Showing posts with label Halloween Treat. Show all posts
Showing posts with label Halloween Treat. Show all posts

Friday, 11 January 2013

Halloween Treat #4

"Diffindo!"

DUAR! Satu kotak kayu sebesar manusia di tepi arena pecah jadi keping tajam besar.

"Incendio!"

DUAR! Kini giliran kotak kayu besar di sisi satunya yang meledak. Bunga apinya melompat-lompat membakar jubah hitam yang tidak terlindung.

"Impedimenta!"

Mantra ini memantul ketika sasaran berhasil mengelak, membuat kilau sinar putih itu menghantam barrier yang dengan sigap dipasang oleh seorang murid bermata hijau dengan kacamata berbingkai biru tua.

"Engorg--

"Langlock!"

Kilat merah meluncur keluar dari tongkat sihir Kardia, menerjang Rhadamanthys tanpa ampun, melempar pemuda berambut pirang itu ke belakang, membuatnya menabrak dinding. "Hmffhpfhfhff! Hnhfhggngff!!!" seru Slytherin muda itu tidak jelas, meraba-raba mulutnya dengan histeris dan panik.Di hadapannya, Kardia nyengir lebar kesenangan. Siapa sangka, mantra hasil curi dengarnya dari perbincangan Hades dengan Poseidon memiliki efek sebegini dramatisnya.

"Aku menang. Lagi. Untuk yang kesembilan kalinya, Rhadamanthys. Hahahah--Duh!"

"Kubilang apa tentang larangan memakai mantra-mantra ajaib hasil menguping pembicaraan orang tua?!" sembur Hermes setelah menyodok kepala Kardia dengan tongkat sihirnya. Bertengger di pundaknya dengan patuh, phoenix merah kesayangannya--Cadies, melayangkan pandangan merendahkan pada sang Gryffindor muda. Kardia mendelik keji pada burung merah itu sebelum nyengir semakin lebar.

"Habis aku penasaran dengan obrolan Sir Ares tentang hubungan antara Sir Hades dan Sir Poseidon."

Hermes menggelengkan kepalanya. Rambut coklat mudanya bergoyang-goyang. Sudah sejak awal masuk, kelakuan muridnya yang satu ini tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan menuju kebaikan dan malah makin menjadi. Apalagi setelah hubungan cintanya kembali lagi seperti semula--dan mungkin lebih menyenangkan mengingat betapa banyaknya curahan hati yang diterima olehnya dari anak-anak asrama Gryffindor yang merasa panas jika dua orang itu sudah mulai bermesraan di tempat umum.

"Tapi itu tidak jadi alasanmu mengerjai Rhadamanthys seperti ini, Kardia," ujar Hermes--yang terjebak di antara lemparan mantra murid-murid ganas ini karena Ares sedang keasyikan menggembala sekelompok Hippogriff. "Finite," lanjutnya sambil mengarahkan tongkat pada Rhadamanthys, melepaskan lidah pemuda itu dari langit-langit mulutnya.

"Brengsek! Kardia! Mati kau!!!" berang Rhadamanthys. Ia berdiri lalu berlari menerjang Kardia yang sedang tidak waspada, membuatnya menghantam tanah sebelum melayangkan tinju ke wajah pemuda bermata biru itu. Mendapat serangan seperti itu, Kardia menarik kerah kemeja Rhadamanthys untuk membuatnya hilang keseimbangan. Lalu, dengan salah satu kakinya, ia menendang Rhadamanthys di perut, membuatnya melayang salto di udara dan mendarat keras di punggung. Baru saja Rhadamanthys memfokuskan pandangannya, ia melihat kelebat pirang di depan mata dengan tongkat berada di depan kedua matanya. Kardia berdiri di atasnya dengan kilat mata berbahaya.

"Pilih. Kutukan Tak Termaafkan atau kuubah kau jadi orang paling idiot sepanjang masa. Oh, kau memang sudah idiot. Kalau begitu, Imper--

"Cukup!!!" gelegar Hermes, "cukup! Kardia, sudah kukatakan berapa juta kali tentang sumbu emosimu yang terlalu pendek, dan Rhadamanthys, kau bahkan bukan anggota Klub Duel, apa sebenarnya urusanmu datang kemari?!" amuk guru yang tinggal di halaman belakang sekolah dengan seekor singa jantan berbulu keperakan.

"Mengajakku berduel, eh?" jawab Kardia yang kini berjalan menuju Regulus di tepi arena. "Mimpi saja kau bisa menang dariku, pecundang."

Rhadamanthys mendudukkan dirinya dan meludah keras sebelum angkat diri dari arena klub, meninggalkan Hermes yang mencak-mencak sendirian tentang aturan dan anak muda zaman sekarang. Cadies sendiri tidak lagi bertengger di pundaknya. Burung merah itu sedang melayang rendah di atas para siswa, memercikkan bunga api yang menyembuhkan beberapa luka dan memar hasil pertarungan. Kardia memandangi phoenix itu dan mengikuti setiap gerakannya dengan cermat.

"Kardia?" tanya Degel, sedikit menarik pelan kemeja putihnya yang sudah kotor oleh bercak darah dan debu serta abu. Kardia lalu menoleh ke arah kekasihnya itu dan tersenyum lebar.

"Lapar. Temani aku makan ayam kalkun di dapur, yuk!"

.
.
.

"Brengsek!"

Minos berhenti dari aktivitas memainkan boneka plushie replika Albafica hasil buatannya sendiri dan mendongak ke balik sofa untuk melihat Rhadamanthys menonjok jendela tebal yang memisahkan ruangan asrama dengan air danau.

"Hei, Rade, berhenti menonjok jendela kalau kau tidak mau kita tenggelam dan jadi makanan cumi-cumi," ujarnya malas dan datar.

"Sudahlah, Minos, tidak ada gunanya memberitahu orang gila yang barusan patah hati untuk yang keseribu kalinya itu," timpal Aiacos yang sedang main kartu dengan Aspros di salah satu sofa hijau. "Aku menang, Aspros."

Minos mengembalikan pandangannya ke arah Rhadamanthys yang sedang memandang galak Aiacos sebelum berlari dengan menghentak menuju pintu keluar Ruang Bersama. "Oi, mau ke mana?" tanya Minos, yang tidak digubris sedikit pun oleh Rhadamanthys yang keburu menghilang di balik dinding bata lembab. Pandangan prefek Slytherin itu beralih pada Aiacos.

"Dapur, kurasa. Kalau sedang marah-marah begitu ia selalu ke dapur. Taruhan lima galleon dia yang menghabiskan persediaan permen jeli kita selama setahun."

Wednesday, 31 October 2012

Halloween Treat #3

Kanon terjaga karena keributan heboh di Ruang Bersama yang terdengar sampai ke kamarnya. Kepalanya sedikit pusing, mungkin efek dari perutnya yang kosong dan bangun tiba-tiba karena suara keras. Melenguh sedikit, ia lalu berguling dan bangkit dari tidurnya dengan badan terbelit selimut. Setelah menggeram kesal dan berusaha melepaskan diri dari jeratan selimut biru, ia lalu berdiri dan berjalan menuju Ruang Bersama. Degel menitipkan asrama padanya kalau-kalau terjadi keributan saat dia sedang tidak di tempat atau dia sedang kewalahan karena banyak kerjaan, dan akhir-akhir ini Degel sering pulang dengan muka kusut disertai uring-uringan tidak jelas, memisuh tentang sikap seseorang yang, katanya, bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya sembari marah-marah pada Camus. Kanon hanya angkat bahu dan memutuskan tidak ambil pusing--dan tidak mau dipusingkan--dengan apapun yang sedang dialami Degel.

Separo menyeret kakinya, Kanon menggunakan seluruh tenaga yang tersisa untuk sampai di Ruang Bersama. Dari suara cempreng yang kini ia dengar, Kanon mengambil kesimpulan bahwa Aphrodite dari kelas dua kini sedang ribut dengan entah siapa pun yang kurang beruntung mendengar omelan berisiknya. Gumam-gumam samar semakin jelas ketika ia mencapai pintu Ruang Bersama. Sesampainya di Ruang Bersama, Kanon menghela napas sebelum melangkah masuk dan menjaga wibawanya sebagai wakil dari Degel.

Dan di sana, di tengah Ruang Bersama, ada rambut pirang dengan manik hijau yang menjulang tinggi di antara keramaian, tengah menunduk menghadap Aphrodite dan mata biru muda pucatnya yang sedang marah-marah berisik. Seolah menyadari kehadiran Kanon, si pemilik mata hijau itu lalu menengok dan menatapnya. Wajah dengan rahang yang tegas dan ekspresi datar, namun Kanon bisa melihat manik matanya berkilat kelebihan energi.

Hampir saja ia menyebut nama Milo atau Kardia--karena mereka berdua juga sama-sama kelebihan energi--sampai Aphrodite menarik tangannya dan menyadarkannya tentang ketidakmungkinan dua Gryffindor dengan tingkat telat mikir di atas sejuta itu mampu menjawab teka-teki yang diucapkan penjaga pintu asrama Ravenclaw.

"Kanon! Dengar tidak?!" serunya. Kanon mengerjap.

"A--apa? Sori, aku tidak dengar, Dite."

"Rhadamanthys! Dia seenaknya masuk ke asrama kita! Katanya kau yang mengizinkan?!" tuntut Aphrodite.

"Aku? Aku tidak--

"Saga memintaku mengantar ini padamu," potong Rhadamanthys sambil mengulurkan sekeranjang apel merah, puding melon, seteko susu, roti, selai coklat, dan jeruk.

Aphrodite dan Kanon berpandangan sejenak, bingung. "Lalu, Saga mana?" tanya Kanon sembari menerima keranjang makanan titipan kakaknya.

"Aiolos."

Ini lagi, batin Kanon. Entah mengapa, hidupnya selalu dikeliling oleh orang-orang yang overdosis cinta. Kardia pada Degel, Minos pada Albafica, Saga pada Aiolos, bahkan kemarin ia sempat memergoki Hades dan Zeus sedang saling sandar di balkon ruang kepala sekolah. Gila. Sebegitu dibutakannya oleh cinta.

"Oke, terima kasih kalau begitu," gumam Kanon. "dan kalian, ngapain kalian masih di sini?" lanjutnya, mengarahkan pandangan pada massa asrama yang masih memandang Rhadamanthys seolah pemuda itu adalah alien.

"Pertanyaanku, Kanon!" seru Aphrodite. "kenapa orang sialan yang menjatuhkan Kardia dari sapu ini bisa masuk ke dalam asrama kita?!"

"Karena Saga yang memintanya kemari, berarti Saga memberitahunya cara masuk ke dalam asrama, dan jangan berteriak begitu kalau kau belum merubah suaramu jadi sepuluh desibel lebih rendah daripada suara cemprengmu! Bubar semuanya! Bubar!!!" amuk Kanon, dan dalam sekejap massa asrama--yang memang didominasi oleh kelas satu dan kelas dua--menghilang dari hadapannya, menyisakan dirinya dan Rhadamanthys.

"Dan, Rhadamanthys, kumohon kau tidak memberitahu cara masuk ke asrama kami pada siapapun."

"Kalau Minos?"

"Terutama siswa Slytherin. Meski aku tahu kalau Minos tahu, tapi selama dia masih bersama Albafica, seharusnya kelakuan orang itu masih bisa dikontrol."

"Bayarannya apa?"

Kanon mengedip. "Bayaran?"

"Ya. Saga janji mau mengerjakan tugas transfigurasiku. Kau? Apa bayaranmu untuk aku tidak memberitahu orang lain?"

Kanon membatu sebentar, sebelum mengambil tiga buah apel dari keranjang makanannya dan mengulurkannya pada Rhadamanthys. "Ini. Lumayan, untuk cemilan, dan untuk mengisi kekosongan hatimu yang tidak-akan-pernah-bisa mendapatkan Kardia."

Halloween Treat #2

Rhadamanthys kesal luar biasa hari ini. Bukan kesal karena Kardia menghajarnya dengan Bludger pada pertandingan latihan, bukan juga karena Minos menghabiskan persediaan cokelat kodoknya dengan alasan 'barang adik ya barang kakaknya'. Bukan.

Ia kesal, karena, tidak ada angin tidak ada hujan, Degel muncul di depannya, lalu meminta dia untuk berhenti mengejarnya lagi, karena ia akhirnya menyadari bahwa Kardia adalah segalanya. Degel muncul di hadapannya dan hampir separuh Slytherin kelas lima, setelah pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, di depan Sir Hades--kepala asrama Slytherin. Degel memintanya untuk berhenti mengejarnya, di hadapan seluruh teman-teman sekelasnya.

Rasanya, saat itu juga, ia ingin mengutuk Degel dengan kutukan Imperius lalu memerintahkannya tenggelam di danau, atau kabur selama-lamanya ke gubuk reyot di tepi Hutan Terlarang.

Karena, demi Jenggot Merlin! Demi Naga Hungaria atau Naga Biru Wales! Demi semua makhluk gaib dan mantra terlarang, Rhadamanthys tidak jatuh cinta pada Degel. Tidak!

"Sudah kubilang, tingkat kecerdasan Kardia itu hanya selevel anak monyet," gumam Aiacos. "semua perhatianmu padanya malah ia interpretasikan sebagai caramu merebut Degel darinya. Dasar idiot, atau memang semua Gryffindor seidiot itu?" lanjutnya.

"Diam, Aiacos!" geram Rhadamanthys, berbahaya. Aiacos mengangkat bahunya dan kembali mengerjakan tugas, meninggalkan Rhadamanthys yang uring-uringan dekat jendela. Cumi-cumi raksasa yang tidak sengaja lewat di dekat jendela lau menempelkan tentakelnya ke sana, menutupi pemandangan yang sedang dilihat Rhadamanthys dan menggantinya dengan substansi kenyal berwarna putih dengan kaki isap ungu. Pikirannya lalu melayang-layang entah ke mana, sebelum akhirnya diproses oleh otak dan diteruskan ke organ.

"Aku lapar."

Aiacos mengerutkan dahinya. "Bahkan cara bicaramu pun jadi se-abstrak Kardia. Awalnya bicara cinta, sekarang bicara perut."

"Aku tidak bisa berpikir kalau lapar," balasnya cepat sambil berjalan pergi, menuju pintu masuk asrama. "kalau Minos tanya aku ke mana, dapur," lanjutnya cepat sebelum menghilang dari pandangan. Aiacos mendongak sebentar lalu mengangkat bahu lagi.

Halloween Treat #1

"Itu namanya pumpkinophobia."

Kanon meneguk cokelat hangatnya sebelum menengok ke arah Saga, yang entah bagaimana caranya bisa masuk ke dalam Ruang Bersama asramanya. Sudah bukan hal asing lagi bagi penghuni Ravenclaw, tentang keajaiban Saga yang bisa keluar masuk asrama seperti ia keluar masuk ruang bawah tanah Slytherin. Senior sudah maklum, para guru pun begitu. Hanya Seiya--si penjaga sekolah--yang masih penasaran dan ingin sekali menemukan caranya, yang ia yakini berhubungan dengan sihir jahat, untuk kemudian mendetensinya membersihkan kandang Thestral.

"Lalu, ketakutanku pada warna kuning dan oranye?" tanya Kanon.

Saga mengerutkan dahinya sejenak. "Mmmm...bagaimana kalau kusebut, 'fobia terhadap warna kuning dan oranye' saja? Terdengar lebih sederhana," jawabnya sambil memiringkan kepala, dengan ekspresi polos. Kanon membayangkan Aiolos akan langsung menyerang Saga begitu ia melihat ekspresi ini, namun segera mengenyahkan bayangan itu.

Sekitar lima belas menit yang lalu, Saga masuk seenaknya ke asrama dan menarik Kanon yang tengah bergelung di dalam selimut ke Ruang Bersama. Lalu, ia menginterogasinya tentang kenapa ia tidak makan siang, yang dilanjutkan dengan ceramah panjang lebar mengenai menjaga kesehatan. Alasan Kanon tidak mau makan sebenarnya sederhana saja.

"Lagipula, kenapa, 'sih, kamu tiba-tiba jadi takut makan labu?"

Kanon melirik Saga dari sudut matanya. "Bukan takut. Hanya, entahlah. Muak, mungkin? Menjelang Halloween, sepertinya para peri rumah itu punya stok labu yang tidak terhingga, sampai-sampai setiap hari sejak awal Oktober semua makanan yang disediakan berbahan dasar labu. Jus labu, pai labu, sup labu, labu goreng, kue labu, dan salad labu," Kanon menyebutkan makanan-makanan yang disediakan sekolah, lalu mengakhirinya dengan ekspresi mual. "Aku mau muntah," lanjutnya.

Saga mengusap-ngusap kepala sang adik, sebelum berdiri dan berjalan menuju pintu. "Aku ambil beberapa makanan dari dapur, dan kupastikan mereka tidak mengandung labu atau apapun yang berwarna kuning dan oranye. Apa itu termasuk jeruk, wortel, dan pisang?" tanya Saga.

"Kau tahu aku tidak suka wortel, Saga. Kalau jeruk dan pisang, tidak masalah."

"Oke. Sana, tiduran saja di kasur. Sejam lagi aku kembali."

Kanon melambai sebentar, sebelum akhirnya Saga keluar dari asrama Ravenclaw. Ia menghela napas.

Halloween sialan.