Monday, 2 December 2013

And So?

Shinji & Andreas (c) Pratiwi Fitriani

.

.

"Tidak."

"Eh?" Shinji mengerutkan dahinya.

Freyr tersenyum tipis. "Aku tidak mau. Aku tidak mau mengajarimu cara mencari kebahagiaan."

Shinji, mengerjap.

"Yang kau lihat selalu Andreas. Yang kau cari selalu Lyra. Tidak akan pernah ada aku, Shin. Tidak peduli sebanyak apa aku berusaha untuk membuatmu bahagia."

Freyr menatap mata Shinji, membiarkan pemuda di hadapannya melihat ia menangis, untuk pertama kalinya.

"Aku... lelah, Shin. Aku...." Freyr menggantungkan kalimatnya. Tangannya menggenggam erat jaket Andreas.

"Aku mau berhenti saja."

.

.

Tidak pernah, Shinji melihat Freyr menangis. Ia tahu pemuda berambut platina itu sering menangis di belakangnya, namun tidak pernah ia melihatnya langsung.

Hatinya, patah.

Lagi.

Ia hanya bisa menggenggam jaket milik Andreas yang Freyr berikan padanya. Mengutuki keturunan dewa yang sekarang menghilang dan menyisakan ribuan masalah yang harus mereka semua selesaikan. Ini salah satunya.

Kalau Freyr menyerah saat ia mencoba untuk maju, lalu bagaimana?

Apa?

No comments:

Post a Comment