Sunday, 23 December 2012

Surprise!

Disclaimer : 
Saint Seiya (c) Masami Kurumada
MYTH (c) Zelda
.
.
.

Underworld. Gelap, hitam, kelam, suram. Dengan satu-satunya sumber cahaya berasal dari api oranye-biru yang melayang-layang, tempat ini jelas bukan tujuan wisata yang menarik. Ditambah dengan jeritan-jeritan mengiris hati dan makhluk-makhluk berupa mengerikan. Kalau pamanmu menyebutkan Underworld atau Dunia Lain atau Tempat Yang Menyenangkan, segeralah laporkan ia ke polisi terdekat dengan tuduhan pembunuhan terencana.

Tapi kali ini, bukan anak kecil tersesat atau jiwa jahat yang datang ke Underworld. Bukan juga seorang dewa pendek berambut coklat muda dengan setumpuk surat dikepit, apalagi seorang dewi paling-kurang-kerjaan di muka bumi dengan rambut keunguan dan tongkat berujung ornamen burung pembawa kemenangan.

Di satu hari yang membosankan--setidaknya bagi sang Lord, muncullah seorang pemuda. Rambutnya pirang seperti matahari, matanya biru cerah seperti lautan yang tidak tertebak, dan senyumnya mengembang seperti bocah paling jahil di sekolah menemukan mangsa baru.

"Yo, Hades! Apa kabar?" sapanya dengan santai, sangat-santai, pada sang Lord. Hades mengerutkan keningnya. Sedikiiiiiiiiiiiiiiiit sekali. Bagaimanapun pencitraan seorang penguasa alam baka yang keji tetap jadi prioritas utama. Ia berhenti berpidato panjang lebar pada sebuah jiwa tentang apa yang akan dihadapinya di Inferno ini dan menoleh pada pemuda yang kini tengah melihat-lihat patung dekorasi kuilnya dengan penasaran.

"Beritahu aku dalam tiga detik, apa yang sedang kau lakukan di tempat ini, atau kuhabisi nyawamu."

Milo terkekeh, memancing sorot mata tidak suka dari Hades. Dewa berambut hitam legam itu kini berdiri dan berjalan ke arah Milo. Dari cosmo hitam-keunguan yang mulai terlihat jelas menguar dari setiap pori-porinya, Milo tahu Hades serius untuk benar-benar membuatnya tidak bisa kembali ke dunia atas. Buru-buru ia mengangkat tangannya.

"Tunggu. Tunggu, oke? Tunggu sebentar. Aku kemari bukan karena iseng atau kurang kerjaan meski, yah, kau tahu sendiri bagaimana Athena adalah dewi paling kurang kerjaan yang pernah ada di seluruh sejarah Olympus tapi...."

Nada bicara Milo tidak selesai di sana dan Hades menunggu selama beberapa detik sebelum bertanya, "Tapi?"

"Tapi, beliau memintaku memberikan ini kepadamu," lanjut Milo, seraya menyodorkan sebuah kotak besar berwarna hitam dengan pita merah besar di atasnya. Hades menyipitkan mata.

"Apa, itu?"

Milo mengangkat bahu. "Dari wujudnya, kutebak ini hadiah. Mengenai apa isinya, aku tidak tahu dan sungguh, aku-tidak-mau-tahu." Milo menekankan suaranya pada empat suku kata terakhir. "Kemarin tiba-tiba saja ia turun dari Olympus dan menyerahkan ini pada Shion, menyuruhnya datang kemari dan memberikan ini padamu. Shion, dengan segala urusannya--padahal aku yakin ia hanya takut saja, merasa bahwa sebaiknya tugas ini dilimpahkan pada saint lain. Gold Saint, tentunya, mengingat entah akan jadi apa para saint muda jika dikirim kemari. Jadi, saat semua Gold Saint berdiskusi memutuskan siapa yang akan dijadikan tumbal, aku sedang tidak di tempat. Misi di desa sebelah tentang penyakit infeksius. Oh, mungkin Thanatos tahu karena banyak sekali warganya yang mati. Jadi, saat aku kembali mereka semua--semua, maksudku benar-benar semuanya--langsung menatap ke arahku dan tersenyum sangat keji. Taruhan, senyum Minos pun masih lebih manis daripada senyum orang-orang sinting itu. Oh, jangan katakan Minos aku memujinya. Lalu, begitulah ceritanya aku ada di--

Milo berhenti berbicara layaknya ember bocor ketika pandangannya kembali fokus pada sang dewa superior. Takjub, tidak percaya. "Hades, kau, tersipu?"

Hades kembali pada kesadarannya dan Milo bersumpah demi Zeus, Apollo, Poseidon, dan dewa-dewi manapun bahwa ia melihat wajah Hades merona sangat merah sampai ke telinga. "Ap--apa? Tersipu? J--jangan gila. Matamu sudah buta?!" seru Hades sambil memalingkan wajah dan sedikit menunduk, memanfaatkan rambutnya yang panjang untuk menutupi apa yang sedang Milo proses dalam kepalanya. "T--taruh saja apapun itu di manapun. Masih banyak urusan yang harus kutangani!" ujarnya sambil berbalik dan pergi menuju singgasananya dan menghilang di balik tirai-tirai merah. Milo mengedip beberapa kali dan memutuskan untuk menaruh apapun titipan Athena di anak tangga menuju singgasana sang dewa, sebelum keluar dari kuil dan kembali ke dunia atas.

.
.
.

"Kau lihat?"

Dewa berambut pirang mengangguk. "Tentu."

"Titipan dari Athena. Tapi bukan dia yang mengantar."

"Dan juga bukan Hermes."

Yang berambut hitam mengerutkan dahinya. "Berarti sesuatu yang berasal dari orang yang tidak mau identitasnya diketahui."

"Poseidon? Biasanya dia mengirim si cantik berambut ungu."

Si pirang menggelengkan kepalanya. "Hadiah dari Poseidon tidak akan membuat My Lord tersipu begitu."

"Oh, berarti hanya tinggal satu orang."

Si pirang mengangguk. "Sebenarnya sudah terlambat untuk masa puber, tapi--

"AKU BISA MENDENGAR KALIAN BERDUA, TAHU!!!"

.
.
.

Selamat ulang tahun, Hades. Aku meminta para Cyclops membuatkan pedang ini. Ditempa dari onyx dan emas hitam terbaik, kurasa benda ini cocok untuk imej penguasa kegelapan yang keji. Meski sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan frase itu, tapi apa boleh buat. Mata pedangnya diasah dan dilapisi oleh berlian, jadi tidak akan menjadi tumpul atau patah.
Sekali lagi, selamat ulang tahun, Kak! 
 Z

Saturday, 22 December 2012

The One Who Chasing The Sun #3


Disclaimer:

Saint Seiya (c) Masami Kurumada
Saint Seiya Lost Canvas (c) Shiori Teshirogi
Chasing The Sun (c) The Wanted

.
.

"Tunggu!"

Seruan kencang terdengar, diiringi derap langkah yang tidak beraturan, mengejutkan Aspros yang sedang asyik meneguk cappucinno dinginnya. Pria berambut biru itu lalu diam selama beberapa detik, memandangi pakaiannya yang basah oleh campuran antara espresso, susu, dan es. Ia lalu melirik galak kepada segerombolan orang-orang berkacamata hitam dan seorang berambut pirang yang sedang berlari ke arahnya. Begitu si pirang mendekat, Aspros lalu meluruskan kakinya--

--hanya untuk dilompati dengan mudahnya oleh si pirang, namun berhasil membuat tiga orang berkacamata hitam yang mengejarnya tersandung dan terjerembab dengan wajah menyentuh paving block duluan. Aspros ber-tsk pelan ketika melihat si pirang berbelok di perempatan pertama jalan raya ketika salah satu dari tiga pria berkacamata menarik kerah bajunya. Seorang pria berambut merah muda dengan mata hijau menyala.

"Brengsek! Apa maumu, Bocah Sial?!!"

Aspros kini memegang pergelangan tangan si rambut merah muda. Senyum aneh berkembang di wajahnya. "Aku mau membotaki rambutmu, Pink," ujarnya sebelum melayangkan satu tinju ke wajah lawannya.

.
.
.

Lari. Lari.

Asmita terus berlari, berlari. Ia tidak peduli akan penyamarannya lagi, ia tidak peduli ada orang yang mengenali dirinya. Ia hanya ingin pergi dari tempat itu, karenanya ia berlari. Menabrak beberapa kursi di cafe-cafe pinggir jalan kota Athens, menubruk jatuh beberapa turis lokal maupun mancanegara. Tidak jarang ia tersandung oleh entah-apapun yang ada di sepanjang trek larinya. Meski keringat sudah sejak tadi membasahi kaus biru mudanya, meski kakinya sudah mulai lemas, ia harus pergi.

Harus, pergi, dari sini, dari semua ini, dari--

"Sanctuary! Lima ratus euro saja untuk keindahan Sanctuary! Hei, kakak cantik di sana, kuberi diskon setengah harga bagaimana?"

.

Wednesday, 19 December 2012

Rache

"Frey!"

Jeritan Alaska terlambat sampai di telinga pemuda berambut hitam keunguan itu. Anak panah melesat masuk menembus lengan atasnya, menancap seperti pisau tusuk gigi pada potongan kue penuh ceri. Frey berseru keras sebelum terjatuh ke tanah. Segera ia mencabut anak panah itu dari lengannya, membuat darah merembes dari luka dan menodai kaus putihnya.

""Frey, astaga, kau tidak apa-apa?" Alaska bertanya panik. Ia buru-buru berlutut di samping Frey dan berusaha mengalirkan sebagian besar tenaganya sembari melagukan mantra penyembuh. Serat jaringan tubuh Frey merespon pada setiap bait lagu yang dinyanyikan Alaska dalam gumaman rendahnya, menimbulkan rasa gatal.

"Cukup, Al. Simpan saja tenagamu untuk menghabisi--

Kalimat Frey dipotong oleh sebatang anak panah yang melesat lagi, kali ini menyerempet ujung telinganya. Menyumpah pelan, ia lalu mendorong Alaska dan mencabut pedangnya. Bilah biru tua Digma berpendar aneh ketika memantulkan cahaya oranye api unggun. "Panggil Rhys, Al."

"Tidak bisa, Frey. Kau tahu dia tidak suka padaku."

Frey menatapnya galak. "Melindungimu adalah tugasnya sampai mati, Al. Ia familiarmu. Itu kewajibannya, suka atau tidak suka!"

Alaska terlihat ragu. Ia baru akan membuka mulutnya untuk beralasan lagi ketika lolongan nyaring dan berbahaya terdengar dari balik pepohonan gelap. Suaranya menyirami tubuh Alaska dengan kehangatan. Frey menarik bibirnya, tersenyum tipis sembari memasang kuda-kuda. Digma dipegang di samping tubuh, dihunuskan ke depan.

"Well, mari kita mulai pertunjukannya."

Monday, 17 December 2012

For A Certain Missing Person

I'm happy, because I have you you you you and you all.

.
.
.

Luca tersenyum, girang, kesenangan. Ia tidak mengindahkan tatapan konyol petugas bensin ataupun tukang parkir. Ia tidak peduli pundaknya sudah basah oleh air hujan yang turun konstan sejak tadi siang. Ia-tidak-peduli.

Ia hanya peduli akan senyum polosnya, gelak tawanya, kehangatan yang sempat hilang, dan semua tentang dirinya. Ia tidak peduli meski semuanya hanya sementara, meski semua hanya angan semu belaka.

Ia-tidak-mau-peduli.

Sunday, 9 December 2012

The One Who Chasing The Sun #2

Disclaimer :

Saint Seiya (c) Masami Kurumada

Saint Seiya Lost Canvas (c) Shiori Teshirogi

Chasing The Sun (c) The Wanted

.
.
.

Bayangan. Siluet. Rule of third. Komposisi. Langit biru dengan seperempat bawah adalah patung marmer salah satu dari dua penjaga satu kuil. Pilar-pilar yang gompal, atap-atap yang runtuh. Cahaya yang masuk dari sela-sela lubang reruntuhan, gores senjata bekas peperangan milenia tahun silam.

Defteros terhipnotis dalam situs sejarah membosankan--atau apapun istilah Aspros. Ia tersedot oleh karisma tanpa batas yang menguar dari setiap inci bebatuannya. Ada rasa rindu tidak terjelaskan yang mengaduk-aduk isi hati, memberikan satu ilusi kenyamanan dan rasa familiar yang aneh.

Sejak awal pertama ia menginjak kaki di tangga menuju kuil-kuil yang menjulang tinggi sepanjang pegunungan, ada sensasi aneh yang menggelitik. Setelah menyeberangi padang mawar yang seolah tanpa batas, akhirnya ia sampai di dasar gunung. Di kuil pertama, indera penciumannya menghirup aroma besi dan emas, serta timah dan perunggu panas. Masuk ke dalam, dan ia merasa seperti dikelilingi oleh dinding kasat mata yang sangat aman dan kokoh. Beberapa artefak seperti palu dan penjepit besi panjang serta beberapa bilah pedang berkarat dipajang di kotak-kotak kaca.

Naik satu kuil lagi, dan ia merasa lapar. Lapar yang aneh dan tidak masuk akal, mengingat ia baru saja menghabiskan satu loyang pizza ukuran besar sendirian--memancing omelan dan racauan tidak penting dari Aspros yang memang selalu punya alasan untuk mengomelinya. Hidungnya menghirup aroma manis, asam, saus tomat, kentang, daging panggang, ayam asap, sup krim, ikan goreng, dan tumis sayur. Beberapa kali ia menghirup aroma es krim, dan--anehnya--ia mulai mendengar suara-suara. Gelak tawa dan hingar-bingar kehebohan. Ia bahkan bersumpah melihat kelebatan emas di ujung gelap kuil, hanya untuk kembali pada logika bahwa hal-hal seperti hantu tidak ada di dunia ini.

Kuil ketiga adalah kuil tempatnya berada sekarang. Kuil yang pintu masuknya diapit oleh dua patung yang wajahnya sudah rusak oleh waktu, namun ia bentuk tubuhnya identik dan berlawanan. Satu patung memegang senjata di kiri, yang lainnya di kanan. Ada perasaan aneh yang tidak wajar ketika ia memasuki kuil ini. Memang, sejak awal pun ada perasaan mengganjal di hati. Namun, di tempat ini semuanya seolah digandakan berlipat-lipat.

Jejak pertamanya, dan ia merasa seperti di rumah. Kakinya melangkah tanpa perintah, menuju tempat-tempat dengan momen-momen eksotis yang memang ia cari. Segera, tanpa basa-basi, ia mengangkat kamera dan menangkap semuanya. Semuanya. Mulai dari topeng tatapan kosong yang tergantung di salah satu pilar, topeng menyeringai di pilar seberangnya, retakan bekas senjata di tanah. Semuanya.

Perjalanannya di kuil ketiga berakhir pada satu kotak kaca artefak berisikan buket bunga. Pandangannya lalu beralih pada keterangan mengenai artefak tersebut.

Aster. Merah muda, kuning matahari, merah pekat. Aku tidak bisa menemukan teratai berwarna emas. Shxxx menertawakanku habis-habisan ketika aku bertanya tentang teratai emas. Tapi aku ingat, ini adalah bunga-bunga yang selalu ada di taman rahasiamu.

Defteros menelengkan kepalanya pada keterangan buket bunga itu. Daripada keterangan, tulisan tersebut lebih mirip surat cinta. Ada satu nama, Shxxx. Defteros mengerutkan dahinya melihat selera nama zaman dahulu dan berpikir tentang bagaimana cara menyebutkan nama yang terdiri dari huruf konsonan semua itu.

"Taman rahasia? Apa ada tempat seperti itu di reruntuhan ini?" gumamnya tidak jelas. Kilau matanya yang sempat surut kembali muncul lagi.

"Kalau memang ada, sebaiknya aku temukan segera."

Thursday, 6 December 2012

The One Who Chasing The Sun #1


Saint Seiya © Masami Kurumada, Shiori Teshirogi
Chasing The Sun © The Wanted
.
.
.

Sanctuary of Athens.  Dulu, entah beberapa millennium yang lalu, kisah-kisah heroik menjadi cerita sebelum tidur bagi anak-anak. Dulu, di masa kejayaan para dewa-dewi Olympus, konon terdapat para pendekar suci yang bertarung mempertaruhkan nyawa demi membela kepentingan umat manusia.

Dulu, terdapat dua belas pendekar berzirah emas yang menjadi penguasa dari kuil-kuil agung dan megah yang menjadi pilar utama kekuatan Sanctuary.

Kini?

.
.
.

“Lima ratus euro hanya untuk berjalan-jalan mengelilingi reruntuhan kuno?!”

Seorang pemuda berambut toska menutup telinganya yang mendadak berdenging setelah mendengar lengking dari pria bersurai biru gelap di depannya. Mata birunya lalu melirik kiri-kanan, memperhatikan bagaimana mereka berdua lalu digosipkan oleh orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka. Dengan wajah identik dan tinggi menjulang, mencolok di tengah keramaian bersama seseorang yang tidak punya urat malu adalah satu hal yang tidak bisa dikombinasikan bersamaan.

“Aspros, pelankan suaramu,” bisik si surai toska. Aspros mendelik marah dan membuka mulutnya, siap menyemburkan lengkingan ber-pitch tinggi yang memekakkan.

“Lima ratus euro, Defteros! Lima ratus euro! Kalau kau mau mengelilingi reruntuhan sialan itu dengan harga tidak masuk akal begitu, kau saja! Lima ratus euro-ku akan kuhabiskan di kasino saja!” serunya setengah teriak sebelum angkat kaki dari tempat, meninggalkan identiknya yang satu menghela napas panjang dan membungkuk-bungkuk minta maaf kepada pejalan kaki yang kena imbas amukan Aspros.

Memang, salahnya tidak mengecek terlebih dahulu berapa harga memasuki situs arkeologi dan sejarah terkenal bernama Sanctuary ini. Salahnya juga, ia lupa profesinya sebagai fotografer sekaligus penulis artikel di majalah lanskap dunia ternama membuatnya sering lupa diri dan berakhir menghiraukan racauan sang kakak tentang kebosanannya.

Salahnya juga, ia mau-mau saja ketika Aspros meminta—merengek—minta ikut dalam penjelajahannya di Yunani. Mengurus Aspros sama rasanya ketika ia disuruh oleh bosnya, Sisyphus, untuk menjaga keponakannya yang masih balita. Bedanya, mengurus Regulus masih jauh lebih menyenangkan karena bocah itu bisa dilarang dan disuruh diam. Menyuruh Aspros diam?

Defteros menggelengkan kepalanya, tidak mau mengingat lagi saat-saat hidungnya patah karena sumbu emosi Aspros yang memang sudah pendek lantas disulut.

Setelah selesai dengan isi kepalanya, Defteros mengeluarkan kamera dari tasnya dan mulai mengatur-atur berbagai hal. Kecepatan tangkap, bukaan diafragma lensa, paparan ISO, aturan fokus lensa, segalanya.  Kemaniakkannya pada kamera membuat Aspros sering mengamuk tidak jelas kalau ia sudah mulai sibuk dengan dunianya sendiri. Entah Defteros yang terlalu dingin atau Aspros yang terlampau manja, tapi hubungan dua kakak-adik ini memang tidak pernah akur sejak zaman dulu kala.

“Lima ratus euro,” ujar penjaga karcis ketika ia sampai di loket. Seorang pria berambut pirang dan mata biru dengan senyum miring dan mimik sinting. Defteros mendengus sebelum mengambil selembar kertas dari tas ranselnya.

“Saya dari majalah, ini surat tugas saya,” ujarnya sambil menyodorkan kertas tersebut ke depan wajah si penjaga loket, “menurut surat ini semua akses masuk situs sejarah dengan pungutan biaya akan—

“Seratus euro, dan singkirkan kertas konyol itu jauh-jauh dari wajahku,” potong si penjual loket. Defteros hanya tersenyum tipis dan melipat kertas tersebut. Ia lalu mengambil selembar seratus euro dan menyerahkannya pada si penjual loket yang kini sedang menggerutu tidak jelas.

“Namaku Defteros, senang berkenalan dengan—

“Kardia.”

Defteros mengangguk dan mengulurkan tangannya. “Kardia. Senang berbisnis denganmu.”

Kardia lalu menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar pria berambut toska itu segera angkat kaki sebelum ia mengubah pikirannya.
.
.
.

 “Selanjutnya! Lima ratus euro untuk  masuk ke Sanctuary! Lima ratus euro saja!”

Saturday, 1 December 2012

Insanity

Saint Seiya © Masami Kurumada
.
.
.

Ego.

Kesadaran utuh tanpa paksaan yang mengatur langsung perilaku dan pikiran, dan adalah satu bentuk akal yang setiap harinya bersentuhan dengan kenyataan.

Id.

Keinginan instingtif tanpa pertimbangan akal, yang mementingkan diri sendiri di atas segala-galanya.

Superego.

Kesadaran eksekutif. Dimana semua perilaku Id dan Ego pada akhirnya akan dibawa kehadapan Sang Superego untuk kemudian dieksekusi dan diputuskan kebenarannya.

.

Hilang satu, dan kau akan mengalami sesuatu yang disebut kelainan mental. Gila. Sinting. Hilang akal. Tidak waras.

Hilang dua, mungkin kau mengalami ancaman masuk rumah sakit jiwa selama lebih dari lima belas tahun.

Hilang semuanya?

.
.
.

"Saga."

Kanon berbisik lirih di hadapan sosok identiknya. Sekilas, orang tidak akan bisa membedakan mana Kanon-mana Saga. Namun, hanya butuh lima detik untuk tahu siapa yang mana. Tatap saja matanya.

Mata biru yang sejernih lautan dan menghipnotis. Berkarisma, memancing debar tidak karuan. Hidup, menyala, meledak-ledak, terkadang berkilat nakal dan seringnya terlihat manja. Sosok yang dewasa sekaligus kekanak-kanakan. Enerjik dan memberi bahagia.

Mata biru kelam, gelap, suram. Kosong dan hampa, menyedot yang menatap ke dalam jurang dalam tanpa dasar. Keputusasaan seolah mengalir keluar tanpa terbentung, membentuk aliran air di kedua sudut mata. Gurat wajah yang lelah dan hati yang patah lalu pecah jadi kepingan tajam. Sosok mayat hidup yang terduduk diam mematung dalam kehidupan dunia tidak nyata, terbelenggu masa lalu.

.

Hari cerah di Athens. Matahari bersinar cukup terik untuk memaksa anak-anak muda memakai pakaian tipis dan menenggak berbotol-botol air dingin. Hari yang damai untuk ukuran kota tersibuk nomor sekian di dunia.

Damai, dengan suara sirine memekakkan telinga berderu kencang di satu sudut jalan. Damai, dengan satu jeritan putus asa memanggil-manggil nama yang terkasihnya terus diulang tanpa henti. Damai, dengan air mata jatuh deras ke bumi ketika cairan merah yang hangat merembes ke tanah.

Damai, sedamai tidur panjang Aiolos untuk selamanya.

.

Ketika Id gagal  mempertahankan eksistensinya, maka Ego akan kehilangan kendali tentang kewarasan. Ego akan kehilangan pegangan tentang sejumlah fakta primitif mengenai kemampuan bertahan hidup. Ketika Ego terjebak dalam ilusi realita, maka Superego--yang kaku--akan mengeksekusi keputusan Ego, tanpa sedikitpun mempertanyakan. Lama kelamaan, Superego akan mulai bergeser, mempertanyakan keputusannya tentang benar dan salah, tentang nyata dan tidak. Semakin Ego hilang kendali, semakin pula Superego akan semakin terdistorsi. Anomali-anomali akan mulai terlihat, muncul dalam satu perilaku paling dasar yang mungkin manusia dapat lakukan.

.
.
.

mencintai mimpi, menghapus realita, dan tetap hidup terjebak di dalam batas ruang dan waktu imajiner.

Thursday, 29 November 2012

Fast and Furious

Satya menginjak pedal gas lebih dalam, memaksa knalpot ganda-nya berderu lebih nyaring, memancing umpatan kesal dan decak kagum pengguna jalan yang lain. Melaju semakin kencang, menembus angka seratus. Maju, terus, menyalip truk, bis, mobil, hampir menyerempet pembatas jalan. Ugal-ugalan.

Kalau mengingat berapa nominal angka yang harus ia ambil dari dompet untuk sekedar memberi makan kendaraannya, Satya pasti akan berpikir dua kali sebelum mengebut tidak jelas dan berbahaya begini. Tapi, ketika ia tidak sedang terlalu banyak pikiran dan tidak punya tempat untuk melampiaskannya, maka Rodriguez--nama mobil Honda Jazz hitamnya--harus mau menjadi tempat sampah bisunya.

Bisa juga, ia mencari keributan dengan universitas tetangga seperti masa-masa keemasan SMA-nya dulu ketika ia adu jotos dengan sekolah tetangga hanya karena bosan. Namun, mengingat siapa yang akan mengamuk dan marah dan menangis tidak jelas kalau ia sampai pulang berantakan.

Emosinya seketika naik lagi, ia lalu menginjak rem dan menggerakkan stir tiba-tiba ke kanan, menyalip mobil berplat B yang juga mengebut di sebelah kanan jalan, memancing klakson panjang dari mobil tersebut, sebelum akhirnya ia menepi ke rest area.


Thursday, 22 November 2012

Sweet Escape

13 November 20xx 07.40 AM

Happy Birthday! Semoga semoga semoga semoga! Makan-makan! XD

.
.

Perlu waktu hampir dua puluh menit bagi Luca untuk mengetik pesan singkat elektronik sepanjang satu kalimat itu. Dua puluh menit. Sebelum akhirnya ia menekan tombol hijau, memasukkan ponselnya ke dalam tas, dan menyetir melenggang melewati jalan tol menuju kampusnya sambil senyum-senyum tolol.

.

15 November 20xx 00.18 AM

Happy Birthday! Semoga jadi lebih baik dalam segala hal :D

.
.

Stres dan angin laut terbukti bukan kombinasi yang bagus untuk tubuh Luca. Baru sehari menginjak Bali, tubuhnya langsung protes tidak karuan. Protes karena ajang kaburnya si hati dari segala resah gelisah justru jadi ajang logika untuk unjuk gigi soal kemampuannya mengingat-ingat tanggal deadline. Demam dan menggigil semalaman ditambah batuk tidak jelas akhirnya menyerang. Untung, Mas Riza tidur seperti batang pohon. Kalau tidak, ia sudah diceramahi habis-habisan soal menjaga kesehatan dan menyusahkan orang.

Tapi cukup satu kalimat, satu kalimat singkat dari satu pesan singkat elektronik, suhu tubuhnya membaik dan batuknya pelan-pelan reda. Satu pesan singkat yang membuatnya (lagi-lagi) tersenyum seperti orang kelebihan gula.

Satu kalimat, dari Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut.

Sea, sand, and sun

Bali.

Debur ombaknya, gerahnya, semerbak wangi dupa yang menyengat, patung-patung dewa paling epik, lukisan-lukisan yang mendobrak segala macam teori logika manusia tentang imajinasi, mataharinya yang gagah di atas kilau biru laut lepas, dan pasirnya yang menggelitik sela-sela jari kaki sambil sesekali terbawa angin dan menampar dahi.

Bali, romansa dunia, tempat tinggal para Dewa, tempat banyak cinta muncul.

Luca sangat mencintai Bali, sangat cinta sampai ia ingin segera pergi dari tempat tinggalnya di balik gunung dan menjadi penduduk tempat pulau itu. Sebenarnya yang Luca cintai bukan segala etnik kultur budayanya, melainkan lautnya.

Ombak, tebing karang curam, biru-hijau-toska, debur merdu. Laut.

Sebut saja satu nama tempat di dunia dengan laut sebagai pesona utamanya. Luca akan dengan senang hati mengepak barang dan kameranya untuk segera meluncur ke tempat itu.

Karena, sungguh. Luca jatuh cinta pada laut. Jatuh cinta pada ketidakterbatasan yang ditawarkannya, pada ketenangan yang anomali, pada luas dan luwesnya, pada seluruhnya yang ia tidak miliki.

.
.

Satu hal yang Luca sesalkan adalah bagaimana laut juga menjadi satu hal yang mengorek kenangannya.

Thursday, 1 November 2012

Years of Youth #15

Kardia,

Aku tak berani membaca hatimu. Bukan, bukan karena aku tidak bisa, lebih karena aku tidak mau.

Aku takut. Takut. Takut berekspektasi, takut melukai hati sendiri. Takut.

Begitu pun ketika aku memutuskan untuk berhenti bersamamu. Aku takut, Kardia. Takut. Takut pada akhirnya aku jadi tidak mampu kehilanganmu, tidak bisa berjalan di sampingmu.

Takut tidak lagi kau cintai.

Impulsif, ya. Kekanakan, ya. Tidak berpikir panjang, ya. Orang-orang boleh bilang aku adalah kebalikan dari apa yang kusebutkan, namun di depanmu itulah aku.

Dan, mendengar apa yang kau katakan, menerima perlakuanmu, dan pada akhirnya mengerti semuanya, sungguh....

Aku cinta padamu, Kardia. Sekarang dan mungkin selamanya.

Degel
.
.
.

Hari itu, Milo memilih tidur di Aula Besar saja, sampai akhirnya Apollo mengajak pemuda malang itu ke bangsal rumah sakit dan menyuruhnya tidur di sana. Malam itu, Ruang Bersama Gryffindor dipenuhi oleh sumpah-serapah, menyumpahi seorang bermata biru yang tertawa-tawa, melompat-lompat, dan menari-nari kegirangan sepanjang malam hanya karena sepucuk surat yang dititipkan untuknya lewat Milo.

Wednesday, 31 October 2012

Halloween Treat #3

Kanon terjaga karena keributan heboh di Ruang Bersama yang terdengar sampai ke kamarnya. Kepalanya sedikit pusing, mungkin efek dari perutnya yang kosong dan bangun tiba-tiba karena suara keras. Melenguh sedikit, ia lalu berguling dan bangkit dari tidurnya dengan badan terbelit selimut. Setelah menggeram kesal dan berusaha melepaskan diri dari jeratan selimut biru, ia lalu berdiri dan berjalan menuju Ruang Bersama. Degel menitipkan asrama padanya kalau-kalau terjadi keributan saat dia sedang tidak di tempat atau dia sedang kewalahan karena banyak kerjaan, dan akhir-akhir ini Degel sering pulang dengan muka kusut disertai uring-uringan tidak jelas, memisuh tentang sikap seseorang yang, katanya, bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya sembari marah-marah pada Camus. Kanon hanya angkat bahu dan memutuskan tidak ambil pusing--dan tidak mau dipusingkan--dengan apapun yang sedang dialami Degel.

Separo menyeret kakinya, Kanon menggunakan seluruh tenaga yang tersisa untuk sampai di Ruang Bersama. Dari suara cempreng yang kini ia dengar, Kanon mengambil kesimpulan bahwa Aphrodite dari kelas dua kini sedang ribut dengan entah siapa pun yang kurang beruntung mendengar omelan berisiknya. Gumam-gumam samar semakin jelas ketika ia mencapai pintu Ruang Bersama. Sesampainya di Ruang Bersama, Kanon menghela napas sebelum melangkah masuk dan menjaga wibawanya sebagai wakil dari Degel.

Dan di sana, di tengah Ruang Bersama, ada rambut pirang dengan manik hijau yang menjulang tinggi di antara keramaian, tengah menunduk menghadap Aphrodite dan mata biru muda pucatnya yang sedang marah-marah berisik. Seolah menyadari kehadiran Kanon, si pemilik mata hijau itu lalu menengok dan menatapnya. Wajah dengan rahang yang tegas dan ekspresi datar, namun Kanon bisa melihat manik matanya berkilat kelebihan energi.

Hampir saja ia menyebut nama Milo atau Kardia--karena mereka berdua juga sama-sama kelebihan energi--sampai Aphrodite menarik tangannya dan menyadarkannya tentang ketidakmungkinan dua Gryffindor dengan tingkat telat mikir di atas sejuta itu mampu menjawab teka-teki yang diucapkan penjaga pintu asrama Ravenclaw.

"Kanon! Dengar tidak?!" serunya. Kanon mengerjap.

"A--apa? Sori, aku tidak dengar, Dite."

"Rhadamanthys! Dia seenaknya masuk ke asrama kita! Katanya kau yang mengizinkan?!" tuntut Aphrodite.

"Aku? Aku tidak--

"Saga memintaku mengantar ini padamu," potong Rhadamanthys sambil mengulurkan sekeranjang apel merah, puding melon, seteko susu, roti, selai coklat, dan jeruk.

Aphrodite dan Kanon berpandangan sejenak, bingung. "Lalu, Saga mana?" tanya Kanon sembari menerima keranjang makanan titipan kakaknya.

"Aiolos."

Ini lagi, batin Kanon. Entah mengapa, hidupnya selalu dikeliling oleh orang-orang yang overdosis cinta. Kardia pada Degel, Minos pada Albafica, Saga pada Aiolos, bahkan kemarin ia sempat memergoki Hades dan Zeus sedang saling sandar di balkon ruang kepala sekolah. Gila. Sebegitu dibutakannya oleh cinta.

"Oke, terima kasih kalau begitu," gumam Kanon. "dan kalian, ngapain kalian masih di sini?" lanjutnya, mengarahkan pandangan pada massa asrama yang masih memandang Rhadamanthys seolah pemuda itu adalah alien.

"Pertanyaanku, Kanon!" seru Aphrodite. "kenapa orang sialan yang menjatuhkan Kardia dari sapu ini bisa masuk ke dalam asrama kita?!"

"Karena Saga yang memintanya kemari, berarti Saga memberitahunya cara masuk ke dalam asrama, dan jangan berteriak begitu kalau kau belum merubah suaramu jadi sepuluh desibel lebih rendah daripada suara cemprengmu! Bubar semuanya! Bubar!!!" amuk Kanon, dan dalam sekejap massa asrama--yang memang didominasi oleh kelas satu dan kelas dua--menghilang dari hadapannya, menyisakan dirinya dan Rhadamanthys.

"Dan, Rhadamanthys, kumohon kau tidak memberitahu cara masuk ke asrama kami pada siapapun."

"Kalau Minos?"

"Terutama siswa Slytherin. Meski aku tahu kalau Minos tahu, tapi selama dia masih bersama Albafica, seharusnya kelakuan orang itu masih bisa dikontrol."

"Bayarannya apa?"

Kanon mengedip. "Bayaran?"

"Ya. Saga janji mau mengerjakan tugas transfigurasiku. Kau? Apa bayaranmu untuk aku tidak memberitahu orang lain?"

Kanon membatu sebentar, sebelum mengambil tiga buah apel dari keranjang makanannya dan mengulurkannya pada Rhadamanthys. "Ini. Lumayan, untuk cemilan, dan untuk mengisi kekosongan hatimu yang tidak-akan-pernah-bisa mendapatkan Kardia."

Halloween Treat #2

Rhadamanthys kesal luar biasa hari ini. Bukan kesal karena Kardia menghajarnya dengan Bludger pada pertandingan latihan, bukan juga karena Minos menghabiskan persediaan cokelat kodoknya dengan alasan 'barang adik ya barang kakaknya'. Bukan.

Ia kesal, karena, tidak ada angin tidak ada hujan, Degel muncul di depannya, lalu meminta dia untuk berhenti mengejarnya lagi, karena ia akhirnya menyadari bahwa Kardia adalah segalanya. Degel muncul di hadapannya dan hampir separuh Slytherin kelas lima, setelah pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, di depan Sir Hades--kepala asrama Slytherin. Degel memintanya untuk berhenti mengejarnya, di hadapan seluruh teman-teman sekelasnya.

Rasanya, saat itu juga, ia ingin mengutuk Degel dengan kutukan Imperius lalu memerintahkannya tenggelam di danau, atau kabur selama-lamanya ke gubuk reyot di tepi Hutan Terlarang.

Karena, demi Jenggot Merlin! Demi Naga Hungaria atau Naga Biru Wales! Demi semua makhluk gaib dan mantra terlarang, Rhadamanthys tidak jatuh cinta pada Degel. Tidak!

"Sudah kubilang, tingkat kecerdasan Kardia itu hanya selevel anak monyet," gumam Aiacos. "semua perhatianmu padanya malah ia interpretasikan sebagai caramu merebut Degel darinya. Dasar idiot, atau memang semua Gryffindor seidiot itu?" lanjutnya.

"Diam, Aiacos!" geram Rhadamanthys, berbahaya. Aiacos mengangkat bahunya dan kembali mengerjakan tugas, meninggalkan Rhadamanthys yang uring-uringan dekat jendela. Cumi-cumi raksasa yang tidak sengaja lewat di dekat jendela lau menempelkan tentakelnya ke sana, menutupi pemandangan yang sedang dilihat Rhadamanthys dan menggantinya dengan substansi kenyal berwarna putih dengan kaki isap ungu. Pikirannya lalu melayang-layang entah ke mana, sebelum akhirnya diproses oleh otak dan diteruskan ke organ.

"Aku lapar."

Aiacos mengerutkan dahinya. "Bahkan cara bicaramu pun jadi se-abstrak Kardia. Awalnya bicara cinta, sekarang bicara perut."

"Aku tidak bisa berpikir kalau lapar," balasnya cepat sambil berjalan pergi, menuju pintu masuk asrama. "kalau Minos tanya aku ke mana, dapur," lanjutnya cepat sebelum menghilang dari pandangan. Aiacos mendongak sebentar lalu mengangkat bahu lagi.

Halloween Treat #1

"Itu namanya pumpkinophobia."

Kanon meneguk cokelat hangatnya sebelum menengok ke arah Saga, yang entah bagaimana caranya bisa masuk ke dalam Ruang Bersama asramanya. Sudah bukan hal asing lagi bagi penghuni Ravenclaw, tentang keajaiban Saga yang bisa keluar masuk asrama seperti ia keluar masuk ruang bawah tanah Slytherin. Senior sudah maklum, para guru pun begitu. Hanya Seiya--si penjaga sekolah--yang masih penasaran dan ingin sekali menemukan caranya, yang ia yakini berhubungan dengan sihir jahat, untuk kemudian mendetensinya membersihkan kandang Thestral.

"Lalu, ketakutanku pada warna kuning dan oranye?" tanya Kanon.

Saga mengerutkan dahinya sejenak. "Mmmm...bagaimana kalau kusebut, 'fobia terhadap warna kuning dan oranye' saja? Terdengar lebih sederhana," jawabnya sambil memiringkan kepala, dengan ekspresi polos. Kanon membayangkan Aiolos akan langsung menyerang Saga begitu ia melihat ekspresi ini, namun segera mengenyahkan bayangan itu.

Sekitar lima belas menit yang lalu, Saga masuk seenaknya ke asrama dan menarik Kanon yang tengah bergelung di dalam selimut ke Ruang Bersama. Lalu, ia menginterogasinya tentang kenapa ia tidak makan siang, yang dilanjutkan dengan ceramah panjang lebar mengenai menjaga kesehatan. Alasan Kanon tidak mau makan sebenarnya sederhana saja.

"Lagipula, kenapa, 'sih, kamu tiba-tiba jadi takut makan labu?"

Kanon melirik Saga dari sudut matanya. "Bukan takut. Hanya, entahlah. Muak, mungkin? Menjelang Halloween, sepertinya para peri rumah itu punya stok labu yang tidak terhingga, sampai-sampai setiap hari sejak awal Oktober semua makanan yang disediakan berbahan dasar labu. Jus labu, pai labu, sup labu, labu goreng, kue labu, dan salad labu," Kanon menyebutkan makanan-makanan yang disediakan sekolah, lalu mengakhirinya dengan ekspresi mual. "Aku mau muntah," lanjutnya.

Saga mengusap-ngusap kepala sang adik, sebelum berdiri dan berjalan menuju pintu. "Aku ambil beberapa makanan dari dapur, dan kupastikan mereka tidak mengandung labu atau apapun yang berwarna kuning dan oranye. Apa itu termasuk jeruk, wortel, dan pisang?" tanya Saga.

"Kau tahu aku tidak suka wortel, Saga. Kalau jeruk dan pisang, tidak masalah."

"Oke. Sana, tiduran saja di kasur. Sejam lagi aku kembali."

Kanon melambai sebentar, sebelum akhirnya Saga keluar dari asrama Ravenclaw. Ia menghela napas.

Halloween sialan.

Monday, 29 October 2012

Cursed

"Riza ikut ke Bali."

Luca, yang tengah memotong kuku, langsung menghentikan kegiatannya, dan menatap ayahnya yang sedang tidur-tiduran malas di sofa.

"Hah?"

"Iya," Anjar mengonfirmasi. "Riza ikut ke Bali."

"Mas pergi hari apa?"

"Hari Rabu juga. Malemnya."

.
.
.

"Salah sendiri, nggak tegas. Sekarang mah udah nggak kebeli tiketnya."

.
.
.

Detik itu, Luca menyumpah. Keras. Memaki. Dalam hati. Kepada kebijakan fakultasnya yang menyulitkan absensi mahasiswanya sendiri.

Saturday, 27 October 2012

Late Night Conversation

23.35
azuraluca : maaf yah, Sam, kalo selama ini aku sangat sering lash out my anger towards you.

23.56
sealoner : udah biasa. tenang aja.

23.58
azuraluca : oh, so sweet of you.

00.15
sealoner : apaan sih.

00.17
azuraluca : and, thank you for being there and forgive my childish behaviour.

00.59
sealoner : udah ah, Luce. Geli.

01.39
sealoner : Luce? Halah, pasti ketiduran.
sealoner :  good night, then. have a nice dream :)

.
.
.


Friday, 26 October 2012

Years of Youth #14

Asrama Gryffindor.

Milo dan sebaskom air dingin serta handuk.

Kardia yang terkapar di atas sofa. Salah satu pipinya memar.

Regulus dan Aiolia yang cekikikan bodoh di sofa seberang Kardia.

Sisyphus dan Aiolos yang sedang mengusir massa asrama untuk segera kembali ke kamar masing-masing dan berhenti mengerumuni Kardia.

Milo menggelengkan kepala melihat kekacauan yang terjadi. Setengah jam yang lalu, Kardia masuk ke Ruang Rekreasi yang ramai dengan tidak biasa. Muka lebam seperti habis ditonjok dan nafas terengah-engah seperti habis lari maraton keliling lapangan Quidditch ketika ia ngawur saat latihan lalu dihukum oleh Sisyphus, sebelum akhirnya pingsan di pintu masuk dan mengagetkan semua orang.

"Payah," gumam Milo seraya mengompres wajah Kardia. Kardia meringis sedikit. "Payah, Kar. Kau payah. Titel-mu saja troublemaker. Lawan satu orang Ravenclaw saja kalah. Kalau kau melawan Rhadamanthys lalu kau kalah, itu sedikit bisa dimengerti. Degel? Leluhur Gryffindor bisa malu," cerocos Milo.

"Diam, boc--ADUH!!!" seru Kardia ketika Milo menekan memarnya dengan emosi.

"Jangan memanggilku bocah ketika kau tidak lebih dewasa daripada aku," ujar Milo ketus.

"Hei, sudah kalian berdua."

Kardia dan Milo mendongak dan menemukan Defteros sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya. "Milo, bisa tinggalkan aku sendiri dengan Kardia? Dan itu juga berlaku untuk kalian," ujar Defteros pada kuartet Regulus-Aiolia-Aiolos-Sisyphus. Milo lalu berdiri dan pergi, setengah lari, setelah sebelumnya menjulurkan lidah pada Kardia. Kardia menggeram, kesal. Kalau kondisinya tidak sepayah ini, ia pasti sudah menjitak adik kelasnya itu.

"Nah, jadi, Kardia, apa lagi yang kau lakukan hari ini?"

.
.
.

"Uhk--apa?!" Camus hampir saja memuntahkan kembali pai labunya. Alasannya sederhana.

"Itu alasannya," gumam Degel sambil menunduk, nyaris berbisik. Camus mengelap mulutnya yang sedikit dinodai remah kulit pai. Dahinya mengerut.

"Itu...alasan...Kardia.... Oke."

Degel mendongak dan menemukan Camus sedang--sedikit--tersenyum padanya. "Oke?" tanya Degel. Camus lalu mengangguk

"Itu artinya dia sangat menghargai dan mencintaimu lebih dari apapun, sampai tidak mau menodai dirimu bahkan dalam pikirannya sendiri, Degel. Kau harusnya bangga."

.
.
.



Thursday, 25 October 2012

Traffic Joy

Gelap, dingin, malam, suara derum mobil di kejauhan, sinar redup layar telepon genggam, kicau riuh orang-orang yang menunggu jalanan kosong.

Luca menengok sekali-sekali ke jalan raya yang terlihat dari depan pagar kompleks rumahnya. Antrian kendaraan bermotor sudah mengendap sejak tiga jam yang lalu, dan tidak ada tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat. Ia lalu kembali ke layar ponselnya, mengecek linimasa jejaring sosial, hanya untuk menemukan kicauan-kicauan para pekicau tentang macetnya jalan raya. Ber-cih pelan, ia lalu melanjutkan penjelajahannya di dunia maya sambil mengisi waktu luang.

"Luce."

Luca lalu mendongak, sedikit kaget, dan menemukan Celka di sana. Sama dengan dirinya, Celka juga salah satu dari begitu banyak orang yang pada akhirnya malas pulang sekarang dan lebih memilih menunggu saja. Di belakang mereka berdua, riuh ramai Ashra yang bermain gitar sambil separuh curhat terdengar samar.

"Apa?" tanya Luca, yang perhatiannya kini penuh pada Celka.

"Temenin beli makan."

Tanpa basa-basi, nggak liat-liat orang lain lagi males apa kagak. Kebiasaan.

"Yuk."

.
.
.

"Hahahahaha!!!"

Tiba-tiba Celka tergelak. Keras, kencang. Luca lalu mengerenyit, bingung.

"Kita kayak pasangan kekasih yang baru jadi lah!"

Kekasih? Hari gini masih bilang kekasih? "Terus, pake efek angin, ujan, sama bunga-bunga, sambil sok-sok salah tingkah," lanjut Celka, mengikuti arah perbincangan konyol di tengah udara dingin.

"Alah, lebay kamu," balas Celka, sembari mengerenyitkan dahi dan nyengir lebar.

.
.
.

Dan, dalam sekejap, sekejap saja, dinginnya berubah jadi hangat, dan Luca mengumpat dalam hati, menyumpahi hormonnya dan mensyukuri cahaya remang yang menyamarkan rona merah di wajah.

Tuesday, 23 October 2012

A Universe Where Everything's Possible

Thus, the story so far....

Alice manage to let go of an underwater creature who called himself Ganymede. As a mythology-freak, she remembered that Ganymede was a handsome, charming, blonde young-man who managed to captivate Zeus' attention. But this guy....

Is far from her expectation.

Long short story, she finally came back to where she used to be, a place where she belonged. The half dark-half bright world, where she lived her two-sided life. As an apprentice under The World, and as a resident of The Underworld.

Unti she realized that the reason she strayed that far for this strange-Ganymede-guy was because of a certain someone. A bright-smile man with a pitch-black hair and a warm-friendly aura emitted from him anytime. Apollo, his name. And eventhough he didn't resemble the Sun-God at all (flaming hair, crimson eye, mischievous behaviour), he was the sun for her. He is the sun of her world.

And as the sun he should be, Alice died without him.

Sunday, 21 October 2012

Years of Youth #13

"Kardia!!!"

Kardia melompati anak tangga tiga-tiga sekaligus, sesekali menabrak-nabrak beberapa senior--yang sudah maklum dengan kelakuan miring Kardia--dan banyak junior--yang rela-rela saja ditabrak oleh Bludger tampan dari Gryffindor. Harusnya sisa hari ini ia habiskan dengan malas-malasan di Ruang Rekreasi asrama, menggelinding di karpet empuk dekat perapian, sambil mungkin mengerjakan tugas Transfigurasi dan Mantra. Harusnya.

Sampai ketika ia turun dari Menara Astronomi dan menemukan Degel di ujung koridor menuju asrama. Memori brengseknya mendadak memutar balik menuju waktu di mana ia menemukan seorang sialan dari Slytherin sedang--

"Kardia! Berhenti kabur!"

Kardia buru-buru mengenyahkan pikiran gila itu dan fokus kabur. Kabur dari orang yang memancing adegan gila di ujung tersembunyi kastil itu terbayang dengan sangat nyatanya.

.
.
.

Tapi, kadang, bahkan, seorang Kardia pun, tidak bisa lolos dari mangsa yang kini berbalik mengejarnya.

.
.
.

Setelah berlari menyusuri kastil, naik-turun tangga, melintasi lapangan, menyusuri tepi danau, dan tersesat di taman labirin, Kardia menyerah. Tidak, niatnya untuk kabur tidak akan pernah bisa menerima keadaan dirinya menyerah. Tubuhnya lah yang membuatnya menyerah.

Jantungnya sudah berdebar dengan ritme yang tidak karuan sejak sepuluh menit yang lalu akibat lari-larian ekstrim yang baru mereka berdua lakukan. Hal ini membuat pasokan oksigen ke seluruh tubuh Kardia menurun drastis; dan kini ia sedang menanggung efek dari hal itu. Terduduk dengan napas sangat cepat dan pandangan buram. Berlari sedikit lebih lama lagi, dan dia akan pingsan di tempat.

Dan di belakangnya, berdiri Degel yang sedang berusaha mengatur napasnya sambil mencengkram kerah kemejanya.

"Berhenti...kabur...dariku...Kardia," sengal Degel di sela-sela napasnya. Kardia hanya diam dan berusaha mengatur tubuhnya, memaksa tubuh lemahnya untuk kembali bekerja dnegan normal.

"Kardia?" tanya Degel, kini berada di hadapan si Gryffindor muda. Kardia mendongak, masih bernapas cepat dan mencengkram dadanya. Ia lalu tersenyum.

"Yo... se...bentar...ya?" ujarnya putus-putus. Mimik wajahnya lebih pucat dari biasa. Kardia memang putih, nyaris pucat, meski tidak sepucat Minos atau Aspros. Meski menyandang gelar Beater dan anggota Klub Duel, Kardia juga merupakan pelanggan tetap Bangsal Rumah Sakit, terutama di awal-awal kehidupan asramanya. Penyakit lama bawaan lahir adalah penyebabnya. Begitu ia aktif di berbagai kegiatan yang melibatkan fisik dan stamina, pelan-pelan frekuensinya berkunjung dan menginap di bangsal berkurang. Namun, sekalinya kumat, ia bisa terbaring berhari-hari

"Kenap...astaga. Maaf, aku lupa. Sungguh, aku..." ujar Degel panik. Ia buru-buru berlutut dan mengobservasi Kardia, melihat apakah pemuda itu membutuhkan penanganan segera. Kardia lalu menepuk lengan Degel.

"Jangan panik begitu, oke?"

"Kau, tidak apa, Kardia? Perlu kubawa ke Bangsal?" tanya Degel. Kardia menggeleng.

"Tidak. Ini, hanya kaget saja. Bukan apa-apa," jawab Kardia, yang kini mencengkram tangan Degel. Degel balik meremas tangan Kardia, berharap bisa sedikit meringankan apapun yang dirasakan pemuda bermata biru di hadapannya itu.

"Benar?"

Kardia mengangguk. "Lagipula, kapan lagi kita kejar-kejaran begini, dengan kau yang mengejarku?" ujarnya, dengan cengir lebar tersungging di wajah. Tangannya kini tidak lagi mencengkram tangan Degel, hanya menggenggamnya saja. Setiap indera perasa di tangannya berusaha menghapalkan lagi kontur tangan Degel. Bagaimana rasanya, bentuknya, hangatnya. Semuanya.

Ketika Kardia sedang sibuk dengan kerinduannya akan Degel, yang bersangkutan malah merengut kesal. "Kalau tidak kukejar, kau tidak akan mau menjelaskan padaku kenapa kau menghilang dan kabur seperti orang melihat hantu setiap kali melihatku."

Kardia tergelak. "Oh, itu. Hahahaha. Tidak ada apa-apa, kok," ujarnya sambil nyengir lebar. Degel makin merengut.

"Lalu, ucapanmu soal selalu ada di sampingku atau mencintai tanpa syarat itu juga bukan apa-apa? Bukan sungguhan?" Degel menyentakkan tangannya. Air wajahnya semakin suram. Kardia lalu menghela napas panjang.

"Degel."

Degel tidak menjawab. Ia hanya menatap manik biru Kardia dalam bisu, sambil menikmati sentuhan lembut Kardia di wajahnya. Ah, betapa ia merindukan tangan hangat itu.

"Degel, aku mencintaimu. Dulu, sekarang, dan seterusnya. Itu adalah satu yang tidak akan berubah."

"Lalu?"

Kardia menghela napas lagi. "Lalu, alasanku tidak mau bertemu denganmu adalah, karena aku tidak mau membuatmu jadi objek imajinasi liarku."

"....hah?"

Kardia menggaruk kepalanya, bingung harus mulai dari mana. "Aku, anak muda. Dan pikiran anak muda kadang, melenceng cukup jauh dari seharusnya, kan?"

Degel mengangguk ragu. "Ya? Lalu?"

"Well, kau tahu, tingkatan paling tinggi yang paling ingin kau lakukan bersama orang yang kau cintai?"

"....apa?"

Kardia face palm. Ia tahu Degel itu polos, tapi...

"Aku melihat Minos dan Albafica."

"...ya? Minos dan Albafica sedang?"

"........................bercinta."

.
.
.

The Path I Choose

"Aku suka kamu."

"...yang kayak gini ngga harusnya diomongin lewat telepon."

"Iya. Tapi kita ngga mungkin ketemu. Ini aja udah batal lagi."

"...so?"

"Mmmmm...ngga ada. Ini, yang sebenernya mau aku omongin dulu itu. Agak basi sih, sebenernya. Tapi ya udah. Galau-galau aku kemarin itu ya karena aku bingung ini apa. Dan sekarang aku tau, tapi kita ngga bisa. Salah di akunya sih."

"...mmmm."

"Soal kenapanya, soalnya aku juga suka sama orang lain.... Ngga. Aku suka sama kamu, tapi aku cinta sama orang lain, dan pada akhirnya semuanya selalu orang lain itu. Ngga pernah kamu. Jadi. Yaaaa."

"....oke."

"Oke. Nah, udah ya. Gue mau nyetir."

"Ya."

.

because this is the end we'll face, even if someday we manage to be together, for we've walked through a different path. so, goodbye.

Sunday, 14 October 2012

Years of Youth #12

Sudah seminggu ini, Degel uring-uringan. Bahkan, wajahnya yang tanpa ekspresi dan membuatnya memiliki gelar 'Ice King of Ravenclaw' itu pun tidak bisa menyembunyikan emosinya. Di pelajaran Duel di kelas Mantra pun, Degel yang biasanya melancarkan mantra-mantra kalem dan tersembunyi untuk mengalahkan lawannya kini memakai mantra-mantra eksplosif. Entah sudah berapa kali Ares melancarkan Aguamenti hari itu, sampai mengancam akan mendetensi si mata hijau itu kalau sampai ia meledakkan satu kursi lagi.

Alasannya? Simpel saja.

"Kardia selalu kabur dariku setiap kali kami bertemu di koridor."

Camus mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba mencerna informasi. "Oh?" ujarnya setelah beberapa menit. Bahkan otak brilian turunan dari sang ayah--muggle ternama di bidang sains yang terkenal karena otaknya yang dibilang setara dengan seorang penemu rumus kuantum ternama--pun tidak bisa membuat bungsu yang menyandang titel 'Pangeran Es' ini mengerti maksud kalimat sang kakak.

Degel menyuap sup jagung ke mulutnya sebelum memasukkan sepotong besar Baguette ke dalamnya. "Ha! Hahaha hahahnga hia hihahahhaaghu!!!"

"Kak, telan dulu makananmu," ujar Camus, melirik kiri-kanan.

"Iya!" seru Degel tidak sabar setelah menelan makanannya. "padahal katanya dia cinta padaku! Padahal katanya cukup ada di sampingku dan melihat aku bahagia. Padahal...ARGH!" geramnya sembari menggebrak meja dan angkat kaki dari Aula Besar untuk mencari bedebah yang berani membuat emosinya berantakan seperti ini.

Wednesday, 10 October 2012

Tribute Fic: Happy Birthday Gian Carlo Bourbon del Monte !

Kursi berlengan besar dengan lapisan kulit mewah warna cokelat yang terbuat dari kayu jati kualitas nomor satu adalah salah satu saksi bisu dari kesibukan sang Capo hari ini. Berjam-jam duduk di atasnya, membaca ratusan lembar kertas tentang keamanan kota, menandatangani proposal dari famiglia lain, menerima tamu dari luar kota, atau sekedar bersandar padanya sambil melempar-lemparkan kertas tepat di muka sang bawahan.

Hari yang biasa bagi Gian Carlo, orang nomor satu dari famili CR-5, sang Lucky Dog yang sembarangan sekaligus memikat di saat yang bersamaan, puncak semua keluarga mafia di kota tersebut. Pemuda pirang itu lalu menghela napas panjang, menimbulkan satu garis panjang dari asap cerutu yang tengah diisap, lalu menghempaskan diri ke sandaran empuk kursi sembari menjatuhkan laporan tentang keributan di tengah kota yang disebabkan oleh beberapa pecundang Grave Digger.

"Ngghhh...." geramnya sembari meregangkan tubuh. Sudah hampir seminggu ia dijejali tanpa henti oleh laporan-laporan sepele. Pencurian ikan, pencuri pakaian dalam, keributan di pasar malam, penipuan di bar kecil di pinggir kota, sampai masalah rumah tangga tetangga yang saling lempar piring sampai-sampai salah satunya nyasar ke halaman HQ CR-5 dan memecahkan jendela. Ingin rasanya ia kabur sejenak, ke gereja tua tempatnya berasal atau ke manapun, untuk meredakan tensi darahnya yang sudah cukup tinggi.

Belum lagi, Luchino--sang second in command sekaligus kekasihnya, kini sedang mengurus bisnis famiglia di luar negeri. Kabar terakhir mengatakan ia akan pulang paling lambat sebulan lagi. Begitu juga dengan Bernardo--sahabatnya sejak kecil, yang kini sedang berangkat ke Inggris untuk mengurus hubungan diplomatis dengan mafia sana.

Kesampingkan Giulio--yang kini sedang sibuk menghabisi sisa-sisa GD--atau Ivan--yang sedang entah ada di mana bersama entah wanita mana. Terjebak sendirian di markas dengan ratusan lembar kertas menunggu untuk dibaca dan ditandatangani, hari ini jelas hari yang cukup menyebalkan bagi Gian.

Pandangan matanya yang kemana-mana lalu berhenti di kalender mejanya. Tanda silang terakhir ada pada tanggal 9. Sekarang sedang bulan Oktober. Hari ini berarti tanggal sepuluh Oktober. Gian menghela napas semakin panjang.

"Oh, ya. Hari ulang tahun yang sungguh hebat."

Saturday, 6 October 2012

Years of Youth #11

BRAK!

Pintu ruang kelas menjeblak terbuka, memperlihatkan seorang pemuda berambut pirang dengan mata biru yang berdiri terengah-engah dengan keringat membanjiri wajah. Semua anak menatapnya, begitu juga dengan sang guru. Pria di usia awal tiga puluh, dengan mata biru gelap dan rambut coklat tembaga. Dahinya berkerut saat melihat kedatangan heboh Kardia.

"Maaf...Sir...saya...terlambat...."

Ares menaruh buku yang sedang ia baca lalu berjalan ke arah Kardia. Tongkat sihir dari kayu Ash dengan inti naga-nya diayun-ayunkan berbahaya. Matanya berkilat jahat ketika ia mengayunkan ke arah Kardia dan meledakkan pintu kayu di sebelah sang Gryffindor.

"Jadi," DAR! "kenapa," DAR! "kau," PRANG, lampu kecil di pilar pintu jatuh. "datang," BRAK, Kardia berguling ke samping dan menabrak meja kayu. "terlam--

"Expelliarmus!" seru Kardia dari balik kursi, disaat yang sama Ares menarik meja dan membiarkan meja malang tersebut meledak jadi kepingan tajam ketika telak dihajar oleh mantra Kardia. "Aku minta maaf, Sir! Bukan mauku datang terlambat!"

"Lalu kenapa kau datang terlambat, Kardia dari Gryffindor, Beater Tim yang pernah memukul Bludger ke arahku sambil cengengesan tolol, anggota Klub Duel yang hobi melucuti pakaian lawan?"

Kardia, yang sudah berdiri dan tidak lagi bersembunyi, membuka mulutnya sebelum merona merah. Sangat-merah. Lebih merah dari rambut sang guru yang warna tembaga, apalagi rambut merah Camus. "Aku...."

Ares sebenarnya ingin bertanya lebih jauh tentang perubahan ekspresi wajah Kardia, tapi ia menahannya untuk lain kali. "Ya?"

"Aku...jalan pintas yang...biasa kulewati...anu," ujar Kardia gugup. Ares makin mengerutkan dahinya.

"Ya? Ada apa dengan jalan pintas yang tidak pernah mau kau bagi dengan kami?"

"...aku butuh ke kamar mandi, Sir," jawabnya tiba-tiba sambil angkat kaki dari kelas, memancing sumpah-serapah dan pengurangan poin asrama dari Ares. Tapi Kardia tidak peduli. Salahkan Minos dan seseorang dari Hufflepuff sahabat Degel yang melakukan hal ngawur di sudut sekolah.

Friday, 5 October 2012

Years of Youth #10

"Nh...."

"Aaa...."

"Nnnnn!!!"

.
.
.

Kardia membatu. Mematung. Mati gaya. Total.

Harusnya ia sedang ada di kelas Mantra dan sedang duel dadakan dengan Regulus, atau Asmita, atau El Cid, atau siapa pun yang mau meladeninya. Harusnya ia sedang diamuk oleh Professor Ares karena kelakuan anarkisnya, atau justru sedang diajak duel oleh guru yang sama-sama cepat panas itu.

Harusnya ia tidak membatu di satu sudut sekolah, melipir ke dinding dan menahan napasnya, mati gaya dan bingung setengah mati. Harusnya ia tidak ambil jalan pintas terdekat dari Ruang Sapu menuju kelas Mantra. Harusnya-ia-tidak-ada-di-si--

"Minos!!!"

.
.
.


Thursday, 4 October 2012

Secret Wish

Derum knalpot menderu, selagi mobil itu melaju. Dengan knalpot modif sederhana hasil puasa dan menabung pelan-pelan selama satu semester, Celka menginjak pedal gas dalam-dalam, memamerkan bunyi garang hasil kerja kerasnya menahan nafsu makan selama enam bulan terakhir.

"Asiklah suaranya!" seru Luca, duduk di kursi penumpang sambil menarik-narik sabuk pengamannya--kesenangan. Celka hanya nyengir senang.

"Tadi, kata Risya, berapa kalo mau nge-jailbreak?" tetiba, Celka angkat suara. Luca yang sedang sibuk memencet-mencet tombol radio mengerutkan keningnya.

"Mmmm, sekitar seratus ribu. Tapi kalo yang di-jailbreak macem iPhone sih, kayanya lebih mahal lagi." gumam Luca. "Kenapa? Mau jailbreak iPhone barumu?"

Celka lalu tertawa renyah. "Percayalah aku punya? Mana ada aku punya."

"Lah? Kan tadi kamu bilang begituuu??" protes Luca.

"Percaya aja sih kamu. Dasar."

"We! Celka tukang bohong we!"

"Apaan sih, Luce. Masih ngawur aja mulutnya."

"Alaaah," Luca mengibaskan tangan, "ngatain ngawur, udah lama ngga ngobrol juga. Tau darimana mulut aku sering ngawur?"

.
.
.


"Tapi, sekarang seneng, kan, aku ada di sini?"

Luca diam sejenak sambil melirik Celka dari sudut matanya. Wajahnya tidak terbaca--tidak bisa dibaca. Poker face sialan, misuh Luca dalam hati. Luca lalu menengok ke jendela, melihat pohon-pohon yang  bergerak mundur selagi kendaraan yang dikendarainya melaju.

"Pasti lah. Seneng banget."

.
.
.

Orang mana, yang tidak senang, ketika apa yang selalu diimpikannya setiap malam dan pintanya setiap sembahyang lalu dikabulkan dan direalisasikan oleh Tuhan?

Monday, 1 October 2012

Stranger

"Sam, kita emang udah selesai, tapi ngga gini ceritanya."

"Sejak awal memang nggak pernah ada apa-apa di antara kita, kan? We're clear about that."

"Jadi, lo ga bisa, dong ngeginiin gue hanya dengan alasan we're done?"

Samudra diam dan menutup mulut, menelan semua komentar, dan...diam. Diam dan mendengarkan gadis pendek di hadapannya nyerocos panjang lebar tentang apa yang boleh dan tidak boleh. Samudra gerah. Ingin rasanya ia memotong kalimat Luca, lalu membalikkannya dengan fakta sesuai interpretasinya. Tapi, ia tahu, kalau Luca tidak suka dibantah. Luca suka marah-marah karena hal remeh.

Dan ia, si orang asing, tidak punya hak apapun untuk mencegah Luca melampiaskan segalanya. Toh, dia cuma orang asing, bukan?

Until?

"Mau sampai kapan lagi berdusta?"

Luca menoleh ke samping, tidak bisa melihat wajah Reynaldi yang menatapnya galak.

"Mau. Sampai. Kapan. Lo. Bohong. Luce."

Luca menghela napas dan membereskan barang-barangnya, pergi dari tatapan tajam Reynaldi yang tidak menuntut jawaban.

.
.
.

sampai gue akhirnya bisa menjalani hidup sesuai aturan gue sendiri.

Years of Youth #9

Musim dingin menjelang, lapangan hijau berubah jadi hampar putih keperakan, danau luas berubah jadi arena skating, perapian menyala sepanjang malam, sweater tebal keluar dari tempatnya yang tersembunyi di lemari, dan hidung serta pipi menjadi merah karena sengat udara dingin.

Dimulai dari hari-hari awal November, sesekali keping es itu turun dari langit dan angin beku menghembus menembus celah kastil yang luput, atau sengaja dibuat luput, dari perbaikan. Suhu di luar kastil sering menembus angka nol derajat.

Dan dalam kondisi ekstrim begitu, Tim Quidditch Gryffindor tidak pernah absen latihan sekalipun. Berniat mempertahankan kemenangan mereka dalam pertandingan musim dingin, Sisyphus memutuskan untuk membuka topeng senior-baik-hati dan kapten-paling-pengertian di dunia ini dengan menjadi pelatih sparta. Di tengah hujan salju, dengan putih membutakan mata, tujuh orang pemuda-pemudi anggota tim dipaksa naik ke atas sapu dan berlatih.

Semua, tidak terkecuali Kardia yang kini tengah melamun bodoh di dekat gawang. Defteros terbang tidak jauh di sebelahnya, sesekali melirik Kardia dan Sisyphus dan Kardia dan Sisyphus lagi selama beberapa menit, sebelum mengangguk singkat ke arah sang kapten dan melayang terbang menabrak sapu Beater dari kelas lima itu, membuat Kardia oleng dan menjerit kaget dan bergelantung satu tangan pada sapunya sambil menatap galak seniornya yang satu itu.

"Brengsek!" umpat Kardia, setengah menggeram tertahan--takut pada amukan Sisyphus dan detensi Defteros--pada Prefek Gryffindor itu. Defteros mendengus.

"Fokus, Kardia. Kalau bukan karena Isaac menangkap Snitch saat Rhadamanthys menghajarmu, kita tidak akan menang. Camkan itu. Tidak. Akan. Jadi sebaiknya kau buang Degel jauh-jauh dari pikiranmu saat kau ada di lapangan, dan berlatih yang benar." 

Kardia ber;'tsk' pelan sebelum mengayunkan tubuhnya dan melayang pergi ke area latihan, bergabung dengan teman-temannya yang lain, menerima amukan Sisyphus karena berani bolos latihan sehingga ia--terpaksa--harus turun ke tanah dan lari seratus putaran sebagai hukumannya.

.
.
.

"Degel."

Sekerat thyme, dua tetes rambut Unicorn....

"Degel."

Potongan kayu ek, tiga ikat insang....

"Degel!!!"

Bunyi 'duk' pelan dari centong kayu yang jatuh ke meja dan jeritan melengking tepat di depan telinganya membuat Degel kembali ke dunia nyata. Ia mengerjap sekali-dua kali, sebelum menyadari bahwa teman-teman Ravenclaw-nya sedang menatap ia horor, dan Albafica sedang menarik lengan jubah hitamnya. Tepat di samping kanan, lewat surai-surai hitam dan manik biru--yang ia lihat dari sudut mata--Poseidon sedang melipat tangannya di dada. Murka.

"Minggu kemarin kau hampir meledakkan tempat ini, dan minggu ini kau tidak membuat ramuan yang aku suruh! Kenapa kau malah membuat ramuan penghilang sakit, dan bukannya ramuan kejujuran?!" sergah Poseidon. Degel menunduk menatap tanah selagi Albafica buru-buru mematikan api dari bawah kuali Degel.

"Keluar! Dan jangan kembali sampai isi kepalamu tertata rapi dan pikiranmu kembali benar!!!"

Friday, 28 September 2012

Years of Youth #6.5.4


.
.
.

"Apa?" geram Kardia galak. Tidak ada tulangnya yang patah--tidak ada luka barang segaris pun di tubuhnya. Detik-detik penyelamatan Hades--yang Kardia tahu bahwa guru berkelakuan emo gila hormat itu sengaja menyelamatkannya di detik akhir demi apresiasi ekstrim dari rekan pengajar dan murid-murid tentang bagaimana tepatnya ia menyelamatkan nyawa Kardia--membuat nyawanya tidak jadi melayang. Satu-satunya yang terluka dalam kejadian Rhadamanthys menghantam Kardia yang sedang menguap lebar di atas sapu itu adalah harga dirinya yang memang kelewat tinggi. Dihantam jatuh oleh Bludger, oleh Rhadamanthys, di hadapan ratusan orang, lalu diselamatkan penuh rencana tentang kehormatan, dan pingsan di tempat karena tubuh yang kena terjang menolak bekerja sama untuk tetap sadar sampai akhir.

Dan di atas itu semua, karena semua kepayahannya itu dilihat, disaksikan, dan diamati langsung oleh pria Ravenclaw yang kini sedang berdiri diam di samping tempat tidurnya.

"Kalau ada yang mau kau katakan, cepat bilang!" sergahnya sebelum bangun dari berbaring. Mata mereka kini sejajar meski Kardia sedang duduk. Ekspresi wajah Degel masih kosong dan datar, seperti biasa. Kardia hapal betul wajahnya yang ini. Berbulan-bulan ia habiskan untuk menebak-nebak apa yang ada dalam pikiran Degel, sampai akhirnya ia menyimpulkan bahwa Degel adalah titisan dari wanita salju (yang membuatnya habis dikerjai Unity--sepupu Degel--ketika berkunjung ke kediamannya musim panas empat tahun lalu).

"..k."

Perhatian Kardia kembali lagi pada Degel setelah melayang-layang di ambang kegilaan dunianya sendiri, hanya untuk menemukan pemuda Ravenclaw itu menggigit bibir bawahnya dan menangis. Me-na-ngis. Air mata mengalir begitu saja seperti air terjun--atau setidaknya itu ungkapan yang bisa otaknya, yang sudah tercemar lagu galau tanah Inggris Raya--dari sudut mata Degel. Degel tidak terisak hebat, tidak meraung keras, atau melemparnya dengan benda apapun. Hanya menangis, sambil berdiri, sambil menatapnya, sambil meremas kantong belanjaan dan ujung seprainya dengan kikuk.

"Kupikir kau..." ujarnya terputus. Satu tangan yang bebas menggosok sudut mata. "Aku pikir...."

"Aku pikir kau akan mati. Kardia. Aku...." Lalu Degel kembali tenggelam dalam isaknya, kini lebih keras, lebih lepas, dan lebih menampar Kardia dengan keras. Kantong cokelatnya sudah jatuh, dan kini Degel terduduk dan merunduk di samping tempat tidur Kardia, melepaskan emosi yang sempat menyelimutinya beberapa jam yang lalu di lapangan kala ia melihat maut sebegitu dekatnya dengan pemuda pirang di depan mata.

.


Lagi. Seprai putih. Jendela besar. Tempat tidur. Bau ramuan aneh. Berbungkus-bungkus cokelat kodok.

Lagi. Berbaring tidak berdaya di atas tempat tidur.

Lagi. Dikelilingi orang-orang yang bercanda, tertawa-tawa, dan tidak tahu malu, yang menertawakan kejatuhannya di pertandingan serta keberhasilan sang Seeker saat menangkap Snitch di detik kejatuhannya, sehingga Gryffindor tetap menang.

Lagi. Dia-yang-namanya-tidak-bisa-lepas-dari-ingatan datang dengan sekantong besar cokelat kodok. Kardia sudah siap jika pemuda berkacamata itu mau melemparnya lagi dengan apapun kali ini, apakah itu bungkus cokelat atau kursi tunggu. Ia sudah siap melontarkan kata-kata keji kalau-kalau Degel tergagu bingung mau berkata apa, siap menghakimi sepihak tentang apa yang ada di kepala pemuda berotak cemerlang itu, siap menjadi laki-laki paling brengsek yang pernah dikenal olehnya.

Lagi. Kardia dibuat jungkir balik kaki di kepala, jatuh ke dalam rasa paling aneh, terjebak dalam penjara rindu, dan merasakan yang disebut dengan cinta. Lagi. Untuk orang yang sama, untuk yang kedua kalinya.

Years of Youth #6.5.3

Minos melayang tenang di atas sapu terbangnya, Firebolt 3.2, di depan tiga lingkaran besi besar. Di hadapannya, dua belas orang dengan dua macam seragam yang berbeda saling hantam, saling lempar bola, dan saling berkelit satu sama lainnya. Di ujung lapangan, dengan jubah merah dan tatapan tajam serta rambut hitam dan mata biru terang, Defteros menjaga lingkar gawang miliknya.

Bola merah pindah dari Aiolos, lalu Sisyphus, lalu Aiolos lagi, lalu Sisyphus, begitu saja terus, zigzag, melupakan seorang Chaser lain yang tertinggal jauh kewalahan mengikuti irama mereka. Terbang sambil melempar-lempar bola dengan sesekali menghindari bola hitam yang dipukul oleh dua Beater dari masing-masing tim.

"Rhada!" seru pemuda Slytherin berambut merah, sambil memukul Bludgers ke arah seorang pirang di tengah lapangan. Rhadamanthys menerima bola dengan memukulnya lagi sambil diarahkan pada Sisyphus, yang berkelit cepat. Rhadamanthys lalu nyengir lebar.

DUAK!

"OOOOOO!!! Bludger Slytherin menghantam Beater Gryffindor!!!" seru komentator--Aphrodite dari Ravenclaw. "Siapa yang ke--JATUH! KARDIA JATUH DARI SAPUNYA!!!"

Diiringi dengan jeritan heboh dari siswa Gryffindor yang duduk di bangku penonton, Kardia merasakan wajahnya ditampar oleh angin dan perutnya sakit bukan main. Sapunya sudah jatuh entah ke mana dan ia melihat tanah semakin dekat-dekat-dan dekat dengan wajahnya. Panik semakin merajalela ketika ia merogoh saku jubah dan menemukan bahwa tongkatnya tidak ada di sana. Saat jaraknya dengan kematian hanya tinggal dua meter, Kardia memejamkan mata dan menahan napas.

.
.
.

"Wingardium Leviosa!!!"

.
.
.


Monday, 24 September 2012

Years of Youth #6.5.2

Harusnya ia sedang ada di ruang bawah tanah halaman tengah, harusnya ia sedang bergelut dengan seekor tikus dan separuh-tikus-separuh-teko. Harusnya ia sedang bergelut dengan buku mantra dan buku tebal tentang Transfigurasi, harusnya ia sedang memperhatikan Sir Thanatos berubah jadi ratusan kupu-kupu biru sebelum kembali lagi menjadi manusia.

Yang Degel bingungkan, adalah kenapa ia bisa berdiam diri dan tidak mau pergi, mengesampingkan periode Transfigurasinya yang sudah mulai sejak tadi, dan malah mematung sambil membawa sekantong besar cokelat kodok hasil menyelundupkan dari dapur, di depan bangsal rumah sakit?

Baru saja tangannya menyentuh pintu, ia terbuka. Memperlihatkan sosok berambut merah-oranye keriting dan mata sewarna sama. Apollo menaruh satu tangannya di pinggang.

"Aku sudah menunggumu masuk sejak hampir dua jam yang lalu. Kenapa sih kau ini betah sekali berdiri seperti batu begitu?" ujarnya sambil mengisyaratkan perintah 'masuk'. Degel ragu-ragu, sebelum akhirnya melangkah masuk setelah ditatap galak oleh sang matron rumah sakit. Bangsal rumah sakit kosong, seperti biasa. Hanya ada beberapa tempat tidur yang terisi. Ia mengenali beberapa di antaranya adalah pemain Quidditch muda dari Hufflepuff yang tumbuh telinga kucing di kepalanya dan seorang lain yang dibebat sekujur tubuhnya--Degel mengenali mumi dadakan tersebut sebagai seorang Slytherin yang sudah lama menjadi duri dalam daging bagi Minos. Satu lagi tempat tidur yang terisi adalah tempat tidur yang paling hangat karena paling banyak kena sinar matahari. Menyembul dari selimut putih yang menutup sampai ke separuh kepala, untai-untai pirang keemasan yang bergelombang. Degel berhenti dua tempat tidur dari tempatnya berbaring, mengagumi bagaimana sinar matahari sore yang sedikit merah justru menambah kesan dramatis bagi surai emas itu.

"Kalau ke sini hanya untuk mengasihani saja, sebaiknya kau pulang."

Perut Degel seperti dililit ular kasat mata kala mendengar gumam tajam yang sedikit tenggelam. Genggamannya pada kantong cokelat mengerat. Ia menelan ludah gugup sebelum berjalan mendekati tempat tidur Kardia.

"Aku...dengar kau--

"Yayaya. Pergi sana."

"Kar--

"Pergi."

BRUK!

Kardia merasa punggungnya dilempar oleh sesuatu--banyak sesuatu--yang berbentuk kotak sebelum mendengar derap langkah Degel berlari melintasi ruangan, diikuti bunyi 'BAM' kelas ketika ia membanting pintu bangsal, memancing umpatan Apollo mengenai biaya perbaikan pintu. Kardia mengerang kesal sebelum berbalik dan melihat tumpukan kotak cokelat kodok berserakan di tempat tidur dan lantai di bawahnya. Ia lalu duduk dan menghela napas sebelum membuka satu bungkus. Diam beberapa saat, ia lalu memasukkan bulat-bulat satu bongkah cokelat itu ke dalam mulutnya, merasakannya lumer di dalam rongga mulut.

Manis, dan asin.

Karena rasa manisnya menghangatkan relung sekaligus meruntuhkan sisa-sisa pertahanan terakhir yang Kardia bisa lakukan untuk melupakan semuanya.

Sunday, 23 September 2012

Years of Youth #6.5

Jam pelajaran keempat selesai. Rombongan murid kelas lima dari beberapa asrama--Ravenclaw, Hufflepuff, dan Slytherin--berebut segera keluar dari ruang kelas Ramalan yang berwangi aneh setelah menghabiskan dua jam berusaha membaca daun teh. Degel adalah yang paling terakhir keluar, terima kasih pada Professor Hypnos yang sengaja menahannya.

"Degel!" panggil seseorang. Degel menoleh dan menemukan seorang pemuda berkulit pucat--lebih pucat dari anomali pigmentasi kulit Sir Hades--dengan rambut coklat jerami dan mata biru muda. Tahi lalat di bawah mata kiri dan senyum tipis khas-nya membuat pemuda dengan sweater kuning labu ini dapat dengan mudah dibedakan dari yang lainnya. Degel berhenti berjalan ketika ia menghampirinya.

"Halo, Albafica. Kau ikut kelas Ramalan?"

Albafica menggeleng pelan. "Tidak. Aku ada kelas Ramuan tadi. Lagipula, Ramalan bukan keunggulanku. Astronomi aku masih mengerti, tapi ramalan?" ujar Albafica, menggeleng lagi. Degel terkekeh.

"Habis ini apa?" tanya Degel sembari melangkah menuju Aula Besar, diikuti oleh Albafica di sampingnya.

"Selesai. Nanti jam keenam ada Herbologi. Aku ada waktu satu periode kosong. Kau?"

"Sama. Transfigurasi baru ada di periode ketujuh."

Albafica tersenyum--agak--lebar. "Transfigurasi minggu ini mengubah tikus menjadi teko dan mengembalikannya seperti semula. Kalau ada waktu lebih, kau bisa belajar mengubah marmut jadi gelas."

"Oh ya? Sepertinya seru. Sebaiknya aku belajar dulu sebelum masuk kelas," gumam Degel sebelum masuk ke dunianya sendiri. Albafica tersenyum tipis, memaklumi tingkah--hampir semua--anak Ravenclaw. Sekitar lima belas anak tangga sebelum mereka sampai di koridor depan Aula Besar, sepasang tangan yang besar memeluknya. Untai-untai rambut perak jatuh ke bahunya.

"Minos!" seru Albafica kaget, membuat Degel kembali ke dunia nyata dan melihat Minos sedang memeluk Albafica. Sweater abu-abu yang dikenakannya pas dengan warna rambutnya yang perak-platina. Matanya yang berwarna hampir abu-abu melirik Degel jahil.

"Halo, Degel! Sendirian saja?" sindirnya sambil nyengir lebar macam Chesire Cat. Kedua tangannya masih memeluk Albafica--yang mukanya merah total dan memberontak heboh.

"Bersama Albafica, kalau kau memperhatikan. Tapi sepertinya fokusmu hanya pada Albafica, ya?" balasnya. Albafica sendiri sudah menyerah melepaskan diri dari Minos dan kini balas menggenggam tangannya.

"Tentu saja," Minos melepas satu tangannya dan memindahkan tangan lainnya ke pinggang Albafica. Albafica merespon Minos dengan sedikit bersandar di torso bidang Keeper Tim Quidditch Slytherin tersebut. Degel--tidak mau mengakuinya, demi harga dirinya yang terlalu tinggi--merasa panas dengan adegan mesra di hadapannya. Biasanya kalau sudah begini, selalu ada Kardia yang--

Degel menggeleng tiba-tiba.

"Kenapa?" tanya Albafica bingung sementara Minos tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Degel. "Kenapa?" kali ini ia bertanya pada Minos.

"Berhenti tertawa, Minos," geram Degel, yang justru memancing gelak tawa Prefek  Slytherin itu semakin keras. Degel mendengus kesal.

"Berhenti berada dalam fase denial, Degel," ujar Minos setelah akhirnya selesai tertawa. Ia menggosok ujung matanya, menangis saking hebohnya tertawa. "Menurut Madam Artemis, denial adalah fase paling awal dari jatuh cinta. Nah!" serunya, menunjuk hidung Degel. Degel segera menepis tangannya dari wajah.

"Aku tidak denial, Minos, dan aku tidak mengerti tentang apapun yang baru saja kau katakan."

"Oh, ya. Kalau begitu aku ingin tahu apa reaksimu kala mendengar Kardia masuk bangsal rumah sakit karena pingsan di kelas Arithmancy barusan."

"Eh?!"

.
.
.

"Santai saja, Kardia. Aku sudah memberitahu Professor Hades tentang keadaanmu. Hanya saja, setelah keadaanmu membaik, ia memintamu datang ke kantornya," ujar Sir Apollo, penjaga bangsal rumah sakit. Rambut merah keriting gantung-sedikit afronya bergoyang-goyang lucu ketika ia membetulkan selimut Kardia.

"Sir," ujar Kardia lemah.

"Ya?"

"Aku mau cokelat kodok," candanya dengan cengir lebar di wajah, meski rona wajahnya masih pucat. Apollo menghela napas pendek sebelum mengusap kepala Kardia--memberantaki rambutnya yang sudah berantakan.

"Nanti aku bawakan kalau kau sudah istirahat. Sekarang tidur saja dulu," ujarnya sambil berjalan menjauhi tempat tidur Kardia dan masuk ke kantor penjaga bangsal. Selepas kepergian Apollo, Kardia berguling ke samping, memunggungi pintu masuk dan menggenggam kedua tangannya sendiri. Dingin dan pucat aneh. Ia lalu tersenyum ironis dan menarik selimut menutupi setengah kepala lalu memejamkan mata.

.
.
.

Degel....

Saturday, 22 September 2012

Years of Youth #8

"Aku mencintaimu."

Suaranya tercekat. Tangannya meremas ujung sweater biru tua. Salju mulai turun dari langit.

"Aku mencintaimu, Degel."

"Su--

"Aku tahu." Kardia menutup mulut Degel dan menariknya dalam pelukan, mengubur wajah si Ravenclaw ke batas antara leher dan pundaknya. "Aku tahu semuanya sudah selesai. Tapi, aku mencintaimu, Degel. Tidak ada syarat, sepihak saja. Tidak masalah buatku."

Degel mendorong Kardia, mendorong keinginannya untuk tetap ada dalam kehangatan familiar yang ia sangat rindukan. "Berhenti, Kardia. Berhenti mencintaiku."

Dan Degel bersumpah, ia melihat ada kilat kecewa yang muncul dan menghilang dengan kecepatan sama di manik biru Kardia.

"Biarkan aku melindungimu, mencintaimu. Kumohon. Kau bebas mencari sendiri bahagiamu karena itu juga jadi bahagiaku. Setidaknya biarkan aku ada di sampingmu. Kumohon, Degel."

.
.
.

dan aku juga mencintaimu, jadi berhenti memulai lagi apa yang sudah kuakhiri, Kardia!!!

Thursday, 20 September 2012

Years of Youth #7

Ruang Bersama Slytherin yang didominasi hijau. Hijau di jendela, hijau di langit-langit, hijau di dasi dan rompi rajut, hijau di beludru pembungkus sofa, hijau iris mata.

Kalau Saga tidak ingat pemuda bermata hijau di hadapannya ini adalah senior, mata hijaunya sudah ia lempar dengan buku Ramuan yang sedang ia genggam saat ini.

"Mengerti, Saga?" tanyanya angkuh. Nada mencemooh tidak bisa lepas dari cara bicaranya. Saga menghela napas. Orang di depannya ini mengingatkan ia pada seorang Gryffindor keras kepala.

"Tidak, Rade. Kau menyuruhku menjauhkan Kardia dari Degel? Seperti yang sudah kau lihat, tanpa campur tanganku pun mereka sudah berpisah."

Rade--Rhadamanthys--mendengus pelan sambil tersenyum meremehkan. "Ah, ya. Seharusnya aku berterima kasih padamu untuk hal ini."

Saga mengerutkan kening. "Maksudmu?"

Rhadamanthys hanya terkekeh geli. "Well, sampaikan terima kasihku pada Kanon, kalau begitu."

.
.
.

"Aduh!"

"Tidak usah aduh-aduh! Gara-gara kau!"

"Ap--Duh!!!"

"Diam dan terima saja jitakanku, Kanon!" seru Saga. Semua mata sudah terfokus pada mereka berdua sejak awal kegiatan makan malam. Begitu Saga sampai di Aula Besar, ia langsung menuju meja asrama Ravenclaw, mencari Kanon, dan menjitaknya dengan keras tanpa basa-basi. Siswa lain hanya menonton saja, terutama siswa kelas dua keatas. Terbiasa dengan kelakuan konyol dan pertengkaran ekstrim dari dua bersaudara yang lahir di bulan Juni ini.

"Ikut aku!" perintah Saga--setelah puas menjitak, mencubit, dan menjewer Kanon--sambil menariknya dari Aula Besar dan menggiringnya agak jauh dari mata-mata dan telinga-telinga yang penasaran.

"Apaan?!" seru Kanon.

"Apaan?! Kau masih bertanya apa?! Di mana sih otakmu?!"

"Di sini!" seru Kanon, menunjuk kepalanya. Saga lalu membalas jawaban Kanon dengan menempeleng kepala pirang si adik.

"Otakmu di dengkul!"

"Biar! Daripada kamu, otaknya ngambang di danau! Apaan sih?!" sengit si adik, yang sama-sama bersumbu pendek.

"Kardia dan Degel! Jangan pura-pura tidak tahu!"

Ekspresi Kanon berubah. Total. Dari marah dan kesal jadi kaget dan salah tingkah. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke kanan dan Saga paling tahu sekali kebiasaan adiknya ini kalau ketahuan berbuat salah.

"Kau penyebab mereka putus." Saga membuat pernyataan.

"Bukan!" Kanon membantah. "Bukan! Bu...kan?" lanjutnya tidak yakin. Saga ber-cih pelan. "Aku... Degel adalah mentorku. Aku hormat padanya, Saga. Aku juga sangat hormat pada Kardia. Sungguh, percaya padaku," mohon Kanon, menggenggam satu tangan Saga.

"Lalu kenapa Rhadamanthys malah menitipkan 'terima kasih' padamu dalam pembicaraan kami mengenai Kardia dan Degel?" tuntut Saga. Kanon menelan ludah, gugup.

"Aku... aku suka pada Milo, Saga."

Dari marah besar menuju kesal. Dilanjutkan pada kecewa dan menuntut. Sedetik kemudian, Saga melempar ekspresi tidak percaya. Saga memang pantas memiliki julukan 'Si Wajah Banyak'. "Milo?" tanyanya, ragu. Kanon mengangguk.

"Ya. Dan saat itu aku berlatih menyatakan cinta--aku tahu! Aku tahu ini absurd tapi tolong jangan potong dulu bicaraku!" seru Kanon saat Saga berniat berkomentar. Saga buru-buru menutup mulutnya dan membiarkan Kanon melanjutkan.

"Tapi aku lupa, kalau Kardia adalah orang dengan sumbu seratus kali lebih pendek darimu. Di saat yang sama aku berlatih, dia muncul. Melihat aku menyatakan cinta pada Degel. Dan mereka bertengkar hebat hari itu, dan selanjutnya yang aku tahu Kardia menonjok dinding dan hampir mengumpanku ke cumi-cumi raksasa di danau," jelas Kanon lemas ketika mengingat ngeri yang dialaminya saat ia digantung terbalik di atas danau dan tentakel cumi-cumi hanya tinggal satu senti dari tubuhnya.

"Harusnya kau diceburkan saja sekalian, biar diculik Mermaid."

Kanon menghela napas, merapatkan gigi. Dia lebih siap dihajar habis oleh Saga daripada disuruh mati begini. "Aku... aku sudah minta maaf pada... Degel."

"Lalu?"

"Lalu tidak ada."

Saga dan Kanon menoleh, menemukan satu dari dua objek pembicaraan mereka sedang berdiri bersandar di pilar terdekat. Mata hijaunya kontras dengan dinding batu coklat-hitam. Satu tangannya membawa teko jus labu dan tangan lainnya membawa sepiring penuh pai apel.

"Tidak ada. Kanon tidak salah, jadi tidak ada yang perlu kumaafkan. Cepat atau lambat, dengan keadaan kami yang seperti ini, semuanya akan berakhir, Saga. Kau tidak perlu marah begitu pada Kanon," ujar Degel lembut. Kanon meremas ujung kemejanya yang tidak dimasukkan.

"Tapi--

"Saga!"

Kali ini Saga menoleh ke sumber suara lain selain Degel dan Kanon. Kardia berdiri agak jauh dari mereka bertiga. Satu tangannya masuk ke saku celana. Ekspresinya malas. Ia lalu berjalan mendekati mereka bertiga.

"Kardia," lirih Kanon, sebelum secara tidak sadar bergerak ke balik punggung Saga. Meminta perlindungan.

"Oi, kalian bertiga. Berisik sekali. Terdengar sampai pintu aula. Oh, halo Degel."

"...halo."

"Kardia, aku minta maaf," sela Saga. Kardia lalu menoleh ke arahnya. Ia tersenyum singkat dan mengacak rambut Saga.

"Aku sudah lebih dari puas melihat ekspresi Kanon di depan mulut cumi-cumi. Ya, Kanon?" cengir Kardia. Sebaliknya, Kanon semakin bersembunyi di balik punggung Saga. "Well, aku perlu bicara berdua saja dengan Degel. Bisa kalian pergi?" lanjutnya. Saga dan Kanon saling pandang sebentar sebelum berpaling pada Degel, yang mengangguk pelan. Segera, dua anak kembar itu angkat kaki dari tempat perkara sebelum Kardia hilang kendali diri dan mengumpan mereka pada monster apapun yang dimiliki oleh Professor Hermes di Hutan Terlarang.

Setelah Saga dan Kanon hilang dari pandangan, atmosfer ringan yang sedetik lalu ada langsung diganti oleh sesak yang tidak terelak. Mimik wajah Kardia biasa saja tapi Degel tahu, sangat tahu sekali, bahwa otaknya sedang entah ada di mana. Tak lama Kardia berbalik padanya, menatap Degel tepat di mata. Intens, tajam, menuntut, kesal, marah. Degel terjebak dalam gelombang emosi yang tidak terucap.

Lalu Kardia tersenyum.

"Aku mencintaimu."

Dan sedetik kemudian Kardia angkat kaki dari hadapan Degel. Lima langkah kemudian Degel merasa wajahnya panas. Baru satu menit setelahnya, Degel berbalik dan menatap arah Kardia pergi, berharap melihatnya berdiri menunggu. Tapi tidak ada siapapun di sana. Tidak bahkan seutas pirang keemasan milik Kardia.

Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku--

Sudut matanya lalu basah, merasakan pecahan tajam hati yang sudah ia buang namun kembali diberikan padanya.

Tuesday, 18 September 2012

Years of Youth #6

"Incendio!"

DUAR!

Asap mengepul dari kotak kayu yang terbakar oleh api dari tongkat Kardia. Rambut ikalnya agak bergoyang karena angin hasil ledakan. Senyumnya menggantung lebar di wajah.

"Brengsek! Kardia! Apa parametermu untuk kategori berbahaya?!" sengit Manigoldo, lawannya. Kardia hanya nyengir lebar.

"Jangan banyak alasan! Lawan aku atau menyerah! Diffindo!" seru Kardia. Untung, Manigoldo sempat menghindar. Kalau tidak, tubuhnya sudah jadi serpih, seperti kotak kayu malang di belakangnya.

"Brengsek. Tallantalegra!" jerit Manigoldo.

"Protego! Canis Oppugno!" seru Kardia, memunculkan sekawanan anjing dan memerintahnya menyerang Manigoldo.

"Ck! Impediment--

"Levicorpus!"

"ARGH!" seru Manigoldo ketika sesuatu yang kasat mata menarik satu pergelangan kakinya, membuatnya jatuh, lalu menggantungnya di satu kaki, membuatnya melayang di udara. Di dekat kepalanya, anjing-anjing lapar menggonggong dan mengatup-ngatupkan rahangnya berbahaya. "Kardia!" serunya. Panik. Tongkat sihirnya jatuh terlempar.

"Aku menang lagi. Minta traktir apa ya, kali ini?" ujar Kardia sembari mengetuk-ngetukkan jari di dagu, berpikir. Ia lalu menghilangkan anjing-anjing dan menurunkan Manigoldo dengan senyum paling lebar--dan menyebalkan--tersungging di wajah.

"Kau mau membunuhku, hah?!" jengit Manigoldo setelah menenangkan diri dan kembali di atas kedua kakinya.

"Oh, itu fungsi Klub Duel ini, bukan? Mempersiapkan anggotanya dalam duel hidup-mati sesungguhnya."

Manigoldo menggeretakan giginya dan berjalan ke pinggir arena, sambil menggerutu dan menyumpah kesal. Kardia juga berjalan menuju teman-temannya, Milo, Aiolia, Aiolos, dan Regulus.

"Hebat! Hebat!" seru Milo kesenangan, melakukan standing applause. Kardia membungkuk a la pangeran. Senyum masih tersungging lebar di wajah. Ia lalu mengacak-acak rambut Milo dan duduk di sampingnya. Setelah beberapa teguk air, ia menengok ke arah Regulus.

"Bagaimana aksiku tadi, Ketua?"

Regulus nyengir lebar. "Bagus. Efektif dan mematikan. Kurasa kau siap dilempar ke Azkaban dan bertarung di sana."

Gelak tawa meluncur dari mulut Kardia. "Aku belum menguasai mantra Patronus. Azkaban lain kali saja ya."

"Bahagiamu sudah hilang, sih, ya?"

Tawa Kardia berhenti ketika mendengar celetuk tajam dari Shura. Murid kelas satu itu hanya menatap kosong ke depan sebelum akhirnya menyadari seniornya itu menatapnya intens. "Apa?"

Kardia lalu berdiri. "Tidak. Aku duluan," ujarnya singkat sebelum pergi dari ruang Klub Duel dan melempar isyarat maaf pada Manigoldo. Selepas kepergian Kardia, Milo langsung menendang tulang kering pemuda berambut hitam legam itu.

.
.
.

"Ah."

Kardia mendongak dan menatap suara yang menyita perhatiannya. Manik hijau yang tersembunyi di balik kacamata dengan bingkai merah. Rambut coklat gelap yang halus dan diikat rapi. Rompi biru tua yang kontras dengan kemeja lengan pendek putih di baliknya.

Degel.

"Yo," sapanya sambil lalu. Dari sudut matanya, ia bisa melihat gelagat aneh Degel. Setelah beberapa langkah, ia berbalik dan menghadap Degel. "Apa?"

Degel menghindari kontak mata dengannya. Jari tangannya menggenggam erat buku tebal yang sedang dibawa. "Tidak. Tidak ada."

Kardia menahan pertanyaan yang siap meluncur di ujung lidah. Gantinya, ia mengangkat bahu dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju Menara Gryffindor. Setelah yakin kalau Degel juga sudah pergi, ia berbalik dan menatap ke tempat barusan Degel berdiri.

'Apa kabar? Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah makan? Oh ya, tadi aku menang lawan Manigoldo, dan Regulus menyuruhku ke Azkaban! Bayangkan, Azkaban!'

Kardia membuang napas panjang sebagai ganti kata-kata yang tidak jadi keluar dari mulutnya. Semua sudah selesai.

Semua sudah selesai, Kardia. Selesai.

Years of Youth #5

disclaimer

Harry Potter : J.K. Rowling
Saint Seiya : Masami Kurumada
.
.
.


Sabtu ketiga bulan keenam, Hogsmeade. Murid-murid mulai dari kelas tiga sampai tujuh memenuhi desa kecil itu, berdesak-desakan di pub kecil dengan bergelas-gelas Butterbeer, memilih-milih mainan, atau mengantri di toko permen. Apapun itu, untuk memenuhi hasrat masa muda.

Tidak terkecuali seorang Ravenclaw bermata hijau, Degel, yang sedang duduk sendirian di Three Broomsticks. Sendirian. Segelas Butterbeer di hadapannya sudah habis setengah. Ia sendiri menopangkan dagu di satu tangan dan menatap ke luar jendela, menghela napas berkali-kali dalam setiap kesempatannya.

Sudut matanya lalu menangkap satu sosok. Rambut pirang dan mata biru yang menjulang tinggi. Di sampingnya, versi mini si pirang sedang melompat-lompat kegirangan dan mengacung-acungkan sapu terbang barunya.

Kardia.

Degel terus mengikuti sosok Kardia yang berjalan melintasi Three Broomsticks. Taruhan lima Galleon, Kardia tahu ia ada di dalam pub. Degel menghela napas panjang. Ada sesak muncul saat mereka berpapasan di sekolah tapi tidak saling tegur sapa. Bahkan, Kardia terlihat jelas sekali menghindari kontak apapun dengannya. Degel menyandarkan kepalanya ke jendela.

Memang, sih, dia yang memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Dan sekarang dia juga yang merasa kehilangan? Oh, tidak. Harga dirinya yang kelewat tinggi tidak akan mengizinkan hal itu sampai terjadi.

"Kosong?"

Mendongak, menemukan Kanon dan dua gelas Butterbeer berdiri di samping mejanya. Di kasir, Saga, kembarannya, sedang membayar minuman yang mereka pesan.

"Ya."

Kanon membuang napas dan tersenyum. "Syukurlah. Ini kali pertama aku ke Hogsmeade, dan tempat ini penuh sekali. Apa memang selalu seperti ini?" tanyanya setelah duduk.

"Selalu. Akan semakin penuh menjelang Natal dan Tahun Baru, dan beberapa hari perayaan lainnya," jelas Degel.

"Yo, Degel! Sendirian saja?" sapa Saga. Ia lalu menarik kursi dan duduk di sebelah Kanon. Kalau sedang duduk sebelahan begini, sulit untuk membedakan siapa yang mana, mana yang siapa. Keduanya sama-sama berambut pirang, garis wajahnya juga sama, begitu juga kelakuannya. Hanya saja, Saga lebih radikal sementara Kanon lebih diplomatis. Kalau soal nekad, ia pernah melihat dua orang ini lari-lari di sepanjang koridor karena menjahili hantu mengerikan dari asrama Slytherin, menabrak penjaga sekolah, lalu didetensi membersihkan toilet selama sebulan. Hal lain yang membedakan keduanya adalah, Saga bermata biru sementara Kanon bermata hijau-biru, dan Saga dari Slytherin sementara Kanon dari Ravenclaw. Namun, dua orang sableng ini sering memakai lensa kontak dan bertukar seragam, mengecoh guru dan teman-teman seasrama mereka. "Mana Kardia?" lanjutnya.

Oh, satu perbedaan lain. Saga lebih lemot dibanding Kanon.

"Aw! Apa sih, menginjak kakiku segala?" seru Saga, melotot tidak senang pada Kanon. Yang dipelototi hanya memberi tanda-tanda dan mengedikkan kepalanya ke arah Degel. "Apa?!" tanya Saga. Degel tersenyum tipis.

"Aku dan Kardia sudah putus, Saga."

Saga menoleh ke arah Degel, lalu ke arah Kanon, begitu selama beberapa menit sebelum membuka mulutnya. Untung Kanon sempat menutup mulut si Slytherin muda itu sebelum kekagetannya menarik perhatian ke meja mereka.

"Serius? Sungguh? Demi apa?" rentet Saga. Kanon menempeleng kepala kakaknya.

"Nggak usah alay!"

"Heh, yang kusebut barusan itu adalah versi bahasa bakunya. Perlu kubilang 'ciyus', 'cungguh', dan 'miap--

"Kubilang jangan alay!" sembur Kanon. Wajahnya merah, malu. Orang-orang di sekelilingnya mulai bisik-bisik. Saga hanya mengerucutkan mulutnya, sembari tersenyum jahil.

"Tapi, serius kalian putus? Bukannya Kardia sangat jatuh cinta padamu? Aku sampai kesal sendiri saat ia teriak-teriak di telepon waktu libur musim panas, laporan padaku kalau kalian akhirnya jadi. Belum juga segala kegalauannya selama dua tahun pertamaku. Aku sampai hapal sendiri apa hobimu, bagaimana caramu makan, kebiasaanmu membetulkan kacamata, dan lainnya," misuh Saga. Kanon mengangguk-angguk.

"Dan karena Saga tidak punya tempat sampah, maka aku yang jadi tempatnya memisuh. Tapi, Saga, sudah tahu Kardia mengesalkan begitu, kenapa masih mau berteman dengannya?"

"Kardia itu tipe orang yang tidak akan mau kau jadikan musuh, Kan. Percaya padaku."

"Oh, begitu? Badut konyol begitu?"

"Sekarang ditambah Milo pula. Bisa kubayangkan, betapa hebohnya asrama Gryffindor sekarang," Saga menghela napas. Kanon menepuk-nepuk pundak saudaranya, simpati. Saga dan Kardia sudah kenal sejak tahun pertama mereka di sekolah, lewat di Klub Duel. Keduanya sering adu mulut, adu otot, dan semuanya selalu diakhiri gelak tawa dan pesta pai labu hasil selundupan. Sejak itu, setiap ada waktu, Kardia maupun Saga selalu menyempatkan diri bertemu di Aula Besar atau menyelundup masuk ke dalam asrama satu dan lainnya, untuk sekedar mengobrol santai atau berdebat sengit, atau menggosip, atau menggalau--meski yang terakhir adalah hobi Kardia. Degel memperhatikan obrolan dua orang di hadapannya sambil sesekali meneguk minumannya.

Kardia. Sejak awal kelas dua, perhatian Kardia padanya memang terlihat berlebihan. Dengan sengaja, Kardia mengambil kelas-kelas yang sama dengannya, tidak peduli betapa tidak sukanya ia dengan Rune Kuno. Menunggunya pulang setelah selesai kelas Ramalan--yang tabrakan jadwal dengan kelas Arithmancy yang diambil Kardia, menemaninya berjam-jam di perpustakaan, dan menyelundupkan puding coklat dari dapur untuk menemaninya belajar. Hal-hal remeh, tapi Degel sendiri bukan orang yang peka. Lebih lemot daripada Saga, sebenarnya. Setelah dua tahun mengira-ngira kenapa Kardia sebegini baik padanya, dan dengan satu tempeleng keras di kepala dari teman seasramanya, Manigoldo, baru ia tahu kalau Kardia suka padanya.

Jatuh cinta, tepatnya.

Lalu, pada tahun keempatnya di sekolah sihir ini, barulah ia merespon sikap Kardia, dan mulai memberikan perhatian-perhatian kecil untuk si manusia kelebihan energi itu. Mengesampingkan ketidaksukaannya dengan duel, ia menonton pertandingan kecil-kecilan Kardia di Klub Duel. Menemaninya di bangsal rumah sakit kalau penyakit lamanya mulai kambuh, menggenggam tangannya sementara Kardia berjuang melawan rasa sakit, dan merasa sangat khawatir saat Beater dari Tim Quidditch itu melepas kedua tangannya dari sapu atau bergelantung dengan satu tangan untuk memukul bola atau terlempar dari sapu karena dihantam bola.

Oh, oh. Muncul lagi, sesak aneh yang terus muncul sejak mereka berpisah.

Selama itu Kardia melakukan pendekatan, dan secepat ini dia memutuskan untuk berpisah.

Untuk yang kesekian kalinya, Degel menghela napas. Saga dan Kanon masih mengobrol panjang lebar di hadapannya. Untuk pertama kalinya, ia merasa sepi tanpa kehadiran Kardia di sisinya.