Showing posts with label Oneshot. Show all posts
Showing posts with label Oneshot. Show all posts

Wednesday, 25 June 2014

Kepiting sinting paling garing

(c) Masami Kurumada

.

.

.

"Aku tahu, kenapa kau menolakku."

Aphrodite mengerutkan dahinya. "Maksudmu?"

Deathmask--Angelo menganggukkan kepalanya. "Ya. Karena kau merasa penuh dengan eksistensiku. Kan?"

"Err.... Angelo? Aku sungguh tidak mengerti. Aku menolakmu karena aku tidak bisa menganggapmu lebih dari teman, dan jelas tidak akan pernah lebih dari apa yang kurasakan pada Shura. Dan mungkin kau ketinggalan gosip karena Milo masih meracau soal suaranya yang kurang macho, tapi kau tahu 'kan kalau aku dan Shura...."

"Kalau kami sudah jadi pasangan." Shura melanjutkan. Tangan kanannya memegang erat tangan kiri Aphrodite, yang juga balas menggenggamnya. Mereka sedikit mencuri pandang penuh makna, sebelum tawa Deathmask mengembalikan mereka ke dunia nyata.

"Myoahahahaha. Aku tahu kalian pacaran. Tapi, Shura, tidak tahukah kau kalau semua ini hanya pelarian saja? Bahwa Aphrodite melarikan diri dari suatu rasa yang ia miliki padaku?"

Aphrodite mengerjap tidak percaya. "Ap--apa maksudmu.... Shura, kau tahu kepiting gila ini memang benar-benar tidak waras, 'kan? Jangan percaya apapun yang dia katakan!"

"Apa maksudmu, Deathmask?" ada nada suara yang mengancam dari sang Saint Capricorn. Cosmo-nya mendadak terbakar, meluap-luap meliputi dirinya dan terkumpul di lengan kanannya.

Siap membelah dua kepiting garing di hadapannya.

"Karena.... Di dadamu, ada kumisku, kan? Makanya kau menolakku dan malah pacaran dengan Shura? Karena aku sudah ada dalam hatimu sejak lama, 'kan? Dan Shura adalah pengalih dirimu yang begitu rindu padaku, 'kan???"

.

.

.

"LIA!PINJAMKAN LISTRIKMU! BIAR KUSETRUM SI KEPITING SINTING INI BIAR MATI BETULAN!!!"

Tuesday, 2 July 2013

Surname

(c) Cassandra Clare

.
.
.

"Kalau seandainya kalian berdua menikah, siapa yang akan pindah marga?"

Alec tersedak cola yang sedang diminumnya serta menumpahkan sisa dalam gelas ke pakaiannya. Cairan soda coklat itu sukses membasahi kaus putih dan celana panjang hitamnya. Ia lalu menatap Jace tajam. Jace hanya mengangkat bahu.

"Aku hanya bertanya."

Magnus yang sedang menepuk-nepuk punggung Alec kini menatap Jace. "Kadang ucapanmu ada benarnya juga, Wayland. Aku juga ingin tahu, siapa yang akan pindah marga." gumamnya. Alec mendelik tajam ke arah Magnus.

"Magnus!"

"Kau akan jadi Alexander Bane? Berarti kau akan jadi Simon Lightwood," kata Isabelle pada Simon yang sedang duduk di sampingnya. Vampir muda itu mengerjap beberapa kali sebelum ber-'apaaaaaaaaaaaaaaaaa' panjang dengan muka memerah--semerah yang bisa dimiliki oleh seorang vampir.

"Izzy! Jangan ikut-ikutan!" Seru Alec, yang kini sudah berwajah seperti tomat.

"Atau aku jadi Magnus Lightwood?"

"Nay. Aku tidak setuju."

"Kenapa kau tidak setuju, Jace?" tanya Clary.

"Magnus dan Lightwood. Tidakkah kau merasa ada yang salah dengan gabungan kedua kata itu? Aku masih bisa mentoleransi Alexander Bane daripada Magnus Lightwood."

"Jace!!!"

Lalu semua mata yang ada mendadak tertuju pada Alec. Magnus, yang berada di sampingnya, lalu merangkul pinggang Shadowhunter berambut hitam itu.

"Jadi, kau lebih suka yang mana? Magnus Lightwood atau Alexander Bane?"

Saturday, 6 April 2013

Realization

Vassalord (c) Chrono Nanae

xxx

"My Lord."

Ah, Cherry. Kau merajuk?

Rayflo tidak bisa tidak menyeringai.

"My Lord, Rayflo."

Charles memeluknya begitu erat, mendekapnya begitu dalam ke dada, seolah ingin memasukkan Adam dari bangsa vampir itu ke dalam tubuh dan memenjarakannya di sana untuk selamanya. Rayflo terkikik geli meski matanya berbinar kesenangan.

"Oh, Cherry. Kenapa kau jadi manja begini?" Ia memainkan jemarinya di helai rambut pirang Charles sambil menikmati wangi tubuh pemuda cyborg itu.

"Kalau untuk membuatmu tetap ada di sisiku aku harus membuang harga diriku, maka aku akan melakukannya."

Rayflo berkedip sekali lalu membatu dalam dekapan Charles yang semakin erat, semakin putus asa. Perpisahan mereka yang terlalu lama membuat Charles sadar bahwa ia tidak bisa hidup (dalam arti sesungguhnya dan kiasan) jika vampir darah murni berambut hitam legam itu tidak ada di sisinya. Kesadaran akan betapa dalamnya ia jatuh cinta untuk makhluk berusia ribuan abad.

"Cherry." Rayflo berbisik lirih, tidak memercayai apa yang ia dengar.

"Tetaplah disisiku, Rayflo."

Memangnya aku bisa ke mana lagi, Chris?

Rayflo tersenyum tipis. Ia mendorong dada Charles, melepaskan dirinya dari pelukan. Kesedihan lalu menyelimuti mata Charles. Penolakan jelas bukan jawaban yang diinginkannya saat ini.

Namun, kau tahu siapa Rayflo. Vampir darah murni yang jalan pikirannya tidak tertebak dan terkadang bicara lompat-lompat. Makhluk yang akan selalu membuatmu hatimu seperti dilempar kesana-kemari.

"Kalau begitu inginnya aku ada di sisimu, hentikan cara bicara melankolismu itu dan kembalilah jadi Chris yang biasanya."

"... kau ingin aku bicara ketus? Memangnya siapa yang merengek-rengek mengeluh tentang ketidakromantisan?"

"Huuh! Aku 'kan cuma kangen sama Cherry yang biasa! Terlalu banyak bumbu romantis justru membuat hubunganmu membosankan."

Charles mendengus, "Kau ini memang masokis sejati."

Rayflo mengerutkan dahi dan mengerucutkan bibir. "Dan kau tsundere sejati."

Charles menatap Rayflo galak lalu meraih tangannya. Dalam gerakan cepat, ia mengecup punggung tangan Rayflo. "Tapi kau mencintai tsundere ini, 'kan? My Lord?"

"Hmph. Sesukamu saja."



"Kalau begini siapa yang tsundere, coba?"

"Cherry!"

Sunday, 23 December 2012

Surprise!

Disclaimer : 
Saint Seiya (c) Masami Kurumada
MYTH (c) Zelda
.
.
.

Underworld. Gelap, hitam, kelam, suram. Dengan satu-satunya sumber cahaya berasal dari api oranye-biru yang melayang-layang, tempat ini jelas bukan tujuan wisata yang menarik. Ditambah dengan jeritan-jeritan mengiris hati dan makhluk-makhluk berupa mengerikan. Kalau pamanmu menyebutkan Underworld atau Dunia Lain atau Tempat Yang Menyenangkan, segeralah laporkan ia ke polisi terdekat dengan tuduhan pembunuhan terencana.

Tapi kali ini, bukan anak kecil tersesat atau jiwa jahat yang datang ke Underworld. Bukan juga seorang dewa pendek berambut coklat muda dengan setumpuk surat dikepit, apalagi seorang dewi paling-kurang-kerjaan di muka bumi dengan rambut keunguan dan tongkat berujung ornamen burung pembawa kemenangan.

Di satu hari yang membosankan--setidaknya bagi sang Lord, muncullah seorang pemuda. Rambutnya pirang seperti matahari, matanya biru cerah seperti lautan yang tidak tertebak, dan senyumnya mengembang seperti bocah paling jahil di sekolah menemukan mangsa baru.

"Yo, Hades! Apa kabar?" sapanya dengan santai, sangat-santai, pada sang Lord. Hades mengerutkan keningnya. Sedikiiiiiiiiiiiiiiiit sekali. Bagaimanapun pencitraan seorang penguasa alam baka yang keji tetap jadi prioritas utama. Ia berhenti berpidato panjang lebar pada sebuah jiwa tentang apa yang akan dihadapinya di Inferno ini dan menoleh pada pemuda yang kini tengah melihat-lihat patung dekorasi kuilnya dengan penasaran.

"Beritahu aku dalam tiga detik, apa yang sedang kau lakukan di tempat ini, atau kuhabisi nyawamu."

Milo terkekeh, memancing sorot mata tidak suka dari Hades. Dewa berambut hitam legam itu kini berdiri dan berjalan ke arah Milo. Dari cosmo hitam-keunguan yang mulai terlihat jelas menguar dari setiap pori-porinya, Milo tahu Hades serius untuk benar-benar membuatnya tidak bisa kembali ke dunia atas. Buru-buru ia mengangkat tangannya.

"Tunggu. Tunggu, oke? Tunggu sebentar. Aku kemari bukan karena iseng atau kurang kerjaan meski, yah, kau tahu sendiri bagaimana Athena adalah dewi paling kurang kerjaan yang pernah ada di seluruh sejarah Olympus tapi...."

Nada bicara Milo tidak selesai di sana dan Hades menunggu selama beberapa detik sebelum bertanya, "Tapi?"

"Tapi, beliau memintaku memberikan ini kepadamu," lanjut Milo, seraya menyodorkan sebuah kotak besar berwarna hitam dengan pita merah besar di atasnya. Hades menyipitkan mata.

"Apa, itu?"

Milo mengangkat bahu. "Dari wujudnya, kutebak ini hadiah. Mengenai apa isinya, aku tidak tahu dan sungguh, aku-tidak-mau-tahu." Milo menekankan suaranya pada empat suku kata terakhir. "Kemarin tiba-tiba saja ia turun dari Olympus dan menyerahkan ini pada Shion, menyuruhnya datang kemari dan memberikan ini padamu. Shion, dengan segala urusannya--padahal aku yakin ia hanya takut saja, merasa bahwa sebaiknya tugas ini dilimpahkan pada saint lain. Gold Saint, tentunya, mengingat entah akan jadi apa para saint muda jika dikirim kemari. Jadi, saat semua Gold Saint berdiskusi memutuskan siapa yang akan dijadikan tumbal, aku sedang tidak di tempat. Misi di desa sebelah tentang penyakit infeksius. Oh, mungkin Thanatos tahu karena banyak sekali warganya yang mati. Jadi, saat aku kembali mereka semua--semua, maksudku benar-benar semuanya--langsung menatap ke arahku dan tersenyum sangat keji. Taruhan, senyum Minos pun masih lebih manis daripada senyum orang-orang sinting itu. Oh, jangan katakan Minos aku memujinya. Lalu, begitulah ceritanya aku ada di--

Milo berhenti berbicara layaknya ember bocor ketika pandangannya kembali fokus pada sang dewa superior. Takjub, tidak percaya. "Hades, kau, tersipu?"

Hades kembali pada kesadarannya dan Milo bersumpah demi Zeus, Apollo, Poseidon, dan dewa-dewi manapun bahwa ia melihat wajah Hades merona sangat merah sampai ke telinga. "Ap--apa? Tersipu? J--jangan gila. Matamu sudah buta?!" seru Hades sambil memalingkan wajah dan sedikit menunduk, memanfaatkan rambutnya yang panjang untuk menutupi apa yang sedang Milo proses dalam kepalanya. "T--taruh saja apapun itu di manapun. Masih banyak urusan yang harus kutangani!" ujarnya sambil berbalik dan pergi menuju singgasananya dan menghilang di balik tirai-tirai merah. Milo mengedip beberapa kali dan memutuskan untuk menaruh apapun titipan Athena di anak tangga menuju singgasana sang dewa, sebelum keluar dari kuil dan kembali ke dunia atas.

.
.
.

"Kau lihat?"

Dewa berambut pirang mengangguk. "Tentu."

"Titipan dari Athena. Tapi bukan dia yang mengantar."

"Dan juga bukan Hermes."

Yang berambut hitam mengerutkan dahinya. "Berarti sesuatu yang berasal dari orang yang tidak mau identitasnya diketahui."

"Poseidon? Biasanya dia mengirim si cantik berambut ungu."

Si pirang menggelengkan kepalanya. "Hadiah dari Poseidon tidak akan membuat My Lord tersipu begitu."

"Oh, berarti hanya tinggal satu orang."

Si pirang mengangguk. "Sebenarnya sudah terlambat untuk masa puber, tapi--

"AKU BISA MENDENGAR KALIAN BERDUA, TAHU!!!"

.
.
.

Selamat ulang tahun, Hades. Aku meminta para Cyclops membuatkan pedang ini. Ditempa dari onyx dan emas hitam terbaik, kurasa benda ini cocok untuk imej penguasa kegelapan yang keji. Meski sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan frase itu, tapi apa boleh buat. Mata pedangnya diasah dan dilapisi oleh berlian, jadi tidak akan menjadi tumpul atau patah.
Sekali lagi, selamat ulang tahun, Kak! 
 Z

Monday, 17 September 2012

Head Voice

'Aku suka kamu.'

Mudah dipikirkan, tapi tidak mudah diucapkan. Atau setidaknya, itu yang ada di dalam kepala Luca saat ini. Remaja berkelakuan bocah itu rasanya ingin lari dari tempat beratmosfer berat itu sesegera mungkin. Peduli amat kalau orang di depannya ini ikut mengejarnya dan mereka berdua lari-lari bak Tom and Jerry di jalan raya.

"Jadi, lo mau ngomong apa?"

Luca menghela napas. "Nggak ada sebenernya, 'Dra. Gue janji nraktir lo makan, dua kali. Dan dua-duanya nggak jadi gara-gara kuliah gue yang nggak ada matinya, atau gara-gara salah satu dari kita tumbang. Mumpung gue agak kosong dan nggak sakit, ya udah makan."

"Gitu?" nada di ujung kalimat Samudra menyiratkan ketidakpercayaan dan kecurigaan tingkat tinggi.

"Iye. Udeh, makan aja sana, ga usah banyak mulut."

.
.
.

Tuesday, 11 September 2012

Before Business Time

AU, BL, Shonen-ai.
Saint Seiya belongs to Masami Kurumada

.
.
.

Kling!

Camus menoleh ke pintu masuk, menemukan satu-satunya orang yang cukup sinting untuk datang ke tempatnya lima belas menit sebelum waktu buka. Sepasang pemilik manik biru yang mengantuk dan rambut pirang acak-acakan berjalan ke arahnya sambil sekali-sekali menguap lebar. Rompi coklat kulit, kemeja kotak-kotak merah-putih, celana jeans coklat, dan sepatu boot coklat penuh lumpur yang dikenakannya terlihat familiar di mata sang pemilik cafe.

"Kau tidak pulang?" tanya Camus, meneruskan kegiatan menggosok gelas bir dan membuat kopinya yang sempat terhenti.

Milo duduk di kursi tanpa sandaran dengan jok kulit warna merah, semerah rambut Camus, dan menelungkupkan diri di counter. "Semalaman mengejar pencuri pakaian dalam. Kalau bukan Aphrodite yang jadi korban dan Minos yang tidak tenang dengan kemungkinan Albafica-nya ikut diincar juga mengancam keselamatanmu, aku bisa saja mengabaikan satu pencuri pakaian dalam di kota ini," suaranya teredam. Sejenak ia bisu sebelum mengangkat kepala dan menatap Camus dengan mata sayu. "Aku mau kopi."

Camus menghela napas dan tersenyum, sangaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat tipis. "Cafe latte dengan banyak gula?"

Milo menggeleng. "Tidak. Dua shot espresso saja. Aku butuh dosis kafein lebih besar untuk tetap berpikir sampai nanti sore, atau malam, atau sampai besok pagi."

Camus mengerutkan dahinya. Espresso? Milo yang selalu meminta banyak gula di kopi susu dan lebih suka cinnamon roll cake dengan sirup karamel dengan taburan gula bubuk di atasnya itu, memilih kopi hitam pekat pahit yang menurutnya 'minuman orang tua'? Dua shot pula? "Jangan memaksa dirimu sendiri, Milo."

Giliran Milo yang menghela napas panjang. Ia menopang dagunya dengan satu tangan. "Aku harus memaksa diri, Camus. Kau tahu sendiri apa yang bisa dilakukan Minos dan gengnya untuk mengganggumu kalau sampai masalah Aphrodite ini tidak selesai. Kenapa sih, Albafica harus pacaran dengan Minos yang suka sekali bikin keributan sekaligus menjadi kakaknya Aphrodite?! Sudah tau Aphro itu magnet maniak mesum," sembur sang sheriff. Bintang emas di dadanya mengkilat kena pantulan cahaya. Camus mengulurkan tangan dan mengacak rambut pirang di hadapannya.

"Pertanyaan yang sama dengan kenapa kau mau jadi pacarku meski tahu bahwa saudara kembarku, Degel, punya  affair dengan pamanmu, Kardia, ditambah aku punya tanggungan anak adik ibuku, Hyoga?"

Milo menarik bibirnya dan memamerkan gigi yang berjejer rapi. "Itu sih jelas. Karena aku jatuh cinta padamu. Dan kau juga."

"Nah, kau tahu jawabannya, kan? Ini, cokelat panas dengan marshmallow dan french toast dengan telur mata sapi serta daging asap. Habiskan, dan jangan harap akan pernah ada espresso disajikan di sini untuk perutmu yang, meskipun kapasitasnya sangat besar tapi punya masalah asam lambung."

Milo tergelak mendengar ceramah pagi Camus. "Oh, aku merasakan cinta yang sangat besar dalam setiap kata-katamu itu," ujarnya sebelum mulai melahap makanan yang disajikan. Camus hanya membalikkan tubuhnya, berusaha menutupi rona merah yang mulai menjalar di wajahnya.

Sunday, 19 August 2012

That Blue Sky


Bel berbunyi empat kali, tanda waktunya masuk kelas. Siswa-siswi, pelan tapi pasti, masuk ke dalam kelas dengan teratur. Semua, kecuali beberapa orang berandal muda yang ketahuan merokok di kamar mandi sekolah.

“FARDI! JAKA! THEO! JANGAN LARI KALIAN!” seru seorang bapak-bapak tua yang kelihatannya sudah mencapai usia paruh baya.

“ASAL BAPAK NGGAK NGEHUKUM SAYA SIH OKE AJA, PAK!!!” seru Fardi, dengan cengir tolol menghias wajahnya.

“ZARA! KAMU JUGA BERHENTI!” lanjut beliau, yang mempercepat langkahnya. Zara menengok ke belakang dan memasang ekspresi horor ketika melihat jarak antara dirinya dan sang guru hanya tinggal beberapa langkah saja.

“AMPUN PAK AMPUUUUUUUUUUUUUUN!!!”

Adegan teriak-teriak sambil lari-lari ini berlangsung selama beberapa saat, sampai akhirnya satu-satu tertangkap, menyisakan Zara tertinggal dalam kejar-kejaran solo antara dirinya dan Pak Mahdi. Sang guru killer mantan peraih medali emas PON cabang atletik di masanya masih tidak mau menyerah dalam memburu Zara, siswa paling bermasalah di angkatannya. Prestasi anak itu sebenarnya bagus, di atas rata-rata malah. Yang harus dibenahi dan dididik lebih lanjut adalah caranya bersikap terhadap yang lebih tua dan sikap ngawurnya.

Seperti ketika ia akhirnya melompat dan menggelantung di pipa, untuk kemudian salto dan menjamin keselamatan dirinya dari terkaman sang guru matematika dengan diam di atap sekolah.

“Zara! Turun kamu!” seru Pak Mahdi sambil menendang tong sampah terdekat ketika menemukan sang pemuda tanggung sedang tertawa terbahak-bahak di atap sekolah.

“Nanti aja, Pak! Pas pulang sekolah! Udah ah, Pak. Saya mau tidur dulu!”

Langit terlalu biru untuk disia-siakan belajar matematika di kelas.

Friday, 17 August 2012

(Jatuh) Cinta


“Gimana caranya mau jatuh cinta, kalau buat jatuh aja kamu takut?!!” sembur Leyka. Aku menunduk dan melirik kiri-kanan, berpura-pura tidak mengenal wanita muda berambut hitam legam sepinggang dan mata hijau besar dan wajah garang di depanku.
“Uh, yeah, karenanya, aku bilang aku-tidak-mau-jatuh-cinta. Aku tidak mau jatuh di tempat dan karena orang yang salah.”
Leyka menghela napas. “Justru itu, Luce. Justru itu. Bukannya aku meminta kau untuk jatuh pada orang tidak jelas yang baru saja kau kenal tapi….”
Aku mengangkat tangan, menghentikan lanjutan tapi milik Leyka. “Ya ya, Oke. Aku butuh waktu. Aku masih butuh waktu, Ley. Kau sendiri yang paling tahu kalau aku adalah orang yang paling sulit lupa tentang hal gila dan tidak penting yang terjadi di sekitarku sementara paling mudah lupa dengan hal vital semacam nama orang dan peta kota. Hebat aku tidak tersesat sepanjang kiprahku menyetir di kota penuh jalan tikus ini.”
“Itu karena kau menyetir denganku atau dengan orang lain yang tahu jalan, adik bodoh.”
“Yayaya, kakak sialan,” jawabku sekenanya sambil mengacungkan gelas plastik berisi Thai Tea yang sudah habis setengah dan satu tangan lagi memelintir ujung rambut pirang ikal di bahu. Sungguh, pembicaraan yang tidak akan ada habisnya kalau mengenai topik yang satu ini.

Cinta.

Menurut satu film Mandarin tentang monyet emas yang menjelajah ke Barat bersama seekor babi, seekor Kappa, dan seorang biksu, cinta itu deritanya tiada akhir. Cinta itu kosong.

Cinta itu mengada-ada dan harap belaka.

Aku sedikit meregangkan otot bahuku sebelum kembali menyeruput latte dan menatap Leyka--yang sedang menatapku garang. Ah, orang keras kepala, manusia yang hanya beda dua tahun dariku ini.

"Udahlah, Ley. I'll be fine, even without some lucky man to be loved. Toh selama dua puluh tahun ini juga gue survive tanpa dicintai oleh seorang pria, kecuali Bokap dan dua kakak bego pengidap sister-complex-parah itu. Really, I'll be fine."

Leyka menghela napas, pasrah. "Mau sampai kapan lu bergantung pada cinta dari Om Raki, Mas Rangga, dan Kak Arya? Mereka nggak akan ada terus-terusan dalam hidup lo."

Kini giliranku yang menghela napas. "Iya, Ley, iya. Ayah udah punya Ibu. Mas Rangga udah jadi sama lu, akhirnya, setelah masa-masa galau dari abang paling tsundere yang pernah gue punya, dan Kak Arya lagi pedekate sama anaknya Om Aldi. Ya, gue tau, cuma gue sendiri di sini yang punya bad luck dalam masalah cinta. Tapi mau gimana?" nada suaraku sedikit naik. Leyka menghela napas lagi.

"Gimana, sama Haki, anaknya Om Ditya?"

Oh. Ya. Topik ini lagi.

"Dulu nyokap gue jatuh kaki di kepala dan kepala di kaki sama Om Ditya tapi ngga dapet. Friendzone. Sekarang Haki yang suka sama gue tapi guenya udah kepalang nganggep dia sahabat. Gue cerita begini ke nyokap dan lo harus tebak responnya apaan."

"Apa, memangnya?"

"Haki? Oh, ya udah, kamu sama dia aja. Dia yang suka sama kamu, 'kan, bukan kamu yang suka sama dia? Bagus. Berarti dendam mama bisa terbalaskan. Sana, kamu pacaran aja sama dia, terus putus-nyambung-putus-nyambungin. Gantungin aja statusnya kalo perlu. Abis itu, friendzone dia. Biar bapaknya tau gimana rasanya jadi mama," ujarku, meniru gaya bicara mama.

Dahi Leyka mengerut dan alisnya naik. "Oh... ya?" tanyanya tidak percaya. Aku mengangguk.

"Terus si ayah malah nambahin, 'Haki anaknya Om Ditya? Eh, Zara, ini Luca dikejar-kejar sama Haki anaknya Ditya. Jadi inget masa lalu ga? Hahahahaha.'"

"Bokap-nyokap lu, semacam unik, ya?"

"Barang langka, mereka," lanjutku sambil bergelung di kursi berlengan itu. "Tapi, Ley, Haki emang ganteng, 'sih. Sungguh. Baik, senyumnya manis, kalo ngomong bahasa Inggris aksen British-nya kedengeran banget, wangi, gentleman, soleh juga. Tanpa cela, dia itu. Sayang kalo jadi sama cewek serampangan macem gue. Hahaha," tawaku hambar. Aku lalu menatap Leyka dan menemukan tetangga sekaligus teman mainku sejak pertama kali dia pindah ke rumah sebelah itu sedang tersenyum manis. Maniiiiiiiiiiiiiiiiiiis sekali, sampai aku tidak heran kalau Mas Rangga sangat sayang dan cinta padanya.

"Nah, itu, kamu bisa tau poin baiknya dia apa, poin jeleknya kamu apa. Taruhan, dia juga mikir yang baik-baik dari kamu dan yang terburuk dari dia. Itu namanya 'penerimaan'. Kalau udah sampai tahap itu, berarti emang kalian udah saling su--

"Tapi--

"Denial itu adalah tanda pertama dari cinta, Luce. Inget itu."

Aku terpaksa menelan bantahan yang sudah siap meluncur mentah-mentah. Denial is the first sign of love. Itu yang diajarkan ibuku dan Tante Aida pada Kak Arya.

"Oke, oke. Terserah. Yang penting sekarang, gue mau tambah minuman cokelat dan lo harus bayarin. Titik."

.

.

.




Saturday, 4 August 2012

Until Death Do Us Apart

"Aniki...maaf...."

Shinji masih tidak percaya.

Ia menolak untuk percaya.

Napas pemuda di tangannya mulai berat, tercekat. Ia lalu memaksakan senyum tipis. "Maaf, Oniichan.... Aku...."

"Sayonara...."

Dan tangannya terjatuh. Lemas. Hilang.

.

.

.

Shinji tidak mau percaya. Ini hanya mimpi, pikirnya. Ia menolak percaya pada hangat air di tangannya, pada paras pucat pemuda di pangkuannya, pada merah pekat yang mengalir tanpa henti dari satu luka menganga di tubuh si pemuda. Ia menolak percaya pada sesak yang tumbuh di dada dan air mata yang mengalir tanpa aba-aba. Ia menolak percaya pada gemetar di kedua lengannya ketika memeluk erat tubuh dingin berharganya.

Shinji menolak untuk percaya pada kenyataan bahwa kini ia sendirian. Tidak lagi ditemani oleh suara menyebalkan dan tampang-minta-ditonjok di pagi harinya, tidak lagi ditemani celetukan asal yang membuatnya naik darah, atau kepala yang selalu bisa dijadikan kantung samsak pribadinya.

Tidak lagi, ditemani oleh Yuuji.

"Yuuji," bisiknya.

Tidak ada lagi yang menjawab panggilannya.

"Yuu...."

Atau sekedar menolehkan kepala dan memandangnya bosan juga mengantuk.

Tidak ada lagi yang memanggilnya kakak. Tidak ada lagi yang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu dan langsung berguling-guling di karpet tanpa menuntut apapun kecuali eksistensinya.

Tidak ada lagi adik untuk dilindungi, dimanja.

Tidak ada lagi Yuuji dalam hidupnya.

.

.

.

Hari itu, Shinji menangis. Meraung. Marah, putus asa. Untuk pertama dan terakhir kali dalam hidupnya. Untuk Yuuji-nya. Yuuji miliknya.

.

.

.

L.A.S.P (c) Pratiwi Fitriani

Thursday, 2 August 2012

Home

Hiruk-pikuk manusia, hutan beton dan asap knalpot yang tebal mendadak jadi hal asing bagi Kiara. Gadis belia dengan wajah berminyak dan rambut kelimis bau keringat itu melirik sekelilingnya, mencoba mencari hal-hal familiar dari lingkungan barunya sekarang. Baligo besar, jembatan penyebrangan berkarat, zebra cross yang pudar, puntung rokok, pedagang asongan, pedagang kaki lima, pengamen, dan anak-anak muda dengan rambut warna-warni dan tindik sana-sini. Semuanya terasa asing, namun tidak asing juga. Kiara sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan sekarang.

Setelah sepuluh menit termangu dalam bisu seperti orang bingung, akhirnya ia mengangkat tas kuning besar dan menyeret koper hitamnya dari kehebohan terminal bis. Perjalanan sepuluh jam dari desa di pedalaman Jawa sudah lebih dari cukup untuk membuat gadis berambut hitam-merah keriting tanggung itu terlihat lebih bloon daripada seharusnya. Sembari melangkah setengah hati, ia mengambil ponsel dan melihat layarnya. Ada dua pesan singkat.

Thursday 14/5/14 13:09
From : Popski  

Sudah sampai? Pulang sama siapa?

Kiara memajukan bibirnya dan sedikit bersiul ketika membalas pesan singkat dari ayahnya  'Udeh, ini lagi nyari angkot'. Setelah selesai, ia maju ke pesan singkat berikutnya.

Thursday 14/5/14 14:43
From : Derry

Selamat datang lagi di Bandung, cewek kucel.

Kali ini Kiara mengerutkan dahinya. Jahat sekali temannya yang satu ini. Tidak ada angin atau hujan, langsung menyebutnya kucel padahal ketemu juga tidak. Baru saja ia mengetik pesan untuk membalas pesan dari Derry, sepasang tangan menutupi matanya.

"Halo kucel. Nyari tumpangan?"

Hampir saja Kiara melancarkan jurus Banting-Tas-Kuning-pada-Siapapun-yang-Berani-Menggangguku-di-Tempat-Umum kalau si penyergap amatir tidak bicara. Sebagai ganti dari jurus yang namanya super panjang itu, ia menyikut perut lawannya dan berbalik. Di hadapannya, pemuda berambut tanggung dan senyum bodoh tersungging di bibir berdiri.

"Selamat datang di kota, Kiara Hasta Dariya. Perlu tour guide untuk memandu jalan-jalan Anda di kota besar?" ujarnya dengan lagak sok. Kiara tidak bisa menahan diri untuk meninjunya sekali lagi.

Akhirnya, sesuatu yang familiar muncul. Yang sudah ditunggunya selama setahun, yang hanya bisa ia dengar dari sinyal elektrik saja, yang ia rindukan sejak lama.

"Halo, Derry Putra Satyapermana. Kebetulan saya memang butuh guide. Bisa tolong bawa saya ke rumah?"

Thursday, 28 June 2012

Nightmare

"Gabriel."


Satu-satu hitam datang. Pandangan mata jadi buram.


"Gabriel."


Jerit histeris memekakkan telinga. Menyayat. Membuat ngilu.


"Gabriel."


Tangan menggapai, mencoba mencari celah dari kehampaan kosong di depan mata. Kaki berusaha bergerak untuk menyeret tubuh dari gelap yang menyelimuti.


"Gabriel."


Sesak mulai muncul. Udara seolah tertarik keluar dari setiap gelembung di paru, menolak untuk patuh pada hukum fisika yang berlaku. Suara tertahan seiring merembesnya udara dari setiap pori-pori organ. Tercekik.


Mati.

.

.

.

"Luchino!!!"

.

.

.

DUAK!

"Aduh!"

"Mio Dio[1]! Kenapa kau bangun tiba-tiba, Luchino?!"

Luchino membuka mata dan mendudukkan diri dalam sekali gerakan singkat tanpa basa-basi dan tanpa aba-aba, membuat dahi si rambut merah beradu dengan dahi siapapun di hadapannya, menimbulkan bunyi tulang beradu yang keras dan nyeri tidak terdeskripsikan. Sementara lawannya adu kepala menyumpah-serapah tentang betapa sialannya sang kapten CR-5, ia sendiri lebih memilih meredakan sakit di dahinya, yang sudah ia pastikan memar selama beberapa jam ke depan, dan menenangkan detak jantungnya. Selama beberapa saat ia tidak bergerak, menenggelamkan wajah di bantal bulu angsa miliknya sambil mengatur napas. Ia baru kembali ke dunia nyata ketika sebuah tangan menyentuh kepalanya lalu mengacak rambutnya pelan.

"Hei, Luchino. Ada apa?"

Luchino berbalik dan menemukan Gian berdiri di samping tempat tidurnya. Dahi pria berambut pirang itu juga merah, membuktikan bahwa ialah bedebah yang barusan mengadu kepala dengannya.

"Buon giorno[2], Gian," ujar Luchino pelan lalu memegang tangan Gian yang memegang kepalanya, sebelum mencium punggung tangannya dengan lembut. Gian merona dan tersenyum tipis, lalu duduk di tempat tidur dan ikut menggenggam tangan si rambut merah.

"Selamat pagi, mio caro[3]. Mimpi buruk?"

Luchino membuang napas panjang lalu mengangguk. Singkat dan nyaris kasat mata. "Sedikit."

Gian memperbaiki posisi duduknya. Kini seluruh tubuhnya ada di kasur dan ia duduk bersila menghadap Luchino. "Apa?"

"...Gabriel."

Oh.

Bahasan tentang Gabriel selalu membuat suasana menjadi canggung, bagi Luchino ataupun Gian. Setelah semua urusan dengan Grave Diggers beberapa tahun silam selesai dan Gian resmi menjadi bos dari CR-5, mereka memutuskan untuk tidak melihat ke belakang apalagi mengorek masa lalu masing-masing. Yang lalu biarlah berlalu, atau setidaknya begitu ingin mereka.

Tapi, ada ungkapan easier to said than to done, bukan?

"Well, em, lupakan. Oke? Gabriel atau siapapun namamu di masa lalu. Kau adalah Luchino Gregoretti, salah satu kapten CR-5 dan juga kekasihku. Mengerti?"

Luchino mengerjap beberapa kali sebelum tersenyum tipis, khasnya. Dengan segera ia menarik sang capo[4] ke dalam pelukannya.

"Si[5]. Grazie[6], Gian. Jadi, mana ciuman selamat pagiku?"

***

[1] My God
[2] Selamat pagi
[3] Sayangku
[4] Bos, pemimpin
[5] Ya
[6] Terima kasih

Wednesday, 27 June 2012

Poin utama bagi cowok teenlit

Aryaksa Tirananda. Seorang Arya yang tiran. Atau setidaknya itulah yang namanya coba cerminkan tentang kepribadian dan siapa dirinya.

Tegas, to the point alias tidak bertele-tele atau bahasa gaulnya ngga banyak ile, berwajah tampan, pembawaan keras, senyum memikat, pembully sejati, merrokok, hobi balapan, koleksi gadget masa kini, punya pengetahuan tentang hidup yang seluas langit, lady killer, womanizer. Tipikal cowok-cowok teenlit yang menjelma jadi nyata, seandainya ia tidak kurang satu poin wajib untuk pria sempurna macam ini.

Brengsek.

Ya, satu-satunya yang Arya tidak punya adalah poin brengsek, yang justru merupakan poin wajib untuk seorang lady killer dan womanizer berandalan macam ini. Kebalikannya, Arya adalah seorang pemuda tanggung yang berkepala dua dengan ciri-ciri sebagai berikut :

1. Sahabat setia.
2. Kawan di kala susah dan senang.
3. Tempat semua andai-andai dipatahkan oleh kekuatan logika. Calon pria yang sesuai untuk wanita dengan perasaan selembut sutra.
4. Orang yang tidak pernah ingin kau jadikan musuh.
5. Orang yang tidak ingin menyakiti perempuan dalam bentuk apapun.
6. Dibalik kesempurnaan logika dan kekerasan sikapnya, adalah seseorang yang sangat lembut dan perasa, melebihi pria pada umumnya. Orang yang akan menimbun semua unek-unek dan berperilaku seolah tidak ada apa-apa dan tidak terjadi peningkatan parameter kemarahan di benaknya, sampai akhirnya limit maksimum terpenuhi dan ia meledak. Duar!

Ya, kalian tidak salah baca. Orang yang mencatut nama suku yang begitu diagung-agungkan oleh Adolf Hitler pada masanya dan mengandung kata sifat yang dimiliki juga oleh penguasa Nazi itu sama sekali tidak se-tirani dan se-sempurna kelihatannya.

Mungkin ia dikatai brengsek karena menjaring hati wanita lalu melemparnya begitu saja. Mungkin ia brengsek karena membuat banyak wanita bertekuk lutut dengan sikap dan tutur kata sok-asik dan sok-iye serta sifat sok-cool miliknya.

Tapi, hei. Dia bahkan tidak tahu kalau hal itu adalah salah.

Oh, tambahkan lagi satu poin yang membuat ia tidak bisa dikatai brengsek.

7. Aryaksa Tirananda adalah seorang yang polos.

***

"Satu...dua...tiga...empat...lima...enam...tujuh...apalagi ya?" gumam Erika. Tangannya tidak berhenti mencoret-coret kertas. Hana yang duduk di depannya menjulurkan leher, penasaran.

"Nulis apa, Ka?"

"Ini, poin-poin tentang Arya. Kemaren gue ngobrol sama dia, terus random gitu nyuruh gue nulis siapa Aryaksa Tiranda yang selama ini gue kenal. Tapi gue nyerah, ah! Segini aja mesti mikir sampe laper," ujar Erika sambil menyuapkan sesendok penuh nasi goreng kambing ke mulutnya. Hana mengambil kertas yang dimaksud dan membacanya.

"Setia, logika, perasa, polos?! Ka, lo gak salah orang apa?!" Hana meninggikan suaranya. Erika yang mulutnya penuh nasi goreng dan es teh manis menggeleng.

"Nga nguengangangah."

"Eh, behave Rika! Behave! Kapan lo punya pacar kalo begitu kelakuannya?!" Hana menengok kiri-kanan, takut ada yang melihat tingkah imbisil temannya ini.

"Gue ga salah, Na. Itu Arya menurut sudut pandang gue. Lo tau sendiri gue suka mahiwal[1]." Erika menjelaskan setelah susah payah menelan.

Hana membuang napas panjang. "Mahiwal sih mahiwal tapi, serius ini Arya? Kok gue seperti melihat Indra?"

Erika mengangkat bahunya. "Indra, Arya, Ananda, Rihan, sama semua mereka itu. Yang bikin beda cuma gimana mereka mengimplementasikan kesamaannya. Itu doang. Sisanya mah sama."

"Oh. Eh, ngomong-ngomong, gimana cerita lo sama Raka?" tanya Hana dengan senyum lebar dan jahil bertengger di wajahnya. Erika menggeram singkat diiringi gelak tawa Hana--yang lebih mengundang lirikan kepo pengunjung lain daripada kelakuan Erika sebelumnya.


***

[1] Mahiwal : beda, melenceng, ngawur

Monday, 25 June 2012

Goes Wrong

"Bisa kau beritahu padaku, kenapa semua ini bisa menjadi sangat salah?"

Erika tidak mau menatap Alex. Tidak bisa, tepatnya. Tidak setelah mereka ada di titik ini, tidak setelah mereka terjebak dalam keadaan ini.

Tidak setelah mereka tenggelam dalam rasa yang tidak masuk akal ini.

"Kau tahu apa yang salah," jawab Erika pada setelah jeda yang menyesakkan.

"Oh ya? Beritahu aku," bantah Alex.

"Kita. Aku dan kamu. Ini salah."

"Karena?"

"Karena kita saudara."

"Lalu?"

Erika, mengumpulkan segenap keberaniannya, menatap Alex dengan pandangan tidak percaya. Pemuda berambut cepak dengan garis wajah tegas di hadapannya sedang menatap dirinya dengan pandangan merendahkan. Erika hilang sabar.

"Justru itu yang salah! Aku dan kamu, kita, semuanya salah!" seru Erika. Alex mengerutkan kening ketika Erika berseru-setengah-teriak.

Satu hela napas, sebelum Alex memperbaiki posisi duduknya dan menatap Erika dengan intens.

"Itu tidak salah, Rik. Yang salah itu adalah orang tua kita. Berpisah seenaknya, memisahkan kita seenaknya, tidak tahu dan tidak peduli kalau kita sampai bertemu dan menganggap satu sama lain orang asing. Memikirkan hanya apa yang penting bagi mereka di hari itu. Itu, yang salah."

Jadi jangan pernah bilang kalau aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku adalah salah, karena cinta tidak pernah salah. Keadaan yang membuat semuanya salah.