Monday, 25 June 2012

Goes Wrong

"Bisa kau beritahu padaku, kenapa semua ini bisa menjadi sangat salah?"

Erika tidak mau menatap Alex. Tidak bisa, tepatnya. Tidak setelah mereka ada di titik ini, tidak setelah mereka terjebak dalam keadaan ini.

Tidak setelah mereka tenggelam dalam rasa yang tidak masuk akal ini.

"Kau tahu apa yang salah," jawab Erika pada setelah jeda yang menyesakkan.

"Oh ya? Beritahu aku," bantah Alex.

"Kita. Aku dan kamu. Ini salah."

"Karena?"

"Karena kita saudara."

"Lalu?"

Erika, mengumpulkan segenap keberaniannya, menatap Alex dengan pandangan tidak percaya. Pemuda berambut cepak dengan garis wajah tegas di hadapannya sedang menatap dirinya dengan pandangan merendahkan. Erika hilang sabar.

"Justru itu yang salah! Aku dan kamu, kita, semuanya salah!" seru Erika. Alex mengerutkan kening ketika Erika berseru-setengah-teriak.

Satu hela napas, sebelum Alex memperbaiki posisi duduknya dan menatap Erika dengan intens.

"Itu tidak salah, Rik. Yang salah itu adalah orang tua kita. Berpisah seenaknya, memisahkan kita seenaknya, tidak tahu dan tidak peduli kalau kita sampai bertemu dan menganggap satu sama lain orang asing. Memikirkan hanya apa yang penting bagi mereka di hari itu. Itu, yang salah."

Jadi jangan pernah bilang kalau aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku adalah salah, karena cinta tidak pernah salah. Keadaan yang membuat semuanya salah.


No comments:

Post a Comment