, merasa hangat, dan hal-hal lainnya yang pernah ia rasakan ketika dulu masih hidup, tapi sembilan per sepuluh sel otaknya percaya itu hanyalah ilusi dunia orang mati saja.
"Hei, Mikoto-san, bagaimana menurutmu tempat ini?"
Mikoto beralih pada Shiro yang kini sedang melayang di atasnya. Jika ini dunia nyata pun, Mikoto tahu pasti kemampuan klan Perak yang memanipulasi gravitasi membuat siapapun anggota klannya bisa melayang-layang seperti hantu, apalagi di dunia aneh ini.
"Membosankan."
Shiro tergelak lagi. "Sudah kuduga kau akan menjawab begitu. Kau mudah sekali ditebak, Mikoto-san."
"Bukan urusanmu."
Shiro lalu tersenyum tipis dan mendudukkan dirinya di samping Mikoto. "Mikoto-san, kau tahu kenapa Raja Perak tidak bisa mati?"
Mikoto tidak menjawab. Shiro menoleh ke arah mantan Raja Merah itu, yang bahkan tidak sedikitpun berusaha berpikir mengenai jawaban atas pertanyaannya.
"Kau tahu ini tempat apa?"
"Dunia orang mati."
"Sekarang kau sudah tahu, kenapa Raja Perak tidak bisa mati?"
Kali ini Mikoto menoleh ke arah Shiro. Wajahnya terlihat bingung. Shiro mendengus geli.
"Kau tahu, warna apa yang sekarang ini ada di sekelilingmu?"
"...putih."
Shiro menggeleng. "Bukan, Mikoto-san. Bukan. Coba, perhatikan lagi warnanya. Putih 'kah?"
Mikoto lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Putih, putih, putih. Mikoto bukan orang yang buta warna. Setidaknya iya pun, ia masih bisa membedakan warna putih dan bukan putih. Warna dunianya saat ini mengingatkannya pada musim dingin, ketika salju menumpuk di jalanan, ketika Anna dan Yata lari-larian sambil main lempar bola salju, ketika Kusanagi mengajaknya main ski dari tebing paling curam, atau ketika ia melihat Reisi Munakata terjatuh dengan tidak elitnya di hamparan putih perak salju karena terpeleset.
Ah.
"Jadi? Sudah tahu ini warna apa?"
"Perak."
Shiro tersenyum lebar. "Bingo!" Ia lalu berdiri dan meregangkan tubuhnya. "Perak, Mikoto-san. Seperak rambutku, rambut Weissman, rambut Neko, seperak Sword of Damoscles milikku. Seperak salju. Perak, Mikoto-san."
"Lalu?"
"Apa yang bisa dikendalikan oleh klan merah?"
Teka-teki lagi. Mikoto menghela napas. "Api."
"Klan Biru?"
Mikoto berpikir sejenak. "Pedang?"
"Itu senjata yang mereka gunakan," Shiro tidak bisa menyembunyikan geli pada nada suaranya. "Pada dasarnya, setiap warna memiliki ciri khasnya masing-masing. Merah dapat mengendalikan api, Tanpa Warna memberi ilusi, dan Perak memanipulasi gravitasi."
Mikoto makin tidak mengerti arah pembicaraan ini. "Lalu?"
"Lalu, kabar baiknya adalah, Perak juga mengatur kehidupan."
"Maksudmu?"
"Keabadian."
Mikoto memicingkan mata. Otaknya dipenuhi spekulasi arah pembicaraan. Shiro tersenyum semakin lebar.
"Singkatnya adalah, aku bisa menghidupkanmu kembali, Mikoto-san. Kau dan juga anggota HOMRA yang dibunuh oleh Raja Tanpa Warna. Hanya saja, aku tidak bisa mengembalikan kekuatan kalian. Raja Merah selanjutnya sudah dipilih, dan hanya boleh ada satu raja dalam satu waktu. Kalian bisa kembali memiliki kekuatan itu kalau Raja Merah mengakui. Yah, meski itu adalah kepastian yang tidak terelak, 'sih."
Mikoto mengerjap, mulutnya sedikit terbuka, tidak percaya. "Kenapa?"
"Kenapa apa? Kenapa tidak dari dulu? Karena, untuk bisa membangkitkan anggota klan yang mati, aku harus menghidupkan dulu rajanya. Anggota klan akan hidup lagi jika raja yang berkuasa di masanya hidup, asalkan itu kemauan si raja. Kalau sang raja merasa perannya di dunia sudah selesai, keadaan ini tidak diperlukan. Begitu."
Mikoto lalu berdiri dan menatap tajam Shiro. "Jadi?"
"Mikoto-san, kau ini memang pelit ngomong, ya?" canda Shiro. "Ehem, jadi, Mikoto-san, apakah kau mau hidup lagi? Apakah kau mau Tatara Totsuka-san hidup kembali? Apakah kalian mau menjadi anggota HOMRA dan klan merah untuk yang kedua kali?"
"Aku mau!"
Mikoto menoleh cepat ke belakang dan menemukan pria berambut coklat susu dengan senyum bodoh sedang berdiri di sana. Matanya yang sewarna dengan rambutnya berkilat kesenangan.
"To...Totsuka?"
"Halo, Mikoto-kun! Weissman-san sudah menjelaskan semuanya padaku. Jadi, semuanya terserah padamu, 'sih. Kalau kau mau kembali, aku ikut. Kalau mau tetap di sini pun, aku akan menemanimu." Totsuka bicara panjang lebar dengan senyum tidak bisa lepas dari wajah mantan penyanyi itu. Mikoto masih takjub dengan keadaan yang ada di depan matanya.
"Ehem, jadi, bagaimana?"
Mikoto menoleh ke arah Shiro, lalu Totsuka, lalu Shiro, lalu Totsuka lagi. Totsuka mengangguk, menyerahkan semua keputusannya pada Mikoto. Ia lalu berbalik menghadap Shiro.
"...."
.
.
.
Putih. Sepanjang matanya memandang, hanya ada putih tanpa batas. Mikoto memandang tangannya, menggerakannya, kemudian mengepal. Pandangannya beralih lagi pada kehampaan di hadapannya.
"Mikoto-san."
Muncul lagi, suara itu. Suara yang jahil, usil, sekaligus karismatik.
"Mikoto-san, di belakangmu."
Mikoto berbalik dan menemukan pemuda pendek berambut putih keperakan berdiri dengan senyum tipis di wajah. Ia mengenalinya, sangat mengenalinya. Isana Yashiro, Adolph Weissman, Silver King, Colorless King, siapapun itu nama aslinya.
"Mau apa kau?"
Shiro terkekeh geli. "Bahkan setelah mati pun, Mikoto-san tetap Mikoto-san."
"Memangnya mau jadi apa lagi?"
"Iya, betul. Tentu saja." Shiro mengangguk-angguk. Mikoto lalu mendudukkan dirinya. Tidak benar-benar duduk, karena tempatnya sekarang berada tidak lebih hanya imajinasi tentang dunia setelah mati. Ia memang bernapas, merasa hangat, dan hal-hal lainnya yang pernah ia rasakan ketika dulu masih hidup, tapi sembilan per sepuluh sel otaknya percaya itu hanyalah ilusi dunia orang mati saja.
"Hei, Mikoto-san, bagaimana menurutmu tempat ini?"
Mikoto beralih pada Shiro yang kini sedang melayang di atasnya. Jika ini dunia nyata pun, Mikoto tahu pasti kemampuan klan Perak yang memanipulasi gravitasi membuat siapapun anggota klannya bisa melayang-layang seperti hantu, apalagi di dunia aneh ini.
"Membosankan."
Shiro tergelak lagi. "Sudah kuduga kau akan menjawab begitu. Kau mudah sekali ditebak, Mikoto-san."
"Bukan urusanmu."
Shiro lalu tersenyum tipis dan mendudukkan dirinya di samping Mikoto. "Mikoto-san, kau tahu kenapa Raja Perak tidak bisa mati?"
Mikoto tidak menjawab. Shiro menoleh ke arah mantan Raja Merah itu, yang bahkan tidak sedikitpun berusaha berpikir mengenai jawaban atas pertanyaannya.
"Kau tahu ini tempat apa?"
"Dunia orang mati."
"Sekarang kau sudah tahu, kenapa Raja Perak tidak bisa mati?"
Kali ini Mikoto menoleh ke arah Shiro. Wajahnya terlihat bingung. Shiro mendengus geli.
"Kau tahu, warna apa yang sekarang ini ada di sekelilingmu?"
"...putih."
Shiro menggeleng. "Bukan, Mikoto-san. Bukan. Coba, perhatikan lagi warnanya. Putih 'kah?"
Mikoto lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Putih, putih, putih. Mikoto bukan orang yang buta warna. Setidaknya iya pun, ia masih bisa membedakan warna putih dan bukan putih. Warna dunianya saat ini mengingatkannya pada musim dingin, ketika salju menumpuk di jalanan, ketika Anna dan Yata lari-larian sambil main lempar bola salju, ketika Kusanagi mengajaknya main ski dari tebing paling curam, atau ketika ia melihat Reisi Munakata terjatuh dengan tidak elitnya di hamparan putih perak salju karena terpeleset.
Ah.
"Jadi? Sudah tahu ini warna apa?"
"Perak."
Shiro tersenyum lebar. "Bingo!" Ia lalu berdiri dan meregangkan tubuhnya. "Perak, Mikoto-san. Seperak rambutku, rambut Weissman, rambut Neko, seperak Sword of Damoscles milikku. Seperak salju. Perak, Mikoto-san."
"Lalu?"
"Apa yang bisa dikendalikan oleh klan merah?"
Teka-teki lagi. Mikoto menghela napas. "Api."
"Klan Biru?"
Mikoto berpikir sejenak. "Pedang?"
"Itu senjata yang mereka gunakan," Shiro tidak bisa menyembunyikan geli pada nada suaranya. "Pada dasarnya, setiap warna memiliki ciri khasnya masing-masing. Merah dapat mengendalikan api, Tanpa Warna memberi ilusi, dan Perak memanipulasi gravitasi."
Mikoto makin tidak mengerti arah pembicaraan ini. "Lalu?"
"Lalu, kabar baiknya adalah, Perak juga mengatur kehidupan."
"Maksudmu?"
"Keabadian."
Mikoto memicingkan mata. Otaknya dipenuhi spekulasi arah pembicaraan. Shiro tersenyum semakin lebar.
"Singkatnya adalah, aku bisa menghidupkanmu kembali, Mikoto-san. Kau dan juga anggota HOMRA yang dibunuh oleh Raja Tanpa Warna. Hanya saja, aku tidak bisa mengembalikan kekuatan kalian. Raja Merah selanjutnya sudah dipilih, dan hanya boleh ada satu raja dalam satu waktu. Kalian bisa kembali memiliki kekuatan itu kalau Raja Merah mengakui. Yah, meski itu adalah kepastian yang tidak terelak, 'sih."
Mikoto mengerjap, mulutnya sedikit terbuka, tidak percaya. "Kenapa?"
"Kenapa apa? Kenapa tidak dari dulu? Karena, untuk bisa membangkitkan anggota klan yang mati, aku harus menghidupkan dulu rajanya. Anggota klan akan hidup lagi jika raja yang berkuasa di masanya hidup, asalkan itu kemauan si raja. Kalau sang raja merasa perannya di dunia sudah selesai, keadaan ini tidak diperlukan. Begitu."
Mikoto lalu berdiri dan menatap tajam Shiro. "Jadi?"
"Mikoto-san, kau ini memang pelit ngomong, ya?" canda Shiro. "Ehem, jadi, Mikoto-san, apakah kau mau hidup lagi? Apakah kau mau Tatara Totsuka-san hidup kembali? Apakah kalian mau menjadi anggota HOMRA dan klan merah untuk yang kedua kali?"
"Aku mau!"
Mikoto menoleh cepat ke belakang dan menemukan pria berambut coklat susu dengan senyum bodoh sedang berdiri di sana. Matanya yang sewarna dengan rambutnya berkilat kesenangan.
"To...Totsuka?"
"Halo, Mikoto-kun! Weissman-san sudah menjelaskan semuanya padaku. Jadi, semuanya terserah padamu, 'sih. Kalau kau mau kembali, aku ikut. Kalau mau tetap di sini pun, aku akan menemanimu." Totsuka bicara panjang lebar dengan senyum tidak bisa lepas dari wajah mantan penyanyi itu. Mikoto masih takjub dengan keadaan yang ada di depan matanya.
"Ehem, jadi, bagaimana?"
Mikoto menoleh ke arah Shiro, lalu Totsuka, lalu Shiro, lalu Totsuka lagi. Totsuka mengangguk, menyerahkan semua keputusannya pada Mikoto. Ia lalu berbalik menghadap Shiro.
"...."
.
.
.
Subscribe to:
Posts (Atom)