Thursday, 28 June 2012

Nightmare

"Gabriel."


Satu-satu hitam datang. Pandangan mata jadi buram.


"Gabriel."


Jerit histeris memekakkan telinga. Menyayat. Membuat ngilu.


"Gabriel."


Tangan menggapai, mencoba mencari celah dari kehampaan kosong di depan mata. Kaki berusaha bergerak untuk menyeret tubuh dari gelap yang menyelimuti.


"Gabriel."


Sesak mulai muncul. Udara seolah tertarik keluar dari setiap gelembung di paru, menolak untuk patuh pada hukum fisika yang berlaku. Suara tertahan seiring merembesnya udara dari setiap pori-pori organ. Tercekik.


Mati.

.

.

.

"Luchino!!!"

.

.

.

DUAK!

"Aduh!"

"Mio Dio[1]! Kenapa kau bangun tiba-tiba, Luchino?!"

Luchino membuka mata dan mendudukkan diri dalam sekali gerakan singkat tanpa basa-basi dan tanpa aba-aba, membuat dahi si rambut merah beradu dengan dahi siapapun di hadapannya, menimbulkan bunyi tulang beradu yang keras dan nyeri tidak terdeskripsikan. Sementara lawannya adu kepala menyumpah-serapah tentang betapa sialannya sang kapten CR-5, ia sendiri lebih memilih meredakan sakit di dahinya, yang sudah ia pastikan memar selama beberapa jam ke depan, dan menenangkan detak jantungnya. Selama beberapa saat ia tidak bergerak, menenggelamkan wajah di bantal bulu angsa miliknya sambil mengatur napas. Ia baru kembali ke dunia nyata ketika sebuah tangan menyentuh kepalanya lalu mengacak rambutnya pelan.

"Hei, Luchino. Ada apa?"

Luchino berbalik dan menemukan Gian berdiri di samping tempat tidurnya. Dahi pria berambut pirang itu juga merah, membuktikan bahwa ialah bedebah yang barusan mengadu kepala dengannya.

"Buon giorno[2], Gian," ujar Luchino pelan lalu memegang tangan Gian yang memegang kepalanya, sebelum mencium punggung tangannya dengan lembut. Gian merona dan tersenyum tipis, lalu duduk di tempat tidur dan ikut menggenggam tangan si rambut merah.

"Selamat pagi, mio caro[3]. Mimpi buruk?"

Luchino membuang napas panjang lalu mengangguk. Singkat dan nyaris kasat mata. "Sedikit."

Gian memperbaiki posisi duduknya. Kini seluruh tubuhnya ada di kasur dan ia duduk bersila menghadap Luchino. "Apa?"

"...Gabriel."

Oh.

Bahasan tentang Gabriel selalu membuat suasana menjadi canggung, bagi Luchino ataupun Gian. Setelah semua urusan dengan Grave Diggers beberapa tahun silam selesai dan Gian resmi menjadi bos dari CR-5, mereka memutuskan untuk tidak melihat ke belakang apalagi mengorek masa lalu masing-masing. Yang lalu biarlah berlalu, atau setidaknya begitu ingin mereka.

Tapi, ada ungkapan easier to said than to done, bukan?

"Well, em, lupakan. Oke? Gabriel atau siapapun namamu di masa lalu. Kau adalah Luchino Gregoretti, salah satu kapten CR-5 dan juga kekasihku. Mengerti?"

Luchino mengerjap beberapa kali sebelum tersenyum tipis, khasnya. Dengan segera ia menarik sang capo[4] ke dalam pelukannya.

"Si[5]. Grazie[6], Gian. Jadi, mana ciuman selamat pagiku?"

***

[1] My God
[2] Selamat pagi
[3] Sayangku
[4] Bos, pemimpin
[5] Ya
[6] Terima kasih

Wednesday, 27 June 2012

Poin utama bagi cowok teenlit

Aryaksa Tirananda. Seorang Arya yang tiran. Atau setidaknya itulah yang namanya coba cerminkan tentang kepribadian dan siapa dirinya.

Tegas, to the point alias tidak bertele-tele atau bahasa gaulnya ngga banyak ile, berwajah tampan, pembawaan keras, senyum memikat, pembully sejati, merrokok, hobi balapan, koleksi gadget masa kini, punya pengetahuan tentang hidup yang seluas langit, lady killer, womanizer. Tipikal cowok-cowok teenlit yang menjelma jadi nyata, seandainya ia tidak kurang satu poin wajib untuk pria sempurna macam ini.

Brengsek.

Ya, satu-satunya yang Arya tidak punya adalah poin brengsek, yang justru merupakan poin wajib untuk seorang lady killer dan womanizer berandalan macam ini. Kebalikannya, Arya adalah seorang pemuda tanggung yang berkepala dua dengan ciri-ciri sebagai berikut :

1. Sahabat setia.
2. Kawan di kala susah dan senang.
3. Tempat semua andai-andai dipatahkan oleh kekuatan logika. Calon pria yang sesuai untuk wanita dengan perasaan selembut sutra.
4. Orang yang tidak pernah ingin kau jadikan musuh.
5. Orang yang tidak ingin menyakiti perempuan dalam bentuk apapun.
6. Dibalik kesempurnaan logika dan kekerasan sikapnya, adalah seseorang yang sangat lembut dan perasa, melebihi pria pada umumnya. Orang yang akan menimbun semua unek-unek dan berperilaku seolah tidak ada apa-apa dan tidak terjadi peningkatan parameter kemarahan di benaknya, sampai akhirnya limit maksimum terpenuhi dan ia meledak. Duar!

Ya, kalian tidak salah baca. Orang yang mencatut nama suku yang begitu diagung-agungkan oleh Adolf Hitler pada masanya dan mengandung kata sifat yang dimiliki juga oleh penguasa Nazi itu sama sekali tidak se-tirani dan se-sempurna kelihatannya.

Mungkin ia dikatai brengsek karena menjaring hati wanita lalu melemparnya begitu saja. Mungkin ia brengsek karena membuat banyak wanita bertekuk lutut dengan sikap dan tutur kata sok-asik dan sok-iye serta sifat sok-cool miliknya.

Tapi, hei. Dia bahkan tidak tahu kalau hal itu adalah salah.

Oh, tambahkan lagi satu poin yang membuat ia tidak bisa dikatai brengsek.

7. Aryaksa Tirananda adalah seorang yang polos.

***

"Satu...dua...tiga...empat...lima...enam...tujuh...apalagi ya?" gumam Erika. Tangannya tidak berhenti mencoret-coret kertas. Hana yang duduk di depannya menjulurkan leher, penasaran.

"Nulis apa, Ka?"

"Ini, poin-poin tentang Arya. Kemaren gue ngobrol sama dia, terus random gitu nyuruh gue nulis siapa Aryaksa Tiranda yang selama ini gue kenal. Tapi gue nyerah, ah! Segini aja mesti mikir sampe laper," ujar Erika sambil menyuapkan sesendok penuh nasi goreng kambing ke mulutnya. Hana mengambil kertas yang dimaksud dan membacanya.

"Setia, logika, perasa, polos?! Ka, lo gak salah orang apa?!" Hana meninggikan suaranya. Erika yang mulutnya penuh nasi goreng dan es teh manis menggeleng.

"Nga nguengangangah."

"Eh, behave Rika! Behave! Kapan lo punya pacar kalo begitu kelakuannya?!" Hana menengok kiri-kanan, takut ada yang melihat tingkah imbisil temannya ini.

"Gue ga salah, Na. Itu Arya menurut sudut pandang gue. Lo tau sendiri gue suka mahiwal[1]." Erika menjelaskan setelah susah payah menelan.

Hana membuang napas panjang. "Mahiwal sih mahiwal tapi, serius ini Arya? Kok gue seperti melihat Indra?"

Erika mengangkat bahunya. "Indra, Arya, Ananda, Rihan, sama semua mereka itu. Yang bikin beda cuma gimana mereka mengimplementasikan kesamaannya. Itu doang. Sisanya mah sama."

"Oh. Eh, ngomong-ngomong, gimana cerita lo sama Raka?" tanya Hana dengan senyum lebar dan jahil bertengger di wajahnya. Erika menggeram singkat diiringi gelak tawa Hana--yang lebih mengundang lirikan kepo pengunjung lain daripada kelakuan Erika sebelumnya.


***

[1] Mahiwal : beda, melenceng, ngawur

Monday, 25 June 2012

Goes Wrong

"Bisa kau beritahu padaku, kenapa semua ini bisa menjadi sangat salah?"

Erika tidak mau menatap Alex. Tidak bisa, tepatnya. Tidak setelah mereka ada di titik ini, tidak setelah mereka terjebak dalam keadaan ini.

Tidak setelah mereka tenggelam dalam rasa yang tidak masuk akal ini.

"Kau tahu apa yang salah," jawab Erika pada setelah jeda yang menyesakkan.

"Oh ya? Beritahu aku," bantah Alex.

"Kita. Aku dan kamu. Ini salah."

"Karena?"

"Karena kita saudara."

"Lalu?"

Erika, mengumpulkan segenap keberaniannya, menatap Alex dengan pandangan tidak percaya. Pemuda berambut cepak dengan garis wajah tegas di hadapannya sedang menatap dirinya dengan pandangan merendahkan. Erika hilang sabar.

"Justru itu yang salah! Aku dan kamu, kita, semuanya salah!" seru Erika. Alex mengerutkan kening ketika Erika berseru-setengah-teriak.

Satu hela napas, sebelum Alex memperbaiki posisi duduknya dan menatap Erika dengan intens.

"Itu tidak salah, Rik. Yang salah itu adalah orang tua kita. Berpisah seenaknya, memisahkan kita seenaknya, tidak tahu dan tidak peduli kalau kita sampai bertemu dan menganggap satu sama lain orang asing. Memikirkan hanya apa yang penting bagi mereka di hari itu. Itu, yang salah."

Jadi jangan pernah bilang kalau aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku adalah salah, karena cinta tidak pernah salah. Keadaan yang membuat semuanya salah.


Sunday, 24 June 2012

Wedding Veil

"Raya! Belakang!!!"

Satu seruan dari Larsa cukup untuk membuat pemuda berambut biru toska itu menekuk tangan kanannya dan menyikut apapun yang menyerangnya dari belakang. Bunyi sendi yang pindah dan tulang yang retak menjadi tanda bahwa penyerangnya sudah cukup terluka untuk bisa membalas serangannya dalam waktu dekat. Ia lalu kembali ke lawan di depannya : sesuatu berwarna hijau pucat berbadan besar, dengan wajah jelek serta nafas bau dan geraman konyol yang sedang berusaha membuatnya gepeng. Satu tinju di ulu hati dan satu lagi di kepala cukup untuk membuat lawannya rubuh dan mati. Ia lalu mengalihkan perhatiannya pada sang rekan, Laskar.

Laskar terlihat sedang memungut sesuatu seperti kain putih transparan. Ia menimang-nimang benda di tangannya, bertanya-tanya.

"Itu cadar, Lars."

"Cadar?" tanya si rambut pirang. Raya mengangguk dan mengambil benda itu untuk menaruhnya di kepala Larsa.

"Cadar untuk nikah. Biasanya perempuan yang pakai tapi...kamu yang pakai juga cocok," jelas Raya sambil tersenyum konyol dan nyengir lebar. "Dan posisi kita ini udah kayak yang siap mengucap janji setia di hadapan Tuhan," lanjutnya. Larsa segera meninju ulu hati Raya, memancing keluarnya kata-kata kasar dari mulut si rambut biru toska.

"Sekali lagi kamu bilang aku mirip perempuan, kubuang kau di Geffen biar mati dihajar kupu-kupu."



***

Disclaimer : Lee Myoung Joon dan Lyto corp.

maharana : welcome

Nambah satu blog lagi. Kebiasaan, emang. Tapi mungkin blogger, seperti yang udah gue bilang berkali-kali sama temen gue yang bimbang dan galau mau milih situs mana untuk tempat blogging yang lebih baik, lebih cocok untuk banyak tulisan dan sedikit gambar, ketimbang tumblr yang banyak gambar dan sedikit tulisan.

Anyway, maharana sendiri berarti perang besar. Ini sedikit banyak menunjukkan gimana ribetnya isi kepala gue kalau udah berhubungan dengan yang namanya dunia tulis-menulis. Remvong, pake v biar gaul. Niatnya sih blog yang ini lebih banyak ngebacot soal fiksi dan fanfiksi tapi bukan berarti gue mindahin cerita-cerita lain yang udah tersebar luas di banyak blog gue lainnya ke sini. Malas.

Feel free to comment tapi, jangan heran atau protes ketika isi ceritanya melenceng dari norma dan akal sehat :)

Oh, dan juga, blog ini adalah salah satu langkah gue untuk jadi lebih rapi dalam mengarsipkan file. Satu dari sekian things-to-do-before-I-die.