Tegas, to the point alias tidak bertele-tele atau bahasa gaulnya ngga banyak ile, berwajah tampan, pembawaan keras, senyum memikat, pembully sejati, merrokok, hobi balapan, koleksi gadget masa kini, punya pengetahuan tentang hidup yang seluas langit, lady killer, womanizer. Tipikal cowok-cowok teenlit yang menjelma jadi nyata, seandainya ia tidak kurang satu poin wajib untuk pria sempurna macam ini.
Brengsek.
Ya, satu-satunya yang Arya tidak punya adalah poin brengsek, yang justru merupakan poin wajib untuk seorang lady killer dan womanizer berandalan macam ini. Kebalikannya, Arya adalah seorang pemuda tanggung yang berkepala dua dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Sahabat setia.
2. Kawan di kala susah dan senang.
3. Tempat semua andai-andai dipatahkan oleh kekuatan logika. Calon pria yang sesuai untuk wanita dengan perasaan selembut sutra.
4. Orang yang tidak pernah ingin kau jadikan musuh.
5. Orang yang tidak ingin menyakiti perempuan dalam bentuk apapun.
6. Dibalik kesempurnaan logika dan kekerasan sikapnya, adalah seseorang yang sangat lembut dan perasa, melebihi pria pada umumnya. Orang yang akan menimbun semua unek-unek dan berperilaku seolah tidak ada apa-apa dan tidak terjadi peningkatan parameter kemarahan di benaknya, sampai akhirnya limit maksimum terpenuhi dan ia meledak. Duar!
Ya, kalian tidak salah baca. Orang yang mencatut nama suku yang begitu diagung-agungkan oleh Adolf Hitler pada masanya dan mengandung kata sifat yang dimiliki juga oleh penguasa Nazi itu sama sekali tidak se-tirani dan se-sempurna kelihatannya.
Mungkin ia dikatai brengsek karena menjaring hati wanita lalu melemparnya begitu saja. Mungkin ia brengsek karena membuat banyak wanita bertekuk lutut dengan sikap dan tutur kata sok-asik dan sok-iye serta sifat sok-cool miliknya.
Tapi, hei. Dia bahkan tidak tahu kalau hal itu adalah salah.
Oh, tambahkan lagi satu poin yang membuat ia tidak bisa dikatai brengsek.
7. Aryaksa Tirananda adalah seorang yang polos.
***
"Satu...dua...tiga...empat...lima...enam...tujuh...apalagi ya?" gumam Erika. Tangannya tidak berhenti mencoret-coret kertas. Hana yang duduk di depannya menjulurkan leher, penasaran.
"Nulis apa, Ka?"
"Ini, poin-poin tentang Arya. Kemaren gue ngobrol sama dia, terus random gitu nyuruh gue nulis siapa Aryaksa Tiranda yang selama ini gue kenal. Tapi gue nyerah, ah! Segini aja mesti mikir sampe laper," ujar Erika sambil menyuapkan sesendok penuh nasi goreng kambing ke mulutnya. Hana mengambil kertas yang dimaksud dan membacanya.
"Setia, logika, perasa, polos?! Ka, lo gak salah orang apa?!" Hana meninggikan suaranya. Erika yang mulutnya penuh nasi goreng dan es teh manis menggeleng.
"Nga nguengangangah."
"Eh, behave Rika! Behave! Kapan lo punya pacar kalo begitu kelakuannya?!" Hana menengok kiri-kanan, takut ada yang melihat tingkah imbisil temannya ini.
"Gue ga salah, Na. Itu Arya menurut sudut pandang gue. Lo tau sendiri gue suka mahiwal[1]." Erika menjelaskan setelah susah payah menelan.
Hana membuang napas panjang. "Mahiwal sih mahiwal tapi, serius ini Arya? Kok gue seperti melihat Indra?"
Erika mengangkat bahunya. "Indra, Arya, Ananda, Rihan, sama semua mereka itu. Yang bikin beda cuma gimana mereka mengimplementasikan kesamaannya. Itu doang. Sisanya mah sama."
"Oh. Eh, ngomong-ngomong, gimana cerita lo sama Raka?" tanya Hana dengan senyum lebar dan jahil bertengger di wajahnya. Erika menggeram singkat diiringi gelak tawa Hana--yang lebih mengundang lirikan kepo pengunjung lain daripada kelakuan Erika sebelumnya.
[1] Mahiwal : beda, melenceng, ngawur
***
No comments:
Post a Comment