Saint Seiya © Masami Kurumada, Shiori Teshirogi
Chasing The Sun © The Wanted
.
.
.
Sanctuary of Athens. Dulu, entah beberapa millennium yang lalu,
kisah-kisah heroik menjadi cerita sebelum tidur bagi anak-anak. Dulu, di masa
kejayaan para dewa-dewi Olympus,
konon terdapat para pendekar suci yang bertarung mempertaruhkan nyawa demi
membela kepentingan umat manusia.
Dulu, terdapat dua belas pendekar berzirah emas yang menjadi
penguasa dari kuil-kuil agung dan megah yang menjadi pilar utama kekuatan Sanctuary.
Kini?
.
.
.
“Lima ratus euro
hanya untuk berjalan-jalan mengelilingi reruntuhan kuno?!”
Seorang pemuda berambut toska menutup telinganya yang
mendadak berdenging setelah mendengar lengking dari pria bersurai biru gelap di
depannya. Mata birunya lalu melirik kiri-kanan, memperhatikan bagaimana mereka
berdua lalu digosipkan oleh orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka. Dengan
wajah identik dan tinggi menjulang, mencolok di tengah keramaian bersama
seseorang yang tidak punya urat malu adalah satu hal yang tidak bisa
dikombinasikan bersamaan.
“Aspros, pelankan suaramu,” bisik si surai toska. Aspros mendelik
marah dan membuka mulutnya, siap menyemburkan lengkingan ber-pitch tinggi yang memekakkan.
“Lima ratus euro,
Defteros! Lima ratus euro! Kalau kau
mau mengelilingi reruntuhan sialan itu dengan harga tidak masuk akal begitu,
kau saja! Lima ratus euro-ku akan
kuhabiskan di kasino saja!” serunya setengah teriak sebelum angkat kaki dari
tempat, meninggalkan identiknya yang satu menghela napas panjang dan
membungkuk-bungkuk minta maaf kepada pejalan kaki yang kena imbas amukan
Aspros.
Memang, salahnya tidak mengecek terlebih dahulu berapa harga
memasuki situs arkeologi dan sejarah terkenal bernama Sanctuary ini. Salahnya juga, ia lupa profesinya sebagai fotografer
sekaligus penulis artikel di majalah lanskap dunia ternama membuatnya sering
lupa diri dan berakhir menghiraukan racauan sang kakak tentang kebosanannya.
Salahnya juga, ia mau-mau saja ketika Aspros meminta—merengek—minta
ikut dalam penjelajahannya di Yunani. Mengurus Aspros sama rasanya ketika ia
disuruh oleh bosnya, Sisyphus, untuk menjaga keponakannya yang masih balita. Bedanya,
mengurus Regulus masih jauh lebih menyenangkan karena bocah itu bisa dilarang
dan disuruh diam. Menyuruh Aspros diam?
Defteros menggelengkan kepalanya, tidak mau mengingat lagi
saat-saat hidungnya patah karena sumbu emosi Aspros yang memang sudah pendek
lantas disulut.
Setelah selesai dengan isi kepalanya, Defteros mengeluarkan
kamera dari tasnya dan mulai mengatur-atur berbagai hal. Kecepatan tangkap,
bukaan diafragma lensa, paparan ISO, aturan fokus lensa, segalanya. Kemaniakkannya pada kamera membuat Aspros
sering mengamuk tidak jelas kalau ia sudah mulai sibuk dengan dunianya sendiri.
Entah Defteros yang terlalu dingin atau Aspros yang terlampau manja, tapi
hubungan dua kakak-adik ini memang tidak pernah akur sejak zaman dulu kala.
“Lima ratus euro,”
ujar penjaga karcis ketika ia sampai di loket. Seorang pria berambut pirang dan
mata biru dengan senyum miring dan mimik sinting. Defteros mendengus sebelum
mengambil selembar kertas dari tas ranselnya.
“Saya dari majalah, ini surat tugas saya,” ujarnya sambil
menyodorkan kertas tersebut ke depan wajah si penjaga loket, “menurut surat ini
semua akses masuk situs sejarah dengan pungutan biaya akan—
“Seratus euro, dan
singkirkan kertas konyol itu jauh-jauh dari wajahku,” potong si penjual loket. Defteros
hanya tersenyum tipis dan melipat kertas tersebut. Ia lalu mengambil selembar
seratus euro dan menyerahkannya pada
si penjual loket yang kini sedang menggerutu tidak jelas.
“Namaku Defteros, senang berkenalan dengan—
“Kardia.”
Defteros mengangguk dan mengulurkan tangannya. “Kardia. Senang
berbisnis denganmu.”
Kardia lalu menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar
pria berambut toska itu segera angkat kaki sebelum ia mengubah pikirannya.
.
.
.
“Selanjutnya! Lima ratus
euro untuk masuk ke Sanctuary!
Lima ratus euro saja!”
No comments:
Post a Comment