Thursday, 29 November 2012

Fast and Furious

Satya menginjak pedal gas lebih dalam, memaksa knalpot ganda-nya berderu lebih nyaring, memancing umpatan kesal dan decak kagum pengguna jalan yang lain. Melaju semakin kencang, menembus angka seratus. Maju, terus, menyalip truk, bis, mobil, hampir menyerempet pembatas jalan. Ugal-ugalan.

Kalau mengingat berapa nominal angka yang harus ia ambil dari dompet untuk sekedar memberi makan kendaraannya, Satya pasti akan berpikir dua kali sebelum mengebut tidak jelas dan berbahaya begini. Tapi, ketika ia tidak sedang terlalu banyak pikiran dan tidak punya tempat untuk melampiaskannya, maka Rodriguez--nama mobil Honda Jazz hitamnya--harus mau menjadi tempat sampah bisunya.

Bisa juga, ia mencari keributan dengan universitas tetangga seperti masa-masa keemasan SMA-nya dulu ketika ia adu jotos dengan sekolah tetangga hanya karena bosan. Namun, mengingat siapa yang akan mengamuk dan marah dan menangis tidak jelas kalau ia sampai pulang berantakan.

Emosinya seketika naik lagi, ia lalu menginjak rem dan menggerakkan stir tiba-tiba ke kanan, menyalip mobil berplat B yang juga mengebut di sebelah kanan jalan, memancing klakson panjang dari mobil tersebut, sebelum akhirnya ia menepi ke rest area.


Thursday, 22 November 2012

Sweet Escape

13 November 20xx 07.40 AM

Happy Birthday! Semoga semoga semoga semoga! Makan-makan! XD

.
.

Perlu waktu hampir dua puluh menit bagi Luca untuk mengetik pesan singkat elektronik sepanjang satu kalimat itu. Dua puluh menit. Sebelum akhirnya ia menekan tombol hijau, memasukkan ponselnya ke dalam tas, dan menyetir melenggang melewati jalan tol menuju kampusnya sambil senyum-senyum tolol.

.

15 November 20xx 00.18 AM

Happy Birthday! Semoga jadi lebih baik dalam segala hal :D

.
.

Stres dan angin laut terbukti bukan kombinasi yang bagus untuk tubuh Luca. Baru sehari menginjak Bali, tubuhnya langsung protes tidak karuan. Protes karena ajang kaburnya si hati dari segala resah gelisah justru jadi ajang logika untuk unjuk gigi soal kemampuannya mengingat-ingat tanggal deadline. Demam dan menggigil semalaman ditambah batuk tidak jelas akhirnya menyerang. Untung, Mas Riza tidur seperti batang pohon. Kalau tidak, ia sudah diceramahi habis-habisan soal menjaga kesehatan dan menyusahkan orang.

Tapi cukup satu kalimat, satu kalimat singkat dari satu pesan singkat elektronik, suhu tubuhnya membaik dan batuknya pelan-pelan reda. Satu pesan singkat yang membuatnya (lagi-lagi) tersenyum seperti orang kelebihan gula.

Satu kalimat, dari Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut.

Sea, sand, and sun

Bali.

Debur ombaknya, gerahnya, semerbak wangi dupa yang menyengat, patung-patung dewa paling epik, lukisan-lukisan yang mendobrak segala macam teori logika manusia tentang imajinasi, mataharinya yang gagah di atas kilau biru laut lepas, dan pasirnya yang menggelitik sela-sela jari kaki sambil sesekali terbawa angin dan menampar dahi.

Bali, romansa dunia, tempat tinggal para Dewa, tempat banyak cinta muncul.

Luca sangat mencintai Bali, sangat cinta sampai ia ingin segera pergi dari tempat tinggalnya di balik gunung dan menjadi penduduk tempat pulau itu. Sebenarnya yang Luca cintai bukan segala etnik kultur budayanya, melainkan lautnya.

Ombak, tebing karang curam, biru-hijau-toska, debur merdu. Laut.

Sebut saja satu nama tempat di dunia dengan laut sebagai pesona utamanya. Luca akan dengan senang hati mengepak barang dan kameranya untuk segera meluncur ke tempat itu.

Karena, sungguh. Luca jatuh cinta pada laut. Jatuh cinta pada ketidakterbatasan yang ditawarkannya, pada ketenangan yang anomali, pada luas dan luwesnya, pada seluruhnya yang ia tidak miliki.

.
.

Satu hal yang Luca sesalkan adalah bagaimana laut juga menjadi satu hal yang mengorek kenangannya.

Thursday, 1 November 2012

Years of Youth #15

Kardia,

Aku tak berani membaca hatimu. Bukan, bukan karena aku tidak bisa, lebih karena aku tidak mau.

Aku takut. Takut. Takut berekspektasi, takut melukai hati sendiri. Takut.

Begitu pun ketika aku memutuskan untuk berhenti bersamamu. Aku takut, Kardia. Takut. Takut pada akhirnya aku jadi tidak mampu kehilanganmu, tidak bisa berjalan di sampingmu.

Takut tidak lagi kau cintai.

Impulsif, ya. Kekanakan, ya. Tidak berpikir panjang, ya. Orang-orang boleh bilang aku adalah kebalikan dari apa yang kusebutkan, namun di depanmu itulah aku.

Dan, mendengar apa yang kau katakan, menerima perlakuanmu, dan pada akhirnya mengerti semuanya, sungguh....

Aku cinta padamu, Kardia. Sekarang dan mungkin selamanya.

Degel
.
.
.

Hari itu, Milo memilih tidur di Aula Besar saja, sampai akhirnya Apollo mengajak pemuda malang itu ke bangsal rumah sakit dan menyuruhnya tidur di sana. Malam itu, Ruang Bersama Gryffindor dipenuhi oleh sumpah-serapah, menyumpahi seorang bermata biru yang tertawa-tawa, melompat-lompat, dan menari-nari kegirangan sepanjang malam hanya karena sepucuk surat yang dititipkan untuknya lewat Milo.