Wednesday, 6 November 2013

Serangan Fajar!

Zen (c) Pratiwi F

.
.
.

"Huf."

Satu desahan meluncur begitu saja ketika Zen setengah menjatuhkan pantatnya di kursi. Satu kakinya lalu naik ke kursi di depannya, sementara ia meregangkan punggung sebisa mungkin. Akhirnya, setelah sembilan jam bolak-balik berputar-putar di dalam instalasi gawat darurat tanpa sempat duduk sedetik pun, ia memutuskan untuk merajuk memohon pada ketua kelompok jaganya malam ini untuk istirahat setidaknya dua jam. Untung saja Darma setuju. Pemuda tanggung berotot dan hobi main basket itu pun ikut-ikutan istirahat, menyerahkan baton papan jalannya pada Zaki, yang sempat marah-marah selama lima detik sebelum akhirnya tergopoh-gopoh lari menghampiri senior yang memanggilnya.

Jadilah, Zen terdampar di kantin rumah sakit yang--untungnya--buka dua puluh empat jam, berpisah jalan dengan Darma yang lebih memilih istirahat di asrama dokter muda.

Zen melirik jam tangannya, jam tiga pagi. Ia mengalihkan pandangannya ke depan, pada segelas milkshake vanila. Tak lama, pramusaji datang dengan nampan, mengantarkannya semangkuk bakmi ayam jamur dan teh manis panas. Senyum tipis mendadak terulas di wajahnya ketika melihat porsi makan 'malam'nya hari ini.

"Selamat ma--

KRIIIIIIIING!!!

"Tai."

Zen mengumpat dengan sepenuh hatinya. Ponselnya berbunyi dan nada deringnya adalah nada khusus untuk Darma hari ini. Kalau Darma meneleponnya di waktu istirahat jam tiga pagi begini, berarti ada yang salah dengan keadaan Zaki di IGD.

Entah ia iseng, entah seniornya mengancam Darma, atau....

.
.
.

"Serangan fajar!"

Zen tidak sempat lagi memaki-maki Zaki yang menyemburkan droplet udara ke wajahnya ketika ia akhirnya berhasil menyeret kaki ke IGD. Entah apa yang terjadi, namun belasan brankar mendadak berjejer di sepanjang sisi ruang. Semua yang berbaring di atas brankar itu entah memiliki noda merah-merah atau menjerit histeris kesakitan. Dari jumlahnya yang mendadak ini, Zen mengira setidaknya ada satu bis atau dua mobil yang terlibat. 

Apapun itu, pasti ada satu yang lalai.

Dan Zen sangat ingin sekali memasukkan bakmi ayam jamurnya ke dalam hidung pengendara yang lalai itu.

"Zen! Lo pegang tiga sekaligus ya!" perintah Darma, kini kembali memegang baton papan jalannya. Dengan sigap ia menulis-nulis perintah para senior, selagi satu tangannya menempelkan ponsel di telinga untuk membangunkan rekan-rekannya yang lain. Zen hanya bisa menghela napas dan mulai mencari pasien-pasien yang terlihat agak stabil untuk dijadikan pasiennya. Pilihannya jatuh pada seorang wanita usia dua puluh tahun yang menggeser sendi bahunya ketika ia menahan tubuhnya agar tidak terbentur, seorang laki-laki berusia lima puluh tahun yang patah tulang jari-jari kaki, dan seorang pemuda berambut keperakan yang....


eh?

"Fr--

"FREYR!!!"


No comments:

Post a Comment