"Haru."
Haru bergerak-gerak gelisah di dalam selimutnya.
"Oi. Haru."
Ia membuka mata. Gelap. Detik jarum jam terdengar sangat nyaring, memecah keheningan.
"Ha-ru-mi ja-wab a-ku."
Haru menghela napas.
"Apa, Natsu?"
Terdengar suara dengusan geli. "Jangan menjawab keras begitu. Aku tidak tanggung kalau kau dicap gila ."
Haru mendengus. "Dicap gila? Tidak salah?"
Natsu terkekeh geli. "Oh, well. Omong-omong, sudah lama kita tidak ngobrol begini."
"Hng." Haru mendudukkan dirinya. "Kau terlalu sibuk dengan klub. Basket, kendo, cabutan di klub olahraga sana-sini. Gila. Badanku sampai sakit semua."
Natsu tergelak.
"Kau harus dengar omelan Yuki tentang sulitnya belajar saat untuk membuka mata saja sudah memakai seluruh tenaga yang ada."
"Hahaha! Yuki memang payah! Makanya, suruh dia olahraga, jangan cuma olahraga jari saja!"
"Kau saja yang suruh. Aku malas dengar ocehannya."
Natsu terkikik geli. "Dengar. Cara bicaramu jadi mirip Akira."
"Terse--
Ckrek.
"Haruaki? Kau sedang bicara dengan siapa?"
"Telepon, Bu. Urusan OSIS."
"Oh, begitu. Kau memang ketua, tapi jaga juga kesehatanmu. Jangan kemalaman ya."
Ckrek.
"Pffft. OSIS? Sejak kapan 'Haruaki' jadi ketua OSIS? Huahahahahaha!!!"
"Kalian berdua! Bisa diam tidak?!!!!"
duh mendadak jadi inget utang gambar ehem ehem hoek hoek~ :p
ReplyDelete