Saturday, 9 November 2013

Amusement

Zen (c) Pratiwi Fitriani 
.
.
.

Leon menghembuskan nafas, menciptakan uap tipis di udara. Ia melirik jam tangannya, pukul satu malam. Dengan ini, berarti ia sudah berada di rumah sakit hampir dua puluh empat jam. Ia mengamati sekelilingnya, sunyi. Hanya ada suara riuh di kejauhan, bunyi sirine yang semakin dekat, dan desir angin pelan yang melewati celah sempit.

Akhirnya ia tahu, apa yang membuat Zen sering sekali meneleponnya saat sedang jaga malam dan terpaksa berjalan sendirian dari satu gedung ke gedung lain untuk mengantarkan selembar kertas hasil interpretasi laboratorium. Koridor rumah sakit dan malam hari jelas kombinasi merupakan kombinasi yang buruk.

Ia merapatkan mantelnya, lalu membiarkan pikirannya terbang. Mau tidak mau, ia sedikit kagum pada Zen. Pemuda yang terjebak di masa-masa bocahnya itu sanggup bangun hampir tiga puluh enam jam dan masih mempertahankan kewarasannya untuk sekedar menanyakan kabarnya, marah-marah saat ia menolak makan dan memilih mengerjakan apapun yang ada di meja kerjanya, memisuh-misuh tentang teman-temannya, dan mengendarai mobilnya pulang ke rumah tanpa mengantuk sedikit pun.

Dan tadi, ketika ia terlalu takut melihat Freyr yang terbaring tanpa daya di instalasi gawat darurat, Zen masih bisa memakluminya dan menenangkannya.

Padahal, entah sudah berapa bulan mereka tidak bertemu muka.

"Le."

Leon mengerjap. Bingung. Separo isi otaknya masih berterbangan di awan merah jambu di langit imajinernya. Ia menoleh dan menemukan pemuda berambut ikal sedang tersenyum lebar sambil membawa kantung plastik.

"Zen?"

Zen hanya nyengir lebar dan menyodorkan kaleng minuman coklat ke wajah Leon. "Untukmu."

"Oh. Ya. Thanks."

"Uh-huh."

Zen lalu berdiri diam di samping Zen. Matanya menatap langit-langit koridor seolah itu adalah hal paling menarik saat ini. Sementara Leon masih bingung menatap minuman kaleng miliknya. Zen mendengus.

"Lagi belajar telekinesis ya?"

"Ha?"

"Itu kaleng dibuka, terus diminum. Bukan diliatin begitu."

"Bukan gitu," ujar Leon lirih dan menyimpan minumannya di dalam saku mantel.

"Terus?"

"... ngapain kamu di sini? Jam segini? Kamu nggak pulang? Orang rumah nggak nyariin?"

Giliran Zen yang memasang wajah bingung.

"Hah?"

"Ini jam satu pagi, Zen. Ngapain kamu di sini, jam satu pagi?!"

"Ngapain? Nemenin kamu, lah. Emangnya ngapain lagi?"

"... hah?"

"Aku udah bilang orang rumah, kok."

Leon menggeleng. "Bukan. Maksudku bukan itu. Kemarin kamu jaga malam, kan?"

"Ya?"

"Hari ini kamu kuliah, kan?"

"I... ya? Terus?"

"Kamu kapan tidurnya?"

"Tadi. Di asrama. Aku belum pulang. Ini aja baru bangun."

"... oh."

"Santai, Le. Ngeliat warna muka kamu udah nggak sepucet tadi malem dan bisa marah-marah begini aja, cape aku ilang. Santai."

"Gitu?"

"Yo-ho."

"Bagus deh."

"Kenapa bagus?"

"Bagus, nggak gampang sakit."

"Emangnya kenapa kalo aku sakit?"

Leon menatap Zen dan tersenyum tipis. "Kalo kamu sampe sakit kayak Freyr, entah bakal segila apa aku, Zen."

No comments:

Post a Comment