Thursday, 6 December 2012

The One Who Chasing The Sun #1


Saint Seiya © Masami Kurumada, Shiori Teshirogi
Chasing The Sun © The Wanted
.
.
.

Sanctuary of Athens.  Dulu, entah beberapa millennium yang lalu, kisah-kisah heroik menjadi cerita sebelum tidur bagi anak-anak. Dulu, di masa kejayaan para dewa-dewi Olympus, konon terdapat para pendekar suci yang bertarung mempertaruhkan nyawa demi membela kepentingan umat manusia.

Dulu, terdapat dua belas pendekar berzirah emas yang menjadi penguasa dari kuil-kuil agung dan megah yang menjadi pilar utama kekuatan Sanctuary.

Kini?

.
.
.

“Lima ratus euro hanya untuk berjalan-jalan mengelilingi reruntuhan kuno?!”

Seorang pemuda berambut toska menutup telinganya yang mendadak berdenging setelah mendengar lengking dari pria bersurai biru gelap di depannya. Mata birunya lalu melirik kiri-kanan, memperhatikan bagaimana mereka berdua lalu digosipkan oleh orang-orang yang lalu-lalang di sekitar mereka. Dengan wajah identik dan tinggi menjulang, mencolok di tengah keramaian bersama seseorang yang tidak punya urat malu adalah satu hal yang tidak bisa dikombinasikan bersamaan.

“Aspros, pelankan suaramu,” bisik si surai toska. Aspros mendelik marah dan membuka mulutnya, siap menyemburkan lengkingan ber-pitch tinggi yang memekakkan.

“Lima ratus euro, Defteros! Lima ratus euro! Kalau kau mau mengelilingi reruntuhan sialan itu dengan harga tidak masuk akal begitu, kau saja! Lima ratus euro-ku akan kuhabiskan di kasino saja!” serunya setengah teriak sebelum angkat kaki dari tempat, meninggalkan identiknya yang satu menghela napas panjang dan membungkuk-bungkuk minta maaf kepada pejalan kaki yang kena imbas amukan Aspros.

Memang, salahnya tidak mengecek terlebih dahulu berapa harga memasuki situs arkeologi dan sejarah terkenal bernama Sanctuary ini. Salahnya juga, ia lupa profesinya sebagai fotografer sekaligus penulis artikel di majalah lanskap dunia ternama membuatnya sering lupa diri dan berakhir menghiraukan racauan sang kakak tentang kebosanannya.

Salahnya juga, ia mau-mau saja ketika Aspros meminta—merengek—minta ikut dalam penjelajahannya di Yunani. Mengurus Aspros sama rasanya ketika ia disuruh oleh bosnya, Sisyphus, untuk menjaga keponakannya yang masih balita. Bedanya, mengurus Regulus masih jauh lebih menyenangkan karena bocah itu bisa dilarang dan disuruh diam. Menyuruh Aspros diam?

Defteros menggelengkan kepalanya, tidak mau mengingat lagi saat-saat hidungnya patah karena sumbu emosi Aspros yang memang sudah pendek lantas disulut.

Setelah selesai dengan isi kepalanya, Defteros mengeluarkan kamera dari tasnya dan mulai mengatur-atur berbagai hal. Kecepatan tangkap, bukaan diafragma lensa, paparan ISO, aturan fokus lensa, segalanya.  Kemaniakkannya pada kamera membuat Aspros sering mengamuk tidak jelas kalau ia sudah mulai sibuk dengan dunianya sendiri. Entah Defteros yang terlalu dingin atau Aspros yang terlampau manja, tapi hubungan dua kakak-adik ini memang tidak pernah akur sejak zaman dulu kala.

“Lima ratus euro,” ujar penjaga karcis ketika ia sampai di loket. Seorang pria berambut pirang dan mata biru dengan senyum miring dan mimik sinting. Defteros mendengus sebelum mengambil selembar kertas dari tas ranselnya.

“Saya dari majalah, ini surat tugas saya,” ujarnya sambil menyodorkan kertas tersebut ke depan wajah si penjaga loket, “menurut surat ini semua akses masuk situs sejarah dengan pungutan biaya akan—

“Seratus euro, dan singkirkan kertas konyol itu jauh-jauh dari wajahku,” potong si penjual loket. Defteros hanya tersenyum tipis dan melipat kertas tersebut. Ia lalu mengambil selembar seratus euro dan menyerahkannya pada si penjual loket yang kini sedang menggerutu tidak jelas.

“Namaku Defteros, senang berkenalan dengan—

“Kardia.”

Defteros mengangguk dan mengulurkan tangannya. “Kardia. Senang berbisnis denganmu.”

Kardia lalu menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar pria berambut toska itu segera angkat kaki sebelum ia mengubah pikirannya.
.
.
.

 “Selanjutnya! Lima ratus euro untuk  masuk ke Sanctuary! Lima ratus euro saja!”

No comments:

Post a Comment