Disclaimer : Shinji © Pratiwi Fitriani
“Freyr?”
Ketukan halus ragu-ragu di pintu kamar dan dengung nada
rendah yang sangat familiar membuat Freyr mau tidak mau kembali ke dunia nyata.
Satu minggu cuti kerja dengan alasan sakit—beruntung seniornya di kepolisian mengerti
apa yang baru saja ia alami, terima kasih karena Faux yang mulutnya seperti
ember bocor—membuatnya menghabiskan waktu mengurung diri di kamar dengan
tumpukan buku-hasil-merampok kamar Gancanagh. Baru saja ia merasa terhibur
dengan tumpukan komik konyol tentang seekor kucing bulat bernama Pojo, dan kini
ia harus menghadapi lagi pahitnya dunia.
“Freyr? Aku tahu kau di dalam.”
Freyr menghela napas dan menyimpan buku yang sedang
dibacanya.
“Apa maumu.”
Freyr tidak bertanya. Ia tidak mau lagi mempertanyakan
apapun yang pernah ada di antara dirinya dan pemuda di depan pintu kamarnya.
“Aku mau bicara denganmu.”
“Kalau aku tidak mau?”
“Sekarang kita sudah bicara.”
Freyr mendengus. Yang seharusnya ia lakukan adalah mengusir
pria itu dari rumahnya, dari kehidupannya, lalu hidup bahagia dengan aman,
damai, dan sejahtera selamanya.
Meski selamanya adalah hal yang mengerikan untuk dilalui
sendirian.
“Ya sudah. Bicara saja kalau begitu.”
Sunyi sekejap, kemudian ada tawa geli yang hampir tak
terdengar. Freyr menghela napas. Rasa yang tumpah di hatinya ini, entah apa
namanya. Tubuhnya lalu bergerak sendiri, melawan satu bagian otaknya yang
menjerit histeris dan menyalakan alarm tanda bahaya. Ia berjalan menuju pintu
dan membukanya, untuk menemukan pemuda tinggi berwajah malas dengan mata tajam
dan rambut seperti singa jantan. Satu detik Freyr melihat ekspresi kaget di
wajahnya, satu detik kemudian Freyr menemukan senyum tipis yang tidak pernah ia
tunjukkan padanya selama hubungan mereka sekian tahun ini, dan semuanya
bergerak dalam satuan waktu lain yang lebih lambat ketika dua lengan besar
merengkuhnya dalam satu pelukan erat.
Seolah ia pernah kehilangan, dan kini menemukan bagian
dirinya lagi.
“Freyr,” bisik Shinji. Shinji merapatkan dirinya, membuat
Freyr terpaksa berdiri di atas jari kakinya dan berpegangan pada pakaiannya
agar tidak jatuh. Shinji mengubur kepalanya di antara pundak dan leher Freyr,
mengeratkan pelukannya di pinggang Freyr.
Freyr, yang tidak akan pecah berantakan meskipun ia
memeluknya dengan erat. Freyr , yang tidak akan melindunginya dengan ganjaran
nyawa.
Freyr, yang pernah mencintainya
lebih dari apa yang pantas ia dapatkan.
Freyr, tidak tahu harus menyimpan tangannya di mana.
Di samping tubuhnya?
Di bahu lebar yang dulu hanya bisa ia lihat dari belakang,
dan kini ada tepat di depan matanya?
Atau di leher jenjang dengan surai-surai halus yang kini
menggelitik pipinya?
Freyr tidak tahu harus bagaimana, harus apa.
Ia hanya tahu, kalau hatinya penuh. Penuh.
Penuh oleh perasaan yang membuat seluruh logika
perhitungannya luluh lantah, oleh rasa yang membuatnya merengkuh leher dan
apapun yang bisa kedua lengannya raih dalam posisinya yang kikuk ke dalam
pelukannya, oleh rasa yang membuatnya tenggelam dalam air mataketika ia
menghirup wangi yang sangat ia kenal, ketika ia merasakan hangat yang begitu ia
rindukan.
“Freyr.”
Ketika namanya disebut oleh orang yang sudah mengisi satu
ruangan khusus di hatinya,
Shinji melepaskan pelukannya, namun tidak membiarkan Freyr
lepas darinya. Kedua tangannya masih merengkuh posesif pemuda yang sedang
menatapnya dengan mata berair dan wajah merah.
“Freyr.”
“Hm?”
“Freyr.”
Freyr mengusap wajahnya. Ia tahu persis seberapa berantakan
wajahnya saat ini. Ia tahu saudaranya sedang menguping di pojokan. Ia juga
tahu, siapa kira-kira yang berhasil menyarangkan tinjunya di wajah pemuda ini.
“Ya, Shin?”
“Terima kasih.”
“Untuk?”
“Jadi satu-satunya yang tidak pergi.”
Freyr mendengus. Ironis. “Siapa bilang aku tidak pergi?”
Shinji hanya tersenyum tipis dan kembali memeluk Freyr,
kembali menenggelamkan dirinya di hangat tubuh yang familiar.
“Terima kasih, dan maaf, Freyr.”
Freyr menggumam di lekuk leher Shinji, memejamkan matanya
dan merengkuh leher tersebut. “Untuk?”
Shinji mengangkat kepalanya dan menatap Freyr. “Untuk semua
hal brengsek yang kulakukan padamu.”
Freyr mengerjap, lalu tertawa. Lepas, keras, dengan air mata
masih mengalir di pipinya, dan kedua lengannya masih merengkuh leher Shinji yang
kini memasang senyum tipis dengan rona merah muda mulai muncul di telinganya.
“Hahaha! Shin! Kau harus lihat bagaimana wajahmu! Hahaha!”
“Sudahlah,” dengus Shinji, yang memutuskan untuk kembali
menyimpan kepalanya di pundak Freyr, membiarkan gelak tawanya terdengar jelas
di telinga, dan getaran di dada mereka masing-masing merambat pelan-pelan memenuhi
lubang-lubang di hati mereka.
“Freyr.”
“Hm?”
Suara derit tempat tidur terdengar ketika Shinji mengubah
posisinya. Ia berbaring di satu sisi tubuhnya dan menatap Freyr.
“Apa kau bahagia?”
Freyr menoleh dan menatap Shinji. Ia menggeleng sambil
mengangkat bahunya.
“Aku tidak tahu.”
“Begitu,” ujar Shinji pelan dan kembali lagi ke posisinya
semula, menatap langit-langit kamar sembari memikirkan bagaimana caranya ia
keluar dari rumah ini dengan kondisi tubuh yang lengkap tanpa kurang satu hal
pun.
“Kalau kau?”
Shinji menoleh dan mendapati Freyr masih menatapnya. Tatapan
yang sama sejak pertama kali mereka bertemu di bar. Tatapan yang sama
ketika ia mengantarnya pergi menjalani
misi bersama Andreas. Tatapan yang sama ketika Shinji mematahkan hatinya untuk
yang kesekian kali.
Sepasang mata yang membuatnya yakin, bahwa ia adalah
tempatnya kembali.
“Ya. Kalau ini kau sebut bahagia, maka ya. Aku bahagia.”
“Kau tahu, sebenarnya aku posesif.”
“Aku juga.”
“Leon dan Faux sering mengataiku bawel.”
“Aku tahu.”
“Gacchi bilang aku terlalu sering membawa perasaanku pada
segala hal diluar pekerjaan.”
“Dan kau bilang begitu pada pria yang sekian lama hidup
menolak merasakan.”
Freyr mendudukan dirinya, membiarkan selimut yang
menyelimutinya jatuh dan memamerkan punggungnya pada Shinji.
“Kalau kau pergi lagi, aku tidak bisa menghalangi apapun
yang akan dilakukan Leon dan Faux dan Gacchi padamu.”
“Aku tahu.”
Senyum lebar kekanakan menghiasi wajah Freyr. Tak lama,
Freyr menimpa tubuh Shinji, memeluknya dalam pelukan besar yang sedikit di luar
karakter sambil tertawa lebar, membuat pemuda berwajah masam itu berseru kaget
ketika tubuh mereka berdua saling adu dan membuatnya hampir jatuh dari tempat
tidur.
Ya. Mereka bahagia.
Dan itu sudah cukup.