Kanon terjaga karena keributan heboh di Ruang Bersama yang terdengar sampai ke kamarnya. Kepalanya sedikit pusing, mungkin efek dari perutnya yang kosong dan bangun tiba-tiba karena suara keras. Melenguh sedikit, ia lalu berguling dan bangkit dari tidurnya dengan badan terbelit selimut. Setelah menggeram kesal dan berusaha melepaskan diri dari jeratan selimut biru, ia lalu berdiri dan berjalan menuju Ruang Bersama. Degel menitipkan asrama padanya kalau-kalau terjadi keributan saat dia sedang tidak di tempat atau dia sedang kewalahan karena banyak kerjaan, dan akhir-akhir ini Degel sering pulang dengan muka kusut disertai uring-uringan tidak jelas, memisuh tentang sikap seseorang yang, katanya, bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya sembari marah-marah pada Camus. Kanon hanya angkat bahu dan memutuskan tidak ambil pusing--dan tidak mau dipusingkan--dengan apapun yang sedang dialami Degel.
Separo menyeret kakinya, Kanon menggunakan seluruh tenaga yang tersisa untuk sampai di Ruang Bersama. Dari suara cempreng yang kini ia dengar, Kanon mengambil kesimpulan bahwa Aphrodite dari kelas dua kini sedang ribut dengan entah siapa pun yang kurang beruntung mendengar omelan berisiknya. Gumam-gumam samar semakin jelas ketika ia mencapai pintu Ruang Bersama. Sesampainya di Ruang Bersama, Kanon menghela napas sebelum melangkah masuk dan menjaga wibawanya sebagai wakil dari Degel.
Dan di sana, di tengah Ruang Bersama, ada rambut pirang dengan manik hijau yang menjulang tinggi di antara keramaian, tengah menunduk menghadap Aphrodite dan mata biru muda pucatnya yang sedang marah-marah berisik. Seolah menyadari kehadiran Kanon, si pemilik mata hijau itu lalu menengok dan menatapnya. Wajah dengan rahang yang tegas dan ekspresi datar, namun Kanon bisa melihat manik matanya berkilat kelebihan energi.
Hampir saja ia menyebut nama Milo atau Kardia--karena mereka berdua juga sama-sama kelebihan energi--sampai Aphrodite menarik tangannya dan menyadarkannya tentang ketidakmungkinan dua Gryffindor dengan tingkat telat mikir di atas sejuta itu mampu menjawab teka-teki yang diucapkan penjaga pintu asrama Ravenclaw.
"Kanon! Dengar tidak?!" serunya. Kanon mengerjap.
"A--apa? Sori, aku tidak dengar, Dite."
"Rhadamanthys! Dia seenaknya masuk ke asrama kita! Katanya kau yang mengizinkan?!" tuntut Aphrodite.
"Aku? Aku tidak--
"Saga memintaku mengantar ini padamu," potong Rhadamanthys sambil mengulurkan sekeranjang apel merah, puding melon, seteko susu, roti, selai coklat, dan jeruk.
Aphrodite dan Kanon berpandangan sejenak, bingung. "Lalu, Saga mana?" tanya Kanon sembari menerima keranjang makanan titipan kakaknya.
"Aiolos."
Ini lagi, batin Kanon. Entah mengapa, hidupnya selalu dikeliling oleh orang-orang yang overdosis cinta. Kardia pada Degel, Minos pada Albafica, Saga pada Aiolos, bahkan kemarin ia sempat memergoki Hades dan Zeus sedang saling sandar di balkon ruang kepala sekolah. Gila. Sebegitu dibutakannya oleh cinta.
"Oke, terima kasih kalau begitu," gumam Kanon. "dan kalian, ngapain kalian masih di sini?" lanjutnya, mengarahkan pandangan pada massa asrama yang masih memandang Rhadamanthys seolah pemuda itu adalah alien.
"Pertanyaanku, Kanon!" seru Aphrodite. "kenapa orang sialan yang menjatuhkan Kardia dari sapu ini bisa masuk ke dalam asrama kita?!"
"Karena Saga yang memintanya kemari, berarti Saga memberitahunya cara masuk ke dalam asrama, dan jangan berteriak begitu kalau kau belum merubah suaramu jadi sepuluh desibel lebih rendah daripada suara cemprengmu! Bubar semuanya! Bubar!!!" amuk Kanon, dan dalam sekejap massa asrama--yang memang didominasi oleh kelas satu dan kelas dua--menghilang dari hadapannya, menyisakan dirinya dan Rhadamanthys.
"Dan, Rhadamanthys, kumohon kau tidak memberitahu cara masuk ke asrama kami pada siapapun."
"Kalau Minos?"
"Terutama siswa Slytherin. Meski aku tahu kalau Minos tahu, tapi selama dia masih bersama Albafica, seharusnya kelakuan orang itu masih bisa dikontrol."
"Bayarannya apa?"
Kanon mengedip. "Bayaran?"
"Ya. Saga janji mau mengerjakan tugas transfigurasiku. Kau? Apa bayaranmu untuk aku tidak memberitahu orang lain?"
Kanon membatu sebentar, sebelum mengambil tiga buah apel dari keranjang makanannya dan mengulurkannya pada Rhadamanthys. "Ini. Lumayan, untuk cemilan, dan untuk mengisi kekosongan hatimu yang tidak-akan-pernah-bisa mendapatkan Kardia."
hhhh... gelo. ku pikir rada ngincer degel kek yg dibilang di years of youth ternyata kardidi yang diincer. rada.. rada.. siapa lagi yang bakal diincer oleh mu? regie? kanon? apa sapa? luph it!
ReplyDeleteyour fans #Lizzy#