Altair, Soma, Tobi © grosspanda
& leight2
“Gen!”
Gen—Genichiro, pemuda tanggung
berambut coklat yang sedang dikepung oleh dua orang anggota tim lawan, melirik
sedikit ke arah suara. Satu tangannya masih berusaha mengendalikan pantulan
bola ketika matanya berhasil fokus pada sosok rambut ungu yang sedang berlari
menuju ring. Posisinya saat ini sebenarnya tidak memungkinkan dirinya untuk
memberikan operan pada siapapun, tapi tidak kata harga dirinya.
Satu gerak menjauhi lawannya,
pantulan bola ke belakang, lalu memutar badan dan memantulkan bola ke samping,
dan dengan gerakan kaki yang hampir tidak terlihat Genichiro berhasil
membebaskan diri sejenak dari lawannya. Dari sudut matanya, ia tahu bahwa dalam
hitungan detik ia akan kembali terperangkap dalam strategi lawan untuk
membungkam sang Power Forward. Genichiro
tersenyum tipis.
Apa gunanya membungkam ujung
tombak tim, kalau tidak bisa menghentikan otak penggerak segalanya?
Ayunan singkat dari lengannya dan
bola melayang mulus di udara. Pemuda rambut ungu itu berhasil menangkap bola,
memantulkannya sedikit lalu melemparkannya ke ring dalam satu gerakan halus.
Bunyi peluit panjang dan sorakan
ramai menandai berhentinya pertandingan satu detik setelah bola oranye melesak
masuk dalam satu sapuan udara. Pertandingan panas antara kedua tim selesai
dengan ditutup oleh shoot tiga poin
yang nyaris tanpa cela. Si rambut ungu bernomor delapan langsung diserbu oleh
rekan satu timnya, yang saling peluk dan tertawa dan bangga tanpa peduli
keringat yang sudah membasahi pakaian.
“Altair! Sakit kamu! Three point mepet waktu begitu! Mau
bikin seniormu ini mati berdiri?!” seru Genichiro yang masih tertawa lebar dan
merangkul pundak juniornya yang lebih tinggi itu.
“Sok heroik banget! Sampah
banget!” lanjut pemuda berkacamata di hadapan Altair dan Genichiro, sambil
mengacak-acak rambut ungu Altair yang lepek kena keringat. Altair sendiri
hanya tertawa-tawa ringan sambil berusaha mengatur napasnya.
“Hentikan itu, Ran. Aku bukan
anak-anak!” protes Altair. Ran tertawa makin keras ketika usahanya membuat
rambut ungu Altair membuahkan hasil. Rambut acak-acakannya semakin berantakan
dan mencuat ke segala arah.
“Bagiku kau tetap bocah cilik!”
“Ran!”
“Sudah, kalian semua. Ayo, kita
beri salam pada lawan.”
Tiga pemuda yang masih terbuai
oleh kemenangan itu lalu menatap pemuda berwajah santai di hadapan mereka.
Senyum tipis menghiasi wajahnya. Altair, Genichiro, dan Ran mengangguk singkat.
“Baik, Kapten Kai.”
.
.
.
“Permisi! Pesan satu lagi milkshake coklat!”
“Buat dua! Yang satu tambah krim kocok!”
“Ah! Jun! Itu kentang gorengku!”
“Permisi! Tambah empat porsi cheese burger!”
Riuh rendah gelak tawa menjadi
latar belakang musik bagi restoran cepat saji tempat tim basket SMU Seidai
merayakan kemenangan mereka. Kemenangan tipis dari musuh bebuyutan dengan skor
93-91 berhasil mengantar mereka menjadi juara regional. Kai menatap kegaduhan
anggota timnya dengan senyum tipis yang sejak tadi tidak bisa lepas dari
wajahnya. Di sampingnya, Genichiro sibuk menghabiskan gelas milkshake coklatnya yang ketiga.
“Hoi, Kai. Atur wajahmu.”
Kai mengalihkan pandangannya pada
Genichiro. “Atur bagaimana?”
“Mukamu. Mengerikan.”
Kai terkekeh geli mendengar
omelan Genichiro. “Gen, kau itu selalu jahat padaku.”
Dengan satu seruput panjang yang
mengganggu telinga, Genichiro mendelik kesal pada Kai. Ia tidak habis pikir,
bagaimana caranya Kai bisa begitu disegani dan dihormati dan begitu besar keberadaannya di lapangan
basket ketika di luar semua itu ia hanyalah bocah berbadan besar yang punya
hobi mengerikan memerhatikan keadaan di sekitarnya lalu tersenyum simpul
sendirian.
Maniak.
“Kapten Kai, Kak Gen.”
Genichiro baru saja akan
melancarkan serangan ejekan pada Kai ketika Altair memanggil mereka berdua. Kedua
murid kelas tiga tersebut mengalihkan pandangan mereka pada si rambut ungu yang duduk di samping Genichiro.
“Ya? Ada apa?”
“Aku boleh pesan cheese burger lagi?”
“… aku penasaran. Perutmu itu
ruang hampa apa bagaimana.”
.
.
.
“Aku pulang!”
“Selamat datang! Selamat atas
kemenangannya!”
Satu confetti diledakkan tepat di wajah Altair, membuat rambutnya yang
ungu penuh oleh kertas warna-warni. Ayah Altair—laki-laki berusia empat puluh
tiga tahun dengan cetakan wajah begitu mirip dengan Altair kecuali warna
rambutnya yang coklat—hanya tersenyum lebar di belakang istrinya, wanita
berambut merah yang sedang memeluk Altair.
“Aksimu di detik terakhir itu
keren sekali! Ibumu sampai lompat-lompat kegirangan di bangku penonton.”
“Hei! Jangan ceritakan yang
aneh-aneh!”
Altair tidak bisa menyembunyikan
senyumnya ketika melihat kedua orangtuanya adu mulut seperti remaja tanggung
berusia belasan tahun. Tidak jarang ketika mereka jalan bertiga, Altair akan
dianggap adik paling kecil dari tiga bersaudara oleh orang-orang di sekitarnya.
“Sudahlah, kalian berdua. Sudah malam.
Tidak enak dengan tetangga,” Altair berusaha menengahi ayah dan ibunya yang
kini sedang saling ejek.
“Habis! Ayahmu, ‘nih!”
“Kau sendiri, tingkahnya seperti
anak muda saja.”
“Aku memang masih muda!”
Altair menghela napas, menyerah. Dengan
sigap ia segera masuk ke dalam rumah dan secepat kilat bergerak menuju kamarnya
di lantai dua. Setelah menyimpan tas dan membuka jaket, ia membuka jendela dan
membiarkan angin malam masuk ke dalam kamarnya. Tepat di seberang jendela
kamarnya, terlihat jendela kamar rumah sebelah yang tertutup tirai. Cahaya masih
terlihat terang menyala di dalamnya. Altair tersenyum tipis.
“Soma! Hoi! Soma!”
Tak lama kemudian, terlihat
gerakan dari balik tirai dan dalam satu gerakan singkat, jendela kamar tersebut
terbuka, menampakkan pemuda berambut hijau kebiruan dengan wajah mengantuk dan
bekas luka memanjang di wajah sebelah kirinya.
“Yo! Kau tadi nonton
pertandinganku?”
Soma mengangguk singkat lalu
menguap lebar. “Selamat atas kemenanganmu, Al.”
“Terima kasih! Besok kau ada
latihan pagi?”
Soma mengangguk lagi. “Kejuaraan
musim panas sudah mulai.”
“Betul juga. Besok pergi ke
sekolah jam berapa?”
Soma mengedipkan matanya beberapa
kali sebelum mengambil jam tangannya di meja belajar di samping jendela. “Mungkin
jam enam.”
“Oke. Bangunkan aku kalau kau
sudah bangun, ya! Sudah lama kita tidak berangkat sekolah sama-sama.”
Soma diam sejenak, mengerutkan
dahinya. “Memang kamu ada latihan pagi juga?”
“Nggak.”
“Terus?”
“Aku ingin berangkat sekolah
sama-sama denganmu.”
“…oke. Kubangunkan jam lima ya.”
“Baiklah! Selamat tidur, Soma! Salam
untuk Tobi!”
Satu bunyi meong singkat dan seekor kucing oranye-putih berwajah malas
memunculkan dirinya di samping Soma. Soma lalu mengangkatnya dan memainkan
salah satu kaki depannya, membuat seolah kucing tersebut melambaikan tangan
pada Altair.
“Selamat malam, Al. Sampai besok.”
No comments:
Post a Comment