Showing posts with label K. Show all posts
Showing posts with label K. Show all posts

Sunday, 30 August 2015

Yours Truly

Project [K] (c) GoRa & GoHands

.
.
.

"Let me go."

He was so real. Right in front of him. That honey-colored eyes, Oh God how much he missed them.

"King?"

And that voice. Lord, what do YOU want?

"Yeah?"

"Please, let me go."

"I can't."

He smiled. Not that stupid smile he used to have, but this kind of sad and weird smile.

"Why?"

"Because I'll avenge your death."

"Even if it means your life?"

"Yes."

"Mikoto, do you love me more than your life?"

Mikoto chuckled. "You should've knew me better, Tatara."

---

You're my whole world.

---

And I'd follow you wherever you go.

---

Even if it means my end.

Wednesday, 1 October 2014

Ramblings of Blue

(c) GoRa & GoHands

.
.
.

Jika suatu saat, Tuhan membuka undian berhadiah dan satu orang pertama yang sampai di kuil mendapat satu permintaan yang akan dikabulkan saat itu juga, Reishi tidak akan segan membarikade kuil tersebut dan menggunakan semua kekuasaannya agar mendapatkan kesempatan tersebut.

Kesempatan untuk mengembalikan Suoh Mikoto dan Totsuka Tatara kembali ke dunia ini.

.
.
.

Kusanagi Izumo berhenti menggosok gelas dan menatap pemuda di hadapannya. Bunyi es batu yang berdenting ketika bertumbukan dengan kaca mendadak terdengar begitu nyaring. Ia mengerjap beberapa kali sebelum angkat suara.

"Dan Tatara? Kenapa aku mendengar kau mengucapkan kata penghubung itu dengan kebencian yang amat-sangat?"

Reishi menaruh gelasnya di atas counter. "Karena Suoh dan Totsuka merupakan satu paket yang tidak dijual terpisah."

Izumo mendengus. "Tidak dijual terpisah, eh? Lalu, ada apa kau tiba-tiba bicara seperti ini?"

Reishi mengangkat bahu. "Tidak ada apa-apa. Berkhayal sesekali tidak apa-apa, 'kan?" ujarnya sebelum menenggak sisa minumannya sekali teguk. Ketika cairan beralkohol tersebut mengalir, ia merasakan dadanya terbakar.

Ia merasakan, hatinya dibakar.

.
.
.

"Ahahahaha. Munakata-san sangat benci padaku ya, King?"

Si surai merah mendengus. "Tanyakan saja padanya. Jangan padaku."

Sunday, 10 August 2014

Foolish Wish

K Project © GoRa & GoHands

.
.
.


It was dark red, the color of snowflakes. They were dark red.

Once they were silvery white, another second they were dark red.

They scattered below me like a fallen rose petals on a field of white grass. It was warm, the way they slide in my hand.

The way they fell to the ground.

And then, it was cold. Icy cold.

The storm blew them away. The blizzard froze them to death.

But, they smiled. On their brink of death, they smiled.

You, smiled.

.
.
.

“It’s… okay. It’s okay…. Reishi.”

Tears kept falling down from his eyes. His lips trembled. The blood in his hands felt so warm, yet so cold. So cruel.

It reminded him that after all of this, he’ll be alone.

Again.

“Reishi…. Please, smile.”

Reishi closed his mouth tightly. He wasn’t brave enough to open it, knew that his breaking voice would be the first one to come out. Mikoto sighed. With any last strength he had, he raised his hand and touched Reishi’s face. Blood smeared his pale white skin.

“Reishi, please, smile for me?”

And, he broke.

His tears fell like a waterfall. He sobbed, cried, gripped his blood-stained jacket. Mikoto never—never—saw Reishi the way he was right now. He never saw him cried. He never saw him bare his emotion, his ego, his selfishness like this. He always wanted to hug him when he cried, to comfort him, to be the only one person where Reishi could bare himself and break anything he wanted to and then put him back together again.

And he got it. Reishi cried, calling his name in every breath, bare his emotion, get selfish, and breaking in front of him. He got it, what he wanted. The only thing he didn’t get was to hug him, to comfort him, and to put him back together.

Because, the time his wish came true was his death.

.
.
.

 “I’m sorry, Reishi.”

“Goodbye.”
.





Sunday, 29 June 2014

Goodbye

Disclaimer :

K (c) GoRa & GoHands

.
.
.

Hari itu, tiga minggu setelah kematian Totsuka Tatara, dunia Suoh Mikoto runtuh seutuhnya.

Ketika Pedang Damoscles nya mulai jatuh dalam gemuruh, ia terlalu larut dalam perih harapan bahwa dirinya akan bebas di pelukan maut. Ia terlalu percaya bahwa Reishi akan menjalankan tugasnya sebagai Raja Biru dan mengirimnya ke alam sana dalam satu gerak cepat.

Ia lupa, bahwa sedingin apapun sang Raja Biru, satu potongan besar hatinya terisi oleh sosoknya. Sosok Suoh Mikoto.

Dan Reishi, tidak sekuat itu untuk dapat hidup tanpa Suoh Mikoto di dalamnya.

.
.
.

Yang ia lihat di hadapannya sosok pemuda yang terbaring dengan merah menggenang di sekelilingnya.

Semuanya terlalu cepat bagi Mikoto. Yang ia bisa tangkap, adalah bahwa Reishi melakukan sesuatu yang membuat Weissman level-nya kembali normal.

Dan Pedang Damoscles Reishi pecah jadi serpih.

"Su...oh."

Mikoto berlutut di samping Reishi. Matanya panas entah oleh apa. Ia menggenggam tangan Reishi yang terjulur ke arahnya. Dingin. Mikoto membakar aura merahnya untuk menghilangkan sensasi dingin tersebut, namun nihil.

Reishi semakin dingin, semakin pucat.

"Su...oh.... Maaf... aku tidak bisa membunuhmu."

"Apa maumu, Munakata?"

"Aku... tidak sekuat itu... Suoh." Reishi mengatur napasnya. Ia menekan bagian tubuhnya yang mengeluarkan darah. "Scepter 4 akan baik-baik saja tanpaku. Tapi HOMRA akan gila tanpamu. Dan aku...."

"Kau apa?"

"Aku... tidak...."

Aku tidak mau membunuhmu. Aku tidak bisa kehilanganmu.

"Dan kau pikir, yang kau lakukan ini tidak akan memberikan efek apapun padaku?"

Reishi mengerjap sesaat, lalu tersenyum tipis. Napasnya makin berat, matanya semakin mengantuk.

"Maaf.... Mikoto. Sampai... jumpa."

Friday, 27 June 2014

Bet

Disclaimer :

K (c) GoRa & GoHands

made for mikoreiweek day 2 : motifs.

.

.

.

Hari Senin minggu kedua setiap bulannya, ketika semua anggota HOMRA sudah kembali ke rumah masing-masing, adalah saat dimana Izumo Kusanagi mengeluarkan coffee maker yang tersimpan apik di dalam lemari. Dengan hati-hati ia menyimpan mesin tersebut di atas counter bar-nya yang mengkilat. Salah satu alasan mengapa benda ini hanya dikeluarkan sebulan sekali, adalah karena Senin minggu kedua adalah hari di mana Totsuka Tatara menginap di lantai dua bar miliknya, dan pemuda yang selalu tersenyum itu memiliki kesenangan yang aneh dengan kopi susu. Setelah mengelap mesin kopinya, ia mengambil setoples penuh biji kopi yang siap diproses. Baru saja ia memasukkan satu sendok besar ke dalam toples, lonceng pintu bar berdenting pelan.

Kusanagi menoleh ke puntu masuk dan mengharapkan menemukan Totsuka Tatara sedang tersenyum ceria sambil berseru, “Halo Izumo-san! Hari ini aku menginap lagi!”

Namun, yang sedang berdiri di sana bukanlah pemuda bersurai coklat madu, melainkan seseorang dengan rambut biru pekat. Dengan wajah datar, Munakata Reishi masuk ke dalam bar sambil menepuk-nepuk pundaknya yang penuh salju.

Kusanangi mengerutkan dahinya. Jarang-jarang sang Raja Biru mau bertandang ke markas musuh besarnya seperti ini. Ralat. Sejak kapan Munakata Reishi memilih HOMRA sebagai tempatnya melepas penat sebelum pulang ke rumah?

“Halo, Munakata-san. Ada angin apa sampai Raja Biru datang ke tempat ini? Tidak ada salah satu anggota klan kami yang sedang adu jotos sampai menghancurkan separo kota, ‘kan?” tanya Izumo was-was.

“Sejauh yang kudengar, tidak ada. Lagi pula, ini sudah pukul dua belas.Aku yakin semua anggota klan merah sudah kembali ke rumahnya masing-masing, kecuali kau dan strain kecil itu,” jawab Reishi sambil berjalan ke counter. Ia lalu duduk di salah satu kursi, dan menatap gelas-gelas transparan berbagai bentuk serta berbagai macam botol minuman beralkohol. “Koleksi minumanmu lengkap juga, padahal menjadi bartender bukan pekerjaan utamamu, ‘kan?”

Izumo terkekeh geli, kemudian kembali pada pekerjaannya membersihkan coffee maker. “Menjadi bartender ini seperti hobi, Munakata-san. Dan aku tidak mau menjadikan hobiku sebagai pekerjaan utamaku.”

“Begitu?”

“Uh-huh. Jadi, ada apa kau datang kemari, Munakata-san?”

“Aku datang karena kalah taruhan.”

Kali ini, Izumo benar-benar menghentikan pekerjaannya dan mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Reishi. “Maksudmu?”

Reishi menghela napas. “Suatu hari ia datang ke ruanganku di markas SCEPTER 4 untuk alasan yang aku tidak tahu apa dan menghabiskan satu bungkus rokok, memenuhi mejaku dengan abunya, dan membuat laporan-laporan yang harus kubaca kotor. Hampir saja Awashima-kun menebas kepalanya. Kemudian kukatakan—

“—kalau aku berhasil tidak merokok seminggu maka ia akan datang ke HOMRA dan minum denganku.”

Suara serak dan berat yang meneruskan kalimat Reishi berasal dari pintu. Ia dan Izumo menoleh, menemukan pemuda bersurai merah berantakan sedang berdiri dengan seorang pemuda berwajah manis tiba-tiba muncul dari balik punggungnya.

“Yo, Kusanagi-san! Aku bertemu Raja di jalan. Kuajak saja dia ke sini sekalian!” tukasnya. Ia lalu masuk, melewati Suoh Mikoto yang masih berdiri di depan pintu, dan menghampiri Munakata. “Selamat malam, Raja Biru! Kenalkan, namaku Totsuka Tatara!”

“Halo, Tatara-kun. HOMRA memang dipenuhi orang-orang yang menarik, ya?” Seulas senyum menghiasi wajah Reishi. Totsuka membalasnya dengan senyum yang lebar dan polos, seperti biasa.

“Baiklah, aku mau membereskan futon di kamar atas. Kusanagi-san, aku mau kopi susu!” ujarnya lagi, kali ini pada sang pemilik bar. Izumo hanya menghela napas sebelum memberikan gestur tangan supaya Totsuka menyegerakan apapun yang hendak ia lakukan.

“Baiklah, aku tidak tahu apa masalah kalian berdua, tapi kumohon jangan sedikitpun kalian menghancurkan atau membuat keributan di sini. Oke?” Izumo menekankan kalimatnya, sebelum dengan cepat membuat dua kopi susu panas dan pergi ke lantai dua.

Meninggalkan Munakata Reishi dengan Suoh Mikoto berdua saja.

Munakata menghela napas. “Aku tidak mengerti, kenapa aku mau saja terlibat taruhan bodohmu.”

Satu dengus mengejek, dan beberapa detik setelahnya Mikoto sudah duduk di samping Reishi. “Kalau itu berarti kau datang ke HOMRA, bertaruh berapa kali lagi pun pasti kulakukan.”

Reishi menatap Mikoto dengan ekspresi yang sulit dibaca. Manik ungunya menatap lekat wajah di hadapannya. Sesekali, manik amber Mikoto melirik Munakata sampai akhirnya ia tertawa kecil dan memalingkan wajahnya.

“Kau yakin menang, Suoh?”

“Oh, aku selalu menang, Munakata.”


Sunday, 22 June 2014

Jigsaw Puzzle

Disclaimer : K © GoRa & GoHands

made for mikoreiweek in tumblr. Day 1 : rivalry

.

.

.

Dahinya berkerut. Jari tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja tidak sabaran. Di hadapannya, terhampar potongan-potongan puzzle yang berantakan dan separuh jadi. Tangan yang satunya memegang sekeping potongan puzzle dan memutar-mutar benda itu.

Kalau ada satu hal yang bisa membuat Munakata Reishi mengerutkan dahi hanya untuk berpikir, maka jigsaw puzzle adalah jawabannya.

Sudah setengah jam ia berusaha menyelesaikan permainan ini—sesuatu yang biasanya dapat ia selesaikan dalam lima belas menit saja—namun tidak berhasil. Ia hanya bisa menyelesaikan sebagian kecil sudut bawah dan sedikit sisi atas. Padahal ini adalah puzzle 1000 kepingnya yang biasa. Apa karena ini versi terbaru dari yang sebelumnya ia mainkan, ia tidak paham. Rasanya tidak ada yang berubah kecuali warna dan gambarnya—Munakata melirik sedikit contoh gambar di kotak mainan tersebut.

Apa yang salah dengan benda ini sampai ia tidak bisa memainkannya seperti biasa?

“Kapten.”

Suara monoton yang tiba-tiba muncul membuatnya kembali ke dunia nyata. Ia mendongak dan melihat sang vanguard dari SCEPTER 4 sedang berdiri di depan mejanya dengan wajah malas yang biasa. Keberadaannya yang mengagetkan Munakata meyakinkan sang kapten bahwa anak buahnya ini—lagi-lagi—mengizinkan dirinya sendiri masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Oh. Fushimi-kun. Aku tidak mendengar kau masuk ke dalam ruangan.”

Saruhiko mendengus. “Tadi aku mengetuk pintu tapi sepertinya kau terlalu sibuk dengan apapun yang sedang kau kerjakan jadi aku masuk saja.”

Munakata tersenyum tipis. Ia sangat menyukai saat-saat dimana anak buah kesayangannya yang satu ini merasa terganggu. “Ah. Begitu kah?”

“Tch.”

Ini dia! Kalau Munakata bisa bertindak di luar karakter, maka ia akan menunjuk wajah Saruhiko dan mengatakan hal tersebut. Karena ada wibawa yang dipertaruhkan dari jabatannya, Munakata hanya mendengus geli dan berdeham. “Ada yang bisa kubantu, Fushimi-kun?”

“Aku hanya mau mengantar laporan mengenai kegiatan HOMRA minggu kemarin,” ujar Saruhiko datar.

“Baiklah. Simpan saja di tumpukan map itu,” Munakata menunjuk satu sudut di mejanya, “nanti kulihat. Terima kasih, Fushimi-kun.”

Saruhiko buru-buru menyampaikan tugasnya dan angkat kaki dari ruangan itu. Lebih lama lagi ia mendengar ocehan Munakata, bisa-bisa ia terjebak di obrolan satu sisi tanpa akhir dari Munakata. Dalam perjalanannya menuju ruang kerjanya, ia melihat Letnan Awashima berjalan menuju ruangan Munakata dengan membawa nampan makanan berisi nasi kepal dan semangkuk pasta kacang merah.

“Ah, Fushimi-kun. Kau baru dari ruangan Kapten?”

Saruhiko tidak bisa mengalihkan pandangannya dari semangkuk pasta kacang merah yang berada di atas nampan. Perutnya serasa melilit dan siap memuntahkan segala isinya saat itu juga.

“Fushimi-kun?”

“Permisi.”

Seri menaikkan alisnya ketika Saruhiko melangkah lebar-lebar dan berbelok ke kamar mandi tanpa membalas sapaannya. Memutuskan bahwa Saruhiko memang seorang pemuda dengan masalah tatakrama yang sudah tidak bisa diperbaiki lagi, ia meneruskan perjalanannya menuju ruangan Munakata.

.

.

.

“Kau ingin tahu hubunganku dengan Suoh Mikoto???”

Munakata hampir saja tersedak nasi ketika Seri—tidak ada angin tidak ada hujan—memutuskan untuk mengeluarkan isi pikirannya.

“Ya, Kapten. Maaf jika saya lancang. Rumor mengenai dirimu dan Raja Merah sudah terlalu banyak beredar. Mulai dari cerita tentang kalian adalah teman satu SMA, tetangga sejak kecil, atau rekan minum setiap malam di bar milik Kusanagi, dan lainnya yang bahkan di luar logika. Saya ingin mengetahui yang sebenarnya, dan kemudian memperbaiki rumor yang ada.” Seri menjelaskan panjang lebar. Munakata mengerjap sebentar sebelum menghela napas dan bersandar di kursinya.

“Sebenarnya, Awashima-kun, semua rumor itu benar adanya. Aku dan Suoh Mikoto adalah tetangga sejak kecil, teman SMA, dan rekan minum di bar HOMRA. Kau tidak perlu memperbaiki apapun lagi.”

Seri terdiam, berusaha mencerna informasi yang baru saja ia dapat. “Kalau, kau dan Raja Merah memang teman sejak kecil, kenapa hubungan kalian jadi seperti ini?”

“Selain karena kami sama-sama Raja?”

Seri mengangguk.

“Hmm…. Ceritanya panjang, Awashima-kun.”

.

.

.

Munakata kecil adalah replika dirinya yang sudah dewasa dalam bentuk lebih bantat dan polos. Sejak dulu, ia selalu membela teman-temannya yang dijahili oleh sekelompok anak-anak penguasa. Selalu jadi pahlawan di lingkungan kecilnya. Di taman kanak-kanak, ia adalah ketua kelas yang dapat diandalkan oleh semua guru. Di sekolah dasar, ia adalah ketua OSIS yang dihormati oleh semuanya. Begitu pula di jenjang pendidikan selanjutnya. Sebut saja nama jabatan-jabatan penting yang ada, maka nama Munakata Reishi akan tercetak sebagai salah satu yang pernah memilikinya.

Munakata Reishi begitu menyukai keteraturan, ketenangan dan keadaan yang seimbang, sampai sedikit keganjilan pun membuat tangannya gatal.

Dan keganjilan yang terus mengganggunya, adalah Suoh Mikoto.

Suoh Mikoto adalah salah satu bocah kecil yang tinggal di daerah rumahnya. Ketika Munakata kecil sedang hobi-hobinya menjelajah, ia menemukan anak kecil seumurannya sedang mengayuh sepedanya di pinggir sungai, dengan tiga ekor anjing besar mengejarnya. Anehnya, bocah berambut merah menyala itu tetap mengayuh sepedanya dengan santai seolah-olah tidak sedang dikejar oleh apapun, dan ketika pada akhirnya ketiga anjing tersebut berhasil menghadang jalannya, yang ia lakukan adalah turun dari sepeda dan menghela napas panjang.

“Menyusahkan saja.”

Lalu, menit selanjutnya, Munakata melihat ketiga ekor anjing tersebut sedang merintih tidak jelas di tanah, dengan si bocah berambut merah kembali melanjutkan perjalanannya sambil bersiul-siul sumbang.

Kali berikutnya mereka bertemu adalah di sekolah dasar. Ia kemudian mengetahui nama bocah tersebut adalah Suoh Mikoto. Rasa penasaran tidak membuatnya mencari lebih lanjut mengenai si rambut merah. Ia hanya mengamati saja ketika Mikoto lewat di hadapannya, atau ketika ia dihukum karena terlambat dan tertidur di kelas, atau ketika ia memergokinya tidur di bawah pohon, atau ketika nama mereka yang berdekatan—Munakata dan Mikoto—membuat keduanya berada dalam satu lomba lari jarak pendek yang sama.

Karena terlalu banyak mengamati, Munakata jadi tidak fokus dan kalah dalam pertandingan pertama mereka. Setelah itu, mereka tidak pernah berhubungan lagi. Kelas yang berbeda, lingkungan yang berbeda, dan pilihan SMP yang berbeda membuat keduanya terpisah begitu saja.

Interaksi mereka yang selanjutnya adalah ketika keduanya berada di SMA. Munakata adalah wakil dari murid baru yang diharuskan memberikan sambutan pada saat penerimaan siswa, ketika ia melihat ada warna merah yang mencuat di antara semua kepala.

Kehidupan SMA-nya setelah itu tidak lagi sama.

Munakata Reishi adalah ketua OSIS sekaligus anggota komite kedisiplinan, kapten klub kendo, dan seorang ketua kelas. Entah apa dosanya, Mikoto selalu membuat ulah dan dialah yang ketiban sial untuk membereskan segalanya. Ia juga yang diberi tugas oleh guru-guru dan ketua komite disiplin untuk mengingatkan Mikoto agar memakai seragamnya dengan benar dan mengurangi waktu tidurnya di kelas. Ia juga yang harus melerai anggota klub ketika tanpa sengaja Mikoto mengalahkan mereka semua di pertandingan kendo antar kelas.

Dan Munakata juga yang harus mengejar-ngejar Mikoto ke atap, di kantin, atau di taman sekolah hanya untuk menyeretnya masuk kelas—karena ia adalah ketua kelas dan satu kelas dengan si rambut merah sialan.

“Tidak bisakah kau melakukan sesuatu dengan benar, sekali saja?”

Satu hari di musim semi tahun kedua, Munakata hampir meledak ketika menemukan dirinya terjebak lagi dengan Mikoto di kelas yang sama. Setelah menyeret kakinya ke atap sekolah hanya untuk menemukan si rambut singa sedang makan roti melon dan minum susu strawberry dengan tenangnya sambil melihat langit biru, ia tidak tahan lagi.

Sementara Mikoto hanya menatapnya bingung. “Hah?”

“Mikoto Suoh! Bisakah kau masuk kelas dengan benar, memakai seragam dengan benar, dan melakukan semuanya sesuai aturan? Sekali saja?” Munakata terdengar payah tapi ia tidak lagi peduli.

Namun, Mikoto lebih tidak peduli. Lebih tepatnya, ia tidak mau pusing.

“Untuk?”

Detik ini, Munakata sudah habis akal dan ia berteriak kesal sebelum menerjang Mikoto dan memaksanya memakai seragam dengan benar sementara si rambut merah melawan.

.

.

.

“…Maaf kalau aku memotong ceritamu, Kapten. Tapi, kau benar-benar melakukan hal itu?”

Munakata mengerjap sebentar, lalu menyesap teh hijau yang sudah tersedia di mejanya. “Tidak, tentu saja. Itu hanya sekedar bumbu dalam cerita. Jadi, kau mau dengar lanjutannya?”

.

.

.

“Apa kau tidak bosan menggangguku begini, Munakata?”

Nada suara Mikoto yang monoton membuat sang ketua OSIS ingin menjambak rambut merah tersebut, lalu membenturkan kepala di tangannya ke dinding terdekat.

“Justru kau yang menggangguku, Suoh. Kau pikir bagaimana kehidupanku tiga tahun terakhir ini?”

“Membosankan,” jawab Mikoto sambil menguap.

“Yang membosankan itu hidupmu.”

“Hm.”

“Kau dengar aku atau tidak?!”

“Ya. Jadi, apa maumu?”

Munakata menghela napas. Hari sudah sore, langit sudah berwarna oranye, hampir semua siswa sudah pulang, dan ia terjebak di ruang OSIS dengan Mikoto karena pemuda tanggung tersebut memutuskan untuk merusak keran air di kamar mandi dan membakar satu wajan di kelas tataboga.

“Aku mau, kau tidak lagi merusak keran di kamar mandi dan membakar apapun lagi di kelas tataboga. Malah, sebaiknya kau tidak usah ikut kelas tataboga atau kelas apapun yang melibatkan benda-benda berbahaya.”

“Bukan salahku kerannya macet, dan bukan salahku wajannya tidak tahan api.”

“Dan bukan salahku juga kalau kau dapat hukuman untuk membersihkan taman satu minggu. Perintah langsung dari kepala sekolah. Catatan tambahannya, jangan merusak tanaman.”

Mikoto terdiam sebelum tersenyum tipis. “Kalau itu maumu.”

“Itu bukan mauku, Suoh. Itu mau kepala sekolah.”

Suoh mengangkat bahu dan berbalik keluar ruangan. Ia menyempatkan diri untuk berhenti di depan pintu sebentar sebelum benar-benar pergi dari sana.

“Kusarankan sebaiknya kau membawa sarung tangan dan sekop mulai besok, Munakata.”

Dan yang selanjutnya terjadi sudah dapat dibayangkan. Dengan ajaibnya, semua tanaman yang sudah susah payah ditanam kepala sekolah jadi rusak dan berantakan dan…. Intinya, Munakata-lah yang harus membereskan semuanya.

.

.

.

Seri mengurut dahinya. “Jadi, hubungan kalian berdua sudah seperti ini sejak, dulu?”

Munakata kembali meneguk teh hijaunya. “Ya, kurang lebih. Hanya saja, dulu kami bukan Raja dan tidak memiliki kekuatan ini, ataupun Pedang Damoscles. Jadi, pertengkaran kami hanya berakhir di beberapa kursi patah dan banyak jendela pecah, atau di beberapa lebam di wajah dan sedikit omelan guru.”

“… begitu?”

“Ya. Ada lagi yang mau kau tanyakan, Awashima-kun?”

Seri menggeleng. “Semuanya sudah jelas untukku, Kapten. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bercerita padaku. Saya permisi dulu.” Seri menunduk singkat sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja Munakata. Setelah ia keluar, terdengar dengusan geli dari balik pintu kertas yang membatasi ruang kerja Munakata dengan ruangan tatami. Pintu kertas tersebut dibuka, dan seorang berambut merah dengan wajah mengantuk sedang duduk dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak.

“Kau tidak cerita waktu aku jadi raja dan kau marah-marah tidak jelas di atap sekolah.”

“Aku juga tidak cerita kalau kau adalah seniorku dan kau sempat mengulang satu tahun karena terlalu banyak tidur di atap sekolah. Atau ketika kau diare karena kebanyakan makan roti melon.”

“Hng.” Mikoto mendengus dan merebahkan dirinya lagi di atas tatami. “Cepat selesaikan pekerjaanmu. Aku lapar.”

“Kalau lapar, makan saja sendiri.”

“Tidak mau. Hari ini kau janji mau masak kare dan mentraktirku parfait.”

“Kalau anggota HOMRA tahu kau suka strawberry, apa reaksi mereka?”

“Bukan urusanku. Cepat selesaikan. Aku lapar.”

“Baiklah, Raja Manja. Asal kau tutup mulut dan biarkan aku berkonsentrasi.”

.

.

.

Satu jam kemudian, Munakata diseret paksa dari mejanya ketika sedang memasang keping puzzle yang terakhir.

.

.

.

End

Sunday, 4 May 2014

Premonition

(c) GoRa & GoHands

.
.
.

"What if, by any chance, I kill you?"

Sengaja atau tidak.

Mikoto menatap Munakata dengan wajah datarnya. Tak lama, ia tersenyum tipis dan mendengus.

"Hng."

"Jawab aku, Mikoto."

Mikoto menghisap rokoknya. Senyum tidak lepas dari wajah. Ia lalu menatap Munakata dengan mata yang berkilat kesenangan.

"Aku akan menantikan saat-saat itu, Munakata."

.
.
.


Saturday, 26 April 2014

High Temp

(c) GoRa & GoHands

.
.
.

Alternate Timeline.

.
.
.


Fushimi Saruhiko tidak suka bangun pagi.

Pada dasarnya ia memang bukan manusia yang bisa terbit bersamaan dengan matahari. Ia juga bukan makhluk yang bisa melayap semalam suntuk demi patroli. Pada dasarnya, ia tidak menyukai hal-hal yang membuatnya harus mengeluarkan tenaga lebih.

"WUAAAH!!!"

Kecuali, jika semua agenda menyusahkan itu berhubungan dengan seorang cebol bawel yang sedang melakukan usaha-usaha tidak penting untuk meledakkan dapurnya.

.

"Kau 'kan sedang sakit!"

"Dan kau malah membuatku semakin sakit."

"Aku berusaha membantumu! Aku sudah minta Kusanagi-san untuk mengajariku membuat bubur. Aku sedang buat bubur!"

Misaki menunjuk panci berisi substansi aneh seperti beras dengan air yang terlalu sedikit di atas kompor, membuat Saruhiko memijat kepalanya.

"Kau mau membuat bubur atau racun? Berniat membunuhku, begitu?"

"Aku mau membantumu, bakasaru!"

"Jangan teriak-teriak begitu, kepalaku sakit."

"...."

Canggung menggantung.

Sejak kembalinya Saruhiko dari misi di salah satu kepulauan terpencil di Jepang--terima kasih pada sang Kapten yang tidak mau pergi dari kota Shizume dengan sejuta alasan dan sang Letnan yang juga tidak bisa melakukan tugasnya karena kehabisan pasta kacang merah--kepalanya pusing dan suhu tubuhnya naik. Singkat kata, ia terinfeksi virus entah apa dan jatuh sakit. Dan, terima kasih juga kepada sang Letnan yang ternyata senang bergosip di satu bar tertentu, kabar tentang dirinya sampai pada telinga seorang berkupluk buluk yang suka bereaksi berlebihan.

Saruhiko menghela napas. "Jangan sentuh apapun lagi di dapurku. Pulang. Sekarang."

.
.
.

Saruhiko bangun keesokan harinya dan melihat ada matahari bersinar di dalam kamarnya.

....

Sepertinya minus matanya naik. Ia melihat sesuatu berwarna merah di sisi tempat tidurnya, memantulkan cahaya matahari yang menyusup lewat celah tirai.

...baiklah.

Ia sedang memperhatikan kepala Misaki yang sedang tertidur dengan posisi duduk dan hanya kepalanya yang menempel di kasur Saruhiko. Satu tangannya menggenggam handuk kecil yang lembab.

Saruhiko menghela napas.

"Oi."

"Mmm?"

"Misaki. Bangun." Saruhiko mengetuk lembut puncak kepala Misaki dengan ujung jarinya.

"Mmm... Saru? Selamat pagi."

"Hng."

"Bagaimana? Sudah lebih baik?"

"...kemarin kusuruh kau pulang. Kenapa masih di sini?"

"Memang tidak boleh?"

"Buk--

"Memang tidak boleh kalau aku khawatir padamu barang sedikit saja?"

.
.
.

"...kau tahu, Misaki? Entah harus apa yang kulakukan untuk membuatmu tetap jauh dariku."

.
.
.

"Eh? Kau bilang apa?"

"Tidak. Kalau kau sebegitu inginnya direpotkan olehku. Sini. Jadi bantalku. Kau tidak mungkin protes pada orang sakit 'kan, Mi-sa-ki~?"

Wednesday, 30 January 2013

Silvery Miracle #2

Ctar!

"Wuah!"

"Yata-kun. Selamat!"

Kusanagi meledakkan confetti tepat di depan wajah Yatagarasu, membuat pemuda pendek berambut merah itu melompat ke belakang dan berseru kaget. Bartender yang selalu setia dengan kacamata hitam itu terkekeh geli melihat ekspresi wajah Yata.

"Sebagai raja yang baru, kau harus bisa mengontrol wajahmu dengan lebih baik, Yata-kun."

"A...apa maksudmu, Kusanagi-san?" seru Yata, yang wajahnya sudah semerah rambutnya. "A...aku bukan raja! Rajaku tetap Mikoto-san, sampai kapanpun!"

"Oh, jangan bergurau, Yata-kun. Sword of Damoscles sudah memilihmu, Mikoto sudah memilihmu. Kau lihat sendiri kemarin, saat pemakaman Mikoto. Bagaimana tiba-tiba tubuhmu terbakar dan Sword of Damoscles melayang di atas kepalamu. Belum lagi waktu aku bersalaman denganmu, tanda klan merah yang sempat hilang saat Mikoto meninggal mendadak kembali lagi. Kau adalah raja yang baru, Yata-kun. Atau, harus kupanggil Yata-sama?"

"Be...berisik! Sudah! Minggir, aku mau masuk!" seru Yata kesal, menggeser pemilik restoran kecil itu ke samping. Kusanagi bergerak, mengizinkan Yata masuk ke bar markas HOMRA. Lalu, raja kecil itu melempar dirinya ke sofa empuk dekat jendela. Kusanagi terkekeh melihatnya.

"A...apa?!" tanya Yata galak, tidak suka bagaimana seniornya itu mendadak tertawa tanpa alasan. Cukuplah orang mengolok-oloknya tentang bagaimana di antara semua anggota HOMRA, ternyata ia yang terpilih mewarisi gelar raja. Yatagarasu, Raja Merah Keempat. Memikirkannya saja sudah membuat perut pemuda berkupluk itu mulas.

Kusanagi menggeleng dan melipat kedua tangannya di dada. "Tidak. Hanya saja, meski kau menolak mati-matian gelar barumu, kekuatanmu, dan tanggung jawabmu dengan alasan kau tidak sepadan dengan Mikoto, sikapmu yang barusan itu, masuk dengan seenaknya dan langsung duduk di sofa itu tanpa basa-basi, sangat mirip dengannya. Kurasa tidak heran kalau di antara kami semua, ia akan menjadikanmu pewarisnya. Watak kalian terlalu mirip."

"...."

Yata tidak bisa berkata-kata. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara jelas yang terbentuk. Seolah otaknya hanya mampu memproses kata-kata saja tanpa bisa memerintah otot rongga mulutnya untuk bekerja. Wajahnya sendiri sudah semerah rambutnya. Setelah lama, Yata lalu menutup mulutnya dan menarik kupluk sampai sebagian matanya sementara ia sendiri melihat ke samping. Semburat merah masih mewarnai wajah dan telinganya.

"Ku...kuanggap itu sebagai pujian," ujarnya lirih, nyaris berbisik. Pada detik ini, Kusanagi tidak bisa lagi menahan diri. Ia tergelak keras, tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

"Tsundere! Mikoto, bahkan tsundere-nya pun mirip dengan dirimu!"

"Ber...berhenti tertawa begitu, Kusanagi-san!!!"

Sunday, 27 January 2013

Silvery Miracle #1

"Mikoto-san."

Putih. Sepanjang matanya memandang, hanya ada putih tanpa batas. Mikoto memandang tangannya, menggerakannya, kemudian mengepal. Pandangannya beralih lagi pada kehampaan di hadapannya.

"Mikoto-san."

Muncul lagi, suara itu. Suara yang jahil, usil, sekaligus karismatik.

"Mikoto-san, di belakangmu."

Mikoto berbalik dan menemukan pemuda pendek berambut putih keperakan berdiri dengan senyum tipis di wajah. Ia mengenalinya, sangat mengenalinya. Isana Yashiro, Adolph Weissman, Silver King, Colorless King, siapapun itu nama aslinya.

"Mau apa kau?"

Shiro terkekeh geli. "Bahkan setelah mati pun, Mikoto-san tetap Mikoto-san."

"Memangnya mau jadi apa lagi?"

"Iya, betul. Tentu saja." Shiro mengangguk-angguk. Mikoto lalu mendudukkan dirinya. Tidak benar-benar duduk, karena tempatnya sekarang berada tidak lebih hanya imajinasi tentang dunia setelah mati. Ia memang bernapas, merasa hangat, dan hal-hal lainnya yang pernah ia rasakan ketika dulu masih hidup, tapi sembilan per sepuluh sel otaknya percaya itu hanyalah ilusi dunia orang mati saja.

"Hei, Mikoto-san, bagaimana menurutmu tempat ini?"

Mikoto beralih pada Shiro yang kini sedang melayang di atasnya. Jika ini dunia nyata pun, Mikoto tahu pasti kemampuan klan Perak yang memanipulasi gravitasi membuat siapapun anggota klannya bisa melayang-layang seperti hantu, apalagi di dunia aneh ini.

"Membosankan."

Shiro tergelak lagi. "Sudah kuduga kau akan menjawab begitu. Kau mudah sekali ditebak, Mikoto-san."

"Bukan urusanmu."

Shiro lalu tersenyum tipis dan mendudukkan dirinya di samping Mikoto. "Mikoto-san, kau tahu kenapa Raja Perak tidak bisa mati?"

Mikoto tidak menjawab. Shiro menoleh ke arah mantan Raja Merah itu, yang bahkan tidak sedikitpun berusaha berpikir mengenai jawaban atas pertanyaannya.

"Kau tahu ini tempat apa?"

"Dunia orang mati."

"Sekarang kau sudah tahu, kenapa Raja Perak tidak bisa mati?"

Kali ini Mikoto menoleh ke arah Shiro. Wajahnya terlihat bingung. Shiro mendengus geli.

"Kau tahu, warna apa yang sekarang ini ada di sekelilingmu?"

"...putih."

Shiro menggeleng. "Bukan, Mikoto-san. Bukan. Coba, perhatikan lagi warnanya. Putih 'kah?"

Mikoto lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Putih, putih, putih. Mikoto bukan orang yang buta warna. Setidaknya iya pun, ia masih bisa membedakan warna putih dan bukan putih. Warna dunianya saat ini mengingatkannya pada musim dingin, ketika salju menumpuk di jalanan, ketika Anna dan Yata lari-larian sambil main lempar bola salju, ketika Kusanagi mengajaknya main ski dari tebing paling curam, atau ketika ia melihat Reisi Munakata terjatuh dengan tidak elitnya di hamparan putih perak salju karena terpeleset.

Ah.

"Jadi? Sudah tahu ini warna apa?"

"Perak."

Shiro tersenyum lebar. "Bingo!" Ia lalu berdiri dan meregangkan tubuhnya. "Perak, Mikoto-san. Seperak rambutku, rambut Weissman, rambut Neko, seperak Sword of Damoscles milikku. Seperak salju. Perak, Mikoto-san."

"Lalu?"

"Apa yang bisa dikendalikan oleh klan merah?"

Teka-teki lagi. Mikoto menghela napas. "Api."

"Klan Biru?"

Mikoto berpikir sejenak. "Pedang?"

"Itu senjata yang mereka gunakan," Shiro tidak bisa menyembunyikan geli pada nada suaranya. "Pada dasarnya, setiap warna memiliki ciri khasnya masing-masing. Merah dapat mengendalikan api, Tanpa Warna memberi ilusi, dan Perak memanipulasi gravitasi."

Mikoto makin tidak mengerti arah pembicaraan ini. "Lalu?"

"Lalu, kabar baiknya adalah, Perak juga mengatur kehidupan."

"Maksudmu?"

"Keabadian."

Mikoto memicingkan mata. Otaknya dipenuhi spekulasi arah pembicaraan. Shiro tersenyum semakin lebar.

"Singkatnya adalah, aku bisa menghidupkanmu kembali, Mikoto-san. Kau dan juga anggota HOMRA yang dibunuh oleh Raja Tanpa Warna. Hanya saja, aku tidak bisa mengembalikan kekuatan kalian. Raja Merah selanjutnya sudah dipilih, dan hanya boleh ada satu raja dalam satu waktu. Kalian bisa kembali memiliki kekuatan itu kalau Raja Merah mengakui. Yah, meski itu adalah kepastian yang tidak terelak, 'sih."

Mikoto mengerjap, mulutnya sedikit terbuka, tidak percaya. "Kenapa?"

"Kenapa apa? Kenapa tidak dari dulu? Karena, untuk bisa membangkitkan anggota klan yang mati, aku harus menghidupkan dulu rajanya. Anggota klan akan hidup lagi jika raja yang berkuasa di masanya hidup, asalkan itu kemauan si raja. Kalau sang raja merasa perannya di dunia sudah selesai, keadaan ini tidak diperlukan. Begitu."

Mikoto lalu berdiri dan menatap tajam Shiro. "Jadi?"

"Mikoto-san, kau ini memang pelit ngomong, ya?" canda Shiro. "Ehem, jadi, Mikoto-san, apakah kau mau hidup lagi? Apakah kau mau Tatara Totsuka-san hidup kembali? Apakah kalian mau menjadi anggota HOMRA dan klan merah untuk yang kedua kali?"

"Aku mau!"

Mikoto menoleh cepat ke belakang dan menemukan pria berambut coklat susu dengan senyum bodoh sedang berdiri di sana. Matanya yang sewarna dengan rambutnya berkilat kesenangan.

"To...Totsuka?"

"Halo, Mikoto-kun! Weissman-san sudah menjelaskan semuanya padaku. Jadi, semuanya terserah padamu, 'sih. Kalau kau mau kembali, aku ikut. Kalau mau tetap di sini pun, aku akan menemanimu." Totsuka bicara panjang lebar dengan senyum tidak bisa lepas dari wajah mantan penyanyi itu. Mikoto masih takjub dengan keadaan yang ada di depan matanya.

"Ehem, jadi, bagaimana?"

Mikoto menoleh ke arah Shiro, lalu Totsuka, lalu Shiro, lalu Totsuka lagi. Totsuka mengangguk, menyerahkan semua keputusannya pada Mikoto. Ia lalu berbalik menghadap Shiro.

"...."

.
.
.


Saturday, 26 January 2013

Happiness

Disclaimer : GoRA & GoHands

.
.

"Maaf, aku selalu membuatmu melakukan pekerjaan kotor."

Prak.

Ada yang pecah. Kepingnya menyayat, memerih, berdarah. Merah pekat, gelap. Anyir besi menguar di udara, mengambang di atas serpih salju. Lengket dan hangat mengalir deras, jatuh ke atas putih bersih.

"Maaf, Munakata. Kau tidak lagi bisa membantuku."

Lalu, tubuhnya ambruk ke tanah, mendingin, dan perlahan hilang dalam kilau merah membara.

Prak. Prak. Prak.

.
.
.

"Kapten!"

Scepter 4 tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan mereka tatkala sang raja berjalan di jembatan. Gembira kemenangan seolah meluap dan merembes dari setiap pori-pori mereka. Kapten mereka selamat, Sword of Damoscle dari Raja Merah hancur, ditambah darah yang menempel di tangan kanan Munakata. Semuanya hanya mengarah pada satu keadaan.

Raja Merah, Mikoto Suou, sudah mati.

Dan Munakata Reisi sendiri, sang kapten dari Scepter 4, Raja Biru, yang sudah menghabisinya.

Apa ada alasan bagi klan biru untuk tidak merasakan bahagia?

.
.
.

Prak. Prak. Prak. Pr...ak.

.
.
.

Pertanyaannya hanya satu : bagaimana kau bisa merasakan bahagia, kalau dirimu sendiri yang membuat bahagia itu hilang?