Sunday, 30 August 2015
Yours Truly
.
.
.
"Let me go."
He was so real. Right in front of him. That honey-colored eyes, Oh God how much he missed them.
"King?"
And that voice. Lord, what do YOU want?
"Yeah?"
"Please, let me go."
"I can't."
He smiled. Not that stupid smile he used to have, but this kind of sad and weird smile.
"Why?"
"Because I'll avenge your death."
"Even if it means your life?"
"Yes."
"Mikoto, do you love me more than your life?"
Mikoto chuckled. "You should've knew me better, Tatara."
---
You're my whole world.
---
And I'd follow you wherever you go.
---
Even if it means my end.
Wednesday, 1 October 2014
Ramblings of Blue
.
.
.
Jika suatu saat, Tuhan membuka undian berhadiah dan satu orang pertama yang sampai di kuil mendapat satu permintaan yang akan dikabulkan saat itu juga, Reishi tidak akan segan membarikade kuil tersebut dan menggunakan semua kekuasaannya agar mendapatkan kesempatan tersebut.
Kesempatan untuk mengembalikan Suoh Mikoto dan Totsuka Tatara kembali ke dunia ini.
.
.
.
Kusanagi Izumo berhenti menggosok gelas dan menatap pemuda di hadapannya. Bunyi es batu yang berdenting ketika bertumbukan dengan kaca mendadak terdengar begitu nyaring. Ia mengerjap beberapa kali sebelum angkat suara.
"Dan Tatara? Kenapa aku mendengar kau mengucapkan kata penghubung itu dengan kebencian yang amat-sangat?"
Reishi menaruh gelasnya di atas counter. "Karena Suoh dan Totsuka merupakan satu paket yang tidak dijual terpisah."
Izumo mendengus. "Tidak dijual terpisah, eh? Lalu, ada apa kau tiba-tiba bicara seperti ini?"
Reishi mengangkat bahu. "Tidak ada apa-apa. Berkhayal sesekali tidak apa-apa, 'kan?" ujarnya sebelum menenggak sisa minumannya sekali teguk. Ketika cairan beralkohol tersebut mengalir, ia merasakan dadanya terbakar.
Ia merasakan, hatinya dibakar.
.
.
.
"Ahahahaha. Munakata-san sangat benci padaku ya, King?"
Si surai merah mendengus. "Tanyakan saja padanya. Jangan padaku."
Sunday, 10 August 2014
Foolish Wish
Sunday, 29 June 2014
Goodbye
Disclaimer :
K (c) GoRa & GoHands
.
.
.
Hari itu, tiga minggu setelah kematian Totsuka Tatara, dunia Suoh Mikoto runtuh seutuhnya.
Ketika Pedang Damoscles nya mulai jatuh dalam gemuruh, ia terlalu larut dalam perih harapan bahwa dirinya akan bebas di pelukan maut. Ia terlalu percaya bahwa Reishi akan menjalankan tugasnya sebagai Raja Biru dan mengirimnya ke alam sana dalam satu gerak cepat.
Ia lupa, bahwa sedingin apapun sang Raja Biru, satu potongan besar hatinya terisi oleh sosoknya. Sosok Suoh Mikoto.
Dan Reishi, tidak sekuat itu untuk dapat hidup tanpa Suoh Mikoto di dalamnya.
.
.
.
Yang ia lihat di hadapannya sosok pemuda yang terbaring dengan merah menggenang di sekelilingnya.
Semuanya terlalu cepat bagi Mikoto. Yang ia bisa tangkap, adalah bahwa Reishi melakukan sesuatu yang membuat Weissman level-nya kembali normal.
Dan Pedang Damoscles Reishi pecah jadi serpih.
"Su...oh."
Mikoto berlutut di samping Reishi. Matanya panas entah oleh apa. Ia menggenggam tangan Reishi yang terjulur ke arahnya. Dingin. Mikoto membakar aura merahnya untuk menghilangkan sensasi dingin tersebut, namun nihil.
Reishi semakin dingin, semakin pucat.
"Su...oh.... Maaf... aku tidak bisa membunuhmu."
"Apa maumu, Munakata?"
"Aku... tidak sekuat itu... Suoh." Reishi mengatur napasnya. Ia menekan bagian tubuhnya yang mengeluarkan darah. "Scepter 4 akan baik-baik saja tanpaku. Tapi HOMRA akan gila tanpamu. Dan aku...."
"Kau apa?"
"Aku... tidak...."
Aku tidak mau membunuhmu. Aku tidak bisa kehilanganmu.
"Dan kau pikir, yang kau lakukan ini tidak akan memberikan efek apapun padaku?"
Reishi mengerjap sesaat, lalu tersenyum tipis. Napasnya makin berat, matanya semakin mengantuk.
"Maaf.... Mikoto. Sampai... jumpa."
Friday, 27 June 2014
Bet
Sunday, 22 June 2014
Jigsaw Puzzle
Sunday, 4 May 2014
Premonition
.
.
.
"What if, by any chance, I kill you?"
Sengaja atau tidak.
Mikoto menatap Munakata dengan wajah datarnya. Tak lama, ia tersenyum tipis dan mendengus.
"Hng."
"Jawab aku, Mikoto."
Mikoto menghisap rokoknya. Senyum tidak lepas dari wajah. Ia lalu menatap Munakata dengan mata yang berkilat kesenangan.
"Aku akan menantikan saat-saat itu, Munakata."
.
.
.
Saturday, 26 April 2014
High Temp
.
.
.
Alternate Timeline.
.
.
.
Fushimi Saruhiko tidak suka bangun pagi.
Pada dasarnya ia memang bukan manusia yang bisa terbit bersamaan dengan matahari. Ia juga bukan makhluk yang bisa melayap semalam suntuk demi patroli. Pada dasarnya, ia tidak menyukai hal-hal yang membuatnya harus mengeluarkan tenaga lebih.
"WUAAAH!!!"
Kecuali, jika semua agenda menyusahkan itu berhubungan dengan seorang cebol bawel yang sedang melakukan usaha-usaha tidak penting untuk meledakkan dapurnya.
.
"Kau 'kan sedang sakit!"
"Dan kau malah membuatku semakin sakit."
"Aku berusaha membantumu! Aku sudah minta Kusanagi-san untuk mengajariku membuat bubur. Aku sedang buat bubur!"
Misaki menunjuk panci berisi substansi aneh seperti beras dengan air yang terlalu sedikit di atas kompor, membuat Saruhiko memijat kepalanya.
"Kau mau membuat bubur atau racun? Berniat membunuhku, begitu?"
"Aku mau membantumu, bakasaru!"
"Jangan teriak-teriak begitu, kepalaku sakit."
"...."
Canggung menggantung.
Sejak kembalinya Saruhiko dari misi di salah satu kepulauan terpencil di Jepang--terima kasih pada sang Kapten yang tidak mau pergi dari kota Shizume dengan sejuta alasan dan sang Letnan yang juga tidak bisa melakukan tugasnya karena kehabisan pasta kacang merah--kepalanya pusing dan suhu tubuhnya naik. Singkat kata, ia terinfeksi virus entah apa dan jatuh sakit. Dan, terima kasih juga kepada sang Letnan yang ternyata senang bergosip di satu bar tertentu, kabar tentang dirinya sampai pada telinga seorang berkupluk buluk yang suka bereaksi berlebihan.
Saruhiko menghela napas. "Jangan sentuh apapun lagi di dapurku. Pulang. Sekarang."
.
.
.
Saruhiko bangun keesokan harinya dan melihat ada matahari bersinar di dalam kamarnya.
....
Sepertinya minus matanya naik. Ia melihat sesuatu berwarna merah di sisi tempat tidurnya, memantulkan cahaya matahari yang menyusup lewat celah tirai.
...baiklah.
Ia sedang memperhatikan kepala Misaki yang sedang tertidur dengan posisi duduk dan hanya kepalanya yang menempel di kasur Saruhiko. Satu tangannya menggenggam handuk kecil yang lembab.
Saruhiko menghela napas.
"Oi."
"Mmm?"
"Misaki. Bangun." Saruhiko mengetuk lembut puncak kepala Misaki dengan ujung jarinya.
"Mmm... Saru? Selamat pagi."
"Hng."
"Bagaimana? Sudah lebih baik?"
"...kemarin kusuruh kau pulang. Kenapa masih di sini?"
"Memang tidak boleh?"
"Buk--
"Memang tidak boleh kalau aku khawatir padamu barang sedikit saja?"
.
.
.
"...kau tahu, Misaki? Entah harus apa yang kulakukan untuk membuatmu tetap jauh dariku."
.
.
.
"Eh? Kau bilang apa?"
"Tidak. Kalau kau sebegitu inginnya direpotkan olehku. Sini. Jadi bantalku. Kau tidak mungkin protes pada orang sakit 'kan, Mi-sa-ki~?"
Wednesday, 30 January 2013
Silvery Miracle #2
"Wuah!"
"Yata-kun. Selamat!"
Kusanagi meledakkan confetti tepat di depan wajah Yatagarasu, membuat pemuda pendek berambut merah itu melompat ke belakang dan berseru kaget. Bartender yang selalu setia dengan kacamata hitam itu terkekeh geli melihat ekspresi wajah Yata.
"Sebagai raja yang baru, kau harus bisa mengontrol wajahmu dengan lebih baik, Yata-kun."
"A...apa maksudmu, Kusanagi-san?" seru Yata, yang wajahnya sudah semerah rambutnya. "A...aku bukan raja! Rajaku tetap Mikoto-san, sampai kapanpun!"
"Oh, jangan bergurau, Yata-kun. Sword of Damoscles sudah memilihmu, Mikoto sudah memilihmu. Kau lihat sendiri kemarin, saat pemakaman Mikoto. Bagaimana tiba-tiba tubuhmu terbakar dan Sword of Damoscles melayang di atas kepalamu. Belum lagi waktu aku bersalaman denganmu, tanda klan merah yang sempat hilang saat Mikoto meninggal mendadak kembali lagi. Kau adalah raja yang baru, Yata-kun. Atau, harus kupanggil Yata-sama?"
"Be...berisik! Sudah! Minggir, aku mau masuk!" seru Yata kesal, menggeser pemilik restoran kecil itu ke samping. Kusanagi bergerak, mengizinkan Yata masuk ke bar markas HOMRA. Lalu, raja kecil itu melempar dirinya ke sofa empuk dekat jendela. Kusanagi terkekeh melihatnya.
"A...apa?!" tanya Yata galak, tidak suka bagaimana seniornya itu mendadak tertawa tanpa alasan. Cukuplah orang mengolok-oloknya tentang bagaimana di antara semua anggota HOMRA, ternyata ia yang terpilih mewarisi gelar raja. Yatagarasu, Raja Merah Keempat. Memikirkannya saja sudah membuat perut pemuda berkupluk itu mulas.
Kusanagi menggeleng dan melipat kedua tangannya di dada. "Tidak. Hanya saja, meski kau menolak mati-matian gelar barumu, kekuatanmu, dan tanggung jawabmu dengan alasan kau tidak sepadan dengan Mikoto, sikapmu yang barusan itu, masuk dengan seenaknya dan langsung duduk di sofa itu tanpa basa-basi, sangat mirip dengannya. Kurasa tidak heran kalau di antara kami semua, ia akan menjadikanmu pewarisnya. Watak kalian terlalu mirip."
"...."
Yata tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara jelas yang terbentuk. Seolah otaknya hanya mampu memproses kata-kata saja tanpa bisa memerintah otot rongga mulutnya untuk bekerja. Wajahnya sendiri sudah semerah rambutnya. Setelah lama, Yata lalu menutup mulutnya dan menarik kupluk sampai sebagian matanya sementara ia sendiri melihat ke samping. Semburat merah masih mewarnai wajah dan telinganya.
"Ku...kuanggap itu sebagai pujian," ujarnya lirih, nyaris berbisik. Pada detik ini, Kusanagi tidak bisa lagi menahan diri. Ia tergelak keras, tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
"Tsundere! Mikoto, bahkan tsundere-nya pun mirip dengan dirimu!"
"Ber...berhenti tertawa begitu, Kusanagi-san!!!"
Sunday, 27 January 2013
Silvery Miracle #1
Putih. Sepanjang matanya memandang, hanya ada putih tanpa batas. Mikoto memandang tangannya, menggerakannya, kemudian mengepal. Pandangannya beralih lagi pada kehampaan di hadapannya.
"Mikoto-san."
Muncul lagi, suara itu. Suara yang jahil, usil, sekaligus karismatik.
"Mikoto-san, di belakangmu."
Mikoto berbalik dan menemukan pemuda pendek berambut putih keperakan berdiri dengan senyum tipis di wajah. Ia mengenalinya, sangat mengenalinya. Isana Yashiro, Adolph Weissman, Silver King, Colorless King, siapapun itu nama aslinya.
"Mau apa kau?"
Shiro terkekeh geli. "Bahkan setelah mati pun, Mikoto-san tetap Mikoto-san."
"Memangnya mau jadi apa lagi?"
"Iya, betul. Tentu saja." Shiro mengangguk-angguk. Mikoto lalu mendudukkan dirinya. Tidak benar-benar duduk, karena tempatnya sekarang berada tidak lebih hanya imajinasi tentang dunia setelah mati. Ia memang bernapas, merasa hangat, dan hal-hal lainnya yang pernah ia rasakan ketika dulu masih hidup, tapi sembilan per sepuluh sel otaknya percaya itu hanyalah ilusi dunia orang mati saja.
"Hei, Mikoto-san, bagaimana menurutmu tempat ini?"
Mikoto beralih pada Shiro yang kini sedang melayang di atasnya. Jika ini dunia nyata pun, Mikoto tahu pasti kemampuan klan Perak yang memanipulasi gravitasi membuat siapapun anggota klannya bisa melayang-layang seperti hantu, apalagi di dunia aneh ini.
"Membosankan."
Shiro tergelak lagi. "Sudah kuduga kau akan menjawab begitu. Kau mudah sekali ditebak, Mikoto-san."
"Bukan urusanmu."
Shiro lalu tersenyum tipis dan mendudukkan dirinya di samping Mikoto. "Mikoto-san, kau tahu kenapa Raja Perak tidak bisa mati?"
Mikoto tidak menjawab. Shiro menoleh ke arah mantan Raja Merah itu, yang bahkan tidak sedikitpun berusaha berpikir mengenai jawaban atas pertanyaannya.
"Kau tahu ini tempat apa?"
"Dunia orang mati."
"Sekarang kau sudah tahu, kenapa Raja Perak tidak bisa mati?"
Kali ini Mikoto menoleh ke arah Shiro. Wajahnya terlihat bingung. Shiro mendengus geli.
"Kau tahu, warna apa yang sekarang ini ada di sekelilingmu?"
"...putih."
Shiro menggeleng. "Bukan, Mikoto-san. Bukan. Coba, perhatikan lagi warnanya. Putih 'kah?"
Mikoto lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Putih, putih, putih. Mikoto bukan orang yang buta warna. Setidaknya iya pun, ia masih bisa membedakan warna putih dan bukan putih. Warna dunianya saat ini mengingatkannya pada musim dingin, ketika salju menumpuk di jalanan, ketika Anna dan Yata lari-larian sambil main lempar bola salju, ketika Kusanagi mengajaknya main ski dari tebing paling curam, atau ketika ia melihat Reisi Munakata terjatuh dengan tidak elitnya di hamparan putih perak salju karena terpeleset.
Ah.
"Jadi? Sudah tahu ini warna apa?"
"Perak."
Shiro tersenyum lebar. "Bingo!" Ia lalu berdiri dan meregangkan tubuhnya. "Perak, Mikoto-san. Seperak rambutku, rambut Weissman, rambut Neko, seperak Sword of Damoscles milikku. Seperak salju. Perak, Mikoto-san."
"Lalu?"
"Apa yang bisa dikendalikan oleh klan merah?"
Teka-teki lagi. Mikoto menghela napas. "Api."
"Klan Biru?"
Mikoto berpikir sejenak. "Pedang?"
"Itu senjata yang mereka gunakan," Shiro tidak bisa menyembunyikan geli pada nada suaranya. "Pada dasarnya, setiap warna memiliki ciri khasnya masing-masing. Merah dapat mengendalikan api, Tanpa Warna memberi ilusi, dan Perak memanipulasi gravitasi."
Mikoto makin tidak mengerti arah pembicaraan ini. "Lalu?"
"Lalu, kabar baiknya adalah, Perak juga mengatur kehidupan."
"Maksudmu?"
"Keabadian."
Mikoto memicingkan mata. Otaknya dipenuhi spekulasi arah pembicaraan. Shiro tersenyum semakin lebar.
"Singkatnya adalah, aku bisa menghidupkanmu kembali, Mikoto-san. Kau dan juga anggota HOMRA yang dibunuh oleh Raja Tanpa Warna. Hanya saja, aku tidak bisa mengembalikan kekuatan kalian. Raja Merah selanjutnya sudah dipilih, dan hanya boleh ada satu raja dalam satu waktu. Kalian bisa kembali memiliki kekuatan itu kalau Raja Merah mengakui. Yah, meski itu adalah kepastian yang tidak terelak, 'sih."
Mikoto mengerjap, mulutnya sedikit terbuka, tidak percaya. "Kenapa?"
"Kenapa apa? Kenapa tidak dari dulu? Karena, untuk bisa membangkitkan anggota klan yang mati, aku harus menghidupkan dulu rajanya. Anggota klan akan hidup lagi jika raja yang berkuasa di masanya hidup, asalkan itu kemauan si raja. Kalau sang raja merasa perannya di dunia sudah selesai, keadaan ini tidak diperlukan. Begitu."
Mikoto lalu berdiri dan menatap tajam Shiro. "Jadi?"
"Mikoto-san, kau ini memang pelit ngomong, ya?" canda Shiro. "Ehem, jadi, Mikoto-san, apakah kau mau hidup lagi? Apakah kau mau Tatara Totsuka-san hidup kembali? Apakah kalian mau menjadi anggota HOMRA dan klan merah untuk yang kedua kali?"
"Aku mau!"
Mikoto menoleh cepat ke belakang dan menemukan pria berambut coklat susu dengan senyum bodoh sedang berdiri di sana. Matanya yang sewarna dengan rambutnya berkilat kesenangan.
"To...Totsuka?"
"Halo, Mikoto-kun! Weissman-san sudah menjelaskan semuanya padaku. Jadi, semuanya terserah padamu, 'sih. Kalau kau mau kembali, aku ikut. Kalau mau tetap di sini pun, aku akan menemanimu." Totsuka bicara panjang lebar dengan senyum tidak bisa lepas dari wajah mantan penyanyi itu. Mikoto masih takjub dengan keadaan yang ada di depan matanya.
"Ehem, jadi, bagaimana?"
Mikoto menoleh ke arah Shiro, lalu Totsuka, lalu Shiro, lalu Totsuka lagi. Totsuka mengangguk, menyerahkan semua keputusannya pada Mikoto. Ia lalu berbalik menghadap Shiro.
"...."
.
.
.
Saturday, 26 January 2013
Happiness
.
.
"Maaf, aku selalu membuatmu melakukan pekerjaan kotor."
Prak.
Ada yang pecah. Kepingnya menyayat, memerih, berdarah. Merah pekat, gelap. Anyir besi menguar di udara, mengambang di atas serpih salju. Lengket dan hangat mengalir deras, jatuh ke atas putih bersih.
"Maaf, Munakata. Kau tidak lagi bisa membantuku."
Lalu, tubuhnya ambruk ke tanah, mendingin, dan perlahan hilang dalam kilau merah membara.
Prak. Prak. Prak.
.
.
.
"Kapten!"
Scepter 4 tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka tatkala sang raja berjalan di jembatan. Gembira kemenangan seolah meluap dan merembes dari setiap pori-pori mereka. Kapten mereka selamat, Sword of Damoscle dari Raja Merah hancur, ditambah darah yang menempel di tangan kanan Munakata. Semuanya hanya mengarah pada satu keadaan.
Raja Merah, Mikoto Suou, sudah mati.
Dan Munakata Reisi sendiri, sang kapten dari Scepter 4, Raja Biru, yang sudah menghabisinya.
Apa ada alasan bagi klan biru untuk tidak merasakan bahagia?
.
.
.
Prak. Prak. Prak. Pr...ak.
.
.
.
Pertanyaannya hanya satu : bagaimana kau bisa merasakan bahagia, kalau dirimu sendiri yang membuat bahagia itu hilang?