Grey tidak bisa memindahkan pandangannya dari punggung bidang itu. Bukan, bukan maksudnya ia memikirkan hal-hal yang tidak pantas. Yang menarik perhatiannya adalah, bagaimana punggung itu begitu lebar, luas, kuat dan lembut di saat yang bersamaan, dan indah. Ya, indah.
Kulit pria itu berkilat sedikit karena keringat. Cahaya matahari memantulkan warnanya yang sedikit coklat karena terbakar matahari, berbeda dengan warna pucat pada kulit Grey. Luka-luka yang saling silang dan membekas membentuk jaringan parut malang-melintang di punggung itu, begitu pula tato yang berseliweran membentuk motif simetris-asimetris yang saling tumpang tindih. Yang satu memanjang dari pundak ke belikat dalam motif garis-garis bersudut tajam berliku yang rumit, berputar di bawah ketiak ke daerah dada dan mencetak bentuk seperti kipas asimetris yang saling simetris di sana. Ada juga tato lain yang berawal dari lengan atasnya, memanjang ke pundak dan naik ke leher selain juga melingkari lengannnya sampai ke pangkal jari-jari tangan. Ada sesuatu yang magis yang menarik Grey untuk menyentuh dan menelusuri setiap jengkal rajah kulit tersebut. Rajah kulit penanda siapa dirinya. Siapa mereka.
"Jangan melihatku seperti itu, Grey."
Kalau saja ia tidak ingat siapa pria di hadapannya itu.
Grey nyengir lebar. "Maaf, Kolonel Kiba. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari tato itu. Berapa kali pun aku melihatnya, aku selalu dibuat takjub."
Kiba mendengus sebelum memakai kaus bersih warna abu-abu tua. Rambutnya yang ikal dan sedikit panjang bergoyang sedikit ketika ia menoleh ke arah Grey. "Lebih baik kau kagumi tanda milikmu sendiri, Grey."
"Sudah terlalu sering, Kolonel. Kalau dibandingkan dengan milikmu, tidak ada apa-apanya."
Kiba memutar bola matanya. "Grey, kau belum lihat tanda milik Jenderal Granda. Miliknya lebih, apa katamu tadi, magis"
Grey tergelak, mengundang kerutan dahi dari Kiba. "Aku juga sudah lihat milik Jenderal. Tetap saja, bagiku milikmu lebih bagus."
"Sebenarnya bagaimana hubungan kalian ini, sampai sudah melihat tanda miliknya," gumam Kiba sembari menggelengkan kepala. Grey tidak bisa menahan tawanya, ia tergelak selama beberapa saat sampai Kiba memberi isyarat 'tertawa lebih lama lagi kusuruh kau lari keliling markas seribu kali'.
"Hanya hubungan sepihak saja."
"Hah?!" Kiba tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Astaga, Kolonel! Kau harus melihat wajahmu!" seru Grey, yang kini sudah terduduk sambil memegangi perutnya, mencoba menahan tawa dengan gagal. Menjahili Kiba adalah salah satu caranya keluar dari rutinitasnya sebagai seorang tentara dari Terra. Kiba mendecih pelan sebelum meregangkan lehernya. Lalu, sepasang sayap hitam seperti lahir begitu saja dari kedua tulang belikatnya, memanjang dan melebar sejak batas di dekat tulang punggung sampai sekitar satu meter lebih secara horizontal. Bulu-bulu hitamnya rontok beberapa buah, satu mendarat di samping Grey yang masih terduduk di karpet.
Ada rindu yang ambigu terpancar dari kedua mata hijau Grey ketika ia memandangi dan menelanjangi kedua sayap hitam besar yang megah tersebut. Hatinya berdesir lembut dalam sesak kerinduannya untuk berada di bawah naungan kedua sayap itu. Dengan hati-hati ia mengambil sebuah bulu hitam di bawah dan memutar-mutarnya di depan mata. Senyum tidak terelak lagi, terkembang lebar di wajahnya.
"Hidupku."
"Hah?" Kiba menoleh pada Grey, yang buru-buru menyembunyikan bulu hitam tersebut. Grey lalu memasang senyum paling lebar--dan paling menyebalkan yang sering dilihat oleh Kiba.
"Tidak, aku tidak bicara apa-apa, Kolonel."
Kiba menatap Grey curiga sebelum memutuskan untuk tidak peduli pada apapun gumaman dari seseorang yang sudah ia anggap adik tersebut. Ia berjalan menuju jendela, sedikit menyeret sayapnya. Setibanya di tepi jendela besar itu, ia melirik ke arah Grey.
"Ayo jalan-jalan. Sekalian patroli."
Grey tidak bisa tidak mendengus. "Kolonel, ini hari liburmu. Kenapa semangat sekali, 'sih?"
"Jangan banyak protes. Ayo, cepat."
Grey menghela napas kemudian merilekskan punggungnya. Sekejap kemudian, sepasang sayap seolah bangun dari sisi-sisi tulang punggungnya, untuk mengembang sempurna di samping-sampingnya. Sayapnya memiliki bulu berwarna abu-abu muda dan struktur lebih ramping daripada sayap milik Kiba. Ia lalu mengepakkannya beberapa kali, menghamburkan bulu-bulu abu-abu ke ruangan itu, sebelum berjalan menuju Kiba.
"Jangan lambat. Nanti kutinggal."
"Siap, Kolonel!"
.
.
.
Hidupku, seluruh duniaku. Apa yang terhampar di depanmu, ingatlah aku di belakangmu. Apa yang kau naungi, ada aku yang tersembunyi dari teriknya matahari. Saat langit mengkhianati kita, hamparan beludru akan kubentangkan untuk tempatmu mendarat.
Hidupku, duniaku.
Seluruh nyawaku.
No comments:
Post a Comment