"Raya! Belakang!!!"
Satu seruan dari Larsa cukup untuk membuat pemuda berambut biru toska itu menekuk tangan kanannya dan menyikut apapun yang menyerangnya dari belakang. Bunyi sendi yang pindah dan tulang yang retak menjadi tanda bahwa penyerangnya sudah cukup terluka untuk bisa membalas serangannya dalam waktu dekat. Ia lalu kembali ke lawan di depannya : sesuatu berwarna hijau pucat berbadan besar, dengan wajah jelek serta nafas bau dan geraman konyol yang sedang berusaha membuatnya gepeng. Satu tinju di ulu hati dan satu lagi di kepala cukup untuk membuat lawannya rubuh dan mati. Ia lalu mengalihkan perhatiannya pada sang rekan, Laskar.
Laskar terlihat sedang memungut sesuatu seperti kain putih transparan. Ia menimang-nimang benda di tangannya, bertanya-tanya.
"Itu cadar, Lars."
"Cadar?" tanya si rambut pirang. Raya mengangguk dan mengambil benda itu untuk menaruhnya di kepala Larsa.
"Cadar untuk nikah. Biasanya perempuan yang pakai tapi...kamu yang pakai juga cocok," jelas Raya sambil tersenyum konyol dan nyengir lebar. "Dan posisi kita ini udah kayak yang siap mengucap janji setia di hadapan Tuhan," lanjutnya. Larsa segera meninju ulu hati Raya, memancing keluarnya kata-kata kasar dari mulut si rambut biru toska.
"Sekali lagi kamu bilang aku mirip perempuan, kubuang kau di Geffen biar mati dihajar kupu-kupu."
No comments:
Post a Comment