"Tu...tunggu dulu, Milo."
Aphrodite mengambil langkah mundur, satu tangannya terjulur ke depan. Wajahnya panik, pucat. Ketakutan. Deathmask segera menengahi mereka berdua dengan berdiri menghadap Milo.
"Oi, Milo. Cukup."
Milo memicingkan matanya. "Minggir, Deathmask. Ini bukan urusanmu." Mengancam dan tidak ramah, bukan seperti kekonyolan tanpa henti serta lelucon menyimpang yang biasanya dilontarkan oleh Milo.
"Dan ini juga bukan urusanmu!" Deathmask menekankan intonasi suaranya pada suku kata terakhir seraya menunjuk dada Milo yang kini sudah ada dalam jarak jangkauannya. Di belakang Deathmask, Aphrodite mengkeret. Milo menepis tangan Deathmask dan menggeretakkan giginya.
"Ini juga bukan urusanmu, Deathmask! Minggir!"
"Tidak. Langkahi dulu mayatku kalau kau mau menyakiti Dite barang sehelai rambut pun," ujar Deathmask, sedikit menggeram. Matanya memicing dan berkilat berbahaya. Kepalan tangannya mengepal, siap untuk kelayang dan menghantam wajah Milo. Aphrodite menyentuh pakaian Deathmask, berusaha menenangkannya.
"Angelo," lirihnya. Milo melirik pada Aphrodite, lalu Deathmask, dan Aphrodite lagi
"Rela mati demi kekasihmu, eh? Kau selalu mengataiku dan Camus, tapi siapa seka--
Buagh!
Panas, sakit, keretak tulang menabrak tulang, dan rasa besi yang aneh dan amis. Milo terhuyung sedikit ke samping. Ia lalu menyeka wajahnya dan tersenyum miring. Sinting.
"Kau dapat yang kau inginkan, Angie."
Thursday, 31 January 2013
Wednesday, 30 January 2013
Promise
"Don't cry, Shun."
Shun stoned by his opponent's words. His hands trembled. He could feel the chains he held were shaking. Suddenly, he doubted himself, his action.
"Wh...what should I do, Ikki-nii?" he whimpered slightly. His enemy, the one and only Phoenix Ikki, the reincarnation of Bennu Kagaho, responded Shun's words with a smile.
"Do what you have to do. Do what you believe. Do what you need to do. Even if my body were scattered into pieces, my soul will always be with you. Protecting you, forever. That's the promise I've made to myself long time ago."
.
.
.
"I...I love you, Nii-san. I've always, and always will."
.
.
.
Andromeda Chain!!!
Shun stoned by his opponent's words. His hands trembled. He could feel the chains he held were shaking. Suddenly, he doubted himself, his action.
"Wh...what should I do, Ikki-nii?" he whimpered slightly. His enemy, the one and only Phoenix Ikki, the reincarnation of Bennu Kagaho, responded Shun's words with a smile.
"Do what you have to do. Do what you believe. Do what you need to do. Even if my body were scattered into pieces, my soul will always be with you. Protecting you, forever. That's the promise I've made to myself long time ago."
.
.
.
"I...I love you, Nii-san. I've always, and always will."
.
.
.
Andromeda Chain!!!
Silvery Miracle #2
Ctar!
"Wuah!"
"Yata-kun. Selamat!"
Kusanagi meledakkan confetti tepat di depan wajah Yatagarasu, membuat pemuda pendek berambut merah itu melompat ke belakang dan berseru kaget. Bartender yang selalu setia dengan kacamata hitam itu terkekeh geli melihat ekspresi wajah Yata.
"Sebagai raja yang baru, kau harus bisa mengontrol wajahmu dengan lebih baik, Yata-kun."
"A...apa maksudmu, Kusanagi-san?" seru Yata, yang wajahnya sudah semerah rambutnya. "A...aku bukan raja! Rajaku tetap Mikoto-san, sampai kapanpun!"
"Oh, jangan bergurau, Yata-kun. Sword of Damoscles sudah memilihmu, Mikoto sudah memilihmu. Kau lihat sendiri kemarin, saat pemakaman Mikoto. Bagaimana tiba-tiba tubuhmu terbakar dan Sword of Damoscles melayang di atas kepalamu. Belum lagi waktu aku bersalaman denganmu, tanda klan merah yang sempat hilang saat Mikoto meninggal mendadak kembali lagi. Kau adalah raja yang baru, Yata-kun. Atau, harus kupanggil Yata-sama?"
"Be...berisik! Sudah! Minggir, aku mau masuk!" seru Yata kesal, menggeser pemilik restoran kecil itu ke samping. Kusanagi bergerak, mengizinkan Yata masuk ke bar markas HOMRA. Lalu, raja kecil itu melempar dirinya ke sofa empuk dekat jendela. Kusanagi terkekeh melihatnya.
"A...apa?!" tanya Yata galak, tidak suka bagaimana seniornya itu mendadak tertawa tanpa alasan. Cukuplah orang mengolok-oloknya tentang bagaimana di antara semua anggota HOMRA, ternyata ia yang terpilih mewarisi gelar raja. Yatagarasu, Raja Merah Keempat. Memikirkannya saja sudah membuat perut pemuda berkupluk itu mulas.
Kusanagi menggeleng dan melipat kedua tangannya di dada. "Tidak. Hanya saja, meski kau menolak mati-matian gelar barumu, kekuatanmu, dan tanggung jawabmu dengan alasan kau tidak sepadan dengan Mikoto, sikapmu yang barusan itu, masuk dengan seenaknya dan langsung duduk di sofa itu tanpa basa-basi, sangat mirip dengannya. Kurasa tidak heran kalau di antara kami semua, ia akan menjadikanmu pewarisnya. Watak kalian terlalu mirip."
"...."
Yata tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara jelas yang terbentuk. Seolah otaknya hanya mampu memproses kata-kata saja tanpa bisa memerintah otot rongga mulutnya untuk bekerja. Wajahnya sendiri sudah semerah rambutnya. Setelah lama, Yata lalu menutup mulutnya dan menarik kupluk sampai sebagian matanya sementara ia sendiri melihat ke samping. Semburat merah masih mewarnai wajah dan telinganya.
"Ku...kuanggap itu sebagai pujian," ujarnya lirih, nyaris berbisik. Pada detik ini, Kusanagi tidak bisa lagi menahan diri. Ia tergelak keras, tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
"Tsundere! Mikoto, bahkan tsundere-nya pun mirip dengan dirimu!"
"Ber...berhenti tertawa begitu, Kusanagi-san!!!"
"Wuah!"
"Yata-kun. Selamat!"
Kusanagi meledakkan confetti tepat di depan wajah Yatagarasu, membuat pemuda pendek berambut merah itu melompat ke belakang dan berseru kaget. Bartender yang selalu setia dengan kacamata hitam itu terkekeh geli melihat ekspresi wajah Yata.
"Sebagai raja yang baru, kau harus bisa mengontrol wajahmu dengan lebih baik, Yata-kun."
"A...apa maksudmu, Kusanagi-san?" seru Yata, yang wajahnya sudah semerah rambutnya. "A...aku bukan raja! Rajaku tetap Mikoto-san, sampai kapanpun!"
"Oh, jangan bergurau, Yata-kun. Sword of Damoscles sudah memilihmu, Mikoto sudah memilihmu. Kau lihat sendiri kemarin, saat pemakaman Mikoto. Bagaimana tiba-tiba tubuhmu terbakar dan Sword of Damoscles melayang di atas kepalamu. Belum lagi waktu aku bersalaman denganmu, tanda klan merah yang sempat hilang saat Mikoto meninggal mendadak kembali lagi. Kau adalah raja yang baru, Yata-kun. Atau, harus kupanggil Yata-sama?"
"Be...berisik! Sudah! Minggir, aku mau masuk!" seru Yata kesal, menggeser pemilik restoran kecil itu ke samping. Kusanagi bergerak, mengizinkan Yata masuk ke bar markas HOMRA. Lalu, raja kecil itu melempar dirinya ke sofa empuk dekat jendela. Kusanagi terkekeh melihatnya.
"A...apa?!" tanya Yata galak, tidak suka bagaimana seniornya itu mendadak tertawa tanpa alasan. Cukuplah orang mengolok-oloknya tentang bagaimana di antara semua anggota HOMRA, ternyata ia yang terpilih mewarisi gelar raja. Yatagarasu, Raja Merah Keempat. Memikirkannya saja sudah membuat perut pemuda berkupluk itu mulas.
Kusanagi menggeleng dan melipat kedua tangannya di dada. "Tidak. Hanya saja, meski kau menolak mati-matian gelar barumu, kekuatanmu, dan tanggung jawabmu dengan alasan kau tidak sepadan dengan Mikoto, sikapmu yang barusan itu, masuk dengan seenaknya dan langsung duduk di sofa itu tanpa basa-basi, sangat mirip dengannya. Kurasa tidak heran kalau di antara kami semua, ia akan menjadikanmu pewarisnya. Watak kalian terlalu mirip."
"...."
Yata tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara jelas yang terbentuk. Seolah otaknya hanya mampu memproses kata-kata saja tanpa bisa memerintah otot rongga mulutnya untuk bekerja. Wajahnya sendiri sudah semerah rambutnya. Setelah lama, Yata lalu menutup mulutnya dan menarik kupluk sampai sebagian matanya sementara ia sendiri melihat ke samping. Semburat merah masih mewarnai wajah dan telinganya.
"Ku...kuanggap itu sebagai pujian," ujarnya lirih, nyaris berbisik. Pada detik ini, Kusanagi tidak bisa lagi menahan diri. Ia tergelak keras, tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
"Tsundere! Mikoto, bahkan tsundere-nya pun mirip dengan dirimu!"
"Ber...berhenti tertawa begitu, Kusanagi-san!!!"
Tuesday, 29 January 2013
The One Who Chasing The Sun #6
Aspros yakin ada satu sekrup otaknya yang lepas sampai-sampai ia berhalusinasi seperti ini. Mungkin gara-gara ia terlalu asyik menghajar gerombolan manusia berkacamata hitam di depan cafe tadi, atau gara-gara rambut merah muda lawannya terlalu absurd sampai-sampai merusak saraf matanya. Telinganya pun bermasalah, mungkin sebagai after-effect dari seruan dan makian dari lawan-lawannya itu ketika mereka habis dihajar di wajah--padahal si lawan sudah mengingatkan untuk tidak memukulnya di muka.
Karena sekarang, Aspros melihat Defteros sedang bersenandung senang sambil merebus air untuk kopi dengan senyum lebar tidak lepas dari wajah-super-datarnya itu.
"Err...Defteros?" sapa Aspros ragu-ragu. Defteros menoleh ke arah kakak kembarnya itu. Senyum tipis terulas di wajah berkulit coklat. Aspros merasa semua rambut halus di lehernya berdiri.
"Hoi, Aspros. Aku buatkan kopi kesukaanmu. Cafe latte?"
Pupil mata Aspros mengecil, nafasnya tertahan, otot kakinya menegang, perutnya mulas.
"Defteros...kau...tidak apa-apa?" tanya si kakak hati-hati sambil mundur selangkah tiap frasenya. Satu tangannya siaga di daun pintu.
Defteros memiringkan wajahnya. "Apa? Tidak apa-apa. Oh, hari ini kita makan pasta kesukaanmu. Fusilli saus tomat dengan keju mozarella. Kudapannya bawang bombay tepung goreng dengan mayo--
BRAK!
Aspros membanting pintu dan berlari sekencang-kencangnya, meninggalkan Defteros yang melongo kebingungan.
Karena sekarang, Aspros melihat Defteros sedang bersenandung senang sambil merebus air untuk kopi dengan senyum lebar tidak lepas dari wajah-super-datarnya itu.
"Err...Defteros?" sapa Aspros ragu-ragu. Defteros menoleh ke arah kakak kembarnya itu. Senyum tipis terulas di wajah berkulit coklat. Aspros merasa semua rambut halus di lehernya berdiri.
"Hoi, Aspros. Aku buatkan kopi kesukaanmu. Cafe latte?"
Pupil mata Aspros mengecil, nafasnya tertahan, otot kakinya menegang, perutnya mulas.
"Defteros...kau...tidak apa-apa?" tanya si kakak hati-hati sambil mundur selangkah tiap frasenya. Satu tangannya siaga di daun pintu.
Defteros memiringkan wajahnya. "Apa? Tidak apa-apa. Oh, hari ini kita makan pasta kesukaanmu. Fusilli saus tomat dengan keju mozarella. Kudapannya bawang bombay tepung goreng dengan mayo--
BRAK!
Aspros membanting pintu dan berlari sekencang-kencangnya, meninggalkan Defteros yang melongo kebingungan.
Monday, 28 January 2013
Sense of belonging
"Itu temen lo?"
"Diem."
Dengus mengejek. "Temen ketika masih bebas. Makanya lo cepetan cari pacar."
"Lo tau sendiri gue ga mau punya pasangan. Bahkan nikah. Hell."
Mengangkat bahu. "Itu pikiran sempit, Luce. At least you need to be somewhere di mana lo merasa kalo you belong there."
Giliran Luca yang mendengus. "Belong? Orang yang nggak diharapkan di manapun macem gue? Penerimaan kayak gitu nggak ada dalam kamus hidup gue, Cil. Gue hanya akan diterima oleh diri gue sendiri. Salah gue sendiri juga, percaya sama orang, sampe jadi orang goblok gini."
"Ironis banget. Lo yang dulu ngajarin orang kalo percaya itu penting, tapi lo sendiri yang akhirnya jadi apatis sama lingkungan."
"Gue melakukan yang seharusnya. Peduli setan perasaan gue, hati kecil gue, diri gue mau se-kontradiktif apa, mau se-dusta apa. Yang penting di dunia ini apa sih? Pencitraan. Kalo gue bisa bikin citra anak baik yang perhatian sama temen-temennya, maka orang-orang akan at least menerima ego gue yang haus akan penerimaan.Tapi ketika mereka puas mengambil semua perhatian gue? They'll toss me like a trash. Buat apa melibatkan emosi untuk hubungan sesaat gitu?"
"Diem."
Dengus mengejek. "Temen ketika masih bebas. Makanya lo cepetan cari pacar."
"Lo tau sendiri gue ga mau punya pasangan. Bahkan nikah. Hell."
Mengangkat bahu. "Itu pikiran sempit, Luce. At least you need to be somewhere di mana lo merasa kalo you belong there."
Giliran Luca yang mendengus. "Belong? Orang yang nggak diharapkan di manapun macem gue? Penerimaan kayak gitu nggak ada dalam kamus hidup gue, Cil. Gue hanya akan diterima oleh diri gue sendiri. Salah gue sendiri juga, percaya sama orang, sampe jadi orang goblok gini."
"Ironis banget. Lo yang dulu ngajarin orang kalo percaya itu penting, tapi lo sendiri yang akhirnya jadi apatis sama lingkungan."
"Gue melakukan yang seharusnya. Peduli setan perasaan gue, hati kecil gue, diri gue mau se-kontradiktif apa, mau se-dusta apa. Yang penting di dunia ini apa sih? Pencitraan. Kalo gue bisa bikin citra anak baik yang perhatian sama temen-temennya, maka orang-orang akan at least menerima ego gue yang haus akan penerimaan.Tapi ketika mereka puas mengambil semua perhatian gue? They'll toss me like a trash. Buat apa melibatkan emosi untuk hubungan sesaat gitu?"
Sunday, 27 January 2013
Silvery Miracle #1
"Mikoto-san."
Putih. Sepanjang matanya memandang, hanya ada putih tanpa batas. Mikoto memandang tangannya, menggerakannya, kemudian mengepal. Pandangannya beralih lagi pada kehampaan di hadapannya.
"Mikoto-san."
Muncul lagi, suara itu. Suara yang jahil, usil, sekaligus karismatik.
"Mikoto-san, di belakangmu."
Mikoto berbalik dan menemukan pemuda pendek berambut putih keperakan berdiri dengan senyum tipis di wajah. Ia mengenalinya, sangat mengenalinya. Isana Yashiro, Adolph Weissman, Silver King, Colorless King, siapapun itu nama aslinya.
"Mau apa kau?"
Shiro terkekeh geli. "Bahkan setelah mati pun, Mikoto-san tetap Mikoto-san."
"Memangnya mau jadi apa lagi?"
"Iya, betul. Tentu saja." Shiro mengangguk-angguk. Mikoto lalu mendudukkan dirinya. Tidak benar-benar duduk, karena tempatnya sekarang berada tidak lebih hanya imajinasi tentang dunia setelah mati. Ia memang bernapas, merasa hangat, dan hal-hal lainnya yang pernah ia rasakan ketika dulu masih hidup, tapi sembilan per sepuluh sel otaknya percaya itu hanyalah ilusi dunia orang mati saja.
"Hei, Mikoto-san, bagaimana menurutmu tempat ini?"
Mikoto beralih pada Shiro yang kini sedang melayang di atasnya. Jika ini dunia nyata pun, Mikoto tahu pasti kemampuan klan Perak yang memanipulasi gravitasi membuat siapapun anggota klannya bisa melayang-layang seperti hantu, apalagi di dunia aneh ini.
"Membosankan."
Shiro tergelak lagi. "Sudah kuduga kau akan menjawab begitu. Kau mudah sekali ditebak, Mikoto-san."
"Bukan urusanmu."
Shiro lalu tersenyum tipis dan mendudukkan dirinya di samping Mikoto. "Mikoto-san, kau tahu kenapa Raja Perak tidak bisa mati?"
Mikoto tidak menjawab. Shiro menoleh ke arah mantan Raja Merah itu, yang bahkan tidak sedikitpun berusaha berpikir mengenai jawaban atas pertanyaannya.
"Kau tahu ini tempat apa?"
"Dunia orang mati."
"Sekarang kau sudah tahu, kenapa Raja Perak tidak bisa mati?"
Kali ini Mikoto menoleh ke arah Shiro. Wajahnya terlihat bingung. Shiro mendengus geli.
"Kau tahu, warna apa yang sekarang ini ada di sekelilingmu?"
"...putih."
Shiro menggeleng. "Bukan, Mikoto-san. Bukan. Coba, perhatikan lagi warnanya. Putih 'kah?"
Mikoto lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Putih, putih, putih. Mikoto bukan orang yang buta warna. Setidaknya iya pun, ia masih bisa membedakan warna putih dan bukan putih. Warna dunianya saat ini mengingatkannya pada musim dingin, ketika salju menumpuk di jalanan, ketika Anna dan Yata lari-larian sambil main lempar bola salju, ketika Kusanagi mengajaknya main ski dari tebing paling curam, atau ketika ia melihat Reisi Munakata terjatuh dengan tidak elitnya di hamparan putih perak salju karena terpeleset.
Ah.
"Jadi? Sudah tahu ini warna apa?"
"Perak."
Shiro tersenyum lebar. "Bingo!" Ia lalu berdiri dan meregangkan tubuhnya. "Perak, Mikoto-san. Seperak rambutku, rambut Weissman, rambut Neko, seperak Sword of Damoscles milikku. Seperak salju. Perak, Mikoto-san."
"Lalu?"
"Apa yang bisa dikendalikan oleh klan merah?"
Teka-teki lagi. Mikoto menghela napas. "Api."
"Klan Biru?"
Mikoto berpikir sejenak. "Pedang?"
"Itu senjata yang mereka gunakan," Shiro tidak bisa menyembunyikan geli pada nada suaranya. "Pada dasarnya, setiap warna memiliki ciri khasnya masing-masing. Merah dapat mengendalikan api, Tanpa Warna memberi ilusi, dan Perak memanipulasi gravitasi."
Mikoto makin tidak mengerti arah pembicaraan ini. "Lalu?"
"Lalu, kabar baiknya adalah, Perak juga mengatur kehidupan."
"Maksudmu?"
"Keabadian."
Mikoto memicingkan mata. Otaknya dipenuhi spekulasi arah pembicaraan. Shiro tersenyum semakin lebar.
"Singkatnya adalah, aku bisa menghidupkanmu kembali, Mikoto-san. Kau dan juga anggota HOMRA yang dibunuh oleh Raja Tanpa Warna. Hanya saja, aku tidak bisa mengembalikan kekuatan kalian. Raja Merah selanjutnya sudah dipilih, dan hanya boleh ada satu raja dalam satu waktu. Kalian bisa kembali memiliki kekuatan itu kalau Raja Merah mengakui. Yah, meski itu adalah kepastian yang tidak terelak, 'sih."
Mikoto mengerjap, mulutnya sedikit terbuka, tidak percaya. "Kenapa?"
"Kenapa apa? Kenapa tidak dari dulu? Karena, untuk bisa membangkitkan anggota klan yang mati, aku harus menghidupkan dulu rajanya. Anggota klan akan hidup lagi jika raja yang berkuasa di masanya hidup, asalkan itu kemauan si raja. Kalau sang raja merasa perannya di dunia sudah selesai, keadaan ini tidak diperlukan. Begitu."
Mikoto lalu berdiri dan menatap tajam Shiro. "Jadi?"
"Mikoto-san, kau ini memang pelit ngomong, ya?" canda Shiro. "Ehem, jadi, Mikoto-san, apakah kau mau hidup lagi? Apakah kau mau Tatara Totsuka-san hidup kembali? Apakah kalian mau menjadi anggota HOMRA dan klan merah untuk yang kedua kali?"
"Aku mau!"
Mikoto menoleh cepat ke belakang dan menemukan pria berambut coklat susu dengan senyum bodoh sedang berdiri di sana. Matanya yang sewarna dengan rambutnya berkilat kesenangan.
"To...Totsuka?"
"Halo, Mikoto-kun! Weissman-san sudah menjelaskan semuanya padaku. Jadi, semuanya terserah padamu, 'sih. Kalau kau mau kembali, aku ikut. Kalau mau tetap di sini pun, aku akan menemanimu." Totsuka bicara panjang lebar dengan senyum tidak bisa lepas dari wajah mantan penyanyi itu. Mikoto masih takjub dengan keadaan yang ada di depan matanya.
"Ehem, jadi, bagaimana?"
Mikoto menoleh ke arah Shiro, lalu Totsuka, lalu Shiro, lalu Totsuka lagi. Totsuka mengangguk, menyerahkan semua keputusannya pada Mikoto. Ia lalu berbalik menghadap Shiro.
"...."
.
.
.
Putih. Sepanjang matanya memandang, hanya ada putih tanpa batas. Mikoto memandang tangannya, menggerakannya, kemudian mengepal. Pandangannya beralih lagi pada kehampaan di hadapannya.
"Mikoto-san."
Muncul lagi, suara itu. Suara yang jahil, usil, sekaligus karismatik.
"Mikoto-san, di belakangmu."
Mikoto berbalik dan menemukan pemuda pendek berambut putih keperakan berdiri dengan senyum tipis di wajah. Ia mengenalinya, sangat mengenalinya. Isana Yashiro, Adolph Weissman, Silver King, Colorless King, siapapun itu nama aslinya.
"Mau apa kau?"
Shiro terkekeh geli. "Bahkan setelah mati pun, Mikoto-san tetap Mikoto-san."
"Memangnya mau jadi apa lagi?"
"Iya, betul. Tentu saja." Shiro mengangguk-angguk. Mikoto lalu mendudukkan dirinya. Tidak benar-benar duduk, karena tempatnya sekarang berada tidak lebih hanya imajinasi tentang dunia setelah mati. Ia memang bernapas, merasa hangat, dan hal-hal lainnya yang pernah ia rasakan ketika dulu masih hidup, tapi sembilan per sepuluh sel otaknya percaya itu hanyalah ilusi dunia orang mati saja.
"Hei, Mikoto-san, bagaimana menurutmu tempat ini?"
Mikoto beralih pada Shiro yang kini sedang melayang di atasnya. Jika ini dunia nyata pun, Mikoto tahu pasti kemampuan klan Perak yang memanipulasi gravitasi membuat siapapun anggota klannya bisa melayang-layang seperti hantu, apalagi di dunia aneh ini.
"Membosankan."
Shiro tergelak lagi. "Sudah kuduga kau akan menjawab begitu. Kau mudah sekali ditebak, Mikoto-san."
"Bukan urusanmu."
Shiro lalu tersenyum tipis dan mendudukkan dirinya di samping Mikoto. "Mikoto-san, kau tahu kenapa Raja Perak tidak bisa mati?"
Mikoto tidak menjawab. Shiro menoleh ke arah mantan Raja Merah itu, yang bahkan tidak sedikitpun berusaha berpikir mengenai jawaban atas pertanyaannya.
"Kau tahu ini tempat apa?"
"Dunia orang mati."
"Sekarang kau sudah tahu, kenapa Raja Perak tidak bisa mati?"
Kali ini Mikoto menoleh ke arah Shiro. Wajahnya terlihat bingung. Shiro mendengus geli.
"Kau tahu, warna apa yang sekarang ini ada di sekelilingmu?"
"...putih."
Shiro menggeleng. "Bukan, Mikoto-san. Bukan. Coba, perhatikan lagi warnanya. Putih 'kah?"
Mikoto lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Putih, putih, putih. Mikoto bukan orang yang buta warna. Setidaknya iya pun, ia masih bisa membedakan warna putih dan bukan putih. Warna dunianya saat ini mengingatkannya pada musim dingin, ketika salju menumpuk di jalanan, ketika Anna dan Yata lari-larian sambil main lempar bola salju, ketika Kusanagi mengajaknya main ski dari tebing paling curam, atau ketika ia melihat Reisi Munakata terjatuh dengan tidak elitnya di hamparan putih perak salju karena terpeleset.
Ah.
"Jadi? Sudah tahu ini warna apa?"
"Perak."
Shiro tersenyum lebar. "Bingo!" Ia lalu berdiri dan meregangkan tubuhnya. "Perak, Mikoto-san. Seperak rambutku, rambut Weissman, rambut Neko, seperak Sword of Damoscles milikku. Seperak salju. Perak, Mikoto-san."
"Lalu?"
"Apa yang bisa dikendalikan oleh klan merah?"
Teka-teki lagi. Mikoto menghela napas. "Api."
"Klan Biru?"
Mikoto berpikir sejenak. "Pedang?"
"Itu senjata yang mereka gunakan," Shiro tidak bisa menyembunyikan geli pada nada suaranya. "Pada dasarnya, setiap warna memiliki ciri khasnya masing-masing. Merah dapat mengendalikan api, Tanpa Warna memberi ilusi, dan Perak memanipulasi gravitasi."
Mikoto makin tidak mengerti arah pembicaraan ini. "Lalu?"
"Lalu, kabar baiknya adalah, Perak juga mengatur kehidupan."
"Maksudmu?"
"Keabadian."
Mikoto memicingkan mata. Otaknya dipenuhi spekulasi arah pembicaraan. Shiro tersenyum semakin lebar.
"Singkatnya adalah, aku bisa menghidupkanmu kembali, Mikoto-san. Kau dan juga anggota HOMRA yang dibunuh oleh Raja Tanpa Warna. Hanya saja, aku tidak bisa mengembalikan kekuatan kalian. Raja Merah selanjutnya sudah dipilih, dan hanya boleh ada satu raja dalam satu waktu. Kalian bisa kembali memiliki kekuatan itu kalau Raja Merah mengakui. Yah, meski itu adalah kepastian yang tidak terelak, 'sih."
Mikoto mengerjap, mulutnya sedikit terbuka, tidak percaya. "Kenapa?"
"Kenapa apa? Kenapa tidak dari dulu? Karena, untuk bisa membangkitkan anggota klan yang mati, aku harus menghidupkan dulu rajanya. Anggota klan akan hidup lagi jika raja yang berkuasa di masanya hidup, asalkan itu kemauan si raja. Kalau sang raja merasa perannya di dunia sudah selesai, keadaan ini tidak diperlukan. Begitu."
Mikoto lalu berdiri dan menatap tajam Shiro. "Jadi?"
"Mikoto-san, kau ini memang pelit ngomong, ya?" canda Shiro. "Ehem, jadi, Mikoto-san, apakah kau mau hidup lagi? Apakah kau mau Tatara Totsuka-san hidup kembali? Apakah kalian mau menjadi anggota HOMRA dan klan merah untuk yang kedua kali?"
"Aku mau!"
Mikoto menoleh cepat ke belakang dan menemukan pria berambut coklat susu dengan senyum bodoh sedang berdiri di sana. Matanya yang sewarna dengan rambutnya berkilat kesenangan.
"To...Totsuka?"
"Halo, Mikoto-kun! Weissman-san sudah menjelaskan semuanya padaku. Jadi, semuanya terserah padamu, 'sih. Kalau kau mau kembali, aku ikut. Kalau mau tetap di sini pun, aku akan menemanimu." Totsuka bicara panjang lebar dengan senyum tidak bisa lepas dari wajah mantan penyanyi itu. Mikoto masih takjub dengan keadaan yang ada di depan matanya.
"Ehem, jadi, bagaimana?"
Mikoto menoleh ke arah Shiro, lalu Totsuka, lalu Shiro, lalu Totsuka lagi. Totsuka mengangguk, menyerahkan semua keputusannya pada Mikoto. Ia lalu berbalik menghadap Shiro.
"...."
.
.
.
Saturday, 26 January 2013
Happiness
Disclaimer : GoRA & GoHands
.
.
"Maaf, aku selalu membuatmu melakukan pekerjaan kotor."
Prak.
Ada yang pecah. Kepingnya menyayat, memerih, berdarah. Merah pekat, gelap. Anyir besi menguar di udara, mengambang di atas serpih salju. Lengket dan hangat mengalir deras, jatuh ke atas putih bersih.
"Maaf, Munakata. Kau tidak lagi bisa membantuku."
Lalu, tubuhnya ambruk ke tanah, mendingin, dan perlahan hilang dalam kilau merah membara.
Prak. Prak. Prak.
.
.
.
"Kapten!"
Scepter 4 tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka tatkala sang raja berjalan di jembatan. Gembira kemenangan seolah meluap dan merembes dari setiap pori-pori mereka. Kapten mereka selamat, Sword of Damoscle dari Raja Merah hancur, ditambah darah yang menempel di tangan kanan Munakata. Semuanya hanya mengarah pada satu keadaan.
Raja Merah, Mikoto Suou, sudah mati.
Dan Munakata Reisi sendiri, sang kapten dari Scepter 4, Raja Biru, yang sudah menghabisinya.
Apa ada alasan bagi klan biru untuk tidak merasakan bahagia?
.
.
.
Prak. Prak. Prak. Pr...ak.
.
.
.
Pertanyaannya hanya satu : bagaimana kau bisa merasakan bahagia, kalau dirimu sendiri yang membuat bahagia itu hilang?
.
.
"Maaf, aku selalu membuatmu melakukan pekerjaan kotor."
Prak.
Ada yang pecah. Kepingnya menyayat, memerih, berdarah. Merah pekat, gelap. Anyir besi menguar di udara, mengambang di atas serpih salju. Lengket dan hangat mengalir deras, jatuh ke atas putih bersih.
"Maaf, Munakata. Kau tidak lagi bisa membantuku."
Lalu, tubuhnya ambruk ke tanah, mendingin, dan perlahan hilang dalam kilau merah membara.
Prak. Prak. Prak.
.
.
.
"Kapten!"
Scepter 4 tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka tatkala sang raja berjalan di jembatan. Gembira kemenangan seolah meluap dan merembes dari setiap pori-pori mereka. Kapten mereka selamat, Sword of Damoscle dari Raja Merah hancur, ditambah darah yang menempel di tangan kanan Munakata. Semuanya hanya mengarah pada satu keadaan.
Raja Merah, Mikoto Suou, sudah mati.
Dan Munakata Reisi sendiri, sang kapten dari Scepter 4, Raja Biru, yang sudah menghabisinya.
Apa ada alasan bagi klan biru untuk tidak merasakan bahagia?
.
.
.
Prak. Prak. Prak. Pr...ak.
.
.
.
Pertanyaannya hanya satu : bagaimana kau bisa merasakan bahagia, kalau dirimu sendiri yang membuat bahagia itu hilang?
Friday, 25 January 2013
Family
Disclaimer : Saint Seiya (c) Masami Kurumada
.
.
Kouga masih ingat tentang bahu lebar dan lengan besar yang siap merengkuhnya, menggendongnya, menghiburnya dalam setiap kesulitan. Bagaimana sang ksatria emas akan meluangkan waktunya untuk sekedar menceritakan kisah hidupnya di masa lalu, bagaimana mata sang ksatria kuil ke sepuluh itu berkilat kesenangan untuk kemudian tenggelam dalam sedih tak terperi.
Seiya mungkin seorang mentor yang tegas, senior yang mengayomi, dan kakak yang selalu siap melindungi. Namun, bagi Kouga, Seiya lebih dari itu. Seiya adalah ayahnya, panutannya, junjungannya, segalanya. Bahkan, kalau sampai Seiya dan Athena bersitegang lalu kemudian berdiri di sisi yang berlawanan, Kouga pasti akan memilih mengikuti ksatria Sagittarius itu daripada menuruti sumpah setianya pada sang dewi.
Seiya, satu-satunya keluarganya.
.
.
.
"Kouga."
Kouga mengerjap beberapa kali sebelum membuka mata. Sinar matahari menerobos masuk pupilnya, membuatnya terpaksa mengedip sekali-dua kali sebelum terbiasa dengannya. Yang pertama kali dilihat oleh pegasus muda itu adalah siluet garis rahang yang tegas, rambut yang berantakan, dan gelombang warna coklat yang dibiaskan oleh matahari.
"Bangun, Kouga. Kau bisa sakit kalau tidur terlalu lama di alam terbuka begini."
Telinganya menangkap suara yang tidak asing. Nada bariton sedikit tenor yang familiar. Intonasi suara yang sudah lama ingin ia dengar.
"Se...iya?"
Kouga lalu mendengar dengus geli, disusul siluet yang menutupi pandangannya itu bergerak ke samping, memberikan akses cahaya masuk ke matanya lebih banyak. Kouga melirik ke arah siluet itu bergerak dan menemukan pria berambut coklat dengan kaus tanpa lengan warna merah dan celana training putih kusam duduk. Mata coklatnya melihat ke depan sebelum beralih menatapnya. Senyum tipis terulas.
"Pagi, Kouga. Tidurmu nyenyak?"
Kouga bangkit dan menggosok matanya. Nyawanya seolah masih melayang-layang di udara, menolak kembali ke dunia nyata.
"Lumayan tapi badanku sakit semua," ujarnya sambil sedikit menyeringai.
"Tidur di rumput begini, jelas saja badanmu sakit."
"Habis, aku tidak bisa tidur di barak ksatria perunggu."
"Kenapa memangnya?" Seiya sedikit mengubah posisi duduknya. Nada suaranya terdengar cemas.
"Eden selalu menerorku untuk menceritakan tentang kisah legenda ksatria perunggu sebelum kami menurut versimu. Sudah kubilang, tanyakan saja langsung padamu, tapi dia tidak menggubris. Malah, dia langsung bicara panjang lebar soal Leo Mycenae dan tentang Phoenix Ikki dan tentang Mars dan Medea. Mana bisa aku tidur?" protes Kouga. Seiya tergelak mendengar jawaban dari pemuda yang dulu ia selamatkan dari kobaran api itu. Penerus zirah sagittarius itu lalu menepuk-nepuk kepala sang pegasus muda.
"Omong-omong, bagaimana latihanmu dengan Shaina?"
Kouga melempar senyum jahil sebagai jawaban dari pertanyaan Seiya. "Kau menanyakan latihanku, atau pelatihku?"
"Hei, jangan mengganggu orang tua seperti itu," ujar Seiya sambil menggaruk belakang kepalanya. Kouga bisa melihat semburat merah muda tipis mewarnai wajah pria yang lebih tua darinya itu. Ia lalu berdiri dan meregangkan ototnya.
"Ah, aku juga pingin cepat-cepat punya pacar! Hei, Seiya, kalau kalian punya anak, anakmu itu akan jadi adikku, 'kan? Lalu, zirah sagittarius itu tetap milikku, ya!" ujar Kouga cepat sebelum berlari menjauh menuju barak ksatria perunggu, meninggalkan Seiya terbengong-bengong dengan wajah merah merona.
Wednesday, 23 January 2013
The One Who Chasing The Sun #5
Defteros kira, ada yang menebar jutaan koin emas di tangga reruntuhan. Ia pikir, kilau emas matahari terlempar ke bumi dan mendarat di anak tangga kuil. Bahkan ia sempat mengira, kalau mendadak seorang tukang bunga memutuskan untuk menyimpan puluhan bunga kuning di situs kuno purbakala ini. Akal sehatnya melayang-layang tanpa batas, sampai akhirnya sang otak berhasil menyimpulkan asal muasal warna kuning emas yang mencuri fokusnya ini.
Seorang pemuda. Berambut pirang panjang. Tertidur pulas. Di reruntuhan tangga kuil kuno Sanctuary.
Kalau saat ini Aspros ada di dekatnya, dia pasti sudah teriak-teriak tidak jelas dan merusak kedamaian yang kini menyelimuti Defteros. Ia menghela napas sebelum menghampiri sang pangeran tidur. Perlahan, ia mengatur kameranya dan mengarahkan benda tersebut pada si pemuda. Komposisinya sederhana. Helai rambut, batu di anak tangga, dan sedikit langit biru. Seutas Cahaya. Ya, frase itu akan cocok dijadikan judul fotonya ini.
.
.
.
"Mmh," gumam Asmita. Matanya lalu mengerjap beberapa kali sebelum ia menoleh ke arah Defteros. Kameramen itu menghalangi cahaya matahari, membuat pandangannya gelap. Yang ia dapat hanyalah kulit kecoklatan terbakar matahari dan rambut kebiruan. Sisanya samar.
"Halo." Defteros buru-buru memasukkan kameranya ke dalam tas. "Kalau mau istirahat, jangan di sini. Bahaya."
"...ya. Maaf." Asmita berkata tidak jelas. Pandangannya masih belum fokus. Defteros menyadari gelagat Asmita dan menepuk-nepuk kepalanya pelan.
"Ayo, cepat kumpulkan nyawamu," candanya. Asmita menoleh ke arah orang asing ini lalu tersenyum tipis.
.
.
.
Senyuman yang kelak akan menghantui Defteros sepanjang hidupnya, memaksa tubuhnya melakukan apapun hanya untuk bisa melihatnya untuk yang kedua, tiga, empat, dan sekian kali.
Seorang pemuda. Berambut pirang panjang. Tertidur pulas. Di reruntuhan tangga kuil kuno Sanctuary.
Kalau saat ini Aspros ada di dekatnya, dia pasti sudah teriak-teriak tidak jelas dan merusak kedamaian yang kini menyelimuti Defteros. Ia menghela napas sebelum menghampiri sang pangeran tidur. Perlahan, ia mengatur kameranya dan mengarahkan benda tersebut pada si pemuda. Komposisinya sederhana. Helai rambut, batu di anak tangga, dan sedikit langit biru. Seutas Cahaya. Ya, frase itu akan cocok dijadikan judul fotonya ini.
.
.
.
"Mmh," gumam Asmita. Matanya lalu mengerjap beberapa kali sebelum ia menoleh ke arah Defteros. Kameramen itu menghalangi cahaya matahari, membuat pandangannya gelap. Yang ia dapat hanyalah kulit kecoklatan terbakar matahari dan rambut kebiruan. Sisanya samar.
"Halo." Defteros buru-buru memasukkan kameranya ke dalam tas. "Kalau mau istirahat, jangan di sini. Bahaya."
"...ya. Maaf." Asmita berkata tidak jelas. Pandangannya masih belum fokus. Defteros menyadari gelagat Asmita dan menepuk-nepuk kepalanya pelan.
"Ayo, cepat kumpulkan nyawamu," candanya. Asmita menoleh ke arah orang asing ini lalu tersenyum tipis.
.
.
.
Senyuman yang kelak akan menghantui Defteros sepanjang hidupnya, memaksa tubuhnya melakukan apapun hanya untuk bisa melihatnya untuk yang kedua, tiga, empat, dan sekian kali.
Sunday, 20 January 2013
Boring Day
Disclaimer : Rise of The Guardians belongs to Dreamworks
.
.
.
"Bunny!"
Kelinci jangkung itu menggeram ketika telinga panjangnya menangkap frekuensi suara ringan yang barusan memanggil namanya. Tangannya yang sedari tadi pagi sibuk menghiasi telur-telur berkaki lalu berhenti. Sepoi angin dingin yang menyentuh rambut biru-abu di punggungnya membuat ia berbalik. Mata birunya menatap pemuda bercapuchon biru tua dengan rambut keperakan dan senyum menyeringai menyebalkan.
"Apa lagi kali ini, Jack?" Sinis dan sarkas terdengar jelas dari nada suaranya. Jack nyengir, lebar.
"Aku bosan karena musim dingin sudah mulai datang. Jadi, aku memutuskan untuk main ke sini sebentar," jawabnya. Senyuman nakal tidak lepas sedetik pun dari wajahnya. Bunny mendengus.
"Jauh-jauh dari telur paskahku. Jauh-jauh dari aliran sungai warna. Jauh-jauh dari--JANGAN BEKUKAN TELUR PASKAHKU!!!"
.
.
.
"Bunny!"
Kelinci jangkung itu menggeram ketika telinga panjangnya menangkap frekuensi suara ringan yang barusan memanggil namanya. Tangannya yang sedari tadi pagi sibuk menghiasi telur-telur berkaki lalu berhenti. Sepoi angin dingin yang menyentuh rambut biru-abu di punggungnya membuat ia berbalik. Mata birunya menatap pemuda bercapuchon biru tua dengan rambut keperakan dan senyum menyeringai menyebalkan.
"Apa lagi kali ini, Jack?" Sinis dan sarkas terdengar jelas dari nada suaranya. Jack nyengir, lebar.
"Aku bosan karena musim dingin sudah mulai datang. Jadi, aku memutuskan untuk main ke sini sebentar," jawabnya. Senyuman nakal tidak lepas sedetik pun dari wajahnya. Bunny mendengus.
"Jauh-jauh dari telur paskahku. Jauh-jauh dari aliran sungai warna. Jauh-jauh dari--JANGAN BEKUKAN TELUR PASKAHKU!!!"
Saturday, 19 January 2013
Nicknames
"CIKA!"
Brak!
.
.
.
Sakit adalah hal pertama yang bisa Luca rasakan, seolah kakinya sedang diinjak gajah dan punggungnya barusan tertabrak kereta. Setiap tarikan napasnya merangsang serabut tipis saraf, memberikan persepsi nyeri tak terperi. Ia mengerang sedikit dalam usahanya memasok oksigen.
"Ka? Cika?"
Suara familiar terdengar sedikit berbisik di telinganya. Susah payah, ia akhirnya bisa membuka mata. Buram. Sepertinya kacamata bingkai merah yang biasanya setia bertengger di tulang hidungnya kini sedang berkhianat. Samar ia bisa melihat garis wajah manusia di atasnya. Rambut hitam ikal, mata coklat gelap, kulit sedikit kecoklatan. Luca kenal wajah itu.
"Ci...la?"
"Iya. Ini gue, Ka. Cika, astaga...Tuhan...terima kasih banyak," gumam Ciel. Kedua tangannya menangkup, menggenggam tangan Luca. Mulutnya tidak henti-henti mengucap kata syukur. Sementara itu, Luca memperhatikan sekelilingnya. Langit-langit putih, tiang besi, selang bening, cairan merah, cairan merah muda, cairan bening, bunyi ritmis bip-bip-bip, dan rasa sakit yang masih menjalar di setiap inci tubuhnya.
"Cil...gue...kenapa?"
Ciel mengusap matanya. "Lo ketabrak mobil, Luke. Udah, nanti aja ya ceritanya, lo sehat aja dulu."
Luca hanya bisa mengangguk. Mulutnya sedikit tertarik ke samping. "Tumben...manggil Cika."
Ciel tersenyum lebar dan mengelus dahi adik kembarnya itu. "Refleks. Udah lama juga lo ngga manggil gue Cila." Luca balas tersenyum sebelum memejamkan mata dan kembali masuk ke dalam dunia mimpi sementara tubuhnya memperbaiki diri sendiri.
.
.
.
Brak!
.
.
.
Sakit adalah hal pertama yang bisa Luca rasakan, seolah kakinya sedang diinjak gajah dan punggungnya barusan tertabrak kereta. Setiap tarikan napasnya merangsang serabut tipis saraf, memberikan persepsi nyeri tak terperi. Ia mengerang sedikit dalam usahanya memasok oksigen.
"Ka? Cika?"
Suara familiar terdengar sedikit berbisik di telinganya. Susah payah, ia akhirnya bisa membuka mata. Buram. Sepertinya kacamata bingkai merah yang biasanya setia bertengger di tulang hidungnya kini sedang berkhianat. Samar ia bisa melihat garis wajah manusia di atasnya. Rambut hitam ikal, mata coklat gelap, kulit sedikit kecoklatan. Luca kenal wajah itu.
"Ci...la?"
"Iya. Ini gue, Ka. Cika, astaga...Tuhan...terima kasih banyak," gumam Ciel. Kedua tangannya menangkup, menggenggam tangan Luca. Mulutnya tidak henti-henti mengucap kata syukur. Sementara itu, Luca memperhatikan sekelilingnya. Langit-langit putih, tiang besi, selang bening, cairan merah, cairan merah muda, cairan bening, bunyi ritmis bip-bip-bip, dan rasa sakit yang masih menjalar di setiap inci tubuhnya.
"Cil...gue...kenapa?"
Ciel mengusap matanya. "Lo ketabrak mobil, Luke. Udah, nanti aja ya ceritanya, lo sehat aja dulu."
Luca hanya bisa mengangguk. Mulutnya sedikit tertarik ke samping. "Tumben...manggil Cika."
Ciel tersenyum lebar dan mengelus dahi adik kembarnya itu. "Refleks. Udah lama juga lo ngga manggil gue Cila." Luca balas tersenyum sebelum memejamkan mata dan kembali masuk ke dalam dunia mimpi sementara tubuhnya memperbaiki diri sendiri.
.
.
.
The One Who Chasing The Sun #4
Asmita terduduk diam di ujung anak tangga. Ia menikmati sepoi angin yang menyentuh leher, menyusup ke sela pakaian, dan menggerak-gerakkan helai rambut pirang keemasannya. Nafasnya masih memburu, keringat masih merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Beberapa menit berlalu dan Asmita menyerah pada rengekan otot punggungnya. Ia lalu bersandar di undakan tangga. Kepalanya tengadah menatap langit biru cerah dengan awan-awan putis melayang ringan. Sebuah pesawat lewat, melintasi Athens untuk mendarat di bandara internasional, meninggalkan asap putih tipis dan deru kencang. Damai, tenang. Lima ratus euro untuk sebuah reruntuhan kuno dianggap sebagai harga yang tidak wajar oleh turis dan penduduk lokal, padahal Asmita rela menukarkan semua gajinya yang memiliki enam digit angka nol di belakangnya demi kedamaian dan kesunyian seperti ini. Ironis.
Ketenangannya ini harus diganggu oleh dering telepon genggam yang mendadak berbunyi. Setelah sedikit terkejut, pemuda bermata biru ini lalu mengambil benda elektronik yang sejak tadi tersimpan di saku belakang celana panjangnya. Ia lalu menatap kosong benda berwarna putih tersebut.
"Harpy," gumamnya sebelum menekan tanda merah pada ponsel dengan teknologi layar sentuh itu, lalu memutuskan untuk mematikannya dan menyimpannya kembali di saku celana. Asmita kembali merebahkan dirinya di undakan tangga dan memejamkan mata.
Ketenangannya ini harus diganggu oleh dering telepon genggam yang mendadak berbunyi. Setelah sedikit terkejut, pemuda bermata biru ini lalu mengambil benda elektronik yang sejak tadi tersimpan di saku belakang celana panjangnya. Ia lalu menatap kosong benda berwarna putih tersebut.
"Harpy," gumamnya sebelum menekan tanda merah pada ponsel dengan teknologi layar sentuh itu, lalu memutuskan untuk mematikannya dan menyimpannya kembali di saku celana. Asmita kembali merebahkan dirinya di undakan tangga dan memejamkan mata.
Friday, 18 January 2013
Zona
"Luke!'
Luca yang tengah asik menyantap yamin manisnya dengan lahap menoleh ke arah sumber suara. Pemuda jangkung dengan kulit sedikit gelap dan senyum tipis serta seorang pemuda bertubuh bongsor datang menghampirinya.
"Oi, Oka."
"Aku nggak disapa, nih?" tanya si bongsor. Luca hanya nyengir sebentar sebelum menyeruput es teh manisnya.
"Halo, Bang Gatan! Hehehehe."
"Cuma sama Mahda doang?" tanya Oka, merujuk pada satu pemuda bertampang mirip dengan Luca. Luca nyengir lagi.
"Ngga. Lagian, Mahda mah sepupu jauh entah gimana garis keturunannya pokoknya sepupu. Aku lagi jadi nyamuk di antara dia sama Chika. Temenin aku, yuk?"
Oka tergelak sedikit. "Nggak ah. Aku pergi dulu ya. Dah."
Luca hanya melambaikan tangannya dan menatap kepergian Oka ketika satu sikut yang kurang ajar menyenggolnya. Ia melirik ke kiri dan melihat Mahda tersenyum lebar. Luca memutar bola matanya.
"Shut it out, Mat. He's just a friend. A very handsome charming gentle friend."
Mahda tertawa kencang. "Aku tau kamu bakal ngomong gitu, Luke. Aku tau banget hahahahaha!"
Luca yang tengah asik menyantap yamin manisnya dengan lahap menoleh ke arah sumber suara. Pemuda jangkung dengan kulit sedikit gelap dan senyum tipis serta seorang pemuda bertubuh bongsor datang menghampirinya.
"Oi, Oka."
"Aku nggak disapa, nih?" tanya si bongsor. Luca hanya nyengir sebentar sebelum menyeruput es teh manisnya.
"Halo, Bang Gatan! Hehehehe."
"Cuma sama Mahda doang?" tanya Oka, merujuk pada satu pemuda bertampang mirip dengan Luca. Luca nyengir lagi.
"Ngga. Lagian, Mahda mah sepupu jauh entah gimana garis keturunannya pokoknya sepupu. Aku lagi jadi nyamuk di antara dia sama Chika. Temenin aku, yuk?"
Oka tergelak sedikit. "Nggak ah. Aku pergi dulu ya. Dah."
Luca hanya melambaikan tangannya dan menatap kepergian Oka ketika satu sikut yang kurang ajar menyenggolnya. Ia melirik ke kiri dan melihat Mahda tersenyum lebar. Luca memutar bola matanya.
"Shut it out, Mat. He's just a friend. A very handsome charming gentle friend."
Mahda tertawa kencang. "Aku tau kamu bakal ngomong gitu, Luke. Aku tau banget hahahahaha!"
Wanderer
Ciel masih ingat bagaimana jari-jari itu menoyor kepalanya dengan keras, membuat separuh es jeruk yang baru saja diteguknya menyembur keluar dan membasahi seragam putih-abu miliknya. Ia masih ingat, bagaimana kata-kata setajam silet meluncur keluar dengan ringannya. Ia juga masih ingat, berapa kali ungkapan cintanya ditolak mentah-mentah. Entah memang Ciel seorang masokis sejak lahir atau ia tertular ketsundere-an yang sepertinya diwariskan dari sang ibu, atau memang ia hanya tidak bisa tidak...
Ciel tetap jatuh untuk orang yang sama.
"Haaaaah," helanya. Satu batang rokok terselip di sela jarinya. Asap nikotin mengambang di udara. Dinginnya udara malam tidak membuat pemuda ini mengurungkan niatnya untuk menghabiskan waktu di teras rumah yang sudah disulap jadi perpustakaan. Duduk setengah selonjoran di dipan kayu beralaskan kasur empuk, Ciel memutuskan untuk lari sejenak dari tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswa. Baru saja ia memulai rutinitas malamnya, isi otaknya langsung berkelana ke hutan gelap terlarang yang diisi monster galak. Monster galak berambut hitam panjang dan menggigit.
"Galau melulu. Kerjain skripsinya, sana."
Ciel tidak perlu repot membalikkan badan untuk mengetahui siapa pemilik suara cempreng semena-mena itu. "Lo sendiri? Malah makan es alpukat malem-malem begini. Babi."
Luca mendengus. "Sidang gue masih hari Selasa, dan alpukat nggak bikin gendut."
"Ya sidang kita kan harinya sama, jamnya sama. Dasar nenek-nenek pikun. Alpukatnya sendiri sih nggak, kalo dikasih gula sebanyak itu sih lain cerita."
Luca menatap sebentar mangkok berisi benda kehijauan yang ditutupi oleh banyak gula merah di tangannya sebelum memasukkan satu sendok besar ke dalam mulutnya. "Mending jadi nenek-nenek pikun daripada masih belum move on juga. Udah ditolak, yang nolaknya sekarang udah punya pacar pula, mau jadi apa idup lo?"
Ciel menyalakan rokok lagi dan menghisapnya pelan. "Hah, omongan orang yang mau-maunya tetep ada di zona sahabat dan ngorbanin perasaannya sendiri pake acara nangis-nangis segala. Ngaca lu."
.
"Luke, jangan lempar Ciel pake mangkok. Dia bisa mati. Ciel, simpen asbaknya di meja. Sekarang."
Tuesday, 15 January 2013
SASA : Saga
"Diculik?!"
Sang bishop berdiri mendadak, mengagetkan pendeta muda muridnya. Wajahnya kaget. Horor dan paranoid mendadak tercampur aduk, berputar dalam ruang hampa di kedua mata birunya.
"Benar, Tuan. Aiolos diculik oleh ratu untuk dijadikan tumbal."
Saga mendecih, mengepalkan tangan, mengerutkan wajah. Marah. Ketika sang terkasihnya direnggut sedemikian hingga oleh entitas dewa yang tidak dikenal dan bahkan tidak dipujanya, apakah lalu dia pantas disebut dewa? Mengabaikan kupu-kupu hitam yang mulai berterbangan dalam benak dan bersarang di dada, Saga membulatkan tekad untuk merebut kembali sang pujaan hati.
.
.
.
Ketika Aiolia mengambil lembah sebagai jalan pintas menuju tempat sang dewa, maka Saga memutuskan untuk melipir sepanjang sungai demi mencapai dinding tinggi yang memisahkan alam dewa dan alam manusia. Di hulu sungai, air terjun yang tinggi mengalir deras dan berbahaya. Konon, di balik air terjun itu terdapat sebuah gua yang menghubungkan kedua alam. Tepat ketika kakinya menginjak tepi sungai berlumut yang licin, sudut matanya menangkap kilau putih.
Seekor angsa perak sedang terbang dengan anggun dan aneh di atas aliran sungai yang deras dan berbahaya. Bulunya yang terciprat air memantulkan cahaya kelap-kelip. Saga terpana, terpesona, terhipnotis karismanya.
"Manusia. Dua rasa dalam satu hati. Sungguhkah menyelamatkannya adalah tujuanmu? Atau semuanya hanya ego belaka?"
Pertanyaan yang tegas, lugas, tepat sasaran. Saga yang masih ragu akan perasaannya dan Saga yang tidak bisa tidak jatuh cinta pada Aiolos. Saga yang...ada di titik simpang terjauh dari seluruh putaran hidupnya, di titik balik yang menentukan akan jadi apa masa depannya.
"Aku...aku tidak tahu. Yang kutahu, aku tidak ingin dia, Aiolos, mati." Ada satu kelembutan dan kerinduan meluncur secara tidak sadar dari mulut Saga ketika ia menyebutkan nama Aiolos. Aiolos, Aiolos, Aiolos. Saga merasa ia bisa hidup untuk selamanya hanya dengan bermodalkan mantra tersebut.
Angsa itu lalu bersinar keperakan dan muncullah seorang manusia di tengah-tengah sungai. Rambut pirangnya bergoyang lembut. Mata birunya tenang dan menghanyutkan.
"Jika memang begitu, maka pergilah dan selamatkan dia. Selamatkan dia sebelum Dewa merengkuhnya dalam kegelapan, sebelum ia ternoda oleh gelap yang kekal."
Sang bishop berdiri mendadak, mengagetkan pendeta muda muridnya. Wajahnya kaget. Horor dan paranoid mendadak tercampur aduk, berputar dalam ruang hampa di kedua mata birunya.
"Benar, Tuan. Aiolos diculik oleh ratu untuk dijadikan tumbal."
Saga mendecih, mengepalkan tangan, mengerutkan wajah. Marah. Ketika sang terkasihnya direnggut sedemikian hingga oleh entitas dewa yang tidak dikenal dan bahkan tidak dipujanya, apakah lalu dia pantas disebut dewa? Mengabaikan kupu-kupu hitam yang mulai berterbangan dalam benak dan bersarang di dada, Saga membulatkan tekad untuk merebut kembali sang pujaan hati.
.
.
.
Ketika Aiolia mengambil lembah sebagai jalan pintas menuju tempat sang dewa, maka Saga memutuskan untuk melipir sepanjang sungai demi mencapai dinding tinggi yang memisahkan alam dewa dan alam manusia. Di hulu sungai, air terjun yang tinggi mengalir deras dan berbahaya. Konon, di balik air terjun itu terdapat sebuah gua yang menghubungkan kedua alam. Tepat ketika kakinya menginjak tepi sungai berlumut yang licin, sudut matanya menangkap kilau putih.
Seekor angsa perak sedang terbang dengan anggun dan aneh di atas aliran sungai yang deras dan berbahaya. Bulunya yang terciprat air memantulkan cahaya kelap-kelip. Saga terpana, terpesona, terhipnotis karismanya.
"Manusia. Dua rasa dalam satu hati. Sungguhkah menyelamatkannya adalah tujuanmu? Atau semuanya hanya ego belaka?"
Pertanyaan yang tegas, lugas, tepat sasaran. Saga yang masih ragu akan perasaannya dan Saga yang tidak bisa tidak jatuh cinta pada Aiolos. Saga yang...ada di titik simpang terjauh dari seluruh putaran hidupnya, di titik balik yang menentukan akan jadi apa masa depannya.
"Aku...aku tidak tahu. Yang kutahu, aku tidak ingin dia, Aiolos, mati." Ada satu kelembutan dan kerinduan meluncur secara tidak sadar dari mulut Saga ketika ia menyebutkan nama Aiolos. Aiolos, Aiolos, Aiolos. Saga merasa ia bisa hidup untuk selamanya hanya dengan bermodalkan mantra tersebut.
Angsa itu lalu bersinar keperakan dan muncullah seorang manusia di tengah-tengah sungai. Rambut pirangnya bergoyang lembut. Mata birunya tenang dan menghanyutkan.
"Jika memang begitu, maka pergilah dan selamatkan dia. Selamatkan dia sebelum Dewa merengkuhnya dalam kegelapan, sebelum ia ternoda oleh gelap yang kekal."
Monday, 14 January 2013
Blue Roses #2
DUAR!
DUAR!
PRAK!
BRAK!
"Kapten! Bola meriam kita hampir habis!"
"Manigoldo! Putar kemudi! Kita pakai cara lama!" seru Ilias kepada pemuda yang ada di balik kemudi kapal. Ia lalu menyeringai lebar dan berseru tidak jelas sambil memutar cepat kemudi. Ilias sendiri mencabut pedang melengkung dari pinggangnya. Mata birunya berkilat.
"Anak-anak! Habisi mereka semua!!!"
"Aye, Kapten!!!"
.
.
.
"Jadi?"
"Jadi?" tanya Kardia polos.
"Jadi?" ulang Degel lagi. Matanya marah. "Satu tiang kapal, satu marinir tercebur ke laut, satu tong makanan mereka jadi santapan ikan, dan kapten kapal diikat terbalik di dek hanya dengan celana panjang."
"Err...ya?"
"Padahal kau tahu, maksud Kapten 'cara lama' adalah apa?"
Kardia memutar matanya, berpikir. Kakinya bergoyang-goyang, wajahnya benar-benar polos seperti anak kecil kebingungan tapi Degel tahu persis apa yang ada di dalam kepala pemuda berambut biru tua itu. Tanpa basa-basi, ia menjitak kepala sang ujung tombak serangan mereka.
"Cara lama itu adalah buang semua meriamnya ke laut, potong semua layarnya, buat mereka lumpuh! Bukan membuat mereka sengsara dan mati di tengah laut! Dasar si bodoh yang berasal dari pulau bodoh dan yang terbodoh di antara yang paling bodoh!" umpatnya sebelum pergi sambil menghentak-hentak kaki, meninggalkan Kardia termenung bingung.
"Bodoh dari yang paling bodoh di antara yang ter-- hei! Degel! Apa maksudnya itu?!"
DUAR!
PRAK!
BRAK!
"Kapten! Bola meriam kita hampir habis!"
"Manigoldo! Putar kemudi! Kita pakai cara lama!" seru Ilias kepada pemuda yang ada di balik kemudi kapal. Ia lalu menyeringai lebar dan berseru tidak jelas sambil memutar cepat kemudi. Ilias sendiri mencabut pedang melengkung dari pinggangnya. Mata birunya berkilat.
"Anak-anak! Habisi mereka semua!!!"
"Aye, Kapten!!!"
.
.
.
"Jadi?"
"Jadi?" tanya Kardia polos.
"Jadi?" ulang Degel lagi. Matanya marah. "Satu tiang kapal, satu marinir tercebur ke laut, satu tong makanan mereka jadi santapan ikan, dan kapten kapal diikat terbalik di dek hanya dengan celana panjang."
"Err...ya?"
"Padahal kau tahu, maksud Kapten 'cara lama' adalah apa?"
Kardia memutar matanya, berpikir. Kakinya bergoyang-goyang, wajahnya benar-benar polos seperti anak kecil kebingungan tapi Degel tahu persis apa yang ada di dalam kepala pemuda berambut biru tua itu. Tanpa basa-basi, ia menjitak kepala sang ujung tombak serangan mereka.
"Cara lama itu adalah buang semua meriamnya ke laut, potong semua layarnya, buat mereka lumpuh! Bukan membuat mereka sengsara dan mati di tengah laut! Dasar si bodoh yang berasal dari pulau bodoh dan yang terbodoh di antara yang paling bodoh!" umpatnya sebelum pergi sambil menghentak-hentak kaki, meninggalkan Kardia termenung bingung.
"Bodoh dari yang paling bodoh di antara yang ter-- hei! Degel! Apa maksudnya itu?!"
Labels:
Adventure,
Alternate Universe,
Blue Roses,
Saint Seiya
Holyday
Desember. Di hari raya umat kristiani, beberapa siswa diizinkan pulang ke rumahnya masing-masing. Semua bergegas, mengepak barang dan menyisakan banyak ruang kosong di koper besar mereka sebagai tempat oleh-oleh. Semuanya, tidak terkecuali Milo. Di dalam tas besarnya, ia hanya memasukkan beberapa helai baju kotor dan sebuah buku Transfigurasi. Milo bukan anak yang rajin--apalagi ambisius. Melihat tas teman seasramanya yang dipenuhi oleh sebuah buku besar, Aiolia menaikkan satu alisnya.
"Aku tidak tahu kalau kau ternyata setipe dengan Aphrodite dari Ravenclaw. Freak belajar."
Milo menoleh cepat dan menatapnya tajam. "Enak saja! Kalau bukan karena Sir Thanatos tidak puas dengan aku mentransfigurasi teko jadi siput..." gumamnya lirih, tidak jelas, memisuh-misuh.
Aiolia tergelak. "Habisnya! Kita 'kan disuruh mengubah teko jadi tikus."
"Aku kepinginnya merubah teko jadi siput, Li!" bantah Milo, tidak mau kalah. "Lagian, kamu nyamain aku sama si bencong komentator dari kelas dua itu? Tersinggung nih," lanjut Milo sambil memaju-majukan bibirnya. Melihat tingkah laku sobatnya, Aiolia hanya tertawa guling-guling di atas kasur.
"Hahaha, habis sikap kalian sama! Sama-sama bocah! Untung kamu ngga ketularan bencong!" serunya kencang sebelum berlari keluar dari kamar, menghindari lemparan asbak dan rentetan sumpah-serapah serta Mantra Geli yang dilancarkan oleh Milo.
.
.
.
London, Inggris.
Salju turun besar-besar, menumpuk-numpuk di setiap jejak tanah. Putih menutupi atap, jalanan, kotak telepon umum, ranting pohon, dan lampu jalan. Orang-orang berjalan dengan jaket tebal menutupi tubuh dari leher sampai bawah lutut. Sepatu bot bulu serta sweater tebal jadi salah satu most-wanted-item paling trendi di kota ini. Begitu pun Milo. Setelah berjam-jam perjalanan menggunakan kereta, disambut oleh udara yang menggigit tulang seperti ini jelas tidak jadi salah satu opsi yang menyenangkan. Ayahnya tidak bisa datang menjemput karena terjebak urusan di Kementerian Sihir, begitu pula ibunya yang sibuk menjaga rumah dan adiknya. Terpaksa, Milo harus memakai transportasi umum. Ia lalu menyeret kopernya keluar dari Stasiun King's Cross sambil menggerutu tidak jelas di balik syal tebalnya.
"Kakak!"
Milo menoleh ke kanan-kiri, bingung dengan suara familiar yang memanggilnya. Angkat bahu sejenak, ia lalu melanjutkan perjalanan mencari taksi di tengah udara membekukan ini ketika langkahnya tertahan oleh tarikan kecil pada jaketnya. Ia berbalik ke belakang dan melihat pelaku kejahatan yang menahannya di sana. Seorang bocah perempuan berkulit coklat matahari dengan jaket ungu pastel dan hidung memerah kedinginan sedang tersenyum lebar.
"Kak Milo! Selamat datang!"
"Sonia?!" seru Milo, kaget bukan main. "Apa yang kau lakukan di sini? Sendirian? Mana ibu?" todongnya. Sonia mengacuhkan pertanyaan-pertanyaan Milo dan malah melingkarkan tangannya di kaki pemuda berambut pirang itu.
"Gendong! Kak Milo gendoooooong!" rengeknya sambil menarik-narik celana panjang Milo, membuat pemuda itu lalu merengkuh sang bocah di kedua tangannya, "kangeeeeen," lanjut Sonia seraya mengalungkan tangannya di leher sang kakak, mengubur wajahnya di kerah bulu jaketnya. Milo masih sedikit kaget dengan kejadian ini ketika matanya menangkap sosok sang ibu yang berjalan dengan santai menuju ke arahnya. Rambut pirang sang ibu kontras dan menyilaukan di tengah-tengah kerumunan.
"Halo, Milo. Selamat datang," ujarnya sambil menepuk-nepuk kepala Milo, membersihkannya dari salju. Milo hanya nyengir lebar.
"Kukira Ibu sibuk?"
"Memang, tadinya. Tapi Sonia merengek-rengek terus ingin menjemputmu dan mencari kue natal, jadi apa boleh buat," jawab sang ibu, seadanya. Namun, Milo tahu kalau ibunya itu memang punya niat untuk menjemputnya. Sonia hanya dijadikan salah satu alasannya saja.
"Yayaya, apapun. Sonia, mau kue natal apa?" tanya Milo pada adiknya yang masih betah berada dalam pangkuan tangannya. Sonia lalu mengerutkan dahi, berpikir sangat keras. Milo hampir ingin tertawa melihat keseriusan raut wajah adiknya ini.
"Mmmm, jeruk! Sonia mau jeruk!" seru bocah itu, mengacungkan kedua tangannya ke atas dan menggoyang-goyangkan kakinya.
"Jeruk?" tanya sang ibu. "Aku tahu cake coklat-jeruk yang enak. Lagipula ayahmu sudah merengek-rengek tentang gilirannya memilih kue natal. Sudah tua juga, masih saja bertingkah seperti itu. Dasar," lanjutnya seraya pergi sambil menarik koper Milo. Milo lalu mengikuti sang ibu menuju tempat parkir mobil, menuju libur sementaranya dari dunia sihir-menyihir.
Labels:
Alternate Universe,
Crossover,
Family,
Fanfiksi,
Harry Potter,
Saint Seiya,
Side story,
Years of Youth
Saturday, 12 January 2013
SASA : Aiolia
Pada suatu hari, di sebuah desa kecil di pinggir sungai, terdapat seorang pemuda tampan berambut coklat tua. Matanya biru cerah seperti samudra yang luas, senyumnya hangat seperti matahari. Aiolos namanya. Ia tinggal dengan adiknya, Aiolia, pemuda yang sama lugunya namun lebih impulsif dan meledak-ledak. Aiolos memiliki banyak penggemar. Sebut saja seorang penempa besi bernama Shura, penjaga toko buku bekas Camus, dan bishop kerajaan Saga. Pemilik toko roti Aldebaran serta pemilik toko bunga, Mu, juga merupakan beberapa teman dekatnya. Belum lagi berandalan-berandalan seperti Milo, Shaka, Aphrodite, Kanon, dan Angelo. Setiap hari, Aiolos menjalani kehidupannya dengan bahagia.
Suatu hari, Aiolos diculik. Rupa-rupanya, penculikan ini terjadi karena sang ratu membutuhkan tumbal seorang pemuda lugu untuk menenangkan keempat hewan mistis yang melindungi kerajaannya. Keempat hewan mistis itu adalah seekor pegasus emas, naga jade, angsa perak, dan phoenix. Mereka semua dipimpin oleh seorang dewa berambut kehijauan dengan mata hitam legam berparas lembut sekaligus keji di saat yang bersamaan.
Tidak terima kakaknya diculik untuk dijadikan tumbal, Aiolia pun berangkat menuju lembah terlarang dengan hanya bermodalkan tinjunya saja. Di lembah itu, ia bertemu dengan salah satu dari empat hewan mistis--sang naga. Sang naga dengan sisik dan mata hijau itu meraung serta memuntahkan api, membakar apapun yang berani melawannya. Namun, Aiolia tidak takut. Satu alasan ia tidak diculik dan dijadikan tumbal meskipun kadar keluguannya melebihi sang kakak, Aiolia berpikir seperti orang dewasa--berbeda dengan kakaknya yang cenderung polos. Ia lalu melawan sang naga, memberinya beberapa tinju di sana-sini sekaligus terluka oleh sabetan ekor dan cakarannya. Ketika ia merasa nyawanya akan berakhir, sang naga lalu bercahaya dan berubah menjadi seorang pemuda berambut hitam panjang.
"Katakan, manusia. Apa tujuanmu datang kemari?"
"Aku mau menyelamatkan kakakku!"
"Dan siapa gerangan kakakmu ini?"
"Aiolos dari Desa Athens."
Sang naga menaikkan sebelah alisnya. "Ah, Aiolos? Pemuda manis berambut coklat itu? Kau adiknya? Pantas aku merasakan auramu mirip dengannya," gumam sang naga. "Baiklah, kalau begitu. Selamatkan kakakmu, dan semoga kau selamat."
Suatu hari, Aiolos diculik. Rupa-rupanya, penculikan ini terjadi karena sang ratu membutuhkan tumbal seorang pemuda lugu untuk menenangkan keempat hewan mistis yang melindungi kerajaannya. Keempat hewan mistis itu adalah seekor pegasus emas, naga jade, angsa perak, dan phoenix. Mereka semua dipimpin oleh seorang dewa berambut kehijauan dengan mata hitam legam berparas lembut sekaligus keji di saat yang bersamaan.
Tidak terima kakaknya diculik untuk dijadikan tumbal, Aiolia pun berangkat menuju lembah terlarang dengan hanya bermodalkan tinjunya saja. Di lembah itu, ia bertemu dengan salah satu dari empat hewan mistis--sang naga. Sang naga dengan sisik dan mata hijau itu meraung serta memuntahkan api, membakar apapun yang berani melawannya. Namun, Aiolia tidak takut. Satu alasan ia tidak diculik dan dijadikan tumbal meskipun kadar keluguannya melebihi sang kakak, Aiolia berpikir seperti orang dewasa--berbeda dengan kakaknya yang cenderung polos. Ia lalu melawan sang naga, memberinya beberapa tinju di sana-sini sekaligus terluka oleh sabetan ekor dan cakarannya. Ketika ia merasa nyawanya akan berakhir, sang naga lalu bercahaya dan berubah menjadi seorang pemuda berambut hitam panjang.
"Katakan, manusia. Apa tujuanmu datang kemari?"
"Aku mau menyelamatkan kakakku!"
"Dan siapa gerangan kakakmu ini?"
"Aiolos dari Desa Athens."
Sang naga menaikkan sebelah alisnya. "Ah, Aiolos? Pemuda manis berambut coklat itu? Kau adiknya? Pantas aku merasakan auramu mirip dengannya," gumam sang naga. "Baiklah, kalau begitu. Selamatkan kakakmu, dan semoga kau selamat."
Friday, 11 January 2013
Halloween Treat #4
"Diffindo!"
DUAR! Satu kotak kayu sebesar manusia di tepi arena pecah jadi keping tajam besar.
"Incendio!"
DUAR! Kini giliran kotak kayu besar di sisi satunya yang meledak. Bunga apinya melompat-lompat membakar jubah hitam yang tidak terlindung.
"Impedimenta!"
Mantra ini memantul ketika sasaran berhasil mengelak, membuat kilau sinar putih itu menghantam barrier yang dengan sigap dipasang oleh seorang murid bermata hijau dengan kacamata berbingkai biru tua.
"Engorg--
"Langlock!"
Kilat merah meluncur keluar dari tongkat sihir Kardia, menerjang Rhadamanthys tanpa ampun, melempar pemuda berambut pirang itu ke belakang, membuatnya menabrak dinding. "Hmffhpfhfhff! Hnhfhggngff!!!" seru Slytherin muda itu tidak jelas, meraba-raba mulutnya dengan histeris dan panik.Di hadapannya, Kardia nyengir lebar kesenangan. Siapa sangka, mantra hasil curi dengarnya dari perbincangan Hades dengan Poseidon memiliki efek sebegini dramatisnya.
"Aku menang. Lagi. Untuk yang kesembilan kalinya, Rhadamanthys. Hahahah--Duh!"
"Kubilang apa tentang larangan memakai mantra-mantra ajaib hasil menguping pembicaraan orang tua?!" sembur Hermes setelah menyodok kepala Kardia dengan tongkat sihirnya. Bertengger di pundaknya dengan patuh, phoenix merah kesayangannya--Cadies, melayangkan pandangan merendahkan pada sang Gryffindor muda. Kardia mendelik keji pada burung merah itu sebelum nyengir semakin lebar.
"Habis aku penasaran dengan obrolan Sir Ares tentang hubungan antara Sir Hades dan Sir Poseidon."
Hermes menggelengkan kepalanya. Rambut coklat mudanya bergoyang-goyang. Sudah sejak awal masuk, kelakuan muridnya yang satu ini tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan menuju kebaikan dan malah makin menjadi. Apalagi setelah hubungan cintanya kembali lagi seperti semula--dan mungkin lebih menyenangkan mengingat betapa banyaknya curahan hati yang diterima olehnya dari anak-anak asrama Gryffindor yang merasa panas jika dua orang itu sudah mulai bermesraan di tempat umum.
"Tapi itu tidak jadi alasanmu mengerjai Rhadamanthys seperti ini, Kardia," ujar Hermes--yang terjebak di antara lemparan mantra murid-murid ganas ini karena Ares sedang keasyikan menggembala sekelompok Hippogriff. "Finite," lanjutnya sambil mengarahkan tongkat pada Rhadamanthys, melepaskan lidah pemuda itu dari langit-langit mulutnya.
"Brengsek! Kardia! Mati kau!!!" berang Rhadamanthys. Ia berdiri lalu berlari menerjang Kardia yang sedang tidak waspada, membuatnya menghantam tanah sebelum melayangkan tinju ke wajah pemuda bermata biru itu. Mendapat serangan seperti itu, Kardia menarik kerah kemeja Rhadamanthys untuk membuatnya hilang keseimbangan. Lalu, dengan salah satu kakinya, ia menendang Rhadamanthys di perut, membuatnya melayang salto di udara dan mendarat keras di punggung. Baru saja Rhadamanthys memfokuskan pandangannya, ia melihat kelebat pirang di depan mata dengan tongkat berada di depan kedua matanya. Kardia berdiri di atasnya dengan kilat mata berbahaya.
"Pilih. Kutukan Tak Termaafkan atau kuubah kau jadi orang paling idiot sepanjang masa. Oh, kau memang sudah idiot. Kalau begitu, Imper--
"Cukup!!!" gelegar Hermes, "cukup! Kardia, sudah kukatakan berapa juta kali tentang sumbu emosimu yang terlalu pendek, dan Rhadamanthys, kau bahkan bukan anggota Klub Duel, apa sebenarnya urusanmu datang kemari?!" amuk guru yang tinggal di halaman belakang sekolah dengan seekor singa jantan berbulu keperakan.
"Mengajakku berduel, eh?" jawab Kardia yang kini berjalan menuju Regulus di tepi arena. "Mimpi saja kau bisa menang dariku, pecundang."
Rhadamanthys mendudukkan dirinya dan meludah keras sebelum angkat diri dari arena klub, meninggalkan Hermes yang mencak-mencak sendirian tentang aturan dan anak muda zaman sekarang. Cadies sendiri tidak lagi bertengger di pundaknya. Burung merah itu sedang melayang rendah di atas para siswa, memercikkan bunga api yang menyembuhkan beberapa luka dan memar hasil pertarungan. Kardia memandangi phoenix itu dan mengikuti setiap gerakannya dengan cermat.
"Kardia?" tanya Degel, sedikit menarik pelan kemeja putihnya yang sudah kotor oleh bercak darah dan debu serta abu. Kardia lalu menoleh ke arah kekasihnya itu dan tersenyum lebar.
"Lapar. Temani aku makan ayam kalkun di dapur, yuk!"
.
.
.
"Brengsek!"
Minos berhenti dari aktivitas memainkan boneka plushie replika Albafica hasil buatannya sendiri dan mendongak ke balik sofa untuk melihat Rhadamanthys menonjok jendela tebal yang memisahkan ruangan asrama dengan air danau.
"Hei, Rade, berhenti menonjok jendela kalau kau tidak mau kita tenggelam dan jadi makanan cumi-cumi," ujarnya malas dan datar.
"Sudahlah, Minos, tidak ada gunanya memberitahu orang gila yang barusan patah hati untuk yang keseribu kalinya itu," timpal Aiacos yang sedang main kartu dengan Aspros di salah satu sofa hijau. "Aku menang, Aspros."
Minos mengembalikan pandangannya ke arah Rhadamanthys yang sedang memandang galak Aiacos sebelum berlari dengan menghentak menuju pintu keluar Ruang Bersama. "Oi, mau ke mana?" tanya Minos, yang tidak digubris sedikit pun oleh Rhadamanthys yang keburu menghilang di balik dinding bata lembab. Pandangan prefek Slytherin itu beralih pada Aiacos.
"Dapur, kurasa. Kalau sedang marah-marah begitu ia selalu ke dapur. Taruhan lima galleon dia yang menghabiskan persediaan permen jeli kita selama setahun."
DUAR! Satu kotak kayu sebesar manusia di tepi arena pecah jadi keping tajam besar.
"Incendio!"
DUAR! Kini giliran kotak kayu besar di sisi satunya yang meledak. Bunga apinya melompat-lompat membakar jubah hitam yang tidak terlindung.
"Impedimenta!"
Mantra ini memantul ketika sasaran berhasil mengelak, membuat kilau sinar putih itu menghantam barrier yang dengan sigap dipasang oleh seorang murid bermata hijau dengan kacamata berbingkai biru tua.
"Engorg--
"Langlock!"
Kilat merah meluncur keluar dari tongkat sihir Kardia, menerjang Rhadamanthys tanpa ampun, melempar pemuda berambut pirang itu ke belakang, membuatnya menabrak dinding. "Hmffhpfhfhff! Hnhfhggngff!!!" seru Slytherin muda itu tidak jelas, meraba-raba mulutnya dengan histeris dan panik.Di hadapannya, Kardia nyengir lebar kesenangan. Siapa sangka, mantra hasil curi dengarnya dari perbincangan Hades dengan Poseidon memiliki efek sebegini dramatisnya.
"Aku menang. Lagi. Untuk yang kesembilan kalinya, Rhadamanthys. Hahahah--Duh!"
"Kubilang apa tentang larangan memakai mantra-mantra ajaib hasil menguping pembicaraan orang tua?!" sembur Hermes setelah menyodok kepala Kardia dengan tongkat sihirnya. Bertengger di pundaknya dengan patuh, phoenix merah kesayangannya--Cadies, melayangkan pandangan merendahkan pada sang Gryffindor muda. Kardia mendelik keji pada burung merah itu sebelum nyengir semakin lebar.
"Habis aku penasaran dengan obrolan Sir Ares tentang hubungan antara Sir Hades dan Sir Poseidon."
Hermes menggelengkan kepalanya. Rambut coklat mudanya bergoyang-goyang. Sudah sejak awal masuk, kelakuan muridnya yang satu ini tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan menuju kebaikan dan malah makin menjadi. Apalagi setelah hubungan cintanya kembali lagi seperti semula--dan mungkin lebih menyenangkan mengingat betapa banyaknya curahan hati yang diterima olehnya dari anak-anak asrama Gryffindor yang merasa panas jika dua orang itu sudah mulai bermesraan di tempat umum.
"Tapi itu tidak jadi alasanmu mengerjai Rhadamanthys seperti ini, Kardia," ujar Hermes--yang terjebak di antara lemparan mantra murid-murid ganas ini karena Ares sedang keasyikan menggembala sekelompok Hippogriff. "Finite," lanjutnya sambil mengarahkan tongkat pada Rhadamanthys, melepaskan lidah pemuda itu dari langit-langit mulutnya.
"Brengsek! Kardia! Mati kau!!!" berang Rhadamanthys. Ia berdiri lalu berlari menerjang Kardia yang sedang tidak waspada, membuatnya menghantam tanah sebelum melayangkan tinju ke wajah pemuda bermata biru itu. Mendapat serangan seperti itu, Kardia menarik kerah kemeja Rhadamanthys untuk membuatnya hilang keseimbangan. Lalu, dengan salah satu kakinya, ia menendang Rhadamanthys di perut, membuatnya melayang salto di udara dan mendarat keras di punggung. Baru saja Rhadamanthys memfokuskan pandangannya, ia melihat kelebat pirang di depan mata dengan tongkat berada di depan kedua matanya. Kardia berdiri di atasnya dengan kilat mata berbahaya.
"Pilih. Kutukan Tak Termaafkan atau kuubah kau jadi orang paling idiot sepanjang masa. Oh, kau memang sudah idiot. Kalau begitu, Imper--
"Cukup!!!" gelegar Hermes, "cukup! Kardia, sudah kukatakan berapa juta kali tentang sumbu emosimu yang terlalu pendek, dan Rhadamanthys, kau bahkan bukan anggota Klub Duel, apa sebenarnya urusanmu datang kemari?!" amuk guru yang tinggal di halaman belakang sekolah dengan seekor singa jantan berbulu keperakan.
"Mengajakku berduel, eh?" jawab Kardia yang kini berjalan menuju Regulus di tepi arena. "Mimpi saja kau bisa menang dariku, pecundang."
Rhadamanthys mendudukkan dirinya dan meludah keras sebelum angkat diri dari arena klub, meninggalkan Hermes yang mencak-mencak sendirian tentang aturan dan anak muda zaman sekarang. Cadies sendiri tidak lagi bertengger di pundaknya. Burung merah itu sedang melayang rendah di atas para siswa, memercikkan bunga api yang menyembuhkan beberapa luka dan memar hasil pertarungan. Kardia memandangi phoenix itu dan mengikuti setiap gerakannya dengan cermat.
"Kardia?" tanya Degel, sedikit menarik pelan kemeja putihnya yang sudah kotor oleh bercak darah dan debu serta abu. Kardia lalu menoleh ke arah kekasihnya itu dan tersenyum lebar.
"Lapar. Temani aku makan ayam kalkun di dapur, yuk!"
.
.
.
"Brengsek!"
Minos berhenti dari aktivitas memainkan boneka plushie replika Albafica hasil buatannya sendiri dan mendongak ke balik sofa untuk melihat Rhadamanthys menonjok jendela tebal yang memisahkan ruangan asrama dengan air danau.
"Hei, Rade, berhenti menonjok jendela kalau kau tidak mau kita tenggelam dan jadi makanan cumi-cumi," ujarnya malas dan datar.
"Sudahlah, Minos, tidak ada gunanya memberitahu orang gila yang barusan patah hati untuk yang keseribu kalinya itu," timpal Aiacos yang sedang main kartu dengan Aspros di salah satu sofa hijau. "Aku menang, Aspros."
Minos mengembalikan pandangannya ke arah Rhadamanthys yang sedang memandang galak Aiacos sebelum berlari dengan menghentak menuju pintu keluar Ruang Bersama. "Oi, mau ke mana?" tanya Minos, yang tidak digubris sedikit pun oleh Rhadamanthys yang keburu menghilang di balik dinding bata lembab. Pandangan prefek Slytherin itu beralih pada Aiacos.
"Dapur, kurasa. Kalau sedang marah-marah begitu ia selalu ke dapur. Taruhan lima galleon dia yang menghabiskan persediaan permen jeli kita selama setahun."
Thursday, 10 January 2013
Trapped
Haruskah kuulangi lagi kata cintaku padamu?
Aku cinta padamu.
Pernahkah terbesit olehmu bahwa aku takut kehilangan dirimu?
.
.
.
"Tolol! Awas orang!"
Genggaman erat dan tancapan kuku tajam yang tiba-tiba pada lengan Ciel membuat pemuda itu kembali pada kesadarannya. Segera ia menginjak rem serta memutar setir ke kanan. Pandangannya lalu kembali fokus pada jalanan. Debar jantungnya terdengar berdentum di telinga, memekakkan. Ia lalu menepikan mobil minibus abu-abu metalik matic hasil merayu ayahnya itu ke pinggir jalan.
"Sori, Luce. Gue ngelamun," tuturnya pelan pada Luca yang duduk di kursi penumpang depan. Mata Luca menatap galak saudara kembarnya, untuk sedetik kemudian melembut.
"Gue gantiin nyetirnya ya, Cil." Ciel menggeleng.
"Ngga usah. Diem aja dulu, sebentar aja. Sebentar," ujar pemuda berambut hitam ikal itu sambil menyandarkan kepalanya ke jok berlapis kulit hitam. Berkali-kali ia membuang nafas panjang sementara Luca hanya memandangi wajah yang mirip dengannya itu.
"Sori, Cil. Gara-gara gue ngga bawa dompet jadinya lo ngejemput gue," Luca memainkan jarinya di pundak Ciel. Si adik berapa menitnya itu hanya tersenyum tipis dan menepuk-nepuk kepalanya.
"Ngga, Luce. Gue ngga ngejemput lo juga gue emang ada rencana mau beli ikan, jadi ya pasti ketemu-ketemu juga sama Noir. Bukan salah lo, atau salah siapapun."
Luca memonyongkan bibirnya sedikit, tanda tidak setuju."Tapi, lo jadi inget Noir dan gue jadi sangat bersalah pernah ngenalin lo ke dia, Cil."
Ciel mendengus geli lalu mengacak-acak rambut kakaknya itu. "Udah ah, Luce. Ngga jadi melankolis begini ah. Gue suka sama dia tapi ya udah aja. Ga usah dibahas lagi, oke?" Luce hanya mengangkat bahu.
"Move on, please? For me?"
Ciel terkekeh geli. "Yeah. Someday."
.
.
.
Takkan Ada Cinta Yang Lain by Titi DJ
Aku cinta padamu.
Pernahkah terbesit olehmu bahwa aku takut kehilangan dirimu?
.
.
.
"Tolol! Awas orang!"
Genggaman erat dan tancapan kuku tajam yang tiba-tiba pada lengan Ciel membuat pemuda itu kembali pada kesadarannya. Segera ia menginjak rem serta memutar setir ke kanan. Pandangannya lalu kembali fokus pada jalanan. Debar jantungnya terdengar berdentum di telinga, memekakkan. Ia lalu menepikan mobil minibus abu-abu metalik matic hasil merayu ayahnya itu ke pinggir jalan.
"Sori, Luce. Gue ngelamun," tuturnya pelan pada Luca yang duduk di kursi penumpang depan. Mata Luca menatap galak saudara kembarnya, untuk sedetik kemudian melembut.
"Gue gantiin nyetirnya ya, Cil." Ciel menggeleng.
"Ngga usah. Diem aja dulu, sebentar aja. Sebentar," ujar pemuda berambut hitam ikal itu sambil menyandarkan kepalanya ke jok berlapis kulit hitam. Berkali-kali ia membuang nafas panjang sementara Luca hanya memandangi wajah yang mirip dengannya itu.
"Sori, Cil. Gara-gara gue ngga bawa dompet jadinya lo ngejemput gue," Luca memainkan jarinya di pundak Ciel. Si adik berapa menitnya itu hanya tersenyum tipis dan menepuk-nepuk kepalanya.
"Ngga, Luce. Gue ngga ngejemput lo juga gue emang ada rencana mau beli ikan, jadi ya pasti ketemu-ketemu juga sama Noir. Bukan salah lo, atau salah siapapun."
Luca memonyongkan bibirnya sedikit, tanda tidak setuju."Tapi, lo jadi inget Noir dan gue jadi sangat bersalah pernah ngenalin lo ke dia, Cil."
Ciel mendengus geli lalu mengacak-acak rambut kakaknya itu. "Udah ah, Luce. Ngga jadi melankolis begini ah. Gue suka sama dia tapi ya udah aja. Ga usah dibahas lagi, oke?" Luce hanya mengangkat bahu.
"Move on, please? For me?"
Ciel terkekeh geli. "Yeah. Someday."
.
.
.
Takkan Ada Cinta Yang Lain by Titi DJ
Monday, 7 January 2013
#untitled#
Satu kali
lalu aku berhenti.
Dua kali
dan kamu pergi.
Tiga kali
lalu kamu pergi lagi.
Apa mungkin ada yang keempat, kelima, dan keenam
kalau memang jalannya begini
tidak berujung dan tidak pasti
hanya mengiris hati yang bermimpi.
lalu aku berhenti.
Dua kali
dan kamu pergi.
Tiga kali
lalu kamu pergi lagi.
Apa mungkin ada yang keempat, kelima, dan keenam
kalau memang jalannya begini
tidak berujung dan tidak pasti
hanya mengiris hati yang bermimpi.
Blue Roses #1
Disclaimer :
Saint Seiya Lost Canvas (c) Shiori Teshirogi
Saint Seiya (c) Masami Kurumada
"Manigoldo, bangun," bisiknya. Lalu, dengan satu gerakan tangan, ia memutar jaring yang dijadikan tempat tidur dan menjatuhkan temannya ke lantai kayu--membangunkannya dalam proses.
"Aduh!" seru Manigoldo kencang ketika tubuh besarnya menghantam lantai, "brengsek, Kardia! Apa maumu?!"
Kardia tergelak dan lari ke dek, kabur dari amarah Manigoldo yang sedang terduduk sambil merepetkan sumpah serapah. Kabin tempat tidur awak kapal kosong. Cahaya masuk dari sela-sela badan kapal dan dari pintu menuju dek. Goyangan ritmis kapal yang menembus gelombang sebenarnya membuat ingin tidur, tapi seorang pemuda brengsek kekanak-kanakan sukses membuat kantuknya hilang.
"Oooy, Manigoldo cepat ke ataaaaaaaaas!!!" seru seseorang dari dek. Manigoldo menghela napas sejenak sebelum berdiri dan melangkah menuju dek kapal yang luas tersebut.
.
.
.
"Letnan Komander Albafica!"
Albafica berhenti berjalan dan melirik sumber suara, seorang pemuda berambut hijau yang kecil dan berwajah manis. Dari insignia pada seragam yang dipakainya, kelihatannya pemuda itu adalah seorang kadet. Ia berlari-lari melintasi square dengan sepotong kertas di salah satu tangannya.
"Lapor, Letnan Komander Albafica! Saya mendapat titipan dari Komander Sisyphus," ujarnya sambil sesekali mengatur nafas. Tangannya mengulurkan surat dengan cap dari Sisyphus, atasannya langsung.
"Dan kau? Siapa namamu?" tanya Albafica.
"Shun. Kadet yang ada di bawah pengawasan Komander Sisyphus," Shun berkata sambil memberi hormat pada Albafica. Pemuda berambut biru langit itu tersenyum tipis dan membalas hormat Shun.
"Kalau begitu sampaikan pada Komander Aiolos bahwa aku sudah menerima suratnya. Terima kasih, Kadet Shun."
.
.
.
"Apa itu? Kapal marinir?" Manigoldo memicingkan matanya. Di kejauhan, tiga kapal besar dengan layar putih bergerak cepat menuju kapalnya. Kardia mengangguk.
"Siapa lagi orang-orang kurang kerjaan yang suka memburu bajak laut tidak berdosa seperti kita?" ujarnya polos sebelum seseorang menyikut kepalanya.
"Polos? Lalu kelakuan kalian yang merusuh di katedral Styx demi bisa minum air suci itu apa?"
Kardia melirik ke arah pelaku penyikutan kepala dan mengangkat bahu. "Oh, Degel-ku sayang, semua ini adalah ide dari kapten kita tercinta, Ilias. Mana mungkin bisa kami lewatkan?"
Degel mengerutkan keningnya dan menatap tajam Kardia. Yang bersangkutan hanya terkekeh geli melihat ekspresi wajah si navigator yang selalu saja galak. Regulus hanya tertawa melihat kelakuan kedua temannya sementara Manigoldo masih fokus melihat lewat teropong.
"Ehem, yak, anak-anak. Boleh kuminta fokus kalian sebentar?"
Semua mata lalu beralih pada sosok yang keluar dari kabin nakhoda. Pria berambut pendek dengan mata biru cerah. Ilias.
"Sepertinya jejak kita sudah ketahuan oleh para marinir itu. Kalau tertangkap, kita bisa dijebloskan ke penjara atau digantung di selat Athens. Jadi?" tanyanya.
.
"Kapten, berapa peluru meriam yang harus kusiapkan hari ini?"
Labels:
Adventure,
Alternate Universe,
Blue Roses,
Fanfiksi,
Saint Seiya
Subscribe to:
Posts (Atom)