Saturday, 11 April 2015

Happiness is Just A Hug Away

Disclaimer : Shinji © Pratiwi Fitriani


“Freyr?”

Ketukan halus ragu-ragu di pintu kamar dan dengung nada rendah yang sangat familiar membuat Freyr mau tidak mau kembali ke dunia nyata. Satu minggu cuti kerja dengan alasan sakit—beruntung seniornya di kepolisian mengerti apa yang baru saja ia alami, terima kasih karena Faux yang mulutnya seperti ember bocor—membuatnya menghabiskan waktu mengurung diri di kamar dengan tumpukan buku-hasil-merampok kamar Gancanagh. Baru saja ia merasa terhibur dengan tumpukan komik konyol tentang seekor kucing bulat bernama Pojo, dan kini ia harus menghadapi lagi pahitnya dunia.

“Freyr? Aku tahu kau di dalam.”

Freyr menghela napas dan menyimpan buku yang sedang dibacanya.

“Apa maumu.”

Freyr tidak bertanya. Ia tidak mau lagi mempertanyakan apapun yang pernah ada di antara dirinya dan pemuda di depan pintu kamarnya.

“Aku mau bicara denganmu.”

“Kalau aku tidak mau?”

“Sekarang kita sudah bicara.”

Freyr mendengus. Yang seharusnya ia lakukan adalah mengusir pria itu dari rumahnya, dari kehidupannya, lalu hidup bahagia dengan aman, damai, dan sejahtera selamanya.

Meski selamanya adalah hal yang mengerikan untuk dilalui sendirian.

“Ya sudah. Bicara saja kalau begitu.”

Sunyi sekejap, kemudian ada tawa geli yang hampir tak terdengar. Freyr menghela napas. Rasa yang tumpah di hatinya ini, entah apa namanya. Tubuhnya lalu bergerak sendiri, melawan satu bagian otaknya yang menjerit histeris dan menyalakan alarm tanda bahaya. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya, untuk menemukan pemuda tinggi berwajah malas dengan mata tajam dan rambut seperti singa jantan. Satu detik Freyr melihat ekspresi kaget di wajahnya, satu detik kemudian Freyr menemukan senyum tipis yang tidak pernah ia tunjukkan padanya selama hubungan mereka sekian tahun ini, dan semuanya bergerak dalam satuan waktu lain yang lebih lambat ketika dua lengan besar merengkuhnya dalam satu pelukan erat.

Seolah ia pernah kehilangan, dan kini menemukan bagian dirinya lagi.

“Freyr,” bisik Shinji. Shinji merapatkan dirinya, membuat Freyr terpaksa berdiri di atas jari kakinya dan berpegangan pada pakaiannya agar tidak jatuh. Shinji mengubur kepalanya di antara pundak dan leher Freyr, mengeratkan pelukannya di pinggang Freyr.

Freyr, yang tidak akan pecah berantakan meskipun ia memeluknya dengan erat. Freyr , yang tidak akan melindunginya dengan ganjaran nyawa.

Freyr, yang pernah mencintainya lebih dari apa yang pantas ia dapatkan.


Freyr, tidak tahu harus menyimpan tangannya di mana.

Di samping tubuhnya?

Di bahu lebar yang dulu hanya bisa ia lihat dari belakang, dan kini ada tepat di depan matanya?

Atau di leher jenjang dengan surai-surai halus yang kini menggelitik pipinya?

Freyr tidak tahu harus bagaimana, harus apa.

Ia hanya tahu, kalau hatinya penuh. Penuh.

Penuh oleh perasaan yang membuat seluruh logika perhitungannya luluh lantah, oleh rasa yang membuatnya merengkuh leher dan apapun yang bisa kedua lengannya raih dalam posisinya yang kikuk ke dalam pelukannya, oleh rasa yang membuatnya tenggelam dalam air mataketika ia menghirup wangi yang sangat ia kenal, ketika ia merasakan hangat yang begitu ia rindukan.

“Freyr.”

Ketika namanya disebut oleh orang yang sudah mengisi satu ruangan khusus di hatinya,

Shinji melepaskan pelukannya, namun tidak membiarkan Freyr lepas darinya. Kedua tangannya masih merengkuh posesif pemuda yang sedang menatapnya dengan mata berair dan wajah merah.

“Freyr.”

“Hm?”

“Freyr.”

Freyr mengusap wajahnya. Ia tahu persis seberapa berantakan wajahnya saat ini. Ia tahu saudaranya sedang menguping di pojokan. Ia juga tahu, siapa kira-kira yang berhasil menyarangkan tinjunya di wajah pemuda ini.

“Ya, Shin?”

“Terima kasih.”

“Untuk?”

“Jadi satu-satunya yang tidak pergi.”

Freyr mendengus. Ironis. “Siapa bilang aku tidak pergi?”

Shinji hanya tersenyum tipis dan kembali memeluk Freyr, kembali menenggelamkan dirinya di hangat tubuh yang familiar.

“Terima kasih, dan maaf, Freyr.”

Freyr menggumam di lekuk leher Shinji, memejamkan matanya dan merengkuh leher tersebut. “Untuk?”

Shinji mengangkat kepalanya dan menatap Freyr. “Untuk semua hal brengsek yang kulakukan padamu.”

Freyr mengerjap, lalu tertawa. Lepas, keras, dengan air mata masih mengalir di pipinya, dan kedua lengannya masih merengkuh leher Shinji yang kini memasang senyum tipis dengan rona merah muda mulai muncul di telinganya.

“Hahaha! Shin! Kau harus lihat bagaimana wajahmu! Hahaha!”

“Sudahlah,” dengus Shinji, yang memutuskan untuk kembali menyimpan kepalanya di pundak Freyr, membiarkan gelak tawanya terdengar jelas di telinga, dan getaran di dada mereka masing-masing merambat pelan-pelan memenuhi lubang-lubang di hati mereka.


“Freyr.”

“Hm?”

Suara derit tempat tidur terdengar ketika Shinji mengubah posisinya. Ia berbaring di satu sisi tubuhnya dan menatap Freyr.

“Apa kau bahagia?”

Freyr menoleh dan menatap Shinji. Ia menggeleng sambil mengangkat bahunya.

“Aku tidak tahu.”

“Begitu,” ujar Shinji pelan dan kembali lagi ke posisinya semula, menatap langit-langit kamar sembari memikirkan bagaimana caranya ia keluar dari rumah ini dengan kondisi tubuh yang lengkap tanpa kurang satu hal pun.

“Kalau kau?”

Shinji menoleh dan mendapati Freyr masih menatapnya. Tatapan yang sama sejak pertama kali mereka bertemu di bar. Tatapan yang sama ketika  ia mengantarnya pergi menjalani misi bersama Andreas. Tatapan yang sama ketika Shinji mematahkan hatinya untuk yang kesekian kali.

Sepasang mata yang membuatnya yakin, bahwa ia adalah tempatnya kembali.

“Ya. Kalau ini kau sebut bahagia, maka ya. Aku bahagia.”

“Kau tahu, sebenarnya aku posesif.”

“Aku juga.”

“Leon dan Faux sering mengataiku bawel.”

“Aku tahu.”

“Gacchi bilang aku terlalu sering membawa perasaanku pada segala hal diluar pekerjaan.”

“Dan kau bilang begitu pada pria yang sekian lama hidup menolak merasakan.”

Freyr mendudukan dirinya, membiarkan selimut yang menyelimutinya jatuh dan memamerkan punggungnya pada Shinji.

“Kalau kau pergi lagi, aku tidak bisa menghalangi apapun yang akan dilakukan Leon dan Faux dan Gacchi padamu.”

“Aku tahu.”

Senyum lebar kekanakan menghiasi wajah Freyr. Tak lama, Freyr menimpa tubuh Shinji, memeluknya dalam pelukan besar yang sedikit di luar karakter sambil tertawa lebar, membuat pemuda berwajah masam itu berseru kaget ketika tubuh mereka berdua saling adu dan membuatnya hampir jatuh dari tempat tidur.



Ya. Mereka bahagia.
Dan itu sudah cukup.

No comments:

Post a Comment