Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Friday, 11 September 2015

You Answer It Yourself, Please.

He was, once, a spark in her life.

Dazzling smile and innocent eyes - it fucking hurt my eyes. And so, she smiled back. As innocent and as sweet as she could be.

But of course, it was lie.

Everything was a bloody lie.

And of course, her love for him was the biggest lie ever.

"Go out with me."

Sheepishly smiling - wait, this is what people do when being confessed, aren't they? - she nodded. Then, everything went downhill and roller coaster-ing aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaand...

... done as fast as it started.

She ended it. Of course. He moved on. Good then. She stayed the same? Yes.

She - who'd never able to love anyone simply because she found it too much to love a human.

Did she moved on?

Oh, Lord. She never went anyway in a first place. She stayed the same because there're never any major changes in her life (no, had a relationship wasn't that important to her) except having a sudden responsibilities of other people's live.

Did she regret it?

Not, really.

Because either way the end was inevitable. Because what was the meaning of regret when there's nothing to regret for. Love hurt. Everybody hurt.

But, feel hurt was for someone who actually had a heart.

And, thus, did she regret it?

Wednesday, 2 September 2015

Insecurities

Zen & Aka (c) Pratiwi Fitriani

.
.
.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh...

Zen menghela napas, berusaha memancing refleks apalah-itu-namanya untuk menenangkan jantungnya yang sedang berdetak luar biasa cepat. Hiperbola, karena kalau memang jantungnya berdetak secepat yang ia pikirkan, saat ini Zen pasti sedang terbaring tidak sadarkan diri di Ruang Resusitasi.

Menyedihkan.

"Zen?"

Suara yang familiar di telinga membuatnya kembali ke dunia nyata. Ia memandang sepasang mata biru yang bingung. Segera saja makhluk-makhluk imajiner di dalam kepalanya memasang kaset berjudul 'senyum manis', membuat Zen menarik bibirnya.

"Ya? Ada apa, Le?"

Leon mengerutkan dahinya. "Melamun?"

Zen menggaruk lehernya yang tidak gatal. Klise. "Ah, ya. Sepertinya aku perlu minum kopi lagi. Kemarin pasiennya banyak banget, aku duduk lima menit aja udah bersyukur luar biasa."

Leon mengangguk, meski ada kilat di matanya yang meragukan pernyataan Zen. "Mau kubeliin? Sekalian aku ke kantor dulu ngambil berkas kasus pembunuhan yang kemarin. Macchiato 'kan?"

"Ngga usah, Le. Nanti aku beli kopi biasa aja di Minimart."

"Ya udah, nanti aku jemput ya. Temenin aku nyari kemeja?"

Ah, Leon. Kalau tidak ingat ada di mana mereka sekarang, Zen pasti sudah menerjang Leon dan ndusel-ndusel di pelukan detektif muda itu.

"Leon. Ayo."

... kalau saja nenek sihir sialan ini tidak ada.

"Oke. Aku ke kantor sekalian nganter Aka ya, Zen. See you."

Zen memasang lagi senyum manis paling palsunya. "Yeah. See you."

Saturday, 11 April 2015

Happiness is Just A Hug Away

Disclaimer : Shinji © Pratiwi Fitriani


“Freyr?”

Ketukan halus ragu-ragu di pintu kamar dan dengung nada rendah yang sangat familiar membuat Freyr mau tidak mau kembali ke dunia nyata. Satu minggu cuti kerja dengan alasan sakit—beruntung seniornya di kepolisian mengerti apa yang baru saja ia alami, terima kasih karena Faux yang mulutnya seperti ember bocor—membuatnya menghabiskan waktu mengurung diri di kamar dengan tumpukan buku-hasil-merampok kamar Gancanagh. Baru saja ia merasa terhibur dengan tumpukan komik konyol tentang seekor kucing bulat bernama Pojo, dan kini ia harus menghadapi lagi pahitnya dunia.

“Freyr? Aku tahu kau di dalam.”

Freyr menghela napas dan menyimpan buku yang sedang dibacanya.

“Apa maumu.”

Freyr tidak bertanya. Ia tidak mau lagi mempertanyakan apapun yang pernah ada di antara dirinya dan pemuda di depan pintu kamarnya.

“Aku mau bicara denganmu.”

“Kalau aku tidak mau?”

“Sekarang kita sudah bicara.”

Freyr mendengus. Yang seharusnya ia lakukan adalah mengusir pria itu dari rumahnya, dari kehidupannya, lalu hidup bahagia dengan aman, damai, dan sejahtera selamanya.

Meski selamanya adalah hal yang mengerikan untuk dilalui sendirian.

“Ya sudah. Bicara saja kalau begitu.”

Sunyi sekejap, kemudian ada tawa geli yang hampir tak terdengar. Freyr menghela napas. Rasa yang tumpah di hatinya ini, entah apa namanya. Tubuhnya lalu bergerak sendiri, melawan satu bagian otaknya yang menjerit histeris dan menyalakan alarm tanda bahaya. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya, untuk menemukan pemuda tinggi berwajah malas dengan mata tajam dan rambut seperti singa jantan. Satu detik Freyr melihat ekspresi kaget di wajahnya, satu detik kemudian Freyr menemukan senyum tipis yang tidak pernah ia tunjukkan padanya selama hubungan mereka sekian tahun ini, dan semuanya bergerak dalam satuan waktu lain yang lebih lambat ketika dua lengan besar merengkuhnya dalam satu pelukan erat.

Seolah ia pernah kehilangan, dan kini menemukan bagian dirinya lagi.

“Freyr,” bisik Shinji. Shinji merapatkan dirinya, membuat Freyr terpaksa berdiri di atas jari kakinya dan berpegangan pada pakaiannya agar tidak jatuh. Shinji mengubur kepalanya di antara pundak dan leher Freyr, mengeratkan pelukannya di pinggang Freyr.

Freyr, yang tidak akan pecah berantakan meskipun ia memeluknya dengan erat. Freyr , yang tidak akan melindunginya dengan ganjaran nyawa.

Freyr, yang pernah mencintainya lebih dari apa yang pantas ia dapatkan.


Freyr, tidak tahu harus menyimpan tangannya di mana.

Di samping tubuhnya?

Di bahu lebar yang dulu hanya bisa ia lihat dari belakang, dan kini ada tepat di depan matanya?

Atau di leher jenjang dengan surai-surai halus yang kini menggelitik pipinya?

Freyr tidak tahu harus bagaimana, harus apa.

Ia hanya tahu, kalau hatinya penuh. Penuh.

Penuh oleh perasaan yang membuat seluruh logika perhitungannya luluh lantah, oleh rasa yang membuatnya merengkuh leher dan apapun yang bisa kedua lengannya raih dalam posisinya yang kikuk ke dalam pelukannya, oleh rasa yang membuatnya tenggelam dalam air mataketika ia menghirup wangi yang sangat ia kenal, ketika ia merasakan hangat yang begitu ia rindukan.

“Freyr.”

Ketika namanya disebut oleh orang yang sudah mengisi satu ruangan khusus di hatinya,

Shinji melepaskan pelukannya, namun tidak membiarkan Freyr lepas darinya. Kedua tangannya masih merengkuh posesif pemuda yang sedang menatapnya dengan mata berair dan wajah merah.

“Freyr.”

“Hm?”

“Freyr.”

Freyr mengusap wajahnya. Ia tahu persis seberapa berantakan wajahnya saat ini. Ia tahu saudaranya sedang menguping di pojokan. Ia juga tahu, siapa kira-kira yang berhasil menyarangkan tinjunya di wajah pemuda ini.

“Ya, Shin?”

“Terima kasih.”

“Untuk?”

“Jadi satu-satunya yang tidak pergi.”

Freyr mendengus. Ironis. “Siapa bilang aku tidak pergi?”

Shinji hanya tersenyum tipis dan kembali memeluk Freyr, kembali menenggelamkan dirinya di hangat tubuh yang familiar.

“Terima kasih, dan maaf, Freyr.”

Freyr menggumam di lekuk leher Shinji, memejamkan matanya dan merengkuh leher tersebut. “Untuk?”

Shinji mengangkat kepalanya dan menatap Freyr. “Untuk semua hal brengsek yang kulakukan padamu.”

Freyr mengerjap, lalu tertawa. Lepas, keras, dengan air mata masih mengalir di pipinya, dan kedua lengannya masih merengkuh leher Shinji yang kini memasang senyum tipis dengan rona merah muda mulai muncul di telinganya.

“Hahaha! Shin! Kau harus lihat bagaimana wajahmu! Hahaha!”

“Sudahlah,” dengus Shinji, yang memutuskan untuk kembali menyimpan kepalanya di pundak Freyr, membiarkan gelak tawanya terdengar jelas di telinga, dan getaran di dada mereka masing-masing merambat pelan-pelan memenuhi lubang-lubang di hati mereka.


“Freyr.”

“Hm?”

Suara derit tempat tidur terdengar ketika Shinji mengubah posisinya. Ia berbaring di satu sisi tubuhnya dan menatap Freyr.

“Apa kau bahagia?”

Freyr menoleh dan menatap Shinji. Ia menggeleng sambil mengangkat bahunya.

“Aku tidak tahu.”

“Begitu,” ujar Shinji pelan dan kembali lagi ke posisinya semula, menatap langit-langit kamar sembari memikirkan bagaimana caranya ia keluar dari rumah ini dengan kondisi tubuh yang lengkap tanpa kurang satu hal pun.

“Kalau kau?”

Shinji menoleh dan mendapati Freyr masih menatapnya. Tatapan yang sama sejak pertama kali mereka bertemu di bar. Tatapan yang sama ketika  ia mengantarnya pergi menjalani misi bersama Andreas. Tatapan yang sama ketika Shinji mematahkan hatinya untuk yang kesekian kali.

Sepasang mata yang membuatnya yakin, bahwa ia adalah tempatnya kembali.

“Ya. Kalau ini kau sebut bahagia, maka ya. Aku bahagia.”

“Kau tahu, sebenarnya aku posesif.”

“Aku juga.”

“Leon dan Faux sering mengataiku bawel.”

“Aku tahu.”

“Gacchi bilang aku terlalu sering membawa perasaanku pada segala hal diluar pekerjaan.”

“Dan kau bilang begitu pada pria yang sekian lama hidup menolak merasakan.”

Freyr mendudukan dirinya, membiarkan selimut yang menyelimutinya jatuh dan memamerkan punggungnya pada Shinji.

“Kalau kau pergi lagi, aku tidak bisa menghalangi apapun yang akan dilakukan Leon dan Faux dan Gacchi padamu.”

“Aku tahu.”

Senyum lebar kekanakan menghiasi wajah Freyr. Tak lama, Freyr menimpa tubuh Shinji, memeluknya dalam pelukan besar yang sedikit di luar karakter sambil tertawa lebar, membuat pemuda berwajah masam itu berseru kaget ketika tubuh mereka berdua saling adu dan membuatnya hampir jatuh dari tempat tidur.



Ya. Mereka bahagia.
Dan itu sudah cukup.

Wednesday, 26 February 2014

Wolf's Tale

"Hei."

"...."

Holy shi--

"Oi. Kenapa lu?"

Luca mengerjapkan mata, mengaktifkan sistem pertahanannya.

"Kaget. Ngga ada angin, ngga ada ujan, ketemu lo di sini."

"Hahaha. Justru gue yang kaget. Lo sendiri?"

"Kagak. Sama anak-anak tapi udah bubar. Gue parkirnya jauh sendiri, tadi telat datang soalnya, hahaha."

"Oh. Gue kira sama trio itu. Hahaha."

"Yaelah, Dra. Temen gue ga cuma mereka kali."

"Oiya? Gue kira lo orangnya soliter. Lone wolf. Eh. Salah. Justru lo orangnya ngga bisa ditinggal sendiri ya?"

Luca tergelak. "Serigala kesepian? Ampun deh, Dra. Gue orangnya ekstrovert, ngomong kasar, pecicilan kali. Lo aja yang ngga kenal gue, hahaha."

"Oya? Padahal udah kenal lama ya. Tapi gue ga percaya orang kayak lu pecicilan"

"He eh. Ampir 2 taunan ya? Ah, udah gue bilang, lo ga kenal gue. Hahaha."

"Iya kali ya. Eh, minta nomer lo yang baru dong. HP gue rusak kemarin. Nomer-nomernya ilang semua."

Ck.

"Oh. Oke. Nomer gue masih yang lama kok."

"Hahaha. Kan ilang."

"Iye-iye. Eh, gue duluan ya. Udah jam segini, gue mesti balik. Daaah."

.
.
.

2 missed call.

.
.
.

1 missed call.

.
.
.

1 missed call.

.
.
.

Gyaaa sorry banget gue tepar paraah kemaren dan ini lagi kuliah ampuuun.

Sama, Ca. Gue juga tepar hahaha. Nanti telpon gue aja kalo lagi kosong.

.
.
.

"Fumi. Gue. Mesti. Gimana."

Fumio mengangkat bahu. "Terserah lo, Luke."

"...Am I playing with fire?"

"Tergantung."

"Apa?"

"Lo main hati ngga."

"I'm playing safe. You know."

"Hahaha. Gue cuma ngingetin aja, Luke."

Luca menghela napas panjang, bersandar di dinding kayu, dan menyambar teh susunya. Kesal.

.
.
.

I' wasn't a lone wolf. I AM one of a pack. That's the reason I managed to survive this far. Moron.


Sunday, 19 January 2014

SIblings

Shinji (c) Pratiwi Fitriani

.
.
.

Faux hilang kata-kata.

Ia tahu kalau kedua kakaknya, well, menyimpang terlalu jauh untuk kembali ke jalan yang benar. Ia tahu itu, dan pada akhirnya mengerti dan memahami dan menerima. Kalau sudah begitu jalannya ya mau bagaimana lagi. Yang penting mereka berdua bahagia.

Mengingat drama mereka berdua di masa remaja masing-masing.

Ah, mengingatnya saja Faux sudah sakit kepala.

Ketika Leon pulang mengajak seorang pemuda berkelakuan bocah ke rumah dengan dalih 'seorang teman yang bertemu di kedai dimsum', sebenarnya Faux sudah curiga. Kakaknya yang seenaknya dan agak nyeleneh itu membawa seseorang yang sama-sama ngawur.... Ia sudah merasa ada yang salah tapi ia memutuskan untuk diam saja.

Lalu, ketika Freyr--kembaran Leon--memutuskan untuk keluar dari rumah dan tinggal di apartemen. Setelah drama tanpa akhir antara Freyr-Leon-dan sang ayah, akhirnya Freyr keluar dari rumah, disusul Leon yang menyatakan 'aku tidak bisa mengurus kalian semua kalau tidak ada Freyr'. Saat itu, Faux sudah curiga.

Sangat curiga.

Karena, beberapa kali ia datang ke apartemen kedua kakaknya itu, ia menemukan beberapa hal yang mengganjal.

Ada dua cangkir, dua piring, dua mangkuk, dua handuk, dua bantal, dua selimut, dua sikat gigi, dan beberapa pasang pakaian yang bukan milik kakaknya.

Dan terkadang menemukan si pemuda berkelakuan bocah--yang ternyata adalah seorang dokter dan seorang pemuda tinggi bertampang judes kebetulan menginap di apartemen mereka.

....

Faux pasrah saja. Melawan Freyr cerita lain, tapi melawan Leon? Faux masih sayang nyawa. Tidak, terima kasih.

Ia memutuskan untuk diam dan menerima dan berbahagia.

Tapi, seandainya ia tahu kalau kakaknya tidak akan bahagia dengan pilihan mereka?

Oh, ingin rasanya ia meninju wajah pria berwajah sangar itu.

.
.
.

BUAK!!!

Shinji tersungkur ke belakang, ujung mulutnya berdarah, pipinya lebam. Matanya menatap tajam si pelaku kekerasan.

"Faux!" Gancanagh berseru di telinga sang kakak, kedua tangannya mencegah ayah satu anak itu menyarangkan satu lagi tinjunya ke wajah Shinji.

"Lepas! Kamu tau sendiri bedebah ini ngapain Freyr sampe dia kayak begitu?!"

"Aku tau! Semua tau! Tapi bahkan Leon sama ayah pun nggak punya hak. Cuma Freyr yang berhak!"

"Tch!"

Faux berderap kesal, melangkah besar-besar menuju kamarnya dan membanting pintu ketika ia sudah ada di dalam. Gancanagh mengerenyit sedikit dan menatap Shinji yang masih terduduk. Ia menghela napas dan mengulurkan tangan pada Shinji.

"Kau tidak mau meninjuku juga?"

"Oh. Jangan salah. Kalau bisa, sudah kutenggelamkan kau di Teluk Tokyo. Tapi, itu hanya akan membuat Freyr semakin sedih." Gancanagh menjelaskan dengan nada monoton khas-nya.

Shin mendengus dan menyambut uluran tangan Gancanagh.

"Freyr ada di kamarnya. Dan sebaiknya selesaikan semuanya sebelum ayah datang. Hanya Tuhan yang tahu akan jadi apa kau kalau sampai kalian bertemu."

"Oke. Thanks, Gacchi."

"Gancanagh untukmu, Shinji."

"Oke. Gancanagh-cchi."


Monday, 2 December 2013

And So?

Shinji & Andreas (c) Pratiwi Fitriani

.

.

"Tidak."

"Eh?" Shinji mengerutkan dahinya.

Freyr tersenyum tipis. "Aku tidak mau. Aku tidak mau mengajarimu cara mencari kebahagiaan."

Shinji, mengerjap.

"Yang kau lihat selalu Andreas. Yang kau cari selalu Lyra. Tidak akan pernah ada aku, Shin. Tidak peduli sebanyak apa aku berusaha untuk membuatmu bahagia."

Freyr menatap mata Shinji, membiarkan pemuda di hadapannya melihat ia menangis, untuk pertama kalinya.

"Aku... lelah, Shin. Aku...." Freyr menggantungkan kalimatnya. Tangannya menggenggam erat jaket Andreas.

"Aku mau berhenti saja."

.

.

Tidak pernah, Shinji melihat Freyr menangis. Ia tahu pemuda berambut platina itu sering menangis di belakangnya, namun tidak pernah ia melihatnya langsung.

Hatinya, patah.

Lagi.

Ia hanya bisa menggenggam jaket milik Andreas yang Freyr berikan padanya. Mengutuki keturunan dewa yang sekarang menghilang dan menyisakan ribuan masalah yang harus mereka semua selesaikan. Ini salah satunya.

Kalau Freyr menyerah saat ia mencoba untuk maju, lalu bagaimana?

Apa?

Friday, 22 November 2013

Third Person

Bau laut. Debur ombak. Air yang melompat riang membasahi kaki.

Freyr harus menahan diri untuk tidak menenggelamkan dirinya.

Ini adalah kali kedua ia diam berjam-jam tidak bergerak di tepi pantai, didatangi anjing liar dan dilewati kepiting nyasar. Beberapa bola voli menggelinding ke arahnya, tidak jarang yang hampir menghantam kepalanya.

Freyr sedikit berharap ada yang melempar ke arahnya dan membuatnya mati di tempat.

Kali pertama ia datang ke pantai dan membisu begini adalah tujuh tahun lalu. Cinta pertamanya pergi ke alam sana setelah memberitahu bahwa yang ia cintai bukanlah Freyr, melainkan Leon. Untuk pertama kalinya, ia membenci Leon dan menolak berinteraksi dengannya sampai berbulan-bulan.

Saat itu ia pergi ke laut dengan satu tujuan : mati bunuh diri.

Drama? Ya. Biarlah Leon yang mengambil semua lampu sorotnya dan dia yang memainkan dramanya. Toh, wajah mereka berdua sedikit mirip. Ganti saja warna rambut dan sifat dasarnya. Tadaa!

Dan kali ini, ia merasakan dorongan yang sama dengan saat itu.

Satu hal yang tidak pernah bisa ia pahami dari hubungannya dengan pemuda yang menolak untuk maju dari masa lalunya.

Kenapa pada akhirnya ia selalu jadi orang ketiga dalam hubungan yang manapun?

Monday, 11 November 2013

P.S

Shinji (c) Pratiwi F

.
.
.



22.07 Le.

22.15 Oi. Gimana Indonesia?

22.17 ....

22.17 Gue... boleh punya cerita bahagia, kan?

22.20 Ha?

22.20 Apaan sih Freyr?

22.21 Lo di mana deh?

22.21 Mana Shinji?

22.45 Oi.

22.50 Freyr!

23.00 Anjir lo di mana deh?!

***

23.15 Lagi di mana lo?
23.20 Urusan lo?

23.25 Jawab aja pertanyaan gue. 

23.30 Jakarta

23.32 Freyr di mana?

23.35 Hotel

23.37 Lo ga lagi bareng dia?

23. 40 Oi.

23.46 Ngga

23.46 Kenapa?

23.50 Gue ga mau tau pokonya lo harus cari dia sampe ketemu

23.51 Kabarin gue kalo udah ketemu.

***

Ckrek.

Lampu kamar menyala, begitu pula dengan pendingin ruangan. Kopernya masih ada, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan manusia di kamar itu.

"Freyr?"

Sunyi.

Pandangan Shinji jatuh pada kertas putih di atas meja. 

***

Bye.

Saturday, 9 November 2013

Amusement

Zen (c) Pratiwi Fitriani 
.
.
.

Leon menghembuskan nafas, menciptakan uap tipis di udara. Ia melirik jam tangannya, pukul satu malam. Dengan ini, berarti ia sudah berada di rumah sakit hampir dua puluh empat jam. Ia mengamati sekelilingnya, sunyi. Hanya ada suara riuh di kejauhan, bunyi sirine yang semakin dekat, dan desir angin pelan yang melewati celah sempit.

Akhirnya ia tahu, apa yang membuat Zen sering sekali meneleponnya saat sedang jaga malam dan terpaksa berjalan sendirian dari satu gedung ke gedung lain untuk mengantarkan selembar kertas hasil interpretasi laboratorium. Koridor rumah sakit dan malam hari jelas kombinasi merupakan kombinasi yang buruk.

Ia merapatkan mantelnya, lalu membiarkan pikirannya terbang. Mau tidak mau, ia sedikit kagum pada Zen. Pemuda yang terjebak di masa-masa bocahnya itu sanggup bangun hampir tiga puluh enam jam dan masih mempertahankan kewarasannya untuk sekedar menanyakan kabarnya, marah-marah saat ia menolak makan dan memilih mengerjakan apapun yang ada di meja kerjanya, memisuh-misuh tentang teman-temannya, dan mengendarai mobilnya pulang ke rumah tanpa mengantuk sedikit pun.

Dan tadi, ketika ia terlalu takut melihat Freyr yang terbaring tanpa daya di instalasi gawat darurat, Zen masih bisa memakluminya dan menenangkannya.

Padahal, entah sudah berapa bulan mereka tidak bertemu muka.

"Le."

Leon mengerjap. Bingung. Separo isi otaknya masih berterbangan di awan merah jambu di langit imajinernya. Ia menoleh dan menemukan pemuda berambut ikal sedang tersenyum lebar sambil membawa kantung plastik.

"Zen?"

Zen hanya nyengir lebar dan menyodorkan kaleng minuman coklat ke wajah Leon. "Untukmu."

"Oh. Ya. Thanks."

"Uh-huh."

Zen lalu berdiri diam di samping Zen. Matanya menatap langit-langit koridor seolah itu adalah hal paling menarik saat ini. Sementara Leon masih bingung menatap minuman kaleng miliknya. Zen mendengus.

"Lagi belajar telekinesis ya?"

"Ha?"

"Itu kaleng dibuka, terus diminum. Bukan diliatin begitu."

"Bukan gitu," ujar Leon lirih dan menyimpan minumannya di dalam saku mantel.

"Terus?"

"... ngapain kamu di sini? Jam segini? Kamu nggak pulang? Orang rumah nggak nyariin?"

Giliran Zen yang memasang wajah bingung.

"Hah?"

"Ini jam satu pagi, Zen. Ngapain kamu di sini, jam satu pagi?!"

"Ngapain? Nemenin kamu, lah. Emangnya ngapain lagi?"

"... hah?"

"Aku udah bilang orang rumah, kok."

Leon menggeleng. "Bukan. Maksudku bukan itu. Kemarin kamu jaga malam, kan?"

"Ya?"

"Hari ini kamu kuliah, kan?"

"I... ya? Terus?"

"Kamu kapan tidurnya?"

"Tadi. Di asrama. Aku belum pulang. Ini aja baru bangun."

"... oh."

"Santai, Le. Ngeliat warna muka kamu udah nggak sepucet tadi malem dan bisa marah-marah begini aja, cape aku ilang. Santai."

"Gitu?"

"Yo-ho."

"Bagus deh."

"Kenapa bagus?"

"Bagus, nggak gampang sakit."

"Emangnya kenapa kalo aku sakit?"

Leon menatap Zen dan tersenyum tipis. "Kalo kamu sampe sakit kayak Freyr, entah bakal segila apa aku, Zen."

Thursday, 7 November 2013

Boost

Zen (c) Pratiwi Fitriani
.
.
.

Zen tidak pernah melihat Leon sekacau ini.

Sekilas saja ia bisa tahu kalau pemuda berambut hitam itu sangat ketakutan. Ketakutan. Tangannya mengepal erat, matanya fokus hanya pada satu hal, bahunya tegang, dan mulutnya tidak berhenti bergerak-gerak membaca doa.

Tidak pernah sekalipun ia membayangkan, akan melihat sisi lain dari detektif swasta handal ini.

Karena, Leon yang Zen tahu adalah seorang pemuda asal, serampangan, seenak jidat, dan berani.

.
.
.

"Le." Zen memberanikan diri menepuk pundak Leon.

"...Zen?" ujarnya tidak percaya. Padahal, sudah setengah jam yang lalu ia berdiri di samping pemuda itu. Mau tidak mau, Zen tersenyum tipis. Ia lalu menepuk-nepuk pundak Leon lagi.

"Kondisinya nggak separah keliatannya, Le. Tenang ya."

Terdengar klise, namun itu adalah yang paling bisa dikatakan oleh Zen pada situasi seperti ini. Freyr, dengan mata terpejam dan bekas darah membasahi pakaiannya, hampir membuat Zen serangan jantung. Untungnya, apa yang dikira Zen darah Freyr ternyata salah. Yang membasahi pakaian Freyr sedemikian rupa adalah darah orang lain, penumpang bis yang duduk di depannya, yang datang dalam keadaan tidak berbentuk, dan bukan datang ke instalasi gawat darurat. Tidak perlu dijelaskan di mana manusia malang itu ditangani saat ini. Freyr pingsan karena benturan di kepala, dan hasil foto kepala menunjukkan tidak ada perdarahan atau apapun yang membahayakan, setidaknya untuk saat ini. Senior-senior Zen memutuskan untuk mengamati perkembangan Freyr, setidaknya sampai ia sadar, sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Leon hanya diam dan memandangi tubuh adiknya yang dipasangi berbagai macam kabel dan selang ketika Zen panjang lebar menjelaskan semuanya. Terlihat sekali kalau pria itu tidak mendengarkan. Zen menghela napas. Maklum.

"Well, kalau kau butuh apapun, kau bisa cari aku di ujung sana, ya. Aku mau bantu Darma dulu." Zen berkata sambil lalu, menunjuk satu ruangan bertirai tempat Darma sibuk keluar-masuk panik.

"Zen."

Zen berhenti berjalan dan berbalik.

Leon menatapnya dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Terima kasih."

.
.
.

"Oi. Zen. Ngga usah kerja sambil cengengesan bego gitu."

Wednesday, 6 November 2013

Serangan Fajar!

Zen (c) Pratiwi F

.
.
.

"Huf."

Satu desahan meluncur begitu saja ketika Zen setengah menjatuhkan pantatnya di kursi. Satu kakinya lalu naik ke kursi di depannya, sementara ia meregangkan punggung sebisa mungkin. Akhirnya, setelah sembilan jam bolak-balik berputar-putar di dalam instalasi gawat darurat tanpa sempat duduk sedetik pun, ia memutuskan untuk merajuk memohon pada ketua kelompok jaganya malam ini untuk istirahat setidaknya dua jam. Untung saja Darma setuju. Pemuda tanggung berotot dan hobi main basket itu pun ikut-ikutan istirahat, menyerahkan baton papan jalannya pada Zaki, yang sempat marah-marah selama lima detik sebelum akhirnya tergopoh-gopoh lari menghampiri senior yang memanggilnya.

Jadilah, Zen terdampar di kantin rumah sakit yang--untungnya--buka dua puluh empat jam, berpisah jalan dengan Darma yang lebih memilih istirahat di asrama dokter muda.

Zen melirik jam tangannya, jam tiga pagi. Ia mengalihkan pandangannya ke depan, pada segelas milkshake vanila. Tak lama, pramusaji datang dengan nampan, mengantarkannya semangkuk bakmi ayam jamur dan teh manis panas. Senyum tipis mendadak terulas di wajahnya ketika melihat porsi makan 'malam'nya hari ini.

"Selamat ma--

KRIIIIIIIING!!!

"Tai."

Zen mengumpat dengan sepenuh hatinya. Ponselnya berbunyi dan nada deringnya adalah nada khusus untuk Darma hari ini. Kalau Darma meneleponnya di waktu istirahat jam tiga pagi begini, berarti ada yang salah dengan keadaan Zaki di IGD.

Entah ia iseng, entah seniornya mengancam Darma, atau....

.
.
.

"Serangan fajar!"

Zen tidak sempat lagi memaki-maki Zaki yang menyemburkan droplet udara ke wajahnya ketika ia akhirnya berhasil menyeret kaki ke IGD. Entah apa yang terjadi, namun belasan brankar mendadak berjejer di sepanjang sisi ruang. Semua yang berbaring di atas brankar itu entah memiliki noda merah-merah atau menjerit histeris kesakitan. Dari jumlahnya yang mendadak ini, Zen mengira setidaknya ada satu bis atau dua mobil yang terlibat. 

Apapun itu, pasti ada satu yang lalai.

Dan Zen sangat ingin sekali memasukkan bakmi ayam jamurnya ke dalam hidung pengendara yang lalai itu.

"Zen! Lo pegang tiga sekaligus ya!" perintah Darma, kini kembali memegang baton papan jalannya. Dengan sigap ia menulis-nulis perintah para senior, selagi satu tangannya menempelkan ponsel di telinga untuk membangunkan rekan-rekannya yang lain. Zen hanya bisa menghela napas dan mulai mencari pasien-pasien yang terlihat agak stabil untuk dijadikan pasiennya. Pilihannya jatuh pada seorang wanita usia dua puluh tahun yang menggeser sendi bahunya ketika ia menahan tubuhnya agar tidak terbentur, seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang patah tulang jari-jari kaki, dan seorang pemuda berambut keperakan yang....


eh?

"Fr--

"FREYR!!!"


Thursday, 17 October 2013

(....)

menganga lebar
luka ini
perih
pedih

jarimu dalam genggamku seperti pasir
mengalir bebas tanpa henti
terbang ke langit

petak milikmu, tak lagi terisi
tak lagi ada

pergi bersamamu
jauh, jauh
di sana yang tak kujangkau
di mana yang tak ku ketahui

di tempat waktuku tak lagi menyentuhmu
ruangku tak lagi menemukanmu
di ujung langit sana

kapan bisa kututup luka ini?
kala waktuku berhenti?
kala kita bertemu untuk berpisah selamanya?

kau tahu?
aku ingin

(....)

.
.
.

just some stupid things yang dibuat buat writing project Antologi Rindu, tapi sampe akhir deadline ngga punya nyali buat ngirim naskahnya. daripada mbusuk di drive, mending disimpen di sini. 

Sunday, 6 October 2013

The End

collab with Pratiwi Fitriani

.
.
.

Asap rokok. Freyr terbatuk sedikit ketika inderanya menghirup asap racun itu. Ia membuka mata dan menemukan Shin sedang duduk di sudut tempat tidur dengan asap membumbung di sekelilingnya. Matanya tidak fokus, menatap entah apa di hadapannya. Nyata, atau tidak.

Freyr bergerak dari posisi berbaringnya, namun tidak mendekati Shin. Ia diam di tempat dan menatap pundak bidang pemuda itu, rambutnya yang selalu acak-acakan, garis-garis halus bekas luka di mana-mana, semua.

Perih. Dada Freyr terasa sesak, perih, pedih. Rasa yang dulu sekali pernah ia alami, ketika yang pernah ia cintai malah mencintai orang lain. Bukan sekedar orang lain, melainkan saudaranya sendiri. Kini ia bahagia, karena setidaknya Shin tidak mencintai siapapun selain dirinya.

Siapapun yang hidup, selain dirinya.

"Shin."

Shinji berbalik, menatap Freyr. Dari matanya saja Freyr sudah tahu. Sangat tahu, tentang siapa yang sedang pemuda itu pikirkan saat ini. Dulu, maupun kelak.

"Ada apa, Frey?"

Freyr ingin bertanya, ingin menuntut, ia ingin bahagia.

Tapi, apa artinya bahagia kalau hanya dia sendiri yang merasakannya?

"Kau tahu, aku sayang padamu."

Shin mengerjap, kaget. Namun tak lama, ia mengangguk. "Ya. Aku juga."

"Tapi hanya itu, 'kan?" Freyr berusaha keras supaya suaranya tidak terdengar aneh. Usaha yang sia-sia, karena Shin selalu bisa mengetahui kapan Freyr berpura-pura.

Shin menghela napas dan mengalihkan pandangannya pada apapun. Ia sudah tahu kemana pembicaraan ini akan berakhir. Ia tidak mau ada di tempat itu lagi, dan ia sangat tahu sekali kenapa Freyr bisa bertingkah seperti ini. Salahnya, dan sedikit salah Freyr juga. Mereka berdua tahu, sama-sama memberi toleransi.

Tapi, sudah jelas siapa yang akhirnya kehabisan toleransi terlebih dahulu. Pertanyaannya bukan siapa yang lebih mau menerima keadaan pasangannya, tapi siapa yang lebih cepat maju dari kenyataan.

Dan sudah sangat jelas, siapa yang masih terjebak labirin masa lalu.

"Shin," lirih Freyr. Wajahnya menunduk, tangannya mencengkram seprai begitu erat--menahan habis-habisan air mata yang mulai terkumpul di ujung mata. Kalau jawaban Shinji adalah satu kata itu...

"Ya. Hanya itu."

Freyr tidak tahu harus mencari kebahagiaan dalam bentuk apa lagi.

.
.
.

Apa ini karmanya? Karena ia terlalu dalam jatuh pada Lyra dan Noir, karena ia tidak mau mengalah pada Yuuji, karena ia tidak mau maju demi Freyr, sehingga pada akhirnya ia harus kehilangan semua orang yang ia sayangi seperti ini?


Sunday, 8 September 2013

Busted!

25 September 20xx

Jaga malem untuk yang keseribulimaratusjutapuluhribu kali.

Harusnya sih ngga ada hal aneh di jaga malem ini. Ke mess buat ganti baju, ambil sendal japit, solat magrib, terus langsung balik ke igd buat stand by. Harusnya.

Siapa sangka, ada Bang Randi.

Ngga ada angin ngga ada ujan, pas buka pintu mess, pas dia lagi keluar dari lorong mess sambil ngasih perintah ini-itu ke juniornya. Pffft. Efek udah naik semester ya, Bang?

Basa-basi sebentar, ternyata dia mau pulang. Yah, sudahlah. Toh hari ini jatahnya gue nangkring di sekre. Doesn't matter at all. Pas jaga kemaren gue udah ketemu dia juga kok di igd.

Tapi, jadi inget percakapan dulu banget.

"Jaga, Bang?"

"Iya nih. Duh. Malesnya. Lo jaga juga, Ka?"

"Ngga dong. Lagi bagian yang ngga ada jaga nih, hahaha."

"Ah, enak banget. Terus ngapain lo jam segini masih di rumah sakit? Betah amat."

"Ih, ini juga udah bersiap mau meluncur ke bioskop terdekat."

"Emang ada film apa yang rame?"

"Ngga tau, gimana nanti aja. Anaknya impulsif sih."

"Yaudah, pulang sana."

"Hahaha, anterin dong Bang."

"Duh, kalo nunggu gue yang anter, lo pulangnya bisa dua hari lagi. Eh, Ka, angkatan lo lagi sendiri ya di sini? Kasian amat jaganya."

"Hahaha, iya nih Bang. Mau gimana lagi."

"Yang baru kapan masuk?"

"Abis kita spacing. Sekitar Maret-April. Kenapa?"

"Ngga."

"...Ya ampun, belum juga masuk udah ngincer aja. Siapa sih Bang, siapaaaa???"

"Yee! Kagak! Ngga ngincer siapa-siapa juga."

"Duh, malu-malu banget sih. Hayo bilang yang mana??"

"Hahaha. Daripada gue ngejar yang belum tentu ada, mending gue nyari yang jelas-jelas ada aja, Ka."

"Ooooh jadi angkatan aku nih, Bang? Hayoo siapaaa?"

"Ah elu. Dasar!"

.
.
.

"ACIL BACA APAAN LO DASAR TIANG LISTRIK SEENAKNYA BACA BUKU ORANG SINI GUE PUKUL KEPALA LO BIAR PENDEK!!!!"

Saturday, 31 August 2013

Untitled #2

A windowsill, dripped wet
with tears
mine, as I cried and cried over my stupid mistake of loving you

A piece of me betrayed its owner
me
for still wanting you and hoping and wailing and crying over you

Again.
and again and again

Where are you?
Do you hear me?
Do this gentle wind give you my message?
Of how much I love you?

How much should I say goodbye?
to my heart
to your back
I cannot reach

Wednesday, 28 August 2013

Break

Asap abu-abu membumbung dari rokok yang sudah terbakar separo. Dua jari menjepit batang tembakau tersebut, sesekali memutarnya. Mata coklat si empunya tangan tidak fokus. Kesana kemari, seperti memandangi seekor kupu-kupu yang terbang panik.

Seperti memandangi kupu-kupu dalam dirinya yang terbang panik.

Satu hisap dari asap nikotin yang adiktif, dan sel-sel otaknya kembali mati sambil bekerja di waktu yang sama.

"Cil. Mati lo, ngeroko melulu."

Gaya bicara Luca yang monoton membuat Ciel kesal. Tidak tahu kenapa. Kesal saja.

"Gue ga ngeroko juga mati."

"Maso."

Satu jitakan mendarat di puncak kepala Luca. Gadis berambut ikal itu hanya meringis. Tidak ada niat membalas kelakuan kembarannya sedikit pun.

"Ka."

"Um?"

"Gue cape."

Luca menoleh, menatap Ciel dari samping. Mata pemuda itu redup. Kilau jahilnya seolah hilang diserap waktu. Lengannya segera terulur dan merengkuh pemuda tersebut dalam pelukannya.

"Ya istirahat dong, Cil."

"Boleh?"

Luca tergelak. Kencang. Geli. "Siapa yang ngelarang?"

"Lo, gapapa gue lepas?"

Luca melepas pelukannya lalu tersenyum lebar. "Lo mau break seumur hidup juga ga masalah, Ciel."


Tuesday, 20 August 2013

You-less

Es coklat, sepiring pasta carbonara, gelak tawa, celetukan seenak jidat, pembelajaran diri, obrolan berat, candaan lawak, dan temaram lagu mellow. Deru kendaraan terdengar dari kejauhan. Kelap-kelip lampu jalanan bersinar begitu redup, seperti kunang-kunang di tengah malam gelap. Begitu ramai, begitu riang, begitu merebakkan asa dan rindu dalam dada.

Namun tetap saja, bagi Luca, semuanya terasa kurang.

Delapan orang yang saat ini ada di sekelilingnya, sahabat yang sudah lama tidak pernah ia jumpai. Jangankan mengetahui bagaimana kabarnya, sekedar mengucapkan 'halo' pun jarang ia lakukan. Bukannya sombong, atau tidak mau tau.

Mereka tidak pernah bertemu.

Luca terpisah sendirian. Terjebak menjadi satu dari tiga puluh orang lain. Bukannya ia tidak menyukai lingkarannya yang sekarang, hanya saja....

Selalu ada yang kurang.

Tidak peduli, bagaimana pun ia begitu terseret dalam arus dalam lingkaran lamanya. Tidak peduli, apakah ia harus menahan emosinya begitu dalam. Tidak peduli, ia harus menjadi orang lain demi hanya bisa tertawa terbahak-bahak dengan mereka.

Ia selalu merasa kurang.

"Ngelamun aja, Luke!" senggol Langit, masih dengan senyum jahil menggantung di wajahnya. "Mikirin siapa, sih?"

Luca memutar matanya. "Apaan deh. Ngga mikirin siapa-siapa juga."

"Yakin?"

Luca mendengus dan menyenggol Langit, memberinya tatapan tajam sebelum tersenyum lebar dan tertawa. Keras, lepas. Mentertawakan dirinya sendiri.

Ah. Luca akhirnya tahu apa yang kurang.

.
.
.

18.72
Raaaaaaai, kita jadinya makan di XXXX yah. Sini yuk sini, berhenti dulu ngerjain tugasnyaaaaa.

19.45
Kayaknya aku nggak bisa kesana deh, Luke, aku masih kerja kelompok, ini dipresentasiin besok soalnya.

20.00
Huhuhuuuu. Okeeeeeee. Semangat ya!

.
.
.

Sunday, 4 August 2013

猫

Hujan rintik turun. Bahkan sejak satu jam yang lalu aku bisa mencium wangi tanah dari kejauhan mendekat dengan pasti. Kelabunya terlihat sendu di mataku. Di sudut jendela berwangi aneh ini, aku bisa lihat ada seekor keong bergerak sangat pelan merayapi daun. Sangat pelan, sampai-sampai aku gatal ingin membuatnya terguling dan menggelinding.

Ah, andai aku bisa keluar rumah.

Hujan ini membuatku tidak bisa pergi kemanapun. Airnya membuat rambutku basah kuyup. Bukannya aku tidak suka kena air, tapi hujan selalu membuat rambutku tampak aneh dan mengembang aneh. Menyebalkan.

Aku menguap sesekali. Sungguh, irama konstan dari hujan membuatku lebih mudah mengantuk. Sesekali aku mengulet, meregangkan otot-otot tubuhku serta tangan dan kakiku. Menyebalkan, tidak bisa berjemur seharian dan main ke luar itu. Sangat menyebalkan.

Bosan ini benar-benar membuatku mengantuk dan lapar. Aku segera beranjak dari sofa empuk ini dan berjalan ke kamarnya. Pintunya sengaja tidak ditutup rapat, katanya supaya ia tidak perlu bangun hanya untuk membiarkan aku masuk dan mengoceh serta mengacak-acak kamarnya. Dengan satu gerakan ringan, aku mendorong pintu dan masuk.

Gelap. Tirainya ditutup rapat. Di atas kasur, terdapat benjolan yang tertutup oleh selimut berwarna hijau yang bergerak-gerak sesekali.

"Arya."

Tidak ada respon. Aku lalu duduk di atas kasur dan mulai membangunkan orang ini. "Arya. Bangun. Arya."

Masih tidak ada respon. Aku mengerutkan keningku. Kesal. "Arya! Ayolah! Bangun!" seruku sambil memukul-mukul pipinya.

"Mmmm," gumam Arya sebagai jawaban, sebelum berbalik ke arah sebaliknya, memunggungiku. Sialan.

Saatnya menggunakan jurus rahasia.

"Arya!"

.
.
.

"Aduh!"

Aku buru-buru bangkit dari tidur dan mengelus-elus dahiku yang sangat nyeri. Fokusku langsung mengarah pada sosok yang sedang duduk manis di atas kasur, memandangku dengan mata sok-polos. Ekornya bergoyang-goyang.

"Meow."

"Meow, katamu. Apa tidak bisa membangunkanku dengan cara yang lebih manusiawi, Kei?"

"Meow~"

Aku menguap, lebar. "Ngantuk. Makannya nanti saja ya," ujarku setengah bergumam sebelum kembali masuk ke dalam selimut. Seolah mengerti maksudku, Kei langsung menaiki tubuhku dan mengeong-ngeong mengesalkan sambil memukul-mukul mukaku dengan telapak kakinya yang empuk dan berbulu halus itu. Geli dan memancing bersin, terutama kalau ia menempelkannya ke hidungku begini.

"Meow."

"Singkirkan kakimu dari mukaku, Kei."

"Meow."

"Kei."

"Me~oooo~w!"

"DUH!!!"

.
.
.

Dan si brengsek itu pada akhirnya tetap menjitakku. Sialan.

Setelah aku berhasil membangunkannya, ia segera beranjak dari kamar menuju dapur dan mengambilkan aku makanan serta air. Setelahnya, ia segera membuat makanan untuk dirinya sendiri. Bau manis segera memenuhi dapur. Setelah menuang apapun isi mangkok besi besar bergagang itu ke cangkir, ia separo menyeret tubuhnya ke ruang tamu. Penasaran-dan sudah kenyang, aku segera mengikutinya.

Di ruang tamu yang sendu itu, Arya duduk di sofa dekat jendela dan menyesap minumannya pelan-pelan. Ia memakai kaus lengan panjang yang sedikit kebesaran dan celana panjang yang ujungnya dilipat beberapa kali. Rambutnya sudah agak panjang. Poni ikalnya sudah mulai menutupi alis dan menyentuh kerah pakaian.

"Kei. Sini."

Menurut, aku pun berjalan cepat menghampirinya dan berbaring di sampingnya. Ekorku sesekali menyentuh pahanya ketika jarinya yang panjang menari-nari di atas rambutku. Sesekali ia menggaruk belakang telingaku, kadang-kadang ia hanya mengelus-elus kepalaku. Tangannya yang satu masih setia memegang cangkir, sementara pandangannnya kini fokus pada benda kotak yang menyala-nyala di depan kami. Arya menyebutnya TV dan ia selalu marah kalau aku memencet-mencet benda yang disebutnya remote. Entah kenapa.

"Kei."

Aku menoleh ke arahnya. Sungguh, tangannya ini menghalangi pandanganku. Dengan cepat aku membuat jarinya pindah ke bawah kakiku, terjepit oleh berat badanku.

"Kei."

"Ya?"

"Kei."

"Ya, ada apa, Arya?"

"Kau tahu?"

Tidak. Aku bukan pembaca pikiran.

"Reika sudah punya pacar lagi."

...oh.

"Begitu?"

"Dan kau tahu?"

Tidak. Sudah kubilang berkali-kali, aku bukan cenayang.

"Larsa pacaran dengan Raika."

"...ha?"

Lalu Arya tertawa. Miris. Mengiris. Aku tidak suka melihat Arya tertawa begini. Bukan tawanya yang biasa. Bukan tawanya saat ia melihat satu hal di TV yang lucu, bukan tawanya saat seorang temannya kucakar karena mengelus-elus perutku, bukan tawanya saat ia diserang jurus kelitikan oleh Larsa.

Arya memaksakan dirinya tertawa.

.
.
.

"Hahaha, geli, Kei."

Mendadak, Kei naik ke dadaku dan menggosok-gosokkan ujung kepalanya ke daguku. Entah apa yang ada dipikiran kucing ini. Entah ia benar-benar mengerti maksudku, atau itu hanya insting kucingnya saja. Entah.

Aku menaruh gelas di meja di samping sofa kemudian memeluk Kei. Bunyi dan dengkur pelan terdengar darinya saat aku mengubur wajahku di rambut hitamnya yang halus. Sesekali ia menjilat telingaku.

Reika. Larsa. Raika. Kenapa semuanya begitu sulit?

Bukannya aku tidak mau Larsa bahagia. Apalagi aku tahu persis seperti apa Raika.

"Meow."

Aku melepas pelukan Kei dan menatap matanya. Hijau-hitam-kuning yang aneh. Aku lalu merebahkan diri dan mengangkat Kei tinggi-tinggi di atas dadaku. "Kei, menurutmu apa yang sebaiknya kulakukan?"

"Meow."

"Duh, aku tidak mengerti."

"Meow."

"Apa arti 'meow'mu itu, coba?"

"Meoooow!"

Kei melompat dari tanganku, menginjak mukaku, kemudian turun dan berjalan angkuh ke dapur. Cih. Kucing sial itu.

"Keeeeii! Jangan kebanyakan makan! Kalau kau gendut aku tidak tanggung!"

.
.
.

Lupakan saja dia.
Lupakan. Lupakan.
Kubilang lupakan dia, Arya!

.
.
.

Dan kau tahu, aku tidak akan pernah jadi kucing gendut kalau majikanku adalah orang yang harus selalu diurus sepertimu.

Tuesday, 21 May 2013

Unzipped #1

"I kinda miss you."

He stared, furrowed his eyebrows. "What? So sudden."

I chuckled. "It's the truth."

"Hahaha. Weirdo."

Place Where I Belong

Keletak sepatunya menggema begitu nyaring di aula besar beratap lengkung kaca. Grey merasa ada yang salah, sekaligus benar, dengan arahnya berjalan sekarang. Dilema seorang Terrania yang berasal dari keluarga Gaian.

"Grey!"

Grey berhenti dan berbalik. Lakra.

"Grey," panggil Lakra sekali lagi.

"Grey. Kau... kau tidak bisa kembali pada mereka, kau tahu? Berbeda dengan mereka, kau punya keluarga. Kau punya kami semua, kau punya aku. Tidak masalah apakah kau Terrania ataupun seorang Gaian, bagiku kau adalah Grey. Sejak dulu sampai sekarang. Kami--

Grey tidak mendengarkan sisanya. Perhatiannya terfokus pada sisa 'keluarga'nya. Teman-temannya di desa dahulu, masa lalunya. Ada rindu yang menggelitik hati Grey, menuntutnya untuk kembali pada kehidupan lampau. Grey ingin, sangat ingin kembali pada siapa dirinya di Gaia. Tidak ada tuntutan untuk mempertaruhkan nyawa, ia bisa seenaknya memanjat pohon apel milik tetangga tanpa takut ditangkap dan dihukum memotong kayu bakar, atau malah bisa seenaknya tidur siang di atap tanpa perlu takut ada patroli udara yang memergokinya lalu menyeretnya ke depan meja Granda untuk kemudian diamuk habis-habisan. Meski begitu, ada getar ragu yang tersirat jelas di dalam banyak pasang mata yang kini menatapnya. Keraguan akan siapa dirinya.

Akan kedua sayap yang terlipat rapi di punggungnya.

--kembali!"

Grey kembali menatap Lakra yang terengah-engah. Ada kesungguhan di mata pemuda itu, masih sama seperti yang diingatnya kali terakhir mereka bertemu. Namun, tetap saja.

Ada sesuatu yang salah dengan kesunyian genting yang kini menaungi mereka semua.

"Lakra, aku...."

"Lagipula, mereka sudah meninggalkanmu, Grey. Kau tidak punya tempat kembali."

Seperti bilah pisau tajam, hati Grey tergores dalam ketika ia menengok ke belakang dan tidak melihat siapapun di sana. Tidak sepasang telinga runcing, ekor yang terlihat empuk, atau kilau taring yang mematikan. Hanya ada satu hal yang tersisa, yang kini sedang berdiri di depan gerbang besar yang terbuka sedikit.

Sayap hitam besar yang megah milik seseorang bermata hijau.

.
.
.

"Grey!!!"

.
.
.