Wednesday, 19 December 2012

Rache

"Frey!"

Jeritan Alaska terlambat sampai di telinga pemuda berambut hitam keunguan itu. Anak panah melesat masuk menembus lengan atasnya, menancap seperti pisau tusuk gigi pada potongan kue penuh ceri. Frey berseru keras sebelum terjatuh ke tanah. Segera ia mencabut anak panah itu dari lengannya, membuat darah merembes dari luka dan menodai kaus putihnya.

""Frey, astaga, kau tidak apa-apa?" Alaska bertanya panik. Ia buru-buru berlutut di samping Frey dan berusaha mengalirkan sebagian besar tenaganya sembari melagukan mantra penyembuh. Serat jaringan tubuh Frey merespon pada setiap bait lagu yang dinyanyikan Alaska dalam gumaman rendahnya, menimbulkan rasa gatal.

"Cukup, Al. Simpan saja tenagamu untuk menghabisi--

Kalimat Frey dipotong oleh sebatang anak panah yang melesat lagi, kali ini menyerempet ujung telinganya. Menyumpah pelan, ia lalu mendorong Alaska dan mencabut pedangnya. Bilah biru tua Digma berpendar aneh ketika memantulkan cahaya oranye api unggun. "Panggil Rhys, Al."

"Tidak bisa, Frey. Kau tahu dia tidak suka padaku."

Frey menatapnya galak. "Melindungimu adalah tugasnya sampai mati, Al. Ia familiarmu. Itu kewajibannya, suka atau tidak suka!"

Alaska terlihat ragu. Ia baru akan membuka mulutnya untuk beralasan lagi ketika lolongan nyaring dan berbahaya terdengar dari balik pepohonan gelap. Suaranya menyirami tubuh Alaska dengan kehangatan. Frey menarik bibirnya, tersenyum tipis sembari memasang kuda-kuda. Digma dipegang di samping tubuh, dihunuskan ke depan.

"Well, mari kita mulai pertunjukannya."

No comments:

Post a Comment