Wednesday, 26 February 2014

Wolf's Tale

"Hei."

"...."

Holy shi--

"Oi. Kenapa lu?"

Luca mengerjapkan mata, mengaktifkan sistem pertahanannya.

"Kaget. Ngga ada angin, ngga ada ujan, ketemu lo di sini."

"Hahaha. Justru gue yang kaget. Lo sendiri?"

"Kagak. Sama anak-anak tapi udah bubar. Gue parkirnya jauh sendiri, tadi telat datang soalnya, hahaha."

"Oh. Gue kira sama trio itu. Hahaha."

"Yaelah, Dra. Temen gue ga cuma mereka kali."

"Oiya? Gue kira lo orangnya soliter. Lone wolf. Eh. Salah. Justru lo orangnya ngga bisa ditinggal sendiri ya?"

Luca tergelak. "Serigala kesepian? Ampun deh, Dra. Gue orangnya ekstrovert, ngomong kasar, pecicilan kali. Lo aja yang ngga kenal gue, hahaha."

"Oya? Padahal udah kenal lama ya. Tapi gue ga percaya orang kayak lu pecicilan"

"He eh. Ampir 2 taunan ya? Ah, udah gue bilang, lo ga kenal gue. Hahaha."

"Iya kali ya. Eh, minta nomer lo yang baru dong. HP gue rusak kemarin. Nomer-nomernya ilang semua."

Ck.

"Oh. Oke. Nomer gue masih yang lama kok."

"Hahaha. Kan ilang."

"Iye-iye. Eh, gue duluan ya. Udah jam segini, gue mesti balik. Daaah."

.
.
.

2 missed call.

.
.
.

1 missed call.

.
.
.

1 missed call.

.
.
.

Gyaaa sorry banget gue tepar paraah kemaren dan ini lagi kuliah ampuuun.

Sama, Ca. Gue juga tepar hahaha. Nanti telpon gue aja kalo lagi kosong.

.
.
.

"Fumi. Gue. Mesti. Gimana."

Fumio mengangkat bahu. "Terserah lo, Luke."

"...Am I playing with fire?"

"Tergantung."

"Apa?"

"Lo main hati ngga."

"I'm playing safe. You know."

"Hahaha. Gue cuma ngingetin aja, Luke."

Luca menghela napas panjang, bersandar di dinding kayu, dan menyambar teh susunya. Kesal.

.
.
.

I' wasn't a lone wolf. I AM one of a pack. That's the reason I managed to survive this far. Moron.


1 comment:

  1. oooohh... jadi sempet ke-gap ketemuan di suatu tempat beres main?? hmmmm~~~ #kedipkedip #kelilipan

    ReplyDelete