Sunday, 29 June 2014

Goodbye

Disclaimer :

K (c) GoRa & GoHands

.
.
.

Hari itu, tiga minggu setelah kematian Totsuka Tatara, dunia Suoh Mikoto runtuh seutuhnya.

Ketika Pedang Damoscles nya mulai jatuh dalam gemuruh, ia terlalu larut dalam perih harapan bahwa dirinya akan bebas di pelukan maut. Ia terlalu percaya bahwa Reishi akan menjalankan tugasnya sebagai Raja Biru dan mengirimnya ke alam sana dalam satu gerak cepat.

Ia lupa, bahwa sedingin apapun sang Raja Biru, satu potongan besar hatinya terisi oleh sosoknya. Sosok Suoh Mikoto.

Dan Reishi, tidak sekuat itu untuk dapat hidup tanpa Suoh Mikoto di dalamnya.

.
.
.

Yang ia lihat di hadapannya sosok pemuda yang terbaring dengan merah menggenang di sekelilingnya.

Semuanya terlalu cepat bagi Mikoto. Yang ia bisa tangkap, adalah bahwa Reishi melakukan sesuatu yang membuat Weissman level-nya kembali normal.

Dan Pedang Damoscles Reishi pecah jadi serpih.

"Su...oh."

Mikoto berlutut di samping Reishi. Matanya panas entah oleh apa. Ia menggenggam tangan Reishi yang terjulur ke arahnya. Dingin. Mikoto membakar aura merahnya untuk menghilangkan sensasi dingin tersebut, namun nihil.

Reishi semakin dingin, semakin pucat.

"Su...oh.... Maaf... aku tidak bisa membunuhmu."

"Apa maumu, Munakata?"

"Aku... tidak sekuat itu... Suoh." Reishi mengatur napasnya. Ia menekan bagian tubuhnya yang mengeluarkan darah. "Scepter 4 akan baik-baik saja tanpaku. Tapi HOMRA akan gila tanpamu. Dan aku...."

"Kau apa?"

"Aku... tidak...."

Aku tidak mau membunuhmu. Aku tidak bisa kehilanganmu.

"Dan kau pikir, yang kau lakukan ini tidak akan memberikan efek apapun padaku?"

Reishi mengerjap sesaat, lalu tersenyum tipis. Napasnya makin berat, matanya semakin mengantuk.

"Maaf.... Mikoto. Sampai... jumpa."

Friday, 27 June 2014

Bet

Disclaimer :

K (c) GoRa & GoHands

made for mikoreiweek day 2 : motifs.

.

.

.

Hari Senin minggu kedua setiap bulannya, ketika semua anggota HOMRA sudah kembali ke rumah masing-masing, adalah saat dimana Izumo Kusanagi mengeluarkan coffee maker yang tersimpan apik di dalam lemari. Dengan hati-hati ia menyimpan mesin tersebut di atas counter bar-nya yang mengkilat. Salah satu alasan mengapa benda ini hanya dikeluarkan sebulan sekali, adalah karena Senin minggu kedua adalah hari di mana Totsuka Tatara menginap di lantai dua bar miliknya, dan pemuda yang selalu tersenyum itu memiliki kesenangan yang aneh dengan kopi susu. Setelah mengelap mesin kopinya, ia mengambil setoples penuh biji kopi yang siap diproses. Baru saja ia memasukkan satu sendok besar ke dalam toples, lonceng pintu bar berdenting pelan.

Kusanagi menoleh ke puntu masuk dan mengharapkan menemukan Totsuka Tatara sedang tersenyum ceria sambil berseru, “Halo Izumo-san! Hari ini aku menginap lagi!”

Namun, yang sedang berdiri di sana bukanlah pemuda bersurai coklat madu, melainkan seseorang dengan rambut biru pekat. Dengan wajah datar, Munakata Reishi masuk ke dalam bar sambil menepuk-nepuk pundaknya yang penuh salju.

Kusanangi mengerutkan dahinya. Jarang-jarang sang Raja Biru mau bertandang ke markas musuh besarnya seperti ini. Ralat. Sejak kapan Munakata Reishi memilih HOMRA sebagai tempatnya melepas penat sebelum pulang ke rumah?

“Halo, Munakata-san. Ada angin apa sampai Raja Biru datang ke tempat ini? Tidak ada salah satu anggota klan kami yang sedang adu jotos sampai menghancurkan separo kota, ‘kan?” tanya Izumo was-was.

“Sejauh yang kudengar, tidak ada. Lagi pula, ini sudah pukul dua belas.Aku yakin semua anggota klan merah sudah kembali ke rumahnya masing-masing, kecuali kau dan strain kecil itu,” jawab Reishi sambil berjalan ke counter. Ia lalu duduk di salah satu kursi, dan menatap gelas-gelas transparan berbagai bentuk serta berbagai macam botol minuman beralkohol. “Koleksi minumanmu lengkap juga, padahal menjadi bartender bukan pekerjaan utamamu, ‘kan?”

Izumo terkekeh geli, kemudian kembali pada pekerjaannya membersihkan coffee maker. “Menjadi bartender ini seperti hobi, Munakata-san. Dan aku tidak mau menjadikan hobiku sebagai pekerjaan utamaku.”

“Begitu?”

“Uh-huh. Jadi, ada apa kau datang kemari, Munakata-san?”

“Aku datang karena kalah taruhan.”

Kali ini, Izumo benar-benar menghentikan pekerjaannya dan mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Reishi. “Maksudmu?”

Reishi menghela napas. “Suatu hari ia datang ke ruanganku di markas SCEPTER 4 untuk alasan yang aku tidak tahu apa dan menghabiskan satu bungkus rokok, memenuhi mejaku dengan abunya, dan membuat laporan-laporan yang harus kubaca kotor. Hampir saja Awashima-kun menebas kepalanya. Kemudian kukatakan—

“—kalau aku berhasil tidak merokok seminggu maka ia akan datang ke HOMRA dan minum denganku.”

Suara serak dan berat yang meneruskan kalimat Reishi berasal dari pintu. Ia dan Izumo menoleh, menemukan pemuda bersurai merah berantakan sedang berdiri dengan seorang pemuda berwajah manis tiba-tiba muncul dari balik punggungnya.

“Yo, Kusanagi-san! Aku bertemu Raja di jalan. Kuajak saja dia ke sini sekalian!” tukasnya. Ia lalu masuk, melewati Suoh Mikoto yang masih berdiri di depan pintu, dan menghampiri Munakata. “Selamat malam, Raja Biru! Kenalkan, namaku Totsuka Tatara!”

“Halo, Tatara-kun. HOMRA memang dipenuhi orang-orang yang menarik, ya?” Seulas senyum menghiasi wajah Reishi. Totsuka membalasnya dengan senyum yang lebar dan polos, seperti biasa.

“Baiklah, aku mau membereskan futon di kamar atas. Kusanagi-san, aku mau kopi susu!” ujarnya lagi, kali ini pada sang pemilik bar. Izumo hanya menghela napas sebelum memberikan gestur tangan supaya Totsuka menyegerakan apapun yang hendak ia lakukan.

“Baiklah, aku tidak tahu apa masalah kalian berdua, tapi kumohon jangan sedikitpun kalian menghancurkan atau membuat keributan di sini. Oke?” Izumo menekankan kalimatnya, sebelum dengan cepat membuat dua kopi susu panas dan pergi ke lantai dua.

Meninggalkan Munakata Reishi dengan Suoh Mikoto berdua saja.

Munakata menghela napas. “Aku tidak mengerti, kenapa aku mau saja terlibat taruhan bodohmu.”

Satu dengus mengejek, dan beberapa detik setelahnya Mikoto sudah duduk di samping Reishi. “Kalau itu berarti kau datang ke HOMRA, bertaruh berapa kali lagi pun pasti kulakukan.”

Reishi menatap Mikoto dengan ekspresi yang sulit dibaca. Manik ungunya menatap lekat wajah di hadapannya. Sesekali, manik amber Mikoto melirik Munakata sampai akhirnya ia tertawa kecil dan memalingkan wajahnya.

“Kau yakin menang, Suoh?”

“Oh, aku selalu menang, Munakata.”


Wednesday, 25 June 2014

Kepiting sinting paling garing

(c) Masami Kurumada

.

.

.

"Aku tahu, kenapa kau menolakku."

Aphrodite mengerutkan dahinya. "Maksudmu?"

Deathmask--Angelo menganggukkan kepalanya. "Ya. Karena kau merasa penuh dengan eksistensiku. Kan?"

"Err.... Angelo? Aku sungguh tidak mengerti. Aku menolakmu karena aku tidak bisa menganggapmu lebih dari teman, dan jelas tidak akan pernah lebih dari apa yang kurasakan pada Shura. Dan mungkin kau ketinggalan gosip karena Milo masih meracau soal suaranya yang kurang macho, tapi kau tahu 'kan kalau aku dan Shura...."

"Kalau kami sudah jadi pasangan." Shura melanjutkan. Tangan kanannya memegang erat tangan kiri Aphrodite, yang juga balas menggenggamnya. Mereka sedikit mencuri pandang penuh makna, sebelum tawa Deathmask mengembalikan mereka ke dunia nyata.

"Myoahahahaha. Aku tahu kalian pacaran. Tapi, Shura, tidak tahukah kau kalau semua ini hanya pelarian saja? Bahwa Aphrodite melarikan diri dari suatu rasa yang ia miliki padaku?"

Aphrodite mengerjap tidak percaya. "Ap--apa maksudmu.... Shura, kau tahu kepiting gila ini memang benar-benar tidak waras, 'kan? Jangan percaya apapun yang dia katakan!"

"Apa maksudmu, Deathmask?" ada nada suara yang mengancam dari sang Saint Capricorn. Cosmo-nya mendadak terbakar, meluap-luap meliputi dirinya dan terkumpul di lengan kanannya.

Siap membelah dua kepiting garing di hadapannya.

"Karena.... Di dadamu, ada kumisku, kan? Makanya kau menolakku dan malah pacaran dengan Shura? Karena aku sudah ada dalam hatimu sejak lama, 'kan? Dan Shura adalah pengalih dirimu yang begitu rindu padaku, 'kan???"

.

.

.

"LIA!PINJAMKAN LISTRIKMU! BIAR KUSETRUM SI KEPITING SINTING INI BIAR MATI BETULAN!!!"

Sunday, 22 June 2014

Jigsaw Puzzle

Disclaimer : K © GoRa & GoHands

made for mikoreiweek in tumblr. Day 1 : rivalry

.

.

.

Dahinya berkerut. Jari tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja tidak sabaran. Di hadapannya, terhampar potongan-potongan puzzle yang berantakan dan separuh jadi. Tangan yang satunya memegang sekeping potongan puzzle dan memutar-mutar benda itu.

Kalau ada satu hal yang bisa membuat Munakata Reishi mengerutkan dahi hanya untuk berpikir, maka jigsaw puzzle adalah jawabannya.

Sudah setengah jam ia berusaha menyelesaikan permainan ini—sesuatu yang biasanya dapat ia selesaikan dalam lima belas menit saja—namun tidak berhasil. Ia hanya bisa menyelesaikan sebagian kecil sudut bawah dan sedikit sisi atas. Padahal ini adalah puzzle 1000 kepingnya yang biasa. Apa karena ini versi terbaru dari yang sebelumnya ia mainkan, ia tidak paham. Rasanya tidak ada yang berubah kecuali warna dan gambarnya—Munakata melirik sedikit contoh gambar di kotak mainan tersebut.

Apa yang salah dengan benda ini sampai ia tidak bisa memainkannya seperti biasa?

“Kapten.”

Suara monoton yang tiba-tiba muncul membuatnya kembali ke dunia nyata. Ia mendongak dan melihat sang vanguard dari SCEPTER 4 sedang berdiri di depan mejanya dengan wajah malas yang biasa. Keberadaannya yang mengagetkan Munakata meyakinkan sang kapten bahwa anak buahnya ini—lagi-lagi—mengizinkan dirinya sendiri masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Oh. Fushimi-kun. Aku tidak mendengar kau masuk ke dalam ruangan.”

Saruhiko mendengus. “Tadi aku mengetuk pintu tapi sepertinya kau terlalu sibuk dengan apapun yang sedang kau kerjakan jadi aku masuk saja.”

Munakata tersenyum tipis. Ia sangat menyukai saat-saat dimana anak buah kesayangannya yang satu ini merasa terganggu. “Ah. Begitu kah?”

“Tch.”

Ini dia! Kalau Munakata bisa bertindak di luar karakter, maka ia akan menunjuk wajah Saruhiko dan mengatakan hal tersebut. Karena ada wibawa yang dipertaruhkan dari jabatannya, Munakata hanya mendengus geli dan berdeham. “Ada yang bisa kubantu, Fushimi-kun?”

“Aku hanya mau mengantar laporan mengenai kegiatan HOMRA minggu kemarin,” ujar Saruhiko datar.

“Baiklah. Simpan saja di tumpukan map itu,” Munakata menunjuk satu sudut di mejanya, “nanti kulihat. Terima kasih, Fushimi-kun.”

Saruhiko buru-buru menyampaikan tugasnya dan angkat kaki dari ruangan itu. Lebih lama lagi ia mendengar ocehan Munakata, bisa-bisa ia terjebak di obrolan satu sisi tanpa akhir dari Munakata. Dalam perjalanannya menuju ruang kerjanya, ia melihat Letnan Awashima berjalan menuju ruangan Munakata dengan membawa nampan makanan berisi nasi kepal dan semangkuk pasta kacang merah.

“Ah, Fushimi-kun. Kau baru dari ruangan Kapten?”

Saruhiko tidak bisa mengalihkan pandangannya dari semangkuk pasta kacang merah yang berada di atas nampan. Perutnya serasa melilit dan siap memuntahkan segala isinya saat itu juga.

“Fushimi-kun?”

“Permisi.”

Seri menaikkan alisnya ketika Saruhiko melangkah lebar-lebar dan berbelok ke kamar mandi tanpa membalas sapaannya. Memutuskan bahwa Saruhiko memang seorang pemuda dengan masalah tatakrama yang sudah tidak bisa diperbaiki lagi, ia meneruskan perjalanannya menuju ruangan Munakata.

.

.

.

“Kau ingin tahu hubunganku dengan Suoh Mikoto???”

Munakata hampir saja tersedak nasi ketika Seri—tidak ada angin tidak ada hujan—memutuskan untuk mengeluarkan isi pikirannya.

“Ya, Kapten. Maaf jika saya lancang. Rumor mengenai dirimu dan Raja Merah sudah terlalu banyak beredar. Mulai dari cerita tentang kalian adalah teman satu SMA, tetangga sejak kecil, atau rekan minum setiap malam di bar milik Kusanagi, dan lainnya yang bahkan di luar logika. Saya ingin mengetahui yang sebenarnya, dan kemudian memperbaiki rumor yang ada.” Seri menjelaskan panjang lebar. Munakata mengerjap sebentar sebelum menghela napas dan bersandar di kursinya.

“Sebenarnya, Awashima-kun, semua rumor itu benar adanya. Aku dan Suoh Mikoto adalah tetangga sejak kecil, teman SMA, dan rekan minum di bar HOMRA. Kau tidak perlu memperbaiki apapun lagi.”

Seri terdiam, berusaha mencerna informasi yang baru saja ia dapat. “Kalau, kau dan Raja Merah memang teman sejak kecil, kenapa hubungan kalian jadi seperti ini?”

“Selain karena kami sama-sama Raja?”

Seri mengangguk.

“Hmm…. Ceritanya panjang, Awashima-kun.”

.

.

.

Munakata kecil adalah replika dirinya yang sudah dewasa dalam bentuk lebih bantat dan polos. Sejak dulu, ia selalu membela teman-temannya yang dijahili oleh sekelompok anak-anak penguasa. Selalu jadi pahlawan di lingkungan kecilnya. Di taman kanak-kanak, ia adalah ketua kelas yang dapat diandalkan oleh semua guru. Di sekolah dasar, ia adalah ketua OSIS yang dihormati oleh semuanya. Begitu pula di jenjang pendidikan selanjutnya. Sebut saja nama jabatan-jabatan penting yang ada, maka nama Munakata Reishi akan tercetak sebagai salah satu yang pernah memilikinya.

Munakata Reishi begitu menyukai keteraturan, ketenangan dan keadaan yang seimbang, sampai sedikit keganjilan pun membuat tangannya gatal.

Dan keganjilan yang terus mengganggunya, adalah Suoh Mikoto.

Suoh Mikoto adalah salah satu bocah kecil yang tinggal di daerah rumahnya. Ketika Munakata kecil sedang hobi-hobinya menjelajah, ia menemukan anak kecil seumurannya sedang mengayuh sepedanya di pinggir sungai, dengan tiga ekor anjing besar mengejarnya. Anehnya, bocah berambut merah menyala itu tetap mengayuh sepedanya dengan santai seolah-olah tidak sedang dikejar oleh apapun, dan ketika pada akhirnya ketiga anjing tersebut berhasil menghadang jalannya, yang ia lakukan adalah turun dari sepeda dan menghela napas panjang.

“Menyusahkan saja.”

Lalu, menit selanjutnya, Munakata melihat ketiga ekor anjing tersebut sedang merintih tidak jelas di tanah, dengan si bocah berambut merah kembali melanjutkan perjalanannya sambil bersiul-siul sumbang.

Kali berikutnya mereka bertemu adalah di sekolah dasar. Ia kemudian mengetahui nama bocah tersebut adalah Suoh Mikoto. Rasa penasaran tidak membuatnya mencari lebih lanjut mengenai si rambut merah. Ia hanya mengamati saja ketika Mikoto lewat di hadapannya, atau ketika ia dihukum karena terlambat dan tertidur di kelas, atau ketika ia memergokinya tidur di bawah pohon, atau ketika nama mereka yang berdekatan—Munakata dan Mikoto—membuat keduanya berada dalam satu lomba lari jarak pendek yang sama.

Karena terlalu banyak mengamati, Munakata jadi tidak fokus dan kalah dalam pertandingan pertama mereka. Setelah itu, mereka tidak pernah berhubungan lagi. Kelas yang berbeda, lingkungan yang berbeda, dan pilihan SMP yang berbeda membuat keduanya terpisah begitu saja.

Interaksi mereka yang selanjutnya adalah ketika keduanya berada di SMA. Munakata adalah wakil dari murid baru yang diharuskan memberikan sambutan pada saat penerimaan siswa, ketika ia melihat ada warna merah yang mencuat di antara semua kepala.

Kehidupan SMA-nya setelah itu tidak lagi sama.

Munakata Reishi adalah ketua OSIS sekaligus anggota komite kedisiplinan, kapten klub kendo, dan seorang ketua kelas. Entah apa dosanya, Mikoto selalu membuat ulah dan dialah yang ketiban sial untuk membereskan segalanya. Ia juga yang diberi tugas oleh guru-guru dan ketua komite disiplin untuk mengingatkan Mikoto agar memakai seragamnya dengan benar dan mengurangi waktu tidurnya di kelas. Ia juga yang harus melerai anggota klub ketika tanpa sengaja Mikoto mengalahkan mereka semua di pertandingan kendo antar kelas.

Dan Munakata juga yang harus mengejar-ngejar Mikoto ke atap, di kantin, atau di taman sekolah hanya untuk menyeretnya masuk kelas—karena ia adalah ketua kelas dan satu kelas dengan si rambut merah sialan.

“Tidak bisakah kau melakukan sesuatu dengan benar, sekali saja?”

Satu hari di musim semi tahun kedua, Munakata hampir meledak ketika menemukan dirinya terjebak lagi dengan Mikoto di kelas yang sama. Setelah menyeret kakinya ke atap sekolah hanya untuk menemukan si rambut singa sedang makan roti melon dan minum susu strawberry dengan tenangnya sambil melihat langit biru, ia tidak tahan lagi.

Sementara Mikoto hanya menatapnya bingung. “Hah?”

“Mikoto Suoh! Bisakah kau masuk kelas dengan benar, memakai seragam dengan benar, dan melakukan semuanya sesuai aturan? Sekali saja?” Munakata terdengar payah tapi ia tidak lagi peduli.

Namun, Mikoto lebih tidak peduli. Lebih tepatnya, ia tidak mau pusing.

“Untuk?”

Detik ini, Munakata sudah habis akal dan ia berteriak kesal sebelum menerjang Mikoto dan memaksanya memakai seragam dengan benar sementara si rambut merah melawan.

.

.

.

“…Maaf kalau aku memotong ceritamu, Kapten. Tapi, kau benar-benar melakukan hal itu?”

Munakata mengerjap sebentar, lalu menyesap teh hijau yang sudah tersedia di mejanya. “Tidak, tentu saja. Itu hanya sekedar bumbu dalam cerita. Jadi, kau mau dengar lanjutannya?”

.

.

.

“Apa kau tidak bosan menggangguku begini, Munakata?”

Nada suara Mikoto yang monoton membuat sang ketua OSIS ingin menjambak rambut merah tersebut, lalu membenturkan kepala di tangannya ke dinding terdekat.

“Justru kau yang menggangguku, Suoh. Kau pikir bagaimana kehidupanku tiga tahun terakhir ini?”

“Membosankan,” jawab Mikoto sambil menguap.

“Yang membosankan itu hidupmu.”

“Hm.”

“Kau dengar aku atau tidak?!”

“Ya. Jadi, apa maumu?”

Munakata menghela napas. Hari sudah sore, langit sudah berwarna oranye, hampir semua siswa sudah pulang, dan ia terjebak di ruang OSIS dengan Mikoto karena pemuda tanggung tersebut memutuskan untuk merusak keran air di kamar mandi dan membakar satu wajan di kelas tataboga.

“Aku mau, kau tidak lagi merusak keran di kamar mandi dan membakar apapun lagi di kelas tataboga. Malah, sebaiknya kau tidak usah ikut kelas tataboga atau kelas apapun yang melibatkan benda-benda berbahaya.”

“Bukan salahku kerannya macet, dan bukan salahku wajannya tidak tahan api.”

“Dan bukan salahku juga kalau kau dapat hukuman untuk membersihkan taman satu minggu. Perintah langsung dari kepala sekolah. Catatan tambahannya, jangan merusak tanaman.”

Mikoto terdiam sebelum tersenyum tipis. “Kalau itu maumu.”

“Itu bukan mauku, Suoh. Itu mau kepala sekolah.”

Suoh mengangkat bahu dan berbalik keluar ruangan. Ia menyempatkan diri untuk berhenti di depan pintu sebentar sebelum benar-benar pergi dari sana.

“Kusarankan sebaiknya kau membawa sarung tangan dan sekop mulai besok, Munakata.”

Dan yang selanjutnya terjadi sudah dapat dibayangkan. Dengan ajaibnya, semua tanaman yang sudah susah payah ditanam kepala sekolah jadi rusak dan berantakan dan…. Intinya, Munakata-lah yang harus membereskan semuanya.

.

.

.

Seri mengurut dahinya. “Jadi, hubungan kalian berdua sudah seperti ini sejak, dulu?”

Munakata kembali meneguk teh hijaunya. “Ya, kurang lebih. Hanya saja, dulu kami bukan Raja dan tidak memiliki kekuatan ini, ataupun Pedang Damoscles. Jadi, pertengkaran kami hanya berakhir di beberapa kursi patah dan banyak jendela pecah, atau di beberapa lebam di wajah dan sedikit omelan guru.”

“… begitu?”

“Ya. Ada lagi yang mau kau tanyakan, Awashima-kun?”

Seri menggeleng. “Semuanya sudah jelas untukku, Kapten. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bercerita padaku. Saya permisi dulu.” Seri menunduk singkat sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja Munakata. Setelah ia keluar, terdengar dengusan geli dari balik pintu kertas yang membatasi ruang kerja Munakata dengan ruangan tatami. Pintu kertas tersebut dibuka, dan seorang berambut merah dengan wajah mengantuk sedang duduk dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak.

“Kau tidak cerita waktu aku jadi raja dan kau marah-marah tidak jelas di atap sekolah.”

“Aku juga tidak cerita kalau kau adalah seniorku dan kau sempat mengulang satu tahun karena terlalu banyak tidur di atap sekolah. Atau ketika kau diare karena kebanyakan makan roti melon.”

“Hng.” Mikoto mendengus dan merebahkan dirinya lagi di atas tatami. “Cepat selesaikan pekerjaanmu. Aku lapar.”

“Kalau lapar, makan saja sendiri.”

“Tidak mau. Hari ini kau janji mau masak kare dan mentraktirku parfait.”

“Kalau anggota HOMRA tahu kau suka strawberry, apa reaksi mereka?”

“Bukan urusanku. Cepat selesaikan. Aku lapar.”

“Baiklah, Raja Manja. Asal kau tutup mulut dan biarkan aku berkonsentrasi.”

.

.

.

Satu jam kemudian, Munakata diseret paksa dari mejanya ketika sedang memasang keping puzzle yang terakhir.

.

.

.

End