BRAK!
Rangiku mematung. Matanya membelalak, pupilnya melebar dan tubuhnya kaku ketika pintu itu dibanting sekitar lima belas senti dari depan matanya. Engselnya menyatu dengan kusen, pegangannya pun tiba-tiba melebur dengan kayu kokoh daunnya. Panik, ia buru-buru berusaha mendorong pintu tersebut dengan segenap tenaganya. Sempat terbuka, sedikit sekali, untuk kembali tertutup dengan sangat kerasnya.
Lalu, ia bisa merasakan getaran asing merambat menuju telapak tangannya yang menempel di daun pintu. Segera ia menempelkan telinganya di pintu dan apa yang didengarnya telak meluluhlantakkan semua harapan yang ia miliki.
Jembatan menuju tempat cahaya ada di ujung jalan sana runtuh, jatuh menjadi puing-puing ke dalam jurang kehampaan yang dilintasinya. Hati Rangiku mencelos. Sakit, pedih. Ia lalu berbalik, menyandarkan punggungnya ke pintu yang kini membatasi dirinya dengan jurang kehampaan.
Rangiku menghela nafas. "Waw. Hebat sekali. Sendirian. Great," gumamnya sepelan mungkin. Ya, pelan. Karena meskipun ucapannya mengatakan demikian, Rangiku tidak benar-benar sendirian. Ada sekitar tiga puluh orang yang terjebak di tempat ini bersamanya, dengan masing-masing pintu menuju cahaya masing-masing tertutup rapat begitu saja tepat di depan mata mereka.
"Oi, Agi."
Rangiku mengenali pemuda yang memanggil namanya. Velas.
"Oi."
Velas ikut duduk di samping Rangiku, menemaninya memperhatikan kericuhan yang kini terjadi di hadapan mereka. "Di sini juga?"
Rangiku mengangguk.
Lalu sunyi. Velas dan Rangiku sama-sama berkutat dengan pikiran mereka masing-masing, menolak untuk memproyeksikannya ke dunia nyata. Dengan tidak adanya orang-orang yang cukup biasa dengan tabiatnya yang memendam semua gulungan film di dalam kepala, ia harus berubah. Kalau dia mau bertahan di tempat ini.
Kalau, dia mau mempertahankan kewarasannya sendiri.
No comments:
Post a Comment