Sunday, 22 February 2015

Color Blind

Altair, Soma, Tobi © grosspanda & leight2

.
.
.

“Gen!”

Gen—Genichiro, pemuda tanggung berambut coklat yang sedang dikepung oleh dua orang anggota tim lawan, melirik sedikit ke arah suara. Satu tangannya masih berusaha mengendalikan pantulan bola ketika matanya berhasil fokus pada sosok rambut ungu yang sedang berlari menuju ring. Posisinya saat ini sebenarnya tidak memungkinkan dirinya untuk memberikan operan pada siapapun, tapi tidak kata harga dirinya.

Satu gerak menjauhi lawannya, pantulan bola ke belakang, lalu memutar badan dan memantulkan bola ke samping, dan dengan gerakan kaki yang hampir tidak terlihat Genichiro berhasil membebaskan diri sejenak dari lawannya. Dari sudut matanya, ia tahu bahwa dalam hitungan detik ia akan kembali terperangkap dalam strategi lawan untuk membungkam sang Power Forward. Genichiro tersenyum tipis.

Apa gunanya membungkam ujung tombak tim, kalau tidak bisa menghentikan otak penggerak segalanya?

Ayunan singkat dari lengannya dan bola melayang mulus di udara. Pemuda rambut ungu itu berhasil menangkap bola, memantulkannya sedikit lalu melemparkannya ke ring dalam satu gerakan halus.

Bunyi peluit panjang dan sorakan ramai menandai berhentinya pertandingan satu detik setelah bola oranye melesak masuk dalam satu sapuan udara. Pertandingan panas antara kedua tim selesai dengan ditutup oleh shoot tiga poin yang nyaris tanpa cela. Si rambut ungu bernomor delapan langsung diserbu oleh rekan satu timnya, yang saling peluk dan tertawa dan bangga tanpa peduli keringat yang sudah membasahi pakaian.

“Altair! Sakit kamu! Three point mepet waktu begitu! Mau bikin seniormu ini mati berdiri?!” seru Genichiro yang masih tertawa lebar dan merangkul pundak juniornya yang lebih tinggi itu.

“Sok heroik banget! Sampah banget!” lanjut pemuda berkacamata di hadapan Altair dan Genichiro, sambil mengacak-acak rambut ungu Altair yang lepek kena keringat. Altair sendiri hanya tertawa-tawa ringan sambil berusaha mengatur napasnya.

“Hentikan itu, Ran. Aku bukan anak-anak!” protes Altair. Ran tertawa makin keras ketika usahanya membuat rambut ungu Altair membuahkan hasil. Rambut acak-acakannya semakin berantakan dan mencuat ke segala arah.

“Bagiku kau tetap bocah cilik!”

“Ran!”

“Sudah, kalian semua. Ayo, kita beri salam pada lawan.”

Tiga pemuda yang masih terbuai oleh kemenangan itu lalu menatap pemuda berwajah santai di hadapan mereka. Senyum tipis menghiasi wajahnya. Altair, Genichiro, dan Ran mengangguk singkat.

“Baik, Kapten Kai.”

.

.

.

“Permisi! Pesan satu lagi milkshake coklat!”

“Buat dua! Yang satu tambah krim kocok!”

“Ah! Jun! Itu kentang gorengku!”

“Permisi! Tambah empat porsi cheese burger!”

Riuh rendah gelak tawa menjadi latar belakang musik bagi restoran cepat saji tempat tim basket SMU Seidai merayakan kemenangan mereka. Kemenangan tipis dari musuh bebuyutan dengan skor 93-91 berhasil mengantar mereka menjadi juara regional. Kai menatap kegaduhan anggota timnya dengan senyum tipis yang sejak tadi tidak bisa lepas dari wajahnya. Di sampingnya, Genichiro sibuk menghabiskan gelas milkshake coklatnya yang ketiga.

“Hoi, Kai. Atur wajahmu.”

Kai mengalihkan pandangannya pada Genichiro. “Atur bagaimana?”

“Mukamu. Mengerikan.”

Kai terkekeh geli mendengar omelan Genichiro. “Gen, kau itu selalu jahat padaku.”

Dengan satu seruput panjang yang mengganggu telinga, Genichiro mendelik kesal pada Kai. Ia tidak habis pikir, bagaimana caranya Kai bisa begitu disegani dan dihormati dan begitu besar keberadaannya di lapangan basket ketika di luar semua itu ia hanyalah bocah berbadan besar yang punya hobi mengerikan memerhatikan keadaan di sekitarnya lalu tersenyum simpul sendirian.

Maniak.

“Kapten Kai, Kak Gen.”

Genichiro baru saja akan melancarkan serangan ejekan pada Kai ketika Altair memanggil mereka berdua. Kedua murid kelas tiga tersebut mengalihkan pandangan mereka pada si rambut ungu yang duduk di samping Genichiro.

“Ya? Ada apa?”

“Aku boleh pesan cheese burger lagi?”

“… aku penasaran. Perutmu itu ruang hampa apa bagaimana.”

.

.

.

“Aku pulang!”

“Selamat datang! Selamat atas kemenangannya!”

Satu confetti diledakkan tepat di wajah Altair, membuat rambutnya yang ungu penuh oleh kertas warna-warni. Ayah Altair—laki-laki berusia empat puluh tiga tahun dengan cetakan wajah begitu mirip dengan Altair kecuali warna rambutnya yang coklat—hanya tersenyum lebar di belakang istrinya, wanita berambut merah yang sedang memeluk Altair.

“Aksimu di detik terakhir itu keren sekali! Ibumu sampai lompat-lompat kegirangan di bangku penonton.”

“Hei! Jangan ceritakan yang aneh-aneh!”

Altair tidak bisa menyembunyikan senyumnya ketika melihat kedua orangtuanya adu mulut seperti remaja tanggung berusia belasan tahun. Tidak jarang ketika mereka jalan bertiga, Altair akan dianggap adik paling kecil dari tiga bersaudara oleh orang-orang di sekitarnya.

“Sudahlah, kalian berdua. Sudah malam. Tidak enak dengan tetangga,” Altair berusaha menengahi ayah dan ibunya yang kini sedang saling ejek.

“Habis! Ayahmu, ‘nih!”

“Kau sendiri, tingkahnya seperti anak muda saja.”

“Aku memang masih muda!”

Altair menghela napas, menyerah. Dengan sigap ia segera masuk ke dalam rumah dan secepat kilat bergerak menuju kamarnya di lantai dua. Setelah menyimpan tas dan membuka jaket, ia membuka jendela dan membiarkan angin malam masuk ke dalam kamarnya. Tepat di seberang jendela kamarnya, terlihat jendela kamar rumah sebelah yang tertutup tirai. Cahaya masih terlihat terang menyala di dalamnya. Altair tersenyum tipis.

“Soma! Hoi! Soma!”

Tak lama kemudian, terlihat gerakan dari balik tirai dan dalam satu gerakan singkat, jendela kamar tersebut terbuka, menampakkan pemuda berambut hijau kebiruan dengan wajah mengantuk dan bekas luka memanjang di wajah sebelah kirinya.

“Yo! Kau tadi nonton pertandinganku?”

Soma mengangguk singkat lalu menguap lebar. “Selamat atas kemenanganmu, Al.”

“Terima kasih! Besok kau ada latihan pagi?”

Soma mengangguk lagi. “Kejuaraan musim panas sudah mulai.”

“Betul juga. Besok pergi ke sekolah jam berapa?”

Soma mengedipkan matanya beberapa kali sebelum mengambil jam tangannya di meja belajar di samping jendela. “Mungkin jam enam.”

“Oke. Bangunkan aku kalau kau sudah bangun, ya! Sudah lama kita tidak berangkat sekolah sama-sama.”

Soma diam sejenak, mengerutkan dahinya. “Memang kamu ada latihan pagi juga?”

“Nggak.”

“Terus?”

“Aku ingin berangkat sekolah sama-sama denganmu.”

“…oke. Kubangunkan jam lima ya.”

“Baiklah! Selamat tidur, Soma! Salam untuk Tobi!”

Satu bunyi meong singkat dan seekor kucing oranye-putih berwajah malas memunculkan dirinya di samping Soma. Soma lalu mengangkatnya dan memainkan salah satu kaki depannya, membuat seolah kucing tersebut melambaikan tangan pada Altair.

“Selamat malam, Al. Sampai besok.”



No comments:

Post a Comment