(c) GoRa & GoHands
.
.
.
Alternate Timeline.
.
.
.
Fushimi Saruhiko tidak suka bangun pagi.
Pada dasarnya ia memang bukan manusia yang bisa terbit bersamaan dengan matahari. Ia juga bukan makhluk yang bisa melayap semalam suntuk demi patroli. Pada dasarnya, ia tidak menyukai hal-hal yang membuatnya harus mengeluarkan tenaga lebih.
"WUAAAH!!!"
Kecuali, jika semua agenda menyusahkan itu berhubungan dengan seorang cebol bawel yang sedang melakukan usaha-usaha tidak penting untuk meledakkan dapurnya.
.
"Kau 'kan sedang sakit!"
"Dan kau malah membuatku semakin sakit."
"Aku berusaha membantumu! Aku sudah minta Kusanagi-san untuk mengajariku membuat bubur. Aku sedang buat bubur!"
Misaki menunjuk panci berisi substansi aneh seperti beras dengan air yang terlalu sedikit di atas kompor, membuat Saruhiko memijat kepalanya.
"Kau mau membuat bubur atau racun? Berniat membunuhku, begitu?"
"Aku mau membantumu, bakasaru!"
"Jangan teriak-teriak begitu, kepalaku sakit."
"...."
Canggung menggantung.
Sejak kembalinya Saruhiko dari misi di salah satu kepulauan terpencil di Jepang--terima kasih pada sang Kapten yang tidak mau pergi dari kota Shizume dengan sejuta alasan dan sang Letnan yang juga tidak bisa melakukan tugasnya karena kehabisan pasta kacang merah--kepalanya pusing dan suhu tubuhnya naik. Singkat kata, ia terinfeksi virus entah apa dan jatuh sakit. Dan, terima kasih juga kepada sang Letnan yang ternyata senang bergosip di satu bar tertentu, kabar tentang dirinya sampai pada telinga seorang berkupluk buluk yang suka bereaksi berlebihan.
Saruhiko menghela napas. "Jangan sentuh apapun lagi di dapurku. Pulang. Sekarang."
.
.
.
Saruhiko bangun keesokan harinya dan melihat ada matahari bersinar di dalam kamarnya.
....
Sepertinya minus matanya naik. Ia melihat sesuatu berwarna merah di sisi tempat tidurnya, memantulkan cahaya matahari yang menyusup lewat celah tirai.
...baiklah.
Ia sedang memperhatikan kepala Misaki yang sedang tertidur dengan posisi duduk dan hanya kepalanya yang menempel di kasur Saruhiko. Satu tangannya menggenggam handuk kecil yang lembab.
Saruhiko menghela napas.
"Oi."
"Mmm?"
"Misaki. Bangun." Saruhiko mengetuk lembut puncak kepala Misaki dengan ujung jarinya.
"Mmm... Saru? Selamat pagi."
"Hng."
"Bagaimana? Sudah lebih baik?"
"...kemarin kusuruh kau pulang. Kenapa masih di sini?"
"Memang tidak boleh?"
"Buk--
"Memang tidak boleh kalau aku khawatir padamu barang sedikit saja?"
.
.
.
"...kau tahu, Misaki? Entah harus apa yang kulakukan untuk membuatmu tetap jauh dariku."
.
.
.
"Eh? Kau bilang apa?"
"Tidak. Kalau kau sebegitu inginnya direpotkan olehku. Sini. Jadi bantalku. Kau tidak mungkin protes pada orang sakit 'kan, Mi-sa-ki~?"
No comments:
Post a Comment