Sunday, 19 January 2014

SIblings

Shinji (c) Pratiwi Fitriani

.
.
.

Faux hilang kata-kata.

Ia tahu kalau kedua kakaknya, well, menyimpang terlalu jauh untuk kembali ke jalan yang benar. Ia tahu itu, dan pada akhirnya mengerti dan memahami dan menerima. Kalau sudah begitu jalannya ya mau bagaimana lagi. Yang penting mereka berdua bahagia.

Mengingat drama mereka berdua di masa remaja masing-masing.

Ah, mengingatnya saja Faux sudah sakit kepala.

Ketika Leon pulang mengajak seorang pemuda berkelakuan bocah ke rumah dengan dalih 'seorang teman yang bertemu di kedai dimsum', sebenarnya Faux sudah curiga. Kakaknya yang seenaknya dan agak nyeleneh itu membawa seseorang yang sama-sama ngawur.... Ia sudah merasa ada yang salah tapi ia memutuskan untuk diam saja.

Lalu, ketika Freyr--kembaran Leon--memutuskan untuk keluar dari rumah dan tinggal di apartemen. Setelah drama tanpa akhir antara Freyr-Leon-dan sang ayah, akhirnya Freyr keluar dari rumah, disusul Leon yang menyatakan 'aku tidak bisa mengurus kalian semua kalau tidak ada Freyr'. Saat itu, Faux sudah curiga.

Sangat curiga.

Karena, beberapa kali ia datang ke apartemen kedua kakaknya itu, ia menemukan beberapa hal yang mengganjal.

Ada dua cangkir, dua piring, dua mangkuk, dua handuk, dua bantal, dua selimut, dua sikat gigi, dan beberapa pasang pakaian yang bukan milik kakaknya.

Dan terkadang menemukan si pemuda berkelakuan bocah--yang ternyata adalah seorang dokter dan seorang pemuda tinggi bertampang judes kebetulan menginap di apartemen mereka.

....

Faux pasrah saja. Melawan Freyr cerita lain, tapi melawan Leon? Faux masih sayang nyawa. Tidak, terima kasih.

Ia memutuskan untuk diam dan menerima dan berbahagia.

Tapi, seandainya ia tahu kalau kakaknya tidak akan bahagia dengan pilihan mereka?

Oh, ingin rasanya ia meninju wajah pria berwajah sangar itu.

.
.
.

BUAK!!!

Shinji tersungkur ke belakang, ujung mulutnya berdarah, pipinya lebam. Matanya menatap tajam si pelaku kekerasan.

"Faux!" Gancanagh berseru di telinga sang kakak, kedua tangannya mencegah ayah satu anak itu menyarangkan satu lagi tinjunya ke wajah Shinji.

"Lepas! Kamu tau sendiri bedebah ini ngapain Freyr sampe dia kayak begitu?!"

"Aku tau! Semua tau! Tapi bahkan Leon sama ayah pun nggak punya hak. Cuma Freyr yang berhak!"

"Tch!"

Faux berderap kesal, melangkah besar-besar menuju kamarnya dan membanting pintu ketika ia sudah ada di dalam. Gancanagh mengerenyit sedikit dan menatap Shinji yang masih terduduk. Ia menghela napas dan mengulurkan tangan pada Shinji.

"Kau tidak mau meninjuku juga?"

"Oh. Jangan salah. Kalau bisa, sudah kutenggelamkan kau di Teluk Tokyo. Tapi, itu hanya akan membuat Freyr semakin sedih." Gancanagh menjelaskan dengan nada monoton khas-nya.

Shin mendengus dan menyambut uluran tangan Gancanagh.

"Freyr ada di kamarnya. Dan sebaiknya selesaikan semuanya sebelum ayah datang. Hanya Tuhan yang tahu akan jadi apa kau kalau sampai kalian bertemu."

"Oke. Thanks, Gacchi."

"Gancanagh untukmu, Shinji."

"Oke. Gancanagh-cchi."


No comments:

Post a Comment