Wednesday, 31 October 2012

Halloween Treat #2

Rhadamanthys kesal luar biasa hari ini. Bukan kesal karena Kardia menghajarnya dengan Bludger pada pertandingan latihan, bukan juga karena Minos menghabiskan persediaan cokelat kodoknya dengan alasan 'barang adik ya barang kakaknya'. Bukan.

Ia kesal, karena, tidak ada angin tidak ada hujan, Degel muncul di depannya, lalu meminta dia untuk berhenti mengejarnya lagi, karena ia akhirnya menyadari bahwa Kardia adalah segalanya. Degel muncul di hadapannya dan hampir separuh Slytherin kelas lima, setelah pelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, di depan Sir Hades--kepala asrama Slytherin. Degel memintanya untuk berhenti mengejarnya, di hadapan seluruh teman-teman sekelasnya.

Rasanya, saat itu juga, ia ingin mengutuk Degel dengan kutukan Imperius lalu memerintahkannya tenggelam di danau, atau kabur selama-lamanya ke gubuk reyot di tepi Hutan Terlarang.

Karena, demi Jenggot Merlin! Demi Naga Hungaria atau Naga Biru Wales! Demi semua makhluk gaib dan mantra terlarang, Rhadamanthys tidak jatuh cinta pada Degel. Tidak!

"Sudah kubilang, tingkat kecerdasan Kardia itu hanya selevel anak monyet," gumam Aiacos. "semua perhatianmu padanya malah ia interpretasikan sebagai caramu merebut Degel darinya. Dasar idiot, atau memang semua Gryffindor seidiot itu?" lanjutnya.

"Diam, Aiacos!" geram Rhadamanthys, berbahaya. Aiacos mengangkat bahunya dan kembali mengerjakan tugas, meninggalkan Rhadamanthys yang uring-uringan dekat jendela. Cumi-cumi raksasa yang tidak sengaja lewat di dekat jendela lau menempelkan tentakelnya ke sana, menutupi pemandangan yang sedang dilihat Rhadamanthys dan menggantinya dengan substansi kenyal berwarna putih dengan kaki isap ungu. Pikirannya lalu melayang-layang entah ke mana, sebelum akhirnya diproses oleh otak dan diteruskan ke organ.

"Aku lapar."

Aiacos mengerutkan dahinya. "Bahkan cara bicaramu pun jadi se-abstrak Kardia. Awalnya bicara cinta, sekarang bicara perut."

"Aku tidak bisa berpikir kalau lapar," balasnya cepat sambil berjalan pergi, menuju pintu masuk asrama. "kalau Minos tanya aku ke mana, dapur," lanjutnya cepat sebelum menghilang dari pandangan. Aiacos mendongak sebentar lalu mengangkat bahu lagi.

No comments:

Post a Comment