Thursday, 7 November 2013

Boost

Zen (c) Pratiwi Fitriani
.
.
.

Zen tidak pernah melihat Leon sekacau ini.

Sekilas saja ia bisa tahu kalau pemuda berambut hitam itu sangat ketakutan. Ketakutan. Tangannya mengepal erat, matanya fokus hanya pada satu hal, bahunya tegang, dan mulutnya tidak berhenti bergerak-gerak membaca doa.

Tidak pernah sekalipun ia membayangkan, akan melihat sisi lain dari detektif swasta handal ini.

Karena, Leon yang Zen tahu adalah seorang pemuda asal, serampangan, seenak jidat, dan berani.

.
.
.

"Le." Zen memberanikan diri menepuk pundak Leon.

"...Zen?" ujarnya tidak percaya. Padahal, sudah setengah jam yang lalu ia berdiri di samping pemuda itu. Mau tidak mau, Zen tersenyum tipis. Ia lalu menepuk-nepuk pundak Leon lagi.

"Kondisinya nggak separah keliatannya, Le. Tenang ya."

Terdengar klise, namun itu adalah yang paling bisa dikatakan oleh Zen pada situasi seperti ini. Freyr, dengan mata terpejam dan bekas darah membasahi pakaiannya, hampir membuat Zen serangan jantung. Untungnya, apa yang dikira Zen darah Freyr ternyata salah. Yang membasahi pakaian Freyr sedemikian rupa adalah darah orang lain, penumpang bis yang duduk di depannya, yang datang dalam keadaan tidak berbentuk, dan bukan datang ke instalasi gawat darurat. Tidak perlu dijelaskan di mana manusia malang itu ditangani saat ini. Freyr pingsan karena benturan di kepala, dan hasil foto kepala menunjukkan tidak ada perdarahan atau apapun yang membahayakan, setidaknya untuk saat ini. Senior-senior Zen memutuskan untuk mengamati perkembangan Freyr, setidaknya sampai ia sadar, sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Leon hanya diam dan memandangi tubuh adiknya yang dipasangi berbagai macam kabel dan selang ketika Zen panjang lebar menjelaskan semuanya. Terlihat sekali kalau pria itu tidak mendengarkan. Zen menghela napas. Maklum.

"Well, kalau kau butuh apapun, kau bisa cari aku di ujung sana, ya. Aku mau bantu Darma dulu." Zen berkata sambil lalu, menunjuk satu ruangan bertirai tempat Darma sibuk keluar-masuk panik.

"Zen."

Zen berhenti berjalan dan berbalik.

Leon menatapnya dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Terima kasih."

.
.
.

"Oi. Zen. Ngga usah kerja sambil cengengesan bego gitu."

No comments:

Post a Comment