Thursday, 22 November 2012

Sea, sand, and sun

Bali.

Debur ombaknya, gerahnya, semerbak wangi dupa yang menyengat, patung-patung dewa paling epik, lukisan-lukisan yang mendobrak segala macam teori logika manusia tentang imajinasi, mataharinya yang gagah di atas kilau biru laut lepas, dan pasirnya yang menggelitik sela-sela jari kaki sambil sesekali terbawa angin dan menampar dahi.

Bali, romansa dunia, tempat tinggal para Dewa, tempat banyak cinta muncul.

Luca sangat mencintai Bali, sangat cinta sampai ia ingin segera pergi dari tempat tinggalnya di balik gunung dan menjadi penduduk tempat pulau itu. Sebenarnya yang Luca cintai bukan segala etnik kultur budayanya, melainkan lautnya.

Ombak, tebing karang curam, biru-hijau-toska, debur merdu. Laut.

Sebut saja satu nama tempat di dunia dengan laut sebagai pesona utamanya. Luca akan dengan senang hati mengepak barang dan kameranya untuk segera meluncur ke tempat itu.

Karena, sungguh. Luca jatuh cinta pada laut. Jatuh cinta pada ketidakterbatasan yang ditawarkannya, pada ketenangan yang anomali, pada luas dan luwesnya, pada seluruhnya yang ia tidak miliki.

.
.

Satu hal yang Luca sesalkan adalah bagaimana laut juga menjadi satu hal yang mengorek kenangannya.

No comments:

Post a Comment