Saint Seiya (c) Masami Kurumada
Saint Seiya Lost Canvas (c) Shiori Teshirogi
Chasing The Sun (c) The Wanted
.
.
.
Bayangan. Siluet. Rule of third. Komposisi. Langit biru dengan seperempat bawah adalah patung marmer salah satu dari dua penjaga satu kuil. Pilar-pilar yang gompal, atap-atap yang runtuh. Cahaya yang masuk dari sela-sela lubang reruntuhan, gores senjata bekas peperangan milenia tahun silam.
Defteros terhipnotis dalam situs sejarah membosankan--atau apapun istilah Aspros. Ia tersedot oleh karisma tanpa batas yang menguar dari setiap inci bebatuannya. Ada rasa rindu tidak terjelaskan yang mengaduk-aduk isi hati, memberikan satu ilusi kenyamanan dan rasa familiar yang aneh.
Sejak awal pertama ia menginjak kaki di tangga menuju kuil-kuil yang menjulang tinggi sepanjang pegunungan, ada sensasi aneh yang menggelitik. Setelah menyeberangi padang mawar yang seolah tanpa batas, akhirnya ia sampai di dasar gunung. Di kuil pertama, indera penciumannya menghirup aroma besi dan emas, serta timah dan perunggu panas. Masuk ke dalam, dan ia merasa seperti dikelilingi oleh dinding kasat mata yang sangat aman dan kokoh. Beberapa artefak seperti palu dan penjepit besi panjang serta beberapa bilah pedang berkarat dipajang di kotak-kotak kaca.
Naik satu kuil lagi, dan ia merasa lapar. Lapar yang aneh dan tidak masuk akal, mengingat ia baru saja menghabiskan satu loyang pizza ukuran besar sendirian--memancing omelan dan racauan tidak penting dari Aspros yang memang selalu punya alasan untuk mengomelinya. Hidungnya menghirup aroma manis, asam, saus tomat, kentang, daging panggang, ayam asap, sup krim, ikan goreng, dan tumis sayur. Beberapa kali ia menghirup aroma es krim, dan--anehnya--ia mulai mendengar suara-suara. Gelak tawa dan hingar-bingar kehebohan. Ia bahkan bersumpah melihat kelebatan emas di ujung gelap kuil, hanya untuk kembali pada logika bahwa hal-hal seperti hantu tidak ada di dunia ini.
Kuil ketiga adalah kuil tempatnya berada sekarang. Kuil yang pintu masuknya diapit oleh dua patung yang wajahnya sudah rusak oleh waktu, namun ia bentuk tubuhnya identik dan berlawanan. Satu patung memegang senjata di kiri, yang lainnya di kanan. Ada perasaan aneh yang tidak wajar ketika ia memasuki kuil ini. Memang, sejak awal pun ada perasaan mengganjal di hati. Namun, di tempat ini semuanya seolah digandakan berlipat-lipat.
Jejak pertamanya, dan ia merasa seperti di rumah. Kakinya melangkah tanpa perintah, menuju tempat-tempat dengan momen-momen eksotis yang memang ia cari. Segera, tanpa basa-basi, ia mengangkat kamera dan menangkap semuanya. Semuanya. Mulai dari topeng tatapan kosong yang tergantung di salah satu pilar, topeng menyeringai di pilar seberangnya, retakan bekas senjata di tanah. Semuanya.
Perjalanannya di kuil ketiga berakhir pada satu kotak kaca artefak berisikan buket bunga. Pandangannya lalu beralih pada keterangan mengenai artefak tersebut.
Aster. Merah muda, kuning matahari, merah pekat. Aku tidak bisa menemukan teratai berwarna emas. Shxxx menertawakanku habis-habisan ketika aku bertanya tentang teratai emas. Tapi aku ingat, ini adalah bunga-bunga yang selalu ada di taman rahasiamu.
Defteros menelengkan kepalanya pada keterangan buket bunga itu. Daripada keterangan, tulisan tersebut lebih mirip surat cinta. Ada satu nama, Shxxx. Defteros mengerutkan dahinya melihat selera nama zaman dahulu dan berpikir tentang bagaimana cara menyebutkan nama yang terdiri dari huruf konsonan semua itu.
"Taman rahasia? Apa ada tempat seperti itu di reruntuhan ini?" gumamnya tidak jelas. Kilau matanya yang sempat surut kembali muncul lagi.
"Kalau memang ada, sebaiknya aku temukan segera."
No comments:
Post a Comment