Showing posts with label Fanfiksi. Show all posts
Showing posts with label Fanfiksi. Show all posts

Sunday, 30 August 2015

Yours Truly

Project [K] (c) GoRa & GoHands

.
.
.

"Let me go."

He was so real. Right in front of him. That honey-colored eyes, Oh God how much he missed them.

"King?"

And that voice. Lord, what do YOU want?

"Yeah?"

"Please, let me go."

"I can't."

He smiled. Not that stupid smile he used to have, but this kind of sad and weird smile.

"Why?"

"Because I'll avenge your death."

"Even if it means your life?"

"Yes."

"Mikoto, do you love me more than your life?"

Mikoto chuckled. "You should've knew me better, Tatara."

---

You're my whole world.

---

And I'd follow you wherever you go.

---

Even if it means my end.

Wednesday, 1 October 2014

Ramblings of Blue

(c) GoRa & GoHands

.
.
.

Jika suatu saat, Tuhan membuka undian berhadiah dan satu orang pertama yang sampai di kuil mendapat satu permintaan yang akan dikabulkan saat itu juga, Reishi tidak akan segan membarikade kuil tersebut dan menggunakan semua kekuasaannya agar mendapatkan kesempatan tersebut.

Kesempatan untuk mengembalikan Suoh Mikoto dan Totsuka Tatara kembali ke dunia ini.

.
.
.

Kusanagi Izumo berhenti menggosok gelas dan menatap pemuda di hadapannya. Bunyi es batu yang berdenting ketika bertumbukan dengan kaca mendadak terdengar begitu nyaring. Ia mengerjap beberapa kali sebelum angkat suara.

"Dan Tatara? Kenapa aku mendengar kau mengucapkan kata penghubung itu dengan kebencian yang amat-sangat?"

Reishi menaruh gelasnya di atas counter. "Karena Suoh dan Totsuka merupakan satu paket yang tidak dijual terpisah."

Izumo mendengus. "Tidak dijual terpisah, eh? Lalu, ada apa kau tiba-tiba bicara seperti ini?"

Reishi mengangkat bahu. "Tidak ada apa-apa. Berkhayal sesekali tidak apa-apa, 'kan?" ujarnya sebelum menenggak sisa minumannya sekali teguk. Ketika cairan beralkohol tersebut mengalir, ia merasakan dadanya terbakar.

Ia merasakan, hatinya dibakar.

.
.
.

"Ahahahaha. Munakata-san sangat benci padaku ya, King?"

Si surai merah mendengus. "Tanyakan saja padanya. Jangan padaku."

Sunday, 10 August 2014

Foolish Wish

K Project © GoRa & GoHands

.
.
.


It was dark red, the color of snowflakes. They were dark red.

Once they were silvery white, another second they were dark red.

They scattered below me like a fallen rose petals on a field of white grass. It was warm, the way they slide in my hand.

The way they fell to the ground.

And then, it was cold. Icy cold.

The storm blew them away. The blizzard froze them to death.

But, they smiled. On their brink of death, they smiled.

You, smiled.

.
.
.

“It’s… okay. It’s okay…. Reishi.”

Tears kept falling down from his eyes. His lips trembled. The blood in his hands felt so warm, yet so cold. So cruel.

It reminded him that after all of this, he’ll be alone.

Again.

“Reishi…. Please, smile.”

Reishi closed his mouth tightly. He wasn’t brave enough to open it, knew that his breaking voice would be the first one to come out. Mikoto sighed. With any last strength he had, he raised his hand and touched Reishi’s face. Blood smeared his pale white skin.

“Reishi, please, smile for me?”

And, he broke.

His tears fell like a waterfall. He sobbed, cried, gripped his blood-stained jacket. Mikoto never—never—saw Reishi the way he was right now. He never saw him cried. He never saw him bare his emotion, his ego, his selfishness like this. He always wanted to hug him when he cried, to comfort him, to be the only one person where Reishi could bare himself and break anything he wanted to and then put him back together again.

And he got it. Reishi cried, calling his name in every breath, bare his emotion, get selfish, and breaking in front of him. He got it, what he wanted. The only thing he didn’t get was to hug him, to comfort him, and to put him back together.

Because, the time his wish came true was his death.

.
.
.

 “I’m sorry, Reishi.”

“Goodbye.”
.





Sunday, 29 June 2014

Goodbye

Disclaimer :

K (c) GoRa & GoHands

.
.
.

Hari itu, tiga minggu setelah kematian Totsuka Tatara, dunia Suoh Mikoto runtuh seutuhnya.

Ketika Pedang Damoscles nya mulai jatuh dalam gemuruh, ia terlalu larut dalam perih harapan bahwa dirinya akan bebas di pelukan maut. Ia terlalu percaya bahwa Reishi akan menjalankan tugasnya sebagai Raja Biru dan mengirimnya ke alam sana dalam satu gerak cepat.

Ia lupa, bahwa sedingin apapun sang Raja Biru, satu potongan besar hatinya terisi oleh sosoknya. Sosok Suoh Mikoto.

Dan Reishi, tidak sekuat itu untuk dapat hidup tanpa Suoh Mikoto di dalamnya.

.
.
.

Yang ia lihat di hadapannya sosok pemuda yang terbaring dengan merah menggenang di sekelilingnya.

Semuanya terlalu cepat bagi Mikoto. Yang ia bisa tangkap, adalah bahwa Reishi melakukan sesuatu yang membuat Weissman level-nya kembali normal.

Dan Pedang Damoscles Reishi pecah jadi serpih.

"Su...oh."

Mikoto berlutut di samping Reishi. Matanya panas entah oleh apa. Ia menggenggam tangan Reishi yang terjulur ke arahnya. Dingin. Mikoto membakar aura merahnya untuk menghilangkan sensasi dingin tersebut, namun nihil.

Reishi semakin dingin, semakin pucat.

"Su...oh.... Maaf... aku tidak bisa membunuhmu."

"Apa maumu, Munakata?"

"Aku... tidak sekuat itu... Suoh." Reishi mengatur napasnya. Ia menekan bagian tubuhnya yang mengeluarkan darah. "Scepter 4 akan baik-baik saja tanpaku. Tapi HOMRA akan gila tanpamu. Dan aku...."

"Kau apa?"

"Aku... tidak...."

Aku tidak mau membunuhmu. Aku tidak bisa kehilanganmu.

"Dan kau pikir, yang kau lakukan ini tidak akan memberikan efek apapun padaku?"

Reishi mengerjap sesaat, lalu tersenyum tipis. Napasnya makin berat, matanya semakin mengantuk.

"Maaf.... Mikoto. Sampai... jumpa."

Friday, 27 June 2014

Bet

Disclaimer :

K (c) GoRa & GoHands

made for mikoreiweek day 2 : motifs.

.

.

.

Hari Senin minggu kedua setiap bulannya, ketika semua anggota HOMRA sudah kembali ke rumah masing-masing, adalah saat dimana Izumo Kusanagi mengeluarkan coffee maker yang tersimpan apik di dalam lemari. Dengan hati-hati ia menyimpan mesin tersebut di atas counter bar-nya yang mengkilat. Salah satu alasan mengapa benda ini hanya dikeluarkan sebulan sekali, adalah karena Senin minggu kedua adalah hari di mana Totsuka Tatara menginap di lantai dua bar miliknya, dan pemuda yang selalu tersenyum itu memiliki kesenangan yang aneh dengan kopi susu. Setelah mengelap mesin kopinya, ia mengambil setoples penuh biji kopi yang siap diproses. Baru saja ia memasukkan satu sendok besar ke dalam toples, lonceng pintu bar berdenting pelan.

Kusanagi menoleh ke puntu masuk dan mengharapkan menemukan Totsuka Tatara sedang tersenyum ceria sambil berseru, “Halo Izumo-san! Hari ini aku menginap lagi!”

Namun, yang sedang berdiri di sana bukanlah pemuda bersurai coklat madu, melainkan seseorang dengan rambut biru pekat. Dengan wajah datar, Munakata Reishi masuk ke dalam bar sambil menepuk-nepuk pundaknya yang penuh salju.

Kusanangi mengerutkan dahinya. Jarang-jarang sang Raja Biru mau bertandang ke markas musuh besarnya seperti ini. Ralat. Sejak kapan Munakata Reishi memilih HOMRA sebagai tempatnya melepas penat sebelum pulang ke rumah?

“Halo, Munakata-san. Ada angin apa sampai Raja Biru datang ke tempat ini? Tidak ada salah satu anggota klan kami yang sedang adu jotos sampai menghancurkan separo kota, ‘kan?” tanya Izumo was-was.

“Sejauh yang kudengar, tidak ada. Lagi pula, ini sudah pukul dua belas.Aku yakin semua anggota klan merah sudah kembali ke rumahnya masing-masing, kecuali kau dan strain kecil itu,” jawab Reishi sambil berjalan ke counter. Ia lalu duduk di salah satu kursi, dan menatap gelas-gelas transparan berbagai bentuk serta berbagai macam botol minuman beralkohol. “Koleksi minumanmu lengkap juga, padahal menjadi bartender bukan pekerjaan utamamu, ‘kan?”

Izumo terkekeh geli, kemudian kembali pada pekerjaannya membersihkan coffee maker. “Menjadi bartender ini seperti hobi, Munakata-san. Dan aku tidak mau menjadikan hobiku sebagai pekerjaan utamaku.”

“Begitu?”

“Uh-huh. Jadi, ada apa kau datang kemari, Munakata-san?”

“Aku datang karena kalah taruhan.”

Kali ini, Izumo benar-benar menghentikan pekerjaannya dan mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Reishi. “Maksudmu?”

Reishi menghela napas. “Suatu hari ia datang ke ruanganku di markas SCEPTER 4 untuk alasan yang aku tidak tahu apa dan menghabiskan satu bungkus rokok, memenuhi mejaku dengan abunya, dan membuat laporan-laporan yang harus kubaca kotor. Hampir saja Awashima-kun menebas kepalanya. Kemudian kukatakan—

“—kalau aku berhasil tidak merokok seminggu maka ia akan datang ke HOMRA dan minum denganku.”

Suara serak dan berat yang meneruskan kalimat Reishi berasal dari pintu. Ia dan Izumo menoleh, menemukan pemuda bersurai merah berantakan sedang berdiri dengan seorang pemuda berwajah manis tiba-tiba muncul dari balik punggungnya.

“Yo, Kusanagi-san! Aku bertemu Raja di jalan. Kuajak saja dia ke sini sekalian!” tukasnya. Ia lalu masuk, melewati Suoh Mikoto yang masih berdiri di depan pintu, dan menghampiri Munakata. “Selamat malam, Raja Biru! Kenalkan, namaku Totsuka Tatara!”

“Halo, Tatara-kun. HOMRA memang dipenuhi orang-orang yang menarik, ya?” Seulas senyum menghiasi wajah Reishi. Totsuka membalasnya dengan senyum yang lebar dan polos, seperti biasa.

“Baiklah, aku mau membereskan futon di kamar atas. Kusanagi-san, aku mau kopi susu!” ujarnya lagi, kali ini pada sang pemilik bar. Izumo hanya menghela napas sebelum memberikan gestur tangan supaya Totsuka menyegerakan apapun yang hendak ia lakukan.

“Baiklah, aku tidak tahu apa masalah kalian berdua, tapi kumohon jangan sedikitpun kalian menghancurkan atau membuat keributan di sini. Oke?” Izumo menekankan kalimatnya, sebelum dengan cepat membuat dua kopi susu panas dan pergi ke lantai dua.

Meninggalkan Munakata Reishi dengan Suoh Mikoto berdua saja.

Munakata menghela napas. “Aku tidak mengerti, kenapa aku mau saja terlibat taruhan bodohmu.”

Satu dengus mengejek, dan beberapa detik setelahnya Mikoto sudah duduk di samping Reishi. “Kalau itu berarti kau datang ke HOMRA, bertaruh berapa kali lagi pun pasti kulakukan.”

Reishi menatap Mikoto dengan ekspresi yang sulit dibaca. Manik ungunya menatap lekat wajah di hadapannya. Sesekali, manik amber Mikoto melirik Munakata sampai akhirnya ia tertawa kecil dan memalingkan wajahnya.

“Kau yakin menang, Suoh?”

“Oh, aku selalu menang, Munakata.”


Wednesday, 25 June 2014

Kepiting sinting paling garing

(c) Masami Kurumada

.

.

.

"Aku tahu, kenapa kau menolakku."

Aphrodite mengerutkan dahinya. "Maksudmu?"

Deathmask--Angelo menganggukkan kepalanya. "Ya. Karena kau merasa penuh dengan eksistensiku. Kan?"

"Err.... Angelo? Aku sungguh tidak mengerti. Aku menolakmu karena aku tidak bisa menganggapmu lebih dari teman, dan jelas tidak akan pernah lebih dari apa yang kurasakan pada Shura. Dan mungkin kau ketinggalan gosip karena Milo masih meracau soal suaranya yang kurang macho, tapi kau tahu 'kan kalau aku dan Shura...."

"Kalau kami sudah jadi pasangan." Shura melanjutkan. Tangan kanannya memegang erat tangan kiri Aphrodite, yang juga balas menggenggamnya. Mereka sedikit mencuri pandang penuh makna, sebelum tawa Deathmask mengembalikan mereka ke dunia nyata.

"Myoahahahaha. Aku tahu kalian pacaran. Tapi, Shura, tidak tahukah kau kalau semua ini hanya pelarian saja? Bahwa Aphrodite melarikan diri dari suatu rasa yang ia miliki padaku?"

Aphrodite mengerjap tidak percaya. "Ap--apa maksudmu.... Shura, kau tahu kepiting gila ini memang benar-benar tidak waras, 'kan? Jangan percaya apapun yang dia katakan!"

"Apa maksudmu, Deathmask?" ada nada suara yang mengancam dari sang Saint Capricorn. Cosmo-nya mendadak terbakar, meluap-luap meliputi dirinya dan terkumpul di lengan kanannya.

Siap membelah dua kepiting garing di hadapannya.

"Karena.... Di dadamu, ada kumisku, kan? Makanya kau menolakku dan malah pacaran dengan Shura? Karena aku sudah ada dalam hatimu sejak lama, 'kan? Dan Shura adalah pengalih dirimu yang begitu rindu padaku, 'kan???"

.

.

.

"LIA!PINJAMKAN LISTRIKMU! BIAR KUSETRUM SI KEPITING SINTING INI BIAR MATI BETULAN!!!"

Sunday, 22 June 2014

Jigsaw Puzzle

Disclaimer : K © GoRa & GoHands

made for mikoreiweek in tumblr. Day 1 : rivalry

.

.

.

Dahinya berkerut. Jari tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja tidak sabaran. Di hadapannya, terhampar potongan-potongan puzzle yang berantakan dan separuh jadi. Tangan yang satunya memegang sekeping potongan puzzle dan memutar-mutar benda itu.

Kalau ada satu hal yang bisa membuat Munakata Reishi mengerutkan dahi hanya untuk berpikir, maka jigsaw puzzle adalah jawabannya.

Sudah setengah jam ia berusaha menyelesaikan permainan ini—sesuatu yang biasanya dapat ia selesaikan dalam lima belas menit saja—namun tidak berhasil. Ia hanya bisa menyelesaikan sebagian kecil sudut bawah dan sedikit sisi atas. Padahal ini adalah puzzle 1000 kepingnya yang biasa. Apa karena ini versi terbaru dari yang sebelumnya ia mainkan, ia tidak paham. Rasanya tidak ada yang berubah kecuali warna dan gambarnya—Munakata melirik sedikit contoh gambar di kotak mainan tersebut.

Apa yang salah dengan benda ini sampai ia tidak bisa memainkannya seperti biasa?

“Kapten.”

Suara monoton yang tiba-tiba muncul membuatnya kembali ke dunia nyata. Ia mendongak dan melihat sang vanguard dari SCEPTER 4 sedang berdiri di depan mejanya dengan wajah malas yang biasa. Keberadaannya yang mengagetkan Munakata meyakinkan sang kapten bahwa anak buahnya ini—lagi-lagi—mengizinkan dirinya sendiri masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Oh. Fushimi-kun. Aku tidak mendengar kau masuk ke dalam ruangan.”

Saruhiko mendengus. “Tadi aku mengetuk pintu tapi sepertinya kau terlalu sibuk dengan apapun yang sedang kau kerjakan jadi aku masuk saja.”

Munakata tersenyum tipis. Ia sangat menyukai saat-saat dimana anak buah kesayangannya yang satu ini merasa terganggu. “Ah. Begitu kah?”

“Tch.”

Ini dia! Kalau Munakata bisa bertindak di luar karakter, maka ia akan menunjuk wajah Saruhiko dan mengatakan hal tersebut. Karena ada wibawa yang dipertaruhkan dari jabatannya, Munakata hanya mendengus geli dan berdeham. “Ada yang bisa kubantu, Fushimi-kun?”

“Aku hanya mau mengantar laporan mengenai kegiatan HOMRA minggu kemarin,” ujar Saruhiko datar.

“Baiklah. Simpan saja di tumpukan map itu,” Munakata menunjuk satu sudut di mejanya, “nanti kulihat. Terima kasih, Fushimi-kun.”

Saruhiko buru-buru menyampaikan tugasnya dan angkat kaki dari ruangan itu. Lebih lama lagi ia mendengar ocehan Munakata, bisa-bisa ia terjebak di obrolan satu sisi tanpa akhir dari Munakata. Dalam perjalanannya menuju ruang kerjanya, ia melihat Letnan Awashima berjalan menuju ruangan Munakata dengan membawa nampan makanan berisi nasi kepal dan semangkuk pasta kacang merah.

“Ah, Fushimi-kun. Kau baru dari ruangan Kapten?”

Saruhiko tidak bisa mengalihkan pandangannya dari semangkuk pasta kacang merah yang berada di atas nampan. Perutnya serasa melilit dan siap memuntahkan segala isinya saat itu juga.

“Fushimi-kun?”

“Permisi.”

Seri menaikkan alisnya ketika Saruhiko melangkah lebar-lebar dan berbelok ke kamar mandi tanpa membalas sapaannya. Memutuskan bahwa Saruhiko memang seorang pemuda dengan masalah tatakrama yang sudah tidak bisa diperbaiki lagi, ia meneruskan perjalanannya menuju ruangan Munakata.

.

.

.

“Kau ingin tahu hubunganku dengan Suoh Mikoto???”

Munakata hampir saja tersedak nasi ketika Seri—tidak ada angin tidak ada hujan—memutuskan untuk mengeluarkan isi pikirannya.

“Ya, Kapten. Maaf jika saya lancang. Rumor mengenai dirimu dan Raja Merah sudah terlalu banyak beredar. Mulai dari cerita tentang kalian adalah teman satu SMA, tetangga sejak kecil, atau rekan minum setiap malam di bar milik Kusanagi, dan lainnya yang bahkan di luar logika. Saya ingin mengetahui yang sebenarnya, dan kemudian memperbaiki rumor yang ada.” Seri menjelaskan panjang lebar. Munakata mengerjap sebentar sebelum menghela napas dan bersandar di kursinya.

“Sebenarnya, Awashima-kun, semua rumor itu benar adanya. Aku dan Suoh Mikoto adalah tetangga sejak kecil, teman SMA, dan rekan minum di bar HOMRA. Kau tidak perlu memperbaiki apapun lagi.”

Seri terdiam, berusaha mencerna informasi yang baru saja ia dapat. “Kalau, kau dan Raja Merah memang teman sejak kecil, kenapa hubungan kalian jadi seperti ini?”

“Selain karena kami sama-sama Raja?”

Seri mengangguk.

“Hmm…. Ceritanya panjang, Awashima-kun.”

.

.

.

Munakata kecil adalah replika dirinya yang sudah dewasa dalam bentuk lebih bantat dan polos. Sejak dulu, ia selalu membela teman-temannya yang dijahili oleh sekelompok anak-anak penguasa. Selalu jadi pahlawan di lingkungan kecilnya. Di taman kanak-kanak, ia adalah ketua kelas yang dapat diandalkan oleh semua guru. Di sekolah dasar, ia adalah ketua OSIS yang dihormati oleh semuanya. Begitu pula di jenjang pendidikan selanjutnya. Sebut saja nama jabatan-jabatan penting yang ada, maka nama Munakata Reishi akan tercetak sebagai salah satu yang pernah memilikinya.

Munakata Reishi begitu menyukai keteraturan, ketenangan dan keadaan yang seimbang, sampai sedikit keganjilan pun membuat tangannya gatal.

Dan keganjilan yang terus mengganggunya, adalah Suoh Mikoto.

Suoh Mikoto adalah salah satu bocah kecil yang tinggal di daerah rumahnya. Ketika Munakata kecil sedang hobi-hobinya menjelajah, ia menemukan anak kecil seumurannya sedang mengayuh sepedanya di pinggir sungai, dengan tiga ekor anjing besar mengejarnya. Anehnya, bocah berambut merah menyala itu tetap mengayuh sepedanya dengan santai seolah-olah tidak sedang dikejar oleh apapun, dan ketika pada akhirnya ketiga anjing tersebut berhasil menghadang jalannya, yang ia lakukan adalah turun dari sepeda dan menghela napas panjang.

“Menyusahkan saja.”

Lalu, menit selanjutnya, Munakata melihat ketiga ekor anjing tersebut sedang merintih tidak jelas di tanah, dengan si bocah berambut merah kembali melanjutkan perjalanannya sambil bersiul-siul sumbang.

Kali berikutnya mereka bertemu adalah di sekolah dasar. Ia kemudian mengetahui nama bocah tersebut adalah Suoh Mikoto. Rasa penasaran tidak membuatnya mencari lebih lanjut mengenai si rambut merah. Ia hanya mengamati saja ketika Mikoto lewat di hadapannya, atau ketika ia dihukum karena terlambat dan tertidur di kelas, atau ketika ia memergokinya tidur di bawah pohon, atau ketika nama mereka yang berdekatan—Munakata dan Mikoto—membuat keduanya berada dalam satu lomba lari jarak pendek yang sama.

Karena terlalu banyak mengamati, Munakata jadi tidak fokus dan kalah dalam pertandingan pertama mereka. Setelah itu, mereka tidak pernah berhubungan lagi. Kelas yang berbeda, lingkungan yang berbeda, dan pilihan SMP yang berbeda membuat keduanya terpisah begitu saja.

Interaksi mereka yang selanjutnya adalah ketika keduanya berada di SMA. Munakata adalah wakil dari murid baru yang diharuskan memberikan sambutan pada saat penerimaan siswa, ketika ia melihat ada warna merah yang mencuat di antara semua kepala.

Kehidupan SMA-nya setelah itu tidak lagi sama.

Munakata Reishi adalah ketua OSIS sekaligus anggota komite kedisiplinan, kapten klub kendo, dan seorang ketua kelas. Entah apa dosanya, Mikoto selalu membuat ulah dan dialah yang ketiban sial untuk membereskan segalanya. Ia juga yang diberi tugas oleh guru-guru dan ketua komite disiplin untuk mengingatkan Mikoto agar memakai seragamnya dengan benar dan mengurangi waktu tidurnya di kelas. Ia juga yang harus melerai anggota klub ketika tanpa sengaja Mikoto mengalahkan mereka semua di pertandingan kendo antar kelas.

Dan Munakata juga yang harus mengejar-ngejar Mikoto ke atap, di kantin, atau di taman sekolah hanya untuk menyeretnya masuk kelas—karena ia adalah ketua kelas dan satu kelas dengan si rambut merah sialan.

“Tidak bisakah kau melakukan sesuatu dengan benar, sekali saja?”

Satu hari di musim semi tahun kedua, Munakata hampir meledak ketika menemukan dirinya terjebak lagi dengan Mikoto di kelas yang sama. Setelah menyeret kakinya ke atap sekolah hanya untuk menemukan si rambut singa sedang makan roti melon dan minum susu strawberry dengan tenangnya sambil melihat langit biru, ia tidak tahan lagi.

Sementara Mikoto hanya menatapnya bingung. “Hah?”

“Mikoto Suoh! Bisakah kau masuk kelas dengan benar, memakai seragam dengan benar, dan melakukan semuanya sesuai aturan? Sekali saja?” Munakata terdengar payah tapi ia tidak lagi peduli.

Namun, Mikoto lebih tidak peduli. Lebih tepatnya, ia tidak mau pusing.

“Untuk?”

Detik ini, Munakata sudah habis akal dan ia berteriak kesal sebelum menerjang Mikoto dan memaksanya memakai seragam dengan benar sementara si rambut merah melawan.

.

.

.

“…Maaf kalau aku memotong ceritamu, Kapten. Tapi, kau benar-benar melakukan hal itu?”

Munakata mengerjap sebentar, lalu menyesap teh hijau yang sudah tersedia di mejanya. “Tidak, tentu saja. Itu hanya sekedar bumbu dalam cerita. Jadi, kau mau dengar lanjutannya?”

.

.

.

“Apa kau tidak bosan menggangguku begini, Munakata?”

Nada suara Mikoto yang monoton membuat sang ketua OSIS ingin menjambak rambut merah tersebut, lalu membenturkan kepala di tangannya ke dinding terdekat.

“Justru kau yang menggangguku, Suoh. Kau pikir bagaimana kehidupanku tiga tahun terakhir ini?”

“Membosankan,” jawab Mikoto sambil menguap.

“Yang membosankan itu hidupmu.”

“Hm.”

“Kau dengar aku atau tidak?!”

“Ya. Jadi, apa maumu?”

Munakata menghela napas. Hari sudah sore, langit sudah berwarna oranye, hampir semua siswa sudah pulang, dan ia terjebak di ruang OSIS dengan Mikoto karena pemuda tanggung tersebut memutuskan untuk merusak keran air di kamar mandi dan membakar satu wajan di kelas tataboga.

“Aku mau, kau tidak lagi merusak keran di kamar mandi dan membakar apapun lagi di kelas tataboga. Malah, sebaiknya kau tidak usah ikut kelas tataboga atau kelas apapun yang melibatkan benda-benda berbahaya.”

“Bukan salahku kerannya macet, dan bukan salahku wajannya tidak tahan api.”

“Dan bukan salahku juga kalau kau dapat hukuman untuk membersihkan taman satu minggu. Perintah langsung dari kepala sekolah. Catatan tambahannya, jangan merusak tanaman.”

Mikoto terdiam sebelum tersenyum tipis. “Kalau itu maumu.”

“Itu bukan mauku, Suoh. Itu mau kepala sekolah.”

Suoh mengangkat bahu dan berbalik keluar ruangan. Ia menyempatkan diri untuk berhenti di depan pintu sebentar sebelum benar-benar pergi dari sana.

“Kusarankan sebaiknya kau membawa sarung tangan dan sekop mulai besok, Munakata.”

Dan yang selanjutnya terjadi sudah dapat dibayangkan. Dengan ajaibnya, semua tanaman yang sudah susah payah ditanam kepala sekolah jadi rusak dan berantakan dan…. Intinya, Munakata-lah yang harus membereskan semuanya.

.

.

.

Seri mengurut dahinya. “Jadi, hubungan kalian berdua sudah seperti ini sejak, dulu?”

Munakata kembali meneguk teh hijaunya. “Ya, kurang lebih. Hanya saja, dulu kami bukan Raja dan tidak memiliki kekuatan ini, ataupun Pedang Damoscles. Jadi, pertengkaran kami hanya berakhir di beberapa kursi patah dan banyak jendela pecah, atau di beberapa lebam di wajah dan sedikit omelan guru.”

“… begitu?”

“Ya. Ada lagi yang mau kau tanyakan, Awashima-kun?”

Seri menggeleng. “Semuanya sudah jelas untukku, Kapten. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bercerita padaku. Saya permisi dulu.” Seri menunduk singkat sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja Munakata. Setelah ia keluar, terdengar dengusan geli dari balik pintu kertas yang membatasi ruang kerja Munakata dengan ruangan tatami. Pintu kertas tersebut dibuka, dan seorang berambut merah dengan wajah mengantuk sedang duduk dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak.

“Kau tidak cerita waktu aku jadi raja dan kau marah-marah tidak jelas di atap sekolah.”

“Aku juga tidak cerita kalau kau adalah seniorku dan kau sempat mengulang satu tahun karena terlalu banyak tidur di atap sekolah. Atau ketika kau diare karena kebanyakan makan roti melon.”

“Hng.” Mikoto mendengus dan merebahkan dirinya lagi di atas tatami. “Cepat selesaikan pekerjaanmu. Aku lapar.”

“Kalau lapar, makan saja sendiri.”

“Tidak mau. Hari ini kau janji mau masak kare dan mentraktirku parfait.”

“Kalau anggota HOMRA tahu kau suka strawberry, apa reaksi mereka?”

“Bukan urusanku. Cepat selesaikan. Aku lapar.”

“Baiklah, Raja Manja. Asal kau tutup mulut dan biarkan aku berkonsentrasi.”

.

.

.

Satu jam kemudian, Munakata diseret paksa dari mejanya ketika sedang memasang keping puzzle yang terakhir.

.

.

.

End

Sunday, 4 May 2014

Premonition

(c) GoRa & GoHands

.
.
.

"What if, by any chance, I kill you?"

Sengaja atau tidak.

Mikoto menatap Munakata dengan wajah datarnya. Tak lama, ia tersenyum tipis dan mendengus.

"Hng."

"Jawab aku, Mikoto."

Mikoto menghisap rokoknya. Senyum tidak lepas dari wajah. Ia lalu menatap Munakata dengan mata yang berkilat kesenangan.

"Aku akan menantikan saat-saat itu, Munakata."

.
.
.


Saturday, 26 April 2014

High Temp

(c) GoRa & GoHands

.
.
.

Alternate Timeline.

.
.
.


Fushimi Saruhiko tidak suka bangun pagi.

Pada dasarnya ia memang bukan manusia yang bisa terbit bersamaan dengan matahari. Ia juga bukan makhluk yang bisa melayap semalam suntuk demi patroli. Pada dasarnya, ia tidak menyukai hal-hal yang membuatnya harus mengeluarkan tenaga lebih.

"WUAAAH!!!"

Kecuali, jika semua agenda menyusahkan itu berhubungan dengan seorang cebol bawel yang sedang melakukan usaha-usaha tidak penting untuk meledakkan dapurnya.

.

"Kau 'kan sedang sakit!"

"Dan kau malah membuatku semakin sakit."

"Aku berusaha membantumu! Aku sudah minta Kusanagi-san untuk mengajariku membuat bubur. Aku sedang buat bubur!"

Misaki menunjuk panci berisi substansi aneh seperti beras dengan air yang terlalu sedikit di atas kompor, membuat Saruhiko memijat kepalanya.

"Kau mau membuat bubur atau racun? Berniat membunuhku, begitu?"

"Aku mau membantumu, bakasaru!"

"Jangan teriak-teriak begitu, kepalaku sakit."

"...."

Canggung menggantung.

Sejak kembalinya Saruhiko dari misi di salah satu kepulauan terpencil di Jepang--terima kasih pada sang Kapten yang tidak mau pergi dari kota Shizume dengan sejuta alasan dan sang Letnan yang juga tidak bisa melakukan tugasnya karena kehabisan pasta kacang merah--kepalanya pusing dan suhu tubuhnya naik. Singkat kata, ia terinfeksi virus entah apa dan jatuh sakit. Dan, terima kasih juga kepada sang Letnan yang ternyata senang bergosip di satu bar tertentu, kabar tentang dirinya sampai pada telinga seorang berkupluk buluk yang suka bereaksi berlebihan.

Saruhiko menghela napas. "Jangan sentuh apapun lagi di dapurku. Pulang. Sekarang."

.
.
.

Saruhiko bangun keesokan harinya dan melihat ada matahari bersinar di dalam kamarnya.

....

Sepertinya minus matanya naik. Ia melihat sesuatu berwarna merah di sisi tempat tidurnya, memantulkan cahaya matahari yang menyusup lewat celah tirai.

...baiklah.

Ia sedang memperhatikan kepala Misaki yang sedang tertidur dengan posisi duduk dan hanya kepalanya yang menempel di kasur Saruhiko. Satu tangannya menggenggam handuk kecil yang lembab.

Saruhiko menghela napas.

"Oi."

"Mmm?"

"Misaki. Bangun." Saruhiko mengetuk lembut puncak kepala Misaki dengan ujung jarinya.

"Mmm... Saru? Selamat pagi."

"Hng."

"Bagaimana? Sudah lebih baik?"

"...kemarin kusuruh kau pulang. Kenapa masih di sini?"

"Memang tidak boleh?"

"Buk--

"Memang tidak boleh kalau aku khawatir padamu barang sedikit saja?"

.
.
.

"...kau tahu, Misaki? Entah harus apa yang kulakukan untuk membuatmu tetap jauh dariku."

.
.
.

"Eh? Kau bilang apa?"

"Tidak. Kalau kau sebegitu inginnya direpotkan olehku. Sini. Jadi bantalku. Kau tidak mungkin protes pada orang sakit 'kan, Mi-sa-ki~?"

Saturday, 15 March 2014

And So, It Begins

(c) ATLUS

.
.

"DOR!

Pelatuk ditarik. Letusan mesiu menggaung di telinga. Percikan api meledak di udara, melayang ringan. Dan tatapan matanya kosong sejenak.

Sisi kepalanya yang menyentuh mulut pistol terasa panas. Wajar, mengingat ia baru saja memuntahkan timah panas dari senjata api perak itu. Namun, yang berikutnya ia rasakan adalah hal yang baru, selalu baru. Ketika ledakkan itu menulikan inderanya, ketika tatapannya menggelap, ketika tubuhnya seperti dilingkupi oleh api kebiruan yang mistik.

Ketika ia memanggil satu topengnya.

"Orpheus!"

Perasaan itu. Euforia yang sulit digambarkan. Kelegaan yang luar biasa. Adrenaline rush.

Oh. Ia akan sangat menikmati memanggil 'topeng-topeng'nya ke dunia ini.

Wednesday, 11 September 2013

Causes Stain, Stay Away!

(c) Kouji Ouji
(c) L'Arc~en~Ciel

.
.
.


Bulu kuduknya meremang, naik sempurna.

Rei tidak pernah merasa setakut ini seumur hidupnya. Bahkan ketika ia harus melompat dengan bantuan sebatang kayu panjang dan mendarat di atas matras, atau ketika ia terseret ombak di dalam badai. Ini pun bukan kali pertama ia bertemu muka dengan pemuda di hadapannya. Pemuda berambut merah marun dengan warna mata yang sama seperti miliki Gou-chan. Rin Matsuoka.

"Rei Ryugazaki?"

"Ah, ya." Rei menelan ludah. Nada suara Rin jelas mengintimidasi. Jelas, kentara seperti merahnya rambut pemuda dari Akademi Samezuka tersebut, bahwa ia sama sekali tidak suka padanya.

"Kalau kau menghalangi mereka, lebih baik kau berhenti saja."

.
.
.


Saturday, 31 August 2013

A Snippet of A Heart

(c) Cassandra Clare

.
.
.

Magnus sudah hidup hampir delapan ratus tahun. Ia sudah mengalami ratusan kali jatuh cinta, ratusan kali patah hati, dan lebih banyak lagi melihat kematian merenggut nyawa para manusia dengan begitu mudahnya. Di masa awalnya sebagai seorang warlock, ia mensyukuri ketidakmampuannya untuk mati. Di masa mudanya, ia mengasihani para manusia, yang begitu putus asa mempertahankan kehidupan mereka sampai rela menjual jiwanya pada seorang Downloader sepertinya.

Seiring waktunya bertambah, semakin banyak pula jumlah manusia yang ia temui. Berbagai karakteristik manusia ia jumpai, dan akhirnya ia menemukan keindahan dari jiwa manusia yang begitu singkat itu. Seperti api, membakar paling panas dan menyala paling indah pada masa-masa akhirnya. Begitu hangat dan singkat, hidup manusia--kehidupan para makhluk fana.

Will Herondale, Camille Belcort, Axel von Fersen, sebutkan saja nama-nama makhluk yang membuatnya jungkir balik. Dibalik sikapnya yang angin-anginan, bahkan Pangeran Neraka Azazel pun tahu betapa loyalnya Magnus pada cintanya. Ia rela mengorbankan semuanya; tenaga, waktu, dan hatinya, untuk bisa membahagiakan yang ia cintai dan sayangi. Ya, hati. Magnus bukanlah seorang warlock tanpa hati yang hidup semata-mata karena keabadian mereka. Waktu sudah mengajarinya begitu banyak, cukup untuk membuatnya menghargai jiwa setiap fana yang ditemuinya.

Dan meskipun hatinya patah setiap kali objek cintanya dijemput oleh Azrael, tidak pernah sekalipun ia menyesali waktunya yang tanpa akhir ini. Tidak.

Kecuali, saat ini.

Bau obat-obatan begitu menyengat hidungnya. Semua tempat tidur berseprai putih yang berjajar ini membuatnya gila. Pertempuran antara Shadowhunters, faeries, dan Downloaders dengan Jonathan Christopher Morgenstern dan pasukan Shadowhunters gelapnya sudah selesai. Pemenangnya, well, Magnus tidak akan bisa duduk manis di salah satu sisi tempat tidur jika memang Putra Valentine itu yang menang. Jace Herondale memenangkan pertempuran epik ini. Ia dan Clarissa Morgenstern berhasil membuktikan pada dunia bahwa memang malaikat-lah yang pada akhirnya akan memenangkan segala macam pertempuran yang melibatkan surga dan neraka. Bukan berarti para iblis tidak bisa memenangkan pertempuran gila ini. Namun ketika Iblis Utama dari jajaran malaikat jatuh yang mau bergabung dengan perang ini hanyalah Lilith, sedangkan Jace memiliki api milik Michael dalam dirinya dan darah Ithuriel mengalir dalam pembuluh Clary, apa dayanya? Hanya satu hal yang Magnus ketahui dari perang ego yang sudah menumpahkan begitu banyak darah ini.

Kau tidak bisa apa-apa jika berjalan sendirian.

Yang juga merupakan salah satu jawaban mengapa ia memilih untuk berdiam diri di bangsal rumah sakit di Institut, menggenggam tangan seorang Shadowhunter muda yang sedang terbaring tak berdaya dan hampir tanpa nyawa.

Perang selalu membawa korban, dan Alexander Gideon Lightwood adalah salah satunya.

Meskipun Magnus menolak untuk ikut serta dalam perang, hatinya tidak bisa berbohong. Seolah ada yang meremas dadanya ketika ia melihat kilatan cahaya di kejauhan--di tempat terjadinya perang. Ia membayangkan ada di sana, melihat kekacauan, darah, dan pembunuhan yang sedang terjadi. Ia membayangkan Jace membelah satu keturunan Lilith jadi dua bagian, Izzy mengayunkan cambuknya dan menghabisi apapun yang berada di jalannya, Simon melompat kesana-kemari memamerkan taringnya dan merobek leher lawannya, dan Clary, well, Clary menjadi seorang Clary. Berteriak dramatis, menyerang dramatis, merayakan kemenangan dan panik dengan dramatis. Kau tidak bisa membayangkan seorang drama queen menjadi tidak dramatis di saat-saat penuh drama seperti ini.

Lalu, pikirannya teralih pada Alec. Kekasih fananya yang begitu--manis. Ia tidak bisa berbohong bahwa Alec bukan tipenya dan bahwa ia tidak pernah jatuh cinta pada pria lain selain Alec. Will dan Axel--dan kini Alec--adalah salah satu contoh betapa rambut hitam dan mata biru tidak pernah berhenti menjentikkan listrik ke dalam hati Magnus, yang membuat perutnya seperti berisi ribuan lebah terbang. Karena kupu-kupu terlalu mainstream.

Alec, yang begitu canggung dan tidak pandai berkata-kata. Alec, yang membiarkan dirinya dipanggil 'sweet pea' ataupun 'darling' atau apapun oleh Magnus dan hanya mendengus saja sebagai responnya. Alec, yang begitu cemburu pada kisah masa lalunya. Alec, yang begitu ingin tahu tentang bagaimana kehidupannya, siapa saja yang sudah ia temui, apa saja yang sudah ia lakukan, siapa ayahnya yang sesungguhnya--yang seharusnya sudah diketahui oleh Nephilim muda itu mengingat begitu banyak petunjuk mengenainya. Alec, yang begitu putus asa mengenai kefanaannya. Alec, yang putus asa karena kemampuan Magnus untuk mengubahnya menjadi abadi tanpa harus menggunakan sihir hitam atau mengubahnya menjadi vampir. Alec, yang begitu putus asa sampai mau membuat kesepakatan dengan Camille demi memangkas nyawa Magnus.

Alec, yang begitu mencintainya sampai ia jatuh terlalu dalam di kegelapan hatinya sendiri.

Pertama kali dalam hidupnya, Magnus begitu membenci keabadiannya, ketidakmampuannya untuk mengakhiri waktunya dengan cara yang normal, kemudaannya, semuanya.

Magnus--yang pada akhirnya memutuskan untuk ikut berperang demi melindungi Alec, secara diam-diam--tidak bisa melupakan kengerian yang begitu nyata baginya saat itu. Bukan ketika pada akhirnya Jace membunuh Jonathan, namun saat Alec rubuh ke tanah bergenangkan darah. Darahnya.

Mata kucing Magnus mengecil. Inderanya lebih sensitif entah berapa ribu kali. Pita suaranya protes ketika ia berteriak panik. Otot kakinya menyerah saat ia akhirnya sampai di tubuh Alec yang bergelimang darah.

Pandangannya gelap. Total, dan saat itu juga ia membayangkan rasa yang lebih buruk daripada mati.

Yaitu ketika hatimu dibawa ke alam kematian oleh jiwa yang memilikinya, sementara tubuh dan jiwamu terbelenggu oleh rantai keabadian sampai akhirnya malaikat maut sudi mencabut nyawamu.

Magnus memejamkan mata, berusaha menelan pahit yang mendadak muncul di pangkal lidahnya ketika ia mengingat kronologi kejadian tersebut. Bayangan Alec yang mati meninggalkannya. Lagi.

"Alexander," lirihnya. Nama Alec begitu merdu di telinganya. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam duduk di atas sofa dengan hanya melantunkan nama Alec saja terus-menerus dan tidak bosan karenanya. Untuk pertama kali dalam sejarahnya sebagai seorang warlock, Magnus merasa putus asa. Entah apa yang berhasil melukai Alec, ia tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Hanya satu yang Magnus tahu. Apapun itu, ia berasal dari dunia bawah.

"Alexander, kumohon, sadarlah." Genggaman Magnus pada tangan Alec semakin erat, seolah berusaha menarik Alec dari kegelapan manapun yang saat ini sedang ia jelajahi.

"Maaf, aku memutuskan untuk berpisah denganmu hanya karena alasan konyol soal kepercayaan. Maaf, aku  lupa betapa rapuhnya hatimu. Maaf, Alexander. Aku akan meminta maaf padamu sebanyak yang kau mau. Aku akan menceritakan padamu tentang hidupku. Tentang Will, tentang Camille, tentang Woolsey, Peru, balon udara, London, semuanya. Aku akan mencari cara, bagaimana membuat kita bisa terus bersama sampai selama-lamanya. Karenanya, aku mohon, Alec...."

"Buka matamu."

.
.
.

Karena aku tidak sanggup hidup sendirian di waktu yang tanpa batas ini tanpa dirimu di sisiku, Alexander.

Sunday, 25 August 2013

Suddenly Sister

(c) Cassandra Clare
Faux (c) tasyatazzu

.
.
.

Prang!

Alec tidak bisa tidak melepaskan gelas yang sedang dipegangnya. Mata biru Shadowhunter muda itu membelalak. Pupilnya melebar, dahinya berkerut, mulutnya terbuka. Terkejut, sangat terkejut. Sementara itu Magnus, yang sedang duduk di kursi berlengan empuk warna kuning bunga matahari, tidak sengaja merosot dari tumpuan tangannya. Hampir satu milenia ia hidup, tidak pernah ia merasa sekaget ini.

"Apa katamu, barusan?" tanyanya hati-hati. Pupil kucingnya semakin mengecil ketika menilik entitas di hadapannya dari atas ke bawah. Rambut hitam. Mata kuning. Usia sekitar dua puluh tahun. Tidak ada yang mengganggu dari penampilan fisik gadis tersebut, kecuali fakta bahwa memang matanya terlalu kuning untuk ukuran manusia biasa dan poncho yang terlalu besar sampai menutupi setengah betis serta syal yang menutupi lehernya sampai sedikit menyentuh telinga, di musim panas ini. Tapi Magnus memutuskan untuk tidak peduli dengan detil kecil begitu. Bisa saja ia memakai lensa kontak. Bisa saja ia sedang diet ketat dan memutuskan menjadikan poncho dan syalnya sebagai pengganti sauna. Bisa jadi.

"Sudah kubilang, Magnus. Aku adikmu."

"Gila. Ibuku sudah mati entah berapa ratus tahun yang lalu dan tidak mungkin manusia bisa berusia lebih dari seratus ta--

"Siapa bilang aku manusia?"

"Apa?!"

.
.
.

Alec tidak pernah melihat warlock lain selain Magnus. Mungkin pernah, dulu, dalam tugasnya sebagai seorang Nephilim, namun ia tidak pernah melihat warlock dengan tanda seperti ini. Helai bulu hitam mendarat di lantai ketika gadis di hadapannya ini melebarkan sepasang sayap sekelam malam di punggungnya. Bulu-bulu itu terus menutupi tubuhnya sebagai tanda, memanjang ke leher dan meliputi kedua lengannya. Wajahnya terlihat bosan ketika Magnus membuka mulutnya dengan takjub, seperti sudah biasa melihat reaksi berlebihan dari sesamanya.

"Aku warlock. Ayahku adalah ayahmu. Itu berarti aku adikmu." Nada suaranya datar.

"Ayahku? Darimana kau tahu kalau ayah kita sama? Berapa umurmu? Siapa ibumu? Dimana kau lahir?" berondong Magnus setelah melompat dari kursinya dan mendekati sang 'adik' untuk kemudian mengamatinya dengan seksama, seolah ia adalah satu subjek eksprimen yang menarik.

"Umurku tiga ratus tahun. Ibuku seorang Jepang, sudah mati dibunuh oleh masyarakat begitu melahirkanku. Ayah angkatku yang mengurusku sampai akhirnya ia mati dibakar oleh rakyat di kota yang baru, yang mengira aku membawa malapetaka--yang memang benar, karena aku juga membakar habis kota itu. Lalu, mengenai kenapa aku tahu kalau ayah kita sama, karena aku bertemu dengannya dan dia bilang aku punya kakak bernama Magnus."

Magnus berhenti mengamati warlock muda di hadapannya. "Maksudmu bertemu?"

"Dia menjelma sebagai ayah angkatku, setelah aku membakar habis kota yang membunuhnya. Meski begitu mirip, aku langsung tahu kalau dia adalah ayah biologisku, dari senyumnya yang sinting dan keji. Ia tertawa terbahak-bahak sambil sesekali menendang mayat yang sudah berubah jadi arang, lalu berkata padaku tentang dirimu."

"Dia menyuruhmu mencariku?"

Gadis itu menggeleng. "Tidak. Aku kemari karena aku sedang tidak ada tujuan maupun pekerjaan. Daripada aku bosan, lebih baik kucari saja siapa kakakku. Karena ia memberitahu namamu secara spesifik, 'Magnus', dan kuasumsikan kau juga seorang warlock, aku mencari keberadaanmu lewat Konsil Warlock. Beruntung sekali, karena dari ribuan warlock di muka bumi ini, hanya ada satu yang bernama Magnus."

Magnus mengerjap. Tidak. Ia tidak percaya. Ia, di antara semua makhluk di dunia ini, punya seorang adik?

"Lalu, namamu siapa?" Alec angkat suara. Gadis itu menoleh pada Alec dan tersenyum tipis dan jahil--senyum yang entah kenapa sedikit mirip dengan Magnus.

"Nama asliku, Akari. Tapi, ayahmu, Magnus, memutuskan untuk mengganti namaku dengan Faux."

"Jadi, namamu adalah Faux Bane?"

"Tidak!"

"Tidak!"

Magnus menoleh kepada Faux.

"Aku tidak mau punya nama keluarga Bane. Bisa-bisa semua orang tahu aku adikmu dan reputasiku berantakan."

"Oho. Kau kira siapa aku, hah?"

"Kau? Magnus Bane. Warlock yang dilarang masuk ke Peru, Perancis, dan banyak negara di dunia ini karena terlalu vulgar, kasar, binal, dan--

"Oke! Cukup! Cukup!"

.
.
.

"Eh? Kau dilarang masuk ke negara? Memangnya kau melakukan apa?"

Monday, 19 August 2013

Martyr

(c) Masami Kurumada
(c) Toei Animation

.
.
.


"SEIYA!!!"

Kouga tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya. Kakinya melangkah begitu lebar, tangannya mengayun panik. Ia juga tidak tahu, mengapa dadanya begitu panas, pandangannya buram, dan nafasnya tercekat.

Ia hanya tahu, Seiya berada dalam bahaya.

Lalu, semua gelap.

.
.
.


Wednesday, 14 August 2013

Senja

(c) Akai Higasa

.
.
.

"Oi. Siapa namamu?"

Pemuda berambut hitam itu mendongak. Siang ini, matahari habis-habisan melepas energinya ke muka bumi. Awan pun seolah enggan, menolak mentah-mentah, menghadapi polah matahari yang makin hari makin menjadi. Musim panas menggelayuti langit, menaikkan uap air, menambah kelembaban, membuat malas. Di sudut matanya, ia bisa melihat betapa cerahnya langit siang ini. Birunya memanjang terus sampai cakrawala. Yang kini terhampar di depan matanya bukan lagi warna biru yang tenang dan menghanyutkan.

Merah. Membara. Meletupkan ledakan kecil di dalam dadanya. Meracuni isi kepalanya.

Membesarkan angannya.

"Oi!" tuntut si rambut merah, seolah mengerti bahwa pikirannya sedang melayang entah ke mana.

"Namaku Ren. Hiren. Kau?"

"Hm? Dante. Dante Farnesse, tapi cukup panggil aku Dante."

.
.
.

"Oi! Hiren!"

Telinga Hiren sedikit naik. Ia segera berbalik dan menemukan Dante sedang berlari ke arahnya. Pakaiannya serampangan, seperti biasa. Mahasiswa jurusan ekonomi itu tidak mau buang-buang waktu untuk sekedar mengancingkan kemejanya, atau merapikan kerah bajunya, atau mungkin mengikat rambutnya. Seratus delapan puluh derajat dengan Hiren. Penghuni fakultas hukum ini selalu memasukkan kemejanya; selalu mengancingkan kemejanya sampai atas; selalu memakai sweater atau rompi.

"Ada apa? Kenapa lari-lari begitu?"

Dante sedikit terengah sebelum mendongakkan kepalanya untuk menjawab Hiren. "Dio," geramnya. Hiren mengerutkan dahi.

"Dio?"

"Oi! Dante!!!"

Hiren menengok ke arah suara. Sejurus kemudian, pupilnya membulat. Replika Dante sedang berlari ke arahnya. Garis wajahnya, rambutnya yang panjang dan membara terkena sinar matahari, dahinya yang berkerut marah, posturnya. Hanya saja, kembaran Dante ini memakai kaus santai dengan celana jeans hitam yang terpasang rapi di tubuhnya. Rapi. Rambutnya pun diikat dengan rapi. R-a-p-i. Miringkan kata itu, dan semua orang pun akan tahu bahwa siapapun yang ada di hadapannya ini pasti bukan Dante.

"Gah! Dio! Mau apa sih?"

Ah. Hiren menyimpulkan. Ini pasti Dio Farnesse, adik Dante yang beda dua tahun saja darinya.

"Berapa kali kubilang, jangan bolos! Nilai kehadiranmu sudah hampir melewati batas. Kalau kau benar-benar butuh bolos karena sakit atau apapun, terus bagaimana?!" seru Dio.

"Ya gampang. Tidak usah masuk saja."

Dio mengangkat tangannya, mengayunkan, dan menampar kepala Dante dengan bunyi yang keras. Membayangkan kepalanya ditampar begitu kencang, Hiren hanya bisa berjengit dan mengasihani Dante dalam hati.

"Aduh! Kurang ajar kau!" Dante mengepalkan tinju dan bersiap menyarangkannya di wajah Dio, sebelum lengannya keburu ditahan oleh Hiren. Kedua kepala bersurai merah itu langsung menoleh ke arahnya, dan Hiren mau tidak mau merasa canggung ditatap oleh dua kepala yang hampir sama.

"Siapa dia?" tanya Dio.

Dante menatap Hiren untuk beberapa saat. Hiren mengangguk dengan senyum tipis terukir di wajahnya. Si rambut merah lalu menurunkan tangan dan melipatnya di dada. "Kenalkan, ini Hiren."

"Halo. Kau adiknya Dante, 'kan? Dio?"

Dio mengangguk. "Si. Dio Farnesse. Salam kenal," ujarnya sambil mengulurkan tangan. Hiren menyambut uluran tangannya.

"Kau, satu fakultas denganku, 'kan?" tanya Hiren.

"Yeah. Aku pernah lihat kau. Di festival budaya, kau yang pakai pakaian gadis cina dan menjadi pelayan di cafe itu kan?" Dio nyengir lebar, tidak menyembunyikan betapa ia merasa pria jangkung berotot di hadapannya ini sangat lucu ketika memakai pakaian wanita.

"Ah, jangan mengungkit, Dio. Kalau bisa aku ingin menghapus masa suram itu dari ingatanku."

Dio tergelak. "Kau lucu, Hiren. Sepertinya seru jadi temanmu. Pantas saja Dante tidak pernah absen menceritakan betapa konyolnya dirimu."

"Dio!!!"

Dio dan Hiren menatap Dante, yang jelas kesal setengah mati.

"Ayo pergi!" seru Dante, menyeret Dio pergi, meninggalkan Hiren kebingungan. Dalam usahanya melepaskan diri dari genggaman Dante, Dio menyempatkan diri untuk mengucapkan sampai jumpa pada Hiren. Hiren hanya membalas sekadarnya. Pikirannya keburu melayang pergi terburu-buru menuju tempat perenungannya jauh di atas awan.

.
.
.

Kenapa Dante tiba-tiba marah?

.
.
.

Dan hari-hari selanjutnya berjalan dengan sangat canggung.

Dante tidak lagi menyapanya seperti biasa, Hiren yang harus ambil inisiatif untuk mengejarnya. Terkadang, Dante pura-pura tidak melihat Hiren, yang tidak mungkin mengingat tinggi Hiren yang menjulang dan rambut hitam ikalnya yang kontras di antara warna-warna artifisial tren masa kini.

Ada yang seperti patah di hatinya ketika ia melihat Dante membuang muka. Ada yang tenggelam di dalam angannya ketika ia tahu Dante pura-pura tidak melihatnya dan tidak mau menyapanya. Ada yang rusak dengan isi kepalanya, ketika tanpa sadar ia memejamkan mata dan mati-matian menahan ledakan dalam dadanya.

.
.
.

Satu pukulan di kepala dan Dante menengok ke belakang, menatap Dio yang sedang menatapnya angkuh. Ingin rasanya Dante menumpahkan kopi panas ke wajah adiknya yang semakin hari semakin kurang ajar. Dio mendengus sebelum menarik kursi dan ikut duduk di meja yang sama.

"Aku tidak mengerti isi kepalamu, Dante. Apakah terlalu kosong atau terlalu penuh. Taruhanku sih terlalu kosong, tidak ada isinya sama sekali."

"Bocah brengsek, datang-datang malah ngejekin. Mau kubuang di Teluk Tokyo?"

"Kau, yang isi kepalanya sudah hanyut di Pasifik," ujar Dio dengan sangat santainya, disertai gerakan tangan yang mendorong kepala sang kakak. Kerutan urat yang tegang sudah muncul di pelipis Dante. "Sungguh, aku tidak mengerti dengan cara berpikirmu," lanjut Dio seolah tidak terjadi apa-apa, "kau yang pertama kali mendekatinya, lalu kau juga yang menjauhinya begini. Apa sih maumu? Tarik ulur? Oh, please. Teknik macam begitu sudah tidak lagi berlaku. Kalau kau suka, kau bilang, Kalau kau tidak suka, jangan main api. Begitu saja kau tidak mengerti?" Dio menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dante tidak lagi memasang wajah kesal. Ia bersandar di kursinya. "Bukan begitu."

"Lalu? Kau harus lihat bagaimana mukanya. Persis seperti anak anjing yang dibuang. Kalau aku jadi dia, aku bakal segera cari yang baru saja."

"Begitu? Tapi, tidak pernah ada apa-apa juga. Jadi bukan urusanku kalau misalnya dia punya pacar baru atau--

"Pacar baru? Memangnya kalian pernah jadi?"

.
.
.

Hiren menghela napas dan menatap lurus ke depan. Ayunan yang didudukinya sudah terlalu kecil untuk badannya. Di hadapannya, terhampar kota tempatnya tinggal, disinari cahaya oranye-kuning yang redup. Langitnya mulai berwarna kuning, dengan sedikit gradiasi biru-merah muda-ungu terbentuk di ujungnya. Matanya tidak bisa lepas dari semburat kemerahan yang dihantarkan oleh sang surya yang mengantuk. Merah yang membara, melekat dalam benak, mewarnai seluruh pembuluhnya, mengisi relung hatinya.

Hiren jarang jatuh cinta. Sekalinya ia jatuh, selalu begini. Ia selalu jatuh pada bintang timur di langit, pada purnama yang memeluk gelap, pada pelangi yang muncul semaunya. Pada apa-apa yang tidak pernah bisa ia jangkau. Kali ini, ia jatuh untuk matahari senja yang kemerahan, yang muncul sesaat sebelum tenggelam dalam pelukan malam.

Selalu, yang tidak tergapai. Yang terlalu jauh di depannya. Yang terlalu sempurna baginya.

.
.
.

Lalu canggung, lagi. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada tanda-tanda badai musim panas, dan Dante mendadak menyapanya serta mengajaknya makan siang. Celaka dua belas bagi Hiren, karena hari itu ia sama sekali tidak membawa payung ataupun jas hujan. Pun, uangnya hanya cukup untuk kereta pulang karena tiket abodemennya sudah habis. Ia sudah membayangkan harus menginap di ruang klub judo, tidur beralaskan kayu atau matras bau keringat, ketika Dante berdeham pelan. Salah tingkah.

"Aku... Hiren... aku mau... maaf."

Apa Hiren tidak salah dengar? Dante ingin ia meminta maaf? "Kau mau aku minta maaf?"

"Bukan! Bukan bukan!" Dante menjawab panik. "Maksudku, aku mau minta maaf."

"Untuk?"

Dante menggaruk kepalanya. "Err... untuk menghindarimu, dan... menghindarimu."

Sebenarnya Hiren masih tidak mengerti jalan pembicaraan ini. Satu-satunya jawaban yang bisa ia pikirkan adalah, "Begitu."

"Ya. Begitu."

Lalu, canggung lagi untuk yang kesatujutaduaratuslimapuluhsekianribu. Hiren menatap wajah Dante yang menunduk. Perlahan, ia bisa melihat ada rona merah yang mewarnai kedua pipi Dante, kemudian menjalar terus dan terus, sampai akhirnya wajahnya merona merah sampai telinga.

"Yah! Pokoknya aku minta maaf! Ya! Dah!"

Dante teburu-buru berdiri dan berbalik, menabrak waiter yang sedang berjalan, tersandung kursi, dan terjatuh.

Hiren tidak bisa tidak tertawa melihat aksi teatrikal di hadapannya.

.
.
.

"Dante."

"Mmm?"

"Dante."

"Ada apa?"

"Dante. Dante. Dante."

"He... hentikan! Apaan 'sih?!"

.
.
.

Pada akhirnya, matahari senja memang jatuh pada pelukan malam. Pada gelap yang sempurna dan begitu tenang, pada rumahnya ketika dunia terasa begitu kejam untuk dijalani. Padanya.

Sunday, 11 August 2013

Drown

(c) Akai Higasa

.
.
.

"Sampai jumpa lagi, Riddle-ku yang cantik."

.
.
.

"Oi. Riddle."

Riddle memalingkan wajah dan menyapa sepasang mata hitam yang menatapnya bingung. Maniknya begitu gelap dan dalam, memicu kupu-kupu jiwa meledak dalam dada.

"Ya? Ada apa, Hayato-kun?"

"Tumben kau melamun begitu. Ada apa?"

Senyum. Riddle tersenyum lebar, manis, sampai mata hijaunya berkilau begitu bahagia, membutakan mata. Lagi, kupu-kupu meledak seperti kembang api dalam dadanya.

"Hayato-kun, perhatian sekali kepadaku."

Lalu Hayato memerah, merona, sampai telinga, membuat Riddle mau tak mau menarik senyum lebih lebar dan gelak lebih puas. Membuat Riddle terbang dalam ayunan bahagia tak berbatas.

.
.
.

"Sampai jumpa lagi, Riddle."

.
.
.

Untuk tenggelam. Lagi.

.
.
.

"Sampai jumpa."

.
.

Tuesday, 6 August 2013

Miss You

(c) Lyto
(c) Lee Myoung Jin

.
.
.

"Mulia banget. Mengorbankan diri sendiri sampe luka-luka begitu, Ray."

Raya menoleh, menatap musuh bebuyutan--sekaligus mantan sahabatnya. Bibirnya lalu tertarik tipis.

"Aku tidak se-noble itu, Las. Sama sekali."

"Jadi, definisi tidak noble untukmu adalah membukakan jalan buat party member dengan cara menarik aku jatuh ke air terjun? Hampir tujuh tahun kita tidak bertemu, aku masih tidak bisa memahami cara pikiranmu bekerja. Tidak. Sama sekali."

Raya tergelak, terbahak, tertawa puas. Ia berbaring dan memegangi perutnya, sementara derai gelak tidak berhenti meluncur renyah. Mendengar untai melodi ini, ada yang mengusik hati Laskar. Rindu, nyaman, kenangan, rumah. Raya pernah menjadi rumah baginya, dan mungkin akan selamanya. Laskar tahu, keputusannya berpihak pada Republik Schwartzvald, bukannya Kerajaan Midgard, akan membuat mereka berdiri di dua pihak yang berseberangan dan pertemuan mereka selanjutnya akan menjadi zona perang yang tidak terelak. Apalagi....

"Aku tidak akan minta maaf karena sudah membunuh Thomas."

Tawa Raya berhenti. Laskar memperhatikan perubahan ekspresinya. Ketika Raya menatapnya, Laskar harus menggunakan semua keberaniannya untuk tetap bersikap biasa.

"Thomas sudah kuanggap seperti ayah sendiri."

"Aku tahu."

"Dan kau sudah dianggap seperti anaknya."

"Aku tahu."

Raya menghela napas. "Kematian Thomas. Kalau boleh jujur, sebenarnya tanganku sangat gatal ingin meninju, mengubahmu menjadi seonggok daging, saat ini juga." Raya mengepalkan tangan dan mengkeretakkan sendi-sendi jarinya.

"Kenapa tidak kau lakukan?"

"Duh! Sudah jelas, bukan? Aku tidak mungkin mengubahmu jadi seonggok daging hanya gara-gara Thomas! Lagipula, takdirnya sudah jelas. Hari itu, cepat atau lambat, ia pasti mati. Salah satu pisau para assasin itu berhasil mengenainya. Kau tahu sendiri, entah racun dari tumbuhan atau binatang mana yang ada di atas bilah pisaunya. Kalau dia masih menghantui kita, rasanya dia akan berterima kasih padamu karena mempercepat kematiannya. Dan kalau memang benar ia masih berkeliaran di muka bumi ini, kemudian mengetahui aku menghabisimu demi balas dendam atas kematiannya, bisa-bisa keturunanku dikutuk olehnya. Hih. Membayangkannya saja aku sudah merinding."

"...."

"Oi. Kasih komentar apa, gitu?"

"Ng... bukan... maksudku...."

"Oh ayolah, Laskar!" seru Raya, gemas pada perilaku Laskar yang seperti habis kena hajar tinju troll tepat di kepala, "kau tahu aku paling tidak bisa baca bahasa isyarat! Mau kau bebani otakku sebagaimana lagi sampai kau puas, haa?!"

"Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku tidak akan memberi komentar apapun. Lagipula, kau belum menjawab pertanyaanku, Raya. Kenapa kau mau repot-repot menerjangku jatuh ke air terjun, basah kuyup dan terluka begini, kalau bukan untuk suatu alasan yang sangat mulia?"

Seolah pertanyaan Laskar adalah hal paling lucu di dunia, Raya nyengir lebar.

"Well, aku kangen padamu, tahu!"

Thursday, 1 August 2013

Brothers

(c) Masami Kurumada
(c) Broccoli

.
.
.

Minos Aidoneus. Pemuda yang sedang ada di puncak masa remajanya. Ketua OSIS, peringkat satu baik di angkatannya maupun di seantero sekolah, putra dari salah seorang penguasa ekonomi di dunia. Tidak ada yang tidak ia miliki. Didukung dengan wajahnya yang di atas rata-rata dan kemampuan komunikasinya yang sangat persuasif, bumi pun seolah bisa ia balikkan hanya dengan satu ulas senyum saja.

Kecuali....

"Rhada!"

Bola oranye melambung di langit, membentuk kurva setengah lingkaran sempurna, kemudian mendarat dengan mulus di tangan seorang pemuda berambut pirang. Senyum lebar mengembang di wajahnya ketika ia mulai berlari sambil memantul-mantulkan bola tersebut. Bergerak zig-zag, berkelit, memindahkan bola ke tangan yang satu, semuanya dilakukan dengan halus. Rhadamanthys seperti sedang menari di lapangan.

"LARI! LARI, RHADE! LARI!!!" seru Aiacos sembari mengacung-acungkan tangannya, meninju udara kosong. Pemuda berambut hitam ini tidak bisa menutupi kegirangannya. Ia menumpukan dirinya di pagar pembatas lantai dua, mencondongkan badannya ke depan. "LARI! RHADE! SHOOOOOT!!!"

BRAK!

Slam dunk. Tepat di depan mata center lawannya.

Tepat saat wasit meniup peluitnya.

"Game set! Pemenangnya Yomomi High!!!"

.
.
.


Friday, 26 July 2013

Danger!

(c) Kouji Ouji

.
.
.

"Rei-chan~"

Ryugazaki Rei, salah satu pemuda malang bernama seperti perempuan, menoleh ke arah sumber suara. Yang menyapanya adalah rambut berwarna jerami dan deretan gigi rapi yang terbingkai sempurna oleh cengiran lebar. Manik mata merah-coklat berkilat nakal. Rei menyipitkan matanya, curiga.

"Apa?"

"Uuu~ Rei-chan galak sekali~"

Rei menghela napas. Tidak ada gunanya bersikap galak pada teman seangkatannya yang konyol ini. "Apa maumu, Nagisa?"

Saat cengiran di wajah Nagisa semakin lebar, Rei refleks menelan ludah. Insting primitifnya mendadak menyala, membisingkan alarm peringatan akan bahaya. Tiba-tiba ia merasa sudah menanyakan pertanyaan yang seharusnya tidak usah ditanyakan.

"Temani aku belanja."

Wednesday, 24 July 2013

Wonderland

Hamparan mawar. Hitam putih hitam putih hitam putih.

Seorang manusia bertelinga kucing dan berpakaian sweater berbulu belang-belang dengan senyum lebar menyebalkan.

Seorang manusia berkacamata dengan tuksedo warna putih dan sepatu oxford hitam yang selalu cemas dengan jam sakunya.

.
.
.

Albafica bangun dengan kepala ringan.