Monday, 2 December 2013

And So?

Shinji & Andreas (c) Pratiwi Fitriani

.

.

"Tidak."

"Eh?" Shinji mengerutkan dahinya.

Freyr tersenyum tipis. "Aku tidak mau. Aku tidak mau mengajarimu cara mencari kebahagiaan."

Shinji, mengerjap.

"Yang kau lihat selalu Andreas. Yang kau cari selalu Lyra. Tidak akan pernah ada aku, Shin. Tidak peduli sebanyak apa aku berusaha untuk membuatmu bahagia."

Freyr menatap mata Shinji, membiarkan pemuda di hadapannya melihat ia menangis, untuk pertama kalinya.

"Aku... lelah, Shin. Aku...." Freyr menggantungkan kalimatnya. Tangannya menggenggam erat jaket Andreas.

"Aku mau berhenti saja."

.

.

Tidak pernah, Shinji melihat Freyr menangis. Ia tahu pemuda berambut platina itu sering menangis di belakangnya, namun tidak pernah ia melihatnya langsung.

Hatinya, patah.

Lagi.

Ia hanya bisa menggenggam jaket milik Andreas yang Freyr berikan padanya. Mengutuki keturunan dewa yang sekarang menghilang dan menyisakan ribuan masalah yang harus mereka semua selesaikan. Ini salah satunya.

Kalau Freyr menyerah saat ia mencoba untuk maju, lalu bagaimana?

Apa?

Friday, 22 November 2013

Third Person

Bau laut. Debur ombak. Air yang melompat riang membasahi kaki.

Freyr harus menahan diri untuk tidak menenggelamkan dirinya.

Ini adalah kali kedua ia diam berjam-jam tidak bergerak di tepi pantai, didatangi anjing liar dan dilewati kepiting nyasar. Beberapa bola voli menggelinding ke arahnya, tidak jarang yang hampir menghantam kepalanya.

Freyr sedikit berharap ada yang melempar ke arahnya dan membuatnya mati di tempat.

Kali pertama ia datang ke pantai dan membisu begini adalah tujuh tahun lalu. Cinta pertamanya pergi ke alam sana setelah memberitahu bahwa yang ia cintai bukanlah Freyr, melainkan Leon. Untuk pertama kalinya, ia membenci Leon dan menolak berinteraksi dengannya sampai berbulan-bulan.

Saat itu ia pergi ke laut dengan satu tujuan : mati bunuh diri.

Drama? Ya. Biarlah Leon yang mengambil semua lampu sorotnya dan dia yang memainkan dramanya. Toh, wajah mereka berdua sedikit mirip. Ganti saja warna rambut dan sifat dasarnya. Tadaa!

Dan kali ini, ia merasakan dorongan yang sama dengan saat itu.

Satu hal yang tidak pernah bisa ia pahami dari hubungannya dengan pemuda yang menolak untuk maju dari masa lalunya.

Kenapa pada akhirnya ia selalu jadi orang ketiga dalam hubungan yang manapun?

Monday, 11 November 2013

P.S

Shinji (c) Pratiwi F

.
.
.



22.07 Le.

22.15 Oi. Gimana Indonesia?

22.17 ....

22.17 Gue... boleh punya cerita bahagia, kan?

22.20 Ha?

22.20 Apaan sih Freyr?

22.21 Lo di mana deh?

22.21 Mana Shinji?

22.45 Oi.

22.50 Freyr!

23.00 Anjir lo di mana deh?!

***

23.15 Lagi di mana lo?
23.20 Urusan lo?

23.25 Jawab aja pertanyaan gue. 

23.30 Jakarta

23.32 Freyr di mana?

23.35 Hotel

23.37 Lo ga lagi bareng dia?

23. 40 Oi.

23.46 Ngga

23.46 Kenapa?

23.50 Gue ga mau tau pokonya lo harus cari dia sampe ketemu

23.51 Kabarin gue kalo udah ketemu.

***

Ckrek.

Lampu kamar menyala, begitu pula dengan pendingin ruangan. Kopernya masih ada, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia di kamar itu.

"Freyr?"

Sunyi.

Pandangan Shinji jatuh pada kertas putih di atas meja. 

***

Bye.

Saturday, 9 November 2013

Amusement

Zen (c) Pratiwi Fitriani 
.
.
.

Leon menghembuskan nafas, menciptakan uap tipis di udara. Ia melirik jam tangannya, pukul satu malam. Dengan ini, berarti ia sudah berada di rumah sakit hampir dua puluh empat jam. Ia mengamati sekelilingnya, sunyi. Hanya ada suara riuh di kejauhan, bunyi sirine yang semakin dekat, dan desir angin pelan yang melewati celah sempit.

Akhirnya ia tahu, apa yang membuat Zen sering sekali meneleponnya saat sedang jaga malam dan terpaksa berjalan sendirian dari satu gedung ke gedung lain untuk mengantarkan selembar kertas hasil interpretasi laboratorium. Koridor rumah sakit dan malam hari jelas kombinasi merupakan kombinasi yang buruk.

Ia merapatkan mantelnya, lalu membiarkan pikirannya terbang. Mau tidak mau, ia sedikit kagum pada Zen. Pemuda yang terjebak di masa-masa bocahnya itu sanggup bangun hampir tiga puluh enam jam dan masih mempertahankan kewarasannya untuk sekedar menanyakan kabarnya, marah-marah saat ia menolak makan dan memilih mengerjakan apapun yang ada di meja kerjanya, memisuh-misuh tentang teman-temannya, dan mengendarai mobilnya pulang ke rumah tanpa mengantuk sedikit pun.

Dan tadi, ketika ia terlalu takut melihat Freyr yang terbaring tanpa daya di instalasi gawat darurat, Zen masih bisa memakluminya dan menenangkannya.

Padahal, entah sudah berapa bulan mereka tidak bertemu muka.

"Le."

Leon mengerjap. Bingung. Separo isi otaknya masih berterbangan di awan merah jambu di langit imajinernya. Ia menoleh dan menemukan pemuda berambut ikal sedang tersenyum lebar sambil membawa kantung plastik.

"Zen?"

Zen hanya nyengir lebar dan menyodorkan kaleng minuman coklat ke wajah Leon. "Untukmu."

"Oh. Ya. Thanks."

"Uh-huh."

Zen lalu berdiri diam di samping Zen. Matanya menatap langit-langit koridor seolah itu adalah hal paling menarik saat ini. Sementara Leon masih bingung menatap minuman kaleng miliknya. Zen mendengus.

"Lagi belajar telekinesis ya?"

"Ha?"

"Itu kaleng dibuka, terus diminum. Bukan diliatin begitu."

"Bukan gitu," ujar Leon lirih dan menyimpan minumannya di dalam saku mantel.

"Terus?"

"... ngapain kamu di sini? Jam segini? Kamu nggak pulang? Orang rumah nggak nyariin?"

Giliran Zen yang memasang wajah bingung.

"Hah?"

"Ini jam satu pagi, Zen. Ngapain kamu di sini, jam satu pagi?!"

"Ngapain? Nemenin kamu, lah. Emangnya ngapain lagi?"

"... hah?"

"Aku udah bilang orang rumah, kok."

Leon menggeleng. "Bukan. Maksudku bukan itu. Kemarin kamu jaga malam, kan?"

"Ya?"

"Hari ini kamu kuliah, kan?"

"I... ya? Terus?"

"Kamu kapan tidurnya?"

"Tadi. Di asrama. Aku belum pulang. Ini aja baru bangun."

"... oh."

"Santai, Le. Ngeliat warna muka kamu udah nggak sepucet tadi malem dan bisa marah-marah begini aja, cape aku ilang. Santai."

"Gitu?"

"Yo-ho."

"Bagus deh."

"Kenapa bagus?"

"Bagus, nggak gampang sakit."

"Emangnya kenapa kalo aku sakit?"

Leon menatap Zen dan tersenyum tipis. "Kalo kamu sampe sakit kayak Freyr, entah bakal segila apa aku, Zen."

Thursday, 7 November 2013

Boost

Zen (c) Pratiwi Fitriani
.
.
.

Zen tidak pernah melihat Leon sekacau ini.

Sekilas saja ia bisa tahu kalau pemuda berambut hitam itu sangat ketakutan. Ketakutan. Tangannya mengepal erat, matanya fokus hanya pada satu hal, bahunya tegang, dan mulutnya tidak berhenti bergerak-gerak membaca doa.

Tidak pernah sekalipun ia membayangkan, akan melihat sisi lain dari detektif swasta handal ini.

Karena, Leon yang Zen tahu adalah seorang pemuda asal, serampangan, seenak jidat, dan berani.

.
.
.

"Le." Zen memberanikan diri menepuk pundak Leon.

"...Zen?" ujarnya tidak percaya. Padahal, sudah setengah jam yang lalu ia berdiri di samping pemuda itu. Mau tidak mau, Zen tersenyum tipis. Ia lalu menepuk-nepuk pundak Leon lagi.

"Kondisinya nggak separah keliatannya, Le. Tenang ya."

Terdengar klise, namun itu adalah yang paling bisa dikatakan oleh Zen pada situasi seperti ini. Freyr, dengan mata terpejam dan bekas darah membasahi pakaiannya, hampir membuat Zen serangan jantung. Untungnya, apa yang dikira Zen darah Freyr ternyata salah. Yang membasahi pakaian Freyr sedemikian rupa adalah darah orang lain, penumpang bis yang duduk di depannya, yang datang dalam keadaan tidak berbentuk, dan bukan datang ke instalasi gawat darurat. Tidak perlu dijelaskan di mana manusia malang itu ditangani saat ini. Freyr pingsan karena benturan di kepala, dan hasil foto kepala menunjukkan tidak ada perdarahan atau apapun yang membahayakan, setidaknya untuk saat ini. Senior-senior Zen memutuskan untuk mengamati perkembangan Freyr, setidaknya sampai ia sadar, sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Leon hanya diam dan memandangi tubuh adiknya yang dipasangi berbagai macam kabel dan selang ketika Zen panjang lebar menjelaskan semuanya. Terlihat sekali kalau pria itu tidak mendengarkan. Zen menghela napas. Maklum.

"Well, kalau kau butuh apapun, kau bisa cari aku di ujung sana, ya. Aku mau bantu Darma dulu." Zen berkata sambil lalu, menunjuk satu ruangan bertirai tempat Darma sibuk keluar-masuk panik.

"Zen."

Zen berhenti berjalan dan berbalik.

Leon menatapnya dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Terima kasih."

.
.
.

"Oi. Zen. Ngga usah kerja sambil cengengesan bego gitu."

Wednesday, 6 November 2013

Serangan Fajar!

Zen (c) Pratiwi F

.
.
.

"Huf."

Satu desahan meluncur begitu saja ketika Zen setengah menjatuhkan pantatnya di kursi. Satu kakinya lalu naik ke kursi di depannya, sementara ia meregangkan punggung sebisa mungkin. Akhirnya, setelah sembilan jam bolak-balik berputar-putar di dalam instalasi gawat darurat tanpa sempat duduk sedetik pun, ia memutuskan untuk merajuk memohon pada ketua kelompok jaganya malam ini untuk istirahat setidaknya dua jam. Untung saja Darma setuju. Pemuda tanggung berotot dan hobi main basket itu pun ikut-ikutan istirahat, menyerahkan baton papan jalannya pada Zaki, yang sempat marah-marah selama lima detik sebelum akhirnya tergopoh-gopoh lari menghampiri senior yang memanggilnya.

Jadilah, Zen terdampar di kantin rumah sakit yang--untungnya--buka dua puluh empat jam, berpisah jalan dengan Darma yang lebih memilih istirahat di asrama dokter muda.

Zen melirik jam tangannya, jam tiga pagi. Ia mengalihkan pandangannya ke depan, pada segelas milkshake vanila. Tak lama, pramusaji datang dengan nampan, mengantarkannya semangkuk bakmi ayam jamur dan teh manis panas. Senyum tipis mendadak terulas di wajahnya ketika melihat porsi makan 'malam'nya hari ini.

"Selamat ma--

KRIIIIIIIING!!!

"Tai."

Zen mengumpat dengan sepenuh hatinya. Ponselnya berbunyi dan nada deringnya adalah nada khusus untuk Darma hari ini. Kalau Darma meneleponnya di waktu istirahat jam tiga pagi begini, berarti ada yang salah dengan keadaan Zaki di IGD.

Entah ia iseng, entah seniornya mengancam Darma, atau....

.
.
.

"Serangan fajar!"

Zen tidak sempat lagi memaki-maki Zaki yang menyemburkan droplet udara ke wajahnya ketika ia akhirnya berhasil menyeret kaki ke IGD. Entah apa yang terjadi, namun belasan brankar mendadak berjejer di sepanjang sisi ruang. Semua yang berbaring di atas brankar itu entah memiliki noda merah-merah atau menjerit histeris kesakitan. Dari jumlahnya yang mendadak ini, Zen mengira setidaknya ada satu bis atau dua mobil yang terlibat. 

Apapun itu, pasti ada satu yang lalai.

Dan Zen sangat ingin sekali memasukkan bakmi ayam jamurnya ke dalam hidung pengendara yang lalai itu.

"Zen! Lo pegang tiga sekaligus ya!" perintah Darma, kini kembali memegang baton papan jalannya. Dengan sigap ia menulis-nulis perintah para senior, selagi satu tangannya menempelkan ponsel di telinga untuk membangunkan rekan-rekannya yang lain. Zen hanya bisa menghela napas dan mulai mencari pasien-pasien yang terlihat agak stabil untuk dijadikan pasiennya. Pilihannya jatuh pada seorang wanita usia dua puluh tahun yang menggeser sendi bahunya ketika ia menahan tubuhnya agar tidak terbentur, seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang patah tulang jari-jari kaki, dan seorang pemuda berambut keperakan yang....


eh?

"Fr--

"FREYR!!!"


Thursday, 17 October 2013

(....)

menganga lebar
luka ini
perih
pedih

jarimu dalam genggamku seperti pasir
mengalir bebas tanpa henti
terbang ke langit

petak milikmu, tak lagi terisi
tak lagi ada

pergi bersamamu
jauh, jauh
di sana yang tak kujangkau
di mana yang tak ku ketahui

di tempat waktuku tak lagi menyentuhmu
ruangku tak lagi menemukanmu
di ujung langit sana

kapan bisa kututup luka ini?
kala waktuku berhenti?
kala kita bertemu untuk berpisah selamanya?

kau tahu?
aku ingin

(....)

.
.
.

just some stupid things yang dibuat buat writing project Antologi Rindu, tapi sampe akhir deadline ngga punya nyali buat ngirim naskahnya. daripada mbusuk di drive, mending disimpen di sini. 

Sunday, 6 October 2013

The End

collab with Pratiwi Fitriani

.
.
.

Asap rokok. Freyr terbatuk sedikit ketika inderanya menghirup asap racun itu. Ia membuka mata dan menemukan Shin sedang duduk di sudut tempat tidur dengan asap membumbung di sekelilingnya. Matanya tidak fokus, menatap entah apa di hadapannya. Nyata, atau tidak.

Freyr bergerak dari posisi berbaringnya, namun tidak mendekati Shin. Ia diam di tempat dan menatap pundak bidang pemuda itu, rambutnya yang selalu acak-acakan, garis-garis halus bekas luka di mana-mana, semua.

Perih. Dada Freyr terasa sesak, perih, pedih. Rasa yang dulu sekali pernah ia alami, ketika yang pernah ia cintai malah mencintai orang lain. Bukan sekedar orang lain, melainkan saudaranya sendiri. Kini ia bahagia, karena setidaknya Shin tidak mencintai siapapun selain dirinya.

Siapapun yang hidup, selain dirinya.

"Shin."

Shinji berbalik, menatap Freyr. Dari matanya saja Freyr sudah tahu. Sangat tahu, tentang siapa yang sedang pemuda itu pikirkan saat ini. Dulu, maupun kelak.

"Ada apa, Frey?"

Freyr ingin bertanya, ingin menuntut, ia ingin bahagia.

Tapi, apa artinya bahagia kalau hanya dia sendiri yang merasakannya?

"Kau tahu, aku sayang padamu."

Shin mengerjap, kaget. Namun tak lama, ia mengangguk. "Ya. Aku juga."

"Tapi hanya itu, 'kan?" Freyr berusaha keras supaya suaranya tidak terdengar aneh. Usaha yang sia-sia, karena Shin selalu bisa mengetahui kapan Freyr berpura-pura.

Shin menghela napas dan mengalihkan pandangannya pada apapun. Ia sudah tahu kemana pembicaraan ini akan berakhir. Ia tidak mau ada di tempat itu lagi, dan ia sangat tahu sekali kenapa Freyr bisa bertingkah seperti ini. Salahnya, dan sedikit salah Freyr juga. Mereka berdua tahu, sama-sama memberi toleransi.

Tapi, sudah jelas siapa yang akhirnya kehabisan toleransi terlebih dahulu. Pertanyaannya bukan siapa yang lebih mau menerima keadaan pasangannya, tapi siapa yang lebih cepat maju dari kenyataan.

Dan sudah sangat jelas, siapa yang masih terjebak labirin masa lalu.

"Shin," lirih Freyr. Wajahnya menunduk, tangannya mencengkram seprai begitu erat--menahan habis-habisan air mata yang mulai terkumpul di ujung mata. Kalau jawaban Shinji adalah satu kata itu...

"Ya. Hanya itu."

Freyr tidak tahu harus mencari kebahagiaan dalam bentuk apa lagi.

.
.
.

Apa ini karmanya? Karena ia terlalu dalam jatuh pada Lyra dan Noir, karena ia tidak mau mengalah pada Yuuji, karena ia tidak mau maju demi Freyr, sehingga pada akhirnya ia harus kehilangan semua orang yang ia sayangi seperti ini?


Wednesday, 11 September 2013

Causes Stain, Stay Away!

(c) Kouji Ouji
(c) L'Arc~en~Ciel

.
.
.


Bulu kuduknya meremang, naik sempurna.

Rei tidak pernah merasa setakut ini seumur hidupnya. Bahkan ketika ia harus melompat dengan bantuan sebatang kayu panjang dan mendarat di atas matras, atau ketika ia terseret ombak di dalam badai. Ini pun bukan kali pertama ia bertemu muka dengan pemuda di hadapannya. Pemuda berambut merah marun dengan warna mata yang sama seperti miliki Gou-chan. Rin Matsuoka.

"Rei Ryugazaki?"

"Ah, ya." Rei menelan ludah. Nada suara Rin jelas mengintimidasi. Jelas, kentara seperti merahnya rambut pemuda dari Akademi Samezuka tersebut, bahwa ia sama sekali tidak suka padanya.

"Kalau kau menghalangi mereka, lebih baik kau berhenti saja."

.
.
.


Sunday, 8 September 2013

Busted!

25 September 20xx

Jaga malem untuk yang keseribulimaratusjutapuluhribu kali.

Harusnya sih ngga ada hal aneh di jaga malem ini. Ke mess buat ganti baju, ambil sendal japit, solat magrib, terus langsung balik ke igd buat stand by. Harusnya.

Siapa sangka, ada Bang Randi.

Ngga ada angin ngga ada ujan, pas buka pintu mess, pas dia lagi keluar dari lorong mess sambil ngasih perintah ini-itu ke juniornya. Pffft. Efek udah naik semester ya, Bang?

Basa-basi sebentar, ternyata dia mau pulang. Yah, sudahlah. Toh hari ini jatahnya gue nangkring di sekre. Doesn't matter at all. Pas jaga kemaren gue udah ketemu dia juga kok di igd.

Tapi, jadi inget percakapan dulu banget.

"Jaga, Bang?"

"Iya nih. Duh. Malesnya. Lo jaga juga, Ka?"

"Ngga dong. Lagi bagian yang ngga ada jaga nih, hahaha."

"Ah, enak banget. Terus ngapain lo jam segini masih di rumah sakit? Betah amat."

"Ih, ini juga udah bersiap mau meluncur ke bioskop terdekat."

"Emang ada film apa yang rame?"

"Ngga tau, gimana nanti aja. Anaknya impulsif sih."

"Yaudah, pulang sana."

"Hahaha, anterin dong Bang."

"Duh, kalo nunggu gue yang anter, lo pulangnya bisa dua hari lagi. Eh, Ka, angkatan lo lagi sendiri ya di sini? Kasian amat jaganya."

"Hahaha, iya nih Bang. Mau gimana lagi."

"Yang baru kapan masuk?"

"Abis kita spacing. Sekitar Maret-April. Kenapa?"

"Ngga."

"...Ya ampun, belum juga masuk udah ngincer aja. Siapa sih Bang, siapaaaa???"

"Yee! Kagak! Ngga ngincer siapa-siapa juga."

"Duh, malu-malu banget sih. Hayo bilang yang mana??"

"Hahaha. Daripada gue ngejar yang belum tentu ada, mending gue nyari yang jelas-jelas ada aja, Ka."

"Ooooh jadi angkatan aku nih, Bang? Hayoo siapaaa?"

"Ah elu. Dasar!"

.
.
.

"ACIL BACA APAAN LO DASAR TIANG LISTRIK SEENAKNYA BACA BUKU ORANG SINI GUE PUKUL KEPALA LO BIAR PENDEK!!!!"

Saturday, 31 August 2013

Untitled #2

A windowsill, dripped wet
with tears
mine, as I cried and cried over my stupid mistake of loving you

A piece of me betrayed its owner
me
for still wanting you and hoping and wailing and crying over you

Again.
and again and again

Where are you?
Do you hear me?
Do this gentle wind give you my message?
Of how much I love you?

How much should I say goodbye?
to my heart
to your back
I cannot reach

A Snippet of A Heart

(c) Cassandra Clare

.
.
.

Magnus sudah hidup hampir delapan ratus tahun. Ia sudah mengalami ratusan kali jatuh cinta, ratusan kali patah hati, dan lebih banyak lagi melihat kematian merenggut nyawa para manusia dengan begitu mudahnya. Di masa awalnya sebagai seorang warlock, ia mensyukuri ketidakmampuannya untuk mati. Di masa mudanya, ia mengasihani para manusia, yang begitu putus asa mempertahankan kehidupan mereka sampai rela menjual jiwanya pada seorang Downloader sepertinya.

Seiring waktunya bertambah, semakin banyak pula jumlah manusia yang ia temui. Berbagai karakteristik manusia ia jumpai, dan akhirnya ia menemukan keindahan dari jiwa manusia yang begitu singkat itu. Seperti api, membakar paling panas dan menyala paling indah pada masa-masa akhirnya. Begitu hangat dan singkat, hidup manusia--kehidupan para makhluk fana.

Will Herondale, Camille Belcort, Axel von Fersen, sebutkan saja nama-nama makhluk yang membuatnya jungkir balik. Dibalik sikapnya yang angin-anginan, bahkan Pangeran Neraka Azazel pun tahu betapa loyalnya Magnus pada cintanya. Ia rela mengorbankan semuanya; tenaga, waktu, dan hatinya, untuk bisa membahagiakan yang ia cintai dan sayangi. Ya, hati. Magnus bukanlah seorang warlock tanpa hati yang hidup semata-mata karena keabadian mereka. Waktu sudah mengajarinya begitu banyak, cukup untuk membuatnya menghargai jiwa setiap fana yang ditemuinya.

Dan meskipun hatinya patah setiap kali objek cintanya dijemput oleh Azrael, tidak pernah sekalipun ia menyesali waktunya yang tanpa akhir ini. Tidak.

Kecuali, saat ini.

Bau obat-obatan begitu menyengat hidungnya. Semua tempat tidur berseprai putih yang berjajar ini membuatnya gila. Pertempuran antara Shadowhunters, faeries, dan Downloaders dengan Jonathan Christopher Morgenstern dan pasukan Shadowhunters gelapnya sudah selesai. Pemenangnya, well, Magnus tidak akan bisa duduk manis di salah satu sisi tempat tidur jika memang Putra Valentine itu yang menang. Jace Herondale memenangkan pertempuran epik ini. Ia dan Clarissa Morgenstern berhasil membuktikan pada dunia bahwa memang malaikat-lah yang pada akhirnya akan memenangkan segala macam pertempuran yang melibatkan surga dan neraka. Bukan berarti para iblis tidak bisa memenangkan pertempuran gila ini. Namun ketika Iblis Utama dari jajaran malaikat jatuh yang mau bergabung dengan perang ini hanyalah Lilith, sedangkan Jace memiliki api milik Michael dalam dirinya dan darah Ithuriel mengalir dalam pembuluh Clary, apa dayanya? Hanya satu hal yang Magnus ketahui dari perang ego yang sudah menumpahkan begitu banyak darah ini.

Kau tidak bisa apa-apa jika berjalan sendirian.

Yang juga merupakan salah satu jawaban mengapa ia memilih untuk berdiam diri di bangsal rumah sakit di Institut, menggenggam tangan seorang Shadowhunter muda yang sedang terbaring tak berdaya dan hampir tanpa nyawa.

Perang selalu membawa korban, dan Alexander Gideon Lightwood adalah salah satunya.

Meskipun Magnus menolak untuk ikut serta dalam perang, hatinya tidak bisa berbohong. Seolah ada yang meremas dadanya ketika ia melihat kilatan cahaya di kejauhan--di tempat terjadinya perang. Ia membayangkan ada di sana, melihat kekacauan, darah, dan pembunuhan yang sedang terjadi. Ia membayangkan Jace membelah satu keturunan Lilith jadi dua bagian, Izzy mengayunkan cambuknya dan menghabisi apapun yang berada di jalannya, Simon melompat kesana-kemari memamerkan taringnya dan merobek leher lawannya, dan Clary, well, Clary menjadi seorang Clary. Berteriak dramatis, menyerang dramatis, merayakan kemenangan dan panik dengan dramatis. Kau tidak bisa membayangkan seorang drama queen menjadi tidak dramatis di saat-saat penuh drama seperti ini.

Lalu, pikirannya teralih pada Alec. Kekasih fananya yang begitu--manis. Ia tidak bisa berbohong bahwa Alec bukan tipenya dan bahwa ia tidak pernah jatuh cinta pada pria lain selain Alec. Will dan Axel--dan kini Alec--adalah salah satu contoh betapa rambut hitam dan mata biru tidak pernah berhenti menjentikkan listrik ke dalam hati Magnus, yang membuat perutnya seperti berisi ribuan lebah terbang. Karena kupu-kupu terlalu mainstream.

Alec, yang begitu canggung dan tidak pandai berkata-kata. Alec, yang membiarkan dirinya dipanggil 'sweet pea' ataupun 'darling' atau apapun oleh Magnus dan hanya mendengus saja sebagai responnya. Alec, yang begitu cemburu pada kisah masa lalunya. Alec, yang begitu ingin tahu tentang bagaimana kehidupannya, siapa saja yang sudah ia temui, apa saja yang sudah ia lakukan, siapa ayahnya yang sesungguhnya--yang seharusnya sudah diketahui oleh Nephilim muda itu mengingat begitu banyak petunjuk mengenainya. Alec, yang begitu putus asa mengenai kefanaannya. Alec, yang putus asa karena kemampuan Magnus untuk mengubahnya menjadi abadi tanpa harus menggunakan sihir hitam atau mengubahnya menjadi vampir. Alec, yang begitu putus asa sampai mau membuat kesepakatan dengan Camille demi memangkas nyawa Magnus.

Alec, yang begitu mencintainya sampai ia jatuh terlalu dalam di kegelapan hatinya sendiri.

Pertama kali dalam hidupnya, Magnus begitu membenci keabadiannya, ketidakmampuannya untuk mengakhiri waktunya dengan cara yang normal, kemudaannya, semuanya.

Magnus--yang pada akhirnya memutuskan untuk ikut berperang demi melindungi Alec, secara diam-diam--tidak bisa melupakan kengerian yang begitu nyata baginya saat itu. Bukan ketika pada akhirnya Jace membunuh Jonathan, namun saat Alec rubuh ke tanah bergenangkan darah. Darahnya.

Mata kucing Magnus mengecil. Inderanya lebih sensitif entah berapa ribu kali. Pita suaranya protes ketika ia berteriak panik. Otot kakinya menyerah saat ia akhirnya sampai di tubuh Alec yang bergelimang darah.

Pandangannya gelap. Total, dan saat itu juga ia membayangkan rasa yang lebih buruk daripada mati.

Yaitu ketika hatimu dibawa ke alam kematian oleh jiwa yang memilikinya, sementara tubuh dan jiwamu terbelenggu oleh rantai keabadian sampai akhirnya malaikat maut sudi mencabut nyawamu.

Magnus memejamkan mata, berusaha menelan pahit yang mendadak muncul di pangkal lidahnya ketika ia mengingat kronologi kejadian tersebut. Bayangan Alec yang mati meninggalkannya. Lagi.

"Alexander," lirihnya. Nama Alec begitu merdu di telinganya. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam duduk di atas sofa dengan hanya melantunkan nama Alec saja terus-menerus dan tidak bosan karenanya. Untuk pertama kali dalam sejarahnya sebagai seorang warlock, Magnus merasa putus asa. Entah apa yang berhasil melukai Alec, ia tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Hanya satu yang Magnus tahu. Apapun itu, ia berasal dari dunia bawah.

"Alexander, kumohon, sadarlah." Genggaman Magnus pada tangan Alec semakin erat, seolah berusaha menarik Alec dari kegelapan manapun yang saat ini sedang ia jelajahi.

"Maaf, aku memutuskan untuk berpisah denganmu hanya karena alasan konyol soal kepercayaan. Maaf, aku  lupa betapa rapuhnya hatimu. Maaf, Alexander. Aku akan meminta maaf padamu sebanyak yang kau mau. Aku akan menceritakan padamu tentang hidupku. Tentang Will, tentang Camille, tentang Woolsey, Peru, balon udara, London, semuanya. Aku akan mencari cara, bagaimana membuat kita bisa terus bersama sampai selama-lamanya. Karenanya, aku mohon, Alec...."

"Buka matamu."

.
.
.

Karena aku tidak sanggup hidup sendirian di waktu yang tanpa batas ini tanpa dirimu di sisiku, Alexander.

Wednesday, 28 August 2013

Break

Asap abu-abu membumbung dari rokok yang sudah terbakar separo. Dua jari menjepit batang tembakau tersebut, sesekali memutarnya. Mata coklat si empunya tangan tidak fokus. Kesana kemari, seperti memandangi seekor kupu-kupu yang terbang panik.

Seperti memandangi kupu-kupu dalam dirinya yang terbang panik.

Satu hisap dari asap nikotin yang adiktif, dan sel-sel otaknya kembali mati sambil bekerja di waktu yang sama.

"Cil. Mati lo, ngeroko melulu."

Gaya bicara Luca yang monoton membuat Ciel kesal. Tidak tahu kenapa. Kesal saja.

"Gue ga ngeroko juga mati."

"Maso."

Satu jitakan mendarat di puncak kepala Luca. Gadis berambut ikal itu hanya meringis. Tidak ada niat membalas kelakuan kembarannya sedikit pun.

"Ka."

"Um?"

"Gue cape."

Luca menoleh, menatap Ciel dari samping. Mata pemuda itu redup. Kilau jahilnya seolah hilang diserap waktu. Lengannya segera terulur dan merengkuh pemuda tersebut dalam pelukannya.

"Ya istirahat dong, Cil."

"Boleh?"

Luca tergelak. Kencang. Geli. "Siapa yang ngelarang?"

"Lo, gapapa gue lepas?"

Luca melepas pelukannya lalu tersenyum lebar. "Lo mau break seumur hidup juga ga masalah, Ciel."


Sunday, 25 August 2013

Suddenly Sister

(c) Cassandra Clare
Faux (c) tasyatazzu

.
.
.

Prang!

Alec tidak bisa tidak melepaskan gelas yang sedang dipegangnya. Mata biru Shadowhunter muda itu membelalak. Pupilnya melebar, dahinya berkerut, mulutnya terbuka. Terkejut, sangat terkejut. Sementara itu Magnus, yang sedang duduk di kursi berlengan empuk warna kuning bunga matahari, tidak sengaja merosot dari tumpuan tangannya. Hampir satu milenia ia hidup, tidak pernah ia merasa sekaget ini.

"Apa katamu, barusan?" tanyanya hati-hati. Pupil kucingnya semakin mengecil ketika menilik entitas di hadapannya dari atas ke bawah. Rambut hitam. Mata kuning. Usia sekitar dua puluh tahun. Tidak ada yang mengganggu dari penampilan fisik gadis tersebut, kecuali fakta bahwa memang matanya terlalu kuning untuk ukuran manusia biasa dan poncho yang terlalu besar sampai menutupi setengah betis serta syal yang menutupi lehernya sampai sedikit menyentuh telinga, di musim panas ini. Tapi Magnus memutuskan untuk tidak peduli dengan detil kecil begitu. Bisa saja ia memakai lensa kontak. Bisa saja ia sedang diet ketat dan memutuskan menjadikan poncho dan syalnya sebagai pengganti sauna. Bisa jadi.

"Sudah kubilang, Magnus. Aku adikmu."

"Gila. Ibuku sudah mati entah berapa ratus tahun yang lalu dan tidak mungkin manusia bisa berusia lebih dari seratus ta--

"Siapa bilang aku manusia?"

"Apa?!"

.
.
.

Alec tidak pernah melihat warlock lain selain Magnus. Mungkin pernah, dulu, dalam tugasnya sebagai seorang Nephilim, namun ia tidak pernah melihat warlock dengan tanda seperti ini. Helai bulu hitam mendarat di lantai ketika gadis di hadapannya ini melebarkan sepasang sayap sekelam malam di punggungnya. Bulu-bulu itu terus menutupi tubuhnya sebagai tanda, memanjang ke leher dan meliputi kedua lengannya. Wajahnya terlihat bosan ketika Magnus membuka mulutnya dengan takjub, seperti sudah biasa melihat reaksi berlebihan dari sesamanya.

"Aku warlock. Ayahku adalah ayahmu. Itu berarti aku adikmu." Nada suaranya datar.

"Ayahku? Darimana kau tahu kalau ayah kita sama? Berapa umurmu? Siapa ibumu? Dimana kau lahir?" berondong Magnus setelah melompat dari kursinya dan mendekati sang 'adik' untuk kemudian mengamatinya dengan seksama, seolah ia adalah satu subjek eksprimen yang menarik.

"Umurku tiga ratus tahun. Ibuku seorang Jepang, sudah mati dibunuh oleh masyarakat begitu melahirkanku. Ayah angkatku yang mengurusku sampai akhirnya ia mati dibakar oleh rakyat di kota yang baru, yang mengira aku membawa malapetaka--yang memang benar, karena aku juga membakar habis kota itu. Lalu, mengenai kenapa aku tahu kalau ayah kita sama, karena aku bertemu dengannya dan dia bilang aku punya kakak bernama Magnus."

Magnus berhenti mengamati warlock muda di hadapannya. "Maksudmu bertemu?"

"Dia menjelma sebagai ayah angkatku, setelah aku membakar habis kota yang membunuhnya. Meski begitu mirip, aku langsung tahu kalau dia adalah ayah biologisku, dari senyumnya yang sinting dan keji. Ia tertawa terbahak-bahak sambil sesekali menendang mayat yang sudah berubah jadi arang, lalu berkata padaku tentang dirimu."

"Dia menyuruhmu mencariku?"

Gadis itu menggeleng. "Tidak. Aku kemari karena aku sedang tidak ada tujuan maupun pekerjaan. Daripada aku bosan, lebih baik kucari saja siapa kakakku. Karena ia memberitahu namamu secara spesifik, 'Magnus', dan kuasumsikan kau juga seorang warlock, aku mencari keberadaanmu lewat Konsil Warlock. Beruntung sekali, karena dari ribuan warlock di muka bumi ini, hanya ada satu yang bernama Magnus."

Magnus mengerjap. Tidak. Ia tidak percaya. Ia, di antara semua makhluk di dunia ini, punya seorang adik?

"Lalu, namamu siapa?" Alec angkat suara. Gadis itu menoleh pada Alec dan tersenyum tipis dan jahil--senyum yang entah kenapa sedikit mirip dengan Magnus.

"Nama asliku, Akari. Tapi, ayahmu, Magnus, memutuskan untuk mengganti namaku dengan Faux."

"Jadi, namamu adalah Faux Bane?"

"Tidak!"

"Tidak!"

Magnus menoleh kepada Faux.

"Aku tidak mau punya nama keluarga Bane. Bisa-bisa semua orang tahu aku adikmu dan reputasiku berantakan."

"Oho. Kau kira siapa aku, hah?"

"Kau? Magnus Bane. Warlock yang dilarang masuk ke Peru, Perancis, dan banyak negara di dunia ini karena terlalu vulgar, kasar, binal, dan--

"Oke! Cukup! Cukup!"

.
.
.

"Eh? Kau dilarang masuk ke negara? Memangnya kau melakukan apa?"

Tuesday, 20 August 2013

You-less

Es coklat, sepiring pasta carbonara, gelak tawa, celetukan seenak jidat, pembelajaran diri, obrolan berat, candaan lawak, dan temaram lagu mellow. Deru kendaraan terdengar dari kejauhan. Kelap-kelip lampu jalanan bersinar begitu redup, seperti kunang-kunang di tengah malam gelap. Begitu ramai, begitu riang, begitu merebakkan asa dan rindu dalam dada.

Namun tetap saja, bagi Luca, semuanya terasa kurang.

Delapan orang yang saat ini ada di sekelilingnya, sahabat yang sudah lama tidak pernah ia jumpai. Jangankan mengetahui bagaimana kabarnya, sekedar mengucapkan 'halo' pun jarang ia lakukan. Bukannya sombong, atau tidak mau tau.

Mereka tidak pernah bertemu.

Luca terpisah sendirian. Terjebak menjadi satu dari tiga puluh orang lain. Bukannya ia tidak menyukai lingkarannya yang sekarang, hanya saja....

Selalu ada yang kurang.

Tidak peduli, bagaimana pun ia begitu terseret dalam arus dalam lingkaran lamanya. Tidak peduli, apakah ia harus menahan emosinya begitu dalam. Tidak peduli, ia harus menjadi orang lain demi hanya bisa tertawa terbahak-bahak dengan mereka.

Ia selalu merasa kurang.

"Ngelamun aja, Luke!" senggol Langit, masih dengan senyum jahil menggantung di wajahnya. "Mikirin siapa, sih?"

Luca memutar matanya. "Apaan deh. Ngga mikirin siapa-siapa juga."

"Yakin?"

Luca mendengus dan menyenggol Langit, memberinya tatapan tajam sebelum tersenyum lebar dan tertawa. Keras, lepas. Mentertawakan dirinya sendiri.

Ah. Luca akhirnya tahu apa yang kurang.

.
.
.

18.72
Raaaaaaai, kita jadinya makan di XXXX yah. Sini yuk sini, berhenti dulu ngerjain tugasnyaaaaa.

19.45
Kayaknya aku nggak bisa kesana deh, Luke, aku masih kerja kelompok, ini dipresentasiin besok soalnya.

20.00
Huhuhuuuu. Okeeeeeee. Semangat ya!

.
.
.

Monday, 19 August 2013

Martyr

(c) Masami Kurumada
(c) Toei Animation

.
.
.


"SEIYA!!!"

Kouga tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Kakinya melangkah begitu lebar, tangannya mengayun panik. Ia juga tidak tahu, mengapa dadanya begitu panas, pandangannya buram, dan nafasnya tercekat.

Ia hanya tahu, Seiya berada dalam bahaya.

Lalu, semua gelap.

.
.
.


Sunday, 18 August 2013

Panduan Bertahan Hidup di Dunia Nyata dan Bagaimana Menjadi Alfa Yang Tidak Ketergantungan Sama Beta, Gamma, Delta, Omega-atauapapunituabjadyunanilainnya : For Dummy

1. Smile. Bukannya senyum kayak orang gila, ngga ada angin ga ada ujan. Setidaknya kalo kamu ngga sengaja tatap-tatapan sama orang asing di tempat umum, cobalah tarik sedikit ujung bibirnya dan senyum tipiiiiiiiiiiiis aja. Senyumnya sampe mata ya tapi, jangan cuma mulut doang.

2. Ketawa saat mereka ketawa, meskipun ngga lucu. Jangan pernah coba ngomong 'naon sih maneh ngebojeg pisan' sama orang yang baru pertama kali ketemu. Beda ceritanya kalo sama orang-orang di zona seenaknya.

3. Be talkative dan attentive. Susah juga ngajak ngobrol orang yang diem mulu. Apalagi sama yang bengong terus.

4. Inget, bahkan di satu kelompok kecil pun ada strata sosialnya. Mulailah dengan orang yang pertama kali kenalan, terus, terus, sampai akhirnya kamu kenal sama top of food chain. Ngga ada salahnya ko, main sama orang-orang di puncak rantai makanan. They're fun people, cuma otak dan mulutnya aja agak sedikit somplak. Orang-orang yang kayak gini yang ngomongnya tajem tapi bener, isi otaknya ada, dan emang mingle ke semua kasta *tsah*.

5. Don't bother with stupid people yang ngomongnya kosong. Orang jaman dulu bilang tong kosong nyaring bunyinya, dan memang bener begitu adanya. Orang-orang yang hobi merepet kayak mercon dan sangat superfisial sekali adalah people yang fun to talk with, karena mereka bener-bener tau gosip dari A sampai Z'''. Informasi bisa dikorek dari mereka, tapi keaktualannya harus dicek ulang.


Friday, 16 August 2013

Untitled

I am drowning in your scent
in your gaze
in your touch

Your sweet smile, I chant it in my deepest sleep
in my pray
even when chaos falls upon me
and thunderstorm glazing before me

How can I miss you so much
so much I barely breath

Is it even too much
or even too harsh of me
for embracing you so tight
and longing you so

Deliberately falling down
refusing any hands stretched
deep, floating, uncertain
tempted

Wednesday, 14 August 2013

Senja

(c) Akai Higasa

.
.
.

"Oi. Siapa namamu?"

Pemuda berambut hitam itu mendongak. Siang ini, matahari habis-habisan melepas energinya ke muka bumi. Awan pun seolah enggan, menolak mentah-mentah, menghadapi polah matahari yang makin hari makin menjadi. Musim panas menggelayuti langit, menaikkan uap air, menambah kelembaban, membuat malas. Di sudut matanya, ia bisa melihat betapa cerahnya langit siang ini. Birunya memanjang terus sampai cakrawala. Yang kini terhampar di depan matanya bukan lagi warna biru yang tenang dan menghanyutkan.

Merah. Membara. Meletupkan ledakan kecil di dalam dadanya. Meracuni isi kepalanya.

Membesarkan angannya.

"Oi!" tuntut si rambut merah, seolah mengerti bahwa pikirannya sedang melayang entah ke mana.

"Namaku Ren. Hiren. Kau?"

"Hm? Dante. Dante Farnesse, tapi cukup panggil aku Dante."

.
.
.

"Oi! Hiren!"

Telinga Hiren sedikit naik. Ia segera berbalik dan menemukan Dante sedang berlari ke arahnya. Pakaiannya serampangan, seperti biasa. Mahasiswa jurusan ekonomi itu tidak mau buang-buang waktu untuk sekedar mengancingkan kemejanya, atau merapikan kerah bajunya, atau mungkin mengikat rambutnya. Seratus delapan puluh derajat dengan Hiren. Penghuni fakultas hukum ini selalu memasukkan kemejanya; selalu mengancingkan kemejanya sampai atas; selalu memakai sweater atau rompi.

"Ada apa? Kenapa lari-lari begitu?"

Dante sedikit terengah sebelum mendongakkan kepalanya untuk menjawab Hiren. "Dio," geramnya. Hiren mengerutkan dahi.

"Dio?"

"Oi! Dante!!!"

Hiren menengok ke arah suara. Sejurus kemudian, pupilnya membulat. Replika Dante sedang berlari ke arahnya. Garis wajahnya, rambutnya yang panjang dan membara terkena sinar matahari, dahinya yang berkerut marah, posturnya. Hanya saja, kembaran Dante ini memakai kaus santai dengan celana jeans hitam yang terpasang rapi di tubuhnya. Rapi. Rambutnya pun diikat dengan rapi. R-a-p-i. Miringkan kata itu, dan semua orang pun akan tahu bahwa siapapun yang ada di hadapannya ini pasti bukan Dante.

"Gah! Dio! Mau apa sih?"

Ah. Hiren menyimpulkan. Ini pasti Dio Farnesse, adik Dante yang beda dua tahun saja darinya.

"Berapa kali kubilang, jangan bolos! Nilai kehadiranmu sudah hampir melewati batas. Kalau kau benar-benar butuh bolos karena sakit atau apapun, terus bagaimana?!" seru Dio.

"Ya gampang. Tidak usah masuk saja."

Dio mengangkat tangannya, mengayunkan, dan menampar kepala Dante dengan bunyi yang keras. Membayangkan kepalanya ditampar begitu kencang, Hiren hanya bisa berjengit dan mengasihani Dante dalam hati.

"Aduh! Kurang ajar kau!" Dante mengepalkan tinju dan bersiap menyarangkannya di wajah Dio, sebelum lengannya keburu ditahan oleh Hiren. Kedua kepala bersurai merah itu langsung menoleh ke arahnya, dan Hiren mau tidak mau merasa canggung ditatap oleh dua kepala yang hampir sama.

"Siapa dia?" tanya Dio.

Dante menatap Hiren untuk beberapa saat. Hiren mengangguk dengan senyum tipis terukir di wajahnya. Si rambut merah lalu menurunkan tangan dan melipatnya di dada. "Kenalkan, ini Hiren."

"Halo. Kau adiknya Dante, 'kan? Dio?"

Dio mengangguk. "Si. Dio Farnesse. Salam kenal," ujarnya sambil mengulurkan tangan. Hiren menyambut uluran tangannya.

"Kau, satu fakultas denganku, 'kan?" tanya Hiren.

"Yeah. Aku pernah lihat kau. Di festival budaya, kau yang pakai pakaian gadis cina dan menjadi pelayan di cafe itu kan?" Dio nyengir lebar, tidak menyembunyikan betapa ia merasa pria jangkung berotot di hadapannya ini sangat lucu ketika memakai pakaian wanita.

"Ah, jangan mengungkit, Dio. Kalau bisa aku ingin menghapus masa suram itu dari ingatanku."

Dio tergelak. "Kau lucu, Hiren. Sepertinya seru jadi temanmu. Pantas saja Dante tidak pernah absen menceritakan betapa konyolnya dirimu."

"Dio!!!"

Dio dan Hiren menatap Dante, yang jelas kesal setengah mati.

"Ayo pergi!" seru Dante, menyeret Dio pergi, meninggalkan Hiren kebingungan. Dalam usahanya melepaskan diri dari genggaman Dante, Dio menyempatkan diri untuk mengucapkan sampai jumpa pada Hiren. Hiren hanya membalas sekadarnya. Pikirannya keburu melayang pergi terburu-buru menuju tempat perenungannya jauh di atas awan.

.
.
.

Kenapa Dante tiba-tiba marah?

.
.
.

Dan hari-hari selanjutnya berjalan dengan sangat canggung.

Dante tidak lagi menyapanya seperti biasa, Hiren yang harus ambil inisiatif untuk mengejarnya. Terkadang, Dante pura-pura tidak melihat Hiren, yang tidak mungkin mengingat tinggi Hiren yang menjulang dan rambut hitam ikalnya yang kontras di antara warna-warna artifisial tren masa kini.

Ada yang seperti patah di hatinya ketika ia melihat Dante membuang muka. Ada yang tenggelam di dalam angannya ketika ia tahu Dante pura-pura tidak melihatnya dan tidak mau menyapanya. Ada yang rusak dengan isi kepalanya, ketika tanpa sadar ia memejamkan mata dan mati-matian menahan ledakan dalam dadanya.

.
.
.

Satu pukulan di kepala dan Dante menengok ke belakang, menatap Dio yang sedang menatapnya angkuh. Ingin rasanya Dante menumpahkan kopi panas ke wajah adiknya yang semakin hari semakin kurang ajar. Dio mendengus sebelum menarik kursi dan ikut duduk di meja yang sama.

"Aku tidak mengerti isi kepalamu, Dante. Apakah terlalu kosong atau terlalu penuh. Taruhanku sih terlalu kosong, tidak ada isinya sama sekali."

"Bocah brengsek, datang-datang malah ngejekin. Mau kubuang di Teluk Tokyo?"

"Kau, yang isi kepalanya sudah hanyut di Pasifik," ujar Dio dengan sangat santainya, disertai gerakan tangan yang mendorong kepala sang kakak. Kerutan urat yang tegang sudah muncul di pelipis Dante. "Sungguh, aku tidak mengerti dengan cara berpikirmu," lanjut Dio seolah tidak terjadi apa-apa, "kau yang pertama kali mendekatinya, lalu kau juga yang menjauhinya begini. Apa sih maumu? Tarik ulur? Oh, please. Teknik macam begitu sudah tidak lagi berlaku. Kalau kau suka, kau bilang, Kalau kau tidak suka, jangan main api. Begitu saja kau tidak mengerti?" Dio menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dante tidak lagi memasang wajah kesal. Ia bersandar di kursinya. "Bukan begitu."

"Lalu? Kau harus lihat bagaimana mukanya. Persis seperti anak anjing yang dibuang. Kalau aku jadi dia, aku bakal segera cari yang baru saja."

"Begitu? Tapi, tidak pernah ada apa-apa juga. Jadi bukan urusanku kalau misalnya dia punya pacar baru atau--

"Pacar baru? Memangnya kalian pernah jadi?"

.
.
.

Hiren menghela napas dan menatap lurus ke depan. Ayunan yang didudukinya sudah terlalu kecil untuk badannya. Di hadapannya, terhampar kota tempatnya tinggal, disinari cahaya oranye-kuning yang redup. Langitnya mulai berwarna kuning, dengan sedikit gradiasi biru-merah muda-ungu terbentuk di ujungnya. Matanya tidak bisa lepas dari semburat kemerahan yang dihantarkan oleh sang surya yang mengantuk. Merah yang membara, melekat dalam benak, mewarnai seluruh pembuluhnya, mengisi relung hatinya.

Hiren jarang jatuh cinta. Sekalinya ia jatuh, selalu begini. Ia selalu jatuh pada bintang timur di langit, pada purnama yang memeluk gelap, pada pelangi yang muncul semaunya. Pada apa-apa yang tidak pernah bisa ia jangkau. Kali ini, ia jatuh untuk matahari senja yang kemerahan, yang muncul sesaat sebelum tenggelam dalam pelukan malam.

Selalu, yang tidak tergapai. Yang terlalu jauh di depannya. Yang terlalu sempurna baginya.

.
.
.

Lalu canggung, lagi. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada tanda-tanda badai musim panas, dan Dante mendadak menyapanya serta mengajaknya makan siang. Celaka dua belas bagi Hiren, karena hari itu ia sama sekali tidak membawa payung ataupun jas hujan. Pun, uangnya hanya cukup untuk kereta pulang karena tiket abodemennya sudah habis. Ia sudah membayangkan harus menginap di ruang klub judo, tidur beralaskan kayu atau matras bau keringat, ketika Dante berdeham pelan. Salah tingkah.

"Aku... Hiren... aku mau... maaf."

Apa Hiren tidak salah dengar? Dante ingin ia meminta maaf? "Kau mau aku minta maaf?"

"Bukan! Bukan bukan!" Dante menjawab panik. "Maksudku, aku mau minta maaf."

"Untuk?"

Dante menggaruk kepalanya. "Err... untuk menghindarimu, dan... menghindarimu."

Sebenarnya Hiren masih tidak mengerti jalan pembicaraan ini. Satu-satunya jawaban yang bisa ia pikirkan adalah, "Begitu."

"Ya. Begitu."

Lalu, canggung lagi untuk yang kesatujutaduaratuslimapuluhsekianribu. Hiren menatap wajah Dante yang menunduk. Perlahan, ia bisa melihat ada rona merah yang mewarnai kedua pipi Dante, kemudian menjalar terus dan terus, sampai akhirnya wajahnya merona merah sampai telinga.

"Yah! Pokoknya aku minta maaf! Ya! Dah!"

Dante teburu-buru berdiri dan berbalik, menabrak waiter yang sedang berjalan, tersandung kursi, dan terjatuh.

Hiren tidak bisa tidak tertawa melihat aksi teatrikal di hadapannya.

.
.
.

"Dante."

"Mmm?"

"Dante."

"Ada apa?"

"Dante. Dante. Dante."

"He... hentikan! Apaan 'sih?!"

.
.
.

Pada akhirnya, matahari senja memang jatuh pada pelukan malam. Pada gelap yang sempurna dan begitu tenang, pada rumahnya ketika dunia terasa begitu kejam untuk dijalani. Padanya.

Sunday, 11 August 2013

Drown

(c) Akai Higasa

.
.
.

"Sampai jumpa lagi, Riddle-ku yang cantik."

.
.
.

"Oi. Riddle."

Riddle memalingkan wajah dan menyapa sepasang mata hitam yang menatapnya bingung. Maniknya begitu gelap dan dalam, memicu kupu-kupu jiwa meledak dalam dada.

"Ya? Ada apa, Hayato-kun?"

"Tumben kau melamun begitu. Ada apa?"

Senyum. Riddle tersenyum lebar, manis, sampai mata hijaunya berkilau begitu bahagia, membutakan mata. Lagi, kupu-kupu meledak seperti kembang api dalam dadanya.

"Hayato-kun, perhatian sekali kepadaku."

Lalu Hayato memerah, merona, sampai telinga, membuat Riddle mau tak mau menarik senyum lebih lebar dan gelak lebih puas. Membuat Riddle terbang dalam ayunan bahagia tak berbatas.

.
.
.

"Sampai jumpa lagi, Riddle."

.
.
.

Untuk tenggelam. Lagi.

.
.
.

"Sampai jumpa."

.
.

Tuesday, 6 August 2013

Miss You

(c) Lyto
(c) Lee Myoung Jin

.
.
.

"Mulia banget. Mengorbankan diri sendiri sampe luka-luka begitu, Ray."

Raya menoleh, menatap musuh bebuyutan--sekaligus mantan sahabatnya. Bibirnya lalu tertarik tipis.

"Aku tidak se-noble itu, Las. Sama sekali."

"Jadi, definisi tidak noble untukmu adalah membukakan jalan buat party member dengan cara menarik aku jatuh ke air terjun? Hampir tujuh tahun kita tidak bertemu, aku masih tidak bisa memahami cara pikiranmu bekerja. Tidak. Sama sekali."

Raya tergelak, terbahak, tertawa puas. Ia berbaring dan memegangi perutnya, sementara derai gelak tidak berhenti meluncur renyah. Mendengar untai melodi ini, ada yang mengusik hati Laskar. Rindu, nyaman, kenangan, rumah. Raya pernah menjadi rumah baginya, dan mungkin akan selamanya. Laskar tahu, keputusannya berpihak pada Republik Schwartzvald, bukannya Kerajaan Midgard, akan membuat mereka berdiri di dua pihak yang berseberangan dan pertemuan mereka selanjutnya akan menjadi zona perang yang tidak terelak. Apalagi....

"Aku tidak akan minta maaf karena sudah membunuh Thomas."

Tawa Raya berhenti. Laskar memperhatikan perubahan ekspresinya. Ketika Raya menatapnya, Laskar harus menggunakan semua keberaniannya untuk tetap bersikap biasa.

"Thomas sudah kuanggap seperti ayah sendiri."

"Aku tahu."

"Dan kau sudah dianggap seperti anaknya."

"Aku tahu."

Raya menghela napas. "Kematian Thomas. Kalau boleh jujur, sebenarnya tanganku sangat gatal ingin meninju, mengubahmu menjadi seonggok daging, saat ini juga." Raya mengepalkan tangan dan mengkeretakkan sendi-sendi jarinya.

"Kenapa tidak kau lakukan?"

"Duh! Sudah jelas, bukan? Aku tidak mungkin mengubahmu jadi seonggok daging hanya gara-gara Thomas! Lagipula, takdirnya sudah jelas. Hari itu, cepat atau lambat, ia pasti mati. Salah satu pisau para assasin itu berhasil mengenainya. Kau tahu sendiri, entah racun dari tumbuhan atau binatang mana yang ada di atas bilah pisaunya. Kalau dia masih menghantui kita, rasanya dia akan berterima kasih padamu karena mempercepat kematiannya. Dan kalau memang benar ia masih berkeliaran di muka bumi ini, kemudian mengetahui aku menghabisimu demi balas dendam atas kematiannya, bisa-bisa keturunanku dikutuk olehnya. Hih. Membayangkannya saja aku sudah merinding."

"...."

"Oi. Kasih komentar apa, gitu?"

"Ng... bukan... maksudku...."

"Oh ayolah, Laskar!" seru Raya, gemas pada perilaku Laskar yang seperti habis kena hajar tinju troll tepat di kepala, "kau tahu aku paling tidak bisa baca bahasa isyarat! Mau kau bebani otakku sebagaimana lagi sampai kau puas, haa?!"

"Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku tidak akan memberi komentar apapun. Lagipula, kau belum menjawab pertanyaanku, Raya. Kenapa kau mau repot-repot menerjangku jatuh ke air terjun, basah kuyup dan terluka begini, kalau bukan untuk suatu alasan yang sangat mulia?"

Seolah pertanyaan Laskar adalah hal paling lucu di dunia, Raya nyengir lebar.

"Well, aku kangen padamu, tahu!"

Sunday, 4 August 2013

Hujan rintik turun. Bahkan sejak satu jam yang lalu aku bisa mencium wangi tanah dari kejauhan mendekat dengan pasti. Kelabunya terlihat sendu di mataku. Di sudut jendela berwangi aneh ini, aku bisa lihat ada seekor keong bergerak sangat pelan merayapi daun. Sangat pelan, sampai-sampai aku gatal ingin membuatnya terguling dan menggelinding.

Ah, andai aku bisa keluar rumah.

Hujan ini membuatku tidak bisa pergi kemanapun. Airnya membuat rambutku basah kuyup. Bukannya aku tidak suka kena air, tapi hujan selalu membuat rambutku tampak aneh dan mengembang aneh. Menyebalkan.

Aku menguap sesekali. Sungguh, irama konstan dari hujan membuatku lebih mudah mengantuk. Sesekali aku mengulet, meregangkan otot-otot tubuhku serta tangan dan kakiku. Menyebalkan, tidak bisa berjemur seharian dan main ke luar itu. Sangat menyebalkan.

Bosan ini benar-benar membuatku mengantuk dan lapar. Aku segera beranjak dari sofa empuk ini dan berjalan ke kamarnya. Pintunya sengaja tidak ditutup rapat, katanya supaya ia tidak perlu bangun hanya untuk membiarkan aku masuk dan mengoceh serta mengacak-acak kamarnya. Dengan satu gerakan ringan, aku mendorong pintu dan masuk.

Gelap. Tirainya ditutup rapat. Di atas kasur, terdapat benjolan yang tertutup oleh selimut berwarna hijau yang bergerak-gerak sesekali.

"Arya."

Tidak ada respon. Aku lalu duduk di atas kasur dan mulai membangunkan orang ini. "Arya. Bangun. Arya."

Masih tidak ada respon. Aku mengerutkan keningku. Kesal. "Arya! Ayolah! Bangun!" seruku sambil memukul-mukul pipinya.

"Mmmm," gumam Arya sebagai jawaban, sebelum berbalik ke arah sebaliknya, memunggungiku. Sialan.

Saatnya menggunakan jurus rahasia.

"Arya!"

.
.
.

"Aduh!"

Aku buru-buru bangkit dari tidur dan mengelus-elus dahiku yang sangat nyeri. Fokusku langsung mengarah pada sosok yang sedang duduk manis di atas kasur, memandangku dengan mata sok-polos. Ekornya bergoyang-goyang.

"Meow."

"Meow, katamu. Apa tidak bisa membangunkanku dengan cara yang lebih manusiawi, Kei?"

"Meow~"

Aku menguap, lebar. "Ngantuk. Makannya nanti saja ya," ujarku setengah bergumam sebelum kembali masuk ke dalam selimut. Seolah mengerti maksudku, Kei langsung menaiki tubuhku dan mengeong-ngeong mengesalkan sambil memukul-mukul mukaku dengan telapak kakinya yang empuk dan berbulu halus itu. Geli dan memancing bersin, terutama kalau ia menempelkannya ke hidungku begini.

"Meow."

"Singkirkan kakimu dari mukaku, Kei."

"Meow."

"Kei."

"Me~oooo~w!"

"DUH!!!"

.
.
.

Dan si brengsek itu pada akhirnya tetap menjitakku. Sialan.

Setelah aku berhasil membangunkannya, ia segera beranjak dari kamar menuju dapur dan mengambilkan aku makanan serta air. Setelahnya, ia segera membuat makanan untuk dirinya sendiri. Bau manis segera memenuhi dapur. Setelah menuang apapun isi mangkok besi besar bergagang itu ke cangkir, ia separo menyeret tubuhnya ke ruang tamu. Penasaran-dan sudah kenyang, aku segera mengikutinya.

Di ruang tamu yang sendu itu, Arya duduk di sofa dekat jendela dan menyesap minumannya pelan-pelan. Ia memakai kaus lengan panjang yang sedikit kebesaran dan celana panjang yang ujungnya dilipat beberapa kali. Rambutnya sudah agak panjang. Poni ikalnya sudah mulai menutupi alis dan menyentuh kerah pakaian.

"Kei. Sini."

Menurut, aku pun berjalan cepat menghampirinya dan berbaring di sampingnya. Ekorku sesekali menyentuh pahanya ketika jarinya yang panjang menari-nari di atas rambutku. Sesekali ia menggaruk belakang telingaku, kadang-kadang ia hanya mengelus-elus kepalaku. Tangannya yang satu masih setia memegang cangkir, sementara pandangannnya kini fokus pada benda kotak yang menyala-nyala di depan kami. Arya menyebutnya TV dan ia selalu marah kalau aku memencet-mencet benda yang disebutnya remote. Entah kenapa.

"Kei."

Aku menoleh ke arahnya. Sungguh, tangannya ini menghalangi pandanganku. Dengan cepat aku membuat jarinya pindah ke bawah kakiku, terjepit oleh berat badanku.

"Kei."

"Ya?"

"Kei."

"Ya, ada apa, Arya?"

"Kau tahu?"

Tidak. Aku bukan pembaca pikiran.

"Reika sudah punya pacar lagi."

...oh.

"Begitu?"

"Dan kau tahu?"

Tidak. Sudah kubilang berkali-kali, aku bukan cenayang.

"Larsa pacaran dengan Raika."

"...ha?"

Lalu Arya tertawa. Miris. Mengiris. Aku tidak suka melihat Arya tertawa begini. Bukan tawanya yang biasa. Bukan tawanya saat ia melihat satu hal di TV yang lucu, bukan tawanya saat seorang temannya kucakar karena mengelus-elus perutku, bukan tawanya saat ia diserang jurus kelitikan oleh Larsa.

Arya memaksakan dirinya tertawa.

.
.
.

"Hahaha, geli, Kei."

Mendadak, Kei naik ke dadaku dan menggosok-gosokkan ujung kepalanya ke daguku. Entah apa yang ada dipikiran kucing ini. Entah ia benar-benar mengerti maksudku, atau itu hanya insting kucingnya saja. Entah.

Aku menaruh gelas di meja di samping sofa kemudian memeluk Kei. Bunyi dan dengkur pelan terdengar darinya saat aku mengubur wajahku di rambut hitamnya yang halus. Sesekali ia menjilat telingaku.

Reika. Larsa. Raika. Kenapa semuanya begitu sulit?

Bukannya aku tidak mau Larsa bahagia. Apalagi aku tahu persis seperti apa Raika.

"Meow."

Aku melepas pelukan Kei dan menatap matanya. Hijau-hitam-kuning yang aneh. Aku lalu merebahkan diri dan mengangkat Kei tinggi-tinggi di atas dadaku. "Kei, menurutmu apa yang sebaiknya kulakukan?"

"Meow."

"Duh, aku tidak mengerti."

"Meow."

"Apa arti 'meow'mu itu, coba?"

"Meoooow!"

Kei melompat dari tanganku, menginjak mukaku, kemudian turun dan berjalan angkuh ke dapur. Cih. Kucing sial itu.

"Keeeeii! Jangan kebanyakan makan! Kalau kau gendut aku tidak tanggung!"

.
.
.

Lupakan saja dia.
Lupakan. Lupakan.
Kubilang lupakan dia, Arya!

.
.
.

Dan kau tahu, aku tidak akan pernah jadi kucing gendut kalau majikanku adalah orang yang harus selalu diurus sepertimu.

Thursday, 1 August 2013

Brothers

(c) Masami Kurumada
(c) Broccoli

.
.
.

Minos Aidoneus. Pemuda yang sedang ada di puncak masa remajanya. Ketua OSIS, peringkat satu baik di angkatannya maupun di seantero sekolah, putra dari salah seorang penguasa ekonomi di dunia. Tidak ada yang tidak ia miliki. Didukung dengan wajahnya yang di atas rata-rata dan kemampuan komunikasinya yang sangat persuasif, bumi pun seolah bisa ia balikkan hanya dengan satu ulas senyum saja.

Kecuali....

"Rhada!"

Bola oranye melambung di langit, membentuk kurva setengah lingkaran sempurna, kemudian mendarat dengan mulus di tangan seorang pemuda berambut pirang. Senyum lebar mengembang di wajahnya ketika ia mulai berlari sambil memantul-mantulkan bola tersebut. Bergerak zig-zag, berkelit, memindahkan bola ke tangan yang satu, semuanya dilakukan dengan halus. Rhadamanthys seperti sedang menari di lapangan.

"LARI! LARI, RHADE! LARI!!!" seru Aiacos sembari mengacung-acungkan tangannya, meninju udara kosong. Pemuda berambut hitam ini tidak bisa menutupi kegirangannya. Ia menumpukan dirinya di pagar pembatas lantai dua, mencondongkan badannya ke depan. "LARI! RHADE! SHOOOOOT!!!"

BRAK!

Slam dunk. Tepat di depan mata center lawannya.

Tepat saat wasit meniup peluitnya.

"Game set! Pemenangnya Yomomi High!!!"

.
.
.


Friday, 26 July 2013

Danger!

(c) Kouji Ouji

.
.
.

"Rei-chan~"

Ryugazaki Rei, salah satu pemuda malang bernama seperti perempuan, menoleh ke arah sumber suara. Yang menyapanya adalah rambut berwarna jerami dan deretan gigi rapi yang terbingkai sempurna oleh cengiran lebar. Manik mata merah-coklat berkilat nakal. Rei menyipitkan matanya, curiga.

"Apa?"

"Uuu~ Rei-chan galak sekali~"

Rei menghela napas. Tidak ada gunanya bersikap galak pada teman seangkatannya yang konyol ini. "Apa maumu, Nagisa?"

Saat cengiran di wajah Nagisa semakin lebar, Rei refleks menelan ludah. Insting primitifnya mendadak menyala, membisingkan alarm peringatan akan bahaya. Tiba-tiba ia merasa sudah menanyakan pertanyaan yang seharusnya tidak usah ditanyakan.

"Temani aku belanja."

Wednesday, 24 July 2013

Wonderland

Hamparan mawar. Hitam putih hitam putih hitam putih.

Seorang manusia bertelinga kucing dan berpakaian sweater berbulu belang-belang dengan senyum lebar menyebalkan.

Seorang manusia berkacamata dengan tuksedo warna putih dan sepatu oxford hitam yang selalu cemas dengan jam sakunya.

.
.
.

Albafica bangun dengan kepala ringan.

Tuesday, 2 July 2013

Surname

(c) Cassandra Clare

.
.
.

"Kalau seandainya kalian berdua menikah, siapa yang akan pindah marga?"

Alec tersedak cola yang sedang diminumnya serta menumpahkan sisa dalam gelas ke pakaiannya. Cairan soda coklat itu sukses membasahi kaus putih dan celana panjang hitamnya. Ia lalu menatap Jace tajam. Jace hanya mengangkat bahu.

"Aku hanya bertanya."

Magnus yang sedang menepuk-nepuk punggung Alec kini menatap Jace. "Kadang ucapanmu ada benarnya juga, Wayland. Aku juga ingin tahu, siapa yang akan pindah marga." gumamnya. Alec mendelik tajam ke arah Magnus.

"Magnus!"

"Kau akan jadi Alexander Bane? Berarti kau akan jadi Simon Lightwood," kata Isabelle pada Simon yang sedang duduk di sampingnya. Vampir muda itu mengerjap beberapa kali sebelum ber-'apaaaaaaaaaaaaaaaaa' panjang dengan muka memerah--semerah yang bisa dimiliki oleh seorang vampir.

"Izzy! Jangan ikut-ikutan!" Seru Alec, yang kini sudah berwajah seperti tomat.

"Atau aku jadi Magnus Lightwood?"

"Nay. Aku tidak setuju."

"Kenapa kau tidak setuju, Jace?" tanya Clary.

"Magnus dan Lightwood. Tidakkah kau merasa ada yang salah dengan gabungan kedua kata itu? Aku masih bisa mentoleransi Alexander Bane daripada Magnus Lightwood."

"Jace!!!"

Lalu semua mata yang ada mendadak tertuju pada Alec. Magnus, yang berada di sampingnya, lalu merangkul pinggang Shadowhunter berambut hitam itu.

"Jadi, kau lebih suka yang mana? Magnus Lightwood atau Alexander Bane?"

Thursday, 13 June 2013

The Painful Truth

The Mortal Instruments (c) Cassandra Clare
.
.
.

Lucifer stared at the gate. He couldn't believe what she saw. For almost eternity since his fall, the Angels closed the gate to the Idris--land of Shadowhunters. They could, however, roaming on Earth, collecting souls, making deals--because Demon made deals, or making contracts with warlocks and humans.

Standing in front of him were neither a human nor a warlock. A Shadowhunter. A race of humans, chosen by Raziel, to bring justice upon Earth. But this guy, this particular guy, he could feel ther's something different.

Standing before him was Valentine Morgenstern. A man whose name represent his history. The fall of the morning star. He managed to destroy the gate with the power of Mortal Instruments brought to Idris by Raziel. Mortal Cup to ensure his life wasn't targeted by one of any demons he summoned. Mortal Sword which allowed him to control his race--demons. Mortal Mirrors which allowed his child to break through the gate and standing on top of Idris'. Lucifer scratched his neck.

"So, basically, you want me to eradicate the Shadowhunters?"

"Yes." Was his answer.

"Why? You are a Shadowhunter, aren't you? And I am one of those which you called Downworlder. Your mission was to eradicate us, especially me--the origin of every demon."

"Yes. And I planned to kill you too. Later, after you eradicate the current Clave."

Lucifer grinned. "Basically you just want me to do a dirty job. Humans. Never changed since the age of Adam."

"I know. But you cannot disobey my command, Lucifer. I have Mortal Cup." Valentine raised his hand and showed it to Lucifer. The fallen star couldn't help his laugh.

"Still, as stupid as ever. You think you could control my being with only a cup to help you?"

"It is Raziel's. You cannot disobey its pow--

"Of course I can, human."

Valentine blinked and froze. Lucifer could tell that his face color had turned into somewhat pale. He smirked. "Don't you ever use your brain? If Raziel has that mighty power to kill me and eradicate my childs by himself, he wouldn't asked for your help. It's not because you're one hell of the best of your kind that he chose Jonathan as the first Shadowhunter. Jonathan was the most trustful and honest human in that age, and Raziel being an angel, of course he would believe everything Raziel told him. He created you, Shadowhunters, to do his dirty job."

"I don't believe you. Demons lie."

"Yes. Demons lie. But I am no ordinary demon. I was an angel, and every angels are brothers. That means, we, Raziel and I are brothers. If you were his child, then?"

.
.
.


Tuesday, 21 May 2013

Unzipped #1

"I kinda miss you."

He stared, furrowed his eyebrows. "What? So sudden."

I chuckled. "It's the truth."

"Hahaha. Weirdo."

Place Where I Belong

Keletak sepatunya menggema begitu nyaring di aula besar beratap lengkung kaca. Grey merasa ada yang salah, sekaligus benar, dengan arahnya berjalan sekarang. Dilema seorang Terrania yang berasal dari keluarga Gaian.

"Grey!"

Grey berhenti dan berbalik. Lakra.

"Grey," panggil Lakra sekali lagi.

"Grey. Kau... kau tidak bisa kembali pada mereka, kau tahu? Berbeda dengan mereka, kau punya keluarga. Kau punya kami semua, kau punya aku. Tidak masalah apakah kau Terrania ataupun seorang Gaian, bagiku kau adalah Grey. Sejak dulu sampai sekarang. Kami--

Grey tidak mendengarkan sisanya. Perhatiannya terfokus pada sisa 'keluarga'nya. Teman-temannya di desa dahulu, masa lalunya. Ada rindu yang menggelitik hati Grey, menuntutnya untuk kembali pada kehidupan lampau. Grey ingin, sangat ingin kembali pada siapa dirinya di Gaia. Tidak ada tuntutan untuk mempertaruhkan nyawa, ia bisa seenaknya memanjat pohon apel milik tetangga tanpa takut ditangkap dan dihukum memotong kayu bakar, atau malah bisa seenaknya tidur siang di atap tanpa perlu takut ada patroli udara yang memergokinya lalu menyeretnya ke depan meja Granda untuk kemudian diamuk habis-habisan. Meski begitu, ada getar ragu yang tersirat jelas di dalam banyak pasang mata yang kini menatapnya. Keraguan akan siapa dirinya.

Akan kedua sayap yang terlipat rapi di punggungnya.

--kembali!"

Grey kembali menatap Lakra yang terengah-engah. Ada kesungguhan di mata pemuda itu, masih sama seperti yang diingatnya kali terakhir mereka bertemu. Namun, tetap saja.

Ada sesuatu yang salah dengan kesunyian genting yang kini menaungi mereka semua.

"Lakra, aku...."

"Lagipula, mereka sudah meninggalkanmu, Grey. Kau tidak punya tempat kembali."

Seperti bilah pisau tajam, hati Grey tergores dalam ketika ia menengok ke belakang dan tidak melihat siapapun di sana. Tidak sepasang telinga runcing, ekor yang terlihat empuk, atau kilau taring yang mematikan. Hanya ada satu hal yang tersisa, yang kini sedang berdiri di depan gerbang besar yang terbuka sedikit.

Sayap hitam besar yang megah milik seseorang bermata hijau.

.
.
.

"Grey!!!"

.
.
.

Wednesday, 15 May 2013

My Universe

Grey tidak bisa memindahkan pandangannya dari punggung bidang itu. Bukan, bukan maksudnya ia memikirkan hal-hal yang tidak pantas. Yang menarik perhatiannya adalah, bagaimana punggung itu begitu lebar, luas, kuat dan lembut di saat yang bersamaan, dan indah. Ya, indah.

Kulit pria itu berkilat sedikit karena keringat. Cahaya matahari memantulkan warnanya yang sedikit coklat karena terbakar matahari, berbeda dengan warna pucat pada kulit Grey. Luka-luka yang saling silang dan membekas membentuk jaringan parut malang-melintang di punggung itu, begitu pula tato yang berseliweran membentuk motif simetris-asimetris yang saling tumpang tindih. Yang satu memanjang dari pundak ke belikat dalam motif garis-garis bersudut tajam berliku yang rumit, berputar di bawah ketiak ke daerah dada dan mencetak bentuk seperti kipas asimetris yang saling simetris di sana. Ada juga tato lain yang berawal dari lengan atasnya, memanjang ke pundak dan naik ke leher selain juga melingkari lengannnya sampai ke pangkal jari-jari tangan. Ada sesuatu yang magis yang menarik Grey untuk menyentuh dan menelusuri setiap jengkal rajah kulit tersebut. Rajah kulit penanda siapa dirinya. Siapa mereka.

"Jangan melihatku seperti itu, Grey."

Kalau saja ia tidak ingat siapa pria di hadapannya itu.

Grey nyengir lebar. "Maaf, Kolonel Kiba. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari tato itu. Berapa kali pun aku melihatnya, aku selalu dibuat takjub."

Kiba mendengus sebelum memakai kaus bersih warna abu-abu tua. Rambutnya yang ikal dan sedikit panjang bergoyang sedikit ketika ia menoleh ke arah Grey. "Lebih baik kau kagumi tanda milikmu sendiri, Grey."

"Sudah terlalu sering, Kolonel. Kalau dibandingkan dengan milikmu, tidak ada apa-apanya."

Kiba memutar bola matanya. "Grey, kau belum lihat tanda milik Jenderal Granda. Miliknya lebih, apa katamu tadi, magis"

Grey tergelak, mengundang kerutan dahi dari Kiba. "Aku juga sudah lihat milik Jenderal. Tetap saja, bagiku milikmu lebih bagus."

"Sebenarnya bagaimana hubungan kalian ini, sampai sudah melihat tanda miliknya," gumam Kiba sembari menggelengkan kepala. Grey tidak bisa menahan tawanya, ia tergelak selama beberapa saat sampai Kiba memberi isyarat 'tertawa lebih lama lagi kusuruh kau lari keliling markas seribu kali'.

"Hanya hubungan sepihak saja."

"Hah?!" Kiba tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Astaga, Kolonel! Kau harus melihat wajahmu!" seru Grey, yang kini sudah terduduk sambil memegangi perutnya, mencoba menahan tawa dengan gagal. Menjahili Kiba adalah salah satu caranya keluar dari rutinitasnya sebagai seorang tentara dari Terra. Kiba mendecih pelan sebelum meregangkan lehernya. Lalu, sepasang sayap hitam seperti lahir begitu saja dari kedua tulang belikatnya, memanjang dan melebar sejak batas di dekat tulang punggung sampai sekitar satu meter lebih secara horizontal. Bulu-bulu hitamnya rontok beberapa buah, satu mendarat di samping Grey yang masih terduduk di karpet.

Ada rindu yang ambigu terpancar dari kedua mata hijau Grey ketika ia memandangi dan menelanjangi kedua sayap hitam besar yang megah tersebut. Hatinya berdesir lembut dalam sesak kerinduannya untuk berada di bawah naungan kedua sayap itu. Dengan hati-hati ia mengambil sebuah bulu hitam di bawah dan memutar-mutarnya di depan mata. Senyum tidak terelak lagi, terkembang lebar di wajahnya.

"Hidupku."

"Hah?" Kiba menoleh pada Grey, yang buru-buru menyembunyikan bulu hitam tersebut. Grey lalu memasang senyum paling lebar--dan paling menyebalkan yang sering dilihat oleh Kiba.

"Tidak, aku tidak bicara apa-apa, Kolonel."

Kiba menatap Grey curiga sebelum memutuskan untuk tidak peduli pada apapun gumaman dari seseorang yang sudah ia anggap adik tersebut. Ia berjalan menuju jendela, sedikit menyeret sayapnya. Setibanya di tepi jendela besar itu, ia melirik ke arah Grey.

"Ayo jalan-jalan. Sekalian patroli."

Grey tidak bisa tidak mendengus. "Kolonel, ini hari liburmu. Kenapa semangat sekali, 'sih?"

"Jangan banyak protes. Ayo, cepat."

Grey menghela napas kemudian merilekskan punggungnya. Sekejap kemudian, sepasang sayap seolah bangun dari sisi-sisi tulang punggungnya, untuk mengembang sempurna di samping-sampingnya. Sayapnya memiliki bulu berwarna abu-abu muda dan struktur lebih ramping daripada sayap milik Kiba. Ia lalu mengepakkannya beberapa kali, menghamburkan bulu-bulu abu-abu ke ruangan itu, sebelum berjalan menuju Kiba.

"Jangan lambat. Nanti kutinggal."

"Siap, Kolonel!"

.
.
.

Hidupku, seluruh duniaku. Apa yang terhampar di depanmu, ingatlah aku di belakangmu. Apa yang kau naungi, ada aku yang tersembunyi dari teriknya matahari. Saat langit mengkhianati kita, hamparan beludru akan kubentangkan untuk tempatmu mendarat. 

Hidupku, duniaku.

Seluruh nyawaku.

Thursday, 2 May 2013

Untukmu

ketika malamku tak lagi milikku
hatiku tak lagi kutahu
dan jiwaku seolah beku
pada siapa ku mengadu?

apakah pada cermin buram yang tersimpan di sudut ruang
atau pada pelat besi cemerlang
mungkinkah pecahan kaca yang berbayang?

ketika aku bukan lagi aku
dan kamu adalah aku
yang membisu di sudut kelabu
memandang ragu padaku

berbeda, namun sama
satu yang jadi dua
terkadang jadi tiga

Hei. Apakah kamu menikmati menjadi aku
ketika diriku terjebak dalam derita semu
memaksamu memasang senyum lebar tanpa ragu
meski derak hatimu terdengar pilu?

Tuesday, 9 April 2013

Helios : Selena

Selena.

Your pitch black hair, waving calmly as the wind blows. Do you know how much I have to hold myself to touch it?

And your eyes. So dark. Mysterious yet beautiful. My Selena, my beautiful Selena. Why won't you open your eyes?

I do not care. Be it dark and disaster, or death and doom. Be it night all day, if that means I could look into your eyes.

Selena. My kind Selena.

How much I cursed the Fate. For their wickedness over our hearts. How could they put us together, side by side, yet bound by the chain of loneliness?

Selena, I looked up above and saw you. Silvery light across the pitch black sky. Shining bright as the mortals fell to the hands of Hypnos.

My Selena, if only my touch did not hurt you that much, I've surely have hold you right now. Engulf you within my arms, locked you there so you will not go anywhere.

If only your smile did not hurt me that much, I've surely be there by your side, whispering I love you for a zillion times...

For as long as time let us be.

Selena : Helios

Helios.
Helios.
Oh, my dearest Helios....

Why won't you open your eyes?
Let the blazing light blind my eyes
While your breath wipe the night

Helios.
Helios.
Ah, my love Helios.

Hold me while I melt
Suffocated yet
Gasping out of breath

Helios.
My love, my heart, my sweet lovely Helios.

Why did the sisters put us away
In this drama of unrequited love
Yet chained our fate together

My dear,
Be it day or night
Blazing light or serene dark
Life or death

Surely,
Yours truly.

Midnight Chat

"Haru."

Haru bergerak-gerak gelisah di dalam selimutnya.

"Oi. Haru."

Ia membuka mata. Gelap. Detik jarum jam terdengar sangat nyaring, memecah keheningan.

"Ha-ru-mi ja-wab a-ku."

Haru menghela napas.

"Apa, Natsu?"

Terdengar suara dengusan geli. "Jangan menjawab keras begitu. Aku tidak tanggung kalau kau dicap gila ."

Haru mendengus. "Dicap gila? Tidak salah?"

Natsu terkekeh geli.  "Oh, well. Omong-omong, sudah lama kita tidak ngobrol begini."

"Hng." Haru mendudukkan dirinya. "Kau terlalu sibuk dengan klub. Basket, kendo, cabutan di klub olahraga sana-sini. Gila. Badanku sampai sakit semua."

Natsu tergelak.

"Kau harus dengar omelan Yuki tentang sulitnya belajar saat untuk membuka mata saja sudah memakai seluruh tenaga yang ada."

"Hahaha! Yuki memang payah! Makanya, suruh dia olahraga, jangan cuma olahraga jari saja!"

"Kau saja yang suruh. Aku malas dengar ocehannya."

Natsu terkikik geli. "Dengar. Cara bicaramu jadi mirip Akira."

"Terse--

Ckrek.

"Haruaki? Kau sedang bicara dengan siapa?"

"Telepon, Bu. Urusan OSIS."

"Oh, begitu. Kau memang ketua, tapi jaga juga kesehatanmu. Jangan kemalaman ya."

Ckrek.

"Pffft. OSIS? Sejak kapan 'Haruaki' jadi  ketua OSIS? Huahahahahaha!!!"



"Kalian berdua! Bisa diam tidak?!!!!"

Saturday, 6 April 2013

Realization

Vassalord (c) Chrono Nanae

xxx

"My Lord."

Ah, Cherry. Kau merajuk?

Rayflo tidak bisa tidak menyeringai.

"My Lord, Rayflo."

Charles memeluknya begitu erat, mendekapnya begitu dalam ke dada, seolah ingin memasukkan Adam dari bangsa vampir itu ke dalam tubuh dan memenjarakannya di sana untuk selamanya. Rayflo terkikik geli meski matanya berbinar kesenangan.

"Oh, Cherry. Kenapa kau jadi manja begini?" Ia memainkan jemarinya di helai rambut pirang Charles sambil menikmati wangi tubuh pemuda cyborg itu.

"Kalau untuk membuatmu tetap ada di sisiku aku harus membuang harga diriku, maka aku akan melakukannya."

Rayflo berkedip sekali lalu membatu dalam dekapan Charles yang semakin erat, semakin putus asa. Perpisahan mereka yang terlalu lama membuat Charles sadar bahwa ia tidak bisa hidup (dalam arti sesungguhnya dan kiasan) jika vampir darah murni berambut hitam legam itu tidak ada di sisinya. Kesadaran akan betapa dalamnya ia jatuh cinta untuk makhluk berusia ribuan abad.

"Cherry." Rayflo berbisik lirih, tidak memercayai apa yang ia dengar.

"Tetaplah disisiku, Rayflo."

Memangnya aku bisa ke mana lagi, Chris?

Rayflo tersenyum tipis. Ia mendorong dada Charles, melepaskan dirinya dari pelukan. Kesedihan lalu menyelimuti mata Charles. Penolakan jelas bukan jawaban yang diinginkannya saat ini.

Namun, kau tahu siapa Rayflo. Vampir darah murni yang jalan pikirannya tidak tertebak dan terkadang bicara lompat-lompat. Makhluk yang akan selalu membuatmu hatimu seperti dilempar kesana-kemari.

"Kalau begitu inginnya aku ada di sisimu, hentikan cara bicara melankolismu itu dan kembalilah jadi Chris yang biasanya."

"... kau ingin aku bicara ketus? Memangnya siapa yang merengek-rengek mengeluh tentang ketidakromantisan?"

"Huuh! Aku 'kan cuma kangen sama Cherry yang biasa! Terlalu banyak bumbu romantis justru membuat hubunganmu membosankan."

Charles mendengus, "Kau ini memang masokis sejati."

Rayflo mengerutkan dahi dan mengerucutkan bibir. "Dan kau tsundere sejati."

Charles menatap Rayflo galak lalu meraih tangannya. Dalam gerakan cepat, ia mengecup punggung tangan Rayflo. "Tapi kau mencintai tsundere ini, 'kan? My Lord?"

"Hmph. Sesukamu saja."



"Kalau begini siapa yang tsundere, coba?"

"Cherry!"

Friday, 22 March 2013

Terjebak

BRAK!

Rangiku mematung. Matanya membelalak, pupilnya melebar dan tubuhnya kaku ketika pintu itu dibanting sekitar lima belas senti dari depan matanya. Engselnya menyatu dengan kusen, pegangannya pun tiba-tiba melebur dengan kayu kokoh daunnya. Panik, ia buru-buru berusaha mendorong pintu tersebut dengan segenap tenaganya. Sempat terbuka, sedikit sekali, untuk kembali tertutup dengan sangat kerasnya.

Lalu, ia bisa merasakan getaran asing merambat menuju telapak tangannya yang menempel di daun pintu. Segera ia menempelkan telinganya di pintu dan apa yang didengarnya telak meluluhlantakkan semua harapan yang ia miliki.

Jembatan menuju tempat cahaya ada di ujung jalan sana runtuh, jatuh menjadi puing-puing ke dalam jurang kehampaan yang dilintasinya. Hati Rangiku mencelos. Sakit, pedih. Ia lalu berbalik, menyandarkan punggungnya ke pintu yang kini membatasi dirinya dengan jurang kehampaan.

Rangiku menghela nafas. "Waw. Hebat sekali. Sendirian. Great," gumamnya sepelan mungkin. Ya, pelan. Karena meskipun ucapannya mengatakan demikian, Rangiku tidak benar-benar sendirian. Ada sekitar tiga puluh orang yang terjebak di tempat ini bersamanya, dengan masing-masing pintu menuju cahaya masing-masing tertutup rapat begitu saja tepat di depan mata mereka.

"Oi, Agi."

Rangiku mengenali pemuda yang memanggil namanya. Velas.

"Oi."

Velas ikut duduk di samping Rangiku, menemaninya memperhatikan kericuhan yang kini terjadi di hadapan mereka. "Di sini juga?"

Rangiku mengangguk.

Lalu sunyi. Velas dan Rangiku sama-sama berkutat dengan pikiran mereka masing-masing, menolak untuk memproyeksikannya ke dunia nyata. Dengan tidak adanya orang-orang yang cukup biasa dengan tabiatnya yang memendam semua gulungan film di dalam kepala, ia harus berubah. Kalau dia mau bertahan di tempat ini.

Kalau, dia mau mempertahankan kewarasannya sendiri.


Thursday, 28 February 2013

Years of Youth : Later #1

Harry Potter (c) J.K. Rowling
Saint Seiya (c) Masami Kurumada
Saint Seiya Lost Canvas (c) Shiori Teshirogi
Saint Seiya Omega (c) Toei Animation

.
.
.

"Slytherin!!!"

"APA?!"

Yang berseru bukanlah yang baru saja ditentukan asramanya oleh Topi, melainkan dua orang berparas mirip dengan rambut pirang ikal serupa. Bedanya, yang satu duduk di salah satu kursi di meja panjang berpanjikan singa emas berlatar belakang merah membara, yang lainnya duduk di meja panjang di depan para murid. Keduanya berdiri secara bersamaan, memasang wajah tidak percaya, dan berseru sangat keras sehingga semua mata yang di Aula Besar berpaling ke arah mereka. Sementara itu, yang baru saja ditentukan asramanya hanya menunduk diam tidak bergerak di kursi kecil, dengan Topi masih setia bertengger di kepalanya sambil sesekali bergumam-gumam tidak jelas.

Adalah Zeus, sang kepala sekolah berambut pirang keemasan, yang berdeham pelan dan mengembalikan fokus padanya.

"Milo dari Gryffindor, dan Sir Kardia, kembali duduk di tempat kalian masing-masing."

Kardia menunjuk-nunjuk yang mengenakan Topi sebelum akhirnya ber-'cih' pelan dan duduk lagi dengan tampang masam. Sementara itu, Milo mengerutkan dahinya. Tatapannya tajam dan aneh dan, marah. Ia menolak untuk duduk, namun upacara penerimaan murid baru tidak akan menunggunya. Jadi, ketika sang wakil kepala sekolah mencabut Topi dari kepala gadis kelas satu berambut pirang panjang yang menolak untuk menatap siapapun di ruangan itu. Dengan langkah lesu dan tidak rela, ia menyeberangi ruangan, menuju meja panjang yang dinaungi panji hijau berlambangkan ular perak, melewati Milo yang masih berdiri dan menatapnya ganas, lalu duduk di kursi yang ada dan disambut oleh seseorang berambut pirang.

"Aku Saga, Prefek Slytherin. Selamat datang di Slytherin, Sonia."

Saturday, 23 February 2013

YoY, scrap

"Kau tahu, Degel?"

"Ya?"

Aula Besar sudah kosong. Jam kuno di dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Degel yang sejak tadi diseret ke Aula untuk menemani Kardia belajar--menolak mentah-mentah ajakannya untuk belajar di perpustakaan dengan alasan alergi rak buku--kini menatap Kardia bingung.

"Kau tahu?" Ada nada serius yang aneh dalam intonasi Kardia.

"Ya?"

"Kurasa, aku tidak lagi cinta padamu."

.
.
.

bohongbohongbohongBOHONG!!!!!!!!!!!


Tuesday, 19 February 2013

Sweet Treat

Saint Seiya (c) Masami Kurumada
Saint Seiya Lost Canvas (c) Shiori Teshirogi
Saint Seiya Omega (c) Toei Animation


Kling!

Seorang gadis berambut merah muda pastel membuka pintu cafe. Ia tampak ragu ketika memasuki tempat tersebut. Separo badannya masih tertinggal di luar cafe. Banyak wajah yang tidak familiar baginya. Ia celingukan sesaat, mencari sesuatu.

"Sonia?"

Sonia mengalihkan pandangannya pada pria yang barusan memanggil namanya. Matanya melebar ketika melihat sosok pria tersebut.

"Camus!" serunya girang sebelum, akhirnya, benar-benar masuk ke dalam cafe dan segera menuju counter panjang dekat area kerja Camus. "Syukurlah, kupikir aku salah tempat."

Camus tersenyum tipis. "Kau selalu bisa menelepon, kau tahu?"

Sonia nyengir lebar. "Hehehe, aku lupa bawa ponsel."

Camus menghela napas. "Baiklah. Sebagai ucapan selamat dariku karena kau berhasil menemukan tempat ini, pilih saja menu apapun yang kau mau. Kutraktir," ujar sang pemilik cafe sambil mengedipkan mata. Mata Sonia berbinar dan senyum lebar merekah di wajahnya.

"Uh waw! Sungguh?"

Camus mengangguk. "Tentu saja."

"Apapun?" tanya Sonia, mengonfirmasi ulang lagi sementara tangannya sudah menyambar daftar menu dari sampingnya. Camus mengangguk mengiyakan. Buru-buru matanya bergerilya ke barisan huruf dan angka. "Mmmm, aku mau parfait strawberry!"

"Dengan ekstra es krim vanila?"

"Boleh?"

"Tentu saja. Bagaimana?"

Ada kilau yang familiar bagi Camus melintasi mata Sonia dengan cepat. Kilau yang membuatnya tidak bisa berkata 'tidak'. Kilau yang identik dengan....

"Aku juga mau! Parfait cokelat dengan ekstra es krim cokelat dan whip cream!"

"Aku juga! Banana split dengan ekstra es krim strawberry!"

...dengan kilau bocah-bocah kelebihan gula yang sangat ia kenal baik.