Aspros yakin ada satu sekrup otaknya yang lepas sampai-sampai ia berhalusinasi seperti ini. Mungkin gara-gara ia terlalu asyik menghajar gerombolan manusia berkacamata hitam di depan cafe tadi, atau gara-gara rambut merah muda lawannya terlalu absurd sampai-sampai merusak saraf matanya. Telinganya pun bermasalah, mungkin sebagai after-effect dari seruan dan makian dari lawan-lawannya itu ketika mereka habis dihajar di wajah--padahal si lawan sudah mengingatkan untuk tidak memukulnya di muka.
Karena sekarang, Aspros melihat Defteros sedang bersenandung senang sambil merebus air untuk kopi dengan senyum lebar tidak lepas dari wajah-super-datarnya itu.
"Err...Defteros?" sapa Aspros ragu-ragu. Defteros menoleh ke arah kakak kembarnya itu. Senyum tipis terulas di wajah berkulit coklat. Aspros merasa semua rambut halus di lehernya berdiri.
"Hoi, Aspros. Aku buatkan kopi kesukaanmu. Cafe latte?"
Pupil mata Aspros mengecil, nafasnya tertahan, otot kakinya menegang, perutnya mulas.
"Defteros...kau...tidak apa-apa?" tanya si kakak hati-hati sambil mundur selangkah tiap frasenya. Satu tangannya siaga di daun pintu.
Defteros memiringkan wajahnya. "Apa? Tidak apa-apa. Oh, hari ini kita makan pasta kesukaanmu. Fusilli saus tomat dengan keju mozarella. Kudapannya bawang bombay tepung goreng dengan mayo--
BRAK!
Aspros membanting pintu dan berlari sekencang-kencangnya, meninggalkan Defteros yang melongo kebingungan.
Showing posts with label The One Who Chasing The Sun. Show all posts
Showing posts with label The One Who Chasing The Sun. Show all posts
Tuesday, 29 January 2013
Wednesday, 23 January 2013
The One Who Chasing The Sun #5
Defteros kira, ada yang menebar jutaan koin emas di tangga reruntuhan. Ia pikir, kilau emas matahari terlempar ke bumi dan mendarat di anak tangga kuil. Bahkan ia sempat mengira, kalau mendadak seorang tukang bunga memutuskan untuk menyimpan puluhan bunga kuning di situs kuno purbakala ini. Akal sehatnya melayang-layang tanpa batas, sampai akhirnya sang otak berhasil menyimpulkan asal muasal warna kuning emas yang mencuri fokusnya ini.
Seorang pemuda. Berambut pirang panjang. Tertidur pulas. Di reruntuhan tangga kuil kuno Sanctuary.
Kalau saat ini Aspros ada di dekatnya, dia pasti sudah teriak-teriak tidak jelas dan merusak kedamaian yang kini menyelimuti Defteros. Ia menghela napas sebelum menghampiri sang pangeran tidur. Perlahan, ia mengatur kameranya dan mengarahkan benda tersebut pada si pemuda. Komposisinya sederhana. Helai rambut, batu di anak tangga, dan sedikit langit biru. Seutas Cahaya. Ya, frase itu akan cocok dijadikan judul fotonya ini.
.
.
.
"Mmh," gumam Asmita. Matanya lalu mengerjap beberapa kali sebelum ia menoleh ke arah Defteros. Kameramen itu menghalangi cahaya matahari, membuat pandangannya gelap. Yang ia dapat hanyalah kulit kecoklatan terbakar matahari dan rambut kebiruan. Sisanya samar.
"Halo." Defteros buru-buru memasukkan kameranya ke dalam tas. "Kalau mau istirahat, jangan di sini. Bahaya."
"...ya. Maaf." Asmita berkata tidak jelas. Pandangannya masih belum fokus. Defteros menyadari gelagat Asmita dan menepuk-nepuk kepalanya pelan.
"Ayo, cepat kumpulkan nyawamu," candanya. Asmita menoleh ke arah orang asing ini lalu tersenyum tipis.
.
.
.
Senyuman yang kelak akan menghantui Defteros sepanjang hidupnya, memaksa tubuhnya melakukan apapun hanya untuk bisa melihatnya untuk yang kedua, tiga, empat, dan sekian kali.
Seorang pemuda. Berambut pirang panjang. Tertidur pulas. Di reruntuhan tangga kuil kuno Sanctuary.
Kalau saat ini Aspros ada di dekatnya, dia pasti sudah teriak-teriak tidak jelas dan merusak kedamaian yang kini menyelimuti Defteros. Ia menghela napas sebelum menghampiri sang pangeran tidur. Perlahan, ia mengatur kameranya dan mengarahkan benda tersebut pada si pemuda. Komposisinya sederhana. Helai rambut, batu di anak tangga, dan sedikit langit biru. Seutas Cahaya. Ya, frase itu akan cocok dijadikan judul fotonya ini.
.
.
.
"Mmh," gumam Asmita. Matanya lalu mengerjap beberapa kali sebelum ia menoleh ke arah Defteros. Kameramen itu menghalangi cahaya matahari, membuat pandangannya gelap. Yang ia dapat hanyalah kulit kecoklatan terbakar matahari dan rambut kebiruan. Sisanya samar.
"Halo." Defteros buru-buru memasukkan kameranya ke dalam tas. "Kalau mau istirahat, jangan di sini. Bahaya."
"...ya. Maaf." Asmita berkata tidak jelas. Pandangannya masih belum fokus. Defteros menyadari gelagat Asmita dan menepuk-nepuk kepalanya pelan.
"Ayo, cepat kumpulkan nyawamu," candanya. Asmita menoleh ke arah orang asing ini lalu tersenyum tipis.
.
.
.
Senyuman yang kelak akan menghantui Defteros sepanjang hidupnya, memaksa tubuhnya melakukan apapun hanya untuk bisa melihatnya untuk yang kedua, tiga, empat, dan sekian kali.
Saturday, 19 January 2013
The One Who Chasing The Sun #4
Asmita terduduk diam di ujung anak tangga. Ia menikmati sepoi angin yang menyentuh leher, menyusup ke sela pakaian, dan menggerak-gerakkan helai rambut pirang keemasannya. Nafasnya masih memburu, keringat masih merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Beberapa menit berlalu dan Asmita menyerah pada rengekan otot punggungnya. Ia lalu bersandar di undakan tangga. Kepalanya tengadah menatap langit biru cerah dengan awan-awan putis melayang ringan. Sebuah pesawat lewat, melintasi Athens untuk mendarat di bandara internasional, meninggalkan asap putih tipis dan deru kencang. Damai, tenang. Lima ratus euro untuk sebuah reruntuhan kuno dianggap sebagai harga yang tidak wajar oleh turis dan penduduk lokal, padahal Asmita rela menukarkan semua gajinya yang memiliki enam digit angka nol di belakangnya demi kedamaian dan kesunyian seperti ini. Ironis.
Ketenangannya ini harus diganggu oleh dering telepon genggam yang mendadak berbunyi. Setelah sedikit terkejut, pemuda bermata biru ini lalu mengambil benda elektronik yang sejak tadi tersimpan di saku belakang celana panjangnya. Ia lalu menatap kosong benda berwarna putih tersebut.
"Harpy," gumamnya sebelum menekan tanda merah pada ponsel dengan teknologi layar sentuh itu, lalu memutuskan untuk mematikannya dan menyimpannya kembali di saku celana. Asmita kembali merebahkan dirinya di undakan tangga dan memejamkan mata.
Ketenangannya ini harus diganggu oleh dering telepon genggam yang mendadak berbunyi. Setelah sedikit terkejut, pemuda bermata biru ini lalu mengambil benda elektronik yang sejak tadi tersimpan di saku belakang celana panjangnya. Ia lalu menatap kosong benda berwarna putih tersebut.
"Harpy," gumamnya sebelum menekan tanda merah pada ponsel dengan teknologi layar sentuh itu, lalu memutuskan untuk mematikannya dan menyimpannya kembali di saku celana. Asmita kembali merebahkan dirinya di undakan tangga dan memejamkan mata.
Saturday, 22 December 2012
The One Who Chasing The Sun #3
Disclaimer:
Saint Seiya (c) Masami Kurumada
Saint Seiya Lost Canvas (c) Shiori Teshirogi
Chasing The Sun (c) The Wanted
.
.
"Tunggu!"
Seruan kencang terdengar, diiringi derap langkah yang tidak beraturan, mengejutkan Aspros yang sedang asyik meneguk cappucinno dinginnya. Pria berambut biru itu lalu diam selama beberapa detik, memandangi pakaiannya yang basah oleh campuran antara espresso, susu, dan es. Ia lalu melirik galak kepada segerombolan orang-orang berkacamata hitam dan seorang berambut pirang yang sedang berlari ke arahnya. Begitu si pirang mendekat, Aspros lalu meluruskan kakinya--
--hanya untuk dilompati dengan mudahnya oleh si pirang, namun berhasil membuat tiga orang berkacamata hitam yang mengejarnya tersandung dan terjerembab dengan wajah menyentuh paving block duluan. Aspros ber-tsk pelan ketika melihat si pirang berbelok di perempatan pertama jalan raya ketika salah satu dari tiga pria berkacamata menarik kerah bajunya. Seorang pria berambut merah muda dengan mata hijau menyala.
"Brengsek! Apa maumu, Bocah Sial?!!"
Aspros kini memegang pergelangan tangan si rambut merah muda. Senyum aneh berkembang di wajahnya. "Aku mau membotaki rambutmu, Pink," ujarnya sebelum melayangkan satu tinju ke wajah lawannya.
.
.
.
Lari. Lari.
Asmita terus berlari, berlari. Ia tidak peduli akan penyamarannya lagi, ia tidak peduli ada orang yang mengenali dirinya. Ia hanya ingin pergi dari tempat itu, karenanya ia berlari. Menabrak beberapa kursi di cafe-cafe pinggir jalan kota Athens, menubruk jatuh beberapa turis lokal maupun mancanegara. Tidak jarang ia tersandung oleh entah-apapun yang ada di sepanjang trek larinya. Meski keringat sudah sejak tadi membasahi kaus biru mudanya, meski kakinya sudah mulai lemas, ia harus pergi.
Harus, pergi, dari sini, dari semua ini, dari--
"Sanctuary! Lima ratus euro saja untuk keindahan Sanctuary! Hei, kakak cantik di sana, kuberi diskon setengah harga bagaimana?"
.
Sunday, 9 December 2012
The One Who Chasing The Sun #2
Disclaimer :
Saint Seiya (c) Masami Kurumada
Saint Seiya Lost Canvas (c) Shiori Teshirogi
Chasing The Sun (c) The Wanted
.
.
.
Bayangan. Siluet. Rule of third. Komposisi. Langit biru dengan seperempat bawah adalah patung marmer salah satu dari dua penjaga satu kuil. Pilar-pilar yang gompal, atap-atap yang runtuh. Cahaya yang masuk dari sela-sela lubang reruntuhan, gores senjata bekas peperangan milenia tahun silam.
Defteros terhipnotis dalam situs sejarah membosankan--atau apapun istilah Aspros. Ia tersedot oleh karisma tanpa batas yang menguar dari setiap inci bebatuannya. Ada rasa rindu tidak terjelaskan yang mengaduk-aduk isi hati, memberikan satu ilusi kenyamanan dan rasa familiar yang aneh.
Sejak awal pertama ia menginjak kaki di tangga menuju kuil-kuil yang menjulang tinggi sepanjang pegunungan, ada sensasi aneh yang menggelitik. Setelah menyeberangi padang mawar yang seolah tanpa batas, akhirnya ia sampai di dasar gunung. Di kuil pertama, indera penciumannya menghirup aroma besi dan emas, serta timah dan perunggu panas. Masuk ke dalam, dan ia merasa seperti dikelilingi oleh dinding kasat mata yang sangat aman dan kokoh. Beberapa artefak seperti palu dan penjepit besi panjang serta beberapa bilah pedang berkarat dipajang di kotak-kotak kaca.
Naik satu kuil lagi, dan ia merasa lapar. Lapar yang aneh dan tidak masuk akal, mengingat ia baru saja menghabiskan satu loyang pizza ukuran besar sendirian--memancing omelan dan racauan tidak penting dari Aspros yang memang selalu punya alasan untuk mengomelinya. Hidungnya menghirup aroma manis, asam, saus tomat, kentang, daging panggang, ayam asap, sup krim, ikan goreng, dan tumis sayur. Beberapa kali ia menghirup aroma es krim, dan--anehnya--ia mulai mendengar suara-suara. Gelak tawa dan hingar-bingar kehebohan. Ia bahkan bersumpah melihat kelebatan emas di ujung gelap kuil, hanya untuk kembali pada logika bahwa hal-hal seperti hantu tidak ada di dunia ini.
Kuil ketiga adalah kuil tempatnya berada sekarang. Kuil yang pintu masuknya diapit oleh dua patung yang wajahnya sudah rusak oleh waktu, namun ia bentuk tubuhnya identik dan berlawanan. Satu patung memegang senjata di kiri, yang lainnya di kanan. Ada perasaan aneh yang tidak wajar ketika ia memasuki kuil ini. Memang, sejak awal pun ada perasaan mengganjal di hati. Namun, di tempat ini semuanya seolah digandakan berlipat-lipat.
Jejak pertamanya, dan ia merasa seperti di rumah. Kakinya melangkah tanpa perintah, menuju tempat-tempat dengan momen-momen eksotis yang memang ia cari. Segera, tanpa basa-basi, ia mengangkat kamera dan menangkap semuanya. Semuanya. Mulai dari topeng tatapan kosong yang tergantung di salah satu pilar, topeng menyeringai di pilar seberangnya, retakan bekas senjata di tanah. Semuanya.
Perjalanannya di kuil ketiga berakhir pada satu kotak kaca artefak berisikan buket bunga. Pandangannya lalu beralih pada keterangan mengenai artefak tersebut.
Aster. Merah muda, kuning matahari, merah pekat. Aku tidak bisa menemukan teratai berwarna emas. Shxxx menertawakanku habis-habisan ketika aku bertanya tentang teratai emas. Tapi aku ingat, ini adalah bunga-bunga yang selalu ada di taman rahasiamu.
Defteros menelengkan kepalanya pada keterangan buket bunga itu. Daripada keterangan, tulisan tersebut lebih mirip surat cinta. Ada satu nama, Shxxx. Defteros mengerutkan dahinya melihat selera nama zaman dahulu dan berpikir tentang bagaimana cara menyebutkan nama yang terdiri dari huruf konsonan semua itu.
"Taman rahasia? Apa ada tempat seperti itu di reruntuhan ini?" gumamnya tidak jelas. Kilau matanya yang sempat surut kembali muncul lagi.
"Kalau memang ada, sebaiknya aku temukan segera."
Thursday, 6 December 2012
The One Who Chasing The Sun #1
Saint Seiya © Masami Kurumada, Shiori Teshirogi
Chasing The Sun © The Wanted
.
.
.
Sanctuary of Athens. Dulu, entah beberapa millennium yang lalu,
kisah-kisah heroik menjadi cerita sebelum tidur bagi anak-anak. Dulu, di masa
kejayaan para dewa-dewi Olympus,
konon terdapat para pendekar suci yang bertarung mempertaruhkan nyawa demi
membela kepentingan umat manusia.
Dulu, terdapat dua belas pendekar berzirah emas yang menjadi
penguasa dari kuil-kuil agung dan megah yang menjadi pilar utama kekuatan Sanctuary.
Kini?
.
.
.
“Lima ratus euro
hanya untuk berjalan-jalan mengelilingi reruntuhan kuno?!”
Seorang pemuda berambut toska menutup telinganya yang
mendadak berdenging setelah mendengar lengking dari pria bersurai biru gelap di
depannya. Mata birunya lalu melirik kiri-kanan, memperhatikan bagaimana mereka
berdua lalu digosipkan oleh orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka. Dengan
wajah identik dan tinggi menjulang, mencolok di tengah keramaian bersama
seseorang yang tidak punya urat malu adalah satu hal yang tidak bisa
dikombinasikan bersamaan.
“Aspros, pelankan suaramu,” bisik si surai toska. Aspros mendelik
marah dan membuka mulutnya, siap menyemburkan lengkingan ber-pitch tinggi yang memekakkan.
“Lima ratus euro,
Defteros! Lima ratus euro! Kalau kau
mau mengelilingi reruntuhan sialan itu dengan harga tidak masuk akal begitu,
kau saja! Lima ratus euro-ku akan
kuhabiskan di kasino saja!” serunya setengah teriak sebelum angkat kaki dari
tempat, meninggalkan identiknya yang satu menghela napas panjang dan
membungkuk-bungkuk minta maaf kepada pejalan kaki yang kena imbas amukan
Aspros.
Memang, salahnya tidak mengecek terlebih dahulu berapa harga
memasuki situs arkeologi dan sejarah terkenal bernama Sanctuary ini. Salahnya juga, ia lupa profesinya sebagai fotografer
sekaligus penulis artikel di majalah lanskap dunia ternama membuatnya sering
lupa diri dan berakhir menghiraukan racauan sang kakak tentang kebosanannya.
Salahnya juga, ia mau-mau saja ketika Aspros meminta—merengek—minta
ikut dalam penjelajahannya di Yunani. Mengurus Aspros sama rasanya ketika ia
disuruh oleh bosnya, Sisyphus, untuk menjaga keponakannya yang masih balita. Bedanya,
mengurus Regulus masih jauh lebih menyenangkan karena bocah itu bisa dilarang
dan disuruh diam. Menyuruh Aspros diam?
Defteros menggelengkan kepalanya, tidak mau mengingat lagi
saat-saat hidungnya patah karena sumbu emosi Aspros yang memang sudah pendek
lantas disulut.
Setelah selesai dengan isi kepalanya, Defteros mengeluarkan
kamera dari tasnya dan mulai mengatur-atur berbagai hal. Kecepatan tangkap,
bukaan diafragma lensa, paparan ISO, aturan fokus lensa, segalanya. Kemaniakkannya pada kamera membuat Aspros
sering mengamuk tidak jelas kalau ia sudah mulai sibuk dengan dunianya sendiri.
Entah Defteros yang terlalu dingin atau Aspros yang terlampau manja, tapi
hubungan dua kakak-adik ini memang tidak pernah akur sejak zaman dulu kala.
“Lima ratus euro,”
ujar penjaga karcis ketika ia sampai di loket. Seorang pria berambut pirang dan
mata biru dengan senyum miring dan mimik sinting. Defteros mendengus sebelum
mengambil selembar kertas dari tas ranselnya.
“Saya dari majalah, ini surat tugas saya,” ujarnya sambil
menyodorkan kertas tersebut ke depan wajah si penjaga loket, “menurut surat ini
semua akses masuk situs sejarah dengan pungutan biaya akan—
“Seratus euro, dan
singkirkan kertas konyol itu jauh-jauh dari wajahku,” potong si penjual loket. Defteros
hanya tersenyum tipis dan melipat kertas tersebut. Ia lalu mengambil selembar
seratus euro dan menyerahkannya pada
si penjual loket yang kini sedang menggerutu tidak jelas.
“Namaku Defteros, senang berkenalan dengan—
“Kardia.”
Defteros mengangguk dan mengulurkan tangannya. “Kardia. Senang
berbisnis denganmu.”
Kardia lalu menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar
pria berambut toska itu segera angkat kaki sebelum ia mengubah pikirannya.
.
.
.
“Selanjutnya! Lima ratus
euro untuk masuk ke Sanctuary!
Lima ratus euro saja!”
Subscribe to:
Posts (Atom)